Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search
Journal : SPASIAL

KETERSEDIAAN INFRASTRUKTUR PERMUKIMAN KUMUH PESISIR STUDI KASUS : DESA LIKUPANG DUA DAN DESA LIKUPANG KAMPUNG AMBONG, KECAMATAN LIKUPANG TIMUR, KABUPATEN MINAHASA UTARA, PROVINSI SULAWESI UTARA Pollo, Joel Yermia; Tondobala, Linda; Sela, Rieneke L. E.
SPASIAL Vol 4, No 1 (2017)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Empat puluh tujuh Kota Otonom dari sembilan puluh empat Kota Otonom di Indonesia  memiliki karakteristik geografis kawasan pesisir. Dominasi jumlah kota pesisir di Indonesia merupakan suatu hal yang sangat wajar mengingat morfologi NKRI berupa kepulauan yang berjumlah sekitar 17.480 pulau dengan 95.181 Km bentang garis pantai dari seluruh pulau tersebut. Gambaran tentang kondisi wilayah seperti itu mencerminkan bahwa diperlukan suatu pendekatan berwawasan kepesisiran yang komprehensif mencakup dinamika interaksi berbagai aspek/sektor di kawasan pesisir tersebut. Desa Likupang Dua dan Desa Kampung Ambong merupakan desa di wilayah pesisir Kabupaten Minahasa Utara yang memiliki fungsi yang penting dalam RTRW Kabupaten Minahasa Utara 2011-2031. Letaknya yang strategis sebagai gerbang menuju pulau-pulau dibagian Utara, serta potensi kekayaan bahari dan pesona wisata alam yang memukau menjadi alasalan kenapa wilayah ini perlu mendapatkan perhatian khususdari pihak-pihak terkaitguna meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Potensi yang dimiliki memberikan daya tarik yang kuat dan menimbulkan konsentrasi penduduk dan permukiman yang tinggi. Penduduk membangun tanpa memperhatikan legalitas lahan dan aturan-aturan terkait pembangunan permukiman yang benar, sehingga kondisi ini menciptakan kekumuhan bagi lingkungan permukiman di lokasi penelitan.Dilatarbelakangi  persoalanpermukiman kumuh, mendorong penelitian ini dilakukan. Tujuan penelitian,menganalisis tingkat capaian pelayanan infrastruktur permukiman pesisir berdasarkan Standar Pelayanan Minimum (SPM) di lokasi penenlitian, serta mengindentifikasi tingkat kekumuhan permukiman pesisir pada kedua desa penelitian berdasarkan ketersediaan Infrastruktur.Penelitian ini menggunakan Metode Analisis Kuantitatif Deskriptif.Hasil analisis menujukan kondisi faktual di lapangan yaitu belum tersedianya infrastruktur yang memadai di kedua desa tersebut dengan nilai SPMsecara keseluruhan belum tercapai sehingga terjadi kekumuhan.Analisa dan perhitungan SPM dan analisa tingkatan kategori kumuh di wilayah Desa Likupang Dua dan Desa Likupang Kampung Ambong menempatkan kedua desa tersebut masuk dalam kategori kumuh sedang.   Kata Kunci :Wilayah Pesisir, Permukiman, Infrastruktur, Kekumuhan
FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB TIDAK TERKELOLANYA OBJEK WISATA PANTAI BATU PINAGUT BOLAANG MONGONDOW UTARA Datukramat, Hermawan Pratama; Kumurur, Veronika -; Sela, Rieneke L. E.
SPASIAL Vol 4, No 1 (2017)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pantai Batu Pinagut terletak di Boroko Utara kecamatan Kaidipang Kabupaten Bolaang Mongondow Utara. Pantai pasir putih yang indah terletak pada posisi yang strategis dalam kota, sudah termasuk dalam Kawasan Strategis Pariwisata (KSP), beberapa fasilitas telah dibangun namun belum dilakukan pengelolaan lebih lanjut dari Pemerintah. Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi faktor-faktor penyebab dan menentukan faktor dominan yang menyebabkan tidak terkelolanya objek wisata pantai Batu Pinagut Bolaang Mongondow Utara. Penelitian ini menggunakan metode  kuantitatif deskriptif yaitu dengan melakukan pengamatan dan pengambilan data dilapangan  dengan teknik survey atau observasi lapangan dan ditunjang wawancara dengan yang memiliki kepentingan. Setelah penyusunan data dilakukan analisis data menggunakan teknik analisis SWOT untuk menstrukturkan masalah dan mengetahui besarnya nilai dan bobot dari faktor-faktor penyebab yang diperoleh sehingga dapat diketahui pula faktor dominan yang menyebabkan tidak terkelolanya objek wisata pantai Batu Pinagut Bolaang Mongondow Utara. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini diketahui empat faktor yang menyebabkan tidak terkelolanya objek wisata pantai Batu Pinagut Bolaang Mongondow Utara yaitu belum disahkannya RIPPDA, pungutan masuk (retribusi) tidak diberlakukan, status kepemilikan lahan masih dimiliki warga, kurangnnya budaya sadar wisata masyarakat/pengunjung dan lemahnya promosi. Dengan menggunakan metode skoring  maka diketahui faktor dominan yang dominan adalah belum disahkannya RIPPDA.   Kata Kunci : Faktor Penyebab Tidak Terkelola, Objek Wisata Pantai, Batu Pinagut Bolmut
HUBUNGAN KAMPUS UNIVERSITAS NEGERI MANADO DENGAN TATA RUANG KAWASAN SEKITARNYA Tulangow, Pingkan K; Rogi, Octavianus H. A.; Sela, Rieneke L. E.
SPASIAL Vol 3, No 3 (2016)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kampus merupakan sarana untuk mendapat ilmu bagi masyarakat. Universitas Negeri Manado merupakan universitas negeri yang berada di Kecamatan Tondano Selatan Kabupaten Minahasa. Universitas Negeri Manado (UNIMA) terus mengalami perkembangan setiap tahunnya.Kawasan sekitar kampus UNIMA mengalami perubahan tata ruang beberapa tahun terakhir. Fenomena perubahan tata ruang tersebut, memiliki hubungan yang signifikan dengan keberadaan kampus UNIMA.  Tujuan Penelitian ini adalah mengetahuihubungan Kampus UNIMA dengantata ruang dikawasan sekitarnya.Pengumpulan data melalui studi instansional, observasi, wawancara, kuisioner, perhitungan interpolasi dan ekstrapolasi.Penentuan responden, menggunakan teknik purposive sampling.Penelitian ini menggunakan dua metode yaitu metode statistik korelasi untuk menganalisis hubungan perkembanan kampus UNIMA dan perubahan tata ruang kawasan sekitrnya sebagai metode utama dan metode deskriptif kualitatif untuk menganalisis persepasi masyarakat tentang hubungan kampus UNIMA dan tata ruang kawasan sekitrnya sebagai metode pembanding. Hasil dari penelitian ini adalah 73,3% variabel tata ruang memiliki hubungan yang signifikan dengan Kampus UNIMA dan 26,7% variabel tata ruang memiliki hubungan yang tidak signifikan namun cukup erat dengan Kampus UNIMA. Persepsi masyarakat menunjukan 96,7% responden berpendapat  bahwa  hubungan keberadaan kampus UNIMA dengan tata ruang kawasan sekitarnya dikategorikan tinggi.Sehingga Kampus UNIMA dengan tata ruang kawasan sekitarnya pada 5 tahun terakhir memiliki hubungan yang signifikan. Kata Kunci          : Hubungan, Tata Ruang, Kampus UNIMA
PERUBAHAN FUNGSI PEMANFAATAN RUANG DI KELURAHAN MOGOLAING KOTA KOTAMOBAGU Umar, Feki Pebrianto; Sela, Rieneke L. E.; Tarore, Raymond Ch.
SPASIAL Vol 3, No 3 (2016)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kota dalam perjalanannya selalu tumbuh dan berkembang. Seiring dengan perkembangan kota, berbagai macam aktifitas perkotaan mulai tumbuh dan salah satu yang memicu perkembangan tersebut adalah Penduduk. Peningkatan jumlah penduduk mengakibatkan semakin tingginya permintaan lahan untuk fungsi permukiman. Seperti yang terjadi di Kota Kotamobagu, dimana salah satu wilayah yang mengalami perubahan dalam pemanfaatan ruang adalah Kelurahan Mogolaing. Pembangunan yang terjadi rata-rata berfokus mengikuti jalur jalan dengan kepadatan yang tinggi terutama pada Jln. Adampe Dolot dan Jln Kampus yang masing masing mengalami perubahan dengan fungsi pemanfaatan ruang yang berbeda. Tujuan penelitian ini pada dasarnya adalah untuk mengidentifikasi perubahan-perubahan tersebut serta mengkaji faktor-faktor apa saja yang menyebabkan terjadinya perubahan dengan mengambil 10 tahun perbandingan. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif dimana pengumpulan data menggunakan kuesioner dan analisis dengan SIG. Hasil analisis menunjukan peningkatan persen lahan terbangun yang dimanfaatkan untuk fungsi komersial serta adanya perubahan fungsi bangunan seperti perubahan hunian menjadi hunian sekaligus komersial dimana perubahan tersebut mengikuti koridor atau merembet secara linear dan terfokus pada bagian wilayah penelitian yang berdekatan dengan pusat kota. Selanjutnya ditemukan faktor yang menyebabkan perubahan fungsi pemanfaatan ruang adalah Topografi, Penduduk, Nilai Lahan, Aksesibilitas, dan Daya Dukung Lahan. Kata Kunci : Perubahan Fungsi, Pemanfaatan Ruang, Koridor, Mogolaing Kotamobagu
TINGKAT KETANGGUHAN DAN KETAHANAN KOTA MANADO TERHADAP BENCANA Watung, Christania H.T.; Sela, Rieneke L. E.; Tondobala, Linda
SPASIAL Vol 5, No 1 (2018)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penerapan resilient city sangat penting mengingat posisi kebanyakan kota-kota di Indonesia yang tidak terlepas dari berbagai jenis ancaman bencana alam dan bencana akibat perilaku manusia didalamnya. Kota Manado menurut Indeks Resiko Bencana Indonesia oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengidentifikasikan tingkat kerawanan Kota Manado terhadap bencana membaik dari skala “tinggi” di tahun 2011 menjadi skala “sedang” di tahun 2013. Isu strategis terkait dengan bencana di Manado dan sekitarnya adalah keberadaan multi risiko bencana (banjir, longsor, tsunami, gempa bumi, dan erupsi gunung api) merupakan suatu kenyataan yang menegaskan kondisi kerentanan wilayah ini, yang membutuhkan upaya penanggulangan yang terintegrasi dan sistemik. Tujuan dalam penelitian ini adalah mengidentifikasi sebaran daerah-daerah rawan bencana banjir, gunung api, tsunami, gempa bumi dan longsor di Kota Manado dan mengukur tingkat ketangguhan dan ketahanan Kota Manado terhadap bencana banjir, erupsi gunung api, tsunami, gempa bumi dan longsor melalui kriteria Penilaian ketangguhan dan ketahanan Kota. Penelitian ini berlokasi di Kota Manado. Metode yang digunakan adalah metode analisis spasial dan analisis deskriptif untuk menghasilkan peta-peta serta informasi landasan penilaian tingkat ketangguhan dan ketahanan Kota Manado terhadap bencana. Hasil analisis menunjukan dari 9 kriteria didalamnya yang memiliki capaian tertinggi adalah kriteria fasilitas pelayanan publik, diikuti dengan kriteria kesiapsiagaan stakeholder, perencanaan dan perizinan, tata ruang, kelembagaan dan anggaran kemampuan dasar stakeholder, sosial ekonomi, penelitian, teknologi dan ekosistem serta kriteria infrastruktur yang memiliki capaian paling rendah.Kata Kunci : Kota Tangguh, Ketahanan, Bencana, Kota Manado
PENENTUAN KUALITAS PERMUKIMAN BERDASARKAN KRITERIA ECO-SETTLEMENT DI KELURAHAN SINDULANG SATU KOTA MANADO Dewi, Kartika Puspa; Kumurur, Veronika A; Sela, Rieneke L. E.
SPASIAL Vol 6, No 1 (2019)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Eco-settlement merupakan tempat bermukim yang ekologis, konsep eco-settlement sendiri mengarah pada pencapaian nilai ekologis. Kegiatan penelitian yang dilakukan pada kesempatan kali ini adalah mengidentifikasi kualitas permukiman di Kelurahan Sindulang Satu Kota Manado dengan menggunakan pendekatan kriteria eco-settlement . Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui kualitas permukiman yang ada di Kelurahan Sindulang Satu Kota Manado. Metode penelitian menggunakan metode deskriptif kuantitatif dan deskriptif kualitatif, deskriptif kuantitatif berupa analisis skoring yang digunakan untuk mengetahui kualitas rumah sehat sedangkan deskriptif kualitatif digunakan untuk mendeskripsikan kualitas aspek-aspek lainnya. Hasil analisa diketahui bahwa kualitas permukiman di Kelurahan Sindulang Satu Kota Manado yang dinilai dengan menggunakan pendekatan kriteria eco-settlement yang terdiri dari masing-masing aspek, yaitu untuk kualitas aspek ekologi pada kriteria rumah sehat, kepadatan bangunan, kondisi jalan lingkungan, kondisi drainase, ketersediaan air bersih dan persampahan memiliki kualitas yang baik sedangkan untuk RTH dan proteksi pemadam kebakaran memiliki kualitas yang buruk dikarenakan tidak sesuai standar yang ada. Sedangkan untuk aspek ekonomi, sosial dan kelembagaan memiliki kualitas yang baik karena sudah sesuai dengan standar yang ada.Kata kunci: Kualitas permukiman, eco-settlement
SEBARAN SPASIAL EMISI GAS KARBON DIOKSIDA (CO2) PADA KAWASAN PERMUKIMAN DI KECAMATAN SINGKIL KOTA MANADO Gobel, Indra Wirana Jaya; Tondobala, Linda; Sela, Rieneke L. E.
SPASIAL Vol 6, No 3 (2019)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Saat ini Kota Manado menjadi kota yang memiliki aktivitas permukiman padat penduduk, dengan rata-rata laju pertumbuhan sebesar 1,3% per tahun (BPS Kota Manado, 2018) hingga menyebabkan penurunan kualitas udara. Penggunaan bahan bakar untuk memasak merupakan salah satu penyumbang emis gas karbon dioksida (CO2) pada sektor permukiman yang menyebabkan menurunnya kualitas udara. Wilayah penelitian berada di kawasan permukiman Kecamatan Singkil sebagai salah satu Kecamatan dengan tingkat pertumbuhan penduduk yang cukup signifikan di Kota Manado. Tujuan penelitian untuk menentukan faktor emisi spesifik (FES) serta menganalisis sebaran emisi CO2 dan melakukan pemetaan tingkat emisi CO2 pada kawasan permukiman Kecamatan Singkil Kota Manado. Penelitian ini menggunakan jenis data dan analisis kuantitatif kemudian dilakukan perhitungan menggunakan metode yang dikeluarkan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) dengan mengetahui terlebih dahulu besaran penggunaan bahan bakar untuk memasak tiap tahunnya serta menghitung besaran emisi CO2 dari penggunaan bahan bakar untuk memasak setiap Kelurahan, kemudian menentukan faktor emisi spesifik (FES) yang diharapkan nilai dari FES tersebut dapat digunakan untuk menghitung estimasi jejak karbon, setelah diketahui emisi jejak karbon setiap kelurahan, kemudian dilakukan pemetaan tingkat emisi karbon dioksida (CO2) agar penyebaran jejak karbon tersebut dapat terlihat mana wilayah yang menyumbang emisi karbon dioksida tertinggi, sedang, dan terendah. Karakteristik bahan bakar yang digunakan untuk memasak pada lokasi penelitian adalah LPG, Minyak Tanah dan Kayu Bakar, yang penggunaan pertahunnya sebesar 83.752 kg/tahun dengan nilai emisi CO2 terhadap penggunaan bahan bakar untuk memasak sebesar 238 ton/tahun. FES tertinggi berada di Kelurahan Singkil Satu sebesar 0,6492 ton/tahun dan diikuti kelurahan lainnya. Hasil perhitungan nilai jejak karbon di Kecamatan Singkil sebesar 8.837,71 ton CO2/tahun.Kata Kunci: Spasial, Emisi Karbon Dioksida (CO2), Kawasan Permukiman.
EVALUASI KETERSEDIAAN INFRASTRUKTUR PERDESAAN DALAM RANGKA PENGEMBANGAN KAWASAN PERTANIAN DI KECAMATAN OBA TENGAH Ishak, Fajriyanti; Sela, Rieneke L. E.; Sondakh, Julianus A. R.
SPASIAL Vol 6, No 3 (2019)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kecamatan Oba Tengah merupakan salah satu kecamatan di Kota Tidore Kepulauan yang berada di Pulau Halmahera. Kecamatan Oba Tengah yang berada pada Pulau Halmahera memiliki karakteristik yang berbeda dengan Pulau Tidore karena terpisah dengan selat. Pulau Tidore lebih memiliki karakteristik wilayah perkotaan sedangkan wilayah di Pulau Halmahera Kecamatan Oba Tengah lebih berkarakteristik perdesaan dengan potensi pada sektorpertanian. Pertanian dan perdesaan merupakan satu-kesatuan yang tak terpisahkan. Namun pada kenyataannya sektor pertanian di daerah perdesaan belum mampu untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, terbukti dengan masih tingginya jumlah penduduk miskin di daerah perdesaan. Hal tersebut sangat berkaitan erat dengan rendahnya tingkat pelayanan infrastruktur pertanian di kawasan perdesaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengedintifikasi dan mengevaluasi ketersediaan infrastruktur perdesaan berdasarkan standard dan persepsi Masyarakat di Kecamatan Oba Tengah. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian menunjukan ketersediaan infrastruktur perdesaan dalam upaya pengembangan Kawasan Pertanian di Kecamatan Oba Tengah sebagian besar sudah tersedia dengan Kondisi infrastruktur yang cukup baik. Evaluasi berdasarkan standar peraturan Dinas Pekerjaan Umum, memperoleh nilai sebesar 82%, yang artinya bahwa ketersediaan infrastruktur perdesaan masuk dalam kategori baik untuk memberikan dukungan pada sektor pertanian. berdasarkan persepsi masyarakat di peroleh nilai 50,80%, yang artinya bahwa menurut persepsi masyarakat ketersediaan infrastruktur perdesaan cukup memberikan dukungan untuk pengembangan kawasan pertanian di Kecamatan Oba Tengah.Kata Kunci: Evaluasi, Ketersediaan Infrastruktur, Pengembangan Kawasan Pertanian, Kecamatan Oba Tengah
ANALISIS TINGKAT PARTISIPASI MASYARAKAT MENUJU KOTA LAYAK HUNI (LIVABLE CITY) STUDI KASUS KOTA MANADO Martin, Willy; Sela, Rieneke L. E.; Rompas, Leidy M.
SPASIAL Vol 6, No 2 (2019)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kota merupakan tempat masyarakat untuk tinggal, bekerja, pusat perekonomian, pemerintahan, dan lain-lain. Sehingga, kota sebagai tempat untuk hidup harus memberikan kenyamanan (livable) bagi penduduk yang ada didalamnya. Konsep kota nyaman (Livable City) di Kota Manado terakhir kali diteliti oleh Ikatan Ahli Perencanaan (Adriadi Dimastanto, Erikson Simanjuntak, Dayinta Pinasthika, Latifah, Putri Amelia, dan Dwitantri Rezkiandini: Most Livable City Index 2017) pada tahun 2017 dan hasilnya Kota Manado berada pada urutan ke-16 sebagai kota ternyaman di Indonesia. Kali ini peneliti melakukan penelitian livable city di Kota Manado (11 kecamatan atau 68 kelurahan) berdasarkan tingkat partisipasi masyarakatnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis tingkat partisipasi masyarakat berdasarkan indikator livable city oleh Ikatan Ahli Perencanaan (IAP). Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan analisis deskriptif menggunakan perhitungan skala linkert. Maka Kota Manado diklasifikasikan dengan nilai tinggi partisipasi masyarakatnya menuju livable city dengan skor 70,8. Kecamatan Bunaken Kepulauan menjadi kecamatan dengan partisipasi masyarakat tertinggi sementara Kecamatan Tuminting dengan tingkat partisipasi masyarakat terendah menuju Kota Manado yang layak huni. Variabel yang berpengaruh pada penentuan kondisi kenyamanan kota adalah variabel aspek partisipasi masyarakat dalam pembangunan.Kata Kunci: Livable City, partisipasi masyarakat, indikator IAP, tingkat partisipasi, Kota Manado.
ANALISIS KESESUAIAN LAHAN PERMUKIMAN BERDASARKAN RENCANA TATA RUANG WILAYAH (RTRW) DI KABUPATEN MINAHASA TENGGARA (STUDI KASUS : KECAMATAN RATAHAN) Missah, Rizkyanto Efraim; Sela, Rieneke L. E.; Takumansang, Esli D.
SPASIAL Vol 6, No 2 (2019)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Lahan untuk permukiman perlu memperhatikan kondisi fisik lingkungan antara lain topografi, morfologi, kelerengan dan jenis tanah. Beragam kasus kerugian ataupun korban yang terjadi karena penyimpangan atau ketidaksesuaian penggunaan lahan yang menyalahi tingkat kemampuan lahannya. Keadaan tersebut menyebabkan perlunya analisis kesesuaian lahan permukiman untuk mengetahui kesesuaian lahan yang akan diperuntukan guna pengembangan permukiman. Tujuan penelitian ini yaitu mengkaji perkembangan lahan permukiman di Kecamatan Ratahan berdasarkan data citra dan analisis kesesuaian peruntukan lahan permukiman RTRW terhadap arahan kesesuaian lahan. Metode analisis pada penelitian ini menggunakan metode analisis spasial skoring dan overlay dengan Sistem Informasi Geografis (SIG). Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah perkembangan permukiman Kecamatan Ratahan tahun 2003-2019 sebesar 41,61 Ha. Hasil penelitian kesesuaian peruntukan lahan permukiman terhadap arahan kesesuaian lahan Kecamatan Ratahan terdapat kriteria sesuai (A) sebesar 127,43 ha atau 2,07%, kriteria sesuai (B) sebesar 2.421,84 ha atau 39,29%, kriteria tidak sesuai (A) sebesar 2,59 ha atau 0,04%, kriteria tidak sesuai (B) sebesar 3.611,62 ha atau 58,60%.Kata kunci: Kesesuaian Lahan, Permukiman, Rencana Tata Ruang Wilayah, SIG
Co-Authors Alfrets Singkoh Alvin J. Tinangon Amanda M. Rompas Aristotulus E Tungka, Aristotulus E Artahsasta B. P. Binilang, Artahsasta B. P. Baso, Fransisca P. Y. Bayu Maasawet Billy J. Pinontoan Brigita T. Makarawung Cynthia V. Sondakh Datukramat, Hermawan Pratama Deddy Erdiono Dewi, Kartika Puspa Dewi, Kartika Puspa Eka Oktaviana Esli D. Takumansang Esli Takumansang, Esli Eunike Waani Frits O. P. Siregar Gabriela R. Turangan Gobel, Indra Wirana Jaya Hardiyanti Madja Henricho Dirganeri Idradjaja Makainas Ingerid L. Moniaga Ingerid L. Moniaga Ishak, Fajriyanti Jerry J. Antou Judistia S. Makarau, Judistia S. Judy O. Waani Judy O. Waani Julianus A. R. Sondakh Julianus A. R. Sondakh Kalvin D. Iskandar Koyakin, Ferenshia P. Kumurur, Veronika - Kumurur, Veronika A Lakat, Ricky S. M. Latawan, Wirakusniawati Lauma, Safirda Nadia Leidy M. Rompas Linda Tondobala Makarawung, Brigita T Makarawung, Brigita T. Martin, Willy Michael M Rengkung, Michael M Missah, Rizkyanto Efraim Monica P. P. Roring Nonto, Erlangga Octavianus H. A. Rogi Octavianus Hendrik Alexander Rogi Pierre H. Gosal Pingkan P. Egam Pollo, Joel Yermia Rachmat Prijadi Rapar, Srimuliani Miranda Debora Raymond Ch. Tarore Raymond D. Ch. Tarore Rezka L. Nender Rompas, Lady M Sambeka, Gabriela Sheren A. A. Lumolos Shintia F. A. Rungkat Sonny Tilaar Sonny Tilaar Suryono MT Tinangon, Alvin J Toghas, Daniel Marthinus Triesa J. Kindangen Tuar, Isabella Gloria Tulangow, Pingkan K Umar, Feki Pebrianto Urbanus, Ananda Veronica A. Kumurur Watung, Christania H.T. Windy J. Mononimbar