Claim Missing Document
Check
Articles

N-Acetyltransferase 2 (NAT2) Acetylator Status among Systemic Lupus Erythematosus Patients from A Tuberculosis Endemic Area in Bandung, Indonesia Laniyati Hamijoyo; Sasfia Candrianita; Ika Agus Rini; Endang Sutedja; Budi Setiabudiawan; Edhyana Sahiratmadja
The Indonesian Biomedical Journal Vol 11, No 2 (2019)
Publisher : The Prodia Education and Research Institute (PERI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18585/inabj.v11i2.553

Abstract

BACKGROUND: Systemic lupus erythematosus (SLE) patients living in Indonesia are prone to tuberculosis (TB) infection, since this country ranks second globally for TB prevalence. Isoniazid, an anti-tuberculosis (TB) drug, is metabolized by enzyme N-acetyltransferase 2 (NAT2) that is encoded by NAT2 gene. NAT2 haplotype, referring as acetylator status, may predispose as genetic factor in SLE development or complicate SLE therapy. This study explored the NAT2 haplotypes and acetylator status among SLE patients living in a TB endemic area.METHODS: Genomic DNA of 260 registered SLE patients at The Rheumatology Clinic of Dr. Hasan Sadikin General Hospital, Bandung, Indonesia were isolated. NAT2 gene was amplified and sequenced, then NAT2 haplotypes and the acetylator status among SLE patients with or without TB history were determined and presented.RESULTS: Most of SLE patients registered were female (n=250; 96.2%). The median age of patients when SLE was diagnosed for the first time was 27 years old (8-69 years), with organ involvement predominantly in musculoskeletal (80.8%) and mucocutaneous (73.1%). TB history, mostly pulmonary TB, was present in 23.1% of SLE patients of whom TB was diagnosed before SLE (10.4%) or after SLE (10.7%) or both before and after SLE (2%). The acetylator status was mostly intermediate (61.5%) with the NAT2*4/*6B was the most prevalent haplotype (25.8%).CONCLUSION: There is a high number of intermediate and low acetylator status among SLE patients. Since these SLE patients live in TB endemic area, the NAT2 acetylator status determination among SLE patients before starting TB therapy may have clinical benefit to decrease a possible drug induced liver injury, and this warrants further study.KEYWORDS: NAT2, acetylator, systemic lupus erythematosus, tuberculosis
Peran Bifidobakteria dalam Pencegahan dan Pengobatan Alergi serta Gangguan Sistem Imun pada Anak Ketut Dewi Kumara Wati; Budi Setiabudiawan
Sari Pediatri Vol 22, No 6 (2021)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp22.6.2021.394-400

Abstract

Bifidobakteria berperan dalam dinamika maturasi sistem imun dan memiliki timeline yang terhubung dengan timelinesistem imun. Bifidobakteria membantu pembentukan sistem imun nonspesifik maupun spesifik sedangkan sistem imun membantu pembentukan komposisi bifidobakteria. Bifidobakteria dapat berperan dalam sistem imun karena memiliki banyak enzim yang menunjang kolonisasi, mampu memelihara homeostasis mukosa intestinal, bekerjasama dengan mukus dan SIgA memerangkap patogen, membantu pembentukan SIgA dan IgM, serta meningkatkan survival koloni Treg. Secara klinis, penggunaan bifidobakterium tunggal maupun kombinasi bermanfaat untuk pencegahan dan pengobatan kasus alergi dan gangguan sistem imun. Pemberian bifidobakteria pada dosis 109 colony forming unit satu hingga dua bulan sebelum kelahiran dilanjutkan pemberian pada bayi selama 6 bulan menurunkan kejadian dermatitis atopik. Pemberian bifidobakteria pada bayi prematur memperbaiki profil kolonisasi bifidobakteria, menurunkan kejadian,dan keparahan nerotizing enterocolitis. Pemberian bifidobakteria memperbaiki kualitas hidup rinitis alergi musiman dan asma intermiten, menurunkan skor dermatitis (SCORAD) dan penggunaan steroid pada dermatitis atopik, serta membantu menurunkan berulangnya infeksi saluran nafas pada anak. 
Peran Defisiensi Vitamin D dan Polimorfisme Fokl, Bsml, Apal serta Taql Gen Reseptor Vitamin D Terhadap Tuberkulosis Pada Anak Budi Setiabudiawan
Sari Pediatri Vol 11, No 5 (2010)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp11.5.2010.317-25

Abstract

Latar belakang. Tuberkulosis (TB) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi Mycobacteriumtuberculosis. Kuman bukan merupakan faktor tunggal dalam kejadian TB, tetapi harus disertai dengan faktorlain. Defisiensi vitamin D dan polimorfisme FokI, BsmI, ApaI, serta TaqI gen reseptor vitamin D (RVD)berperan penting dalam kerentanan seseorang terhadap TB.Tujuan. Mengetahui peran defisiensi vitamin D dan polimorfisme FokI, BsmI, ApaI, serta TaqI gen RVDterhadap TB anak.Metode. Penelitian observasional dengan rancangan kasus kontrol, di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandungdan RSU Cibabat Cimahi, Mei 2008 - Maret 2009. Sampel diambil secara consecutive sampling, masingmasing42 anak. Dilakukan pemeriksaan kadar vitamin D [25-(OH)D dan 1,25-(OH)2D] serum, sertapolimorfisme FokI, BsmI, ApaI, dan TaqI gen RVD. Analisis dengan uji Chi-kuadrat, Mann-Whitney, ujit, menghitung OR dan 95% CI, serta regresi logistik ganda.Hasil. Angka kejadian defisiensi kadar 1,25(OH)2D serum pada kelompok kasus TB 28,6% dan kontrol9,5% (p=0,026), OR (95% CI): 3,80 (1,11-12,98). Kejadian polimorfisme FokI gen RVD pada kelompokkasus TB 66,7% dan kontrol 40,5%, (p=0,016), OR (95% CI): 2,94 (1,21-7,16), sedangkan ApaI, BsmI,dan TaqI pada TB tidak bermakna (p>0,05). Variabel yang berpengaruh terhadap kejadian TB adalahjenis kelamin OR (95% CI): 2,276 (0,841-6,161); polimorfisme FokI OR (95% CI): 2,346 (1,053-5,225);polimorfisme ApaI OR (95% CI): 0,81 (0,912-3,593) dan defisiensi vitamin D OR (95% CI): 5,645 (1,441-22,113). Peluang terjadinya TB pada anak perempuan dengan defisiensi vitamin D serta polimorfisme FokI(genotipe FF) dan ApaI homozigot (genotipe aa) 0,98 pada laki-laki 0,955.Kesimpulan. Defisiensi vitamin D (1,25(OH)2D) dan polimorfisme FokI gen RVD merupakan faktor risikoterjadi TB anak. Perempuan dengan defisiensi vitamin D serta polimorfisme FokI dan ApaI homozigot memilikipeluang lebih besar untuk terjadinya TB anak dibandingkan laki-laki.
Kejadian Demam dan Kadar IL-10 Serum Pasca Imunisasi DTwP/HepB Ketiga pada Bayi yang Mendapat dan Tidak Mendapat ASI Eksklusif Andri Firdaus; Alex Chairulfatah; Budi Setiabudiawan
Sari Pediatri Vol 15, No 6 (2014)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp15.6.2014.427-32

Abstract

Latar belakang. Dilaporkan bayi yang mendapat ASI eksklusif lebih jarang mengalami demam pasca imunisasi. Berbagai faktor yang berperan diantaranya adalah IL-10 yang banyak ditemukan dalam ASI.Tujuan. Membandingkan kejadian demam dan kadar IL-10 serum pasca imunisasi DTwP/HepB ketiga antara bayi yang mendapat dan tidak mendapat ASI eksklusif.Metode. Penelitian potong lintang dilaksanakan dari September–Desember 2012 melibatkan 70 bayi usia 4–6 bulan yang menerima imunisasi DTwP/HepB ketiga. Pengukuran suhu tubuh dilakukan sebelum, 30 menit, 6 jam, 12 jam, dan 24 jam pasca imunisasi atau saat demam dilakukan oleh ibu yang telah dilatih. Kadar IL-10 serum diperiksa dengan metode enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA). Analisis statistik dilakukan dengan uji chi-kuadrat Pearson dan Mann-Whitney.Hasil. Delapan dari 35 bayi yang mendapat ASI eksklusif (23%) dan 32 dari 35 bayi yang tidak mendapat ASI eksklusif (91%) mengalami demam pasca imunisasi (p<0,001; RP 0,25). Demam pasca imunisasi timbul lebih cepat pada bayi yang tidak mendapat ASI eksklusif. Dari 24 bayi yang mengalami demam dalam 3 jam pasca imunisasi , 22 bayi (92%) tidak mendapat ASI eksklusif dan 2 bayi (8%) mendapat ASI eksklusif (p<0,001). Rata-rata suhu pada bayi yang mendapat ASI eksklusif 37,8 oC, sedangkan yang tidak mendapat ASI eksklusif 38,1 oC (p=0,033). Kadar IL-10 serum rata-rata bayi yang tidak mengalami demam pasca imunisasi 3,25 pg/mL, sedangkan yang mengalami demam 1,71 pg/mL (p<0,001). Kadar IL-10 serum rata-rata bayi yang mendapat ASI eksklusif 3,6 pg/mL, sedangkan yang tidak mendapat ASI eksklusif 1,1 pg/mL (p<0,001).Kesimpulan. Kemungkinan kejadian demam pasca imunisasi pada bayi yang tidak mendapat ASI eksklusif adalah 4 kali lebih tinggi dibandingkan bayi yang mendapat ASI eksklusif. Bayi yang tidak mendapat ASI eksklusif lebih cepat mengalami demam dengan suhu yang lebih tinggi. Bayi yang tidak mendapat ASI eksklusif mempunyai kadar IL-10 serum yang rendah daripada bayi yang mendapat ASI eksklusif.
Hubungan Kadar Matriks Metaloproteinase-2 Serum dan Skor Aspartate To Platelet Ratio Index untuk Menilai Fibrosis Hati antara Penyandang Thalassemia yang Mendapat Terapi Kelasi Besi Deferoksamin dan Deferipron Asep Aziz Asopari; Dwi Prasetyo; Budi Setiabudiawan
Sari Pediatri Vol 16, No 1 (2014)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp16.1.2014.57-63

Abstract

Latar belakang. Penyandang thalassemia secara progresif akan mengalami keadaan kelebihan besi yang dapat menyebabkan terbentuknya peroksidase lipid dan merusak sel hati sehingga terbentuk fibrosis hati. Terapi kelasi besi bertujuan untuk mengurangi kelebihan besi.Tujuan. Mengetahui hubungan kadar MMP-2 serum dan peningkatan skor APRI untuk menilai fibrosis hati antara penyandang thalassemia yang mendapat terapi kelasi besi deferoksamin dengan deferipron.Metode. Penelitian potong lintang dilaksanakan dari Juli–Agustus 2013, dilibatkan 42 penyandang thalassemia usia 2,5–14 tahun yang mendapat terapi kelasi besi deferoksamin dan deferipron. Kadar MMP-2 serum diperiksa dengan metode ELISA dan perhitungan skor APRI dengan Rumus Wai. Perbedaan dan korelasi ditentukan antara varibel dengan uji Mann-Whitney dan Rank Spearmann. Analisis kovariat digunakan untuk menghilangkan faktor perancu.Hasil. Terdapat 44 subjek, 22 mendapat terapi kelasi besi deferoksamin dan 22 deferipron. Kadar MMP-2 serum kelompok deferipron lebih rendah (130ng/mL) dibandingkan deferoksamin (314ng/mL). Skor APRI kelompok deferipron rata-rata lebih tinggi (1,584) dibanding deferoksamin (0,575). Perbedaan skor APRI dan kadar MMP-2 serum kedua kelompok sangat bermakna (p<0,001). Terdapat korelasi negatif antara kadar MMP-2 serum dan skor APRI, yaitu semakin tinggi skor APRI maka semakin rendah kadar MMP-2 serum penyandang thalassemia yang mendapat terapi kelasi besi deferipron dan deferoksamin (r=-0,726, p=<0,001).Kesimpulan. Penurunan kadar MMP-2 serum dan peningkatan skor APRI untuk menilai fibrosis hati pada kelompok terapi kelasi besi deferipron lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok deferoksamin serta terdapat korelasi negatif antara kadar MMP-2 serum dan skor APRI
Hubungan Kadar Vitamin D dengan Anak Atopi dan Obesitas Elza Noviani; Dwi Prasetyo; Budi Setiabudiawan
Sari Pediatri Vol 16, No 5 (2015)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp16.5.2015.342-6

Abstract

Latar belakang. Angka kejadian penyakit atopik dan obesitas meningkat bersamaan. Hubungan kadarvitamin D dengan atopi masih kontroversial.Tujuan. Menilai hubungan kadar vitamin D dengan anak atopi dan obesitas.Metode. Penelitian desain potong silang, sejak bulan Agustus sampai Desember 2013, terhadap 62 anakobesitas dan gizi normal murid sekolah dasar Kota Bandung. Kadar vitamin D-25 OH serum diukur denganmetode chemiluminescent immunoassay, dilakukan uji tusuk kulit dan kuosioner The International StudyOf Asthma And Allergies In Childhood. Analisis data dengan uji chi Kuadrat dan two-way Anova.Hasil. Tidak terdapat perbedaan rerata kadar vitamin D antara kelompok anak obesitas dan status gizi normal(p=0,994). Tidak terdapat perbedaan rerata kadar vitamin D antara kelompok atopi dan non-atopi (p= 0,58).Tidak terdapat interaksi antara kelompok atopi dan status gizi terhadap kadar vitamin D (p= 0,24).Kesimpulan. Tidak terdapat hubungan antara kadar vitamin D dengan anak atopi dan obesitas.
Hubungan antara Kadar Leptin Serum dan Manifestasi Penyakit Atopik pada Anak Obes Dita Lasendra; Harry Raspati; Budi Setiabudiawan
Sari Pediatri Vol 17, No 1 (2015)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp17.1.2015.35-40

Abstract

Latar belakang. Kadar leptin meningkat pada obesitas sehingga diduga ada peran leptin dalam menimbulkan manifestasi penyakitatopik.Tujuan. Mengetahui hubungan antara kadar leptin serum dan manifestasi penyakit atopik pada anak obesitas.Metode. Penelitian cross sectional yang dilaksanakan pada bulan November 2013, melibatkan siswa beberapa Sekolah Dasar di KotaBandung usia 6-11 tahun, terbagi menjadi kelompok anak obesitas dan gizi normal, masing-masing 34 anak. Dilakukan anamnesisuntuk memperoleh data riwayat penyakit atopi di keluarga dan faktor lingkungan yang memengaruhi atopi, pemeriksaan uji tusukkulit untuk mengetahui adanya atopi, pemeriksaan ELISA untuk kadar leptin serum, dan kuesioner ISAAC untuk manifestasi penyakitatopik. Analisis statistik yang digunakan adalah uji chi kuadrat. Kurva ROC digunakan untuk melihat batas kadar leptin yang dapatmenimbulkan manifestasi penyakit atopik.Hasil. Kadar leptin tinggi lebih banyak didapatkan pada anak obes dengan manifestasi penyakit atopik (n=20) dibandingkan dengantanpa manifestasi penyakit atopik (n=10) dan anak gizi normal dengan manifestasi penyakit atopik (n=10) maupun tanpa manifestasipenyakit atopik (n=13) (p=0,04).Keimpulan. Kadar leptin serum tinggi lebih banyak didapatkan pada anak obes dengan manifestasi penyakit atopik dibandingkandengan anak obesitas tanpa manifestasi penyakit atopik.
Studi Observasional Pasca-Pemasaran Formula Isolat Protein Kedelai pada Bayi dengan Gejala Sugestif Alergi Terhadap Protein Susu Sapi Zakiudin Munasir; Dina Muktiarti; Anang Endaryanto; Ketut Dewi Kumarawati; Budi Setiabudiawan; Sumadiono Sumadiono; Johannes Hudyono; Melva Louisa; Arini Setiawati
Sari Pediatri Vol 15, No 4 (2013)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp15.4.2013.237-43

Abstract

Latar belakang. Fomula berbasis isolat protein kedelai banyak digunakan untuk anak-anak dengan alergi susu sapi di Indonesia. Namun, diperlukan penelitian untuk mendapatkan gambaran penerimaan orangtua dan toleransi saluran cerna pada penggunaan formula isolat protein kedelai.Tujuan. Pertama, menentukan penerimaan orangtua terhadap pemberian suatu isolat protein kedelai pada bayi yang diduga mengalami alergi terhadap protein susu sapi. Kedua, mengetahui toleransi saluran cerna pada pemberian susu formula tersebut.Metode. Suatu studi pasca-pemasaran, prospektif, multisenter yang dilakukan di Jakarta, Bandung, Surabaya, Yogyakarta, Solo, dan Denpasar sejak September 2011 sampai April 2012. Subyek berusia antara 6 bulan hingga 1 tahun dengan gejala dugaan alergi terhadap protein susu sapi yang diberikan formula isolat protein kedelai dan diamati selama 4 minggu. Luaran yang diharapkan adalah penerimaan orangtua terhadap pemberian formula isolat protein kedelai dan toleransi saluran cerna terhadap pemberian isolat protein kedelai.Hasil. Diteliti 534 subyek yang dapat dianalisis selama periode penelitian. Mayoritas orangtua (84%) merasa puas dengan formula isolat protein kedelai, 83% orangtua berencana untuk melanjutkan pemberian susu formula karena berkurang (31,5%) dan hilangnya gejala yang diduga akibat alergi susu sapi (32,4%). Gejala klinis yang diduga akibat alergi terhadap protein susu sapi menurun pada setiap kunjungan berikutnya. Tidak ada efek samping serius yang dilaporkan selama periode penelitian.Kesimpulan. Penelitian ini menemukan tingkat penerimaan orangtua dan toleransi saluran cerna yang baik terhadap pemberian formula isolat protein kedelai kepada bayi dengan gejala sugestif alergi terhadap protein susu sapi. Formula isolat protein kedelai cukup aman dijadikan sebagai formula alternatif pengganti pada anak dengan alergi susu sapi.
Bula Hemoragik dengan Komplikasi Perforasi Gaster Sebagai Manifestasi Klinis Purpura Henoch-Schonlein yang Tidak Biasa pada Anak Budi Setiabudiawan; Reni Ghrahani; Gartika Sapartini; Nur Melani Sari; Herry Garna
Sari Pediatri Vol 13, No 4 (2011)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp13.4.2011.257-64

Abstract

Purpura Henoch-Schonlein (PHS) merupakan vaskulitis pada pembuluh darah kecil tersering terjadi pada anak. Penyakit ini ditandai dengan purpura palpablenontrombositopenia disertai salah satu gejala nyeri perut, artritis atau atralgia, glomerulonefritis, dan hasil biopsi jaringan berupa gambaran vaskulitis leukositoklastik. Bula hemoragik disertai edema jaringan subkutan merupakan gambaran yang tidak umum pada PHS dan sering terlewatkan. Manifestasi klinis vesikobulosa PHS sering ditemukan pada pasien dewasa, 16%–60% kasus, sedangkan pada anak kurang dari 2% kasus. Walaupun PHS secara tipikal merupakan penyakit selflimiting, tetapi komplikasi serius dapat terjadi. Perforasi gaster sangat jarang dilaporkan sebagai komplikasi PHS. Kami melaporkan 2 kasus PHS dengan manifestasi kulit yang berat, yaitu timbulnya bula hemoragik disertai dengan perforasi gaster. Pada kedua kasus dilakukan tindakan operatif dengan keluaran yang berbeda, pada kasus pertama pasien dipulangkan dalam kondisi baik pascaoperasi setelah dilakukan laparatomi eksplorasi, walaupun masih menderita nefritis. Sedangkan pasien kedua meninggal setelah tindakan diagnostic peritoneal lavagedisebabkan sepsis berat. Simpulan, bula hemoragik dapat dipertimbangkan sebagai prediktor komplikasi perforasi gaster pada PHS yang akan meningkatkan kewaspadaan dalam tata laksana PHS
Hubungan Usia, Jenis Kelamin, Pendidikan Orangtua, Status Sosioekonomi Keluarga, dan Dosis Kumulatif Prednison dengan Masalah Psikososial Pasien Sindrom Nefrotik Idiopatik Mahesa Suryanagara; Dedi Rachmadi; Budi Setiabudiawan
Sari Pediatri Vol 15, No 6 (2014)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (247.084 KB) | DOI: 10.14238/sp15.6.2014.415-9

Abstract

Latar belakang. Sindrom nefrotik idiopatik (SNI) merupakan penyakit kronik yang memerlukan pengobatan steroid jangka panjang. Pada penyakit kronik lain telah diteliti pemberian steroid jangka panjang dan faktor yang berpengaruh terhadap terjadinya masalah psikososial.Tujuan. Menganalisis hubungan faktor usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan orangtua, status sosioekonomi, dan dosis kumulatif prednison dengan terjadinya masalah psikososial.Metode. Penelitian cross sectional dilaksanakan dari Januari 2013 sampai Mei 2013 melibatkan 26 subjek. Masalah psikososial dinilai dengan kuesioner Pediatric Symptom Checklist (PSC)-17. Analisis statistik dengan uji chi-square dan regresi logistik ganda.Hasil. Terdapat 13 dari 26 subjek mengalami masalah psikososial. Hasil analisis bivariabel mendapatkan usia 10-14 tahun RP 2,56 (IK95% 1,16−5,64); p=0,016, jenis kelamin perempuan RP 2,86 (IK 95% 1,02−8,04); p=0,016, pendidikan dasar orangtua RP 3,60 (IK 95% 1,50-8,62); p=0,004, status sosioekonomi keluarga rendah RP 1,25 (IK95% 0,54−2,89); p=0,001, dan dosis kumulatif prednison ≥3.640 mg RP 4,714 (IK 95% 1,292−17,201); p=0,002. Analisis multivariabel didapatkan usia RP 25,17 (IK95% 1,01-629,71); p=0,050, sosioekonomi RP 7,80 (IK95% 1,26-48,50); p=0.032, dan dosis kumulatif prednison RP 39,34 (IK 95% 1,89-818,93); p=0,018.Kesimpulan. Faktor usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan orangtua, status sosioekonomi, dan dosis kumulatif prednison berhubungan dengan masalah psikososial pasien SNI. Dosis kumulatif prednison merupakan faktor paling dominan terhadap terjadinya masalah psikososial pasien SNI.
Co-Authors Abdurachman Sukadi Abdurachman Sukadi Ahmad Zaeni Syafii Alex Chairulfatah Ambrosius Purba Anang Endaryanto Andhika T. Hutapea Andri Firdaus Ani Melani Maskoen Arini Setiawati Asep Aziz Asopari Asri Arum Sari Atu Purnama Dewi Ayu Alia Aziz, Muhammad Alamsyah Bakhtiar Bakhtiar Basrowi, Ray Wagiu Benny Hasan Purwara Budi Handono Cissy B. Kartasasmita Cissy B. Kartasasmita Citra Amelinda Dedi Rachmadi Diana Rosifah Diet Sadiah Rustama Dikdik Kurnia Dilantika, Charisma Dina Muktiarti, Dina Dita Lasendra Djatnika Setiabudi Dwi Prasetyo Edhyana Sahiratmadja Edhyana Sahiratmadja Elza Noviani Endang Sutedja Erny Rachmawati Triwardhani Fedri Ruluwedrata Rinawan Gaga Irawan Nugraha Gartika Sapartini Harold Eka Atmaja Harry Raspati Hendra Dian Adhita Henni Djuhaeni Herry Garna Hesti Puspasari Ida Parwati Ika Agus Rini Irma Ruslina Defi Irman Permana Irna Sufiawati Isabella Riandani Johanes C. Mose Johanes C. Mose Johannes Cornelius Mose Johannes Hudyono Juandy Jo Jusuf Sulaeman Effendi Kartjito, Melissa Stephanie Keri Lestari Ketut Dewi Kumara Wati Kuswandewi Mutyara Laniyati Hamijoyo, Laniyati Lelani Reniarti M. Thaufiq S. Boesoirie, M. Thaufiq S. Mahesa Suryanagara Melati Sudiro Melva Louisa Mieke H. Satari Minerva Riani Kadir Mohamad Yanuar Anggara Myrna Soepriadi Nur Melani Sari Perdana, Nanan Surya Putria Rayani Putria Rayani Apandi Raden Tina Dewi Judistiani Rahmat Gunadi Reni Ghrahani Reni Ghrahani Reni Ghrahani Reni Ghrahani Reni Ghrahani DM Riana Novy RINI SUNDARI RINI SUNDARI, RINI Rovina Ruslami, Rovina Saputri, R. Ayu Hardianti Sasfia Candrianita Sefty Mariany Samosir Setyorini Irianti Sheba, Shiane Hanako Sinta Boesoerie Sitorus, Nova Sjarif Hidayat Effendi Sofie R. Krisnadi Sumadiono Sumadiono Sunjaya, Deni K. Surapsari, Juwalita Susy P. Wihadi Sylvia Rachmayati Teti Madiadipoera Tetty Yuniati Tetty Yuniati Thaufiq S. Boesoirie Tisnasari Hafsah Triana Nurul Meirina Triatmaja, Dendy Vitriana Vitriana Vycke Yunivita Kusumah Dewi Weninggalih, Endah Yulia Yulia Zakiudin Munasir Zulfan M. Alibasyah