Claim Missing Document
Check
Articles

Found 33 Documents
Search

Manfaat Serat Larut Air untuk Kontrol Glikemik pada Diabetes Mellitus Tipe 2: Systematic Review : Soluble Fiber Benefits for Glycemic Control in Type 2 Diabetes Mellitus: A Systematic Review Shafira Dwiana Fitriani; Asih Setiarini
Media Publikasi Promosi Kesehatan Indonesia Vol. 7 No. 3 (2024)
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/mppki.v7i3.4776

Abstract

Latar belakang: DM tipe 2 merupakan salah satu penyakit tidak menular yang mempunyai prevalensi tertinggi di dunia. Asupan serat yang tinggi selalu menjadi rekomendasi dalam penatalaksanaan diabetes. Serat merupakan salah satu faktor yang berkontribusi pada kontrol glikemik pasien DM Tipe 2. Tujuan: Tinjauan sistematis ini menganalisis manfaat asupan serat larut air dengan kontrol glikemik pada pasien DM Tipe 2. Metode: Desain penelitian yang digunakan yaitu tinjauan sistematis. Penelusuran artikel melalui database elektronik PUBMED, EMBESE dan SCOPUS yang diterbitkan dalam rentang tahun 2014 – 2023 dengan kriteria yang disusun berdasarkan kerangka kerja PICO. Artikel dicari menggunakan kata kunci yang sudah di tetapkan dengan bahasa inggris. Systematic Review ini menggunakan 10 artikel yang sesuai dengan kriteria inklusi dan sesuai relevansi. Hasil pencarian database disajikan menggunakan diagram alir PRISMA. Hasil: Berdasarkan hasil analisis, 9 dari 10 artikel menunjukkan adanya hubungan antara asupan serat larut air dengan kontrol glikemik pada penderita DM Tipe 2. Asupan serat yang tinggi pada pasien DM Tipe 2 berhubungan dengan kontrol glikemik yang baik dibandingkan dengan yang asupan seratnya rendah. Kesimpulan: Pasien DM Tipe 2 yang serat harian nya tidak tercukupi memiliki kontrol glikemik yang kurang baik. Konsumsi asupan serat makanan yang lebih tinggi secara konsisten dikaitkan dengan status kontrol glikemik yang lebih baik dan menunjukkan efek perlindungan jangka panjang.
Konsumsi Vitamin A untuk Mencegah Kejadian Stunting : Systematic Review: Consumption of Vitamin A to Prevent Stunting Incidents: Systematic Review Amelia Yuniarti; Asih Setiarini
Media Publikasi Promosi Kesehatan Indonesia Vol. 7 No. 3 (2024)
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/mppki.v7i3.4784

Abstract

Latar belakang: Stunting atau pendek merupakan kondisi gagal tumbuh pada anak bayi dan balita akibat dari kekurangan gizi kronis dan kondisi ini akan terlihat setelah anak berusia 2 tahun. Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007 angka prevalensi stunting di Indonesia yaitu 36,8%, tahun 2010 yaitu 35,6%, dan pada tahun 2013 prevalensinya meningkat menjadi 37,2%, terdiri dari 18% sangat pendek dan 19,2% pendek. Data Riskesdas tahun 2018 menunjukkan prevalensi balita stunting di Indonesia sebesar 30,8%. Suplementasi Vitamin A berpengaruh terhadap dua indikator gizi anak yaitu anemia (dikategorikan menjadi anemia, dan anemia ringan/sedang) dan kegagalan antropometrik (stunting, wasting, dan underweight) pada anak usia 6–59 bulan. Tujuan: penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan konsumsi vitamin A dengan kejadian stunting Metode: penelitian menggunakan metode Systematic Literatur Review dengan menggunakan 3 alat atau mesin pencarian jurnal, yaitu Embase, ScienceDirect, PubMed dan menggunakan diagram PRISMA (Preffered Reporting Item For Systematic Review and Meta Analysis) yang di terbitkan dalam tahun 2014 sampai 2023. Jurnal yang didapat sebanyak 441 jurnal dan 10 jurnal di review peneliti. Hasil: 7 dari 10 artikel yang di analiasis ada hubungan antara konsumsi Vitamin A dengan kejadian Stunting, ini menunjukan bahwa asupan micronutrient (Vit A) yang rendah akan beresiko lebih besar terhadap kejadian Stunting. Kesimpulan: balita yang tidak mendapatkan/mengkonsumsi vitamin A maka semakin besar untuk kejadian Stunting.
Faktor Status Menstruasi, Usia, Pola Konsumsi Protein Hewani, dan Tempat Tinggal terhadap Status Anemia Remaja Putri Usia 10-18 Tahun (Survei Kesehatan Indonesia Tahun 2023) Retno Andantya; Asih Setiarini
Malahayati Nursing Journal Vol 8, No 10 (2026): Volume 8 Nomor 10 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v8i10.26301

Abstract

ABSTRACT Anemia among adolescent girls remains a public health problem in Indonesia and may negatively affect physical fitness, learning concentration, and cognitive development. Biological factors, age, animal-source food consumption, and residential characteristics are suspected to be associated with anemia among adolescent girls. This study aimed to analyze the association between menstrual status, age, animal-source protein consumption, and residence with anemia status among Indonesian adolescent girls aged 10–18 years (Indonesian Health Survey (SKI) 2023). This study used a quantitative cross-sectional design with secondary data from the 2023 Indonesian Health Survey. The study included 1,732 adolescent girls aged 10–18 years who met the inclusion and exclusion criteria. Data were analyzed using univariate and bivariate analyses with chi-square tests and weighted according to the SKI 2023 analysis guidelines. The prevalence of anemia among adolescent girls aged 10–18 years was 20.5%, which is still categorized as a moderate public health problem. Bivariate analysis showed that age, animal-source protein consumption, and residence were significantly associated with anemia status (p0.05). Adolescent girls aged 15–18 years had a 1.447 times higher likelihood of anemia compared to those aged 10–14 years (OR=1.447; 95% CI=1.443–1.450). Girls living in rural areas had a 1.178 times higher likelihood of anemia compared to those living in urban areas (OR=1.178; 95% CI=1.176–1.181). Low frequency of animal-source food consumption was also associated with increased odds of anemia, particularly low egg consumption (OR=1.182; 95% CI=1.179–1.185). Age, animal-source protein consumption, and residence were associated with anemia among adolescent girls aged 10–18 years in Indonesia. Comprehensive anemia prevention efforts are needed through nutrition education, increased intake of iron-rich foods, optimization of iron supplementation programs, and strengthening health interventions, particularly in rural areas. Keywords: Anemia, Adolescent Girls, Residence, Animal-Source Protein.  ABSTRAK Anemia pada remaja putri masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia dan dapat berdampak pada penurunan kebugaran, konsentrasi belajar, serta perkembangan fisik dan kognitif. Faktor biologis, usia, pola konsumsi protein hewani, dan lingkungan tempat tinggal diduga berhubungan dengan status anemia pada remaja putri. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan status menstruasi, usia, pola konsumsi protein hewani, dan tempat tinggal terhadap status anemia pada remaja putri usia 10–18 tahun di Indonesia (Survei Kesehatan Indonesia tahun 2023). Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain cross sectional menggunakan data sekunder SKI 2023. Sampel penelitian berjumlah 1.732 remaja putri usia 10–18 tahun yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji chi-square dengan penerapan pembobotan sesuai pedoman analisis data SKI 2023. Proporsi anemia pada remaja putri usia 10–18 tahun sebesar 20,5% dan masih tergolong masalah kesehatan masyarakat kategori moderate. Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa usia, pola konsumsi protein hewani khususnya konsumsi telur dan hasil olahannya, dan tempat tinggal berhubungan signifikan dengan status anemia (p0,05). Remaja usia 15–18 tahun memiliki peluang mengalami anemia sebesar 1,447 kali dibandingkan usia 10–14 tahun (OR=1,447; 95% CI=1,443–1,450). Remaja yang tinggal di wilayah perdesaan memiliki peluang anemia sebesar 1,178 kali dibandingkan wilayah perkotaan (OR=1,178; 95% CI=1,176–1,181). Frekuensi konsumsi protein hewani yang rendah juga berhubungan dengan meningkatnya peluang anemia, terutama pada konsumsi telur dan hasil olahannya (OR=1,182; 95% CI=1,179–1,185). Usia, pola konsumsi protein hewani, dan tempat tinggal berhubungan dengan status anemia pada remaja putri usia 10–18 tahun di Indonesia. Upaya pencegahan anemia perlu dilakukan secara komprehensif melalui edukasi gizi, peningkatan konsumsi protein sumber zat besi, optimalisasi suplementasi Tablet Tambah Darah (TTD), dan penguatan intervensi kesehatan khususnya di wilayah perdesaan. Kata Kunci: Anemia, Remaja Putri, Tempat Tinggal, Pola Konsumsi Protein Hewani.