Claim Missing Document
Check
Articles

Found 40 Documents
Search

Marjinalisasi Cerpen Kematian Paman Gober Karya Seno Gumira Ajidarma Ainun Tahir; Juanda Juanda; Aslan Abidin
Dinamika: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pembelajarannya Vol. 8 No. 2 (2025): Bahasa, Sastra, dan Pembelajarannya
Publisher : Universitas Suryakancana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35194/jd.v8i2.5446

Abstract

This study aims to describe the forms of power domination and resistance depicted in the short story Kematian Paman Gober by Seno Gumira Ajidarma, using a descriptive qualitative method. The analysis reveals the presence of bourgeois exploitation and selfishness, highlighting the ongoing oppression of the proletariat. Two main forms of domination are identified: bourgeois domination rooted in egoism and systemic exploitation. In response, various forms of resistance emerge, including protest, condemnation, threats toward the bourgeois class, and attacks on capital production and business operations. This research contributes to Indonesian literary studies through a Marxist perspective, particularly in examining social marginalization as portrayed in short fiction. By focusing on the representation of lower-class characters and class power relations, the study underscores the role of literature as a medium of critique against socio-economic inequality. Future studies are encouraged to investigate similar themes in other literary genres such as novels or drama, and to adopt interdisciplinary approaches for a more comprehensive understanding of class struggles in Indonesian literature. Keywords: marginalization; marxism; power domination; resistance ABSTRAK Penelitian ini tujuannya mendeskripsikan bentuk dominasi kekuasaan serta bentuk perlawanan terhadap dominasi kekuasaan dalam cerpen dijadikan sumber data dianalisa. Penelitian memakai metode kualitatif deskriptif. Sumber data penelitian yakni cerpen Kematian Paman Gober karya Seno Gumira Ajidarma, Hasil penelitian ini menunjukkan adanya eksploitasi dan keegoisan dari kaum borjuis yang terus menindas kaum proletar. Adapun bentuk-bentuk dominasi kekuasaan terdapat dua bentuk, yakni borjuis dan egoistis, serta eksploitasi. Sedangkan bentuk-bentuk perlawanan terhadap dominasi kekuasaan adalah perlawanan. Perlawanan yang ditunjukkan dalam cerpen ini berupa protes, kecaman dan ancaman kepada kaum borjuis, serta penyerangan pada produksi modal dan usaha. Penelitian ini berkontribusi dalam memperkaya kajian sastra Indonesia melalui pendekatan teori Marxisme, khususnya dalam menganalisis isu-isu marjinalisasi sosial dalam cerpen. Dengan memfokuskan pada representasi tokoh-tokoh kelas bawah dan relasi kuasa dalam teks, studi ini mengungkap bagaimana cerpen menjadi medium kritik terhadap struktur sosial-ekonomi yang timpang. Penelitian selanjutnya disarankan untuk mengkaji representasi marjinalisasi dalam bentuk karya sastra lain seperti novel atau drama, serta mempertimbangkan penggunaan pendekatan interdisipliner agar memperoleh pemahaman yang lebih holistik terhadap isu kelas dalam sastra Indonesia. Keywords: dominasi kekuasaan, marjinalisasi, marxisme, perlawanan
PROGRAM AMC (AKU MAU CERITA) SEBAGAI WADAH PENGEMBANGAN KREATIVITAS DAN STORYTELLING MAHASISWA DI RRI PRO 2 MAKASSAR Muhammad Alfian Tuflih; Mayong Mayong; Aslan Abidin; Putri Nadila
ALAINA: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 3 No. 1 (2026): ALAINA: JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT: IN PROGRESS
Publisher : Cendekia Citra Gemilang Scholar Foundation, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61798/alaina.v3i1.440

Abstract

Program magang di Lembaga Penyiaran Publik Radio Republik Indonesia (RRI) Pro 2 Makassar melalui program AMC (Aku Mau Cerita) bertujuan untuk meningkatkan keterampilan mahasiswa dalam menulis naskah cerita, teknik bercerita, serta pemahaman proses produksi audio berbasis pengalaman personal. Kegiatan ini dilaksanakan melalui metode partisipasi aktif, observasi langsung, dan praktik produksi konten yang ditayangkan pada segmen Jaga Malam. Dalam proses pelaksanaannya, mahasiswa menghadapi berbagai tantangan, seperti kesulitan merangkai pengalaman menjadi naskah naratif yang komunikatif, rasa gugup saat melakukan perekaman suara, serta penyesuaian terhadap standar produksi siaran radio yang menuntut ketelitian dan konsistensi kualitas audio. Selain itu, mahasiswa harus beradaptasi dengan dinamika kerja tim, alur komunikasi kreatif, dan ritme kerja penyiaran yang profesional. Meskipun tantangan tersebut cukup menantang, melalui bimbingan penyiar dan tim produksi, mahasiswa mampu mengembangkan kemampuan menulis, meningkatkan ekspresi vokal, serta memahami alur produksi siaran mulai dari penulisan hingga penayangan. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan kepercayaan diri, kemampuan komunikasi, serta pemahaman mahasiswa terhadap praktik penyiaran berbasis narasi personal. Secara keseluruhan, program AMC menjadi sarana pembelajaran kontekstual yang efektif dalam mengasah kreativitas, kemampuan bercerita, dan profesionalisme mahasiswa di dunia penyiaran modern.
Relasi Kuasa dalam Novel Sunyi adalah Minuman Keras Karya Sapardi Djoko Damono: Analisis Wacana Kritis Michel Foucault Aslan Abidin; Ridwan Ridwan; Yusril Saputra
Belajar Bahasa: Jurnal Ilmiah Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 11 No 1 (2026): Belajar Bahasa: Jurnal Ilmiah Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indones
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32528/bb.v11i1.3716

Abstract

This study analyses Sapardi Djoko Damono's novel Sunyi adalah Minuman Keras (Silence is Alcohol), focusing on power relations over the body and mind, as well as forms of resistance that emerge in the text. This study aims to analyse Sapardi Djoko Damono's novel Sunyi adalah Minuman Keras (Silence is Alcohol), focusing on power relations over the body and mind, as well as forms of resistance that emerge in the text. Using a qualitative approach and Michel Foucault's critical discourse analysis, this study explains how power operates through language and shapes individual subjectivity in the novel. The results show that cognitive control mechanisms such as manipulation, objectification, and stigmatisation reflect power relations over the mind. These mechanisms shape the way characters view themselves and their world. Furthermore, social control that regulates physical actions, lifestyles, and bodily discipline reveals that power relations over the body are often reinforced by cultural and religious norms. The novel also depicts resistance to power through various explicit and implicit means in the characters' storylines. This study shows that Sunyi is Minuman Keras is not merely a work of literature, but also a complex representation of the power dynamics that shape human life. This study helps us understand how literary discourse can both replicate and challenge power structures in society.
EKSPRESI KEBEBASAN DAN TANGGUNG JAWAB PEREMPUAN DALAM NOVEL 'PAYA NIE' KARYA IDA FITRI (KAJIAN PSIKOLOGI SASTRA) Fiah Luthfiah Bani; Andi Karman; Aslan Abidin
Jurnal Tuturan Vol 15 No 1 (2026): TUTURAN JURNAL PENDIDIKAN, BAHASA DAN SASTRA
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia Sekolah Pascasarjana UGJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33603/jurnaltuturan.v15i1.12015

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan ekspresi kebebasan dan tanggung jawab tokoh perempuan dalam novel Paya Nie karya Ida Fitri melalui pendekatan psikologi sastra dengan perspektif eksistensialisme Jean-Paul Sartre. Novel ini dikaji untuk meengkpresikan pengalaman hidup perempuan dalam situasi sosial seperti kemiskinan, tekanan sosial, dan konflik kehidupan masyarakat Aceh. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik analisis tematik terhadap data berupa narasi, dialog, dan monolog tokoh perempuan dalam novel. Data dikumpulkan melalui teknik membaca intensif, mencatat, dan mengklasifikasikan kutipan yang relevan dengan fokus penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekspresi kebebasan tokoh perempuan diwujudkan dalam dua bentuk, yaitu kebebasan dalam perkataan dan kebebasan dalam perbuatan. Kebebasan dalam perkataan terlihat melalui keberanian tokoh perempuan dalam menyampaikan pendapat dan menentukan pilihan hidup, sedangkan kebebasan dalam perbuatan tercermin melalui tindakan tokoh dalam merespons situasi sosial yang dihadapinya. Penelitian ini juga menemukan ekspresi tanggung jawab tokoh perempuan yang diwujudkan dalam bentuk perkataan maupun perbuatan, seperti kepedulian terhadap keluarga dan kesadaran menjalankan peran sosial. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa kebebasan tokoh perempuan dalam novel Paya Nie tidak terlepas dari tanggung jawab yang harus mereka emban sebagai konsekuensi dari pilihan hidup yang diambil.
Ekologi Sosial dan Psikologis dalam Novel Kamu Gak Sendiri: Kajian Ekologi Sastra terhadap Krisis Relasi Masyarakat Urban Umrah Umrah; Usman Pahar; Aslan Abidin
Jurnal Dieksis ID Vol. 6 No. 2 (2026): Juli - Desember 2026
Publisher : Pustaka Digital Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54065/dieksis.6.2.2026.1467

Abstract

Urgensi penelitian ini adalah mengungkap keterkaitan antara krisis psikologis individu dan dinamika relasi sosial masyarakat urban yang direpresentasikan dalam novel Kamu Gak Sendiri melalui perspektif ekologi sastra. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji representasi krisis batin individu dalam novel Kamu Gak Sendiri karya Syahid Muhammad melalui pendekatan ekologi sastra. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif, dengan teknik pengumpulan data berupa pembacaan secara mendalam (close reading) dan teknik pencatatan. Data penelitian berupa kutipan kata, frasa, kalimat, dan paragraf yang merepresentasikan pengalaman psikologis para tokoh dalam novel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa krisis batin para tokoh termanifestasi dalam beberapa bentuk, yaitu perasaan menjadi beban bagi orang lain, kecemasan terhadap penilaian sosial (overthinking), kecemasan yang mendominasi dan membatasi tindakan, kelelahan eksistensial yang memunculkan keinginan untuk menyerah, serta penerimaan terhadap realitas kehidupan sebagai proses penyembuhan batin. Temuan ini menunjukkan bahwa krisis psikologis yang dialami para tokoh tidak hanya berkaitan dengan kondisi internal individu, tetapi juga dipengaruhi oleh dinamika hubungan sosial dalam masyarakat modern. Dengan demikian, novel Kamu Gak Sendiri menggambarkan bahwa kondisi psikologis individu memiliki keterkaitan yang erat dengan keseimbangan ekosistem sosial yang memengaruhi dan membentuk kehidupan manusia.
KESADARAN SOSIAL DAN RELASI KEKUASAAN DALAM NOVEL ANAK SEMUA BANGSA KARYA PRAMOEDYA ANANTA TOER: KAJIAN NEW HISTORICISM Siti Nur Rahmah Hastuti; Andi Karman; Aslan Abidin
Wahana Literasi: Journal of Language, Literature, and Linguistics Vol 6, No 1 (2026): Wahana Literasi: Journal of Language, Literature, and Linguistics
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59562/wl.v6i1.85445

Abstract

Novel Anak Semua Bangsa karya Pramoedya Ananta Toer merupakan bagian kedua dari tetralogi Buru yang menggambarkan kehidupan masyarakat pribumi pada masa kolonial Belanda. Karya ini tidak hanya menyajikan cerita fiksi, tetapi juga memperlihatkan realitas sosial dan relasi kekuasaan yang terjadi pada masa tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kesadaran sosial dan relasi kekuasaan yang muncul dalam novel melalui pendekatan New Historicism. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif deskriptif dengan teknik analisis teks. Data penelitian diambil dari novel Anak Semua Bangsa terbitan Hasta Mitra. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perubahan kesadaran tokoh utama, Minke, dipicu oleh peristiwa traumatis dan pengamatan kritis terhadap diskriminasi kolonial. Relasi kekuasaan ditemukan tidak hanya dalam bentuk fisik, tetapi juga melalui kontrol ruang gerak, bahasa metaforis, dan normalisasi penindasan yang membatasi hak dasar masyarakat pribumi. Kesadaran akan ideologi dan prinsip menjadi titik awal munculnya perlawanan terhadap dominasi kolonial dalam narasi tersebut Kata kunci: New Historicism, relasi kekuasaan, kesadaran sosial, sastra Indonesia
ANALISIS NILAI MORAL NOVEL JANJI KARYA TERE LIYE PERSPEKTIF CULTURAL STUDIES Nurhikma Nurhikma; Andi Karman; Aslan Abidin
Wahana Literasi: Journal of Language, Literature, and Linguistics Vol 6, No 1 (2026): Wahana Literasi: Journal of Language, Literature, and Linguistics
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59562/wl.v6i1.85381

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis dialog antarbudaya dalam perspektif cultural studies dan nilai moral dalam hubungan antarmanusia pada novel Janji karya Tere Liye. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif analitis. Sumber data berupa novel Janji karya Tere Liye yang diterbitkan oleh Penerbit Sabak Grip Nusantara. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui teknik baca dan catat dengan pemilihan data secara purposif, menghasilkan 13 kutipan yang relevan. Data dianalisis menggunakan analisis isi (content analysis) dengan perspektif cultural studies melalui tiga tahap, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan dua temuan utama: pertama, novel Janji memuat dialog antarbudaya yang mencakup enam aspek, yaitu ideologi, relasi kuasa, representasi budaya, identitas sosial, kelas sosial, dan praktik budaya; kedua, novel ini mengandung tujuh nilai moral dalam hubungan antarmanusia, meliputi peduli sesama, tolong-menolong, musyawarah, hidup rukun, pemaaf, tepat janji, dan menghargai orang lain. Nilai-nilai moral tersebut terintegrasi secara organik dalam dialog antarbudaya antartokoh, sehingga novel ini layak dijadikan media pendidikan karakter sekaligus bahan ajar sastra yang relevan.Kata kunci: nilai moral; dialog antarbudaya; cultural studies; novel; Tere Liye 
Ritual Domestik dan Subkultur Perlawanan dalam Laut Bercerita: Analisis Wujud Kebudayaan Koentjaraningrat Tarismah Ismail; Andi Karman; Aslan Abidin
Wahana Literasi: Journal of Language, Literature, and Linguistics Vol 6, No 1 (2026): Wahana Literasi: Journal of Language, Literature, and Linguistics
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59562/wl.v6i1.85744

Abstract

This study analyzes cultural manifestations in Leila S. Chudori's Laut Bercerita using Koentjaraningrat’s literary anthropology framework. A qualitative descriptive method with a literary anthropology approach was employed. Data, consisting of narrative units and dialogues, were analyzed using Miles and Huberman’s interactive model. The results demonstrate three primary findings. First, the ideological system is manifested through resistance and human values acting as a counter-culture against authoritarianism. Second, the behavioral system materializes in domestic rituals and clandestine subcultures that maintain social cohesion. Third, the physical system (artifacts), represented by letters and banned books, transforms into a sacred medium preserving collective memory. In conclusion, Laut Bercerita functions as a fictional ethnography reconstructing historical trauma through cultural practices. This study implies the critical role of literature as a space for cultural transmission to combat historical amnesia regarding state violence.Keywords:, Literary anthropology, Koentjaraningrat, Laut Bercerita, subculture of resistance. domestic rituals.         
BUDAYA POPULER DALAM FILM JANJI JONI KARYA JOKO ANWAR: KAJIAN POSTMODERNISME JEAN FRANCOIS LYOTARD Aslan Abidin; Ridwan Ridwan; Yusril Saputra
Arbitrer : Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 8 No 1 (2026): Arbitrer: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Universitas Pattimura (Indonesia Language and Literature Education Department, The Faculty of Teacher's Training and Educational Sciences, University of Pattimura)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/arbitrervol8no1hlm81-96

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis representasi budaya populer dalam film Janji Joni yang disutradarai oleh Joko Anwar, dengan menggunakan perspektif postmodernisme dari Jean Francois Lyotard. Fokus utama penelitian ini adalah pada dialog dan adegan yang mengandung elemen ironi, parodi, dan camp. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Data dikumpulkan melalui penayangan film secara berulang, pencatatan, dan transkripsi dialog serta adegan yang relevan dengan ketiga elemen postmodernisme tersebut, kemudian data dikelompokkan berdasarkan elemen ironi, parodi, dan camp. Analisis data dilakukan dengan menginterpretasikan dialog dan adegan untuk mengidentifikasi bentuk postmodernisme serta representasi budaya populer di kalangan masyarakat urban Jakarta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa film Janji Joni menampilkan ironi melalui perbedaan antara ekspektasi dan realitas, parodi melalui pembesaran dan ejekan terhadap situasi, kebiasaan, serta norma sosial, dan camp melalui cara berbicara, perilaku, serta situasi yang berlebihan dan humoris. Ketiga elemen ini berfungsi untuk menggambarkan budaya populer masyarakat urban Jakarta melalui dunia bioskop, gaya hidup, interaksi sosial, konsumsi hiburan, dan kebiasaan masyarakat. Selain itu, elemen-elemen ini juga menunjukkan adanya berbagai makna dan penolakan terhadap narasi besar yang sejalan dengan prinsip-prinsip postmodernisme Lyotard. Penelitian ini menegaskan bahwa film Janji Joni tidak hanya berfungsi sebagai media hiburan, tetapi juga sebagai sarana untuk memahami representasi budaya populer, identitas, dan interaksi masyarakat urban dari sudut pandang postmodernisme.
BAHASA SEKSIS DALAM NOVEL MANJALI KARYA AYU UTAMI: ANALISIS WACANA KRITIS SARA MILLS Sri Najmah DS; Aslan Abidin; Suarni Syam Saguni
Neologia: Jurnal Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 7, No 2 (2026): August
Publisher : Fakultas Bahasa dan Sastra Indoensia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59562/neologia.v7i2.84800

Abstract

This study aims to analyze forms of sexist language in the novel Manjali by Ayu Utami using Sara Mills’ critical discourse analysis (CDA) model. This study employed a descriptive qualitative method. Data were collected by reading, note-taking, and classifying utterances and narratives that represent sexist language. Data analysis was conducted through data reduction, presentation, and drawing conclusions. The results indicate the presence of two forms of sexist language: overt and covert sexism. Overt sexism is characterized by the use of language that demeans and objectifies women, whereas covert sexism is represented through metaphors and narratives that position women as inferior. In addition, the female protagonist’s resistance to patriarchal constructs is observed. These findings demonstrate that the language in the novel represents gender ideology and power relations