Claim Missing Document
Check
Articles

Pengaruh Tren Fashion ‘On Shopee vs On Me’ di TikTok terhadap Impulsive Buying Generasi Z Anggreany, Fanny Dwi; Aulia, Sisca
Prologia Vol. 10 No. 1 (2026): Prologia
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/pr.v10i1.33402

Abstract

The rapid expansion of social media, which has become a significant platform for many aspects of human existence, including socializing and purchasing items online. TikTok is a popular and frequently utilized communication medium. TikTok has also evolved into a platform for exchanging brief, entertaining material, such as product recommendations or trends. The purpose of this study is think about is to see at how the 'On Shopee vs On Me' trend on TikTok affects Generation Z's impulsive buying. The primary theoretical concepts used in this study are fashion trends and impulsive buying. This study takes a quantitative strategy, collecting information through a survey. This study's demographic and sample comprise TikTok Generation Z users who may have been exposed to the trend content 'On Shopee vs On Me,' with a add up to test measure of 96 respondents. Research findings, with a coefficient of determination test of 20.5%, appear that there's a positive and considerable affiliation among the trend ‘On Shopee vs On Me’ and Generation Z's impulsive buying behavior, while the remaining results are influenced by other factors. These findings demonstrate TikTok's effectiveness as a marketing medium for persuading the younger generation to become more consumerist. Pesatnya pertumbuhan media sosial yang menjadi platform penting untuk berbagai aspek kehidupan manusia, seperti untuk berinteraksi hingga membeli barang secara online. TikTok menjadi platform yang popular saat ini dan banyak digunakan untuk berkomunikasi. TikTok juga menjadi media untuk berbagi konten singkat dan menarik, seperti rekomendasi produk atau tren. Tujuan dari studi ini adalah untuk menganalisis dampak tren fashion‘On Shopee vs On Me’ di TikTok terhadap impulsive buying generasi Z. Konsep teori yang paling penting dalam penelitian ini adalah tren fashion dan impulsive buying. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif melalui pengumpulan data kuesioner. Total sampel 96 responden yakni kuesioner disebarkan kepada generasi Z yang menggunakan TikTok dan berpotensial terpapar konten tren ‘On Shopee vs On Me’ dengan total sampel 96 responden Hasil penelitian didasarkan pada uji koefisien determinasi sebesar 20,5%. Hal ini menunjukkan adanya korelasi positif dan pengaruh yang signifikan antara tren ‘On Shopee vs On Me’ terhadap impulsive buying generasi Z, sementara sisa hasil uji dipengaruhi oleh faktor lainnya. Hasil ini menunjukkan adanya dampak TikTok sebagai platform pemasaran yang mampu mendorong generasi muda untuk menjadi konsumtif.
Pengaruh Konten Visual Influencer TikTok terhadap Minat Beli Fashion Wanita Generasi Z Marcella, Viona; Aulia, Sisca
Prologia Vol. 10 No. 1 (2026): Prologia
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/pr.v10i1.36504

Abstract

Generation Z in Jakarta is known for being highly responsive to digital trends and demonstrating a strong purchase intention toward various products, including fashion items—especially those promoted through visually oriented social media platforms. This study examines the influence of visual content created by TikTok influencer Nazwa Adinda on the purchase intention of women’s fashion products among Generation Z in Jakarta. The objective of this research is to determine the extent to which an influencer’s visual content can capture attention and affect young consumers’ buying intentions toward fashion products. The study is grounded in the theories of User-Generated Content (UGC), purchase intention, and personal branding. The research method employs a survey distributed to 400 female respondents aged 15–29 who are active TikTok users and follow Nazwa Adinda’s account. Data were analyzed using statistical tests, including simple linear regression. The results show that influencers’ visual content on TikTok significantly enhances purchase intention for fashion products, primarily due to the influencer’s creativity and credibility. The visual strategies employed by TikTok influencers are proven effective as digital marketing tools. The implications of these findings suggest that visual content from TikTok influencers serves not merely as entertainment but as a vital instrument in shaping young consumers’ behavior, particularly in fashion purchasing decisions. Fashion industry players can optimize the quality and authenticity of creative visual content to strengthen audience engagement and boost sales.   Generasi Z di Jakarta dikenal sangat responsif terhadap tren digital serta memiliki tingkat minat beli yang tinggi terhadap berbagai produk, termasuk fashion, terutama yang dipromosikan melalui media sosial berbasis visual. Penelitian ini membahas pengaruh konten visual dari influencer TikTok Nazwa Adinda terhadap minat beli produk fashion wanita di Generasi Z Jakarta. Tujuan penelitian adalah mengetahui seberapa besar konten visual influencer bisa menarik perhatian dan memengaruhi niat beli anak muda terhadap produk fashion. Penelitian memakai teori User Generated Content (UGC), minat beli, dan konsep personal branding. Metode yang digunakan adalah survei kuesioner sebanyak 400 responden pada perempuan usia 15–29 tahun yang aktif di TikTok dan mengikuti akun Nazwa Adinda. Data dianalisis dengan uji statistik, termasuk regresi linier sederhana. Hasilnya menunjukkan konten visual dari influencer di TikTok sangat berpengaruh dalam meningkatkan minat beli produk fashion, terutama berkat kreativitas dan kredibilitas influencer. Strategi visual influencer TikTok efektif sebagai pemasaran digital. Implikasi dari temuan ini adalah bahwa konten visual dari influencer TikTok bukan hanya sekadar media hiburan, tetapi telah menjadi instrumen penting dalam memengaruhi perilaku konsumen muda, khususnya dalam konteks pembelian produk fashion. Pelaku industri fashion dapat mengoptimalkan kualitas dan kreativitas konten visual yang autentik untuk memperkuat keterlibatan audiens dan meningkatkan penjualan.
Pengaruh Strategi Co-Branding Good Day terhadap Brand Awareness Pada Komunitas Gamer Generasi Z Pratiwi, Ayu; Aulia, Sisca
Prologia Vol. 10 No. 1 (2026): Prologia
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/pr.v10i1.37197

Abstract

This research examines how Good Day's collaborative branding initiative with Mobile Legends influences brand recognition among Generation Z gaming enthusiasts. The partnership between an instant coffee brand and gaming platform, executed during August to November 2025, addresses challenges faced by FMCG companies in connecting with younger demographics. Through quantitative methodology, data was gathered via surveys from 100 Mobile Legends Discord community members using purposive sampling techniques. A 4-point Likert scale questionnaire, validated for consistency and accuracy, served as the data collection instrument. Simple linear regression analysis through SPSS 31 revealed the collaborative branding approach significantly enhanced Good Day's brand recognition, explaining 52.1% of variance (t value 10.323 exceeding critical value 1.984, p<0.001). All four collaborative branding dimensions brand compatibility, quality perception, brand linkages, and market reach received favorable evaluations. Good Day achieved strong brand recognition levels (3.46 out of 4.0), demonstrated through comprehensive metrics: brand identification (96 to 99%), spontaneous brand recall (96 to 99%), and primary brand awareness (98%). These findings validate the success of inter industry partnerships in establishing brand consciousness among young consumer segments. Studi ini menginvestigasi dampak inisiatif kolaborasi merek antara Good Day dan Mobile Legends terhadap pengenalan merek Good Day di kalangan konsumen Generasi Z. Kerja sama lintas sektor antara merek kopi instan dan ekosistem gaming yang berlangsung pada periode Agustus hingga November 2025 merepresentasikan strategi dalam menghadapi hambatan industri FMCG dalam meraih perhatian demografi muda. Riset menerapkan pendekatan kuantitatif melalui teknik survei kepada 100 partisipan dari komunitas Discord Mobile Legends yang terseleksi menggunakan purposive sampling. Kuesioner berskala Likert 4 tingkat yang telah terverifikasi validitas serta reliabilitasnya menjadi instrumen pengumpulan data. Pengolahan data melalui regresi linear sederhana menggunakan aplikasi SPSS 31 memperlihatkan bahwa inisiatif kolaborasi merek memberikan dampak positif bermakna pada pengenalan merek Good Day dengan kontribusi varian sebesar 52,1% (nilai t hitung 10,323 melampaui t tabel 1,984, nilai signifikansi <0,001). Seluruh dimensi kolaborasi merek (brand fit, perceived quality, brand associations, market expansion) menunjukkan evaluasi favorable. Tingkat kesadaran merek Good Day berada pada kategori kuat (skor 3,46 dari skala maksimal 4,0) yang terwujud secara menyeluruh pada identifikasi merek (96 sampai 99%), recall merek (96 sampai 99%), serta kesadaran prioritas (98%). Riset ini memvalidasi keefektifan kerja sama lintas sektor dalam membangun kesadaran merek pada segmen konsumen muda.
Analisis Komunikasi Non-Verbal di Line (Studi Kasus Hubungan Jarak Jauh pada Mahasiswa Fikom Untar) Simanjorang, Aura Diva Maria Br; Aulia, Sisca
Koneksi Vol. 10 No. 1 (2026): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v10i1.36477

Abstract

Nonverbal communication is often more powerful than verbal communication, as it can emphasize, strengthen, and even replace spoken messages. In the context of interpersonal relationships, communication. This study discusses the role of nonverbal communication in maintaining emotional closeness among Untar Faculty of Communication Sciences students in long-distance relationships, particularly through the LINE application. In the digital era, nonverbal expressions are no longer only manifested through physical gestures, but also through visual symbols such as stickers, emojis, message reply patterns, and audio features. This study aims to analyze the forms of nonverbal communication used by students in long-distance relationships and understand how these elements help maintain the quality of interpersonal relationships. This study uses Paul Ekman and Wallace Friesen's Kinesics theory, which includes five categories of nonverbal expression: emblem, illustrator, regulator, affect display, and adapter, as the basis for analysis. The research method used is a qualitative approach with in-depth interview techniques and source triangulation. The results show that stickers and emojis are the most dominant digital symbols for expressing emotions, clarifying messages, and reducing miscommunication. Additionally, features like voice notes, reply pauses, and "read" marks serve as digital regulators that help maintain the rhythm of communication. Overall, digital nonverbal communication has been shown to play a crucial role in maintaining emotional closeness in long-distance relationships. Komunikasi nonverbal sering kali lebih kuat dibandingkan komunikasi verbal, karena dapat menegaskan, memperkuat, bahkan menggantikan pesan yang diucapkan. Dalam konteks hubungan antarpribadi. Penelitian ini membahas peran komunikasi nonverbal dalam menjaga kedekatan emosional pada mahasiswa Fikom Untar yang menjalani hubungan jarak jauh (long-distance relationship), khususnya melalui aplikasi LINE. Di era digital, ekspresi non-verbal tidak lagi hanya diwujudkan melalui gestur fisik, tetapi juga melalui simbol visual seperti stiker, emoji, pola balasan pesan, dan fitur audio. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk komunikasi non-verbal yang digunakan mahasiswa dalam hubungan jarak jauh serta memahami bagaimana elemen-elemen tersebut membantu mempertahankan kualitas hubungan interpersonal. Kajian ini menggunakan teori Kinesics Paul Ekman dan Wallace Friesen, yang mencakup lima kategori ekspresi non-verbal: emblem, illustrator, regulator, affect display, dan adaptor, sebagai landasan analisis. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan teknik wawancara mendalam dan triangulasi sumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa stiker dan emoji menjadi simbol digital yang paling dominan untuk mengekspresikan emosi, memperjelas pesan, dan mengurangi miskomunikasi. Selain itu, fitur seperti voice note, jeda balasan, dan tanda “read” berfungsi sebagai regulator digital yang membantu menjaga ritme komunikasi. Secara keseluruhan, komunikasi non-verbal digital terbukti berperan penting dalam mempertahankan kedekatan emosional pasangan dalam hubungan jarak jauh.
Co-Authors Albansyah, Raihan Alviera, Evely Alvina Damaiyanti Mulyawan Angelie, Chelvie Anggreany, Fanny Dwi Audrey Manurung Aviny, Pratita Ayu Pratiwi, Ayu Az’zahra, Azlina Bernadett, Fiona CH Brigitta Pricilia Fongesta Bryan Latumanuwy Cahyani, Regita Emelia Cervia Ferdiana Chai, Vanesa Minardi Christina Christina Christy, Silvia Clara, Shindy Claudia Dinata Darmawan, Melly Eko Harry Susanto Erdiansyah, Rezi Evely Alviera Farid Farid, Farid Farras Natasya Gilang Putra Ramadhan Helena Aurora Herman, Sylvia Hertanto, Danessa Valerie Himawan Himawan Jackson Jacqueline Annabell Jessica Tee Jesvanny Jesvanny Joenice, Aneesa Jonathan Kuswandy Jovita Padmasari Junita Sari Kelvin Krisjanto Kusuma, Angelina Maria Kristi Monika Lee, Willy Christian Leonard, Glessya Vynika Lishia Wudjud Livia Gracely Wahyu Marcella, Cherise Marcella, Viona Marcelyn, Aviana Margareta, Vita Martin Martin Maulana, Azzahra Putri Meicella, Fioren Montera, Visca Muharizal Rizki, Aditiya Mustika, Yolanda Aileen Mutongi, Chipo Nanda, Bayu Dwi Natasha, Angelie Alice Novianti, Dian Olivia Laurensa Priscilla, Cherise Reinardus, Mitchelle Rezi Erdiansyah Ria Chandra Rinaldi, Keyza Baby Riris Loisa Rizky Adiguna Iswanto Putra Rusdi, Farid Sasa Sendjaja Setyanto, Yugih Setyanto, Yugih Simanjorang, Aura Diva Maria Br Simanjuntak, Bintang Samuel Sinta Paramita Sissy, Cecilia Surya, Elizabeth Sutandi, Sania Tanasia, Valen Tanoto, Olivia Taufik, Faiza Khairunnisa Amani Tedjo, Alessandro Angelo Teodorus, Reynald Adril Veronika, Rika Willy Willy Winendy Kuswanto Winston Yohanes, Geraldi Yovianty, Livia