Claim Missing Document
Check
Articles

KAJIAN PEMANFAATAN JENIS-JENIS PANDANUS (PANDANACEAE) OLEH MASYARAKAT DESA NANGA KERUAP KABUPATEN MELAWI Sisillia, Lolyta; sabalaka, Sunsugos; Kartikawati, Siti Masitoh
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 12, No 1 (2024): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v12i1.63721

Abstract

This study aims to examine the types of pandanus (Pandanceae) used by the community and the form/pattern of pandanus utilization by the people of Nanga Keruap Village, Menukung District, Melawi Regency. Based on the results of the study, it was found that there were four types of pandanus plants, namely fragrant pandanus (Pandanus amaryllifolius Roxb), kajang/perupuk (Pandanus aristatus Martelli), ries/ririh (Pandanus Sp.1) and soli/kesopuk (Pandanus Sp.2). The highest Use Value (UV) was from the kajang plant (Pandanus aristatus Martelli) with a value of 1. The highest Informant Consensus Factor (ICF) was found in the user group as housing materials, food ingredients, dyes, and traditional rituals, with an average value of 1. The highest Fidelity Level (FL) was found in soil plants with a value of 100%. Leaves are the most widely used part of the pandanus plant. The pattern of using pandanus plants tends to be personal consumption. Each type of pandanus is taken and processed into a product by the community as an individual need, not for sale. Pandanus plants are obtained from the wild (kajang, ririh, and soli) and cultivated plants (fragrant pandan).Keywords: Pandanaceae, pandanus, plants, utilization, Nanga Keruap Village.AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengkaji jenis-jenis pandanus (Pandanaceae) yang dimanfaatkan masyarakat serta mengkaji bentuk/pola pemanfaatan pandanus oleh masyarakat Desa Nanga Keruap Kecamatan Menukung Kabupaten Melawi. Penelitian ini dilakukan dengan metode Snowball sampling dan purposive sampling. Berdasarkan hasil penelitian ditemukan sebanyak 4 jenis tumbuhan pandanus yaitu pandan wangi (Pandanus amaryllifolius Roxb), kajang/perupuk (Pandanus aristatus Martelli), ries/ririh (Pandanus Sp.1) dan soli/kesopuk (Pandanus Sp.2). Use Value (UV) tertinggi yaitu dari jenis tumbuhan kajang (Pandanus aristatus Martelli) dengan nilai 1. Informant Consensus Factor (ICF) tertinggi terdapat pada kelompok pemanfaatan sebagai bahan perumahan, bahan makanan, pewarna, dan ritual adat dengan rata-rata nilai 1. Fidelity Level (FL) tertinggi terdapat pada tumbuhan soli dengan nilai 100%. Daun merupakan bagian tumbuhan pandanus yang paling banyak dimanfaatkan. Pola pemanfaatan tumbuhan pandanus cenderung bersifat konsumsi pribadi dimana setiap jenis pandanus yang diambil dan diolah menjadi sebuah produk oleh masyarakat sebagai kebutuhan pribadi tidak untuk dijual. Tumbuhan pandanus diperoleh dari tumbuhan liar (kajang, ririh, dan soli) dan budidaya (pandan wangi).Kata kunci: Desa Nanga Keruap, pandanaceae, pandanus, pemanfaatan, tumbuhan.
Eksplorasi jenis bambu penghasil bigar dan karakteristik bigar bambu dari Desa Suruh Tembawang Kabupaten Sanggau Sisillia, Lolyta; Eny, Julia; Yanti, Hikma
ULIN: Jurnal Hutan Tropis Vol 8, No 2 (2024)
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32522/ujht.v8i2.15514

Abstract

Bigar merupakan zat silika berbentuk kristal yang terdapat pada rongga ruas bambu dari jenis bambu tertentu. Tujuan penelitian yaitu untuk mengidentifikasi jenis-jenis bambu penghasil bigar dan menjelaskan karakteristik fisik bigar bambu dari Desa Suruh Tembawang Kecamatan Entikong Kabupaten Sanggau. Penelitian menggunakan metode survei eksplorasi, dengan mendatangi lokasi tempat tumbuh bambu dan mendata bambu-bambu yang menghasilkan bigar melalui bantuan informasi masyarakat pencari bigar. Identitas bambu penghasil bigar diperoleh melalui identifikasi dengan mengamati ciri-ciri morfologi bambu. Karakteristik fisik bigar dengan cara pengamatan langsung di rongga batang bambu dan di tempat pengumpulan bigar. Teridentifikasi bambu penghasil bigar adalah Schizostachyum brachycladum Kurz. dan Gigantochloa apus (Schult.f) Kurz. Ciri-ciri khusus batang bambu sebagai tanda bahwa terdapat keberadaan bigar dalam rongga ruas bambu yaitu dengan adanya perubahan pada kondisi batang bambu dan warna kulit pada ruas batang bambu. Karakteristik bigar bambu di Desa Suruh Tembawang memiliki tekstur yang padat dan berwarna putih kusam. Karakteristik fisik bigar asal Desa Suruh Tembawang sudah sesuai dengan kriteria yang telah ditentukan oleh Badan Karantina Pertanian, yaitu kualitas bigar kelas A, B, dan C.
IDENTIFICATION OF BAMBOO TYPES (Bambusoideae) IN PONTIANAK CITY Sisillia, Lolyta; Destiana, Destiana; Reza, Aswan; Lesi Kajamid, Elisia; Tedi Perdana, Fransisko; Rosula Rinto, Stepanus
Jurnal Belantara Vol 8 No 1 (2025)
Publisher : Forestry Study Program University Of Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jbl.v8i1.1060

Abstract

Pontianak City is one of the major cities in West Kalimantan and has high biodiversity, one is the bamboo plant which has important ecological and economic values. This study aims to identify bamboo and determine the distribution of bamboo in the East Pontianak sub-district. The methods used in this study include field surveys and sample collection in various locations in Pontianak City, as well as morphological and taxonomic identification in the laboratory Results Distribution and Identification of Bamboo Species (Bambusoideae) In East Pontianak District there are three bamboo genera namely Schizostachyum, Bambusa and Thyrsostachys with five types of bamboo with a total of 137 growing points or clumps, including, Schizostachyum brachycladum var "yellow" 6 clumps, Bambusa vulgaris var. Vulgaris 23 clumps, Bambusa vulgaris var. sriata 15 clumps, Thyrsostachys siamensis Gamble 72 clumps, and Bambusa multiplex 21 clumps. The types of bamboo that grow in the East Pontianak area grow at an altitude of 1.35 - 2.1m above sea level with an air humidity of 83 - 91%, soil pH of 4.9 - 6.2%, and temperature of 28 - 32°C.
PEMANFAATAN ROTAN SEBAGAI BAHAN BAKU KERAJINAN OLEH MASYARAKAT DESA BENUA KRIO, KABUPATEN KETAPANG Setyawati, Dina; MS, Albertus; Sisillia, Lolyta
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 12, No 2 (2024): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v12i2.49615

Abstract

The use of rattan as a raw material for handicrafts has been a long-standing tradition in Benua Krio, Hulu Sungai District, Ketapang Regency. This study aims to document the various species of rattan utilized as raw materials for handicrafts, the products, and describe their processing techniques. The respondents in this study were rattan artisans from Benua Krio Village, totaling 30 participants. The selection of respondents was carried out using the snowball sampling method. Data analysis revealed that 10 species of rattan are utilized, classified into three genera: Calamus, Korthalsia, and Daemonorops.The Calamus genus includes Calamus caesius Blume, C. manan Miq, C. optimus Beccari, C. inops Becc, and C. trachycoleus. The Korthalsia genus comprises Korthalsia echinometra Beccari and K. rigida Blum). The Daemonorops genus includes Daemonorops geniculata (Griff) Mart, D. didymophylla Bec), and D. melanochaetes B). The rattan processing follows several stages: harvesting, initial cleaning, drying and preservation, secondary cleaning, and product manufacturing The study identified 15 types of handicrafts produced in Benua Krio Village, including timpak, ragak, bakul, piring, kampik, ronjong, entaban, tengkalang, takin, takin dara, capan, ayak padi, klasah/tikar, pemangkong tilam, and tangguk.Keywords: Benua Krio Village, Handicraft, Rattan, Utilization,AbstrakPemanfaatan rotan sebagai bahan baku kerajinan di Desa Benua Krio sudah menjadi tradisi masyarakat. di Desa Benua Krio, Kecamatan Hulu Sungai, Kabupaten Ketapang. Penelitian ini bertujuan untuk mendokumentasikan berbagai jenis rotan yang digunakan sebagai bahan baku kerajinan, produk yang dihasilkan, serta mendeskripsikan teknik pengolahannya. Responden dalam penelitian ini adalah pengrajin rotan dari Desa Benua Krio, dengan total 30 peserta. Pemilihan responden dilakukan menggunakan metode snowball sampling. Hasil penelitian mendapatkan terdapat 10 jenis rotan yang dimanfaatkan, yang diklasifikasikan ke dalam tiga genus, yaitu Calamus, Korthalsia, dan Daemonorops. Genus Calamus mencakup Calamus caesius Blume, C. manan Miq), C. optimus Beccari), C. inops Becc, dan C. trachycoleus. Genus Korthalsia terdiri dari Korthalsia echinometra Beccari dan K. rigida Blume. Genus Daemonorops mencakup Daemonorops geniculata (Griff) Mart, D. didymophylla Becc, dan D. melanochaetes BI. Proses pengolahan rotan dilakukan melalui beberapa tahap, yaitu pemanenan, pembersihan tahap pertama, pengeringan dan pengawetan, pembersihan tahap kedua, serta pembuatan produk. Penelitian ini mengidentifikasi 15 jenis kerajinan yang diproduksi di Desa Benua Krio, antara lain timpak, ragak, bakul, piring, kampik, ronjong, entaban, tengkalang, takin, takin dara, capan, ayak padi, klasah/tikar, pemangkong tilam, dan tangguk.Kata Kunci: Desa Benua Krio, Kerajinan, Rotan, Pemanfaatan
KAJIAN ETNOZOOLOGI MASYARAKAT DAYAK BAKATI DI DESA BENGKILU KECAMATAN TUJUH BELAS KABUPATEN BENGKAYANG hero, paulinus; Sisillia, Lolyta; Yusro, Fathul
Tengkawang : Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 15, No 1 (2025): TENGKAWANG : JURNAL ILMU KEHUTANAN
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jt.v15i1.84587

Abstract

Forests have various types of animals that can be used by humans to meet their daily needs. a type of animal that is used as a source of food by humans that can produce energy as a source of protein, vitamins, fats and minerals. This study aims to analyze the use of animals by the Bakati Dayak community in Kampung Bengkilu. The research was carried out in Bengkilu Village, Tujuh Belas District, Bengkayang Regency. Data collection was carried out using a survey method with a purposive sampling technique using the Slovin formula. Data analysis used qualitative descriptive analysis. Based on the results of the study, there were 50 types of animals belonging to 36 families that were used. These uses were divided into 7 categories, namely traditional rituals, mysticism, medicine, hunting, food, artistic value and trade. Based on the class level, 9 classes of animals were obtained. The highest use value (UV) was the roaming chicken (Gallus domesticus) with a value of (0.91). The highest FL value (100) was gecko, lizard, in the lizard food category, nasi kareo, tengkuyung and catfish. Keywords: Dayak Bakati, Ethnozoology, Utilization. Abstrak Hutan memiliki beragam jenis hewan yang bisa dimanfaatkan oleh manusia untuk mencukupi kebutuhan hidup. jenis hewan yang dimanfaatkan sebagai sumber makanan oleh manusia yang dapat menghasilkan energi sebagai sumber protein, vitamin, lemak, dan mineral. Tujuan dari penelitian ini untuk menganalisis pemanfaatan hewan oleh masyarakat Dayak Bakati di Desa Bengkilu. Penelitian dilakukan di Desa Bengkilu Kecamatan Tujuh Belas Kabupaten Bengkayang. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode survei dengan teknik pengambilan sampel secara Purposive Sampling menggunakan Rumus Slovin. Analisis data menggunakan analisis deskriptif kualitatif. Berdasarkan hasil penelitian terdapat 50 jenis hewan yang termasuk dalam 36 famili yang dimanfaatkan. Pemanfaatan ini terbagi menjadi 7 kategori yaitu ritual adat, mistis, pengobatan, berburu, bahan pangan, nilai seni, dan perdagangan. Berdasarkan tingkat kelas diperoleh 9 kelas hewan. Hasil nilai pemanfaatan (UV) tertinggi yaitu ayam kampung (Gallus domesticus) dengan nilai (0,91). Nilai FL tertinggi (100) yaitu hewan tokek, cicak, pada kategori bahan pangan berupa hewan biawak, kareo padi, tengkuyung dan ikan lele. Kata Kunci : Dayak Bakati, Etnozoologi, Pemanfaatan.
Karakteristik Batang Bambusa Vulgaris Schrad dan Thyrsostachys siamensis Gamble Dari Kota Pontianak Provinsi Kalimantan Barat Sisillia, Lolyta; Marwanto, Marwanto; Diba, Farah; Nainggolan, Rizky Mangiring Tua; Angraeni, Enita
ULIN: Jurnal Hutan Tropis Vol 9, No 1 (2025)
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32522/ujht.v9i1.15516

Abstract

Penelitian sifat kimia dan sifat fisik batang bambu merupakan salah satu upaya untuk lebih memahami karakteristik dan kualitas bambu yang tumbuh di Kota Pontianak. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui sifat fisik dan sifat kimia bambu Bambusa vulgaris dan Thyrsostachys siamensis yang tumbuh di Kota Pontianak. Analisis data menggunakan rancangan acak lengkap faktorial 3x2 yaitu bagian batang (pangkal,tengah dan ujung) dan jenis bambu (B.vulgaris dan T.siamensis) dengan ulangan tiga kali. Penetapan kadar holoselulosa mengacu pada metode Browning (1967), penetapan kadar ekstraktif larut alcohol-benzena mengacu pada TAPPI 204 om-88, dan penetapan kadar lignin klason mengacu pada TAPPI T 222 om-88 (TAPPI 2002b). Pengajian sifat fisik bambu mengacu pada standar ISO 13061-3 yang telah dimodifikasi. Sifat kimia Bambusa vulgaris dan Thyrsostachys siamensis bervariasi berdasarkan perbedaan posisi batang. Tidak ada interaksi yang signifikan antara bagian batang bambu dan jenis bambu terhadap sifat kimia bambu  pada selang kepercayaan 95%. Sifat fisik Bambusa vulgaris dan Thyrsostachy siamensis bervariasi berdasarkan perbedaan posisi batang bagian pangkal,tengah dan ujung. Nilai kadar air, kerapatan dan penyusutan tertinggi ada pada bagian pangkal bambu. Berdasarkan analisis statistik, kadar air, kerapatan dan penyusutan bambu memiliki perbedaan yang signifikan pada selang kepercayaan 95%
Edukasi Partisipatif Tentang Hasil Hutan Bukan Kayu Bagi Masyarakat Sebagai Upaya Untuk Melestarikan Hutan Kalimantan Sisillia, Lolyta; Widiastuti, Tri; Roslinda, Emi; Gultom, Kristina Meirito; Sari, Erma
Jurnal Pengabdian UNDIKMA Vol. 5 No. 2 (2024): May
Publisher : LPPM Universitas Pendidikan Mandalika (UNDIKMA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33394/jpu.v5i2.10492

Abstract

This community service aims to increase community knowledge around Special Purpose Forest Areas (KHDTK) regarding non-timber forest products (HHBK) and increase community awareness and participation in maintaining and utilizing forest products sustainably. The method of implementing this service used participatory-based education. Evaluation of activities used questionnaire instruments and pretest-posttest analysis. To determine the effectiveness of using the service method, use the normalized gain score and the N-Gain effectiveness interpretation category. The results of this service showed that educational activities about HHBK for the community around the KHDTK area of Tanjungpura University, which were carried out in Simpang Kasturi Village were quite effective. The knowledge of the Simpang Kasturi Village community about HHBK increased by 61.4% after educational activities were carried out. People were increasingly aware of the importance of protecting and preserving forests, especially forest areas in Simpang Kasturi Village.
Studi pemanfaatan bambu di kawasan Hutan Adat Penyanggar Desa Cipta Karya Kabupaten Bengkayang Sisillia, Lolyta; Junisa, Junisa; Fazrian, Muhammad
ULIN: Jurnal Hutan Tropis Vol 7, No 2 (2023)
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32522/ujht.v7i2.12564

Abstract

Kawasan Hutan Adat Penyanggar banyak ditumbuhi bambu dan dimanfaatkan oleh masyarakat Dusun Ketiat A yang wilayahnya berbatasan langsung dengan hutan adat tersebut. Tujuan penelitian adalah untuk menganalisis jenis bambu yang memiliki nilai penggunaan tertinggi oleh masyarakat Dusun Ketiat A,menganalisis kesepakatan msyarakat dalam pemanfaatan jenis bambu untuk kelompok tertentu serta jenis-jenis bambu yang paling digemari untuk kelompok pemanfaatan tertentu serta mendeskripsikan kearifan masyarakat lokal dalam pemanfaatan bambu di kawasan Hutan Adat Penyanggar.Penelitian menggunakan metode survei dengan teknik wawancara secara mendalam ( depth interview ) kepada responden. Penentuan responden menggunakan teknik purposive sampling .Analisis data secara kualitatif dan kuantitatif. Delapan spesies bambu yang dimanfaatkan oleh masyarakat yaitu B ambusa  multiplex , D endrocalamus  asper , D endrocalamus  hirtellus , G igantochloa ater , G igantochloa  hasskarliana , G igantochloa  levis , Schizostachyum  brachycladum , Schizostachyum  flexuosum .Pemanfaatan bambu di kawasan Hutan Adat Penyayang oleh masyarakat dikumpulkan sebagai bahan kerajinan, ritual adat, bangunan, serta pemanfatan lainnya. Bambusa multiplek  (Aur) memiliki persentase tertinggi dalam kelompok pemanfaatannya (23,08%). Schizostachyum flexuosum memiliki UV tertinggi(0,87). Nilai ICF bambu tertinggi ada pada kelompok pemanfaatan untuk kerajinan (0,9754). Spesies bambu yang memiliki persentase FL tertinggi (100%) yaitu D endrocalamus  asper  ( Betung), D endrocalamus  hirtellus  ( Bincank) dan Schizostachyum  brachycladum  ( Buru). 
ETNOBOTANI REMPAH OLEH MASYARAKAT DESA SELES KECAMATAN LEDO KABUPATEN BENGKAYANG Rayani, Primadita; Tavita, Gusti Eva; Sisillia, Lolyta
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 13, No 2 (2025): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v13i2.76907

Abstract

Ethnobotany of Spices by the Community of Seles Village, Ledo District, Bengkayang Regency. The research aims to compile and document the types of spice plants, identify the plant parts used, and understand the spice processing methods employed by the community of Seles Village in Ledo District, Bengkayang Regency. The study was conducted in Seles Village for 4 weeks in the field. Data collection in this research utilized a survey method with qualitative analysis conducted through interviews using questionnaires. Purposive sampling was employed to interview specific criteria-based individuals within Seles Villa. The results of the research revealed that there are 38 types of spice plants from 26 families utilized by the Dayak Bakati' ethnic group in Seles Village. The highest habitus of plants used, constituting the majority, is herbs 36.84%, while the lowest habitus is lianas 2.63%. The most common processing method is slicing 38.98%, followed by the least common methods such as splitting, fermentation, grinding, grating, squeezing, soaking, and pounding, each 1.69%. The highest plant status is cultivation 63.16%, while wild plants constitute 36.84%. The most prevalent location for spice plant growth is in yards 26.98%, whereas the lowest is in fields 1.59%. The most commonly used plant part is leaves 34.88%, and the least used part is the root 2.33%. The primary utilization of spices in Seles Village is as flavor/odor neutralizers, accounting for 22.09%, while the least common use is as a preservative 2.33). Keywords: Dayak Bekati’ Tribe, Ethnobotany, Seles Village, Spices. Abstrak Etnobotani Rempah oleh Masyarakat Desa Seles Kecamatan Ledo Kabupaten Bengkayang. tujuan penelitian untuk mendata dan mendokumentasikan jenis-jenis tumbuhan rempah, mendapatkan bagian tumbuhan yang digunakan, dan memperoleh cara pengolahan rempah oleh masyarakat Desa Seles Kecamatan Ledo Kabupaten Bengkayang. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Seles selama  4 minggu di lapangan. Penelitian ini menggunakan metode survey dengan analisis kualitatif dilakukan dengan cara wawancara menggunakan kuesioner. Teknik pengumpulan data menggunakan purposive sampling untuk mewawancarai masyarakat umum dengan kriteria tertentu yang ada di Desa Seles Kecamatan Ledo Kabupaten Bengkayang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa diperoleh 38 jenis tumbuhan rempah dari 26 famili yang dimanfaatkan oleh suku Dayak Bakati’ di Desa Seles Kecamatan Ledo Kabupaten Bengkayang. Hasil penelitian yang dilakukan pada masyarakat suku Dayak Bakati’ di Desa Seles menunjukkan tingkat habitus tumbuhan tertinggi atau yang paling banyak digunakan yaitu herba 36,84% sedangkan habitus tumbuhan terendah yaitu liana 2,63%. Cara pengolahan terbanyak yaitu diiris 38,98%, kemudian cara pengolahan terendah yaitu dibelah, fermentasi, dihaluskan, diparut, diperas, direndam, dan diremas masing-masing 1,69%)\. Status tumbuhan tertinggi yaitu budidaya 63,16% sedangkan status tumbuhan liar 36,84%. Lokasi tumbuh tanaman rempah terbanyak yaitu di pekarangan 26,98% sedangkan yang paling rendah yaitu di sawah dengan persentase 1,59%. Bagian tumbuhan yang digunakan terbanyak yaitu daun 34,88%, dan yang terendah yaitu akar 2,33%. Pemanfaatan rempah di Desa Seles yang paling banyak yaitu penetral rasa/bau dengan persentase 22,09%, kemudian pemanfaatan rempah terendah yaitu sebagai pengawet 2,33%. Kata kunci: Suku Dayak Bekati’, Etnobotani, Desa Seles, Rempah