Claim Missing Document
Check
Articles

Konsep Alat Pembelah Bambu Bagi Pengrajin Keranjang Dusun Pronojiwo Kecamatan Tutur Kabupaten Pasuruan Wahid, Abdul Wahid; Soedarmadji, Wisma; Effendi , Mohammad; Huda , Miftachul; Munir, Misbach; Nuriyanto
ABDINE: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 2 No. 2 (2022): ABDINE : Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : Institut Teknologi dan Bisnis Riau Pesisir

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52072/abdine.v2i2.308

Abstract

Dusun Pronojiwo terletak di Desa Blarang Kecamatan Tutur Kabupaten Pasuruan. Dusun ini terdiri dari sekitar 866 jiwa penduduk sebagian besar mata pencarian sebagai pengrajin keranjang. Dalam hal ini proses pengolahan bambu yang membutuhkan waktu yang cukup lama dalam proses produksinya. Sehingga dari sini kami merencanaan teknologi tepat guna dalam membelah bambu yang dirancang untuk lebih mudah dalam pengoperasianya, murah, dan mudah dalam perawatannya. Hasil pengabdian ini adalah membuat  konsep alat pembelah bambu sehingga dapat meningkatkan produktivitas sampai 60 %.
Pendampingan Desain Mesin Tempa Bagi UKM Pande Besi Desa Suwoyuwo Kecamatan Sukorejo Kabupaten Pasuruan Soedarmadji, Wisma; Wahid, Abdul; Munir, Misbach
ABDINE: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 1 (2024): ABDINE : Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : Institut Teknologi dan Bisnis Riau Pesisir

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52072/abdine.v4i1.784

Abstract

Pande besi merupakan industri informal (home industri), umumnya dikerjakan disekitar rumah dan merupakan industri keluarga. Usaha pande besi biasanya bersifat turun temurun dan hanya berdasarkan pengalaman di lapangan. Industri pande besi merupakan usaha yang dikerjakan secara manual yaitu dengan menggunakan bara api untuk memanggang besi dan produk jadi yang dihasilkan berupa pisau, cangkul, sekop, sabit parang dan lain-lain. Permasalahan yang dihadapi pelaku pande besi ini adalah keterbatasan teknologi yang dikuasai, dikarenakan kemampuan sumber daya manusia yang ada. Mengingat bahwa dalam proses pengerjaannya pande besi masih banyak menggunakan tenaga tradisional yaitu dengan cara memukul benda kerja secara terus menerus. Hasil pengabdian ini bahwa penggunaan mesin tempa dapat mengurangi tingkat kelelahan, fokus penempaan berkurang, keluarnya keringat yang berlebihan serta dapat meningkatkan proses produksi, meningkatkan efisiensi waktu dan tenaga. Berdasarkan hasil monitoring menunjukkan bahwa lamanya waktu produksi untuk 1 buah produk 30 menit yang dikerjakan 2 orang, setelah menggunakan Mesin Tempa lama penyelesaian 1 produk hanya 15 menit dan bisa dikerjakan hanya 1 orang.
Perluasan Pasar UKM Sandal Alkopini melalui Strategi Branding dan Packaging di Pasuruan Wahid, Abdul; Nuriyanto, Nuriyanto; Munir, Misbach; Sucipto, Sucipto; Mas’ud, Imron; Hermansyah, Hermansyah
ABDINE: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 5 No. 1 (2025): ABDINE : Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : Institut Teknologi dan Bisnis Riau Pesisir

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52072/abdine.v5i1.1296

Abstract

Alkopini merupakan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang berlokasi di Dusun Nampes, Desa Nogosari, Kecamatan Pandaan, Kabupaten Pasuruan, yang berspesialisasi dalam produksi sandal buatan tangan. Bahan baku utama yang digunakan adalah kulit sintetis, dipadukan dengan berbagai bahan pelengkap lainnya, sehingga mampu menghasilkan produk berkualitas tinggi yang kompetitif di pasar. Meskipun demikian, merek Alkopini saat ini memiliki keterbatasan pengenalan di luar wilayah lokalnya dan hanya menggunakan kemasan sederhana berupa kantong plastik, yang disebabkan oleh kekhawatiran akan berkurangnya margin keuntungan jika menggunakan opsi kemasan yang lebih representatif. Inisiatif pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk memperluas jangkauan pasar sandal Alkopini melalui pengembangan dan implementasi identitas merek yang khas serta perbaikan kemasan. Tujuannya adalah untuk meningkatkan daya tarik konsumen, mendorong adopsi produk, dan konsekuensinya meningkatkan nilai jual yang dirasakan dari setiap item yang dihasilkan. Metode yang digunakan meliputi observasi lapangan awal untuk mengkaji praktik yang berjalan, dilanjutkan dengan sesi desain kolaboratif untuk perancangan merek dan kemasan baru, serta demonstrasi presentasi produk yang telah disempurnakan. Diharapkan bahwa keberhasilan perluasan pasar ini akan memberikan dampak positif, termasuk peningkatan visibilitas merek di tengah masyarakat luas dan peningkatan pendapatan yang vital, terutama relevan di tengah kesulitan ekonomi akibat pandemi yang sedang berlangsung, yang telah berdampak signifikan terhadap pendapatan rumah tangga.
Redesign Workstation Based on Anthropometry to Reduce Packing Delay and Improve Production Performance Misbach Munir; M. Imron Mas'ud; Subchan Asy'ari
JTI: Jurnal Teknik Industri Vol 12 No 2 (2026): December 2026
Publisher : Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/jti.v12i2.39737

Abstract

This study aims to redesign the workstation in the filling-packing process based on anthropometric data to reduce packing delay and improve production performance. Previous workstation redesign studies have predominantly focused on operator comfort and ergonomic considerations, while the integration of anthropometric design with work activity analysis and production performance, particularly in addressing human–machine imbalance in filling-packing operations, remains limited. The study employed a quantitative ergonomic approach involving 30 operators, with data collected through direct observation, interviews, anthropometric measurements, work activity analysis, and packing time measurement. Anthropometric data were analyzed to determine workstation dimensions, while the existing and redesigned work sequences were compared to identify inefficient activities and evaluate improvements in production performance. The redesign used the 50th percentile anthropometric dimensions as the primary design basis, resulting in a conveyor height of 102 cm, worktable height of 80 cm, worktable length of 73 cm, and worktable width of 144 cm. The redesigned workstation reduced the packing time per carton from 24.0 seconds to 11.2 seconds, representing a 53.3% reduction. The redesigned work sequence also reduced unnecessary movements and waiting activities, thereby improving workflow and reducing product accumulation at the conveyor end. These findings demonstrate that anthropometry-based workstation redesign, combined with work activity improvement, can contribute to reducing packing delays and improving production performance by supporting a more balanced interaction between operator capability and machine output.
Analisis Risiko Kecelakaan Kerja Operator Mesin Press Botol Plastik dengan Metode HIRA Mega Yuni Lestari; Misbach Munir
KOLONI Vol. 5 No. 3 (2026): SEPTEMBER 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/koloni.v5i3.1219

Abstract

This study aims to identify potential hazards, analyze the level of occupational accident risks, and provide risk control recommendations for plastic bottle press machine operators at CV Barokah Kayane using the quantitative Hazard Identification and Risk Assessment (HIRA) method. This research employed a quantitative descriptive approach, with data collected through field observations, interviews, documentation, and risk assessments based on likelihood and severity parameters. Risk values were calculated to classify risks into low, medium, and high categories. The results identified five major hazards in the plastic bottle pressing process. Two work activities were classified as high risk, namely feeding plastic bottles into the press machine due to the risk of hand entrapment and arranging compressed plastic bales due to the risk of being struck by heavy bales. Three other activities were categorized as medium risk, including the use of cutters that may cause lacerations, liquid spills from plastic bottles that may result in slips, and machine noise that may lead to hearing impairment. Risk control recommendations were developed based on the hierarchy of controls, including the preparation and implementation of Standard Operating Procedures (SOPs), the use of personal protective equipment (PPE), improvements in work methods, proper manual lifting techniques, routine workplace housekeeping, and increased supervision of operator compliance. The study concludes that the quantitative HIRA method effectively identifies and prioritizes occupational accident risks and can serve as a basis for developing risk control programs to improve occupational safety and health at CV Barokah Kayane.
Pengendalian Kualitas Cacat Label Produk Teh Pucuk Harum 350 ml menggunakan Metode Six Sigma Akhmad Sukaifi; Misbach Munir; Yudharta Pasuruan
Venus: Jurnal Publikasi Rumpun Ilmu Teknik  Vol. 4 No. 4 (2026): Venus: Jurnal Publikasi Rumpun Ilmu Teknik
Publisher : Asosiasi Riset Ilmu Teknik Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61132/venus.v4i4.1566

Abstract

 Product quality is an important factor in the manufacturing industry to maintain customer satisfaction and reduce losses caused by defective products. In the production process of 350 mL Teh Pucuk Harum at PT. Tirta Fresindo Jaya Pasuruan, problems are still found at the after-labeling stage, such as misaligned labels, missing labels, and incorrect label placement, which result in rejected products. This study aims to determine the quality level of the labeling process, calculate the DPMO (Defects Per Million Opportunities) and sigma level, and identify the factors causing product defects. This research uses the Six Sigma method with the DMAIC approach (Define, Measure, Analyze, Improve, Control). Data were collected through direct observation, company documentation, and interviews conducted over six days of observation. The results showed that label rejects were the most dominant type of defect compared with bottle and cap rejects. The analysis was conducted using control charts, DPMO, sigma level, and a cause-and-effect diagram (fishbone diagram) to identify the root causes of defects. The proposed improvements, including the addition of lighting in the sorting area and improvements to the sorting formation, were proven to reduce the number of label rejects by 31.68%, increase production process efficiency, and improve product quality continuously.