Claim Missing Document
Check
Articles

Hubungan Strategi Pemberdayaan Peternak dengan Kesejahteraan Peternak Dwi Jayanti; Sofyan Sjaf
Jurnal Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat [JSKPM] Vol. 1 No. 3 (2017)
Publisher : Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, IPB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jskpm.1.3.299-316

Abstract

 Livestock is one of the livelihoods of Indonesian communities to meet their needs. However, socio-economic conditions of farmers face problems including low bargaining position, low education levels, the condition of scattered farms, simple technology. To overcome these problems, we need to empower breeder. Kampoeng Ternak is a network of Dompet Dhuafa who engaged in the empowerment of breeders. Empowerment process requires an effective strategy to achieve the goal. To that end, the purpose of this research is to examine the relationship of empowerment strategies to improve the welfare of farmers. The method used in this research is quantitative method with the approach of the survei and supported by qualitative methods. Respondents were determined through simple random sampling. Test the relationship will be conducted with test-Spearman Rank. The results of this research showed that there is a relationship between empowerment strategies with the welfare of farmers. Such relations are moderate. While on each pattern empowerment strategy, only strengthening group associated with the level of welfare.Keywords: Empowerment, Empowerment Strategy, Welfare ------------------------------------------------------------------------------------------ABSTRAKPeternakan rakyat merupakan salah satu mata pencaharian masyarakat Indonesia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Namun, kondisi sosial ekonomi masyarakat peternak menghadapi permasalahan diantaranya posisi tawar yang rendah, tingkat pendidikan rendah, kondisi peternakan tersebar, teknologi sederhana. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, perlu dilakukan pemberdayaan peternak rakyat (kecil). Kampoeng Ternak merupakan jejaring Dompet Dhuafa yang bergerak dalam pemberdayaan peternak. Proses pemberdayaan memerlukan strategi yang efektif untuk mencapai tujuan. Untuk itu, tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengkaji hubungan dari strategi pemberdayaan dengan kesejahteraan peternak. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode kuantitatif dengan pendekatan survai dan didukung oleh metode kualitatif. Responden ditentukan melalui simple random sampling. Uji hubungan dilakukan dengan uji Rank-Spearman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara strategi pemberdayaan dengan tingkat kesejahteraan peternak. Hubungan tersebut tergolong moderat. Sedangkan pada masing-masing pola strategi pemberdayaan, hanya penguatan kelompok yang berhubungan dengan tingkat kesejahteraan.Kata kunci: Kesejahteraan, Pemberdayaan, Strategi Pemberdayaan
Pengorganisasian Komunitas oleh Inovator Pertanian untuk Kesejahteraan Masyarakat Eka Prayoga Kusumawarta; Sofyan Sjaf
Jurnal Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat [JSKPM] Vol. 2 No. 6 (2018)
Publisher : Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, IPB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jskpm.2.6.731-744

Abstract

Improving the welfare of rural communities is not only done by the government, but can be done by an agricultural innovator. One of the steps to improve the welfare of rural communities by agricultural innovator is through community organizing. The process involves the community since identifying and determining the priorities of a need. The purpose of this research is to identify organizing and analyze the relationship with community welfare. The research used quantitative support by qualitative data anlysis. The result of the research that the organizing of agricultural innovator is at the level of development of local communities with the level of community welfare classified as moderate. So these finding concluded that the level of organizing an agricultural innovator is related to the level of community welfare. The sustainability of organizing an agricultural innovator is recommended for empowerment activities in the form of social planning and social action.Keyword: organizing , community welfare, empowerment ABSTRAKMeningkatkan kesejahteraan masyarakat di pedesaan bukan hanya dilakukan pemerintah, melainkan dapat dilakukan oleh seorang inovator pertanian. Salah satu langkah seorang inovator pertanian meningkatkan kesejahteraan masyarakat di pedesaan melalui pengorganisasian masyarakat. Proses melibatkan masyarakat sejak mengidentifikasi dan menentukan prioritas dari sebuah kebutuhan. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi pengorganisasian dan menganalisis hubungan pengorganisasian seorang inovator pertanian dengan kesejahteraan masyarakat. Bentuk penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif yang didukung oleh analisis data kualitatif. Hasil penelitian menemukan bahwa pengorganisasian seorang inovator pertanian menunjukkan level pengembangan komunitas lokal dengan tingkat kesejahteraan masyarakat tergolong sedang. Jadi temuan ini disimpulkan level pengorganisasian seorang inovator pertanian berhubungan dengan tingkat kesejahteraan masyarakat. Keberlanjutan dari pengorganisasian seorang inovator pertanian disarankan untuk melakukan kegiatan pemberdayaan dalam bentuk perencanaan sosial dan aksi sosial.Kata Kunci: pengorganisasian, kesejahteraan masyarakat, pemberdayaan
HUBUNGAN KONDISI SOSIAL EKONOMI PEMILIK UMKM DENGAN PERSEPSI TERHADAP KARAKTERISTIK SOCIOPRENEUR Rizqiah Khalida; Sofyan Sjaf
Jurnal Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat [JSKPM] Vol. 5 No. 5 (2021): JSKPM
Publisher : Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, IPB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jskpm.v5i5.878

Abstract

Wirausaha sosial merupakan individu yang mempunyai karakter kewirausahaan dan mampu mengidentifikasi serta memecahkan persoalan sosial. Salah satu caranya yaitu dengan mengembangkan Usaha Mikro, Kecil, dan Mengengah (UMKM) di pedesaan. Persepsi pemilik UMKM sangat penting dalam mempengaruhi respon terhadap usaha-usaha yang dilakukan sociopreneur. Persepsi itu sendiri tidak lepas dari faktor-faktor yang mempengaruhi. Faktor tersebut antara lain faktor kondisi sosial ekonomi yang terdiri dari tingkat pendidikan, tingkat pendapatan, kepemilikan alat transportasi, dan pola interaksi sosial. Persepsi yang diamati meliputi aspek menciptakan nilai sosial, wirausaha sosial, organisasi kewirausahaan sosial, dan orientasi pasar. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif yang didukung oleh data kualitatif dengan responden sebanyak 33 orang. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis kondisi sosial ekonomi pemilik UMKM dan bagaimana persepsinya terhadap karakteristik sociopreneur. Hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang tidak signifikan antara kondisi sosial ekonomi pemilik UMKM dengan persepsi terhadap karakteristik sociopreneur. Kata kunci: Karakteristik sociopreneur, kondisi sosial ekonomi, persepsi
Analysis of the Impact of Policy and Political Economics in The Development of The Rattan Craft Industry in Cirebon Haryono Haryono; Titik Sumarti; Didin S Damanhuri; Sofyan Sjaf
Journal of Government and Civil Society Vol 6, No 1 (2022): Journal of Government and Civil Society (April)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tangerang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31000/jgcs.v6i1.5043

Abstract

ABSTRACTThe rattan handicraft industry is growing rapidly, supported by government policies in the rattan trading system and people who have expertise and skills in managing rattan into household handicraft products. The presence of this industry creates a pattern of relations in it as a symptom of political economy, where the pattern of relations which generally involves business and political relations develops into a pattern of relations between actors in the economy itself. These actors take advantage of the rattan industry for profit (rent-seeking) improperly or through transaction processes outside the economy. The results showed that the dynamics of the rattan industry development were highly dependent on government policies in the raw rattan trading system. The production process involves exporters, pengesub, raw material traders, and local traders. The rattan industry creates a relationship pattern in the form of exploitation and cooperation with three types of socio-economic-political relations between actors in the rattan handicraft industry. Rent-seeking can be categorized into local, national, and global rent-seeking.Keywords: rattan handicraft industry, political economy, rent-seeking actorsABSTRAKIndustri kerajinan rotan berkembang dengan pesat didukung oleh kebijakan pemerintah dalam tataniaga rotan dan masyarakat yang memiliki keahlian dan keterampilan dalam mengelola rotan menjadi produk-produk kerajinan rumah tangga. Hadirnya industri ini menimbulkan pola relasi di dalamnya sebagai suatu gejala ekonomi politik, dimana pola relasi yang pada umumnya melibatkan relasi bisnis dan politik berkembang menjadi pola relasi antar aktor dalam ekonomi itu sendiri. Aktor- aktor ini memamfaatkan industri rotan untuk mendapatkan keuntungan (rent-seeking) dengan tidak wajar atau melalui proses transaksi di luar ekonomi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dinamika perkembangan industri rotan sangat tergantung dari kebijakan pemerintah dalam tataniaga rotan mentah. Proses produksi melibatkan aktor-aktor eksportir, pengesub, pedagang bahan baku dan pedagang lokal. Industri rotan menimbulkan pola relasi yang berbentuk eksploitasi dan juga Kerjasama dengan tiga tipe sosial ekonomi politik relasi aktor dalam industri kerajinan rotan. Rent seeking dapat dikategorikan ke dalam rent seeking lokal, nasional dan global.Kata Kunci: Industri kerajinan rotan, ekonomi politik, aktor rent-seeking
CONFLICT RESOLUTION CONCEPT: IMPLEMENTATION OF CCA-FM MODEL IN MERANTI FOREST MANAGEMENT UNIT, SOUTH SUMATRA Ja Posman Napitu; Aceng Hidayat; Sambas Basuni; Sofyan Sjaf
Indonesian Journal of Forestry Research Vol 5, No 2 (2018): Indonesian Journal of Forestry Research
Publisher : Secretariat of Agency for Standardization of Environment and Forestry Instruments

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/ijfr.2018.5.2.103-118

Abstract

Local communities have been using forest land area far before Industrial Forest Plantation (HTI) permit was granted. The overlapping land use among different users potentially leads to conflict. This paper studies conflict resolution creatively and collaboratively with forest management. Conflict resolution is based on the Creativity and Collaboration Action - Forest Management (CCA-FM) model on field exploration that created participation pattern of all parties in the vision of forestry science principles as the basis of policymaking. Convergent Parallel Mixed Method (CPMM) approaches with Rapid Land Tenure Assessment (RaTA) were used. Results show that claim of the community as the owner of the authority rights and dominance of the local elites, greatly affect the action situation. However, the policy options taken by the government towards policy outcomes do not tend to consider the field conditions. The CCA-FM model has been implemented in five villages. The community strongly supports the government to devolve the management rights to the community and to facilitate the transfer of knowledge, technology, market information, supporting all parties, and collaboration on business license management. Research results recommend the CCA-FM model could be a basis for building village self-reliance and improving the performance of the Forest Management Unit (FMU).
DIAGNOSING PERFORMANCE IN GOVERNING UTILIZATION OF FOREST PRODUCTION IN FMU MERANTI–MUSI BANYUASIN, SOUTH SUMATRA Ja Posman Napitu; Aceng Hidayat; Sambas Basuni; Sofyan Sjaf
Indonesian Journal of Forestry Research Vol 6, No 1 (2019): Indonesian Journal of Forestry Research
Publisher : Secretariat of Agency for Standardization of Environment and Forestry Instruments

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (732.018 KB) | DOI: 10.20886/ijfr.2019.6.1.43-60

Abstract

Perspective difference of users related to forest area utilization has caused tenurial conflicts, as well as, possible utilization conflicts. This study aimed to understand stakeholders’ interests and influences as exogenic factors that caused the non-optimal institutional performance. This study used an institutional diagnostic approach to understand how the situation and action arena is from inter-influencing institutional entities. Data collection used the convergent parallel mixed method (CPMM) approach, while analysis used the rapid land tenure assessment (RaTA) method. Further, this study used the Institutional Analysis Development (IAD) method to explain how the exogenic factors influence each other. The results showed that the characteristics of biophysical attributes, community attributes, as well as, rule in use were inter-influencing within the action arena. Besides, based on the post-prospective analysis result, policy decision opted by the government tend to not consider the community existence, who have been using the land for their livelihood. This situation has caused utilization conflicts between communities and concession holders. Thus, this study recommends: 1) the stakeholders to establish a communication forum for all parties to obtain clear information about forest utilization and to support institutional performance; 2) institutionalizing local community to govern forest utilization, and 3) determining management and concept of sustainable forest, as well as, policy making.
Disguised Resistance of Madurese Salt Farming Community Iskandar Dzulkarnain; Endriatmo Soetarto; Rilus A. Kinseng; Sofyan Sjaf
Agriekonomika Vol 9, No 1: April 2020
Publisher : Department of Agribusiness, Faculty of Agriculture, Universitas Trunojoyo Madura, Indonesi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (315.353 KB) | DOI: 10.21107/agriekonomika.v9i1.6221

Abstract

The problems of Madurese salt farmers, ranging from poverty, quality of production, low salt prices, to 'seizure' of the lands by Dutch Colonialism through the total reorganization program in 1936 as well as the project of modernization and renovation of the New Order regime in 1975 have become the triggers of the resistance put up by the salt farming community. The purpose of this article is to picture out the dynamics of the resistance by Madurese salt farming community through the theoretical analysis of James Scott, namely the daily resistance by Madurese salt farming community, which the writer -in other words-  say 'disguised resistance'. The method used is qualitative with an ethnographic approach. The result is that there are two forms of disguised resistance put up by the Madurese salt farming community i.e. the resistance against PT. Garam and the resistance against the land ownres.
KESESUAIAN LAHAN UNTUK KOMODITAS UNGGULAN PERTANIAN DI KABUPATEN LABUHANBATU UTARA Regan Leonardus Kaswanto; Ruth Mevianna Aurora; Doni Yusri; Sofyan Sjaf; Simon Barus
Analisis Kebijakan Pertanian Vol 19, No 2 (2021): Analisis Kebijakan Pertanian - Desember 2021
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/akp.v19n2.2021.189-205

Abstract

As an expansion area, North Labuhanbatu District has a purpose to improve the social welfare. Meanwhile one of the significant sector in the community is agriculture. Agriculture provides the highest income for the society and has a potency to further develop and establish the area. However, the development should relevant with environment characteristic essentially. Based on preliminary survey, there are 5 agricultural commodities growing in this area namely palm oil, rubber, rice field, cocoa, and coconut which spread over the 8 sub-districts. The increasing of population triggers land use changes particularly in agriculture. Therefore analysis of land suitability for agriculture is fundamental hence policy direction can be applied in each sub-district based on agriculture commodities which suitable with their characteristic accordingly. The evaluation of land suitability is conducted by comparing the physical characteristics with the existing of land suitability criteria which prossessed by ArcGIS software. Land suitability in North Labuhanbatu is identified with 4 clases: S1 (very suitable), S2 (moderately suitable), S3 (marginally suitable), and N (not suitable). Furthermore, there are 4 limiting factors in this study: water availability, root media, nutrient retention, and erosion hazards. The result shows that rubber, rice field, and coconut have very suitable (S1) land to be planted.Therefore the recomendation is to develop agroforestry landscape practices for sustainable livelihoods in Labura District.
Interaksi Politik Jawara dalam Pembangunan Perspektif Tindakan Komunikatif Neka Fitriyah; Sarwititi Sarwoprasodjo; Sofyan Sjaf; Endriatmo Soetarto
Warta Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia Vol 2, No 02 (2019)
Publisher : Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (0.272 KB) | DOI: 10.25008/wartaiski.v2i02.40

Abstract

Jawara sebagai elite lokal di Pandeglang merupakan kekuatan kultural yang memiliki otoritas dalam menentukan sikap dan perilaku politik masyarakat. Aktivitas komunikasi Jawara dalam politik mengarah pada upaya-upaya dalam membangun konsensus politik. Karena kepentingan ini, tidak sedikit Jawara terjebak pada persoalan-persoalan pragmatis. Permasalahan ini kemudian menjadi krusial karena kesahihan dan validitas pesan yang disampaikan Jawara dalam membangun konsesnus politik memberi corak tersendiri dan dampak bagi pembangunan. Pendekatan teknokrasi, paternalistik dan clientism di Pandeglang mengakibatkan kesahihan dan validitas pesan yang disamapaikan sulit terwujud karena cenderung dipenuhi oleh praktik marginalisasi. Tujuan penelitian ini adalah (1) mengkonstruksi interaksi politik Jawara dalam pembangunan; (2) mendekatkan persoalan interaksi politik Jawara dalam perspektif teori tindakan komunikatif. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan paradigma konstruktivis. Pengamatan dilakukan pada level makro dan mikro, interaksi politik diamati baik dalam aktvitas politik informal maupun aktivitas politik formal yang didominasi oleh Jawara. Kesimpulan penelitian ini adalah: (1) konstruksi dari interaksi politik Jawara dalam pembangunan belum memberikan manfaat sepenuhnya terhadap pembangunan dan kesejahteraan masyarakat Banten; (2) teori tindakan komunikatif dalam penelitian ini tidak bisa secara an sich melihat pembangunan dalam konteks tujuan dari tindakan komunikatif itu sendiri tetapi perlu juga disandingkan dengan realitas struktur dan kultur masyarakat.
SISTEM MONITORING DAN TEKNIK PERAMALAN HARGA DAGING SAPI DI INDONESIA Iin Mu'minah; Wahyu w Pamungkas; Sofyan Sjaf
Seminar Nasional Informatika (SEMNASIF) Vol 1, No 4 (2012): Information System and Application
Publisher : Jurusan Teknik Informatika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pemanfaatan teknologi telah terbukti sangat membantu kehidupan bermasyarakat dalam suatu negara. Sistem monitoring harga daging sapi seperti yang diterapkan di dalam Sistem Informasi Pasar, Kementerian Perdagangan Republik Indonesia merupakan salah satu contohnya. Langkah demikian dilakukan mengingat peran dan nilai strategis daging sapi di Indonesia. Seperti diketahui bahwa daging sapi merupakan sumber protein bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Tujuan pusat monitoring harga ini adalah untuk menyediakan informasi mengenai harga daging sapi di seluruh wilayah Indonesia, memantau perkembangannya secara harian. Dengan demikian, sistem informasi ini berfungsi untuk memberikan notifikasi dini jika diprediksi akan terjadi gejolak perubahan harga, serta memantau disparitas harga di provinsi-provinsi di seluruh Indonesia, sehinggaPemerintah Indonesia, dalam hal ini yaitu Kementerian Perdagangan Republik Indonesia dapat secara dini mengambil langkah-langkah strategi yang sesuai untuk mengatasi gejolak tersebut. Penelitian ini dilakukan pada tahun 2010. Pengumpulan data dilakukan dari pasar-pasar rujukan di setiap kota atau kabupaten di wilayah Indonesia, sedangkan analisis harga dilakukan dengan identifikasi faktor-faktor penentu harga komoditas. Rekomendasi akhir diusulkan sebagai langkah mengidentifikasi faktor-faktor yang harus dicek di lapangan jika terjadi kenaikan harga daging sapi.
Co-Authors *, Sampean Aceng Hidayat Ahmad Aulia Arsyad Ahmad Aulia Arsyad, Ahmad Aulia Ajeng Nugrahaning Dewanti Ali Usman, Ali Amongjati, Sri Anom Ananda Bahri Prayudha ANDIKA SAPUTRA Andraini Agatha, Melfa Anggi Mayang Sari Annisa Ramadhani Anugrah , Gilang Tresna Putra arham, ihsan Arifiani, Tisha Alya Aushafa Dyazra Ayuradi Miharja, Helmi Badar Muhammad Casdimin, Casdimin Damayanti, Elia Didin S. Damanhuri Djuara P Lubis Doni Yusri Dudung Darusman Dwi Jayanti Dwi Jayanti Dzulkarnain, Iskandar Eka Prayoga Kusumawarta Ekawati Sri Wahyuni Elson, La Endriatmo Soetarto Fauzia Gunadi, Hanifah Firda Firda F Gunadi, Hanifa Firnawati Firnawati Grace Natalia Grace Natalie Haryono Haryono Hermanto Siregar I Made Prayoga Wijayanta Iin Mu'minah Irni Rahmayani Johan Iskandar Dzulkarnain Ja Posman Napitu Ja Posman Napitu Ja Posman Napitu Jovita Salsabila Kudang Boro Seminar Kuniawati Hidayat, Nia Kusumawarta, Eka Prayoga Lala M Kolopaking Lilik Noor Yuliati Lukman Hakim Lukman Hakim m, Istiqlaliyah Mahardika, Afan Ray Martua Sihaloho Megawati Simanjuntak melfa andraini agatha Muhammad Nawasush Vayumi Mukhtar Mukhtar Mustakiman Mustakiman Napitu, Ja Posman Neka Fitriyah Nelwan, Leopold Oscar Nilam Neovani Nurfadillah, Mursidah Nurmala Katrina Pandjaitan Pujowati, Penny Putri, Rizky Trisna Rajib Gandi Rama Maulana Regan Leonardus Kaswanto Reza Rama Gunada Rezeky, Shinta Mutiara Rilus Kinseng Rizqiah Khalida Ruth Mevianna Aurora Ruth Mevianna Aurora Saharuddin . Sahrain Bumulo Sambas Basuni Sampean, Sampean Sampean, Sampean Sangadji, Ismail Munadi Sarwititi Sarwoprasojdo, Sarwititi Sayyid Al Bahr Maulana Sherly Eka Maulidya Sihaloho, Martua Simon Barus Sindy Pratiwi Putri Soeryo Adiwibowo Sofi Nur Ariyati Sri Anom Amongjati Sri Mulatsih Sujimin, Sujimin Sul, Suliamin Kasnar Sunardi Tantan Hermansah, Tantan Tisha Alya Arifiani Titik Sumarti Tresna Putra Anugrah, Gilang Tri Ayu Alfiyasin Wahyu w Pamungkas Wantona, Saradi Yumnaa Rifqi Simanjuntak Zessy Ardinal Barlan