Claim Missing Document
Check
Articles

ANALISIS DEFORMASI DAN PEMETAAN POTENSI DAMPAK ALIRAN LAVA PADA KAWASAN GUNUNG AGUNG ARDI SETYO PRATOMO; Yudo Prasetyo; Sawitri Subiyanto
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 7, Nomor 4, Tahun 2018
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (751.3 KB)

Abstract

Gunung Agung adalah salah satu gunung aktif di Indonesia yang berada di Kabupaten Karangasem Provinsi Bali. Gunung Agung telah mengalami erupsi sebanyak lima kali mulai tahun 1808 hingga tahun 2017 dan berlanjut hingga tahun 2018. Mitigasi bencana diperlukan bagi masyarakat yang berada di wilayah Gunung Agung untuk mengantisipasi dampak yang ditimbulkan akibat aktivitas vulkanik. Penelitian ini membahas mitigasi bencana Gunung Agung yang didasarkan pada konsep pengindraan jauh. Data yang digunakan adalah citra satelit radar, digital elevation model (DEM) dan citra optis untuk membuat peta mitigasi bencana. Karakteristik deformasi yang dikaji meliputi posisi, besar pergeseran dan sifat deformasi vertikal yang terjadi. Hasil penelitian didapatkan nilai deformasi di tubuh gunung sebelum erupsi adalah 0,047 ± 0,035 m dalam rentang 27 Oktober 2017 hingga 20 November 2018 atau 0,715 ± 0,035 m/tahun dan setelah erupsi sebesar -0,172 ± 0,053 m dalam rentang 2 Desember 2017 hingga 7 Januari 2018 atau -1,744 ± 0,053 m/tahun. Aliran lava Gunung Agung yang dilakukan buffering pada lebar cakupan 25 meter dapat berdampak seluas 1.536,602 hektare, pada lebar cakupan 50 meter dapat berdampak 3.008,468 hektare dan pada lebar cakupan 75 meter dapat berdampak 4.425,017 hektare. Kelas tutupan lahan yang terkena dampak aliran lava paling banyak adalah pasir dengan lebar cakupan 25 meter seluas 570,042 hektare (37,342%), pada lebar cakupan 50 meter seluas 1043,676 hektare (34,940 %) dan pada lebar cakupan 75 meter seluas 1.461,583 hektare (33,285 %). Prediksi wilayah yang terdampak aliran aliran lava paling besar adalah Kecamatan Kubu seluas 772,071 hektare pada lebar cakupan 25 meter, 1.516,748 hektare pada lebar cakupan 50 meter dan 2.234,101 hektare pada lebar cakupan 75 meter. Prediksi wilayah terdampak paling kecil adalah Kecamatan Sidemen seluas 5,465 hektare pada lebar cakupan 25 meter, 11,256 hektare pada lebar cakupan 50 meter dan 17,366 hektare pada lebar cakupan 75 meter.
PETA SEBARAN WISATA KABUPATEN KENDAL BERBASIS SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (Studi Kasus Kabupaten Kendal) Wisnu Hanggoro; Sawitri Subiyanto; Andri Suprayogi
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 6, Nomor 4, Tahun 2017
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (458.054 KB)

Abstract

ABSTRAK            Sebagai salah satu wilayah yang ada  di Provinsi Jawa Tengah, Kendal adalah salah satu Kabupaten yang juga dikenal dengan kota santri, Kabupaten Kendal memiliki beraneka ragam tempat wisata dengan bergbagai keunikan seni budaya ,kuliner dan kerafian lokal masyarakat, dari berbagai macam wisata tersebut terdapat beberapa tempat wisata yang masih tersembunyi yang artinya akses menuju tempat - tempat wisata tersebut masih ada yang belum mengetahui, oleh karena itu di perlukan Peta Sebaran Wisata Kabupaten Kendal Berbasis Sistem Informasi Geografis yang bertujuan memudahkan masyarakat untuk mengetahui lokasi tempat wisata di Kabupaten Kendal.         Pembuatan Peta Persebaran tempat wisata alam yaitu dengan software SIG Metode yang digunakan adalah dengan menggunakan SIG dan melakukan survei lapangan berupa pengambilan koordinat menggunakan GPS.          Tujuan dari penelitian tugas akhir ini adalah untuk mengetahui tempat - tempat wisata alam di Kabupaten Kendal . Dan juga untuk memberikan informasi yang didapat dari instansi pemerintah terhadap lokasi tempat wisata yang didapat dari observasi di lapangan dari lokasi tempat wisata yang ada sehingga dapat diakses oleh khalayak umum.
ANALISIS KESESUAIAN LAHAN PERTANIAN TERHADAP KOMODITAS PERTANIAN KABUPATEN CILACAP Bayu Pradana; Bambang Sudarsono; Sawitri Subiyanto
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 2, Nomor 2, Tahun 2013
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (813.347 KB)

Abstract

Pertanian merupakan sektor utama perekonomian di Kabupaten Cilacap, khususnya di daerah kabupaten Cilacap bagian barat. Namun dalam praktiknya, kegiatan pertanian di daerah Cilacap bagian barat masih terdapat beberapa permasalahan yang memerlukan arahan pemanfaatan lahan yang tepat. Kecamatan Karangpucung, Kecamatan Cimanggu dan kecamatan Majenang dianggap mampu menggambarkan keadaan pertanian di kabupaten Cilacap karena dari ketiga kecamatan tersebut merupakan kecamatan yang mengutamakan pertanian dalam kegiatan ekonominya. Metode analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif kuantitatif. Deskriptif yaitu menjelaskan dan mendeskripsikan data hasil pengukuran dan pengamatan yang telah diukur di lapangan maupun yang dianalisis di laboratorium. Metode kuantitatif dapat diartikan sebagai metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat positivisme, digunakan untuk meneliti pada populasi atau sampel tertentu, teknik pengambilan sampel pada umumnya random, pengambilan data menggunakan instrumen penelitian, analisis data bersifat kuantitatif dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah ditetapkan. Kuantitatif untuk menghitung produktivitas tanaman padi, ubi kayu, jagung, dan kacang tanah. Berdasarkan analisis fisik lahan, diketahui bahwa terdapat semua kelas kesesuaian yang ada pada pengklasifikasian kesesuaian lahan yaitu Sangat Sesuai (S1), Cukup Sesuai (S2), Sesuai Marginal (S3) dan Tidak Sesuai (N). Berdasarkan analisis ekonomi, semua komoditas terpilih layak untuk dikembangkan di wilyah studi, karena memiliki nilai ekonomi yang cukup baik. Berdasarkan analisis sosial, petani di wilayah studi masih sedikit yang memperhatikan faktor fisik lahan dengan banyaknya kegiatan pertanian di wilayah yang memiliki tingkat kesesuaian lahan pertanian Tidak Sesuai (N). Untuk itu perlu diadakan penyuluhan tentang hal ini kepada masyarakat di wilayah studi dalam kegiatan pertaniannya. Kata kunci : Analisis kesesuaian lahan pertanian, karakteristik fisik, ekonomi dan sosial.
ANALISIS PERKEMBANGAN WISATA DI KABUPATEN SEMARANG BERDASARKAN NILAI FREKUENSI KUNJUNGAN DARI TAHUN 2015-2017 DENGAN PENDEKATAN TRAVEL COST METHOD DAN CONTINGENT VALUATION METHOD MENGGUNAKAN SIG (STUDI KASUS : ELING BENING DAN KAMPOENG RAWA) JACKIE SUPRAWITO NABABAN; Sawitri Subiyanto; Bambang Sudarsono
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 7, Nomor 4, Tahun 2018
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1265.18 KB)

Abstract

Kabupaten Semarang adalah sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Tengah dengan ibukotanya adalah Kota Ungaran. Perkembangan ekonomi di Kabupaten Semarang antara lain ditinjau dengan peningkatan pendapatan asli daerah dari sektor pariwisata yang tidak lepas dari banyaknya wisatawan yang berkunjung ke Kabupaten Semarang. Sebagai contoh adalah objek wisata Eling Bening dan Kampoeng Rawa yang mempunyai daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang berkunjung. Berdasarkan hal tersebut maka diperlukan suatu peta Zona Nilai Ekonomi Kawasan (ZNEK) untuk menilai dan mengetahui seberapa besar keinginan seseorang untuk memberikan nilai fungsi ekonomi kawasan dan masyarakat sekitar yang memperoleh manfaat dari kawasan tersebut. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah TCM (Travel Cost Method) untuk menentukan nilai penggunaan langsung (Direct Use Value, DUV) dan CVM (Contingent Valuation Method) untuk menentukan nilai keberadaan (Existence Value, EV). Penarikan sampel (responden) yang digunakan adalah non probability sampling dengan teknik sampling incidental, yang berarti siapa saja yang secara kebetulan bertemu dengan peneliti dapat digunakan sebagai sampel, bila dipandang orang yang kebetulan ditemui itu cocok sebagai sumber data. Penelitian Eling Bening sebesar 120 responden untuk TCM dan 70 responden untuk CVM, sedangkan Kampoeng Rawa sebesar 60 responden untuk TCM dan CVM. Metode pengolahan data yang digunakan adalah analisis regresi linear berganda dan melakukan perhitungan menggunakan perangkat lunak Maple 20I7 sehingga dapat digunakan untuk pembuatan Peta Zona Nilai Ekonomi Kawasan. Kemudian dilakukan survei toponimi untuk pembuatan Peta Utilitas dan Peta Persebaran Responden. Dalam penelitian tugas akhir ini, diperoleh nilai ekonomi kawasan dengan nilai surplus konsumen Eling Bening sebesar Rp3.717.137,389 dan nilai WTP sebesar Rp100.764 sehingga diperoleh nilai total ekonomi Eling Bening tahun 2017 sebesar Rp790.138.113.900. Dan nilai surplus konsumen Kampoeng Rawa sebesar Rp1.071.502,494 dengan nilai WTP sebesar Rp48.495 sehingga diperoleh nilai ekonomi total Kampoeng Rawa tahun 2017 sebesar Rp340.763.356.490.
IDENTIFIKASI KESESUAIAN DAN INTENSITAS PEMANFAATAN LAHAN DI KELURAHAN LAMPER LOR MENGGUNAKAN FOTO UDARA TAHUN 2018 Dwi Rini Septiani; Sawitri Subiyanto; Fauzi Janu Amarrohman
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 9, Nomor 2, Tahun 2020
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (450.66 KB)

Abstract

ABSTRAKJumlah penduduk yang tinggi di wilayah perkotaan menyebabkan kebutuhan lahan semakin meningkat. Terbatasnya lahan mengakibatkan terjadinya pelanggaran pembangunan dan penyimpangan pemanfaatan lahan terhadap peraturan tata ruang kota. Penelitian yang pernah dilakukan oleh (Pratomo, 2016) menyatakan bahwa pelanggaran Koefisien Dasar Bangunan (KDB) di perumahan BSB Kecamatan Mijen, Kota Semarang mencapai 67%. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi penyimpangan pemanfaatan lahan dan kesesuaian KDB di Kelurahan Lamper Lor, Kecamatan Semarang Selatan, Kota Semarang terhadap Rencana Detail Tata Ruang Kota (RDTRK) Kota Semarang Tahun 2000-2010. Data yang digunakan dalam penelitian ini antara lain adalah foto udara tahun 2018 yang digunakan sebagai data dasar untuk digitasi pemanfaatan lahan eksisting dan digitasi bangunan. Data jaringan jalan untuk menentukan nilai maksimal KDB dan data bidang tanah PBB untuk menghitung KDB eksisting. Metode pengolahan data yang digunakan adalah teknik digitasi on screen pada foto udara yang memiliki resolusi spasial sebesar 10 cm. Analisis data dilakukan dengan metode overlay (tumpang susun) menggunakan perangkat lunak berbasis Sistem Informasi Geografis (SIG) yaitu ArcGIS 10.3. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 70% dari seluruh pemanfaatan lahan di Kelurahan Lamper Lor sesuai dengan peta rencana pemanfaatan lahan. Pemanfaatan lahan tersebut meliputi permukiman sebesar 19,492 ha dan konservasi sungai sebesar 1,308 ha. Pemanfaatan lahan yang tidak sesuai disebabkan adanya penambahan pemanfaatan lahan oleh masyarakat, dari rencana  6 kelas pemanfaatan lahan, namun kenyataannya di lapangan menjadi 12 kelas pemanfaatan lahan. Penambahan pemanfaatan lahan tersebut meliputi kesehatan, perkantoran, pergudangan, olahraga dan rekreasi serta pendidikan. Bangunan yang memiliki KDB sesuai dari 936 bangunan rumah di Kelurahan Lamper Lor hanya 13,6%, artinya bahwa KDB tidak sesuai mencapai 86,4%. Berdasarkan hasil analisis terhadap luas persil dan harga tanah/m2, KDB yang tidak sesuai didominasi oleh tanah yang memiliki luas 201-500m2 dan tanah yang memiliki harga jual Rp 2.013.000/m2.Kata Kunci : Pemanfaatan Lahan, KDB, Foto Udara, Digitasi On ScreenABSTRACTHigh population in urban areas causes land needs to increase. Limited land causes violations of development and deviations of land use against city spatial regulations. Research conducted by (Pratomo, 2016) stated that Building Coverage Ratio (BCR) violations in BSB housing in Mijen District, Semarang City  reached 67%. This study aims to identify irregularities in land use and suitability of the Building Coverage Ratio (BCR) in Lamper Lor Sub District, South Semarang District, Semarang City with the City Spatial Detail Plan of Semarang City in 2000-2010. The data used in this study include aerial photos of 2018 which are used as basic data for digitation existing land uses and buildings digitation. Road network data to determine the maximum BCR value and land field data PBB to calculate the existing BCR. The data processing method used is an digitized on screen technique on aerial photos that has a spatial resolution of 10 cm. Data analysis was performed using the overlay method using Geographic Information System (GIS) based software, ArcGIS 10.3. The results showed that 70% of all land uses in the Lamper Lor Sub District were in suitable with the land use plan map. The use of the land includes settlements of 19,492 ha and river conservation of 1,308 ha. Unsuitable land use is caused by the addition of land use by the community, from the plan of 6 land use classes, but in reality on the field there are 12 land use classes. The additional land uses include health, offices, warehousing, sports and recreation and education. Buildings that have BCR suitable of 936 houses in the Lamper Lor Sub District  are only 13,6%, it means that BCR is not suitable to reach 86,4%. Based on the analysis results of land area and land prices/m2, unsuitable BCR in Lamper Lor Sub District is dominated by land that has an area of 201- 500m2 and land that has a selling price of Rp 2.013.000/m2.
ANALISIS GEOSPASIAL PERKEMBANGAN NILAI EKONOMI KAWASAN WISATA KOTA PAGAR ALAM MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS Jetri Livia Rindika; Sawitri Subiyanto; Fauzi Janu Amarrohman
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 9, Nomor 4, Tahun 2020
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKKota Pagar Alam merupakan kota yang terletak  di Provinsi Sumatera Selatan yang memiliki banyak potensi obyek wisata. Kota yang merupakan dearah tujuan wisata dengan luas wilayah 633,66 Km². Obyek wisata yang menjadi tujuan wisata di Kota Pagar Alam yaitu objek wisata Tangga 2001 dan Green Paradise. Kedua obyek wisata tersebut merupakan jenis wisata alam yang memiliki potensi nilai ekonomi kawasan Maka dari itu diperlukan analisis arah perkembangan kedua objek wisata tersebut dengan  perhitungan  Zona Nilai Ekonomi Kawasan dengan metode pendekatan TCM (Travel Cost Method) dan CVM (Contingent Valuation Method)  untuk  mengukur perkembangan Total Nilai Ekonomi Kawasan wisata dan analisis  dengan menggunakan pendekatan metode HPM (Hedonic Pricing Method)  untuk mengetahui pengaruh nilai hedonik terhadap faktor jumlah permintaan kunjungan wisata,serta dilakukan analisis Gravity Model sebagai penentu potensi kawasan untuk perkiraan daya tarik suatu lokasi kawasan wisata. Dari hasil penelitian didapatkan hasil nilai total ekonomi (TEV) kawasan  Tangga 2001 Rp  354.953.019.370,- dan kawasan Green Paradise Rp. 346.430.302.110,- pada tahun 2019.  Faktor-faktor yang mempengaruhi frekuensi kunjungan untuk Tangga 2001 adalah biaya, umur, pendapatan, dan alternatif lokasi. Dan untuk Green Paradise adalah umur, dan lama kunjungan. Dan hasil perhitungan nilai hedonikinterval terkecil pada kawasan Tangga 2001 sebesar 4,385 dengan TEV rerata (3 tahun) sebesar  Rp. 363.903.203.960 sedangkan kawasan Green Paradise sebesar 4,175 dengan TEV rerata (3 tahun) sebesar  336.882.827.257,  maka nilai hedonik berkorelasi positif terhadap hasil nilai TEV rerata (selama 3 tahun). Berdasarkan perhitungan interaksi spasial perbandingan daya tarik kawaan  Tangga 2001 lebih tinggi di bandingkan Green Paradise.Kata Kunci: Tangga 2001 dan Green Paradise, Zona Nilai Eknomi Kawasan ABSTRACTPagar Alam City is one of the cities in South Sumatra Province which has a lot of potential tourism objects. The city is a tourist destination with an area of 633.66 km². Tourist objects that become tourist destinations in Pagar Alam City are Tangga 2001 and Cendrawasih Hijau. Both of these tourism objects are types of natural tourism that have the potential for regional economic value, therefore it is necessary to analyze the direction of development of the two tourism objects by calculating the Economic Value of the Zone Zone using the TCM (Travel Cost Method) method. ) and CVM (Contingent Valuation Method) to measure progress. Total Economic Value of tourist areas and their analysis using the Hedonic Pricing Method (HPM) approach to determine the effect of hedonic value on the number of factors in tourist demand, as well as the Gravity Model analysis as a determinant of the area's potential to estimate attractiveness. from the location of the tourist area. The results showed that the total economic value (TEV) of Tangga 2001 was Rp. 354,953,019,370, - and the Cendrawasih Green area of Rp. 346,430,302,110, - in 2019. Factors affecting the frequency of visits to Tangga 2001 are cost, age, income, and alternative locations. And for Green Paradise is age, and length of visit. And the calculation of the value of the smallest hedonic interval in the area of Tangga 2001 is 4.385 with a mean TEV (3 years) of Rp. 363,903,203,960 while the Green Cendrawasih area is 4.175 with a mean TEV (3 years) of 336,882,827,257, so the hedonic value is positively correlated with the mean TEV value (for 3 years). Based on the calculation of spatial interaction, the comparison of household attractiveness in 2001 was higher than that of Green Paradise. Keywords: Tangga 2001 and Green Paradise, Regional Economic Value Zone
ANALISIS ARAH DAN PREDIKSI PERSEBARAN FISIK WILAYAH KOTA SEMARANG TAHUN 2029 MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS DAN CA MARKOV MODEL Lydia Fadilla; Sawitri Subiyanto; Andri Suprayogi
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 6, Nomor 4, Tahun 2017
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (513.852 KB)

Abstract

ABSTRAK       Kota Semarang merupakan Ibu Kota Provinsi Jawa Tengah, Kota Semarang mempunyai luas wilayah 373.70 Km². Dalam beberapa tahun terakhir, perkembangan Semarang ditandai pula dengan munculnya beberapa gedung pencakar langit di beberapa sudut kota. Dengan jumlah penduduk sekitar 1.5 juta jiwa dan 76.06% bekerja di sektor jasa, membuat Kota Semarang berkembang pesat sehingga menyebabkan tingginya pertumbuhan kawasan permukiman maupun kawasan industri perdagangan. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan arah persebaran fisik Kota Semarang dari tahun 2005-2017 serta menentukan kesesuaian prediksi arah persebaran fisik Kota Semarang tahun 2029 dengan Model Cellular Automata (CA) Markov terhadap RTRW Kota Semarang.      Penelitian ini menitik beratkan pada kawasan permukiman dan kawasan industri dengan memanfaatkan Sistem Informasi Geografis (SIG) untuk menganalisis arah perubahan penggunaan lahan yang terjadi pada tahun 2005- 2017.  Dan CA Markov Model untuk meodelkan prediksi penggunaan lahan Kota Semarang pada tahun 2029. Citra yang digunakan adalah Citra Landsat-7 tahun 2005 dan 2011 serta Citra Landsat-8 tahun 2017.      Hasil dari Overlay menyatakan pertumbuhan penggunaan lahan Kota Semarang tahun 2005-2011 seluas 3254.416 Hektar deengan lahan kosong sebesar 69%, permukiman sebesar 21% dan industri 3.2%. Pada tahun 2011-2017 perubahan penggunaan lahan seluas 6067.674 Hektar. Permukiman sebesar 54%, lahan kosong sebesar 36%, dan kantor sebesar 3%. Dari hasil analisis kesesuaian CA Markov Model dengan RTRW pada kelas lahan permukiman, lahan industri dan lahan kosong sebanyak 56.931% dinyatakan tidak sesuai dan 43.07%. lainnya sesuai. Dengan tingkat kepercayaan >40% (0.40) yang dinyatakan cukup baik.
ANALISIS PENGARUH PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN TERHADAP ZONA NILAI TANAH (STUDI KASUS : KECAMATAN KALIWUNGU KABUPATEN KENDALTAHUN 2010-2015) Sondang Artania Sidauruk; Sawitri Subiyanto; Abdi Sukmono
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 5, Nomor 2, Tahun 2016
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (796.573 KB)

Abstract

ABSTRAK Perkembangan suatu daerah adalah hal yang tak bisa dihindari, dipengaruhi oleh pertumbuhan ekonomi dan penduduk menyebabkan meningkatnya aktivitas suatu daerah. Persediaan lahan yang terbatas menyebabkan terjadinya kompetisi antar aktivitas untuk memperoleh lahan, sehingga memicu terjadinya perubahan penggunaan lahan. Tingkat permintaan lahan berpengaruh juga pada pola kenaikan harga nilai tanah sehingga diperlukanlah pembaruan data perubahan penggunaan lahan yang mengacu terhadap zona nilai tanah yang mencerminkan kondisi nilai pasar wajar. Dan Kecamatan Kaliwungu merupakan salah satu contoh nyata telah terjadinya perubahan penggunaan lahan tersebut. Untuk menentukan perubahan penggunaan lahan yang mengacu terhadap zona nilai tanah dapat dilakukan dengan overlay peta penggunaan lahan tiap tahunnya dengan peta zona nilai tanah pada tahun tersebut sehingga diperoleh peta perubahan penggunaan lahan dan zona nilai tanah.Perubahan penggunaan lahan tertinggi pada zona 3, yaitu penggunaan lahan belukar/semak menjadi pemukiman sebesar Rp.1.797.000 /m² dan perubahan penggunaan lahan terendah terdapat pada zona 70, yaitu penggunaan lahan empang menjadi gedung sebesar Rp. 16.000/m². Berdasarkan penelitian di Kecamatan Kaliwungu Kabupaten Kendal terdapat 107 Zona Nilai Tanah. Berdasarkan survei transaksi tahun 2010 harga rata-rata tertinggi terdapat pada zona 3 yaitu sebesar Rp  1,907,000/ m² terletak di Desa Karang Tengah. Harga rata-rata tanah terendah yaitu terdapat pada zona 70, yaitu sebesar Rp. 16,000/m² terletak di desa Mororejo. Berdasarkan survei transaksi tahun 2015 harga rata-rata tanah tertinggi di Kecamatan Kaliwungu  terdapat pada zona 7, yaitu sebesar Rp 3,652,000 /m² terletak di Desa Krajan Kulon. Untuk zona yang memiliki harga rata-rata terendah yaitu pada zona 70 sebesar Rp. 32.000 /m² terletak di desa Mororejo. Dari Perubahan Harga Rata-rata Nilai Tanah Tahun 2010 dan 2015 kenaikan harga rata-rata tanah tertinggi berada pada zona 7 sebesar Rp 1,840,000 per m² dan kenaikan harga rata-rata tanah terendah terdapat pada zona 70 sebesar Rp. 16.000 per m².Kata Kunci : Kaliwungu, Perubahan Lahan, Zona Nilai Tanah  (ZNT) ABSTRACT Development of an area is unavoidable, it is influenced by economic and population growth so that the activity in a region increase. The limited supply of land is causing the competition between activities to get land, so that it have impact to change the use of land. The demand level of land also have effect to the increase values of land use pattern. So it requires change of land use data update which refers to the land value zone. The land value zone reflects to the condition of fair market value. The changes of  use of land that refers to the zone of land value  is determined by overlaid maps the use of land value  every years so that we get the maps of changes the use of land  and the value land zone.The highest changes of land use in zone 3 is bush into residential of Rp.1.797.000 / m² and the lowest changes of land use for the zone 70 is fishpond into buildings Rp. 16,000 / m². Based on research in Kaliwungu District Kendal Regency there were 107 Land Value Zone. Based on a survey of transactions in 2010 the average of the highest price in three zones, is Rp 1,907,000 / m² located in Karang Tengah village. The average of the lowest price is found in the zone 70, which amounted to Rp. 16,000 / m² located in Mororejo village. Based on a survey of transactions in 2015 the average of the highest price in the District Kaliwungu contained in zone 7, which amounted to Rp 3,652,000 / m² located in Krajan Kulon village. Zone has the lowest average price is in a zone 70 Rp. 32,000 / m² located in Mororejo village. The Change Price Average Value of Land in 2010 and 2015 the average price increase is the highest ground in zone 7 of Rp 1,840,000 per m² and the increase in the average price of land was lowest for the 70 zones of Rp. 16,000 per m².Keywords : Change Of Land, Land Value Zone (ZNT), Kaliwungu *) Penulis Penanggung Jawab
ANALISIS PERUBAHAN ZONA NILAI TANAH BERDASARKAN HARGA PASAR UNTUK MENENTUKAN NILAI JUAL OBJEK PAJAK (NJOP) DAN PENINGKATAN PENDAPATAN ASLI DAERAH (PAD) (Studi Kasus : Kec. Semarang Timur, Kota Semarang) Saul Ambarita; Sawitri Subiyanto; Bambang Darmo Yuwono
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 5, Nomor 2, Tahun 2016
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (642.484 KB)

Abstract

ABSTRAK NJOP (Nilai Jual Objek Pajak) selama ini digunakan sebagai dasar pengenaan PBB (Pajak Bumi dan Bangunan). Penentuan NJOP haruslah sesuai dengan ketentuan nilai pasar wajar (NPW). Tetapi kenyataannya NJOP seringkali tidak sesuai dengan NPW. Hal ini mendasari semakin berkembangnya sistem penilaian harga pasar menggunakan peta Zona Nilai Tanah (ZNT). Peta ZNT dapat dimanfaatkan untuk penentuan tarif dalam pelayanan pertanahan, referensi masyarakat dalam transaksi, penentuan ganti rugi, inventaris nilai aset publik maupun aset masyarakat, monitoring nilai tanah dan pasar tanah, dan referensi penetapan NJOP untuk PBB.Penelitian ini dilakukan dengan cara penilaian massal tanpa memperhatikan properti khusus dengan menggunakan pendekatan perbandingan penjualan (Sales Comparative). Penelitian ini dilakukan dengan pembuatan zona untuk menentukan titik sampel yang akan dicari. Kemudian membuat peta zona nilai tanah berdasarkan Harga Pasar dan NJOP Kecamatan Semarang Timur. Pembuatan Peta Zona Nilai Tanah Kecamatan Semarang Timur Tahun 2015 menggunakan teknologi analisis SIG (Sistem Informasi Geografis).Hasil penelitian diketahui peningkatan NJOP berdasarkan harga pasar yang tertinggi mencapai 1229,3% dengan data NJOP sebesar  Rp. 1.086.000 dan data harga pasar sebesar Rp. 14.436.000. Sedangkan peningkatan harga pasar yang terendah 40,85% dengan data NJOP sebesar Rp. 2.444.000 dan data harga pasar  sebesar Rp. 3.442.000. Kata Kunci :    Nilai Jual Objek Pajak (NJOP), Nilai Pasar Wajar (NPW), Pajak Bumi Bangunan (PBB), Sistem Infomasi Geografis (SIG), Zona Nilai Tanah (ZNT)   ABSTRACT Tax Object Sales Value (NJOP) has been used as a basis for the imposition of Tax on Land and Building(PBB). NJOP determination process must be suitable with the provisions of the fair market value (NPW). But the fact is NJOP often incompatible with NPW. It underlies the development of a scoring system using the market value of the Land Value Zone (ZNT) Map. ZNT map can be utilized for the cost determination in land service, reference for the community in  transaction, the determination of indemnify, inventory for public assets or community assets value, monitoring the value and market of land, and as reference for the NJOP's determination for PBB.This research done by massive appraisal without concerning about specific property. Mapped by land’s value in massive assessment using the sales comparative approach. This research was conducted to create a zone which determine sample points for analysis. Then create a zone map of land values based on the market value and NJOP District of Semarang Timur. Making a zone map of land value by the district of Semarang Timur in 2015 using GIS (Geographical Information Systems)  analysis technology.From this research shown that NJOP increased based on the highest market value reached 1229,3% with the value of land based on NJOP data is Rp. 1.086.000 and the land based on the market value is Rp. 14.436.00. While the lowest value increas is 40,85%. The land value based on NJOP data is Rp. 2.444.000 and the land based on the market value is Rp. 3.442.000. Keywords: Geographical Information Systems (GIS), Land Value Zone (ZNT), Tax Object Sale Values (NJOP), Tax on Land and Building(PBB), The Fair Market Value (NPW)  *) Penulis Penanggung Jawab
TINJAUAN PEMOTRETAN UDARA FORMAT KECIL MENGGUNAKAN PESAWAT MODELSKYWALKER 1680 (STUDI KASUS :AREA SEKITAR KAMPUS UNDIP) Herjuno Gularso; Sawitri Subiyanto; LM. Sabri
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 2, Nomor 2, Tahun 2013
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1354.972 KB)

Abstract

Sampai saat ini, teknologi fotogrametri terus mengalami perkembangan, baik dalam segi pengumpulan data maupun pemrosesannya.Hal ini ditandai dengan adanya teknik pengumpulan data dengan wahana tanpa awak sebagai media pembawa sensor fotogrametri. Keuntungan penggunaan teknologi tersebut adalah efektif dan efisien baik dari segi waktu dan biaya untuk pemetaan pada daerah yang tidak terlalu luas, serta dapat menghasilkan gambar yang lebih jelas, karena tinggi terbang wahana ± 300 meter diatas permukaan laut sehingga pada saat pemotretan tidak mengalami ganguan awan. Dalam perkembangannya perangkat lunak fotogrametri terus mengalami perkembangan, pada awalnya pemrosesan data fotogrametri dilakukan secara manual, saat ini proses dapat dilakukan secara otomatis, salah satunya adalah perangkat lunak Agisoft PhotoScan. Perangkat lunak ini dapat mengidentifikasi titik sekutu, mosaik, dan pembuatan DSM secara otomatis. Proses kaliberasi kamera dan orientasi luar kamera juga dilakukan secara otomatis. Penelitian ini dilaksanakan di daerah sekitar UNDIP ± 40 hektar. Sensor yang digunakan adalah kamera non metric digital (Nikon COOLPIX S3300). Proses pengolahan menggunakan perangkat lunak Agisoft PhotoScan. Proses yang dilakukan pada perangkat lunak yaitu: alignment merupakan proses identifikasi titik sekutu secara otomatis, kalibrasi kamera untuk menentukan orientasi dalam kamera,hitungan  bundle adjustment untuk menentukan orientasi luar kamera, pembuatan model geometri 3 dimensi, dan pemberian tekstur pada model. Setelah tahap pembentukan tekstur dilakukan pada seluruh foto, tahap selanjutnya adalah pemberian titik kontrol hasil pengukuran GPS geodeticHiper GA/GB secara radial. Kata Kunci : Wahana Udara Tanpa Awak, Foto Udara Format Kecil, Agisoft PhotoScan, Pesawat model
Co-Authors Abdi Sukmono, Abdi Ade Naufalita Aditya Dharmawan Afifah Asis Agatha Dimitri V. D. Kusumo Ahmad Firdous Syifa Ahmad Syauqani Ajeng Dwi Maturinsih Ajeng Dyah Setyowati Sri Utomo Akhmad Didik Prastyo Akhmad Tsalist Nailuz Tsabiq Alfonsus Bima Samudra Anastasia Astuti Andhono Yekti Andre Hidayat Andri Suprayogi Anggit Swarna Bumi Annisa Usolikhah Antonius Grizalde Simamora Anugrah, Riandhi Ardhian Setiawan Saputra ARDI SETYO PRATOMO Ardiansyah Ardiansyah Ari Setiani Arief Laila Nugraha Arif Witoko Arrizqa Laili Fitriana Arsyad Nur Ariwahid Arwan Putra Wijaya Ashari, Taufiq Ichsan Astriana Dewi Aulia Darmaputri Savitri Bagas Arif Widyagdo Bagus Yuli Arianto Bambang Darmo Yuwono Bambang Darmo Yuwono Bambang Sudarsono Bambang Sudarsono Bandi Sasmito Bashit, Nurhadi Bashit, Nurhadi Bayu Pradana Benita Roseana Benning Hafidah Kadina Bunga Roliesta Sari Charisma Parasandi Alfarizi Cindy Puspita Sari DANI PURBA Dedigun Bintang Fajeri Delima Canny Valentine Simarmata Desita Khrisna Putri, Dian Ayu Saraswati Diana Masmaulidia Diana Nukita Dinda Anisa Anggraini Dwi Rini Septiani Dwi Setyo Wicaksono, Dwi Setyo Faiz Islam Farid Burhanudin Yusup Fauzi Janu A Fauzi Janu Amarrohman Fauzi Janu Amarrohman Fauzi Janu Amarrohman Fauzi Janu Amarrohman, Fauzi Janu Febrina Aji Ratnawati Fryda Arlina Mahardika Galih Putro Pamungkas GETMA LAVEMIA Hana Sugiastu Firdaus Hana Sugiastu Firdaus Hana Sugiastu Firdaus, Hana Sugiastu Hani'ah . Hani'ah, Hani'ah Haniah Haniah Hani’ah Hani’ah Hayu Rianasari Heranda Ibnu Adhi Herjuno Gularso Hisni Theresia Br Sinuraya Humaira Qanita Husen Ibnu Said Ihsan Pakaya Irfan Baharudin Istighfary Abirama Cininta Iva Kusniawati JACKIE SUPRAWITO NABABAN Jerson Otniel Purba Jetri Livia Rindika Kandiawan, Ulfa Fathul Kanti Ismawati Kemala Medika Putri Khoirul Isnaini Aulia Kukuh Ibnu Zaman Kurniawan Putra Widya Wardana L. M. Sabri Laisa Usrini Lasmi - Rahayu Leur P. Maranatha Sitorus LM. Sabri Lusiana Dewi Fatmalasari Lutfia Pangestika Lydia Fadilla Maharany Shandra Ayu Hapsary Maharditya Yoga Pramudyono Mashita Rahati Mavita Nabata Dzakiya Meilina Fika Mayangsari Merpati Dewo Kusumaningrat Mia Aulina Moehammad Awaluddin Moehammad Awwaluddin Mohammad Idris Mufid Damar Pidekso Mufti Yudiya M. Muhammad Amar Makruf Muhammad Ardhi Ahadi, Muhammad Ardhi Muhammad Fitrianto Muhammad Haris Febriansya Muhammad Nida Hakim El Wafa Muhammad Ulya Nadia Anggraeni Yuristasari Naftalie Dinda Rianty Nahar Dito Utama Giardi Nathania, Jessica Nida Shabrina Nisrina Niwar Hisanah Novian Nur Aziz Novita Amelia Nugra Putra Pembayun NUGRAHANI, MEIGA Nur Aziz Putra Aditama Nurfika Maulina Larasati Nurhadi Bashit Oktaviani Arumingtyas Pinastika Nurandani Polin Mouna Togatorop Pratama Irfan Hidayat Purwi Fitroh Hidayati Putri Ardianti Kinasih R. Sapto Hendri Boedi Soesatyo Rahmah, Azizah Nur Rajagukguk, Trevi Austin Ramlansius Tumanggor, Ramlansius Riana Kristiani Priskila Putri Rico Waskito Putro Rifky Satrio Utomo Riski Kadriansari Rismauly Yunita Tampubolon Rista Omega Septiofani Rizki Budi Kusumawardani Rizky Arga Himawan Rizky Silvandie Rudi Cahyono Putro Sarmedis Anrico Situmorang Saul Ambarita SELLI ANGELITA BR SITEPU Selli Angelita Sitepu Sitepu, Selli Angelita Siti Khoeriyah Sondang Artania Sidauruk Stella Purnomo Sutomo Kahar Sutomo Kahar Sutomo Kahar Sutomo Kahar Suwirdah Pebriyanah Swandi Sihombing Syarifa Naula Husna Tika Christy Novianty Trevi Austin Rajagukguk Tri Rahmawati Winda Kusuma Tristika Putri Utama Giardi, Nahar Dito Valent, Caesara Geacesita Viradhea Gita R. L. Wahyu Eko Saputro Wahyu Satya Nugraha Wahyuddin, Yasser Wenang Triwibowo, Wenang Wisnu Hanggoro Yasser Wahyuddin Yose Rinaldy N Yudo Prasetyo