Claim Missing Document
Check
Articles

ANALISIS PENGADAAN LAHAN UNTUK PEMBANGUNAN JALAN LINGKAR UTARA KOTA SOLOK MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS Mia Aulina; Sawitri Subiyanto; Fauzi Janu Amarrohman
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 8, Nomor 4, Tahun 2019
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKPada kegiatan pengadaan tanah untuk pelaksanaan pembangunan kepentingan umum, pemerintah Kota Solok mengadakan beberapa kebijakan yang salah satunya adalah pelaksanaan pengadaan lahan untuk jalan lingkar utara Kota Solok. Pembangunan jalan lingkar utara Kota Solok bermula dari gejala kepadatan lalu lintas di dalam kota akibat pencampuran antara arus lintas dalam menggunakan jalan utama kota yang juga merupakan jalan arteri. Selain untuk memperlancar transportasi kendaraan yang melewati Kota Solok. Pelaksanaan pengadaan lahan untuk jalan lingkar utara Kota Solok ini dibutuhkan kegiatan inventarisasi dan pemetaan persebaran data Penggunaan dan Pemanfaatan Tanah (P2T) di daerah Kota Solok. Penelitian ini menggunakan data citra satelit, peta administrasi Kota Solok, dan peta pengadaan tanah untuk pembangunan jalan lingkar utara. Metode yang digunakan adalah dengan menggabungkan ketiga data tersebut kemudian dilakukan digitasi on screen untuk membuat peta pembangunan jalan lingkar utara. Selanjut nya dilakukan identifikasi pada bidang tanah utara berupa data atribut penggunaan, dan pemanfaatan bidang tanah yang terkena kegiatan Pengadaan Lahan Jalan Lingkar Utara di Kota Solok dengan melakukan digitasi on screen. Pada penelitian tugas akhir ini diperoleh hasil berupa peta sebaran bidang tanah beserta Penggunaan dan Pemanfaatan Tanah (P2T) dan klasifikasi ganti rugi tanah dalam bentuk peta zona harga tanah yang terkena rencana kegiatan Pengadaan Lahan. Hasil penelitian berupa perubahan penggunaan tanah sebelum dan sesudah yang mengalami peningkatan adalah jalan yaitu sebesar 5,59% dan diikuti oleh perumahan 5,56%, sedangkan yang mengalami penurunan terbanyak adalah Tegalan/Ladang sebesar -9,77% dan yang tetap adalah waduk sebesar 0,00%. Pada pemanfaatan tanah sebelum dan sesudah yang mengalami peningkatan adalah pemanfaatan campuran sebesar 6,93% dan di ikuti oleh tidak ada pemanfaatan sebesar 5,65%, sedangkan yang mengalami penurunan adalah produksi pertanian sebesar -18,08% dan yang tetap adalah pemanfaatan sarana perbengkelan sebesar 0,00%. Klasifikasi Harga ganti rugi dan luas pada pembangunan Jalan Lingkar Utara yaitu di bagi menjadi 5 kelas dengan rentang harga permeter perbidang tanah dimulai dari diganti dengan tanah sampai harga tertinggi Rp 920.141,- Kunci : Bidang Tanah, Pengadaan Lahan, Penggunaan dan Pemanfaatan Lahan ABSTRACTIn the land acquisition activity for the implementation of public interest development, the Solok City government implemented a number of policies, one of which was the implementation of land acquisition for the Solok City north ring road. The construction of the northern ring road of Solok City started from of traffic density in the city due to the mixing of the flow of traffic in using the city's main road which is also an arterial road. In addition to expediting transportation of vehicles passing through the City of Solok. The implementation of land acquisition for the Solok City northern ring road will require inventory and mapping activities for the distribution of Land Use and Utilization (P2T) data in the Solok City area. This study uses satellite imagery data, Solok City administration map, and land acquisition map for the construction of the northern ring road. The method used is combine the three data and then digitize on screen to create a map of the construction of the northern ring road. Furthermore, identification is carried out on the plot in the form of usage attribute data, and the utilization of parcels affected by the North Ring Road procurement activity in the City of Solok by then digitize on screen. In this research results are obtained in the form of a map of the distribution of land parcels along with the Use and Utilization of Land  and the classification of land compensation in the form of a map of land price zones affected by the Land Acquisition plan. The results of research in the form of changes in land use before and after which increased were roads, namely 5.59% and followed by housing 5.56%, while those that experienced the most declines were moor / fields by -9.77% and those that remained were reservoirs of 0.00%. In the utilization of land before and after which increased was a mixture of 6.93% and followed by no utilization of 5.65%, while the decline was agricultural production of -18.08% and what remained was the utilization of workshop facilities by 0.00%. Classification The price of compensation and area on the construction of the North Ring Road is divided into 5 classes with a per meter price range per plot of land starting from being replaced with land to the highest price of Rp. 920.141.
ANALISIS KESESUAIAN LAHAN STASIUN PENGISIAN BAHAN BAKAR UMUM (SPBU) DI KOTA SEMARANG DENGAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS Rifky Satrio Utomo; Sawitri Subiyanto; Andri Suprayogi
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1163.577 KB)

Abstract

ABSTRAKKota Semarang dengan luas wilayah 373,70 Km2  merupakan kota berkembang yang padat dari segi penduduk dan sebaran kendaraan bermotor yang mengkonsumsi bahan bakar setiap harinya. Oleh karena itu SPBU (Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum) sebagai agen resmi penyalur BBM juga kian berkembang pesat. Banyaknya pendirian SPBU khususnya di wilayah Semarang tak lepas dari manfaat dan kerugiannya terutama masalah kesesuaian lahannya. Disamping memperhatikan kesesuaian lahannya juga harus ada surat izin tempat usaha yang dikeluarkan baik oleh Pemerintah Daerah/Kota. Dalam hal ini SIG mempunyai manfaat yang dapat digunakan untuk menganalisis kesesuaian lahan SPBU menggunakan metode Analytical Hierarchy Processing (AHP).Dari analisis dengan menggunakan metode AHP (Analytical Hierarchy Process) menunjukkan besar bobot untuk masing-masing parameter sebesar 32,29 % untuk kemiringan lahan, 27,48 % untuk kelas jalan, 15,57% untuk jarak dengan SPBU terdekat, 10,21% untuk jumlah kendaraan per kecamatan, 6,79% untuk daerah potensi longsor, 4,67% untuk daerah potensi banjir, dan 3 % untuk jarak dengan permukiman.Dari hasil overlay peta hasil skoring didapatkan tiga klasifikasi kesesuaian lahan yaitu sangat sesuai, sesuai, dan tidak sesuai. Dari total SPBU di Kota Semarang sebanyak 60 SPBU, didapatkan analisis kesesuaian lahan sebanyak 25 SPBU masuk dalam kategori sangat sesuai, 31 SPBU masuk dalam kategori sesuai, dan 4 SPBU masuk dalam kategori tidak sesuai.Kata Kunci : SPBU, AHP, SIG  ABSTRACTSemarang city with an area of 373.70 km2 is a growing city that is dense in terms of population and distribution of motor vehicles consume fuel every day. Therefore the gas stationas an authorized agent distributor of fuel is also growing rapidly. Number of the establishment, especially in the area of Semarang gas stations could not be separated from the benefits and disadvantages especially issues of land suitability. Besides the suitability of the land must also be a location permit issued either by the local government / municipal. In this case the GIS has benefits that can be used to analyze the suitability of land filling stations using Analytical Hierarchy Processing (AHP).From the analysis using Analytical Hierarchy Process (AHP) showed large weights for each parameter by 32.29% for the slope of the land, 27.48% for the class of roads, 15.57% for the distance to the nearest gas station, 10.21% for the number of vehicles per sub-district, 6.79% for a potential landslide area, 4.67% for areas of potential flooding, and 3% for the distance to the settlements.From the resulting overlay maps scoring result obtained three classifications of land suitability is very suitable, appropriate and not appropriate. Of total stations in the city of Semarang as many as 60 gas stations, land suitability analysis found as many as 25 gas stations in the category very fit, 31 gas stations fit into the category, and 4 gas stations do not fit into the category.Keywords : SPBU, AHP, SIG *) Penulis, Penanggungjawab
KAJIAN PEMANFAATAN DATA PENGINDERAAN JAUH UNTUK IDENTIFIKASI OBJEK PAJAK BUMI DAN BANGUNAN (Studi Kasus : Kecamatan Tembalang Kota Semarang) Lasmi - Rahayu; Sawitri - Subiyanto; Bambang Darmo Yuwono
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 4, Nomor 1, Tahun 2015
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1021.415 KB)

Abstract

ABSTRAKPenginderaan jauh adalah ilmu dan seni untuk memperoleh informasi tentang suatu objek, daerah, atau fenomena melalui analisis data yang diperoleh dengan suatu alat tanpa kontak langsung dengan objek, daerah, atau fenomena yang dikaji. Pemanfaatan teknologi penginderaan jauh oleh PBB diharapkan dapat menunjang performance dalam pengelolaan tugas perpajakan. Salah satu produk citra satelit resolusi tinggi yang dimiliki adalah citra GeoEye. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi objek pajak bumi dan bangunan (PBB) dengan memanfaatkan data penginderaan jauh dan mengevaluasi peta PBB berdasarkan hasil identifikasi data penginderaan jauh dan survei lapangan.Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah identifikasi perubahan objek bangunan dari hasil overlay peta PBB dengan citra terkoreksi geometrik dengan cara interpretasi secara visual. Hasil interpretasi perubahan kemudian dilakukan uji ketelitian interpretasi. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa teridentifikasi 15176 buah bangunan belum terpetakan pada peta PBB dengan luas bangunan belum terpetakan sebesar 1560415,057 m2.Kata Kunci: penginderaan jauh, citra GeoEye, objek Pajak Bumi dan Bangunan ABSTRACT Remote sensing is the science and art to get information about an object, area, or phenomenon through the analysis of data obtained with a device without direct contact with the object, area, or phenomenon under study. Utilization of remote sensing technology by administrator of land and property tax is expected to support performance in management of taxation duty. One of the products of high-resolution satellite imagery is GeoEye imagery. The purpose of this study is to identify the object of land and property tax by using remote sensing data and evaluate the land and building tax maps based on the identification of remote sensing data and  field  surveys. The method used in this study is the identification of the object changes in property taxes from the land and property tax map overlay image geometric correction by means of visual interpretation. Results interpretation changes then test the accuracy of interpretation. The results showed that the identified 15 176 pieces uncharted building on PBB map with a building area of 1560415.057 uncharted m2.Keywords: remote sensing, GeoEye imagery, land and property tax object
OPTIMALISASI PARAMETER SEGMENTASI BERBASIS ALGORITMA MULTIRESOLUSI UNTUK IDENTIFIKASI KAWASAN INDUSTRI ANTARA CITRA SATELIT LANDSAT DAN ALOS PALSAR ( Studi Kasus : Kecamatan Tugu Dan Genuk, Kota Semarang) Ari Setiani; Yudo Prasetyo; Sawitri Subiyanto
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 5, Nomor 4, Tahun 2016
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (668.253 KB)

Abstract

ABSTRAKPerkembangan metode klasifikasi data penginderaan jauh untuk mendapatkan informasi yang tepat dan akurat semakin pesat. Salah satu metode klasifikasi data yang berkembang adalah klasifikasi berbasis objek. Klasifikasi ini mempunyai keunggulan dalam pemisahan objek dalam bentuk segmen-segmen yang akurat dan presisi. Pada penelitian ini dilakukan pencarian nilai optimalisasi parameter segmentasi dengan algoritma multiresolusi segmentasi untuk identifikasi kawasan industri, yang termasuk dalam klasifikasi berbasis objek. Dengan menggunakan citra Landsat 7 ETM+ dan ALOS PALSAR yang berada di dua kecamatan, yaitu kecamatan Genuk dan Tugu.Untuk mengidentifikasi kawasan industri dibagi menjadi dua tahap, tahap pertama adalah segmentasi dan yang kedua adalah klasifikasi. Pada tahap segmentasi kedua citra satelit diproses menggunakan algoritma segmentasi multiresolusi. Pada algoritma tersebut terdapat tiga parameter segmentasi , yaitu skala, bentuk dan kekompakkan. Ketiga parameter dilakukan pengujian secara berulang hingga mendapatkan nilai kombinasi parameter yang optimal. Selanjutnya tahap klasifikasi dilakukan untuk mengelompokkan hasil segmen yang terbentuk sesuai dengan kelas masing-masing. Kelas yang dibentuk untuk tahapan klasifikasi  ada dua, yaitu kawasan industri dan non industri.Dari hasil algoritma segmentasi didapatkan nilai optimal untuk citra Landsat 7 ETM+ di kecamatan Genuk adalah sebesar 30 untuk parameter skala, 0,1 untuk parameter bentuk dan 0,3 untuk parameter kekompakkaan. Sedangkan untuk kecamatan Tugu adalah 17 untuk parameter skala, 0,1 untuk parameter bentuk dan 0,5 untuk parameter kekompakkan. citra ALOS PALSAR di kecamatan Genuk adalah sebesar 25 untuk parameter skala, 0,5 untuk parameter bentuk dan 0,5 untuk parameter kekompakkan. Sedangkan untuk kecamatan Tugu adalah 27 untuk parameter skala, 0,5 untuk parameter bentuk dan 0,5 untuk parameter kekompakkan. Hasil uji akurasi dengan menggunakan matriks konfusi dari kedua citra menghasilkan nilai akurasi keseluruhan sebesar 100%.Kata Kunci : Algoritma segmentasi multiresolusi, Kawasan Industri, Optimalisasi parameter. ABSTRACTThe classification methods development in remote sensing in order to get accurate and precision informations has been enormously evolved. One of data classification method envolving is the object based classification. This data classification has had several advantages on object especially in separating shape segments in precisely and accurately. In this research, in order to identify an industrial area using the object based classification, we have already used the multi-resolution segmentation algorithm. Also we had had a value of segmentation parameters optimization to reach the best classification results. This research has used a Landsat 7 ETM+ and ALOS PALSAR images which is located in Genuk and Tugu sub-district.To identify industry area, this process divided into two processes, first process is segmentation and the second process is classification. In segmentation process, both of the satellite imageries are processed by using multiresolution segmentation algorithm. There are three segmentation parameters in this algorithm as follows a scale, a shape, and a compactness. Furthermore, the process of classification is to classify the segmentation products that are segmentated into an each class. It will be form a two land use class as like  an industry and a non-industry area.From segmentation proccess, it was resulted an optimal value for Landsat 7ETM+ imagery in Genuk sub-district around 30 in scale parameter,  0.1 in shape parameter and 0.3 in compactness parameter. While  the optimal value in Tugu sub-district around 25 in scale parameter, 0.5 in shape parameters, and 0.3 for compactness parameters.For ALOS PALSAR imagery, it was resulted an optimal value in Genuk Sub-district around 25 in scale parameter, 0.5 in shape parameter and 0.5 in compactness parameter.For Tugu Sub-district, it has obtained around 27 in scale parameter, 0.5 in shape parameter and 0.5 for compactness parameter. The accuration test has obtained using a confution matrix from both of sattelite imagery which is get an overall accuracy value around 100 percents. Keywords : Industry Area, Multiresolution Segmentation Algorithm, Parameters optimization*) Penulis, Penanggung jawab
Analisis Pemanfaatan Citra Landsat 7 Untuk Pemetaan Kandungan Bahan Organik Tanah Dengan Metode Pca Dan Regresi Linier Berganda Bertahap Di Kabupaten Bangkalan Mohammad Idris; Sawitri Subiyanto; L. M. Sabri
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 3, Nomor 1, Tahun 2014
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (684.44 KB)

Abstract

Information on soil organic matter (SOM) is required for consideration in planning development of sustainable land as land with high SOM score could be prioritized for field potential. Bangkalan regency encounters increased shift in land use after the operation of Suramadu bridge, causing land convertion does not consider natural value of the soils. In this study, mapping of soil organic matter on july 2013 is implemented by using remote sensing techniques. The remote sensing data is Landsat 7 (bands 1, 2, 3, 4, 5, and 7) with Normalized Difference Soil Index (NDSI) as the land identification. Ground-truth data be obtained by analyzing organic matter using ASTM D 2974 combustion method (American Society for Testing and Materials on Standard Test Methods for Moisture, Ash, and Organic Matter of Peat and Other Organic Soils). Data analysis uses stepwise multiple linear regression with three types of input (pixel values of 6 bands in grayscale mode,PCA with 6 PCs, and PCA with 3 PCs). The results showed that using principal component analysis (PCA) with 6 PCs can be used to predict soil organic matter. Application of stepwise multiple linear regression (SMLR) equation by using input principal component analysis (PCA) with 6 PCs to estimate soil organic matter showed that the soil in the study area generally contain diverse organic matter (covering 61.7% of the study area). Therefore, information on texture and structure contents of soils, harvest periods, cover crops, guided use of fertilizers, socio-economic incentives are needed to improve the results of BOT in study areaKeywords: remote sensing, mapping, soil organic matter, SMLR, PCA
PEMBUATAN PETA ZONA NILAI TANAH BERDASARKAN HARGA PASAR UNTUK MENENTUKAN NILAI JUAL OBJEK PAJAK DI KECAMATAN GAJAH MUNGKUR KOTA SEMARANG Sarmedis Anrico Situmorang; Sawitri Subiyanto; Moehammad Awaluddin
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1080.821 KB)

Abstract

ABSTRAKNJOP (Nilai Jual Objek Pajak) yang menjadi dasar pengenaan Pajak Bumi dan Bangunan, seharusnya sesuai dengan Nilai Pasar Wajar (NPW) yang berlaku di daerah yang bersangkutan. Apabila NJOP tidak sesuai dengan NPW, maka NPW yang seharusnya dapat mewakili nilai tanah, tidak dapat mewakili nilai tanah dalam suatu zona tertentu. Zona tersebut merupakan zona geografis yang terdiri atas sekelompok bidang tanah  yang memiliki nilai tanah sama, sehingga disebut juga Zona Nilai Tanah (ZNT). NPW rata-rata yang tidak dapat mewakili nilai tanah dalam suatu zona tersebut, akan mengakibatkan tidak sesuainya pembentukan ZNT, sehingga akan terjadi ketidaksesuaian pula terhadap penetapan PBB pada beberapa bidang tanah.Pendekatan penilaian menggunakan pendekatan perbandingan penjualan (Sales Comparative), dimana objek pajak yang akan dinilai dibandingkan dengan objek pajak lain sejenis yang sudah diketahui nilai jualnya. Cara penilaian dilakukan dengan penilaian massal (tidak memperhatikan properti khusus). Penelitian ini dilakukan dengan pembuatan zona untuk menentukan titik sampel yang akan dicari. Kemudian membuat peta zona nilai tanah berdasarkan Harga Transaksi dan NJOP (Nilai Jual Objek Pajak) Kecamatan Gajah Mungkur. Perhitungan penilaian menggunakan Microsoft Excel 2007. Pembuatan Peta Zona Nilai Tanah Kecamatan Gajah Mungkur Tahun 2015 menggunakan perangkat lunak SIG (Sistem Informasi Geografis).Hasil penelitian ini berupa Peta Zona Nilai Tanah yang terdiri dari 79 zona untuk peta ZNT Transaksi dan NJOP. Perubahan selisih harga tanah Transaksi dengan NJOP terendah sebesar 76,31% sedangkan untuk harga tertinggi adalah 747,40%.Kata Kunci : Nilai Jual Objek Pajak (NJOP), Nilai Pasar Wajar (NPW), Sistem Infomasi Geografik (SIG), Zona Nilai Tanah.ABSTRACTNJOP (Tax Object Sale Value) on which the imposition of tax on land and buildings, should in accordance with the Fair Market Value (NPW) applicable in the relevant area. If NJOP not in accordance with the NPW, the NPW is supposed to represent the value of the land, can not represent the value of the land in a specific  zone. The zone is a geographical zone made up of a group of parcels of land that have the same value, so it is also called the Land Value Zone (ZNT). The average of  NPW that  can not represent the value of the land in a zone, would result in incompatibility ZNT formation, so that there will be a mismatch also to the determination of the United Nations on several parcels of land.Assessment approach using the sales comparison approach (Comparative Sales), where the object of the tax is to be assessed in comparison to other similar tax object that has been known resale value. How to assessment done by mass appraisal (no special attention to the property). This research was conducted with the manufacturing zone to determine sample points to be observed. Then create a zone map of land values based on transaction of value and NJOP (Tax Object Sale Value) District of Gajah Mungkur. Assessment calculations using Microsoft Excel 2007. Making the District Land Value Zone Map Gajah Mungkur 2015 using GIS (Geographical Information Systems)  software.Results of this study showed Land Value Zone Map consists of 79 zones to map ZNT transaction and NJOP. Changed in land price difference with NJOP low of 76.31% while the highest price is 747.40%.Keywords : Geographical Information Systems (GIS), Land Value Zone, Tax Object Sale Value (NJOP), the Fair Market Value (NPW).  *) Penulis, Penanggungjawab
ANALISIS PERUBAHAN KERAPATAN VEGETASI HUTAN JATI DENGAN METODE INDEKS VEGETASI NDVI (Studi Kasus: Kawasan KPH Randublatung Blora) Arif Witoko; Andri Suprayogi; Sawitri Subiyanto
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 3, Nomor 3, Tahun 2014
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1530.761 KB)

Abstract

ABSTRAK            Sebagian besar wilayah Kabupaten Blora merupakan hutan, terutama hutan jati. KPH Randublatung merupakan KPH terbesar di wilayah Kabupaten Blora. Penebangan liar (illegal logging) di kawasan KPH Randublatung menyebabkan berkurangnya jumlah pohon jati dan luas vegetasi hutan jati. Akibat dari berkurangnya vegetasi hutan jati dapat menyebabkan perubahan musim yang tidak menentu dan beberapa fauna hutan kehilangan habitatnya.            Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perubahan luas dan kerapatan vegetasi hutan jati di kawasan KPH Randublatung. Metode yang digunakan untuk mengetahui untuk mengetahui kerapatan vegetasi hutan jati yaitu berdasarkan analisis indeks vegetasi NDVI (Normalized Difference Vegetation Indeks) dengan menggunakan citra Landsat 7 ETM+ tahun perekaman 2000 dan 2011.            Berdasarkan dari hasil pengolahan data, pada tahun 2000 luas vegetasi hutan jati di kawasan KPH Randublatung seluas 25.528,33 ha, dengan tingkat kerapatan sedang memiliki nilai tertinggi yang didapat dari analisis indeks vegetasi NDVI yaitu seluas 10.815,45 ha. Sedangkan pada tahun 2011 luas vegetasi hutan jati di KPH Randublatung seluas 12.451,37 ha, dengan tingkat kerapatan jarang memiliki nilai tertinggi yaitu seluas 5.105,77 ha. Dengan demikian dari tahun 2000 sampai dengan tahun 2011 tutupan lahan vegetasi hutan jati di kawasan KPH Randublatung mengalami perubahan seluas 13.076,96 ha. Kata Kunci :  kerapatan vegetasi, hutan jati, NDVI, citra Landsat 7 ETM+, KPH Randublatung ABSTRACTMost of the area Blora Regency is covered by forest, especially Jati forests. Unity Forest Perhutani Officials (KPH) Randublatung is the largest KPH in the Blora Regency. Illegal logging in the KPH Randublatung result in less quantity of Jati trees and large of forest vegetation. As a result of the reduced Jati forest vegetation can cause errotic seasonal changes and some animal loss their cage.This study aims to determine the change in the density of vegetation and extensive Jati forests in the KPH Randublatung. The method used to determine the density of the forest vegetation to determine the identity that is based on the analysis of vegetation index NDVI (Normalized Difference Vegetation Index) using image Landsat 7 ETM + recording in 2000 and 2011.Based on the results of data processing, in 2000 area forest vegetation in the KPH Randubltung of 25.528.33 ha, with does not too heavy density has the highest value obtained from the analysis of vegetation index NDVI is an area of 10.815,33 ha. Meanwhile in 2011 area forest vegetation in the KPH Randublatung of  12.451,37 ha, with rare densities has highest value area of 5.105,77 ha. Thus from 2000 to 2011 land cover Jati forest vegetation in the KPH Randublatung changing area of 13.076,96 ha. Keywords :  density of vegetation, jati forest, NDVI, image Landsat 7 ETM +, KPH Randublatung
ANALISIS PERKEMBANGAN DAN POLA PERMUKIMAN DI WILAYAH KECAMATAN PERBATASAN KOTA SEMARANG DAN KABUPATEN KENDAL Mavita Nabata Dzakiya; Sawitri Subiyanto; Fauzi Janu Amarrohman
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 8, Nomor 4, Tahun 2019
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (929.421 KB)

Abstract

ABSTRAKPertumbuhan penduduk yang semakin pesat akan mengakibatkan kebutuhan permukiman semakin besar, masalah ini hampir terjadi disetiap daerah perkotaan. Wilayah kecamatan yang berbatasan langsung dengan Kota Semarang dan Kabupaten Kendal menjadi wilayah yang berkembang untuk lahan pemukiman karena diwilayah pinggiran Kota Semarang dan Kabupaten Kendal menjadi incaran para pengembang maupun masyarakat individu. Pengembang memamnfaatkan untuk membangun rumah diatas ruang terbuka yang masih tersedia diwilayah pinggiran tersebut. Sehingga dibutuhkan informasi mengenai perubahan penggunaan lahan dan pola persebaran permukiman dalam kaitannya dengan tata guna lahan pada perencanaan kota. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik penginderaan jauh dan sistem informasi geografis dengan interpretasi penggunaan lahan pada Citra Quikcbird tahun 2010 dan 2015 dan Citra SPOT 6 tahun 2019 yang kemudian dianalisis besar perubahan penggunaan lahan dan dianalisis menggunakan metode analisis tetangga terdekat untuk mengetahui pola persebaran permukiman. Berdasarkan pengolahan data dan hasil analisis didapatkan perubahan luas lahan permukiman di Kecamatan Boja, Kaliwungu, Kaliwungu Selatan, Mijen, Ngaliyan, Singorojo dan Tugu pada tahun 2010 – 2015 sebesar 211,10 ha dan pada tahun 2015 – 2019 sebesar 369,57 ha. Perubahan tersebut terdiri dari permukiman teratur yang mengalami perubahan sebesar 184,16 ha dan permukiman tidak teratur mengalami perubahan sebesar 354,43 ha. Dari hasil perhitungan nilai indeks tetangga terdekat (T) dapat diketahui pola persebaran permukiman di Kecamatan Boja, Kaliwungu, Kaliwungu Selatan, Mijen, Ngaliyan, Singorojo dan Tugu  adalaha mengelompok dan acak. Luas pola  persebaran mengelompok sebesar 112.940,49 ha. Luas pola persebaran acak sebesar 233.879,72 ha. Kata Kunci: Analisis Tetangga Terdekat, Citra Quickbird, Citra SPOT 6, Penggunaan Lahan, Permukiman  ABSTRACTThe Population growth rapidly affect in increased the demand of settlements, this problem almost occurs in every urban area. The sub district area which borders directly at the booth of Semarang and Kendal Regency is the developing residential area because the location which in the suburbs of Semarang and Kendal Regency is being the target of developers and individual people to build houses on open spaces that are still available on it. Information is needed regarding changes in land use and patterns of settlement distribution in relation to land use in urban planning. The methods used in this research is remote sensing and geographical information system with land use interpretation at Citra Quickbird 2010 and 2015, and Citra SPOT 6 2019 which analyzed how much the land use change and settelement’s distribution pattern using the closest neighbour methods analysis. Based on datas processing and the result of analysis show that the alteration of settlement area at Boja, Kaliwungu, Kaliwungu Selatan, Mijen, Ngaliyan, Singorojo and Tugu sub district on 2010-2015 is 211,10 ha and on 2015-2019 is 369,57 ha. This change consists of regular settlement which change in the amount of 184,16 ha and unregular settlement which change in the amount of 354,43 ha. From the result of closest neighbour value index calculation (T) known that settlement’s distribution pattern at Boja, Kaliwungu, Kaliwungu Selatan, Mijen, Ngaliyan, Singorojo and Tugu sub district is clustering and random. The area of clustering distribution is 112.940,49 ha. The area of random distribution is 233.879,724 ha.Keywords: Land Use,  Nearest Neighbor Analysis, Settlement, Quickbird Image, SPOT 6 Image.
PEMANFAATAN CITRA QUICKBIRD UNTUK IDENTIFIKASI PERUBAHAN PENGGUNAAN TANAH DI KABUPATEN SRAGEN Hayu Rianasari; Sawitri Subiyanto; Bandi Sasmito
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 2, Nomor 1, Tahun 2013
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (475.614 KB)

Abstract

ABSTRAKKabupaten Sragen merupakan salah satu wilayah yang sedang berkembang, baik dalam bidang industri, jasa, permukiman, pendidikan, perdagangan, pariwisata maupun transportasi. Seiring dengan perkembangan wilayah tersebut maka terjadi alih fungsi lahan yang merupakan area yang tidak terbangun menjadi area terbangun sehingga akan meningkatkan kepadatan baik kepadatan penduduk maupun kepadatan permukiman. Dengan menggunakan teknik penginderaan jauh, dan dengan adanya citra penginderaan jauh yang multi waktu perubahan penggunaan tanah dapat dipantau dengan mudah dan cepat, sehingga dapat diketahui besar penggunaan tanah terhadap laju pertumbuhan penduduknya.Pada penelitian ini menggunakan citra Quickbird Kecamatan Sragen dan Kecamatan Karangmalang pada tahun 2004 dan tahun 2010. Sebelumnya terlebih dahulu dilakukan koreksi geometrik pada citra Quickbird tahun 2010. Langkah selanjutnya melakukan digitasi on screen dengan AutoCAD pada kedua citra untuk mengetahui penggunaan tanah menurut klasifikasi NSPM 2009 yang dikeluarkan oleh BPN. Kemudian peta diolah dengan software ArcGIS dan melakukan pengolahan dengan analysis tools antara lain dengan Extract dan Overlay sehingga didapatkan peta perubahan penggunaan tanah. Setelah itu, luas perubahan tersebut dihitung menggunakan Calculate Geometry. Pada tahap akhir dilakukan validasi lapangan untuk mengetahui kebenaran hasil interpretasi citra.Berdasarkan klasifikasi penggunaan tanah menurut NSPM 2009 BPN yang muncul di Kecamatan Sragen sebanyak 45 klasifikasi penggunaan tanah dan di Kecamatan Karangmlang sebanyak 25 klasifikasi penggunaan tanah. Perubahan penggunaan tanah yang terjadi pada rentang tahun 2004-2010 di Kecamatan Sragen sebesar 81.200,50 m2 dan di Kecamatan Karangmalang sebesar 138.543,24 m2.
ANALISIS FAKTOR AKSESIBILITAS TERHADAP PERBEDAAN NILAI TANAH DI KAWASAN PUSAT KOTA KECAMATAN GEMOLONG DAN KECAMATAN SRAGEN KABUPATEN SRAGEN Nadia Anggraeni Yuristasari; Sawitri Subiyanto; Arwan Putra Wijaya
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (875.217 KB)

Abstract

ABSTRAKTanah merupakan salah satu sumber daya yang sangat penting bagi kelangsungan hidup manusia untuk melakukan berbagai kegiatan. Salah satunya adalah kegiatan pembangunan, saat ini kegiatan pembangunan semakin pesat menjadikan sumber daya tanah semakin langka. Menjadikan tanah dapat diperjual belikan dan dapat dijadikan jaminan.Penelitian ini dilakukan survei nilai tanah pasar untuk mendapatkan Nilai Indeks Rata-rata (NIR) pada Zona Nilai Tanah (ZNT) di kedua kecamatan dan untuk analisis faktor aksesibilitas pada penelitian ini menggunakan pembobotan dengan metode Analitycal Hierarchy Process (AHP).Penelitian ini menghasilkan nilai tanah tertinggi pada Kecamatan Sragen sebesar Rp. 16.500.000,00 dan Kecamatan Gemolong sebesar Rp. 10.000.00,00 berdasarkan hasil survei nilai tanah tahun 2015. Parameter yang memiliki presentase nilai bobot tertinggi adalah Rute Trayek Angkutan Umum yaitu 50,59%, parameter jaringan jalan sebesar 33,63%, parameter lebar jalan sebesar 9,87%, dan parameter jenis permukaan jalan dengan presentase 5,91%. Untuk hasil pembobotan variabel-variabel pada setiap parameternya yaitu jalan Arteri 0,197, jalan Kolektor 0,122, jalan Lokal 0,017, lebar jalan > 7 meter 0,070, lebar jalan 5-7 meter 0,021,lebar jalan < 5 meter 0,007, jalan Aspal 0,034, jalan Beton 0,022, jalan batu/tanah 0,003, rute trayek angkutan umum AKAP 0,256, rute trayek angkutan umum AKDP 0,179, rute trayek angkutan umum Perkotaan 0,050, dan rute trayek angkutan umum Perdesaan 0,020. Kata Kunci : ZNT,Faktor Aksesibilitas, AHP ABSTRACTLand is one resource that is essential for the survival of humans to perform various activities. The one is development activities, the current development activities more rapidly make increasingly scarce land resources. Making the land can be traded and can be used as collateral.This study was conducted a survey to get the land value for Nilai Indeks Rata-rata (NIR) on Zona Nilai Tanah (ZNT) in both districts and for the accessibility factor analysis in this study using the weighting method Analytical Hierarchy Process (AHP).This research resulted in the highest land value in Sragen District of Rp. 16,500,000.00 and the District Gemolong Rp. 10.000.00,00 based on the results of the survey in 2015. The parameter value of the land that has the highest percentage of weight value is Public Transport Route These are 50.59%, parameters of 33.63% of the road network, road width parameter of 9.87%, and parameter type of road surface with a percentage of 5.91%. For the weighting variables on each parameter which 0,197 Arteri roads, Kolektor roads 0.122, 0.017 Lokal roads, road width> 7 meters of 0.070, 0.021 meter road width 5-7, the road width <5 meters of 0.007, 0.034 Aspal roads, Beton roads 0.022, the rock / soil 0.003, public transportation route service AKAP 0.256, public transportation route service AKDP 0.179, these 0,050 Perdesaan transportation route, and the 0,020 Perkotaan transportation route. Keywords: ZNT, Accessibility Factors, AHP *) Penulis, PenanggungJawab
Co-Authors Abdi Sukmono, Abdi Ade Naufalita Aditya Dharmawan Afifah Asis Agatha Dimitri V. D. Kusumo Ahmad Firdous Syifa Ahmad Syauqani Ajeng Dwi Maturinsih Ajeng Dyah Setyowati Sri Utomo Akhmad Didik Prastyo Akhmad Tsalist Nailuz Tsabiq Alfonsus Bima Samudra Anastasia Astuti Andhono Yekti Andre Hidayat Andri Suprayogi Anggit Swarna Bumi Annisa Usolikhah Antonius Grizalde Simamora Anugrah, Riandhi Ardhian Setiawan Saputra ARDI SETYO PRATOMO Ardiansyah Ardiansyah Ari Setiani Arief Laila Nugraha Arif Witoko Arrizqa Laili Fitriana Arsyad Nur Ariwahid Arwan Putra Wijaya Ashari, Taufiq Ichsan Astriana Dewi Aulia Darmaputri Savitri Bagas Arif Widyagdo Bagus Yuli Arianto Bambang Darmo Yuwono Bambang Darmo Yuwono Bambang Sudarsono Bambang Sudarsono Bandi Sasmito Bashit, Nurhadi Bashit, Nurhadi Bayu Pradana Benita Roseana Benning Hafidah Kadina Bunga Roliesta Sari Charisma Parasandi Alfarizi Cindy Puspita Sari DANI PURBA Dedigun Bintang Fajeri Delima Canny Valentine Simarmata Desita Khrisna Putri, Dian Ayu Saraswati Diana Masmaulidia Diana Nukita Dinda Anisa Anggraini Dwi Rini Septiani Dwi Setyo Wicaksono, Dwi Setyo Faiz Islam Farid Burhanudin Yusup Fauzi Janu A Fauzi Janu Amarrohman Fauzi Janu Amarrohman Fauzi Janu Amarrohman Fauzi Janu Amarrohman, Fauzi Janu Febrina Aji Ratnawati Fryda Arlina Mahardika Galih Putro Pamungkas GETMA LAVEMIA Hana Sugiastu Firdaus Hana Sugiastu Firdaus Hana Sugiastu Firdaus, Hana Sugiastu Hani&#039;ah . Hani'ah, Hani'ah Haniah Haniah Hani’ah Hani’ah Hayu Rianasari Heranda Ibnu Adhi Herjuno Gularso Hisni Theresia Br Sinuraya Humaira Qanita Husen Ibnu Said Ihsan Pakaya Irfan Baharudin Istighfary Abirama Cininta Iva Kusniawati JACKIE SUPRAWITO NABABAN Jerson Otniel Purba Jetri Livia Rindika Kandiawan, Ulfa Fathul Kanti Ismawati Kemala Medika Putri Khoirul Isnaini Aulia Kukuh Ibnu Zaman Kurniawan Putra Widya Wardana L. M. Sabri Laisa Usrini Lasmi - Rahayu Leur P. Maranatha Sitorus LM. Sabri Lusiana Dewi Fatmalasari Lutfia Pangestika Lydia Fadilla Maharany Shandra Ayu Hapsary Maharditya Yoga Pramudyono Mashita Rahati Mavita Nabata Dzakiya Meilina Fika Mayangsari Merpati Dewo Kusumaningrat Mia Aulina Moehammad Awaluddin Moehammad Awwaluddin Mohammad Idris Mufid Damar Pidekso Mufti Yudiya M. Muhammad Amar Makruf Muhammad Ardhi Ahadi, Muhammad Ardhi Muhammad Fitrianto Muhammad Haris Febriansya Muhammad Nida Hakim El Wafa Muhammad Ulya Nadia Anggraeni Yuristasari Naftalie Dinda Rianty Nahar Dito Utama Giardi Nathania, Jessica Nida Shabrina Nisrina Niwar Hisanah Novian Nur Aziz Novita Amelia Nugra Putra Pembayun NUGRAHANI, MEIGA Nur Aziz Putra Aditama Nurfika Maulina Larasati Nurhadi Bashit Oktaviani Arumingtyas Pinastika Nurandani Polin Mouna Togatorop Pratama Irfan Hidayat Purwi Fitroh Hidayati Putri Ardianti Kinasih R. Sapto Hendri Boedi Soesatyo Rahmah, Azizah Nur Rajagukguk, Trevi Austin Ramlansius Tumanggor, Ramlansius Riana Kristiani Priskila Putri Rico Waskito Putro Rifky Satrio Utomo Riski Kadriansari Rismauly Yunita Tampubolon Rista Omega Septiofani Rizki Budi Kusumawardani Rizky Arga Himawan Rizky Silvandie Rudi Cahyono Putro Sarmedis Anrico Situmorang Saul Ambarita SELLI ANGELITA BR SITEPU Selli Angelita Sitepu Sitepu, Selli Angelita Siti Khoeriyah Sondang Artania Sidauruk Stella Purnomo Sutomo Kahar Sutomo Kahar Sutomo Kahar Sutomo Kahar Suwirdah Pebriyanah Swandi Sihombing Syarifa Naula Husna Tika Christy Novianty Trevi Austin Rajagukguk Tri Rahmawati Winda Kusuma Tristika Putri Utama Giardi, Nahar Dito Valent, Caesara Geacesita Viradhea Gita R. L. Wahyu Eko Saputro Wahyu Satya Nugraha Wahyuddin, Yasser Wenang Triwibowo, Wenang Wisnu Hanggoro Yasser Wahyuddin Yose Rinaldy N Yudo Prasetyo