Claim Missing Document
Check
Articles

PENGARUH VARIASI TINGGI TERBANG MENGGUNAKAN WAHANA UNMANNED AERIAL VEHICLE (UAV) QUADCOPTER DJI PHANTOM 3 PRO PADA PEMBUATAN PETA ORTHOFOTO (STUDI KASUS KAMPUS UNIVERSITAS DIPONEGORO) Ahmad Syauqani; Sawitri Subiyanto; Andri Suprayogi
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 6, Nomor 1, Tahun 2017
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1247.185 KB)

Abstract

ABSTRAKPada saat ini perkembangan teknologi sangatlah pesat dibidang pemetaan salah satunya adalah berkembangnya teknogi pemetaan dengan menggunakan wahana Unmanned Aerial Vehicle (UAV) atau sering disebut pesawat tanpa awak. Pesawat tanpa awak ini merupakan teknologi yang sedang marak digunakan untuk pekerjaan pemetaan fotogrametri.Penelitian ini dilaksanakan di daerah Universitas Diponegoro dengan luasan ± 18 Hektar. Sensor yang digunakan adalah kamera non metrik digital (Sony EXMOR 1/23” 12 Megapixel) dan didalam melakukan penelitian diberikan dua perlakuan yaitu dengan menggunakan tinggi terbang 80 meter dan 100 meter. Proses pengolahan menggunakan perangkat lunak Agisoft Photoscan. Proses yang dilakukan pada perangkat lunak yaitu: aligment yang merupakan proses untuk melakukan identifikasi titik sekutu secara otomatis, kalibrasi kamera untuk menentukan orientasi dalam dan orientasi luar kamera,  penentuan titik kontrol, pembuatan model 3 dimensi, dan pemberian tekstur model. Setelah dilakukan proses tersebut dilakukan pengamatan dari dua hasil orthofoto yang berbeda tinggi terbangnya dengan melakukan pengamatan jarak, luasan, arah orientasi, dan RMSE yang diperoleh dari dua buah orthofoto tersebut.Dari penelitian tersebut diperoleh bahwa ketelitian lebih baik didapatkan pada tinggi terbang 80m dibandingkan dengan tinggi terbang 100 meter serta jika dilihat kesalahan pix dari tinggi terbang 80 meter sebesar 1,52407 pix dan tinggi terbang 100 meter sebesar 2,33035 pix. Kata Kunci : Agisoft, ketelitian, Sony Exmor , Tinggi Terbang, Wahana Pesawat Tanpa Awak.  ABSTRACTNowadays, the development technology is significantly fast in mapping, one of them is evolving the mapping technology using Unmanned Aerial Vehicle (UAV). UAV is technology which emerging use for photogrammetry mapping.This research is held on Diponegoro University about ± 18 hectare. The Sensor which used is digital non metric camera (Sony EXMOR 1/23” 12 Megapixel) and In this reseacrh is given two treatment which is using plane height 80 meters and 100 meters. The processing is using Agisoft Photoscan software. The processing that doing in software which is aligment which process for identify tie points automatically. Camera callibration for determine interior orientation and exterior orientation of camera, determining the control points, making three dimension model, and give the model texture. After the process is done, the next step is observe from two orthophoto which have the different plane height with observe the distant, area, orientation vector, and RMSE which obtained from two orthophoto.   From this research obtain that the best accuracy is gotten on plane height 80 meters rather than plane height 100 meters and also from the pix error from plane height 80 meters are amounted 1,52407 pix and plane height 100 meters 2,33035 pix. Keywords: Accuracy, Agisoft, Sony Exmor, Plane height, Unmannde Aerial Vehicle.
ANALISIS SPASIAL PERKEMBANGAN FISIK WILAYAH KABUPATEN KLATEN MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS DAN PREDIKSINYA TAHUN 2025 DENGAN CA MARKOV MODEL Benita Roseana; Sawitri Subiyanto; Bambang Sudarsono
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 8, Nomor 4, Tahun 2019
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (612.721 KB)

Abstract

ABSTRAKKonversi lahan yang terus meningkat mengancam pemenuhan kebutuhan pangan. Pengendalian laju perubahan penggunaan lahan sangat diperlukan agar keberlanjutan lingkungan dapat tetap terjaga. Salah satu upaya untuk menjaga keberlanjutan tersebut adalah dengan mempelajari arah perkembangan fisik yang terjadi beberapa tahun sebelumnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui luas dan pola perkembangan wilayah Kabupaten Klaten pada tahun 2006-2018, prediksi perkembangan fisik Kabupaten Klaten pada tahun 2025 dengan Cellular Automata Markov Model dan kesesuaiannya terhadap RTRW Kabupaten Klaten tahun 2011-2031, dan faktor yang mempengaruhi perkembangan fisik wilayah Kabupaten Klaten berdasarkan regresi logistik. CA-Markov Model digunakan untuk memprediksi kondisi di waktu yang akan datang secara spasial. Regresi Logistik digunakan untuk menganalisis pengaruh variabel independen yang terdiri dari jarak ke jalan, jarak ke hutan, jarak ke pusat kegiatan, jarak ke permukiman 2018, dan kepadatan penduduk per piksel. Perkembangan Kabupaten Klaten tahun 2025 diprediksi menggunakan CA-Markov. Kabupaten Klaten dalam kurun waktu dari tahun 2006 dan tahun 2010 mengalami perubahan luasan penggunaan lahan sebesar 4.090,683 Hektar, sedangkan kurun dari tahun 2010 dan tahun 2018 Kabupaten Klaten mengalami perubahan luasan penggunaan lahan sebesar 1.352,928 Hektar.  Kecamatan yang selalu mengalami perkembangan permukiman pada rentang waktu tahun 2006, 2010, dan 2018 ada delapan kecamatan, yaitu Kecamatan Delanggu, Kecamatan Jatinom, Kecamatan Kalikotes, Kecamatan Karanganom, Kecamatan Karangdowo, Kecamatan Klaten Tengah, Kecamatan Manisrenggo, dan Kecamatan Tulung. Kesesuaian hasil prediksi CA-Markov terhadap RTRW Kabupaten Klaten tahun 2011-2031, kelas penggunaan lahan permukiman, industri, sawah, perdagangan dan jasa, lahan kosong, badan air, dan penggunaan lainnya dikatakan sesuai 86,245% dan tidak sesuai sebesar 13,756%. Kecamatan yang paling sesuai dengan RTRW adalah Kecamatan Ngawen dengan kesesuaian sebesar 7,701%, sedangkan kecamatan yang paling tidak sesuai adalah Kecamatan Jatinom dengan ketidaksesuaian sebesar 17,224%. Hasil analisis regresi logistik dapat dikatakan bahwa variabel independen yang paling berpengaruh terhadap perkembangan wilayah Kabupaten Klaten tahun 2025 adalah jarak ke permukiman dengan nilai koefisien regresi sebesar 0,0033, sedangkan variabel independen yang paling tidak berpengaruh terhadap perkembangan wilayah Kabupaten Klaten tahun 2025 adalah jarak ke hutan dengan nilai koefisien regresi sebesar -0,00005953.Kata Kunci : Cellular Automata Markov, Global Moran’s I, Kabupaten Klaten, Penggunaan Lahan, Regresi Logistik.ABSTRACTLand conversion that continues to increase threatens the fulfillment of food needs. Controlling the rate of change in land use is needed so that environmental sustainability can be maintained. One effort to maintain sustainability is to study the direction of physical development that occurred several years before. This study aims to determine the area and development patterns of Klaten Regency in 2006-2018, predictions of the physical development of Klaten Regency in 2025 with the Cellular Automata Markov Model and their suitability for the Klaten Regency RTRW in 2011-2031, and factors affecting the physical development of the Regency area. Klaten is based on logistic regression. CA-Markov Model is used to predict conditions in the future spatially. Logistic Regression is used to analyze the effect of independent variables consisting of distance to the road, distance to the forest, distance to the center of activity, distance to settlements 2018, and population density per pixel. The development of Klaten Regency in 2025 is predicted to use CA-Markov. Klaten Regency in the period of 2006 and 2010 experienced changes in the area of land use of 4,090,683 hectares. Meanwhile, the period from 2010 and 2018 in Klaten District experienced a change in the area of land use of 1,352,928 hectares. Subdistricts that have always experienced the development of settlements in the time span of 2006, 2010 and 2018 there are eight districts, called Delanggu District, Jatinom District, Kalikotes District, Karanganom District, Karangdowo District, Klaten Tengah District, Manisrenggo District, and Tulung District. The suitability of CA-Markov's prediction results of the Klaten District RTRW in 2011-2031, the class of residential land use, industry, rice fields, trade and services, vacant land, water bodies, and other uses is said to be 86.245% and not suitable for 13.756%. The most suitable district with RTRW is Ngawen District with a suitability of 7.701%. Whereas the most inappropriate sub-district is Jatinom sub-district with a mismatch of 17.224%. The logistic regression analysis results can be said that the most influential independent variable on the development of the Klaten Regency in 2025 is the distance to the settlement with a regression coefficient value of 0.0033. Whereas the independent variable that at least influenced the development of the Klaten Regency area in 2025 was the distance to the forest with a regression coefficient of -0.00005953.
ANALISIS PERUBAHAN LUAS LAHAN SAWAH DI KABUPATEN KENDAL MENGGUNAKAN CITRA RESOLUSI TINGGI ( Studi Kasus: Kec. Kaliwungu, Kec. Brangsong, dan Kec. Kota Kendal ) Rista Omega Septiofani; Sawitri Subiyanto; Abdi Sukmono
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (856.516 KB)

Abstract

ABSTRAKMenipisnya tanah pertanian akibat konversi (alih fungsi) lahan merupakan salah satu faktor penyebab keterpurukan sektor pertanian di Indonesia. Penyempitan lahan persawahan tidak hanya berdampak pada penurunan produksi padi tapi juga pada penghasilan masyarakat Indonesia yang bermata pencaharian sebagai petani. Kabupaten Kendal merupakan salah satu kabupaten di Jawa Tengah yang menjadi sentra penghasil padi dan memiliki luas lahan sawah yang cukup luas, namun adanya konversi perubahan lahan sawah yang terjadi di Kabupaten ini sangat tinggi. Akibatnya, lahan sawah yang terdapat dikawasan tersebut contohnya Kecamatan Kaliwungu, Kecamatan Brangsong, dan Kecamatan Kota Kendal mengalami konversi atau perubahan penggunaan lahan.Pada penelitian ini metode yang digunakan adalah teknik penginderaan jauh dan sistem informasi geografis dengan cara digitasi on screen. Citra yang digunakan adalah Citra Quickbird tahun 2010 dan Citra WorldView-2 tahun 2014. Setelah melakukan proses digitasi kemudian didapatkan luasan daerah yang terkonversi, lalu dianalisis menggunakan metode analisis tetangga terdekat untuk mengetahui pola persebaran lahan sawah dan pola daerah klasifikasi penggunaan lahan lainnya. Analisis sosial ekonomi digunakan untuk mengetahui dampak konversi lahan terhadap para petani.Berdasarkan pengolahan data dan hasil analisis didapatkan perubahan luas lahan sawah di Kecamatan Kaliwungu, Kecamatan Brangsong dan Kecamatan Kota Kendal pada tahun 2010 sampai tahun 2014 sebesar 54,753 Ha. Pola persebaran luasan sawah tiap kecamatan pada tahun 2010 dan tahun 2014 adalah acak, sedangkan pola perubahan luas pada tiap kecamatan adalah mengelompok. Dampak sosial ekonomi yang ditimbulkan dengan adanya konversi lahan sawah adalah semakin berkurangnya lahan sawah berpengaruh negatif terhadap nilai pendapatan petani, dimana usaha berproduksi padi di sawah tidak memberikan masukan yang mencukupi bagi kehidupan sehari hari petani, sehingga hal tersebut mendorong petani unuk menjual lahan sawahnya untuk beralih ke usaha lain.Kata Kunci : Sawah, Perubahan Lahan, Citra Quickbird, Citra WorldView-2ABSTRACTThe depletion of landagriculture due to the land conversion is one of the factors causing the deterioration of agricultural sector in Indonesia.The constriction of paddy fields is not only affected onthe decrease of rice production but also the income of Indonesian people who are farmers.Kendal is one of regencies in Central Java being rice production centers and has a quite spacious paddy field, but the conversion of paddy field in this county is really high. It might caused by several factors, including the increase of population and construction activities.As a result, for instance the paddy field which located in the area of the District Kaliwungu, District Brangsong and District Kendal get conversion or change of land use.The method that used in this research is the technique of remote sensing and geographic information system by digitize on screen. The image used is QuickBird Satellite Images 2010 and the WorldView-2 Satellite Images in 2014.After doing digitization process then obtained the extents of converted area, afterward analyzed using the nearest neighbor analysis method to determine the distribution pattern of paddy field and other patternof land use classification area. Socio-economic analysis is used to find out the impact of land conversion against the farmers.Based on the result of analyzing and data processing, it has been found a change of paddy field area in District Kaliwungu, District Brangsong and District Kendal in 2010 untill 2014 amounted 54,753 Ha.The pattern distribution of paddy field each district in 2010 and 2014 are random, while the the pattern of changing area in each district is clustered. Social economic impacts posed by the existence of conversion of paddy fields was reduced the negative effect wetland of farmer income, where rice production in rice's efforts do not provide sufficient input for life day farmers, so it encourages farmers to sell land it to move on to other business.  Keywords: Field, Change of Land, QuickBird Satellite Images, WorldView-2 Satellite Images *) Penulis, PenanggungjawabABSTRAKMenipisnya tanah pertanian akibat konversi (alih fungsi) lahan merupakan salah satu faktor penyebab keterpurukan sektor pertanian di Indonesia. Penyempitan lahan persawahan tidak hanya berdampak pada penurunan produksi padi tapi juga pada penghasilan masyarakat Indonesia yang bermata pencaharian sebagai petani. Kabupaten Kendal merupakan salah satu kabupaten di Jawa Tengah yang menjadi sentra penghasil padi dan memiliki luas lahan sawah yang cukup luas, namun adanya konversi perubahan lahan sawah yang terjadi di Kabupaten ini sangat tinggi. Akibatnya, lahan sawah yang terdapat dikawasan tersebut contohnya Kecamatan Kaliwungu, Kecamatan Brangsong, dan Kecamatan Kota Kendal mengalami konversi atau perubahan penggunaan lahan.Pada penelitian ini metode yang digunakan adalah teknik penginderaan jauh dan sistem informasi geografis dengan cara digitasi on screen. Citra yang digunakan adalah Citra Quickbird tahun 2010 dan Citra WorldView-2 tahun 2014. Setelah melakukan proses digitasi kemudian didapatkan luasan daerah yang terkonversi, lalu dianalisis menggunakan metode analisis tetangga terdekat untuk mengetahui pola persebaran lahan sawah dan pola daerah klasifikasi penggunaan lahan lainnya. Analisis sosial ekonomi digunakan untuk mengetahui dampak konversi lahan terhadap para petani.Berdasarkan pengolahan data dan hasil analisis didapatkan perubahan luas lahan sawah di Kecamatan Kaliwungu, Kecamatan Brangsong dan Kecamatan Kota Kendal pada tahun 2010 sampai tahun 2014 sebesar 54,753 Ha. Pola persebaran luasan sawah tiap kecamatan pada tahun 2010 dan tahun 2014 adalah acak, sedangkan pola perubahan luas pada tiap kecamatan adalah mengelompok. Dampak sosial ekonomi yang ditimbulkan dengan adanya konversi lahan sawah adalah semakin berkurangnya lahan sawah berpengaruh negatif terhadap nilai pendapatan petani, dimana usaha berproduksi padi di sawah tidak memberikan masukan yang mencukupi bagi kehidupan sehari hari petani, sehingga hal tersebut mendorong petani unuk menjual lahan sawahnya untuk beralih ke usaha lain.Kata Kunci : Sawah, Perubahan Lahan, Citra Quickbird, Citra WorldView-2ABSTRACTThe depletion of landagriculture due to the land conversion is one of the factors causing the deterioration of agricultural sector in Indonesia.The constriction of paddy fields is not only affected onthe decrease of rice production but also the income of Indonesian people who are farmers.Kendal is one of regencies in Central Java being rice production centers and has a quite spacious paddy field, but the conversion of paddy field in this county is really high. It might caused by several factors, including the increase of population and construction activities.As a result, for instance the paddy field which located in the area of the District Kaliwungu, District Brangsong and District Kendal get conversion or change of land use.The method that used in this research is the technique of remote sensing and geographic information system by digitize on screen. The image used is QuickBird Satellite Images 2010 and the WorldView-2 Satellite Images in 2014.After doing digitization process then obtained the extents of converted area, afterward analyzed using the nearest neighbor analysis method to determine the distribution pattern of paddy field and other patternof land use classification area. Socio-economic analysis is used to find out the impact of land conversion against the farmers.Based on the result of analyzing and data processing, it has been found a change of paddy field area in District Kaliwungu, District Brangsong and District Kendal in 2010 untill 2014 amounted 54,753 Ha.The pattern distribution of paddy field each district in 2010 and 2014 are random, while the the pattern of changing area in each district is clustered. Social economic impacts posed by the existence of conversion of paddy fields was reduced the negative effect wetland of farmer income, where rice production in rice's efforts do not provide sufficient input for life day farmers, so it encourages farmers to sell land it to move on to other business.*) Penulis, Penanggungjawab Keywords: Field, Change of 
ANALISIS FAKTOR AKSESBILITAS DAN LOKASI FASILITAS UMUM FASILITAS SOSIAL TERHADAP HARGA TANAH DI KELURAHAN CATURTUNGGAL, KABUPATEN SLEMAN Anggit Swarna Bumi; Sawitri Subiyanto; Yasser Wahyuddin
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 10, Nomor 2, Tahun 2021
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKKelurahan Caturtunggal merupakan daerah yang sangat kompleks dengan beragam aktivitasnya yang merupakan kawasan trans-sosial antara kawasan perkotaan dengan kawasan pedesaan. Dengan hal tersebut maka di kelurahan ini berkembang pesat berbagai komunitas, baik itu pedagang, pengusaha, para pebisnis, dan juga adanya mahasiswa yang beragam dari berbagai daerah yang mengeyam pendidikan di beberapa kampus di Caturtunggal. Berkembang pesatnya wilayah ini tentunya akan mempengaruhi peningkatan harga tanah di kawasan itu. Data harga tanah yang digunakan selama ini adalah data Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) yang berbasis bidang tetapi sering pada sebagian lokasi tidak sesuai dengan harga tanah pasar wajar. Perhitungan harga tanah berbasis bidang berdasarkan harga tanah pasar wajar dapat dilakukan dengan membuat simulasi model matematis berdasarkan interpolasi data harga pasar wajar dengan menggunakan proses regresi linier berganda berdasarkan variabel jarak pusat bidang tanah terhadap aksesbilitas, lokasi fasilitas umum, dan fasilitas sosial. Data yang digunakan di dalam penelitian ini adalah peta blok PBB dan NJOP Kelurahan Caturtunggal yang diperoleh dari Badan Keuangan dan Aset Daerah (BKAD) Kabupaten Sleman tahun 2019. Dari hasil identifikasi menunjukkan bahwa terdapat sebanyak 14.995 bidang tanah. Berdasarkan Rumus Slovin jumlah bidang tanah untuk permodelan menggunakan sebanyak minimal 201 sampel harga tanah pasar wajar. Metode yang digunakan berupa uji statistik regresi linier berganda untuk menentukan variabel yang paling berpengaruh terdapat 4 model. Diperoleh model ke empat adalah model terbaik dengan jumlah variabel sebanyak 13 buah diperoleh rata-rata variabel yang berpengaruh terhadap harga tanah pasar wajar dari koefisien R square sebesar 21,3 %. Proses yang dilakukan untuk memvalidasi model digunakan Uji T, uji asumsi klasik, dan koefisien model regresi linier berganda. Sebagai perbandingan harga bahwa dengan permodelan menggunakan NJOP diperoleh harga prediksi tertinggi Rp2.356.418, dan harga prediksi terendah Rp444.635, sementara itu untuk harga pasar wajar diperoleh harga prediksi tertinggi Rp28.881.570, dan harga prediksi terendah Rp1.574.537.
PENENTUAN NILAI EKONOMI KEBERADAAN DAN NILAI PENGGUNAAN LANGSUNG KAWASAN UNTUK PEMBUATAN PETA ZONA NILAI EKONOMI KAWASAN DAN PETA UTILITAS MENGGUNAKAN SIG (Studi Kasus : Kawasan KRKB Gembira Loka, Kota Yogyakarta) Fryda Arlina Mahardika; Sawitri Subiyanto; Fauzi Janu Amarrohman
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 6, Nomor 3, Tahun 2017
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1095.55 KB)

Abstract

ABSTRAK Yogyakarta adalah salah satu daerah istimewa di Indonesia yang terkenal secara nasional maupun internasional sebagai salah satu kota tujuan wisata andalan. Beragamnya jenis wisata yang disuguhkan menjadikan kesungguhan dalam kelestarian alam dan lingkungan untuk peningkatan kunjungan wisatawan baik domestik maupun mancanegara di Yogyakarta. Salah satunya adalah Gembira Loka yang mempunyai daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang berkunjung.  Berdasarkan hal  tersebut  maka  diperlukan  suatu  peta  Zona  Nilai  Ekonomi Kawasan  (ZNEK)  pada  lokasi ini untuk  mengetahui  nilai  ekonomi  dan  Willingness To Pay atau keinginan pengunjung untuk membayar dimana akan mempengaruhi nilai kemanfaatan lokasi wisata tersebut bagi  masyarakat dari adanya kawasan tersebut.Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah melakukan regresi linear berganda kemudian perhitungan dengan perangkat lunak Maple 17 dengan menggunakan data TCM (Travel Cost Method) sebanyak 100 sampel untuk menentukan nilai penggunaan langsung (DUV) dan data CVM (Contingent Valuation Method) sebanyak 100 sampel untuk menentukan nilai keberadaan (EV) sehingga dapat digunakan untuk pembuatan Peta Zona Nilai Ekonomi Kawasan. Selanjutnya dilakukan survei toponimi untuk pembuatan Peta Utilitas.Berdasarkan pengolahan dan perhitungan data yang sudah dilakukan, diperoleh nilai ekonomi kawasan dengan nilai surplus konsumen sebesar 4.588.171,- dan nilai WTP sebesar Rp. 49.198,- untuk CVM sehingga diperoleh nilai ekonomi total Gembira Loka sebesar Rp. 7.629.736.883.720,-. Kata Kunci : Yogyakarta, Gembira Loka, Travel Cost Method, Contingent Valuation Method, Zona Nilai Ekonomi Kawasan ABSTRACT Yogyakarta is a special region in Indonesia which is worldwide famous as one of Indonesia’s best destination. The rich variety of tourism spots provides by Yogyakarta making protection of the nature and the enviroment itself become very important. One of them is the Gembira Loka which has a special attraction for the tourists who visit. . Thus, economic value area zone map (ZNEK) and analysis of willingness to pay value are strongly needed, which will shown the tourism spot effect to the society, especially the people in the tourism spot’s area. The method used in this research is done using multiple linear regression and calculation using software Maple 17 to gain direct use value  (DUV) by 100 sample  TCM (Travel Cost Method) and existence value (EV)  by 100 sample CVM (Contingent Valuation Method) so it can be used for making of economic value area zone map (ZNEK). And then, toponimi survey for making utiliy map. According to the analysis which have been done, the result of  the economic area value with consumer surplus is Rp. 4.588.171, - and the WTP is Rp. 49.198, - to CVM, thus the total economic value of  Gembiraloka  is Rp. 7.629.736.883.720, -. Keywords: Yogyakarta, Gembira Loka, Travel Cost Method, Contingent Valuation Method, Economic Value Area Zone
ANALISIS PERKEMBANGAN WISATA DI KOTA SEMARANG BERDASARKAN NILAI FREKUENSI KUNJUNGAN DARI TAHUN 2015-2017 DENGAN PENDEKATAN TRAVEL COST METHOD DAN CONTINGENT VALUATION METHOD MENGGUNAKAN SIG (STUDI KASUS : LAWANG SEWU DAN GOA KREO) SELLI ANGELITA BR SITEPU; Sawitri Subiyanto; Nurhadi Bashit
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 7, Nomor 4, Tahun 2018
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1235.506 KB)

Abstract

Kota Semarang adalah  kota metropolitan terbesar kelima di Indonesia. Salah satu kota paling berkembang di Pulau Jawa adalah Kota Semarang yang memiliki objek wisata yang berpotensi dan berkembang.  Lawang Sewu dan Goa Kreo merupakan objek wisata yang mempunyai potensi untuk dikembangkan. Lawang Sewu merupakan salah satu tujuan wisata Kota Semarang dengan lokasi strategis berada di pusat kota dilengkapi keindahan gedung bersejarah. Goa kreo merupakan sebuah wisata cagar alam dengan keunikan tersendiri bagi wisatawan yang berkunjung. Kedua wisata tersebut memiliki nilai potensi wisata yang dapat menunjang pengembangan Kota Semarang. Berdasarkan hal tersebut diperlukan analisis arah perkembangan kedua objek wisata tersebut serta peta Zona Nilai Ekonomi Kawasan (ZNEK) untuk mengetahui seberapa besar keinginan seseorang untuk memberikan nilai fungsi ekonomi kawasan dan masyarakat sekitar yang memperoleh manfaat dari kawasan tersebut. Penelitian tugas akhir ini menggunakan pendekatan metode Travel Cost Method (TCM) dan Contingent Valuation Method (CVM) untuk mengetahui nilai WTP (Willingness To Pay) yang diberikan demi pengembangan wisata. Metode penarikan sampel (responden) adalah non probability sampling dengan teknik sampling insidental yaitu untuk responden yang secara kebetulan ditemui di lokasi wawancara. Pengolahan data yang digunakan adalah analisis regresi linear berganda kemudian perhitungan untuk menentukan nilai penggunaan langsung (DUV) dan untuk menentukan nilai keberadaan (EV) dengan menggunakan perangkat lunak Maple 17. Hasil dari penelitian tugas akhir ini berupa Peta Zona Nilai Ekonomi Kawasan dengan nilai surplus konsumen sebesar Rp. 35.169.196,- untuk Lawang Sewu dan Rp. 2.749.931,- untuk Goa Kreo. Nilai WTP sebesar Rp. 39.459,- untuk Lawang Sewu dan Rp. 39.557,- untuk Goa Kreo. Faktor yang mempengaruhi frekuensi kunjungan pada wisata Lawang Sewu adalah umur, pendidikan, pendapatan dan lama kunjungan. Faktor-faktor yang mempengaruhi frekuensi kunjungan Goa Kreo adalah total cost, umur, lama kunjungan dan alternatif lokasi.
ANALISIS DISTORSI PETA BIDANG TANAH PADA PEMBUATAN PETA PENDAFTARAN MENGGUNAKAN CITRA QUICKBIRD Febrina Aji Ratnawati; Bambang Sudarsono; Sawitri Subiyanto
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 2, Nomor 2, Tahun 2013
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (494.385 KB)

Abstract

Pada bidang pemetaan distorsi dapat diartikan sebagai perubahan suatu hasil pengukuran terhadap bentuk aslinya. Ada 3 bentuk distorsi yaitu translasi atau pergeseran, rotasi dan dilatasi. Pelaksanaan pengukuran dan pemetaan sekarang ini selalu mengacu pada teknologi digital, sehingga standarisasi juga mengacu pada alat dan produk digital. Salah satu perkembangan teknologi yang sangat mendukung dalam bidang pengukuran dan pemetaan adalah teknologi GPS (Global Positioning system). Jenis GPS yang sering digunakan untuk pengukuran adalah jenis GPS geodetik karena memiliki ketelitian yang paling tinggi dari pada jenis GPS yang lain, tetapi karena mahalnya harga GPS geodetik sehingga pengukuran bidang tanah di BPN dilakukan dengan menggunakan GPS handheld. Koordinat yang didapat dari GPS handheld memiliki ketelitian yang relatif rendah sehingga ketika dilakukan plotting pada Peta Pendaftaran akan terjadi distorsi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui rata-rata nilai distorsi peta bidang tanah pada pembuatan peta pendaftaran menggunakan citra Quickbird dan untuk mengetahui rata-rata selisih perubahan luas bidang tanah pada peta bidang tanah dan pada peta pendaftaran. Pada penelitian ini besarnya distorsi dihitung dengan menggunakan transformasi Helmert sehingga didapat nilai parameter yang dibutuhkan. Berdasarkan parameter tersebut dapat dihitung rotasi dan faktor skalanya serta dapat diketahui besar nilai translasinya. Kata kunci : Distorsi, Peta Bidang Tanah, Peta Pendaftaran
ANALISIS PERUBAHAN ZONA NILAI TANAH TAHUN 2012 – 2017 AKIBAT BENCANA BANJIR ROB DI KECAMATAN SAYUNG KABUPATEN DEMAK Ajeng Dyah Setyowati Sri Utomo; Sawitri Subiyanto; Fauzi Janu Amarrohman
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 6, Nomor 4, Tahun 2017
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (692.676 KB)

Abstract

ABSTRAK Kecamatan Sayung memiliki luas wilayah seluas 78,80 km², terbagi menjadi 20 desa. Kecamatan Sayung memiliki berbagai bentuk penggunaan lahan, dari banyaknya penggunaan lahan penting mulai dari pemukiman, industri, jalan dan fasilitas umum lainya (BAPPEDA Kabupaten Demak, 2007). Letak Kecamatan Sayung berada di pesisir Pulau Jawa yang memungkinkan terjadinya bencana banjir pasang atau banjir rob yang diakibatkan karena turunnya permukaan tanah yang berada di pesisir laut serta naiknya air laut atau pasang yang terjadi. Banjir pasang atau banjir rob menyebabkan menurunnya fungsi penggunaan lahan lahan akibat tergenangnya tanah dan menimbulkan berbagai masalah di wilayah tersebut. Menurunnya fungsi penggunaan lahan tidak akan lepas dari perubahan nilai tanah yang terjadi di Kecamatan Sayung.Penelitian dilakukan untuk mengetahui perubahan nilai tanah yang terjadi dari tahun 2012 - 2017 serta pengaruh banjir pasang atau banjir rob terhadap perubahan nilai tanah. Analisis dilakukan dengan melakukan pembuatan zona nilai tanah tahun 2017 dengan menggunakan zonasi awal dari BPN Kabupaten Demak dan melakukan overlay dengan peta zona nilai tanah tahun 2012 untuk dilakukan analisis perubahan nilai tanah. Selanjutnya peta perubahan nilai tanah di overlay dengan peta banjir rob untuk mengetahui pengaruh rob terhadap perubahan nilai tanah.Hasil penelitian menunjukkan terdapat 67 zona nilai tanah berdasarkan survei transaksi harga tanah dan 9 zona nilai tanah yang terdampak banjir rob di Kecamatan Sayung tahun 2017. Pada tahun 2012 terdapat 20 zona nilai tanah di Kecamatan Sayung. Dari analisis perubahan nilai tanah tahun 2017 dan tahun 2012, perubahan nilai tanah tertinggi terletak pada zona 48 sebesar 2468% terletak di Desa Sayung, Desa Loireng dan Desa Tambakroto ,perubahan nilai tanah terendah terjadi pada zona 10 sebesar 85% terletak di Desa Gemulak. Sedangkan perubahan zona nilai tanah kaitannya dengan banjir rob, perubahan nilai tanah tertinggi terdapat pada zona 34 dengan mengalami penurunan sebesar 80 % yang terletak di Desa Sriwulan, Desa Purwosari dan Desa Bedono.
PEMBUATAN PETA ZONA NILAI EKONOMI KAWASAN (ZNEK) MENGGUNAKAN TCM (TRAVEL COST METHOD) DAN CVM (CONTINGENT VALUATION METHOD) BERBASIS SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (Studi Kasus : Candi Prambanan) Hisni Theresia Br Sinuraya; Sawitri Subiyanto; Bambang Sudarsono
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 6, Nomor 1, Tahun 2017
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1009.115 KB)

Abstract

ABSTRAK Candi Prambanan di Kota Klaten memiliki potensi sebagai obyek wisata. Lokasi yang strategis serta nilai sejarah yang dimiliki, membuat  Candi Prambanan menjadi salah satu Daerah Tujuan Wisata di Kabupaten Klaten. Berdasarkan hal tersebut maka diperlukan suatu peta Zona Nilai Ekonomi Kawasan (ZNEK) pada Kawasan Candi Prambanan untuk menduga  nilai ekonomi dan manfaat berdasarkan keinginan untuk membayar (Willingness To Pay: WTP) wisatawan dan masyarakat yang memperoleh manfaat dari kawasan tersebut. Metode penarikan sampel (responden) yang digunakan dalam penelitian tugas akhir ini adalah non probability sampling dengan teknik accidental sampling, dimana responden merupakan siapa saja yang secara kebetulan/accidental ditemui di lokasi penelitian dan dapat digunakan sebagai sampel, bila dipandang orang yang kebetulan ditemui itu cocok sebagai sumber data. Metode pengolahan data yang digunakan adalah analisis regresi linear berganda dan perhitungan WTP menggunakan perangkat lunak Maple 17.Hasil yang diperoleh dari penelitian Tugas Akhir ini adalah peta Zona Nilai Ekonomi Kawasan dengan nilai total ekonomi objek wisata sebesar Rp. 32.851.020.029.000,- dari area seluas ±85 Hektar. Peta yang dihasilkan dari integrasi antara aspek ekonomi dan spasial ini dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan obyektif terhadap proses pengambilan keputusan dalam bidang spasial dan ekonomi bagi pemerintah, sehingga mampu mengoptimalkan dan memudahkan proses managemen aset dan potensi sumberdaya. Selain dapat menjadi solusi atas kendala pengelolaan sumberdaya ekonomi kawasan di berbagai wilayah di Indonesia, peta zona nilai ekonomi kawasan juga dapat digunakan sebagai sarana pembelajaran bagi masyarakat umum agar memunculkan kesadaran akan pentingnya potensi kawasan yang dimiliki. Kata Kunci : Candi Prambanan, Maple 17, Regresi Linear Berganda, Willingness To Pay, Zona Nilai Ekonomi Kawasan. ABSTRACT Prambanan Temple has potential as a tourist attraction. The strategic location which have historical value, makes this Place became one tourist destination areas Klaten. Based on this, we need a  Zone Map Economic Value Areas (ZNEK) to the Prambanan area of the palace to estimate the economic value and benefits based on willingness to pay (WTP) tourists and the people who benefit from the region. Sampling method (respondents) were used in this research is non probability sampling with accidental sampling technique, where respondents are those who by chance / accidental encountered in the study area and can be used as a sample, if it is considered that the person who happened to be found suitable as a data source. Data processing method used is multiple linear regression analysis and calculation software WTP using Maple 17.Results obtained  from the study of this final project is the Economic Value Area Zone maps with the total value of economic attraction Prambanan Temple Rp.32.851.020.029.000,- Maps generated from the integration of economic and spatial aspects can be used as an objective consideration of the decision-making process in the spatial field and economic field for the government to optimize and simplify the process of the asset's management and monitoring the natural resources potential. Besides being able to provide a solution for the management of resource constraints of the economy in various regions in Indonesia, the map can be used too as a learning tool for the public society to bring awareness of the importance of potential belonging.Keywords: Economic Value Area Zone, Maple 17, Prambanan Temple, Multiple linear regression analysis, Willingness To Pay.
KAJIAN TEKNIS PENERAPAN GENERALISASI PETA RUPABUMI INDONESIA (RBI) DARI SKALA 1: 50.000 MENJADI SKALA 1:250.000 Nisrina Niwar Hisanah; Sawitri Subiyanto; arief Laila Nugraha
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKPeta Rupabumi Indonesia adalah peta dasar yang memberikan informasi secara khusus untuk wilayah darat. Ketersediaan basis data rupabumi dalam berbagai level skala merupakan amanat yang dituangkan dalam UU No. 4 Tahun 2011 tentang Informasi Geospasial. Berdasarkan PP Nomor 8 Tahun 2013 menyebutkan peta dasar dengan segala karakteristik ketelitiannya menjadi dasar bagi pembuatan Peta Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW).Salah satu metode yang dapat digunakan dalam penyediaan basis data rupabumi adalah generalisasi. Generalisasi peta adalah proses penyederhanaan peta dengan tetap mempertahankan ciri atau karakteristik utama dari peta tersebut. Area yang dikaji adalah 24 Nomor Lembar Peta (NLP) skala 1: 50.000 atau setara 1 NLP skala 1: 250.000 yang merepresentasikan dua topografi yang berbeda yaitu pegunungan dan pantai.Metode generalisasi yang digunakan adalah seleksi, simplifikasi, dan penggabungan, kecuali kontur yang dibentuk ulang dari Digital Surface Model. Pengecilan dari skala 1: 50.000 menjadi skala 1: 250.000 pada proses generalisasi berpengaruh pada kenampakan titik, garis dan area yang berakibat pada perubahan jumlah panjang dan luasan. Basis data rupabumi skala 1: 50.000 menjadi 1: 100.000 menghasilkan jumlah objek sebesar 70,71% kemudian skala 1: 100.000 menjadi 1: 250.000 sebesar 63,25% untuk persamaan Radical Law. Petunjuk teknis generalisasi skala menengah sudah sesuai untuk penerapan pada skala kecil, kecuali pada unsur transportasi utilitas yang tidak memenuhi persen Radical Law dan unsur tutupan lahan pada skala 1: 250.000 yang tidak bisa memenuhi bentuk geometri dari karakteristik unsur tutupan lahan di lapangan.Kata Kunci : Basis data rupabumi, Generalisasi, Peta Rupabumi Indonesia, Radical Law ABSTRACTTopographic Map of Indonesia is a base map that gives information for land area. Availability database of topographic features in various levels of scale is the mandate set forth in Law No. 4 Year 2011 about Geospatial Information. Based on Government Regulation No. 8 of 2013, basic map with all characteristic throughness became basis creation of a map spatial plan area (RTRW). One method that can be used in topographical database is a generalization. Generalization map is a map simplification process while maintaining the main characteristics of these maps. The area studied is 24 Map Sheet Number (NLP) scale of 1: 50.000 or 1 equivalent of NLP scale of 1: 250.000 which represents two distinct topography are mountainous and coastal.The method that used are selection of generalization, simplification, and merger, except contours that reshaped from Digital Surface Model. Diminution of the scale from 1: 50.000 to 1: 250.000 in the process of generalization effect appearance of a point, line and that changes in the length and area. Database of topographical scale of 1: 50.000 to 1: 100.000 produce sum of the objects about 70,71%, then the scale of 1: 100.000 to 1: 250.000 about 63,25% for equality Radical Law. Technical guide of generalization medium scale is suitable for application on a small scale, except the element of transport utilities that do not meet percent Radical Law and elements of land cover at a scale of 1: 250.000 that can not meet the geometric shape of the characteristic elements of cover in the field.Keywords: Database topographical, Generalization, Topographic Map Indonesia, Radical Law  *) Penulis, Pananggung Jawab
Co-Authors Abdi Sukmono, Abdi Ade Naufalita Aditya Dharmawan Afifah Asis Agatha Dimitri V. D. Kusumo Ahmad Firdous Syifa Ahmad Syauqani Ajeng Dwi Maturinsih Ajeng Dyah Setyowati Sri Utomo Akhmad Didik Prastyo Akhmad Tsalist Nailuz Tsabiq Alfonsus Bima Samudra Anastasia Astuti Andhono Yekti Andre Hidayat Andri Suprayogi Anggit Swarna Bumi Annisa Usolikhah Antonius Grizalde Simamora Anugrah, Riandhi Ardhian Setiawan Saputra ARDI SETYO PRATOMO Ardiansyah Ardiansyah Ari Setiani Arief Laila Nugraha Arif Witoko Arrizqa Laili Fitriana Arsyad Nur Ariwahid Arwan Putra Wijaya Ashari, Taufiq Ichsan Astriana Dewi Aulia Darmaputri Savitri Bagas Arif Widyagdo Bagus Yuli Arianto Bambang Darmo Yuwono Bambang Darmo Yuwono Bambang Sudarsono Bambang Sudarsono Bandi Sasmito Bashit, Nurhadi Bashit, Nurhadi Bayu Pradana Benita Roseana Benning Hafidah Kadina Bunga Roliesta Sari Charisma Parasandi Alfarizi Cindy Puspita Sari DANI PURBA Dedigun Bintang Fajeri Delima Canny Valentine Simarmata Desita Khrisna Putri, Dian Ayu Saraswati Diana Masmaulidia Diana Nukita Dinda Anisa Anggraini Dwi Rini Septiani Dwi Setyo Wicaksono, Dwi Setyo Faiz Islam Farid Burhanudin Yusup Fauzi Janu A Fauzi Janu Amarrohman Fauzi Janu Amarrohman Fauzi Janu Amarrohman Fauzi Janu Amarrohman, Fauzi Janu Febrina Aji Ratnawati Fryda Arlina Mahardika Galih Putro Pamungkas GETMA LAVEMIA Hana Sugiastu Firdaus Hana Sugiastu Firdaus Hana Sugiastu Firdaus, Hana Sugiastu Hani'ah . Hani'ah, Hani'ah Haniah Haniah Hani’ah Hani’ah Hayu Rianasari Heranda Ibnu Adhi Herjuno Gularso Hisni Theresia Br Sinuraya Humaira Qanita Husen Ibnu Said Ihsan Pakaya Irfan Baharudin Istighfary Abirama Cininta Iva Kusniawati JACKIE SUPRAWITO NABABAN Jerson Otniel Purba Jetri Livia Rindika Kandiawan, Ulfa Fathul Kanti Ismawati Kemala Medika Putri Khoirul Isnaini Aulia Kukuh Ibnu Zaman Kurniawan Putra Widya Wardana L. M. Sabri Laisa Usrini Lasmi - Rahayu Leur P. Maranatha Sitorus LM. Sabri Lusiana Dewi Fatmalasari Lutfia Pangestika Lydia Fadilla Maharany Shandra Ayu Hapsary Maharditya Yoga Pramudyono Mashita Rahati Mavita Nabata Dzakiya Meilina Fika Mayangsari Merpati Dewo Kusumaningrat Mia Aulina Moehammad Awaluddin Moehammad Awwaluddin Mohammad Idris Mufid Damar Pidekso Mufti Yudiya M. Muhammad Amar Makruf Muhammad Ardhi Ahadi, Muhammad Ardhi Muhammad Fitrianto Muhammad Haris Febriansya Muhammad Nida Hakim El Wafa Muhammad Ulya Nadia Anggraeni Yuristasari Naftalie Dinda Rianty Nahar Dito Utama Giardi Nathania, Jessica Nida Shabrina Nisrina Niwar Hisanah Novian Nur Aziz Novita Amelia Nugra Putra Pembayun NUGRAHANI, MEIGA Nur Aziz Putra Aditama Nurfika Maulina Larasati Nurhadi Bashit Oktaviani Arumingtyas Pinastika Nurandani Polin Mouna Togatorop Pratama Irfan Hidayat Purwi Fitroh Hidayati Putri Ardianti Kinasih R. Sapto Hendri Boedi Soesatyo Rahmah, Azizah Nur Rajagukguk, Trevi Austin Ramlansius Tumanggor, Ramlansius Riana Kristiani Priskila Putri Rico Waskito Putro Rifky Satrio Utomo Riski Kadriansari Rismauly Yunita Tampubolon Rista Omega Septiofani Rizki Budi Kusumawardani Rizky Arga Himawan Rizky Silvandie Rudi Cahyono Putro Sarmedis Anrico Situmorang Saul Ambarita SELLI ANGELITA BR SITEPU Selli Angelita Sitepu Sitepu, Selli Angelita Siti Khoeriyah Sondang Artania Sidauruk Stella Purnomo Sutomo Kahar Sutomo Kahar Sutomo Kahar Sutomo Kahar Suwirdah Pebriyanah Swandi Sihombing Syarifa Naula Husna Tika Christy Novianty Trevi Austin Rajagukguk Tri Rahmawati Winda Kusuma Tristika Putri Utama Giardi, Nahar Dito Valent, Caesara Geacesita Viradhea Gita R. L. Wahyu Eko Saputro Wahyu Satya Nugraha Wahyuddin, Yasser Wenang Triwibowo, Wenang Wisnu Hanggoro Yasser Wahyuddin Yose Rinaldy N Yudo Prasetyo