Claim Missing Document
Check
Articles

Cooperative Learning: One Step in Answering the Complexity of Islamic Religious Education Rofi, Sofyan; Setiawan, Bahar Agus; Jatmikowati, Tri Endang; Kusumawati, Dahani; Darmayanti, Husnun Hanifah; Damayanti, Linda
Nusantara: Jurnal Pendidikan Indonesia Vol. 4 No. 2 (2024)
Publisher : Lembaga Sosial Rumah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/njpi.2024.v4i2-16

Abstract

Purpose – The complexity of Islamic religious education learning, with its dogmatic and doctrinal patterns, can be a driving factor in students' boredom and passive attitude toward learning activities. This context requires teachers to be able to innovate and be creative in designing active, innovative, creative, and fun learning plans. Steps that can be taken include using cooperative learning models, with various types of existing methods, such as Student Team Achievement Division (STAD) and Two Stay Two Stray (TSTS).Method – This research uses a qualitative approach with a case study type of research. The instrument used in this research is a questionnaire. The data analysis technique uses percentages to determine the level of student perception of the learning model used.Findings – The results of the research prove that, from a student perspective, these two methods, which are part of the cooperative learning model, are very effective in improving student achievement and learning outcomes in Islamic religious education. The effectiveness of the Two Stay Two Stray (TSTS) method from the student perspective reached 83.9 percent. The percentage value for the Student Team Achievement Division (STAD) is 85.5 percent. Research Implications – Using the TSTS and STAD models, which are part of the cooperative learning approach, has very good implications for increasing the effectiveness of Islamic religious education learning in schools. The adaptive nature of these two models can bridge the characteristics of Islamic religious education, which has dogmatic and doctrinal aspects. The results of this research confirm that TSTS and STAD can concretely and effectively improve student learning outcomes in Islamic religious education.
Pelatihan Referensi Manager Mendeley dalam Peningkatan Literasi Digital dan Penulisan Artikel Ilmiah Bagi Guru di MIM 03 Dukuh Wuluhan Jember Setiawan, Bahar Agus; Jatmikowati, Tri Endang; Rofi, Sofyan
Mujtama Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol 4, No 2 (2024): Mujtama’ Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32528/mujtama.v4i2.23237

Abstract

, peningkatan kapasitas kompetensi guru menjadi sebuah keniscayaan yang harus dilakukan setiap saat secara berkelanjutan. Hal ini tidak bisa dilepaskan atas peran guru sebagai fasalitator pembelajaran, yang membutuhkan berbagai pengetahuan dan kemampuan atau skill dalam menunjang pelaksanaan tanggung jawabnya. Salah satu pengetahuan dan kemampuan yang perlu ditingkatkan yaitu dalam bidang teknologi informasi khususnya pada pengelolaan referensi manager dengan menggunakan Mendeley. Aplikasi ini disamping bermanfaat untuk memingkatkan literasi digital dalam mencari sumber-sumber artikel ilmiah untuk merencanakan pembelajaran terkait dengan perspektif dalam pemilihan metode, model, bahan dan lainnya dalam pembelajaran, juga dapat mendukung produktivitas guru dalam menghasilkan karya ilmiah. Kegiatan pelatihan ini tentang pemanfaatan referensi manager Mendeley ini dilaksanakan di MIM 03 Dukuh, kecamatan Wuluhan, kabupaten Jember. Hasil kegiatan pelatihan, guru MIM 03 Dukuh Wuluhan Jember, telah memahami aplikasi referensi manager Mendeley dalam memfasilitasi untuk pencarian rujukan yang dapat digunakan sebagai literasi dalam penyusunan perencanaan pembelajaran dan penulisan artikel ilmiah
The Representation of Prophetic Intelligence in The Learning Outcomes of Al-Islam and Kemuhammadiyahan Bahar Agus Setiawan; Sofyan Rofi; Tri Endang Jatmikowati
Afkaruna: Indonesian Interdisciplinary Journal of Islamic Studies Vol. 18 No. 2: December 2022
Publisher : Fakultas Studi Islam dan Peradaban, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/afkaruna.v18i2.14564

Abstract

This study examines the learning outcomes of Al-Islam and Kemuhammadiyah in students, which can be related to the image of prophetic intelligence as an indicator. The paradigm of prophetic intelligence is closely related to the dimensions of intelligence. It can be understood as a continuation of the meaning of intelligence initially based on intellectual, emotional, spiritual, and collaboration into ESQ to prophetic intelligence. This perspective is closely related to the ideal desire that the purpose of education is not only intellectually intelligent but also emotional and spiritual and is currently popular with the term prophetic intelligence as an identity attached to the output produced. The balance of human/social dimensions with divine/religious dimensions is an inherent characteristic of the terminology of prophetic intelligence. This study aims to link the learning outcomes of Al-Islam and Muhammadiyah as an image of prophetic intelligence to students as ordinary people. The basis of the research method used refers to a qualitative approach with research instruments in the form of a questionnaire with structured answer options. The study found that Al-Islam and Kemuhammadiyahan learning can develop and improve on the human/social dimension, which includes tolerance, critical and creative attitudes, maturity in attitude, and communicativeness as an indicator of the image of prophetic intelligence that can be relied on several events in the life of the Prophet Muhammad such as Hudaibiyah agreement, laying of the Black Stone, and leadership in the state of Medina. As for the divine/religious dimension, the learning outcomes of Al-Islam and Muhammadiyah, such as faith, understanding of the Qur'an, and the totality of implementation of the halal-haram aspects, although they have improvements and results, cannot be pinned on the dimensions of prophetic intelligence, due to differences in the position of students as ordinary people.
Efektifitas Komunikasi Orang Tua Terhadap Kepribadian Intrapersonal Anak Tri Endang Jatmikowati
Pedagogi : Jurnal Anak Usia Dini dan Pendidikan Anak Usia Dini Vol 4 No 2 (2018): AGUSTUS
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/pedagogi.v4i2.1936

Abstract

Pentingnya peran orang tua dalam pengembangan potensi anak bisa dimulai sejak anak masih usia dini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana hubungan antara efektifitas komunikasi orang tua terhadap kepribadian intrapersonal anak. Subyek penelitian adalah siswa kelompok B1 / usia 5-6 tahun Sekolah PAUD Terpadu Aisyiyah Kaliwates Kabupaten Jember sebanyak 18 orang, pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi dan angket. Data dianalisis dengan menggunakan product moment dari Karl Pearson. Hasil penelitian dengan koefisien korelasi menunjukkan 0,900, dengan taraf kesesatan 5% = 0,514, hal ini menunjukkan bahwa terdapat korelasi searah yang positif antara kedua variabel tersebut, artinya tingginya nilai komunikasi efektif orang tua akan diikuti pula oleh tingginya nilai atau tingkat kecerdasan intrapersonal anak. Melalui pembiasaan dan kesadaran orang tua untuk melakukan komunikasi yang efektif kepada anak, mampu membantu anak untuk mengembangkan kemapuan intrapersonal.
KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH PELUANG PADA SISWA SMP BERDASARKAN GENDER Fatqurhohman Fatqurhohman; Tri Endang Jatmikowati; Christine Wulandari Suryaningrum
Jurnal Numeracy Vol 11 No 1 (2024)
Publisher : Program Studi Pendidikan Matematika, Universitas Bina Bangsa Getsempena

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46244/numeracy.v11i1.2612

Abstract

Penelitian ini mengkaji perbedaan gender dalam pemecahan masalah siswa SMP. Tes dan wawancara terstruktur digunakan untuk mengumpulkan data. Subjek penelitian adalah siswa Kelas VIII SMP Islam Ambulu-Jember yang berjumlah 11 (laki-laki) dan 9 (perempuan). Dari hasil evaluasi diketahui bahwa rata-rata nilai siswa perempuan tinggi (81,67) dan rata-rata kemampuan (61,67), sedangkan rata-rata nilai siswa laki-laki tinggi (85,56) dan kemampuan berbahasa (65). Karena perempuan lebih baik dalam bidang bahasa dan budaya, laki-laki lebih baik dalam bidang teknis. Perbedaan gender merupakan karakteristik psikologis yang menentukan bagaimana seseorang bertindak atau menyelesaikan masalah berdasarkan sudut pandang yang berbeda. Namun kemampuan menyelesaikan permasalahan tersebut tidak berbeda secara signifikan antara siswa laki-laki dan perempuan. Meskipun ada sedikit kesalahan terkait dengan kesalahpahaman makna pertanyaan dan mengandalkan tebakan alih-alih mengikuti prosedur yang ditetapkan. Oleh karena itu, anak laki-laki cenderung mengembangkan otak kiri yang bertanggung jawab atas pemikiran logis, abstrak, dan analitis, sedangkan anak perempuan cenderung mengembangkan otak kanan yang bertanggung jawab atas pemikiran artistik, keutuhan, imajinasi, dan rasionalitas. Oleh karena itu, keterampilan pemecahan masalah matematis bertujuan agar siswa dapat mengidentifikasi informasi yang relevan, menganalisis berbagai metode, dan mengembangkan keterampilan penalaran dan berpikir mereka.AbstractThis research examines gender differences in problem-solving among high school students. Tests and structured interviews were used to collect data. The research subjects were Class VIII students of Ambulu-Jember Islamic Middle School, totaling 11 (boys) and 9 (girls). From the evaluation results it is known that the average score of female students is high (81.67) and average ability (61.67), while the average score of male students is high (85.56) and language ability (65). Because women are better in language and culture, men are better in technical fields. Gender differences are psychological characteristics that determine how someone acts or solves problems based on different points of view. However, the ability to solve these problems is not significantly different between male and female students. Although there were a few errors related to misunderstanding the meaning of the questions and relying on guesswork instead of following the established procedures. Therefore, boys tend to develop the left brain which is responsible for logical, abstract and analytical thinking, while girls tend to develop the right brain which is responsible for artistic thinking, wholeness, imagination and rationality. Therefore, mathematical problems-solving skills aim to enable students to identify relevant information, analyze various methods, and develop their reasoning and thinking skills.
Workshop Pengintegrasian Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dalam Pembelajaran bagi Guru MIM 03 Dukuh Wuluhan Bahar Agus Setiawan; Tri Endang Jatmikowati
Mujtama': Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 5 No. 1 (2025): Mujtama’ Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32528/mujtama.v5i1.3361

Abstract

Kegiatan pembelajaran dalam proses pendidikan merupakan aspek pertama dan utama yang harus dapat dilaksanakan secara tepat dan menyeluruh. Pembelajaran merupakan miniatur interaksi antara guru dan siswa serta berbagai perangkat komponen yang mendukung pelaksanaannya seperti metode, model, strategi, sarana prasarana dan perangkat lainnya. Pengintegrasian pembelajaran dengan penelitian tindakan kelas (PTK) selain bermanfaat untuk menghasilkan karya tulis ilmiah, di sisi lain juga dapat digunakan dalam menyusun modul atau perencanaan pelaksanaan pembelajaran yang lebih efektif dan efisien. Hal ini dikarenakan implementasi modul atau perencanaan pelaksanaan pembelajaran akan dianalisis secara ilmiah dengan menggunakan metodologi penelitian yang tepat, sehingga guru dapat secara mandiri mengevaluasi modul atau perencanaan pelaksanaan pembelajaran yang telah disusun dan dilaksanakan. Kegiatan ini diikuti oleh sembilan orang guru MIM 03 Dukuh Wuluhan. Sebagai hasil dari pelaksanaan kegiatan, guru MIM 03 Wuluhan telah memahami tentang pengintegrasian PTK dalam pembelajaran. Guru mengetahui metode dan tahapan pengintegrasian PTK dalam pembelajaran, serta manfaat yang diperoleh dari proses kegiatan ini.