Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : MANUSKRIPTA

Yoga-Estetis dalam Kakawin Lambaᶇ Pralambaᶇ sebagai Ikhtiar Mencapai Kemanunggalan dengan Tuhan Yudhistira, Naufal Anggito; Suparta, I Made
Manuskripta Vol 11 No 2 (2021): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v11i2.124

Abstract

Kakawin Lambaᶇ Pralambaᶇ is one of the lyric poetry texts contained in the palm leaf manuscript coded CP.25 LT-223 which is stored in the manuscript collection of Universitas Indonesia. The manuscript was written in 1799 AD in Lombok using Balinese script. This study aims to reveal the form of yoga sastra and the relationship of religious expression in Kakawin Lambaᶇ Pralambaᶇ with other Old Javanese and Balinese literature. This research is qualitative research using a reception approach. To prepare the object of research, a philological work step was used to extract the Kakawin Lambaᶇ Pralambaᶇ text from the manuscript. The codex unicus method was used because only one witness manuscript is known to contain this text. The Kakawin Lambaᶇ Pralambaᶇ shows the wandering of the poet to do literary yoga (aesthetics-yoga). In addition, there is also the concept of worship in the form of caṇḍi pustaka as a kind of metaphorical expression of the writer to pay homage to the God. This Kakawin also contains an overview of religious concepts related to the love of men and women. In addition, this text is also related to efforts to achieve the unity between human and God. === Kakawin Lambaᶇ Pralambaᶇ merupakan salah satu teks puisi lirik yang terdapat dalam naskah lontar berkode CP.25 LT-223 yang disimpan dalam koleksi naskah Universitas Indonesia. Naskah tersebut ditulis pada tahun 1799 Masehi di Lombok menggunakan aksara Bali. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap bentuk yoga sastra dan kaitan espresi religius dalam Kakawin Lambaᶇ Pralambaᶇ dengan karya sastra Jawa Kuna dan Bali lainnya. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif menggunakan pendekatan resepsi. Untuk mempersiapkan objek penelitian digunakan Langkah kerja filologi untuk mengekstrak teks Kakawin Lambaᶇ Pralambaᶇ dari naskah. Metode naskah tunggal digunakan sebab hanya ada satu naskah saksi yang diketahui mengandung teks ini. Dalam teks Kakawin Lambaᶇ Pralambaᶇ memperlihatkan pengelanaan pujangga dalam usaha melakukan yoga sastra (yoga-estetis). Selain itu, terdapat pula konsep pemujaan dalam bentuk caṇḍi pustaka sebagai suatu ekspresi metaforis sang pujangga untuk menyembah (manembah) Tuhan. Kakawin ini juga memuat gambaran konsep religius terkait percintaan laki-laki dan perempuan. Selain itu, teks ini juga terkait dengan upaya untuk mencapai penyatuan manusia dengan Tuhan.
Esoteris-Mistik dalam Teks Pangujanan Wijayanto, Muhammad Heno; Suparta, I Made
Manuskripta Vol 11 No 2 (2021): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v11i2.127

Abstract

Pangujanan is a Javanese-Bali text containing means and spells to making rain based on local wisdom of Balinese culture. This aims of this research to examine the esoteric and mystical aspects contained in the Pangujanan text. The theoretical basis used in this research is philoethnography to reveal the esoteric and mystical in the Pangujanan text. The result is esoteric aspects that are prohibitive and guiding, as well as mystical aspects in the form of presenting the power of Iadewata 'Dewa Pujaan' to a practitioner through mentioning aspects of Iṣṭadewata, such as Kanda Mpat, Pañcaṛṣi, Catur Lokapala, Dewata Nawasanga, and Daśākṣara to bring down rain. The causality between esotericism and mysticism is that bringing Iṣṭadewata into the soul is secret and limited to certain circles. From the results of the analysis, it can be concluded that the esoteric-mystical aspect that involves God in it is a symbol that God's involvement in all aspects of life is still considered important. === Pangujanan merupakan teks berbahasa Jawa-Bali berisi sarana dan mantra untuk menurunkan hujan berdasarkan kearifan lokal budaya Bali. Penelitian ini mencoba menelaah aspek-aspek esoteris dan mistik yang terdapat dalam teks Pangujanan. Landasan teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah filoetnografi untuk mengungkap esoteris dan mistik dalam teks Pangujanan. Hasilnya adalah aspek-aspek yang bersifat esoterik bersifat larangan dan tuntunan, serta aspek yang bersifat mistik berupa menghadirkan kekuatan Iṣṭadewata ‘Dewa Pujaan’ kepada seorang praktisi melalui penyebutan aspek-aspek dari Iṣṭadewata, seperti Kanda Mpat, Pañcaṛṣi, Catur Lokapala, Dewata Nawasanga, dan Daśākṣara untuk menurunkan hujan. Kausalitas antara esoteris dan mistik adalah menghadirkan Iṣṭadewata ke dalam jiwa bersifat rahasia dan terbatas untuk kalangan tertentu saja. Dari hasil analisis dapat disimpulkan bahwa aspek esoteris-mistik yang melibatkan Tuhan di dalamnya merupakan simbol bahwa keterlibatan Tuhan dalam segala aspek kehidupan masih dianggap penting.
Kekerasan Seksual dalam Naskah Sabhaparwa Merapi-Merbabu: Analisis Wacana Kritis terhadap Narasi Patriarkal Pradipta, Galang Adhi; Suparta, I Made
Manuskripta Vol 15 No 1 (2025): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v15i1.131

Abstract

Sexual violence is a persistent historical issue recorded in the Sabhaparwa manuscript (31 L 92) from the Merapi-Merbabu scriptorium. Using Fairclough’s critical discourse analysis, Foucault’s power relations, and Butler’s gender performativity, this study investigates Draupadi’s violation as a critique of state law (Rajadharma). Micro-analysis reveals a tiered construction of violence exposing the perpetrators' "fragile masculinity." Meso-analysis highlights a functional shift where the scriptorium reinterprets trauma as motivation for ascetic practice. Macro-analysis uncovers Dharmasunya (a legal void), where institutional failure is met with the supremacy of mandala morality. The study concludes that Sabhaparwa serves as a radical counter-discourse, asserting that state legitimacy collapses when it fails to protect women’s dignity. Ultimately, the text positions spiritual integrity as the final bastion of humanity against systemic political and patriarchal failure. === Kekerasan seksual merupakan isu persisten yang terekam dalam naskah kuno Sabhaparwa koleksi Merapi-Merbabu (31 L 92). Penelitian kualitatif ini menggunakan analisis wacana kritis Fairclough, teori relasi kuasa Foucault, dan performativitas gender Butler untuk membedah narasi pelecehan Dropadi. Tujuannya adalah menunjukkan bahwa teks tersebut mengkritik kegagalan hukum negara (Rajadharma), bukan menormalisasi patriarki. Secara mikro, analisis mengungkap konstruksi kekerasan yang justru menelanjangi "maskulinitas rapuh" para pelaku. Secara meso, terjadi pergeseran fungsi teks menjadi materi didaktis-asketis, di mana trauma diolah menjadi motivasi spiritual. Pada level makro, teks merepresentasikan kondisi Dharmasunya (kekosongan hukum) yang dijawab dengan supremasi moralitas mandala. Studi ini menyimpulkan bahwa Sabhaparwa adalah wacana tandingan radikal; legitimasi kekuasaan dianggap runtuh saat gagal melindungi martabat perempuan, menjadikan integritas spiritual sebagai benteng terakhir kemanusiaan dalam menghadapi kegagalan sistemik.