Claim Missing Document
Check
Articles

Perancangan dan Pembuatan Propeller Perahu Nelayan Dengan Metode Investment Casting Pola Lilin dan Cetakan Pasir Andhika Krismaintya Putera; Agus Suprihanto; Yusuf Umardani
JMPM (Jurnal Material dan Proses Manufaktur) Vol 5, No 2 (2021): December
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/jmpm.v5i2.11774

Abstract

Propeller atau baling-baling adalah salah satu bagian yang penting dalam perahu nelayan. Geometri propeller yang rumit membuat proses permesinan sulit untuk dilakukan dan memerlukan banyak biaya. Tujuan penelitian Tugas Akhir ini adalah membuat propeller perahu nelayan dengan metode investment casting untuk mengurangi proses permesinan dan mendapatkan geometri produk yang akurat. Selain itu menganalisa geometri, kerataan dan cacat yang mungkin terjadi pada produk akhir pengecoran. Pemodelan dilakukan pada jenis propeller perahu nelayan yang sudah ditentukan. Cetakan master die propeller dibuat menggunakan material silicone rubber RTV 497. Cetakan investment casting yang digunakan berbahan pasir silika mesh 10 -30 dan mesh 80-100, gypsum, serta alumina. Pola lilin yang digunakan berbahan lilin parafin. Cetakan investment casting dilakukan proses sintering pada suhu 250°C selama 30 menit. Material pengecoran yang digunakan adalah aluminium paduan Al-Si yang dileburkan pada suhu 770°C. Hasil penelitian menunjukkan pada produk pengecoran ditemukan penyusutan sebesar 2.95 – 8.08 % dengan menggunakan alat ukur vernier caliper dan 2.83 – 8.34 % dengan pengukuran 3D Scan. Pada pengukuran kerataan permukaan daun propeller ditemukan perbedaan tingkat kerataan permukaan daun propeller disebabkan karena propeller coran mengalami penyusutan dan cacat kekasaran erosi. Hasil identifikasi cacat pengecoran menunjukkan pada pemeriksaan visual ditemukan cacat ekor tikus, sirip, lubang jarum, membengkak, penetrasi logam, salah alir dan kekasaran erosi. Sedangkan pada pemeriksaan dengan cairan dye penetrant ditemukan cacat rongga penyusutan dan udara.
Identifikasi Zona Bahaya Kebakaran pada Unit Electrochlorination Plant (ECP) PLTU Rembang Susilo Adi Widyanto; Agus Suprihanto
Eksergi Vol 13, No 1 (2017): JANUARI 2017
Publisher : Politeknik Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5170.96 KB) | DOI: 10.32497/eksergi.v13i1.812

Abstract

Guna menghindari terjadinya biofouling suatu PLTU membutuhkan zat disinfektan. Zat ini berguna menekan perkembangnya mikroorganisme laut pada unit-unit lainnya seperti kondenser, pompa, pipa dll. Zat disinfektan yang banyak digunakan adalah sodium hypochlorite yang dihasilkan dari proses elektrolisis air laut yang dihasilkan pada unit electrochlorination plant (ECP). Proses elektrolis tersebut ternyata menghasilkan pula gas hidrogen yang mudah terbakar. Oleh karena itu diperlukan kajian untuk mengetahui level dan zona potensi bahaya kebakaran pada unit ECP. Telah dilakukan kegiatan pengukuran dan pengamatan pada unit ECP PLTU Rembang Jawa Tengah. Hasil kegiatan tersebut mendapatkan data mengenai lokasi dan denah, konsentrasi gas hidrogen, arah dan kecepatan angin dan temperatur peralatan-peralatan listrik. Analisis data yang dilakukan menghasilkan bahwa zona dan level bahaya potensi kebakaran pada unit ECP ini berada dibagian tangki chlorinasi dengan radius bahaya mencapai 4,75m. Oleh karena itu pada radius tersebut sumber-sumber percikan api harus dihindarkan. Kata kunci: biofouling, electrochlorination plan, zona dan level bahaya
Pengaruh Pembersihan Kimiawi Dan Mekanik Terhadap Kinerja Intercooler St24 Pada PLTGU Indonesia Power UPJP Priok Agus Suprihanto
Eksergi Vol 14, No 1 (2018): JANUARI 2018
Publisher : Politeknik Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (790.822 KB) | DOI: 10.32497/eksergi.v14i1.1136

Abstract

Intercooler ST24 pada PLTGU UPJP Priok merupakan alat penukar panas (heat exchanger) yang berfungsi mendinginkan uap. Alat ini menggunakan media air laut sebagai pendinginnya. Kondisi air laut yang kotor menyebabkan penurunan kinerja perpindahan panasnya. Guna mengembalikan kinerjanya, pembersihan kimiawi dan mekanik telah diterapkan. Berdasarkan analisis kinerja yang telah dilakukan, didapatkan hasil bahwa pembersihan tube intercooler secara mekanik dapat meningkatkan laju perpindahan kalor intercooler sebesar 66.53%, sedangkan pembersihan intercooler secara kimiawi dapat meningkatkan laju perpindahan kalor intercooler mencapai 82.04%. Hal ini menunjukkan penmbersihan menggunakan kimiawi lebih efektif dibandingkan secara mekanik.. Kata kunci:alat penukar panas tipe shell dan tube, efektivitas perpindahan panas
ANALISA RISIKO DAN PREDICTION REMAINING LIFETIME PADA PIPA GAS LURUS Ø 14” MENGGUNAKAN METODE RISK BASED INSPECTION BERASARKAN API 581 Gunawan Dwi Haryadi; Agus Suprihanto; Jericho Jericho; Ismoyo Haryanto
JURNAL CRANKSHAFT Vol 3, No 1 (2020): Jurnal Crankshaft Vol.3 No.1 Maret 2020
Publisher : Universitas Muria Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24176/crankshaft.v3i1.4130

Abstract

Telah dilakukan inspeksi serangan korosi pada pipa minyak berdiameter 14” yang telah digunakan selama 8 tahun. Hasil analisis menggunakan metode risk based inspection (RBI) menunjukkan kategori 1C. Hal ini menunjukkan bahwa kategorinyadalah low medium risk. Metode perawatan yang diusulkan adalah corrective maintenance. Usulan inspeksi selanjutnya dilakukan 3 tahun kemudian. Metode inspeksi yang digunakan adalah pemeriksaan visual, ultrasonic straight beam, eddy current, flux leakage, radiography, dan pengukuran dimensi.
Pengaruh Perlakuan Preheat Partikel Al2o3 Pada Proses Stir Casting terhadap Sifat Fisik dan Mekanik Komposit Al6061- Al2O3 Eko Surojo; Henri Fatih Wibowo; Teguh Triyono; Agus Suprihanto
Mekanika: Majalah Ilmiah Mekanika Vol 19, No 2 (2020): MEKANIKA: Majalah Ilmiah Mekanika
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/mekanika.v19i2.43646

Abstract

Aluminium komposit secara luas digunakan untuk aplikasi kinerja tinggi seperti di otomotif, militer dan kedirgantaraan. Stir casting merupakan salah satu metode yang digunakan untuk memproduksi AMC (Aluminium Matrix Composite). Parameter dalam metode stir casting yang harus dipertimbangkan ketika proses manufaktur diantaranya adalah temperatur pengadukan, kecepatan pengadukan dan perlakuan pada partikel penguat karena akan berpengaruh terhadap sifat fisik dan mekanik komposit. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh pemanasan awal serbuk Al2O3 terhadap porositas, kekerasan, laju keausan spesifik dan koefisien gesekan komposit Al6061-Al2O3. Proses manufaktur komposit dilakukan pada temperatur pengadukan 720-740°C, kecepatan pengadukan 600 rpm dan variasi perlakuan preheat pada partikel penguat Al2O3 dengan suhu ruang, 150℃ dan 300℃. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan preheat pada partikel penguat Al2O3 berpengaruh terhadap porositas, kekerasan, laju keausan spesifik dan koefisien gesek komposit. Perlakuan preheat pada partikel penguat Al2O3 mampu menurunkan porositas, meningkatkan kekerasan dan koefisien gesek, serta menurunkan laju keausan spesifik komposit.  Pemberian perlakuan preheat yang optimal didapat pada suhu 300℃.
Penggunaan metode Reliability-Centered Maintenance untuk menjaga keandalan material belt conveyor Djoeli Satrijo; Agus Suprihanto; Ojo Kurdi; Dwi Basuki Wibowo; Gunawan Dwi Haryadi; Yusuf Umardani; Khoiri Rozi; Muhammad Fakhri Aji Pratomo
Jurnal Material Teknologi Proses: Warta Kemajuan Bidang Material Teknik Teknologi Proses Vol 2, No 1 (2021): Jurnal Material Teknologi Proses Volume 2 Nomor 1 Tahun 2021
Publisher : Departemen Teknik Mesin, Sekolah Vokasi, Universitas Gadjah Mada.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (208.054 KB) | DOI: 10.22146/jmtp.66163

Abstract

Alat transportasi berperan penting dalam mengangkut material konsentrat untuk diolah dalam pabrik smelter secara kontinyu. Peralatan tersebut dijaga agar selalu beroperasi tanpa ada kerusakan. Kerusakan alat dapat mengakibatkan terhentinya proses produksi. Oleh karena itu manajemen peralatan pabrik sangat penting, dengan melakukan maintenance secara berkala untuk menghindari kejadian yang tidak diinginkan. Permasalahan yang sering terjadi pada salah satu alat yaitu belt conveyor adalah adanya tumpahan material ketika beroperasi. Penelitian ini menerapkan metode Reliability Centered Maintenance untuk mengetahui solusi yang tepat atas permasalahan sehingga material belt conveyor memiliki kehandalan yang tinggi dan umur pakainya meningkat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa failure mode yang terjadi pada belt conveyor merupakan kategori C dan memiliki persentase terbesar sehingga dampak kerugian ekonominya relatif kecil. Namun tetap demikian kemungkinan terjadinya outage pada plant tetap harus diperhatikan.
Analisis Kegagalan Baut Exhausted Lokomotif Mesin Diesel Elektrik Ditinjau dari Struktur Mikro Material dan Distribusi Tegangan oleh Momen Puntir Adriathma, Abduh Bayu; Kurdi, Ojo; Satrijo, Djoeli; Suprihanto, Agus
Jurnal Rekayasa Mesin Vol 16, No 3 (2021): Volume 16, Nomor 3, Desember 2021
Publisher : Mechanical Engineering Department - Semarang State Polytechnic

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32497/jrm.v16i3.2854

Abstract

Lokomotif merupakan bagian dari kereta api dimana terdapat mesin untuk menggerakkan kereta api. Salah satu jenis dari kereta api di Indonesia yaitu menggunakan mesin diesel. Pada mesin diesel terdapat exhaust yang berfungsi sebagai saluran pembuangan gas emisi. Perawatan lokomotif memungkinkan terjadinya patah pada baut exhaust. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penyebab kegagalan dari baut yang dipakai pada exhaust lokomotif diesel dengan meninjau perubahan struktur mikroskopik yang terjadi pada baut dengan kondisi temperature tinggi dan mengetahui distribusi tegangan yang terjadi pada baut pada saat pelepasan. Kondisi pada daerah exhaust lokomotif kereta api dapat mencapai diatas 750°C menyebabkan perubahan struktur kristal dari material pada baut. Modulus kegagalan punter lebih rawan terjadi pada material ulet. Material baut SAE grade 5 ukuran 1 inch memiliki nilai torsi maksimum material 885,8 N.m dengan nilai standardnya yaitu 664 N.m. Dengan demikian menunjukkan bahwa pada saat temperature ruang torsi yang diberikan pada saat pelepasan baut memiliki nilai yang aman, namun dengan meningkatnya temperature menurunkan nilai tegangan maksimum material baut untuk terdeformasi puntir.
Karakteristik Bahan Alternatif Kampas Rem dari Komposit Berpenguat Serbuk Serbuk Kayu Jati, Serbuk Tempurung Kelapa, dan Serbuk Kuningan dengan Variasi Suhu Post Curing Pramono, Catur; Widayat, Widayat; Suprihanto, Agus
Jurnal Profesi Insinyur Indonesia Vol 1, No 7 (2023): JPII
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jpii.2023.20817

Abstract

Di industri manufaktur, penggunaan bahan logam dan komposit ini terus berkembang pesat. Seiring dengan perkembangan tersebut, maka perlu dilakukan riset material baru sebagai bahan komposit. Tujuan penelitian ini mengetahui karakteristik kekerasan dan keausan komposit berpenguat serbuk kayu jati, serbuk tempurung kelapa, dan serbuk kuningan setelah di-post curing. Manfaat dari penelitian ini adalah mengembangkan inovasi komposisi bahan terbaru dari serbuk kayu jati dan serbuk tempurung kelapa dengan logam kuningan sebagai bahan kampas rem. Komposisi bahan di penelitian ini berupa 20% serbuk kayu jati, 20% serbuk tempurung kelapa, 20% serbuk kuningan dan 40% resin epoxy. Metode pembuatan komposit dengan press mold. Suhu post curing setelah pencetakan komposit yaitu 130°C, 180°C dan 230°C. Pengujian yang dilakukan yaitu uji kekerasan, uji keausan, dan uji struktur mikro. K3L yang dipakai selama penelitian yaitu menggunakan kaos tangan, apron, jas laboratorium, masker,kacamata, dan safety shoes. Hasil penelitian menunjukkan untuk aplikasi material kampas rem sebaiknya menggunakan komposit dengan komposisi 20% serbuk kayu jati, 20% serbuk tempurung kelapa, 20% serbuk kuningan dan 40% resin epoxy dengan post curing ≤180°C. Kata kunci: kekerasan, keausan, post curing, komposit
Asesmen Kondisi Tube Boiler Final Superhater SA 213 91 Kapasitas 315 MW Akibat Efek Kebocoran Kondenser Harianto, Harianto; Nugraha, Ariyana Dwiputra; Suprihanto, Agus; Sulardjaka, Sulardjaka
ROTASI Vol 26, No 3 (2024): VOLUME 26, NOMOR 3, JULI 2024
Publisher : Departemen Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/rotasi.26.3.30-36

Abstract

Penelitian dilakukan pada pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) Rembang Semarang Unit 2, Indonesia kapasitas 315 MW. PLTU ini mulai beroperasi pada tahun 2011 dan sudah berjalan hingga saat ini kira-kira 13 tahun atau di atas 100.000 jam EOH (equievalent operating hours). Pada awal tahun 2022 PLTU ini mengalami kebocoran kondenser sehinga perlu dilakukan asesmen pada material tube boiler. Pada studi ini akan dilakukan asesmen yaitu tube final superheater jenis SA 213 T91. Penelitian ini dilakukan untuk menjawab kecurigaan adanya indikasi degradasi atau kegagalan pada material tube akibat efek kebocoran kondenser. Analisis yang digunakan adalah dengan melakukan asesmen tube as received yaitu meliputi pemeriksaan visual, uji komposisi kimia tube, pengukuran ketebalan, pengukuran kekerasan, uji metalografi, dan analisis kandungan kimia scale pada inner tube.Dari hasil hasil pengujian dan dilakukan analisis bahwa material tube secara pengamatan visual masih dalam kondisi relatif baik tetapi pada inner tube (steam side) dan outer tube (fire side) telah mengalami korosi dan terdapat scale. Hasl uji kompoisi kimia tube sesuai dengan desainya yaitu SA 213 T91. Pengukuran ketebalan tube yaitu 6.04 mm s.d. 8.60 mm. Nilai kekerasan masih dalam batas yang diizinkan yaitu 200.08 HV s.d. 224.11 HV. Hasil pemeriksaan struktur mikro berupa martensit temper yang telah mengalami sperodisasi akibat overheating dan jika dilakukan pendekatan stadium kerusakan creep cracks (cavities) berdasarkan ERA teknologi masih masuk kategori 2 (dua) yaitu kerusakan berada pada 33% dan memiliki sisa umur yaitu 66%. Hasil ketebalan scale pada pada outer tube terukur 216.00 µm dan inner scale 232.32 µm. Hasil pengujian SEM EDX menunjukkan bahwa kandungan scale yang ada pada  inner tube yaitu carbon, oxygen dan ferrous (unsur pembentuk oxide scale). Adapun unsur lainnya seperti natrium (sodium), magnesium aluminium, dan unsur lainnya berasal dari kontaminasi air pengisi boiler (feed water) akibat efek kebocoran kondenser.
ANALISIS METODE PENGELASAN SMAW TERHADAP LAJU KOROSI DAN NILAI KEKERASAN PADA BAJA KARBON RENDAH AISI 1020 Purbonugroho, Hanindhieto Dias Andra; Suprihanto, Agus; Haryadi, Gunawan Dwi
JURNAL TEKNIK MESIN Vol 11, No 4 (2023): VOLUME 11, NOMOR 4, OKTOBER 2023
Publisher : Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Baja merupakan logam yang paling umum digunakan sebagai bahan struktur bangunan. Perakitan profil baja menjadi suatu elemen struktur yang paling efektif dan murah adalah dengan metode pengelasan. Oleh karena itu dibutuhkan baja yang memiliki mampu las yang baik seperti baja AISI 1020. Meskipun demikian, saat dilakukan pengelasan terjadi perubahan struktur mikro dan tegangan sisa yang akan mempengaruhi ketahanan terhadap korosinya.Penelitian ini mengkaji pengaruh proses pengelasan baja AISI 1020 terhadap ketahanan korosi pada air laut. Proses pengelasan menggunakan metode SMAW, kuat arus 60, tegangan 20-26 V dan elektroda las RD460. Spesimen uji korosi berupa pelat tepat diambil pada bagian yang terdapat base metal, HAZ dan weld metal. Media korosi berupa air laut yang diambil dari Pantai Marina Semarang Jawa Tengah.Hasil pengamatan struktur mikro menunjukkan bahwa fasa yang terdapat pada spesimen adalah ferit dan perlit. Nilai rata-rata kekerasan pada daerah weld metal, HAZ, dan base metal berurutan sebesar 197 HV, 175,67 HV, dan 175 HV. Hasil uji korosi menunjukkan bahwa laju korosi sebesar 0,21393 mmpy.