Claim Missing Document
Check
Articles

MENGHITUNG KONTRIBUSI NILAI EBTANAS Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1987: HARIAN SUARA MERDEKA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (124.527 KB)

Abstract

           Topik pembicaraan yang kiranya paling hangat dan aktual saat ini, khususnya di kalangan para guru, siswa serta orangtua siswa adalah disekitar Ebtanas, Evaluasi Belajar Tahap Akhir tingkat Nasional.           Betapa tidak, peristiwa rutin setiap akhir tahun akademik ini di samping secara langsung akan  menentukan nasib anak didik selaku peserta Ebtanas, maka secara tak langsung juga akan menyangkut nama baik sekolah  dengan seluruh civitasnya.           Keberhasilan penyelenggaraan Ebtanas, khususnya dari segi jumlah peserta yang lulus berkaitan langsung dengan masalah "pride" (baca: kebanggaan, bukan kesombongan) sekolah; artinya semakin tinggi tingkat kelulusan siswa yang mengikuti Ebtanas maka hal itu akan makin membanggakan sekolah. Tingginya tingkat kelulusan siswa akan mengangkat nama sekolah yang bersangkutan.           Namun barangkali nilai kebanggaan ini akan  dapat terkurangi apabila kontribusi Nilai Ebtanas Murni (NEM) dalam penentuan nilai yang tercantum pada Surat Tanda Tamat Belajar (STTB) ikut dipermasalahkan.
PERJUANGAN POLITIK DAN PENDIDIKAN KI HADJAR DEWANTARA Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1994: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (415.261 KB)

Abstract

       Hari ini tiga puluh lima tahun silam, tepatnya 26 April 1959,  bangsa Indonesia kehilangan seseorang yang sangat dihormati dan dicintai, seorang pejuang nasional, tokoh nasional, tokoh kemerdekaan,  tokoh pendidikan na-sional, pahlawan nasional,  dan seorang Bapak Pendidikan Nasional; Ki Hadjar Dewantara.          Apabila Presiden Soekarno pernah menyatakan bahwa sesungguhnya dirinya sangat berbahagia bisa berguru pada Ki Hadjar dan menyebut "gurunya" itu merupakan Tokoh Na-sional, Tokoh Kemerdekaan dan sekaligus Tokoh Pendidikan Nasional;  maka Presiden Soeharto menyebut Ki Hadjar di samping sebagai Tokoh Pendidikan Nasional juga sebagai Pahlawan Nasional yang telah mempelopori sistem pendidik an berdasarkan kepribadian dan kebudayaan nasional.          Memang begitulah keadaannya. Berbagai sebutan itu sebenarnya sekedar "alat" bagi kita agar selalu teringat pada orang-orang yang telah mendharma-bhaktikan hidupnya bagi kemajuan bangsa, yang dalam hal ini Ki Hadjar.
KAPAN INDONESIA MERAIH NOBEL? SUPRIYOKO, KI
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2009: HARIAN SUARA PEMBARUAN
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (115.086 KB)

Abstract

Kamis 10 Desember 2009 ini Presiden Amerika Serikat (AS) Barack H. Obama diagendakan hadir di City Hall, Oslo, Norwegia, untuk menerima hadiah nobel. Seperti kita ketahui pada bulan Oktober lalu Barack Obama telah ditetapkan sebagai pemenang hadiah nobel untuk bidang perdamaian.          Peraih nobel tahun ini hampir semua dari AS. Nobel perdamaian untuk Barack Obama; nobel fisika untuk Charles K. Kao, Williard S. Boyle dan George E.Smith; nobel kimia Venkatraman Ramakrishnan, Thomas Steitz dan Ada Yonath; nobel kesehatan untuk Elizabeth H. Blackburn, Carol W. Greider dan Jack W. Szostak; nobel ekonomi Elinor Ostrom dan Oliver Williamson; dan nobel sastra untuk Herta Mueller. Dari 13 nama tersebut, 11 diantaranya adalah orang AS.          Pada hari yang sama, 10 Desember 2009, mereka menerima hadiah nobel yang diimpikannya; sebagian menerimanya di Oslo Norwegia antara lain untuk pemenang Nobel Perdamaian dan sebagiannya lagi di Stockholm Swedia antara lain untuk pemenang Nobel Fisika.
SELAMAT ULANG TAHUN TVRI Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1994: HARIAN BALI POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (177.949 KB)

Abstract

           Hari ini tiga puluh dua tahun yang lalu, tepatnya 24 Agustus 1962 lahirlah bayi mungil yang menjadi dambaan seluruh bangsa Indonesia; bayi yang diharapkan dapat ikut mengharumkan nama bangsa dan negara. Bayi yang kelahirannya didambakan banyak orang itu kemudian diberi nama TVRI, Televisi Republik Indonesia.          Bayi tersebut telah berkembang menjadi anak-anak, meningkat menjadi remaja,  dan sekarang ini bahkan sudah menjadi dewasa. Memang, kalau dilihat usianya yang sudah 32 tahun  maka TVRI bukan menjadi bayi lagi,  bukan pula anak-anak dan remaja,  tetapi TVRI sudah mengalami masa pasca remaja untuk menjadi dewasa. Kalau seorang manusia berusia 32 tahun perlu menanyakan pada dirinya sendiri apa yang sudah diperbuat untuk diri dan keluarganya maka TVRI pun  kiranya perlu menanyakan pada dirinya apa yang sudah diperbuat untuk diri dan bangsanya selama ini.          Pertanyaan tersebut menjadi lebih relevan, bahkan jawabannya menjadi semacam tuntutan,  berhubungan dengan histori kelahiran TVRI itu sendiri yang pernah mengalami romantika perjuangan. Dengan sarana, prasarana dan fasi-litas yang serba terbatas, dengan teknolog-teknolog kita yang masih belum banyak pengalaman,  dan dengan program-program siaran yang masih kurang "matang",  akhirnya toh keinginan memiliki TVRI dapat diwujudkan.
MENGAPA SPP SLTP DIHAPUS? Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1994: HARIAN BERNAS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (411.044 KB)

Abstract

       Pernyataan penting Mendikbud Wardiman Djojonegoro bahwa sekarang ini pemerintah sedang bermain angka untuk menghapus Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP)  di Seko-lah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) yang diselenggarakan oleh  pemerintah (baca: SLTP Negeri)  mulai tahun depan, 1993/1994, bersamaan dengan dimulainya pelaksanaan wajib belajar pendidikan dasar  mendapat tanggapan serius dari berbagai pihak yang berkepentingan.          Para orang tua siswa dan wali murid yang putranya sedang dan akan belajar di SLTP Negeri  pada umumnya me-nyambut gembira pernyataan Pak Menteri tersebut di atas. Betapapun kecilnya nilai ekonomik SPP itu sendiri kalau dibandingkan dengan sumbangan yang lainnya,misalnya saja sumbangan yang ditarik oleh Badan Pembantu Penyelenggara Pendidikan (BP3) sekolah atau sumbangan pendidikan dan sosial lainnya, maka penghapusan SPP sedikit-banyak akan meringankan beban orang tua.           Khususnya bagi masyarakat pedesaan dan masyarakat yang hidup  di bawah garis kemiskinan  maka penghapusan SPP yang jumlahnya "tidak seberapa" mempunyai nilai yang tinggi dibandingkan dengan kemampuan ekonominya.
TENTANG KI HADJAR DEWANTARA DAN PENDIDIKAN NASIONAL Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1996: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (125.758 KB)

Abstract

"Sungguh, seandainya aku seorang Nederlander,  tidaklah aku akan merayakan peringatan kemerdekaan di negeri yang masih terjajah. Lebih dahulu berilah kemerdekaan kepada rakyat atau bangsa yang masih kita kuasai itu,  barulah boleh orang memperingati kemerdekaannya sendiri".                                                 ( Ki Hadjar Dewantara, 1913 )       Itulah sepotong kalimat protes  yang ditulis pada tahun 1913 oleh Ki Hadjar Dewantara,  yang ketika itu masih bernama R.M. Soewardi Soerjaningrat,  dalam karyanya yang sangat terkenal Als Ik Eens Ne-derlander Was.  Kalimat itu pulalah yang menyebabkan pemerintah kolonial Belanda menjadi marah;  ada pemuda Indonesia yang secara terang-terangan berani menentang kebijakan pemerintah kolonial.       Peristiwa yang sangat bersejarah  tersebut  bermula  dari rencana pemerintah kolonial Belanda yang akan merayakan genap 100 tahun kemerdekaannya dari tangan Perancis.  Perayaan ini akan dilakukan di Belanda dan negara-negara jajahannya, termasuk Indonesia. Adapun rencananya,  perayaan kemerdekaan Belanda di Indonesia  akan dilaksanakan secara besar-besaran dan hura-hura pada 15 November 1913. Dari segi apapun rencana ini tentu tidak pas. Bagaimana tidak,mereka merayakan kemerdekaan di tanah jajahan;  mereka merayakan kemerdekaan sambil menjajah bangsa lain.        Rencana itu langsung diprotes oleh Ki Hadjar melalui dua tulisan: Als Ik Eens Nederlander Was (Seandainya Aku Seorang Belanda) dan Een voor Allen maar Ook Allen voor Een (Satu untuk Semua tetapi Semua untuk Satu Juga). Di dalam tulisannya ini Ki Hadjar juga menyatakan bahwa rencana Belanda yang demikian itu benar-benar telah menyinggung perasaan dan hati nurani bangsa Indonesia; meski rakyat Indonesia (waktu itu) masih dalam keadaan terjajah.
PROGRAM WAJIB BELAJAR PENDIDIKAN DASAR DAN KUALITAS ANAK INDONESIA ( Bagian Pertama dari Dua Tulisan ) Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1993: HARIAN SURABAYA POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (410.603 KB)

Abstract

       Kalau tiada aral melintang program  Wajib Belajar Pendidikan Dasar (WBPD) akan dicanangkan oleh pemerintah tepat  tanggal 2 Mei 1994 yang akan datang.  Pencanangan WBPD, apabila dapat dilaksanakan sesuai rencana, kiranya dapat dipandang sebagai "kelanjutan" dari program Wajib Belajar Sekolah Dasar (WBSD) yang pernah dicanangkan se-kitar sepuluh tahun yang lalu.           Pelaksanaan WBSD dapat dikatakan sebagai sukses, saat ini hampir  tidak ada anak usia Sekolah Dasar (SD) yang tidak sekolah;  secara nasional Tingkat Partisipasi Pendidikan (TPP) SD sudah mencapai 98%,  artinya 98 dari setiap 100 anak usia SD (7-12) tahun sudah menikmati pe-layanan sekolah dasar. Apabila sampai sekarang masih ada 2% anak usia SD yang tak sekolah hal ini memang terjadi pada anak-anak yang memiliki kasus khusus. Secara teore-tis TPP memang dapat mencapai 100% tetapi secara empirik tidak mungkin.  Pada negara manapun hampir tidak mungkin TPP jenjang tertentu dapat mencapai angka 100%.          Konsep WBPD memang konstruktif dan relevan dengan konsep horizontalitas serta vertikalitas pendidikan bagi anak-anak Indonesia. Bila kita jujur banyak program pendidikan  yang acapkali harus mempertentangkan konsep horizontalitas dengan vertikalitas;  artinya  program yang hanya menguntungkan sisi horizontalitas saja dengan "merugikan" sisi vertikalitas,atau sebaliknya menguntungkan sisi vertikalitas dengan "merugikan" sisi horizontalitas. Konsep WBPD ternyata tidak demikian, baik dari sisi ho-rizontalitas maupun vertikalitas sama-sama menguntungkan bagi pengembangan anak-anak Indonesia.
HILANGNYA SATU GENERASI BANGSA Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1999: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (114.706 KB)

Abstract

       Hilangnya satu generasi bangsa Indonesia,  one generation lost, sekarang ini menjadi kalimat yang mengerikan bagi bangsa Indonesia. Ada berbagai macam interpretasi terhadap "kalimat petaka" ini, ada yang sekedar menganggap sebagai suatu peringatan kepada kita semua supaya lebih serius memperbaiki diri,  ada yang menganggap sebagai ancaman bangsa pada masa kini dan masa depan,  dan ada pula yang mempercayai hal itu sebagai hukuman kepada bangsa Indonesia yang kurang bersyukur atas anugerah yang diberikan dari-Nya.       Apapun interpretasi terhadap kalimat tersebut kiranya kita semua sepakat bahwa kita benar-benar dapat kehilangan satu generasi bangsa bila dari sekarang tidak melakukan antisipasi terhadap segala kemung-kinan yang bisa terjadi. Bukan tak mungkin seperempat abad ke depan kita akan dihujat oleh anak cucu karena tidak mampu menghantarkan mereka sebagai bangsa yang tangguh dan mandiri.       Krisis ekonomi yang berkepanjangan akibat terjadinya salah urus (mismanagement) di negara kita telah membuka pintu kemungkinan hilangnya ketangguhan daya saing satu generasi bangsa. Disadari atau tidak, dan diakui atau tidak,  krisis ekonomi yang masih berlangsung hingga sekarang memang membawa berbagai efek samping sekaligus, baik secara langsung maupun tidak langsung,  baik di bidang ekonomi itu sendiri maupun di bidang lain,  baik secara fisik maupun nonfisik, dan baik dalam jangka pendek maupun dalam jangka panjang. Berbagai efek samping ini secara simultan mengendala perjalanan bangsa Indonesia menuju titik kemajuan hidup.       Kapan krisis ekonomi kita akan berakhir.  Kenapa Thailand yang diterpa krisis dalam waktu yang hampir bersamaan dengan Indonesia sudah mulai pulih sedangkan kita masih belum "beranjak"? Benarkah satu generasi bangsa Indonesia yang terancam ketangguhan daya saing tersebut masih dapat diselamatkan dari kehancuran?
KELUARGA BERENCANA PADA GENERASI MUDA Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1991: HARIAN YOGYA POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (245.389 KB)

Abstract

Ide dasar meningkatkan peranan generasi muda yang harus melewati pembentukan gudep teritori desa akhirnya direalisasikan dengan penelitian operasional (operation research). Tim peneliti di samping terdiri dari berbagai unsur terkait juga dari lembaga penelitian; dan tim ini bertugas mengadakan rintisan kegiatan sekaligus mengevaluasinya secara bertahap dan kontinu. Secara metodologis penelitian operasional dikem-bangkan pada 32 desa di DIY; dan ini berarti sebanyak 32 gudep desa terbentuk pada tahap pertama. Pada sisi yang lain setiap gudep desa minimal memiliki 20 anggota yang begabung dalam kegiatan Saka Kencana, terdiri 10 anggota pria dan 10 anggota wanita. Itu berarti secara adminitra tif dalam tahap pertama sudah terkumpul sebanyak 640 pe-muda/pemudi yang tergabung dalam kegiatan Saka Kencana; sebuah potensi yang perlu dikembangkan. Profil kependidikan para anggota gudep yang terga bung dalam kegiatan Saka Kencana ternyata sangat menarik dicermati, karena keanggotaannya diikuti oleh pemuda dan pemudi yang berpendidikan "hanya" SD sampai yang berpen-didikan tinggi, yaitu diploma dan sarjana. Secara lebih terinci diketemukan profil kependidikan keanggotaan sbb: anggota gudep yang berpendidikan SD sebanyak 1.2%, SMTP 23,8%, SMTA 67,6%, diploma 5,1% serta sarjana 2,3%. Data ini menunjukkan bahwa kegiatan Saka Kencana yang bersi-fat sosio-edukatif sanggup menarik minat masyarakat yang kurang berpendidikan sampai yang berpendidikan tinggi.
SANG GURU BESAR PUN BERGABUNG KE PTS Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1992: HARIAN SURABAYA POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (212.374 KB)

Abstract

       Konon sekarang ini harga seorang guru besar atau profesor, baik secara moral maupun material, makin mahal saja; makin mendekati masa purna bhakti (pensiun) makin tinggilah harganya. Pasalnya karena menjelang masa pen-siun tiba maka sang guru besar akan dijadikan "rebutan" oleh Perguruan Tinggi Swasta (PTS) untuk bergabung pada almamater perguruan nonpemerintah itu; bahkan guru besar yang  masih beberapa tahun masa pensiunnya pun terkadang sudah dipesan (=diijon?) oleh PTS.         Sejak kapankah para guru besar yang telah memasuki masa purna bhakti tersebut mau bergabung, dalam pengertian menjadi dosen tetap, ke PTS? Jawabnya adalah sejak diberlakukannya Peraturan Pemerintah (PP) Nomer 30/1990 tentang pendidikan tinggi.          Sejak dikeluarkannya PP Nomer 30/1990 tersebut di atas kedudukan para tenaga edukatif yang senior (teruta-ma guru besar) secara akademis lebih diperlukan oleh PTS untuk berbagai kepentingan, terutama sekali dalam rangka pengurusan  kenaikan status akreditasi PTS yang bersang-kutan berkaitan dengan upaya peningkatan kualitas.