Claim Missing Document
Check
Articles

KUALITAS GURU DAN DOSEN DI INDONESIA Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2002: HARIAN KOMPAS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (99.041 KB)

Abstract

         Di dalam suatu diskusi kependidikan yang melibatkan secara langsung para praktisi dan pakar pendidikan di Yogyakarta baru-baru ini berkesimpulan  bahwa kita harus  menyadari dan mengakui tentang jeleknya kinerja pendidikan nasional. Dengan mengacu pada berbagai publikasi internasional seperti  UNDP, WEF, IMD, PERC, ADB, AsiaWeek, dsb; jeleknya kinerja pendidikan nasional kita me-mang tidak mungkin dapat disembunyikan.          Kesimpulan kedua yang lebih bersifat analitis adalah tentang faktor yang menjadi penyebab jeleknya kinerja pendidikan nasional kita; dan dari sederetan faktor yang teridentifikasi ternyata yang paling utama adalah faktor tenaga kependidikan, dalam hal ini guru di jenjang pendidikan dasar dan menengah  serta  dosen di jenjang pendidikan tinggi.         Sampai saat ini, demikian hasil analisis dari para peserta dis-kusi,  kualitas tenaga kependidikan kita masih sangat memprihatinkan. Banyak guru yang tidak menguasai subject matter atau bahan yang harus disampaikan kepada anak didik,  di sisi lain banyak dosen yang tidak memahami methodology  atau cara mendidik yang baik,  bahkan banyak guru dan dosen yang tidak menguasai kedua aspek penting dalam pengajaran dan pendidikan tersebut. Ada si-nyalemen  bahwa yang banyak ditemukan di sekolah dan perguruan tinggi sekarang ini hanyalah pengajar, bukan pendidik.          Akibat dari itu semua mudah dilihat dengan mata telanjang; kinerja pendidikan nasional kita demikian jeleknya, bahkan lebih jelek dari beberapa negara di sekitar kita  seperti Malaysia, Singa-pura, Vietnam, Filipina, Thailand, dan sebagainya.
MEMBENAHI PENDIDIKAN NASIONAL INDONESIA Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2000: MAJALAH PUSARA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (120.918 KB)

Abstract

Pada akhir tahun 1998 lalu Haneen Sayed, John Newman dan Peter Morrison  dibantu oleh puluhan pakar  atas nama Bank Dunia  membuat laporan pendidikan tentang Indonesia dengan judul 'Edu-cation in Indonesia : From Crisis to Recovery'.  Dari laporan yang terdiri dari tujuh bab tersebut dan saya sempat diminta memberikan komentar sebelum diluncurkan secara resmi  hampir tak ada kalimat yang menunjukkan keberhasilan pendidikan di Indonesia.  Inti dari laporan itu menyatakan bahwa pelaksanaan dan hasil pendidikan di Indonesia belum atau tidak memuaskan: unsatisfactory.       Krisis ekonomi yang melanda Indonesia semenjak pertengahan tahun 1997 benar-benar berdampak buruk terhadap pendidikan kita yang secara kuantitatif dapat dilihat dari  semakin tingginya angka putus sekolah, menurunnya tingkat partisipasi pendidikan, semakin banyaknya mahasiswa yang mengambil cuti kuliah, dan sebagainya.       Beberapa bulan kemudian muncul dua publikasi yang banyak diacu oleh para pakar pendidikan dan pemimpin negara.  Yang per-tama, UNDP menerbitkan satu laporan berjudul 'Human Development Report 1999'; dan yang kedua WEF menerbitkan laporan yang bertitel 'Global Competitiveness Report 1999'.         Kedua laporan tersebut  memang tidak secara eksplisit menulis mengenai kegagalan pendidikan di Indonesia;  akan tetapi secara tidak langsung memang menyatakan hal yang demikian. Dari laporan UNDP diketahui  bahwa Indonesia hanya ada di urutan ke-105 dari 174 negara dalam hal pembangunan manusianya;  dan kita berada di bawah Singapura (22), Brunei (25), Malaysia (56), dsb. Sementara itu dari laporan WEF diketahui bahwa Indonesia hanya berada pada ranking ke-37 dari 59 negara dalam hal daya saing; dan kita ada di bawah Singapura (1), Malaysia (16), Thailand (30), dsb.       Berbagai laporan tersebut  sesungguhnya hanya  merupakan sebagian kecil dari informasi atau data yang menunjukkan kebelum-berhasilan pelaksanaan dan sekaligus hasil pendidikan kita. Dan apabila dicermati lebih lanjut,  sesungguhnyalah kebelumberhasilan pendidikan kita itu tidak hanya terjadi setelah krisis ekonomi. Jauh sebelum ada krisis pendidikan nasional kita memang payah; lamban, kurang dinamis dan sarat kasus. Sekarang tiba saatnya pendidikan nasional Indonesia dibenahi; tidak secara parsial dan sporadis akan tetapi secara total dan simultan.
PROBLEMA KLASIK SEKOLAH DASAR Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2004: MAJALAH FASILITATOR
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (125.469 KB)

Abstract

       Kalau dihitung lama waktunya, bangsa Indonesia sudah merdeka lebih dari setengah abad. Bangsa yang sudah merdeka lebih dari setengah abad biasanya sudah mampu menyelesaikan masalah-masalah elementer yang dihadapinya. Tetapi ternyata bangsa Indonesia belum mampu melakukan-nya, setidak-tidaknya dalam dunia pendidikan, utamanya pendidikan dasar.          Beberapa waktu lalu Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Depdiknas, Sungkowo, mengatakan sebanyak 535.825 dari sekitar 900.000 ruang kelas SD di tanah air dalam kondisi rusak. Penyebab kerusakan ruang kelas tersebut adalah karena termakan usia, bencana alam, serta adanya aksi perusakan dan pembakaran di daerah konflik. Selanjutnya diakui bahwa ruang kelas yang kondisinya rusak tersebut memang sudah cukup berumur; gedungnya dibangun tahun 70 s/d 80-an ketika pemerintah menggalakkan pembangunan SD Inpres.          Tentu kita berhak sedih mendengar pernyataan itu. SD yang nota bene merupakan bagian pendidikan dasar adalah pondasi pendidikan nasional kita. Bagaimana mungkin pendidikan kita dapat bermutu kalau ruang kelas SD-nya rusak; bagaimana SDM kita berkualitas apabila pendidikannya saja tidak bermutu; dan bagaimana bangsa kita dapat bersaing dengan bangsa lain kalau SDM-nya tidak berkualitas.
MEMILIH MAHATHIR-NYA INDONESIA Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2008: HARIAN JAWA POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (104.852 KB)

Abstract

Mahathir Mohamad bukanlah Tokoh Pendidikan Malaysia sekaliber Ki Hadjar Dewantara di Indonesia. Disebut tokoh pendidikan pun barangkali tidak tepat benar; namun kepemahamannya tentang pendidikan di Malaysia tentu tidak diragukan.  Sebelum menjadi perdana menteri selama 22 tahun, dari 16 Juli 1981 s/d 31 Oktober 2003, ia menyatakan perlunya Malaysia mengirim pemuda mengikuti pendidikan ke manca negara dan menariknya kembali untuk membangun bangsa. Meski awalnya banyak yang menentang tetapi akhirnya banyak orang menyetujuinya. Mahathir pun dipercaya menjadi Menteri Pendidikan Malaysia pertengahan tahun 70-an. Karena prestasinya sangat meyakinkan maka ia diangkat menjadi Deputi Perdana Menteri sebelum akhirnya menjadi Perdana Menteri.  Semasa Mahathir memimpin Malaysia mengalami kemajuan pesat. Di sisi politik, sampai kini Malaysia ?dienggani? negara-negara Barat termasuk AS; dari sisi ekonomi, Malaysia merupakan negara di Asia Tenggara yang paling awal bangkit dari krisis tahun 1987; dan dari sisi pendidikan, Malaysia telah meninggalkan Indonesia yang sempat menjadi gurunya. Kunci keberhasilan Mahathir? Memajukan negara melalui pendidikan. Ia berani mengalokasi anggaran pendidikan di atas 20 persen dari anggaran negara (total government expenditure). Ia pun berani ambil risiko. Dengan anggaran tersebut ternyata pendidikan Malaysia mengalami kemajuan luar biasa yang berimplikasi pada kemajuan negara.
EMPAT TANTANGAN ILMUWAN SOSIAL KITA Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1998: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (124.685 KB)

Abstract

       Dari momentum pelantikan pengurus  Himpunan Indonesia untuk Pengembangan Ilmu-Ilmu Sosial (HIPIIS) Propinsi DIY  periode 1998 s/d 2001 tanggal 21 Februari 1998 terkonklusi terdapatnya empat tan-tangan bagi ilmuwan sosial Indonesia sekarang ini;  pertama, tuntutan peran yang makin tinggi dalam sistem pembangunan nasional, kedua, tuntutan daya prediksi yang makin kuat, ketiga,  tuntutan daya antisipasi yang makin solid,  serta keempat,  tuntutan penjagaan jarak yang tepat dengan pihak penguasa.       Keempat tuntutan itulah yang sekarang ini secara simultan menja-di tantangan yang menarik bagi ilmuwan sosial di Indonesia. Apabila akhir-akhir ini sering muncul kritik tajam dan terkadang sinisme yang dialamatkan kepada para ilmuwan sosial,  hal itu disebabkan adanya anggapan belum terpenuhinya keempat tuntutan tersebut sampai pada tahap memuaskan masyarakat.       Di tengah-tengah kritik tajam dan sinisme yang muncul, sebenar-nya tuntutan makin tingginya peran para ilmuwan sosial  dalam sistem pembangunan nasional kiranya justru menempatkan sosok ilmuwan (dan ilmu) sosial itu sendiri dalam singgasana yang terhormat.  Hal ini bukan saja ada pada tataran praktek bermasyarakat (social behavior), akan tetapi dalam tataran teori (sociology) pun telah terkembangkan kaidah-kaidah seperti itu.  Bahkan kaidah-kaidah yang berkembang di masyarakat (praktek) itu sangat sering sudah terbahas sebelumnya di dalam domein teori.       Dalam bukunya "Theory Building in Sociology" (1989),  Jona-than H. Turner menyatakan  bahwa semakin maju suatu masyarakat di satu tempat tertentu makin diperlukan peran ilmuwan sosial di tempat tersebut.  Hal yang senada juga dinyatakan oleh Karen S. Cook dalam bukunya "Social Exchange Theory" (1990) bahwa "kemetropolisan" masyarakat menuntut peran ilmuwan sosial yang lebih.
KUIS DAN FILM KERAS DI TELEVISI Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1995: HARIAN PIKIRAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (183.437 KB)

Abstract

       Pernyataan Menteri Penerangan Harmoko bahwa penyelenggara undian termasuk kuis di televisi yang tidak meminta ijin ke Departemen Sosial (Depsos) dapat dikenai ancaman kurungan ataupun denda ternyata mengundang respon dari banyak pihak. Pasalnya, sekarang ini acara kuis memang termasuk banyak digemari pemirsa televisi; dan oleh karenanya pihak televisi pun seolah-olah saling berlomba untuk dapat membuat dan menayangkan acara kuis andalan.          Sekedar ilustrasi; bila TVRI sebagai televisi pemerintah memiliki kuis andalan 'Berpacu Dalam Melodi',  maka RCTI memiliki 'Tak Tik Boom'.  Sementara itu TPI, SCTV, dan Indosiar masing-masing punya kuis andalan 'Benyamin Show', 'Bulan Madu', dan 'Rezeki Ramadhan'. Ini sekedar ilustrasi;  dalam kenyataannya setiap stasiun televisi, pemerintah maupun swasta,  umumnya memiliki lebih dari satu jenis kuis andalan. Dalam kenyataannya pula kuis yang ditayangkan oleh televisi ada yang bersifat undian murni, bahkan ada yang menilai terdapat kuis yang mengandung unsur judi. Barangkali karena ini pulalah yang membuat Pak Harmoko merasa perlu untuk memberi  statement mengenai penyelenggaraan kuis dan undian di televisi.          Apakah semua kuis di televisi itu mengandung judi?  Tentu tidak! Memang tak semua kuis mengandung unsur judi; tetapi dikhawatirkan ada kuis mengandung judi. Pada kenyataannya memang ada kuis yang lebih bersifat undian murni, misalnya saja 'Si Doel Anak Sekolahan' (RCTI) dan 'Benyamin Show' (TPI).  Bagi yang setuju undian murni itu mengandung unsur judi maka kuis-kuis itu akan dianggap mengandung unsur judi.
KRITERIA BARU UJIAN NASIONAL SUPRIYOKO, KI
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2009
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (100.206 KB)

Abstract

Bersama dengan Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas), Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) membuat keputusan mengenai pelak-sanaan Ujian Nasional (UN). Keputusan mengenai pelaksanaan UN ini di samping menyangkut waktu dan mata pelajaran juga menyangkut kriteria kelulusan; tiga hal yang sangat ditunggu-tunggu oleh pihak sekolah.          Menurut keterangan Ketua BSNP, Mungin Eddy Wibowo, UN tahun ini akan dilaksanakan pada tanggal 20 s/d 24 April untuk satuan SMA dan MA, 20 s/d 22 April untuk satuan SMK, dan 27 s/d 30 April untuk satuan SMP dan MTs. Sementara itu pelaksanaan ujian susulan akan dilakukan pada tanggal 27 April /d 1 Mei untuk satuan SMA dan MA, 27 s/d 29 April untuk satuan SMK, dan 4 s/d 7 Mei untuk satuan SMP dan MTs.          Kriteria kelulusan UN dinaikkan 0,25 dibandingkan dengan tahun lalu. Peserta UN SMA, MA, SMP dan Mts dinyatakan lulus jika memiliki nilai rata-rata minimal 5,50 untuk seluruh mata pelajaran yang diujikan. Adapun nilai minimal 4,00 untuk paling banyak dua mata pelajaran dan minimal 4,25 untuk mata pelajaran lainnya.
TOKO KELONTONG ITU BERNAMA PTN Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2002: HARIAN KOMPAS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (98.81 KB)

Abstract

         Sungguh menarik  apa yang dikemukakan menteri pendidikan nasional, Malik Fadjar, di hadapan para pimpinan Perguruan Tinggi Negeri (PTN) se Indonesia baru-baru ini. Beliau dengan cermatnya  mengemukakan kekecewaannya terhadap perkembangan PTN  di ne-gara kita akhir-akhir ini  yang mirip dengan toko kelontong. PTN kita semakin mengecil dan berkeping-keping  dengan telah membuka dan sekaligus menawarkan aneka program studi jangka pendek dan program ekstensi.          Keadaan seperti itu mengakibatkan tidak terbentuknya gerak "ke luar" yang akan memberikan kekuatan antisipasi dan partisipasi dalam menjembatani berbagai bentuk kesenjangan, khususnya dalam bidang pengembangan SDM.          Apa yang dikemukakan oleh Pak Malik Fadjar tersebut dapat kita tanggapi sebagai otokritik bagi lembaga departemen pendidikan nasional, khususnya pendidikan tinggi, beserta para pengambil kebijakan didalamnya.  Apa yang dikemukakan beliau  memang banyak benarnya karena dalam realitanya sekarang banyak PTN yang tidak malu-malu lagi ngopeni program jangka pendek seperti D2, program ekstensi seperti kelas malam dan juga program "off campus" seperti kelas jauh  yang sering dilakukan tidak proporsional dalam konteks pengembangan keilmuan.          Atas aktivitas tersebut  banyak pengelola  Perguruan Tinggi Swasta (PTS) yang mengomentari PTN sebagai badan yang serakah, rakus dan kata-kata nonilmiah yang lainnya. Lepas dari sejauhmana kebenarannya, aktivitas PTN yang seperti itu dianggap telah merebut ladang subur yang selama ini menjadi kapling PTS.
MASUK SEKOLAH BEBAS NARKOBA Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2000: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (101.603 KB)

Abstract

Setelah momentum Ebtanas berlalu,  sekarang ini konsentrasi masyarakat  beralih dan terfokus kepada penerimaan siswa baru di sekolah; SD, SLTP, SMU dan SMK.  Momentum akademis yang ber-langsung pada awal bulan Juli tahun 2000 ini cukup membikin repot para calon siswa baru dan orang tuanya.  Dari hari per hari, bah-kan dari jam per jam  mereka mencari informasi baru sekaligus juga memantau perkembangannya  agar supaya strategi  yang diterapkan cukup tepat sehingga dapat meraih sekolah yang bermutu baik.       Dengan diberlakukannya sistem penerimaan siswa baru  ber-dasarkan Nilai Ebtanas Murni (NEM), khususnya di SLTP dan SMU, maka strategi mendaftarkan diri menjadi sangat penting. Maksudnya pada hari apa, jam berapa dan menit ke berapa formulir pendaftaran beserta daftar NEM asli  dimasukkan kembali  pada pihak panitia  penerimaan siswa baru di sekolah  akan sangat menentukan diterima atau tidaknya seseorang calon menjadi siswa baru di sekolah yang diinginkan. Sudah barang tentu tinggi dan rendahnya NEM itu sen-diri juga menjadi determinan.        Apabila ada seorang calon  yang keliru menerapkan strategi, bukan tidak mungkin ia akan mendapatkan sekolah yang kualitasnya biasa-biasa saja atau bahkan berkualitas rendah meskipun NEM-nya tinggi.  Pengalaman dalam beberapa tahun terakhir ini membuktikan banyaknya calon siswa yang NEM-nya lebih tinggi  justru mendapat sekolah yang mutunya lebih rendah;  sebaliknya banyak juga calon siswa  yang NEM-nya lebih rendah tetapi justru memperoleh sekolah yang kualitasnya lebih tinggi.       Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya,  penerimaan siswa baru sekarang ini disemarakkan dengan isu narkotika dan obat-obat terlarang lainnya (narkoba).  Konon,  ada sekolah-sekolah tertentu yang sudah mensyaratkan bebas narkoba bagi salon siswa barunya, ada yang belum sama sekali,  akan tetapi ada yang posisinya masih menunggu petunjuk dari atas.Trouble Maker
POTENSI KELOMPOK MINORITAS INDONESIA Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1986: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (103.914 KB)

Abstract

Pameran Kedirgantaraan Indonesia 86 atau Indonesian Air Show (IAS 86) saat ini tengah menjadi pusat perhatian para teknokrat di seluruh dunia, khususnya para teknorat Indonesia. Betapa tidak, pameran kedirgantaraan ini disamping menjadi arena promosi 'kelas tinggi' juga merupakan ajang pertunjukan dan persaingan produk teknologi canggih kedirgantaraan yang melibatkan negara-negara maju. IAS 86 diikuti oleh 235 perusahaan dari 22 negara yang berusaha untuk mempromosikan produknya sebaik mungkin, baik yang berupa helikopter, pesawat sipil sampai pesawat tempur. Berbagai perusa-haan penerbangan yang punya "nama besar" pun banyak yang berpartisipasi di dalamnya, misalnya Boeing, MBB, Fokker, Grumman, dan sebagainya. Untuk dapat me"manage" pameran tersebut dengan sempurnapun rupanya sudah diperlukan "teknologi cang-gih", hal ini terbukti tidak setiap negara mampu menyelenggarakan kegiatan serupa. Namun yang lebih membanggakan adalah Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) "milik" Indonesia mampu bersaing di dalamnya. Akhirnya banyak pesanan yang datang dari berbagai negara kepada IPTN untuk produk pesawat jenis-jenis tertentu. Dari segi ekonomis tentu saja hal ini dapat meningkatkan devisa negara, sedangkan dari segi teknologis hal ini merupakan pengakuan bangsa lain terhadap penguasaan teknologi canggih bangsa kita.