Claim Missing Document
Check
Articles

Found 34 Documents
Search

REPRESENTASI EMOSI DAN MAKNA RELIGIUS DALAM TUTURAN ENZY STORIA PADA PODCAST “DANIEL TETANGGA KAMU”: KAJIAN PSIKOLINGUISTIK Tachi, Lely Nur; Suroso, Eko
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v5i4.7827

Abstract

This research aims to analyze the representation of emotions and religious meanings in Enzy Storia's speech on the Daniel Neighbor Kamu podcast episode "Through Tahajud Prayer, Enzy Storia Receives God's Miracles?". This study is based on a psycholinguistic approach that focuses on the relationship between the speaker's psychological processes and linguistic forms in oral communication. The research data was in the form of a transcript of a conversation between Enzy Storia and Daniel Mananta which was analyzed qualitatively descriptively with the technique of interpreting the meaning and context of speech. The results of the study showed that Enzy's linguistic expression reflected multi-layered emotional dynamics, starting from confusion, sadness, to the achievement of spiritual calm. Diction choices such as "I'm sincere" and "Oh Allah, if this is my way" show a change in self-perception from the crisis phase to religious acceptance. Through language, Enzy emphasizes the shift in emotional orientation from suffering to sincerity, as well as showing the function of language as a medium of psychological healing. This research proves that religious language is not only a means of expression of faith, but also a therapeutic instrument that helps individuals reorganize emotional and spiritual balance. Thus, Enzy's speech becomes an authentic representation of the relationship between language, emotions, and faith that reinforce each other in modern human communication. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan menganalisis representasi emosi dan makna religius dalam tuturan Enzy Storia pada podcast Daniel Tetangga Kamu episode “Lewat Doa Tahajud, Enzy Storia Terima Mujizat Tuhan?”. Kajian ini berlandaskan pendekatan psikolinguistik yang menitikberatkan pada hubungan antara proses psikologis penutur dan bentuk linguistik dalam komunikasi lisan. Data penelitian berupa transkrip percakapan antara Enzy Storia dan Daniel Mananta yang dianalisis secara kualitatif-deskriptif dengan teknik interpretasi makna dan konteks tuturan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekspresi linguistik Enzy mencerminkan dinamika emosi yang berlapis, dimulai dari kebingungan, kesedihan, hingga pencapaian ketenangan spiritual. Pilihan diksi seperti “aku ikhlasin aja” dan “Ya Allah, kalau memang ini jalan aku” menunjukkan perubahan persepsi diri dari fase krisis menuju penerimaan religius. Melalui bahasa, Enzy menegaskan pergeseran orientasi emosional dari penderitaan menjadi keikhlasan, serta memperlihatkan fungsi bahasa sebagai media penyembuhan psikologis. Penelitian ini membuktikan bahwa bahasa religius tidak hanya sarana ekspresi keimanan, tetapi juga instrumen terapeutik yang membantu individu menata kembali keseimbangan emosional dan spiritual. Dengan demikian, tuturan Enzy menjadi representasi autentik hubungan antara bahasa, emosi, dan iman yang saling memperkuat dalam komunikasi manusia modern.
PENGUATAN KARAKTER ANTI BULLYING MELALUI IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN FABEL DIGITAL PADA SISWA SMP Mashudi, Mashudi; Suroso, Eko
SECONDARY: Jurnal Inovasi Pendidikan Menengah Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/secondary.v5i4.7679

Abstract

ABSTRACT Cases of non-physical bullying (verbal and relational) that are difficult to detect remain a major issue at SMP Negeri 3 Kawunganten. Students’ reluctance to report incidents makes it challenging for the school to monitor covert bullying behaviors. Pre-observation results from five classes (7A–7E) revealed a discrepancy between the low number of reports on physical bullying and the high occurrence of non-physical bullying, while the school lacks a specific instructional program focused on bullying prevention. Based on these problems, this study aims to examine the process and effectiveness of implementing Digital Fable Learning as an intervention to strengthen anti-bullying character. This research employed a qualitative case study approach using observation, interviews, and documentation. The intervention used a digital fable titled “The Patient Duck”, implemented through three stages: planning, implementation, and reflection/follow-up. The findings indicate that digital fable learning is an effective and structured method for developing anti-bullying character. The intervention strengthened five core character aspects: empathy, respect and tolerance, responsibility, self-control, and moral courage. The conflict narratives in the fable stimulated students’ affective and cognitive awareness and encouraged bystander moral responsibility to report incidents and act fairly. These outcomes help the school identify non-physical bullying cases that are often hidden. The study recommends integrating digital fable learning into the curriculum and supporting it with a more structured digital reporting system. ABSTRAK Kasus bullying nonfisik (verbal dan relasional) yang sulit terdeteksi masih menjadi persoalan utama di SMP Negeri 3 Kawunganten. Minimnya keberanian siswa untuk melaporkan insiden membuat sekolah kesulitan memantau perilaku bullying yang bersifat terselubung. Hasil pra-observasi pada lima kelas (7A–7E) menunjukkan adanya ketidaksesuaian antara rendahnya laporan bullying fisik dan tingginya kasus bullying nonfisik, sementara sekolah belum memiliki program pembelajaran spesifik yang berfokus pada pencegahan bullying. Berdasarkan permasalahan tersebut, penelitian ini bertujuan mengkaji proses dan efektivitas implementasi Pembelajaran Fabel Digital sebagai intervensi penguatan karakter anti-bullying. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif jenis studi kasus dengan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Intervensi dilakukan melalui fabel digital “Bebek yang Sabar” yang diterapkan dalam tiga tahap: perencanaan, pelaksanaan, serta refleksi dan tindak lanjut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran fabel digital merupakan metode yang efektif dan terstruktur dalam membangun karakter anti-bullying. Intervensi ini memperkuat lima aspek karakter utama, yakni empati, respek dan toleransi, tanggung jawab, kontrol diri, dan keberanian moral. Narasi konflik dalam fabel mampu memicu kesadaran afektif dan kognitif siswa, serta mendorong tanggung jawab moral saksi (bystander responsibility) untuk melapor dan bertindak adil. Temuan ini membantu sekolah dalam mengidentifikasi kasus bullying nonfisik yang selama ini sulit terlihat. Penelitian merekomendasikan integrasi pembelajaran fabel digital ke dalam kurikulum serta dukungan sistem pelaporan digital yang lebih terstruktur.
ANALISIS KESALAHAN BERBAHASA DALAM TEKS DESKRIPSI KARYA SISWA SMP CILACAP DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA Handayani, Wuri; Suroso, Eko
SECONDARY: Jurnal Inovasi Pendidikan Menengah Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/secondary.v5i4.7805

Abstract

This study aims to identify the types of language errors found in students’ descriptive texts, examine the contributing factors, and explain their implications for Indonesian language learning. The research was conducted at SMP Negeri 7 Cilacap using a descriptive qualitative approach and a content analysis method applied to 64 descriptive texts written by ninth-grade students. The data were collected through documentation and analyzed through several stages, including error detection, categorization of deviations, interpretation of causal factors, and formulation of pedagogical implications. The findings indicate that the students' language errors fall into four major categories: spelling errors (37.8%), inappropriate word choice (25%), sentence structure errors (23.2%), and issues related to cohesion and coherence (14%). These errors arise from internal factors, such as limited linguistic mastery, interference from the first language, and low motivation to write. External factors, including teaching practices that focus primarily on the final product, limited writing exercises, and insufficient feedback, also contribute to the frequency of errors. These results highlight the need to strengthen writing instruction, particularly through strategies that incorporate error analysis, authentic assessment rubrics, and a process-oriented writing approach that guides students in revising and reflecting on their work. Overall, the study emphasizes that mapping language errors can serve as a basis for improving students’ linguistic competence in producing descriptive texts. ABSTRAKPenelitian ini bertujuan mengungkap ragam kesalahan berbahasa dalam teks deskripsi karya siswa SMP, menelaah faktor yang melatarbelakanginya, serta menjabarkan dampaknya terhadap proses pembelajaran Bahasa Indonesia. Kajian dilakukan di SMP Negeri 7 Cilacap melalui pendekatan deskriptif kualitatif dengan teknik analisis isi terhadap 64 teks deskripsi siswa kelas IX. Data diperoleh melalui dokumentasi kemudian dianalisis melalui tahapan penelusuran kesalahan, pengelompokan bentuk penyimpangan, penafsiran penyebab, dan penentuan konsekuensi pedagogis. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa kesalahan bahasa yang muncul mencakup empat kategori utama, yaitu ejaan sebesar 37,8%, pemilihan kata 25%, struktur kalimat 23,2%, serta kohesi dan koherensi 14%. Sumber kesalahan dipengaruhi oleh faktor internal berupa keterbatasan penguasaan bahasa, campur tangan bahasa pertama, serta motivasi menulis yang belum optimal. Selain itu, faktor eksternal seperti pola pembelajaran yang menitikberatkan pada produk akhir, minimnya kesempatan berlatih, dan kurangnya umpan balik juga berperan dalam meningkatkan frekuensi kesalahan. Temuan ini memberikan gambaran penting bagi penguatan pembelajaran menulis, khususnya melalui penerapan strategi yang menekankan analisis kesalahan, perancangan rubrik penilaian yang lebih autentik, serta penerapan tahapan menulis yang menuntun siswa merevisi dan merefleksi hasil tulisannya. Secara keseluruhan, penelitian ini menegaskan bahwa pemetaan kesalahan berbahasa dapat menjadi dasar untuk meningkatkan kompetensi kebahasaan siswa dalam menyusun teks deskripsi.
BAHASA TRAUMA: PADA KEHIDUPAN MIRIS FAREL PRAYOGA DALAM PODCAST DENNY SUMARGO UNGGAHAN YOUTUBE JULI 2025 Haryanto, Fahrani Almira Rizkya; Suroso, Eko
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i3.7585

Abstract

The phenomenon of psychological trauma revealed through language is an important issue in modern psycholinguistic studies. Language not only serves as a means of communication, but also as a container of inner expression that reflects emotional wounds and the process of self-healing. This research is motivated by the phenomenon of Farel Prayoga's speech in the podcast Curhat Bang Denny Sumargo, which shows typical linguistic symptoms of trauma such as interrupted speech, euphemisms, and changes in intonation and facial expressions. This case shows how traumatic experiences can affect language systems and become a form of unconventional emotional communication. This study aims to describe the forms of trauma language that appear in Farel Prayoga's speech, analyze its relationship with the speaker's psychological condition, and interpret the role of language as a means of self-reconstruction and trauma recovery. The method used is qualitative descriptive with a narrative psycholinguistic approach, using Cathy Caruth's narrative trauma theory as an analytical framework. Data were collected through Miles and Huberman's observation, transcription, and interactive analysis, taking into account verbal (sentence structure, word choice, prosody) and nonverbal (facial expressions, gestures, intonation) aspects. The results of the study showed that trauma is manifested through fragmentary linguistic patterns, word repetition, and procedural irregularities that indicate emotional burden. The choice of euphemisms and long pauses becomes a self-defense mechanism, while body gestures and facial expressions reinforce indications of trauma that have not been fully integrated in consciousness. Language in this context not only represents wounds, but also becomes a therapeutic space (healing discourse) in which individuals try to rearrange the meaning of their lives. Theoretically, this research expands the study of psycholinguistics by integrating the concept of narrative trauma in the context of digital communication. Practically, these findings have implications for the development of narrative therapy, language education, and emotional literacy in society. In conclusion, language is not just a cognitive action, but a therapeutic process that allows humans to face, process, and heal trauma through the power of speech. ABSTRAK Fenomena trauma psikologis yang diungkap melalui bahasa menjadi isu penting dalam kajian psikolinguistik modern. Bahasa tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai wadah ekspresi batin yang mencerminkan luka emosional dan proses penyembuhan diri. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh fenomena tuturan Farel Prayoga dalam podcast Curhat Bang Denny Sumargo, yang memperlihatkan gejala linguistik khas trauma seperti tuturan terputus, eufemisme, serta perubahan intonasi dan ekspresi wajah. Kasus ini menunjukkan bagaimana pengalaman traumatik dapat memengaruhi sistem bahasa dan menjadi bentuk komunikasi emosional nonkonvensional. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk-bentuk bahasa trauma yang muncul dalam tuturan Farel Prayoga, menganalisis kaitannya dengan kondisi psikologis penutur, serta menafsirkan peran bahasa sebagai sarana rekonstruksi diri dan pemulihan trauma. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan psikolinguistik naratif, menggunakan teori trauma naratif Cathy Caruth sebagai kerangka analisis. Data dikumpulkan melalui observasi, transkripsi, dan analisis interaktif Miles dan Huberman, dengan mempertimbangkan aspek verbal (struktur kalimat, pilihan kata, prosodi) dan nonverbal (mimik wajah, gestur, intonasi). Hasil penelitian menunjukkan bahwa trauma terwujud melalui pola linguistik yang fragmentaris, pengulangan kata, serta ketidakteraturan prosodi yang menandakan beban emosional. Pilihan eufemisme dan jeda panjang menjadi mekanisme pertahanan diri, sementara gestur tubuh dan ekspresi wajah memperkuat indikasi trauma yang belum terintegrasi secara utuh dalam kesadaran. Bahasa dalam konteks ini tidak hanya merepresentasikan luka, tetapi juga menjadi ruang terapeutik (healing discourse) di mana individu berusaha menata kembali makna hidupnya. Secara teori, penelitian ini memperluas kajian psikolinguistik dengan mengintegrasikan konsep trauma naratif dalam konteks komunikasi digital. Secara praktis, temuan ini memberikan implikasi bagi pengembangan terapi naratif, pendidikan bahasa, dan literasi emosional di masyarakat. Kesimpulannya, berbahasa bukan sekadar tindakan kognitif, melainkan proses terapeutik yang memungkinkan manusia menghadapi, mengolah, dan menyembuhkan trauma melalui kekuatan tutur.