Claim Missing Document
Check
Articles

Karakteristik Termal-Produktivitas Heat Exchanger untuk Tungku Sekam Padi pada Pengeringan Cabai Ida Bagus Alit; I Gede Bawa Susana
Jurnal Riset Teknologi Industri Vol.15 No.2 Desember 2021
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26578/jrti.v15i2.6923

Abstract

Pengeringan dengan metode menjemur di bawah sinar matahari merupakan salah satu cara pengawetan bahan pangan yang mudah dan murah. Kelemahan metode ini diantaranya tergantung pada cuaca; rentan terpapar kotoran, debu, dan gangguan binatang. Pengeringan produk hasil pertanian dengan menjemur di bawah sinar matahari menimbulkan kondisi suhu sulit dikontrol karena sangat tergantung intensitas radiasi matahari, sehingga berdampak terhadap lama pengeringan. Oleh karenanya pengeringan buatan menjadi salah satu alternatif yang tepat untuk menggantikan pengeringan konvensional tersebut. Solusi dari kondisi ini yaitu menambahkan heat exchanger pada tungku pembakaran sekam padi. Model ini berfungsi sebagai alat pengering bahan pangan. Hasil pengujian menunjukkan rata-rata temperatur keluar heat exchanger mencapai 76,58o C dengan rentang 44,64-117,29o C. Temperatur ini merupakan hasil perpindahan panas pembakaran sekam padi dengan udara lingkungan yang mengalir ke dalam pipa-pipa heat exchanger. Temperatur keluar heat exchanger ini sebagai temperatur untuk mengeringkan bahan pangan di dalam ruang pengering dan dalam penelitian ini menggunakan sampel uji cabai merah. Rata-rata temperatur pengeringan mencapai 57,34o C dengan rentang 31,69-92,57o C. Karakteristik termal seperti ini mampu meningkatkan penurunan rata-rata kadar air bahan mencapai 10,47%. Kadar air awal bahan adalah 85% dengan lama waktu pengeringan 660 menit. Tingkat produktivitas meningkat sebesar 83,44% dibandingkan dengan menjemur di bawah sinar matahari.
Evaluasi pengeringan kunyit menggunakan pengering rak vertikal sumber energi sekam padi metode konveksi paksa Ida Bagus Alit; I Gede Bawa Susana
AGROINTEK Vol 16, No 3 (2022)
Publisher : Agroindustrial Technology, University of Trunojoyo Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/agrointek.v16i3.13551

Abstract

The drying process carried out in the open is prone to exposure to dust and animal waste. In addition, it takes a long time and is very dependent on the weather. The purpose of this research is to thermally evaluate a forced convection type vertical shelf dryer using rice husk energy using a single furnace model. This is done through the conversion of rice husks into thermal using a heat exchanger. Rice husks are burned directly in a furnace equipped with heat exchange pipes. This pipe functions to circulate heated environmental air into the drying chamber with the help of an exhaust fan. The test was carried out to dry a sample of white turmeric with a mass of 3191 grams for 600 minutes. The sample mass is evenly distributed on 4 vertical shelves in the drying chamber. The test results show that the ambient temperature increased by an average of 73.57%, namely from 28.57oC to 49.58oC. This temperature is the average temperature that occurs in the drying chamber in the turmeric drying process. The average drying temperature on each shelf differs depending on the distance from the heat source. On shelves 1, 2, 3, and 4, respectively, they are 54.21oC, 50.93oC, 47.62oC, and 45.57oC. Overall, the water content of white turmeric after drying reached 6.335% from the initial water content of 79.6%. The average efficiency of the dryer is 32.97%. During the drying process, there is a decrease in efficiency. This is because the energy absorbed by white turmeric decreases due to reduced water content.    This dryer model can be used as an alternative in post-harvest handling for small farmers that is energy efficient and sustainable.
Thermal Performance Evaluation of the Variation of Condenser Dimensions for Foodstuffs Transportation Cooling Systems I Gede Bawa Susana; I Gede Santosa
Logic : Jurnal Rancang Bangun dan Teknologi Vol. 21 No. 3 (2021): November
Publisher : Unit Publikasi Ilmiah, P3M, Politeknik Negeri Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (629.194 KB) | DOI: 10.31940/logic.v21i3.184-189

Abstract

The process of sending food using transportation requires a refrigeration system to keep the product fresh. Unsuitable temperatures will cause the transported products to often experience damage so that they are rejected in the mark. To achieve this, it is done through testing using a condenser with several variations of dimensions for a room temperature of 5oC. The dimensions of condenser-1 are (W 23 x H 14) inch2 x 19 mm, condenser-2 is (W 23 x H 14) inch2 x 26 mm, and condenser-3 is (W 23 x H 14) inch2 x 44 mm. The test results show that condenser-3 produces a faster cooling time compared to condenser-2 and condenser-1. Cooling time for condenser-3 is 1160 minutes, while condenser-2 and condenser-1 are 1560 minutes and 1860 minutes, respectively. Condenser-3 provides the lowest compression work of 42.131 kJ/kg compared to condensers 2 and 1, respectively 42.931 kJ/kg, and 46.147 kJ/kg. This has an impact on the COP value, namely condenser-3, condenser-2, and condenser-1 each of 3.437, 3.233, and 2.845. COP at condenser-3 occurs the highest. These results indicate that the largest condenser dimension gives the most optimum thermal performance results. An efficient refrigeration system has low compression work and high COP.
Pemberdayaan Masyarakat di Pemukiman Pingir Sungai Desa Sandik Melalui Penerapan Teknologi Pembuatan Batako Berpenguat Serat Ijuk S. Sujita; I. B. Alit; I.G. B. Susana
JURNAL KARYA PENGABDIAN Vol 1, No 3 (2019): Oktober, Jurnal Karya Pengabdian
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (444.523 KB)

Abstract

Desa Sandik adalah salah satu desa di wilayah Kabupaten Lombok Barat,  Propinsi Nusa Tenggara Barat  yang  masyarakatnya rata-rata hidup dibawah garis kemiskinan dan jumlah penganggurannya terbanyak, akibat dampak pemulangan TKI yang bekerja di Malaysia. Penduduk di daerah ini mata pencahariannya adalah sebagai  penyadap aren, membuat kerajinan dari ijuk (sapu, keset) dan penambang pasir, batu kerikil di sungai yang mengalir sepanjang Dusun Perempung, Midas dan Kayangan. Tujuan khusus dari kegiatan KKN-PPM yang akan dilaksanakan adalah untuk mengatasi masalah yang berkaitan dengan kurangnya ketersediaan material  bahan bangunan/batako, rendahnya pendapatan masyarakat, pengelolaan sumber daya alam   belum optimal. Dengan Target dan luaran yang ingin di capai dari kegiatan KKN- PPM ini adalah : peningkatan produksi, efisiensi biaya, perbaikan sistem, dan peningkatan partisipasi masyarakat untuk menangkap  peluang pasar produk batako yang masih terbuka. Metode yang digunakan dalam melakukan pemberdayaan kelompok sasaran adalah: Dengan menerapkan secara langsung teknologi pembuatan batako berpenguat serat ijuk. kepada khalayak sasaran mitra KKN-PPM (masyarakat Dusun Perempung, Midas, Kayangan) Desa Sandik Kecamatan Batulayar Kabupaten Lombok Barat. Kegiatan KKN-PPM  yang akan dilaksanakan selama 2.5 bulan, dilakukan oleh mahasiswa peserta sebanyak 30 orang dan dibimbing oleh Dosen Pembimbing Lapangan. Pembuatan batako berpenguat serat  ijuk yang akan diterapkan merupakan hasil penelitian Fakultas Teknik Mesin Universitas Atmajaya Yogyakarta. Berdasarkan penelitian Agus Wahyono,dkk, 2010. Penambahan 5%  serat ijuk pada adonan batako akan memberikan kualitas yang maksimal pada batako, daya ikat antara ijuk dan adonan (pasir, semen) seragam dan kekuatan tekan rata-rata mencapai 135 Kg, batako tanpa penguat ijuk kekuatan tekan rata-ratanya lebih rendah yaitu  90 Kg
Pengeringan Dodol Buah Skala Rumah Tangga Memanfaatkan Energi Alternatif Ida Bagus Alit; I Gede Bawa Susana; I.G.A.K. Chatur Adhi W.S.; I Made Mara; Sujita Sujita
JURNAL KARYA PENGABDIAN Vol 3, No 1 (2021): April, Jurnal Karya Pengabdian
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1255.579 KB)

Abstract

Energi alternatif sebagai sumber daya alam dapat digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.  Pemanfaatan energi tersebut dilakukan melalui penerapan teknologi yang murah dan mudah dipahami masyarakat. Salah satu pemanfaatannya adalah dalam proses pengeringan produk pertanian khususnya dodol buah. Hal ini dilakukan dengan menerapkan alat pengering menggunakan sumber energi biomassa sekam padi. Biomassa sekam padi dapat digunakan sebagai sumber energi untuk mengeringkan dodol buah melalui konversi energi termal. Hal ini berimplikasi pada proses pengeringan yang lebih singkat dan produk akhir lebih higienis karena tidak terkontaminasi debu atau kotoran lainnya. Dodol buah dikeringkan di dalam lemari tertutup.
Penerapan Media Pembelajaran Video untuk Meningkatkan Minat Belajar pada Siswa Kelas V Sekolah Dasar I Ketut Wiryajati; I Gede Bawa Susana; I Wayan Joniarta; I G.A.K. Chatur Adhi W.A.; I Ketut Perdana Putra
JURNAL KARYA PENGABDIAN Vol. 4 No. 2 (2022): Oktober, Jurnal Karya Pengabdian
Publisher : Jurusan Teknik Mesin FT Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1703.084 KB) | DOI: 10.29303/jkp.v4i2.131

Abstract

Keterbatasan waktu guru dalam proses pembelajaran menyebabkan guru di SDN 2 Batu Putih tidak menggunakan media yang menarik minat belajar siswa. Sehingga dibutuhkannya media yang menarik untuk meningkatkan minat belajar siswa seperti media pembelajaran video. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan minat belajar siswa dengan penerapan media pembelajaran video di kelas V SDN 2 Batu Putih Sekotong – Lombok Barat. Metode pengabdian yang digunakan adalah dengan melakukan sosialisasai dengan materi tanggap bencana. Hasil pengabdian menunjukan sosialisasi menggunakan video pembelajaran dapat meningkatkan minat belajar siswa dapat dilihat dari antusias siswa dalam mengikuti setiap kegiatan dan merespon pertanyaan yang diberikan. Rata-rata siswa menyukai gambar yang ditamilkan dalam bentuk animasi.
Disain Meja Ergonomis Mesin Poles untuk Perajin Perak di Desa Ungga, Kecamatan Praya Barat Daya, Kabupaten Lombok Tengah I Made Adi Sayoga; M. Mirmanto; I Gede Bawa Susana; I Made Mara; I Wayan Joniarta
JURNAL KARYA PENGABDIAN Vol 1, No 2 (2019): April, Jurnal Karya Pengabdian
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (743.149 KB)

Abstract

Desa Ungga, Kecamatan Praya Barat Daya, Lombok Tengah, merupakan sentra kerajinan perak yang mulai terkenal apalagi dengan adanya jalur Bypass bandara internasional Lombok. Produk  unggulan yaitu: Bros, cincin, giwang, tusuk konde, suweng (sejenis giwang), liontin, gelang, dan bros-liontin. Perhiasan-perhiasan itu berbahan kombinasi kulit kerang  mutiara yang dibentuk jadi oval, bundar, lonjong, segiempat, segitiga, dan setengah bundar kemudian di ikat / dibingkai dengan ornamen perak dikombinasi dengan mutiara sehingga menghasilkan produk kerajinan berkelas. Mitra PPM BOPTN dalam kegiatan yang diusulkan adalah JENs Creative,,, dengan pemilik Pak Jaelani,,,Permasalahan yang ditemui di tempat UKM di bidang produksi yaitu posisi kerja bagian pemolesan produk dilakukan dengan duduk bersila di lantai, sehingga kurang nyaman untuk kondisi kerja dalam waktu lebih dari 1 jam, Program PPM BOPTN ini telah berhasil memberi solusi kepada UKM atas ketidak nyamanan kerja saat pemolesan kerajinan perak dengan merancangkan dan mendesain meja poles yang bisa digunakan dengan nyaman oleh karyawan kerajinan perak sehingga tidak perlu duduk bersila lagi tetapi bisa duduk santai diatas kursi plastik berhadapan dengan mesin poles diatas meja poles yang dilengkapi dengan wadah penampung sisa-sisa perak yang lepas saat pemolesan sehingga perak yang mahal tersebut bisa digunakan kembali menjadi bahan baku baru untuk membuat produk kerajinan perak yang lain. itu perlu dicarikan solusi untuk mengatasi masalah tersebut yaitu merancang mesin poles yang dibuat berdasarkan konsep ergonomi dengan menggunakan data anthropometri  dari karyawan sehingga didapatlah ukuran Meja Mesin poles Kerajinan perak yang di rancang dengan konsep ergonomi ( dimensi : Tinggi meja 55 cm, tinggi Tutup atas meja 50 cm Panjang Meja 72 cm lebar meja 42 cm, sudah dilengkapi dengan grinda poles Kata kunci ; mesin poles, ergonomi, kerajinan perak
Penyuluhan dan Pelatihan Keselamatan Kerja Di Bengkel “UD. ICM” Desa Dasan Baru, Kecamatan Kediri, Kabupaten Lombok Barat Made Mara; Ida Bagus Alit; I Gede Bawa Susana; made Wirawan; I G.A.K. Chatur Adhi W. A.
JURNAL KARYA PENGABDIAN Vol 4, No 1 (2022): April, Jurnal Karya Pengabdian
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1936.275 KB)

Abstract

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini melibatkan karyawan UD. ICM yang sehari-harinya bekerja baik di bengkel maupun di lokasi proyek. Permasalahan kecelakaan kerja seperti luka pada jari dan tangan, terbentur benda keras, luka bakar dan jenis kecelakaan lainnya sering kali terjadi dan mengganggu produktivitas kerja. Hal ini disadari karena rendahnya pemahaman tentang keselamatan kerja di bengkel, abai akan keselamatan kerja sehingga berimbas pada tingginya kecelakaan kerja yang pada akhirnya menurunkan produktivitas kerja. Tujuan dari kegiatan ini pada dasarnya adalah meningkatkan kesadaran para pekerja akan pentingnya pemahanan bahaya dan meningkatkan kepedulian terhadap keselamatan kerja.. Metode yang dipakai dalam kegiatan ini adalah metode simulasi dan praktek langsung sehingga lebih mudah dipahami yang muaranya agar setiap pekerja membiasakan diri mengendalikan resiko bahaya di tempat kerja mereka masing-masing. Dalam kegiatan ini diawali dengan memberikan pemahaman dan pengenalan potensi bahaya, mengidentifikasi resiko dilanjutkan dengan pengendalian resiko dan terakhir mengenai penggunaan alat pelindung diri (APD) Hasil dari evaluasi yang dilakukan dalam kegiatan ini ddidapat bahwa terjadinya peningkatan tingkat pemahaman para pekerja dari yang sebelumnya 33,64% menjadi 95,45% seteah mengikuti pelatihan. Tingkat pemahaman resiko bahaya yang paling rendah yaitu 20% di mana kemampuan mengenali bahaya sangat rendah dan tingkat sedang yaitu sebesar 50%. Sedangkan untuk evaluasi kepatuhan penggunaan alat pelindung diri juga meningkat dari 24% menjadi 96% setelah mengikuti pelatihan. Tingkat kepatuhan penggunaan APD ini masih harus selalu ditekankan melalui upaya saling mengingatkan.
Penggunaan mesin pengaduk pada kelompok usaha pembuatan dodol buah I. B. Alit; I. G. B. Susana; I. M. Mara; S. Sujita; R. Sutanto
JURNAL KARYA PENGABDIAN Vol 1, No 3 (2019): Oktober, Jurnal Karya Pengabdian
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (445.029 KB)

Abstract

Dodol buah merupakan jajanan khas Lombok. Proses pembuatan dodol memerlukan tenaga fisik yang cukup berat dan menimbulkan kelelahan terutama pada saat pengadukan adonan. Hal ini dilakukan supaya dodol tersebut matang dengan sempurna. Untuk mengatasi hal tersebut, maka dirancang alat pengaduk dodol otomatis yaitu menggunakan motor untuk menggerakkan alat pengaduk. Hasil uji coba menunjukkan bahwa alat pengaduk ini lebih efektif karena hasil pengadukan lebih merata dan tidak menimbulkan kerak pada wadah.
Penerapan Pengering Surya untuk Usaha Rumah Tangga Pengeringan Ikan Teri I Gede Bawa Susana; Ida Bagus Alit; I G.A.K Chatur Adhi W.A.
JURNAL KARYA PENGABDIAN Vol 2, No 2 (2020): Oktober, Jurnal Karya Pengabdian
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (364.672 KB)

Abstract

Proses pengeringan ikan teri secara tradisional menyebabkan waktu dan suhu pengeringan belum optimal. Untuk mengoptimalkan kondisi ini, maka dilakukan dengan menerapkan pengering surya yaitu ruang pengering yang terintegrasi dengan kolektor surya. Hasil penerapan pada proses pengeringan ikan teri pada produksi pengolahan rumah tangga menunjukkan terjadi peningkatan suhu pengeringan. Hal ini berpengaruh pada waktu pengeringan yang lebih singkat dan produk yang dihasilkan menjadi higienis.