Claim Missing Document
Check
Articles

ANALISIS SISTEM DAN PROSEDUR IMPOR PRODUK ELEKTRONIK LIFE GOOD (LG) INCOTERM CIP DENGAN MENGGUNAKAN PENDEKATAN DMAIC PADA PT. PANTOS LOGISTIK INDONESIA CIBITUNG JAWA BARAT Cindy Fenora; Waspada Tedja Bhirawa; Budi Sumartono; Basuki Arianto
JURNAL TEKNOLOGI INDUSTRI Vol 11, No 2 (2022): JURNAL TEKNOLOGI INDUSTRI
Publisher : JURNAL TEKNOLOGI INDUSTRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35968/jti.v11i2.950

Abstract

PT. Pantos Logistik Indonesia adalah sebuah perusahaan yang bergerak dalam bidang freight forwarding yang memberikan jasa ekspor, impor, penyewaan trucking, penyewaan gudang dan penyewaan kontainer. Barang utama yang dimpor adalah finish goods LG (Life Goods) yaitu Washing Machine, Refrigerator dan LCD LED monitor Namun dalam setiap proses dokumen impor tersebut tidak terlepas dari reject berupa terjadinya perbedaan tanggal, terjadinya kesalahan kode barang pada saat menginput dokumen baru, terjadinya perbedaan HS. CODE dengan jenis produk, dan delay kapal. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui prosesimpor dan menemukan penyebab terjadinya reject dan memberikan usulan perbaikan dalam proses impor di PT. Pantos Logistik Indonesia dengan menggunakan metode DMAIC dan analisis 5W+1H. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan beberapa langkah pengumpulan data, baik data primer maupun data sekunder. Hasil penelitian yang diperoleh bahwa pada proses impor finish goods terdapat empat jenis penyebab reject yang menjadi CTQ kunci, yaitu terjadinya perbedaan tanggal, terjadinya kesalahan kode barang pada saat menginput dokumen baru, terjadinya perbedaan HS. CODE dengan jenis produk, dan delay kapal. Kinerja PT. Pantos Logistik Indonesia pada bulan Januari sampai April 2021 memiliki nilai sigma 2,24. Berdasarkan diagram pareto diketahui penyebab reject yang paling tertinggi adalah terjadinya perbedaan tanggal yaitu 43% untuk kesalahan input kode GSI di system sebanyak 22% perbedaan HS.CODE pada jenis barang sabanyak 21%, dan untuk delay kapal 14%. Analisis menggunakan fishbone Diagram dapat ditemukan faktor-faktor penyebab reject adalah Man, Method, Material dan untuk improve menggunakan analisis 5W+1H (What, Who, When, Why, Where, dan How, mencari prioritas alternatif perbaikan untuk mengurangi kegagalan proses. sehingga setelah rencana perbaikan diterapkan pada proses impor dokumen finish goods diharapkan dapat mencapai zero reject. Kata kunci: DMAIC, Reject, Six sigma, CTQ, Pareto Chart, Fishbone Diagram, Analisis 5W+1.
PEMODELAN REGRESI MUTU TUGAS AKHIR DENGAN MEMPERTIMBANGKAN KOMPETENSI, MOTIVASI, DAN SIKAP Basuki Arianto
JURNAL MITRA MANAJEMEN Vol 4, No 2 (2012): JURNAL MITRA MANAJEMEN
Publisher : JURNAL MITRA MANAJEMEN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35968/jmm.v4i2.588

Abstract

ABSTRAKProgram-program studi yang ada di Universitas Suryadarma, mempunyai andil dalammenciptakan lulusan yang bermutu. Mutu lulusan Program-program studiUniversitas Suryadarmaditentukan oleh prestasi belajar mahasiswa tersebut pada masa perkuliahan yang mereka ikuti. Sebagaibagian dari sebuah perguruan tinggi, out put yang paling penting adalah mutu lulusannya. Lulusan yangberkualitas akan meningkatkan daya saing lulusan di dalam memperoleh pekerjaan dan kesiapanmenghadapi tantangan hidup yang ada di depannya.Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian survei.Penelitian survei dilakukan untuk mendapatkan suatu generalisasi yang tidak mendalam, sehingga untukmendapatkan hasil yang lebih baik, membutuhkan sampel yang dapat mewakili populasinya.Metodepenelitian survei dipilih karena penelitian dilakukan pada suatu populasi yang relatif kecil yaitu mahasiswaaktif di program pascasarjana program studi Magister Manajemen Universitas Suryadarma, Jakarta.Variabel-variabel yang diteliti antara lain kompetensi individu mahasiswa, motivasi mahasiswa, dan sikapmahasiswa terhadap dosen pembimbing sebagai variabel bebas (tak terikat) dan mutu tugas akhir sebagaivariabel terikat. Penelitian ini berusaha menjelaskan hubungan positif antara variabel kompetensi individumahasiswa, motivasi mahasiswa, dan sikap mahasiswa terhadap dosen pembimbing dengan variabel mututugas akhir berdasar data persepsi responden dari sampel mahasiswa program studi magister manajementersebutKesimpulan yang diperoleh dari penelitian ini adalah bahwa Modelregresi yangmenggambarkan hubungan antara kompetensi individu,motivasi, sikap terhadap pembimbingdengan mutu tugas akhir adalah:Y(,9)389,0331X,0244X,0240X. Kompetensi individu,123motivasi, sikap terhadap pembimbing mempunyai hubungan yang sangat kuat dengan mutu tugas akhir,karena mempunyai koefisien korelasi sebesar 0,920 dan koefisien determinasi 84,7%Kata kunci : mutu, kompetensi individu, motivasi, sikap.
Sistem Distribusi, Logistik dan Supply Chain dengan Metode Lean Distribution Basuki Arianto
JURNAL MITRA MANAJEMEN Vol 4, No 1 (2012): JURNAL MITRA MANAJEMEN
Publisher : JURNAL MITRA MANAJEMEN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35968/jmm.v4i1.579

Abstract

ABSTRAKSIFungsi distribusi memiliki dua tanggungjawab yang bertentangan yaitumeningkatkan pelayanan pelanggan sekaligus menekan biaya dan sediaan.Tanggung jawab distribusi semakin sulit dan rumit ketika rantai pasokan (supplychain) merentang ke seluruh dunia. Meskipun ada jarak yang jauh, zona waktu, dankendala-kendala lain, distribusi tetap ditekan untuk mengurangi biaya dan sediaan.Lean Distribution memberikan manfaat-manfaat antara lain : penurunan-penurunanbiaya di sepanjang rantai pasokan sebagai tahanan dialokasikan dan dikeloladengan strategis, penurunan-penurunan biaya distribusi seperti pengisian ulangpelanggan dan pusat distribusi menjadi pipa distribusi yang dirancang denganmenggunakan biaya-biaya yang diterima, pelayanan pelanggan siap diukur dengankebijakan-kebijakan dan harapan-harapan yang tersegmentasi, dan kestabilanjadwal operasi diukur dengan menggunakan gangguan-gangguan jadwal dalamkerangka waktu untuk operasi spesifik.
7. PERANCANGAN MEJA PENGELASAN YANG ERGONOMIS BERDASARKAN PENDEKATAN ANTROPOMETRI DAN RULA“RAPID UPPER LIMB ASSESSMENT” Riki Kurniadi; Basuki Arianto; Indramawan; W.Tedja Bhirawa
Jurnal TNI Angkatan Udara Vol 2 No 3 (2023): Jurnal TNI Angkatan Udara Triwulan Ketiga
Publisher : Staf Komunikasi dan Elektronika, TNI Angkatan Udara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62828/jpb.v2i3.75

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk merancang meja pengelasan yang ada di bengkel las.Fasilitas meja pengelasan ini digunakan oleh operator las untuk membantu aktivitas pengelasanagar memiliki posisi tubuh yang nyaman, sebelum adanya meja pengelasan ini para operatorlas memiliki postur kerja yang mengharuskan operator las untuk jongkok dan membungkukkanbadan, sehingga postur tubuh operator las yang tidak nyaman pada saat melakukan prosespengelasan tersebut membuat postur punggung, lengan dan leher menjadi tidak nyaman. Alatini dirancang untuk mengurangi rasa tidak nyaman pada operator las saat melakukan aktivitaspengelasan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran postur kerja denganmenentukan penilaian level ketidaknyamanan postur tubuh. Gambaran postur kerja padaoperator las di bengkel las pada saat proses pengelasan menggunakan RULA. Mejapengelasan juga menggunakan metode antropometri dimana data yang dihasilkan dalampenelitian ini dilakukan dengan pengukuran dari 30 sampel masyarakat sekitar yang terdiri dariukuran panjang tangan (pt), tinggi pinggul (tp), rentang siku (rs), tinggi lutut (tl), setelahpengumpulan sampel data kemudian diolah untuk mendapatkan hasil yang sesuai denganantropometri pengguna. Hasil penelitian menunjukkan bahwa postur kerja tubuh operator las padasaat melakukan proses pengelasan berada pada postur kerja tidak ergonomis pada saatmengelas, sehingga posisi badan mengharuskan untuk berjongkok dan membungkukan badan.Level ketidaknyamanan penilaian pada saat melakukan proses pengelasan berada pada levelketidaknyamanan tinggi (high). Pengukuran data antropometri untuk penggunaan mejapengelasan yang ergonomis dilakukan untuk membuat operator las pada saat melakukanaktivitas pengelasan memiliki posisi yang nyaman. Ukuran dimensi meja pengelasan yang diukur sebagai berikut: Tinggi meja pengelasan 92,2 cm, lebar meja pengelasan 78,2 cm, dan panjangmeja pengelasan 92,4 cm.
8. PERANCANGAN TANGGA LIPAT SEBAGAI ALAT BANTUSERVICE BODY MOBIL YANG ERGONOMIS DENGAN PENDEKATAN REBA (RAPID ENTIRE BODY ASSESSMENT) Dea Hamdallah; Basuki Arianto; Erwin Wijayanto; W. Tedja Bhirawa
Jurnal TNI Angkatan Udara Vol 2 No 3 (2023): Jurnal TNI Angkatan Udara Triwulan Ketiga
Publisher : Staf Komunikasi dan Elektronika, TNI Angkatan Udara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62828/jpb.v2i3.76

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk merancang tangga lipat sebagai alat bantu servicemobil yang ada dibengkel. Fasilitas tangga lipat sering digunakan para montir untuk memudahkanpara montir melakukan aktivitas pekerjaan. Sebelum adanya tangga lipat ini mengharuskan paramontir menopang dengan kedua kaki dan jangkauan tangan yang tinggi saat melalukakan servicebody mobil, sehingga montir yang melakukan aktivitas perbaikan memiliki postur kerja yang tidaknyaman. Permasalahannya adalah bagaimana dapat dirancang suatu Alat untuk mengurangirasa tidak nyaman pada montir saat melalukan aktivitas perbaikan. Tujuan penelitian ini adalahuntuk mengetahui gambaran postur kerja dengan menentukan penilaian level ketidaknyamananpostur tubuh. Gambaran postur kerja pada montir di bengkel pada saat sedang melakukanaktivitas perbaikan menggunakan REBA. Tangga lipat juga menggunakan metode antropometridimana data yang dihasilkan dalam penelitian ini dilakukan dengan penggukuran dari 30 sampelmahasiswa yang terdiri dari ukuran tinggi tubuh dalam posisi tegak (ttpt), lebar bahu (tb), tinggi lutut(tl), diameter genggaman tangan (dgt), setelah pengumpulan sampel data kemudian diolah untukmendapatkan hasil yang sesuai dengan anthropometri pengguna. Berdasarkan perhitungan data,persentil yang digunakan dalam perancangan tangga lipat yaitu P5, P50, P95. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa postur kerja tubuh montir pada saat melakukan aktivitas perbaiakan beradapada postur kerja tidak ergonomis seperti posisi tangan menjangkau keatas dan posisi kakimenopang ujung jari jangkauan sehingga posisi badan mengharuskan untuk menopang. Levelketidaknyamanan penilaian pada saat melakukan perbaikan berada pada level ketidaknyamanantinggi (high). Rancangan Tangga Lipat yang tepat untuk mengatasi ketidaknyaman para montiradalah dengan pengukuran data antropometri untuk penggunaan tangga lipat dilakukan untukmembuat para montir pada saat melakukan aktivitas perbaikan agar montir memiliki posisi yangnyaman. Ukuran dimensi tangga lipat yang di ukur sebagai berikut: Tinggi tangga 169,4 cm, lebartangga 41,40 cm, jarak tiap anak tangga 43,2 cm, dan pegangan tangga 4,97 cm.
5. ANALISIS PENGENDALIAN PERSEDIAAN SUKU CADANG MAIN TIRE PESAWAT C-130 HERCULES SKADRON UDARA 31 MENGGUNAKAN METODE ECONOMIC ORDER QUANTITY (EOQ) Gianina Mulia B. Sembiring; W. Tedja Bhirawa; Basuki Arianto; Indra Mawan
Jurnal TNI Angkatan Udara Vol 2 No 4 (2023): Jurnal TNI Angkatan Udara Triwulan Keempat
Publisher : Staf Komunikasi dan Elektronika, TNI Angkatan Udara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62828/jpb.v2i4.82

Abstract

Penelitian ini dilakukan di Skadron Udara 31 Lanud Halim Perdanakusuma padasalah satu Skadron Udara yang dimiliki oleh TNI Angkatan Udara yang mengawaki pesawatangkut berat yaitu C-130 Hercules. Pesawat C-130 Hercules adalah pesawat buatanLockheed Martin, Amerika Serikat. Tujuan penelitian adalah untuk menentukan metodeperamalan yang sesuai untuk memenuhi kebutuhan suku cadang Main Tire pesawat yangoptimal. Selanjutnya menghitung jumlah persediaan pengaman (safety stock) suku cadangMain Tire yang seharusnya disediakan perusahaan. Dan yang terakhir menghitung tingkatbiaya persediaan suku cadang Main Tire pesawat yang optimum berdasarkan EconomicOrder Quantity (EOQ). Pesawat C-130 Hercules sering digunakan untuk mendukungoperasional TNI Angkatan Udara, namun sempat terjadi kekosongan Main Tire maka dariitu perlu adanya penanganan persediaan agar kegiatan operasional menjadi optimal. Untukmenjaga persediaan suku cadang Main Tire pesawat. Metode penelitian yang digunakanuntuk Pengendalian Persediaan Main Tire pesawat ini menggunakan metode peramalanMoving Average, Exponential Smoothing, dan Seasonal Indeks. Selanjutnya Menghitungpersediaan Main Tire pesawat, dengan menggunakan metode Ecconomic Order Quanitity.Agar dapat mengetahui berapa persediaan Main Tire pesawat yang optimal, mengetahuiberapa Safety Stock dan titi Re-Order Point nya. Hasil perhitungan MSE, didapatkan hasilyang paling terkecil yaitu 50 dengan menggunakan metode Single Exponential Smoothing.Economic Order Quantity (EOQ) yang mendapatkan hasil sebesar 30, Frekuensi Pemesanan(I) sebesar 2 Kali. Total Biaya Persediaan (TIC) sebesar Rp.16.280.000, safety stock (SS)sebesar 8, dan Reorder Point (ROP) sebesar 11.
8. ANALISIS SISTEM PROTEKSI KEBAKARAN AKTIF GUDANG ARSIP SETUMAU DALAM RANGKA MENGOPTIMALKAN PERLINDUNGAN TERHADAP BAHAYA KEBAKARAN Cuk Hendradinata; W. Tedja Bhirawa; Basuki Arianto; Darmawan Yulianto
Jurnal TNI Angkatan Udara Vol 2 No 4 (2023): Jurnal TNI Angkatan Udara Triwulan Keempat
Publisher : Staf Komunikasi dan Elektronika, TNI Angkatan Udara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62828/jpb.v2i4.85

Abstract

Penelitian mengenai sistem Sistem Proteksi Kebakaran Aktif di Gudang arsipdari bahaya kebakaran. Mengingat betapa pentingnya nilai arsip-arsip yang disimpan dandihadapkan dengan besarnya potensi terjadinya kebakaran di Gudang Arsip Setumau,penulis berkeinginan membandingkan kondisi sistem proteksi kebakaran aktif yang ada diGudang Arsip Setumau saat ini dengan standar ketentuan yang berlaku. Berdasarkan SNI03-3989-2000, standar penempatan kepala sprinkler diatur dengan melihat tingkat klasifikasipotensi kebakarannya. Masing-masing tingkat klasifikasi potensi kebakaran memilikistandar luas lingkup maksimum dan jarak maksimum antara kepala sprinkler yang berbeda.Penempatan dan perencanaan penempatan kepala sprinkler pada pipa cabang (S) danjarak antara deretan kepala sprinkler (D), serta perhitungan jenis pompa dan kapasitas airuntuk pemadam. Dari hasi perhitungan, jumlah kebutuhan sprinkler dan jarak peletakannyadengan ukuran bangunan panjang 30 m, lebar 15 m, dan ketinggian langit-langit 5 m,jumlah sprinkler yang dibutuhkan sejumlah 50 sprinkler. Sprinkler ditempatkan di langitlangit dengan susunan sejajar dan arah pancaran ke bawah, dengan jarak peletakan antarsprinkler: 3 m. Sedangkan Jarak antar sprinkler dalam deretan satu pipa cabang, kemudianjarak antara deretan sprinkler pada satu pipa cabang dengan cabang yang berdekatan:3 m. Kemudian jarak antara sprinkler terujung di pipa cabang dengan dinding adalah 1,5m. Jarak antara deretan sprinkler di pipa cabang terpinggir dengan dinding: 1,5 m. Totalvolume air yang dibutuhkan gudang sprinkler di Gudang Arsip Setumau sejumlah 120.000liter dengan waktu operasional selama 30 menit. Jumlah estimasi kebutuhan air saatsprinkler beroperasi adalah 36.000 liter.
REKAYASA ULANG SISTEM PEMELIHARAN LINI BODY SHOP GUNA MENINGKATKAN KEANDALAN (STUDI KASUS INDUSTRI MOBIL CHINA) ARIANTO, BASUKI
JURNAL TEKNIK INDUSTRI Vol 13 No 1 (2024): JURNAL TEKNIK INDUSTRI
Publisher : Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menilai seberapa dapat diandalkan peralatan atau fasilitas, jadwal pemeliharaan peralatan, serta tingkat ketersediaan peralatan fasilitas di lini body shop. Metode yang diterapkan dalam studi ini adalah Pemeliharaan Berbasis Keandalan. Welding gun manual memiliki tingkat keandalan terendah di fasilitas body shop dengan waktu operasi 300 jam sebesar 28,67%, sementara lifter material memiliki tingkat keandalan tertinggi sebesar 66,90%. Pengaturan jadwal pemeliharaan peralatan fasilitas di lini body shop dilaksanakan dengan mempertimbangkan tingkat keandalan minimal 60%. Pemeliharaan manual welding gun dilakukan setiap 100 jam, sementara pemeliharaan material lifter dilakukan setiap 300 jam. Ketersediaan peralatan di fasilitas lini body shop sangat tinggi, mencapai antara 99,46 hingga 99,85%.Kata kunci: Lini Body Shop, RCM, Reliability, Availability
OPTIMALISASI LAYANAN TOKO GAWAI DENGAN MEMPERHATIKAN JUMLAH PEMBELI YANG MENGANTRI PADA JAM SIBUK FRAHISTA, MUHAMAT FRANDIKA M.; ARIANTO, BASUKI; WIJAYANTO, ERWIN; SYAMSUNASIR, SYAMSUNASIR; YULIANTO, DARMAWAN
JURNAL TEKNIK INDUSTRI Vol 13 No 1 (2024): JURNAL TEKNIK INDUSTRI
Publisher : Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Antrian adalah bagian penting dari manajemen operasi antrian,antrian terjadi di sektor manufaktur dan sektor jasa. Antrian adalah orang atau barang yang berada dalam satu barisan yang menunggu untuk dilayani dan kemudian meninggalkan barisan setelah dilayani.penelitian ini berlanjut untuk menganalisis sistem antrian yang diterapkan dalam memberikan pelayanan yang lebih baik kepada pelanggan dengan menghitung jumlah rata rata jumlah kedatangan dan jumlah rata rata total waktu orang yang dilayani serta melakukan optimalisasi jumlah layanan yang beroperasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model antrian yang digunakan oleh toko Ssg adalah model antrian model Multi channel – Multi Phase dengan menerapkan disiplin antrian yaitu Firs Come – Firs Serve (FCFS). Laju kedatangan pelanggan pada hari sibuk dan jam sibuk adalah 20,69 pelanggan/jam. Model antrian yang sesuai pada loket pelayanan toko gawai adalah model antrian (M / M / 2): (GD//), akan tetapi pihak toko gawai harus mengubah jumlah pelayan pada tahap pengecekan HP yang semula dua orang pelayan menjadi tiga orang pelayan sehingga akan diperoleh rata-rata banyaknya pelanggan dalam antrian sebanyak 0,68 orang atau 1 orang dan rata-rata waktu yang diperlukan pelanggan berada dalam antrian selama 1,97 menit atau sekitar 2 menit. Kata Kunci : Layanan Toko, Sistem Antrian, FCFS, Toko Gawai
2. Perancangan Dan Penempatan Hidran Pada Hanggar Pesawat Skadron Udara 31 Lanud Halim Perdanakusuma Manik, Anjoe; Tedja bhirawa, Waspada; Arianto, Basuki
Jurnal TNI Angkatan Udara Vol 1 No 4 (2022): Jurnal TNI Angkatan Udara Triwulan Keempat
Publisher : Staf Komunikasi dan Elektronika, TNI Angkatan Udara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62828/jpb.v1i4.34

Abstract

Obyek penelitian dilakukan pada Skadron Udara Hanggar Pesawat 31 Lanud HalimPerdanakusuma yang belum memiliki sistem pemadam kebakaran menggunakan hidran. Hidranadalah sistem proteksi kebakaran aktif yang disediakan di sebagian besar wilayah perkotaan,pinggiran kota dan pedesaan yang memiliki pasokan air yang cukup untuk memungkinkanpetugas pemadam kebakaran menggunakan pasokan air untuk memadamkan api. Sumberairhidran berasal dari tempat penampungan air terpisah atau saluran air lainnya yang dialirkanmelalui pompa dan disalurkan menggunakan pipa.Metode yang digunakan dalam menentukan panjang pipa yang paling optimal adalah AlgoritmaFloyd Warshal. Metode adalah algoritma yang mengambil jarak minimum dari satu titik ke titiklainnya. Pada algoritma ini menerapkan algoritma dinamis yang menyebabkan akan mengambiljarak jalur terpendek dengan benar. Algoritma Floyd Warsall juga bisa diterapkan pada aplikasipencari rute terdekat dari satu area ke area lain dengan metode ini hasil yang didapat bisa lebihoptimal.Berdasarkan hasil perhitungan beberapa alternatif pilihan maka ditentukan penempatan 8 hydrantuntuk mengatasi bahaya kebakaran dengan jumlah material pipa dengan saluran pipa padausulan a yaitu dengan rumah pompa dan tangki air diatas pos jaga, a Dibutuhkan pipa sepanjang335 meter, sedangkan pada proposal b yaitu dengan rumah pompa dan tangki air antara ruangRajawali dan ruang kesehatan dibutuhkan pipa sepanjang 305 meter, maka dari perhitunganini proposal desain yang paling optimal adalah proposal desain b, hanya menggunakan pipasepanjang 305 meter.