Claim Missing Document
Check
Articles

Hubungan Pemberian Makanan Tambahan Terhadap Perubahan Status Gizi Anak Balita Gizi Kurang di Kota Manado Hosang, Kevin H.; Umboh, Adrian; Lestari, Hesti
e-CliniC Vol 5, No 1 (2017): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.5.1.2017.14760

Abstract

Abstract: Toddler is one of the nutritional vulnerable population groups that easily suffer from health problems and malnutrition. In this age group, children are in growth and development cycle that requires nutrients in larger amounts than any other age groups. To overcome the problem of malnutrition in this age group, they should be supported with supplementary food. Pemberian makanan tambahan (PMT) is a program of intervention to infants suffering from malnutrition with a goal to improve the nutritional status as well as the nutritional needs of children to achieve the nutritional status and condition of good nutrition in accordance with the children's age. PMT for children aged 0-59 months is as an addition and not as a substitute of main daily meals. This study was aimed to determine the relationship of supplementary feeding to changes in the nutritional status of children under 5 years with malnutrition at health centers in Manado. This was an analytical retrospective study. Subjects were 70 children under 5 years with malnutrition fed with rice, biscuits, green beans, and milk for 90 days. The results showed that there was a very significant relationship between PMT and the changes in nutritional status of children under 5 years with malnutrition at health centers in Manado.Keywords: feeding (PMT), toddler, child nutritional status Abstrak: Balita merupakan salah satu golongan penduduk rentan gizi yang paling mudah menderita gangguan kesehatan dan kekurangan gizi. Kelompok usia tersebut berada pada suatu siklus pertumbuhan atau perkembangan yang memerlukan zat-zat gizi dalam jumlah yang lebih besar dari kelompok umur yang lain. Untuk mengatasi masalah gizi pada kelompok usia tersebut perlu diselenggarakan pemberian makanan tambahan (PMT). PMT merupakan program intervensi terhadap balita yang menderita kurang gizi yang bertujuan untuk meningkatkan status gizi anak dan mencukupi kebutuhan zat gizi anak sehingga tercapainya status gizi dan kondisi gizi yang baik sesuai dengan usia anak tersebut. PMT bagi anak usia 0-59 bulan sebagai tambahan, bukan sebagai pengganti makanan utama sehari-hari. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pemberian makanan tambahan terhadap perubahan status gizi anak balita gizi kurang di Puskesmas-puskesmas di Kota Manado. Jenis penelitian ialah analitik retrospektif. Subjek penelitian ialah 70 anak balita gizi kurang yang mendapatkan PMT berupa beras, biskuit, kacang hijau, dan susu selama 90 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa PMT berpengaruh sangat bermakna terhadap perubahan status gizi anak balita gizi kurang di puskesmas-puskesmas Kota Manado.Kata kunci: PM), balita, status gizi, balita gizi kurang
HUBUNGAN SIRKUMSIS DENGAN INFEKSI SALURAN KEMIH PADA ANAK SEKOLAH DASAR Batara, Algi Reafanny; Umboh, Adrian; Wilar, Rocky
e-CliniC Vol 1, No 3 (2013)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v1i3.3591

Abstract

Abstrak: Infeksi saluran kemih (ISK) adalah keadaan adanya infeksi (ada pertumbuhan dan perkembangan bakteri) dalam saluran kemih yang meliputi infeksi di parenkim ginjal sampai infeksi di kandung kemih dengan jumlah bakteriuri bermakna yaitu ≥ 100.000 koloni / ml urin segar, infeksi ini sering di temukan pada anak dan merupakan penyebab kedua terbanyak mordibitas penyakit infeksi pada anak sesudah infeksi saluran napas. Sebelum usia 1 tahun, ISK lebih banyak terjadi pada anak laki-laki sedangkan setelahnya anak perempuan lebih dominan, rasio ini terus meningkat hingga di usia sekolah. Salah satu faktor penyebab ISK adalah  sirkumsisi, dimana anak laki-laki yang sudah disirkumsisi resiko ISK menurun dari 0,2 - 0,05% dari anak laki-laki yang tidak disirkumsisi. Anak laki-laki yang tidak di sirkumsisi, ISK terjadi karena daerah di bawah kulit prepusium sangat peka terhadap mikrolesi dan lingkungan yang lembab sehingga dapat memudahkan terjadinya infeksi. Jenis penelitian ini bersifat observasional analitik dengan rancangan cross sectional. Penelitian ini mengenai hubungan sirkumsisi dengan infeksi saluran kemih pada anak sekolah dasar Madrasah Ibtidayah yang menggunakan uji chi-square (x2) dan koefisien korelasi pada tingkat kemaknaan 95% (α0,05). Kesimpulan: Dari hasil penelitian yang dilakukan didapatkan bahwa tidak adanya hubungan yang bermakna antara sirkumsisi dengan kejadian ISK pada anak sekolah dasar. Kata kunci: Sirkumsisi, Infeksi Saluran Kemih (ISK), Siswa     Abstract: Urinary Tract Infection (UTI) is an infection state (there is growth and development of bacteria) in the urinary tract which include in the kidney parenchyma to infection in the bladder with a significant amount of bacteria that is ≥ 105 colonies / ml of fresh urine, this infection is often found in children and is the second most common cause of infectious disease morbidity in children after respiratory infection. Before the age of 1 year, UTI is more common in boys, while girls are more dominant thereafter, this ratio continued to increase until at school age. One of the causes of UTI is circumcision, where the boys were already circumcised risk of  UTI decreased 0,2 to 0,05% of the boys who are not circumcised. The boys who are not circumcised, UTI occurs because the area under the foreskin is very sensitive to mikrolesi and humid environment so as to facilitate the infection. The type of study is observational analytic cross sectional design. The study about a circumcision relationship with Urinary Tract Infections (UTI) in primary school children Madrasah Ibtidayah with using chi-square test (x²) and the correlation coefficient at 95% significance level (α0,05). Conclusion: Based on the results of the study it can be concluded that there was no significant correlation between circumcisions with incidence of UTI in elementary school children. Keywords: Circumcision, Urinary Tract Infections (UTI), Students.
Profil glomerulonefritis akut pasca streptokokus pada anak yang dirawat di Bagian Ilmu Kesehatan Anak RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado Hidayani, Agung R.E; Umboh, Adrian; Gunawan, Stefanus
e-CliniC Vol 4, No 2 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.4.2.2016.14678

Abstract

Abstract: Acute post streptococcal glomerulonephritis (APSGN) is a form of inflammation of the glomerulus in histopathology showed inflammatory & proliferation of glomeruli are preceded of infection Streptococcus group A β-hemolytic, often found in the age group of 2-3 years, and is twice as common in boys compared with the girls. This study aims to know the profile of APSGN in children treated at Department of Pediatrics Prof. Dr. R. D. Kandou Manado period August 2012 – August 2016. This study is a descriptive retrospective and conducted in September-November 2016. The sample of this study is all children patients being treated in the diagnosis of APSGN. The research results obtained 53 patients with diagnosis of APSGN, with ages 3-13 years, male 56.6% and 43.4% women. Hematuria microscopic 90,6%, edema 83%, proteinuria 79,2%, hypertension 60,8%, Oliguria 5,7%, increase of ASTO 45,3%, decreased C3 66 %, Azotemia 73,6%, declining GFR 90,6%, and complications AKI 17,6%. Conclusion: APSGN was found in children aged 3-13 years are more commonly found in men than women and the clinical symptoms of the most widely found is hematuria. The importance of knowledge about APSGN for the parents and surveillance against the child in order to not easily infected is live with clean and healthy.Keywords: glomerulonephritis, APSGN, Children Abstrak: Glomerulonefritis akut pasca streptokokus (GNAPS) adalah suatu bentuk peradangan glomerulus yang secara histopatologi menunjukkan proliferasi & inflamasi glomeruli yang didahului oleh infeksi group A β-hemolitik streptokokus,sering ditemukan pada kelompok usia 2-15 tahun, dan dua kali lebih sering terjadi pada anak laki–laki dibandingkan dengan anak perempuan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil GNAPSpada anak yang dirawat di bagian Ilmu Kesehatan Anak RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado periode Agustus 2012 – Agustus 2016. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif restropektif yang dilakukan pada bulan September- November 2016. Sampel penelitian adalah semua pasien anak yang dirawat di diagnosis GNAPS. Hasil penelitian didapatkan 53 pasien dengan diagnosis GNAPS, dengan usia 3-13 tahun, laki-laki 56,6% dan perempuan 43,4%. Hematuria 90,6%, edema 83%, proteinuria 79,2%, hipertensi 60,8%, Oliguria 5,7%, peningkatan ASTO 45,3%, penurunan C3 66 %, Azetomia 73,6%, LFG menurun 90,6%, dan komplikasi AKI 17,6%. Simpulan: GNAPS ditemukan pada anak usia 3-13 tahun yang lebih sering ditemukan pada laki-laki dibandingkan perempuan dan gejala klinis yang paling banyak ditemukan adalah hematuria. Pentingnya pengetahuan tentang GNAPS pada orang tua dan pengawasan terhadap anak agar tidak mudah terinfeksi dengan hidup bersih dan sehat. Kata kunci: Glomerulonefritis, GNAPS, Anak
GAMBARAN PENGETAHUAN PETUGAS KESEHATAN TERHADAP HEPATITIS B DI RSUP PROF. R. D. KANDOU MANADO Hutapea, Elia A. P.; Umboh, Adrian; Wilar, Rocky; Rampengan, Novie H.
e-CliniC Vol 2, No 3 (2014): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.2.3.2014.5745

Abstract

Abstract: Hepatitis is the process of inflammation and or necrosis of liver tissue that can be caused by infections, drugs, toxins, metabolic disorders, and autoimmune disorders. Hepatitis is a world problem as it attacks billion of people, especially in developing countries. Based on Indonesia’s Health Profile, the coverage of hepatitis B immunization in Indonesia is around 59.19%, but the incidence of hepatitis B in various areas is still growing every year. WHO states that, Indonesia is included in a group with moderate and severe epidemic. Wiharta and friends reports that in Jakarta, there is 1 in 20 pregnant women that has positive HBsAg and the sufferer has high infectiousness. It requires proper knowledge of public health from the officers such as doctors, nurses, and co-ass to reduce the number of mortality due to these diseases. The purpose of this study is to acknowledge the comprehension description of health officers and it’s relation to education, training, and work experience at Prof. R. D. Kandou hospital, Manado. Methods: This study is conducted using a cross sectional design with observational approach, in this case it is done by observation and questionnaires. Data analysis used in this study is univariate analysis. Samples of 60 people. Results: In the results obtained from 60 health officers, there are 56 people of them have good knowledge on hepatitis B. As for the other health officers with sufficient knowledge on Hepatitis B consists of 4 people. Conclusion: Health officers at Prof. R D Kandou hospital have a good knowledge on hepatitis B. Keywords: Knowledge, Hepatitis B, Health Officer, Mortality.   Abstrak: Hepatitis adalah proses terjadinya inflamasi dan atau nekrosis jaringan hati yang dapat disebabkan oleh infeksi, obat-obatan, toksin, gangguan metabolik, maupun kelainan autoimun. Hepatitis adalah masalah dunia karena menyerang miliaran manusia, terutama di negara berkembang.Berdasarkan Profil Kesehatan Indonesia, cakupan imunisasi hepatitis B di Indonesia sebesar 59,19%, namun angka kejadian hepatitis B di berbagai daerah masih meningkat setiap tahunnya. WHO menyatakan  bahwa, Indonesia termasuk kelompok daerah dengan epidemisitas sedang dan berat. Wiharta dkk. melaporkan, di Jakarta 1 di antara 20 ibu hamil mengandung HBsAg positif dan pengidap tersebut mempunyai daya tular tinggi. Untuk itu diperlukan pengetahuan dari petugas kesehatan seperti dokter umum, perawat, dan co-ass untuk menekan angka morbilitas dari penyakit ini. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran pengetahuan petugas kesehatan dan hubungan penegtahuan petugas kesehatan yaitu tentang pendidikan, pelatihan, dan  pengalaman kerja di RSUP Prof. R. D. Kandou Manado. Metode: Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan desain cross sectional dengan pendekatan observasional, dalam hal ini dilakukan dengan pengamatan dan pengisian kuesioner. Analisis data yang digunakan adalah analisis univariat. Sampel berjumlah 60 orang. Hasil: Darihasilyang didapatkan dari 60 orang petugas kesehatan terdapat 56 orang yang memiliki pengetahuan baik tentang Hepatitis B. Sedangkan untuk petugas kesehatan dengan penegetahuan yang cukup terhadap Hepatitis B berjumlah 4 orang. Simpulan: Petugas kesehatan di RSUP Prof. R.D.Kandou memiliki pengetahuan yang baik terhadap penyakit Hepatitis B. Kata kunci: Pengetahuan, Hepatitis B, Petugas Kesehatan, Morbilitas.
HUBUNGAN KEBIASAAN MANDI DI SUNGAI DENGAN INFEKSI SALURAN KEMIH PADA ANAK DI KELURAHAN SINDULANG 1 Rompis, Johnny; Kusumanarwasti, Chensilya; Umboh, Adrian
e-CliniC Vol 1, No 2 (2013): Jurnal e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.1.2.2013.3290

Abstract

Abstrak: Infeksi saluran kemih (ISK) pada anak merupakan salah satu masalah kesehatan yang paling sering terjadi, dengan angka kejadian yang hanya sedikit lebih rendah dibandingkan ISPA dan infeksi digestif. Salah satu keadaan penting yang perlu diperhatikan pada gejala ISK adalah bakteriuria. Bakteriuria adalah suatu keadaan dimana bakteri dapat ditemukan didalam urin, tetapi keadaan ini tidak selalu berarti ISK. Bakteri gram negatif, khususnya Eschericia coli merupakan penyebab utama ISK (85-90%). Survei awal yang dilakukan peneliti di kelurahan Sindulang 1, kecamatan Tuminting, kota Manado, menduga bahwa sungai Tondano di daerah tersebut tercemar E.coli. Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan pendekatan potong lintang (cross sectional). Penelitian dilakukan di kelurahan Sindulang 1, kecamatan Tuminting, kota Manado, selama bulan November sampai Desember 2012, dengan sampel adalah 60 anak yang berusia antara 5-12 tahun. Hasil penelitian yang diperoleh, terdapat 39 orang anak yang memiliki kebiasaan mandi di sungai dan 21orang anak tidak memiliki kebiasaan mandi disungai.  39 orang yang mandi di sungai, didapatkan 2 orang anak yang positif menderita ISK. Hasil statistik menunjukan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara mandi di sungai dengan kejadian ISK. Kata kunci: kebiasaan mandi di sungai, ISK, urinalisis     Abstract: Urinary tract infections (UTI) in children is one of the most common health problems, the incidence is only slightly lower than the respiratory and digestive infections. One of the most important conditions that need attention from some symptoms of UTI is bacteriuria. Bacteriuria is a condition in which bacteria can be found in the urine, but this situation does not always mean UTI. Gram-negative bacteria, especially Escherichia coli is the leading cause of UTI (85-90%). Preliminary survey conducted by researchers at the Sindulang 1 village, of the Tuminting district, of the city of Manado, suspect that the Tondano river is polluted by E.coli. This was an observational analytic study with cross-sectional approach. The study was conducted in the Sindulang 1 village, of the Tuminting district, of the city of Manado, during November and December 2012, the sample was 60 children aged between 5-12 years. The results obtained, there are 39 childrens who have a river bathing habit and 21 child doesn?t. 39 people who bathe in the river, got 2 children who were positive for UTI. Subjects suffering from UTI confirmed by performing urinalysis, where meaningful results if leukocytes is  ? 5 WBC/hpf. From the statistical showed that there is a significant relationship between bathing in the river with the incidence of UTI. Keywords: river bathing habits, UTI, urinalysis
HUBUNGAN ASPEK KLINIS DAN LABORATORIUM DENGAN TIPE SINDROM NEFROTIK PADA ANAK Mamesah, Robin Samuel; Umboh, Adrian; Gunawan, Stevanus
e-CliniC Vol 4, No 1 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.4.1.2016.10981

Abstract

Abstract: Nephrotic Syndrome (NS) is one of the most frequent glomerular diseases in children marked with proteinuria, hypoalbuminaemia, and edema with or without hypercholesterolemia. Approximately there are six cases of NS per year every 100.000 child aged less than 14 years old in Indonesia with ratio between males and females 2:1. Based on therapy, NS is categorized into Steroid Sensitive Nephrotic Syndrome (SSNS) and Steroid Resistant Nephrotic Syndrome (SRNS). This study aimed to obtain the relationship between clinical and laboratory aspects with NS type in children. This was a retrospective analytical study conducted by using SSNS and SRNS patient data of the medical record in Department of Pediatric Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado. Daya were categorized into identity, age, blood pressure, proteinuria, hematuria, as well as albumin and cholesterol levels. The results showed that there were 29 SN patients (18 patients of SSNS and 11 patients of SRNS) consisted of 17 males (59%) and 12 females (41%). The statistical analysis showed that there was no significant correlation among sex (p=0.064), age (p=0.064), edema (p=0.138), systolic pressure (0.283), diastolic pressure (p=0.701), proteinuria (p=0.999), hematuria (p=0.060), albumin (p=0.175), and cholesterol (p=0.814) in both of SSNS and SRNS patients. Conclusion: There was no relationship between sex, age, blood pressure, proteinuria, hematuria, albumin, and cholesterol related to SSNS and SRNS. Keywords: nephrotic syndrome, proteinuria, SSNS, SRNS Abstrak: Sindrom nefrotik (SN) adalah salah satu penyakit glomerulus yang sering ditemukan pada anak, yang ditandai dengan proteinuria, hipoalbuminemia, dan edema dengan atau tanpa hiperkolesterolemia. Diperkirakan enam kasus per tahun tiap 100.000 anak kurang dari 14 tahun di Indonesia dengan perbandingan antara laki-laki dan perempuan 2:1. Sindrom nefrotik berdasarkan respon terapinya terbagi menjadi sindrom nefrotik sensitif steroid (SNSS) dan sindrom nefrotik resisten steroid (SNRS). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan aspek klinis dan laboratorium dengan tipe SN pada anak. Jenis penelitian ini analitik retrospektif pada pasien SNSS dan SNRS berdasarkan data rekam medik di Bagian Ilmu Kesehatan Anak RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Data dikumpulkan meliputi identitas, usia, tekanan darah, proteinuria, edema, hematuria, hematuria, serta kadar albumin dan kolesterol. Hasil penelitian memperlihatkan 29 pasien SN terdiri dari 18 pasien SNSS dan 11 pasien SNRS. Laki-laki sebanyak 17 kasus (59%) dan perempuan 12 kasus (41%). Tidak didapatkan hubungan pada jenis kelamin (p=0,064), usia (p=0,064), edema (p=0,138), tekanan darah sistolik (p=0,283), tekanan darah diastolik (p=0,701), proteinuria (p=0,999), hematuria (p=0,060), albumin (p=0,175), kolesterol (p=0,814) pada kedua kelompok. Simpulan: Tidak terdapat hubungan antara jenis kelamin, usia, tekanan darah, proteinuria, hematuria albumin dan kolesterol dengan SNSS dan SNRS.Kata kunci: sindrom nefrotik, proteinuria, SNSS, SNRS.
Analisis Faktor Risiko Glomerulonefritis Akut Pasca Streptokokus pada Anak Di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado Tatipang, Pirania Ch.; Umboh, Adrian; Salendu, Praevilia M.
e-CliniC Vol 5, No 2 (2017): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v5i2.18508

Abstract

Abstract: Acute post-streptococcal glomerulonephritis (APSGN) is a part of acute nephritic syndrome characterized by gross hematuria, edema, hypertension, and renal insufficiency. This APSGN is common in children, caused by infection of Streptococcus β-hemoliticus group A nephritogenic strain, and 97% of cases were in developing countries including Indonesia. This study was aimed to obtain the risk factors of APSGN and their association with APSGN. This was a retrospective descriptive study with a cross sectional design. Samples were medical record data of Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado during the period of January 2013-October 2017. There were 67 samples in this study consisted of 48 (71.6%) cases of APSGN and 19 (25.3%) cases without APSGN. The bivariate analysis found five variables related to APSGN incidence, as followed: male gender (P =0.005), age ≥5 years (P=0.000), low socioeconomic status (P=0.000), good nutrition (P =0.000), and rainy season (P=0.005). Parents’ education was not related to APSGN incidence. Conclusion: The risk factors of APSGN in children were male gender, age ≥5 years, low socioeconomic status, good nutritional status, and rainy season.Keywords: APSGN, risk factors, childrenAbstrak: Glomerulonefritis akut pasca streptokokus (GNAPS) adalah bagian dari sindrom nefrotik akut (SNA) yang ditandai dengan gross hematuria, edema, hipertensi, dan insufisiensi ginjal. Gangguan ini sering terjadi pada anak-anak, disebabkan oleh infeksi kuman Streptococcus β-hemolyticus group A strain nephritogenic, dan 97% kasus terjadi di negara berkembang termasuk Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor risiko GNAPS dan hubungan faktor risiko tersebut dengan kejadin GNAPS. Jenis peneltiian ialah deskriptif retrospektif dengan desain potong lintang. Pengambilan sampel menggunakan data rekam medik RSUP Prof. R. D. Kandou Manado periode Januari 2013-Oktober 2017. Terdapat 67 sampel terdiri dari 48 (71,6%) kasus GNAPS dan 19 (25,3%) kasus yang tidak mengalami GNAPS. Berdasarkan analisis bivariat di temukan 5 varibel yang berhubungan dengan kejadian GNAPS yaitu jenis kelamin laki-laki P=0,005), usia ≥5 tahun (P=0,000), status sosial ekonomi rendah (P=0,000), gizi baik (P=0,000), dan musim hujan (P=0,005). Faktor risiko yang tidak berhubungan dengan kejadian GNAPS ialah pendidikan orang tua (P=0,20). Simpulan: Faktor risiko GNAPS pada anak ialah jenis kelamin laki-laki, usia ≥5 tahun, status sosial ekonomi rendah, status gizi, dan musim hujan.Kata Kunci: GNAPS, faktor risiko, anak
Hubungan enuresis dengan kejadian leukosituria pada siswa sekolah dasar Roring, Angie G.; Umboh, Adrian .; Wilar, Rocky .
e-CliniC Vol 4, No 1 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v4i1.11687

Abstract

Abstract: Enuresis refers to the involuntary excretion of urine that occurs during urination which is expected to have already been attained. Enuresis is divided into nocturnal enuresis and diurnal enuresis. Nocturnal enuresis (sleep wetting) is enuresis which occurs at night while enuresis diurnal (awake wetting) is enuresis which occurs during the day. The presence of leukocytes in urine that exceeds the normal value is called leukocyturia which is a sign of inflammation of the urinary tract (kidneys, ureter, bladder, and urethra). This study aimed to obtain the relationship between leukocyturia and enuresis among primary school students aged 5-10 years in SDN 4 and SDN 8 Wawalintouan Tondano. This was an observational analytical study with a cross sectional approach. Samples were obtained by using purposive sampling method. There were 60 urine samples of children of SDN 4 and SDN 8 Wawalintouan, Tondano. The results showed that of the 60 students, there were 34 males (56.7%) and 26 females (43.3%). Based on gender, there were 29 males (61.7%) with negative leukocyturia and 5 males (38.5%) with positive leukocyturia; among females there were 18 females (38.3%) with negative leukocyturia and 8 females (61,5%) with positive leukocyturia Based on enuresis, the distribution of leukocyturia showed 7 students (53,8%) with enuresis and positive leukocyturia, meanwhile of those without enuresis there were 6 students (46,2%) with positive leukocyturia. Conclusion: There was no relationship between the incidence of enuresis and leukocyturia among primary school students aged 5-10 years in SDN 4 and SDN 8 Wawalintouan Tondano.Keywords: enuresis,leukosituria,urinalysis. Abstrak: Enuresis merupakan pengeluaran air kemih yang tidak disadari yang terjadi pada saat proses berkemih diharapkan sudah tercapai. Enuresis di bagi atas enuresis nokturnal dan enuresis diurnal. Enuresis nokturnal (sleep wetting) merupakan enuresis yang terjadi pada malam hari sedangkan enuresis diurnal (awake wetting) adalah enuresis yang terjadi pada siang hari. Terdapatnya leukosit dalam urin melebihi nilai normal disebut leukosituri yang merupakan salah satu tanda adanya peradangan pada saluran kemih (mencakup ginjal, ureter, kandung kemih, dan uretra). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara enuresis dengan kejadian leukosituria pada siswa sekolah dasar usia 5-10 tahun di SDN 4 dan SDN 8 Wawalintouan Tondano. Jenis penelitian ini analitik observasional dengan desain potong lintang. Sampel diperoleh dengan metode purposive sampling yang dilaksanakan dengan mengambil sampel urin anak-anak sekolah dasar di SDN 4 dan SDN 8 Wawalintouan Tondano. Hasil penelitian memperlihatkan dari 60 sampel terdapat 34 anak laki-laki (56,7%) dan 26 anak perempuan (43,3%). Dari distribusi leukosituria berdasarkan jenis kelamin didapatkan anak laki-laki dengan leukosituria negatif berjumlah 29 anak (61,7%) dan dengan leukosituria positif 5 anak (38,5%), sedangkan anak perempuan dengan leukosituria negatif berjumlah 18 anak (38,3%) dan yang leukosituria positif 8 anak (61,5%). Distribusi leukosituria berdasarkan enuresis didapatkan 7 anak (53,8%) yang enuresis dengan leukosituria positif, sedangkan yang tidak enuresis didapatkan 6 anak (46,2%) dengan leukosituria positif. Simpulan: Tidak terdapat hubungan antara enuresis dengan kejadian leukosituria pada siswa sekolah sekolah dasar usia 5-10 tahun di SDN 4 dan SDN 8 Wawalintouan Tondano. Kata kunci: enuresis, leukosituria, urinalisis
Faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian kelainan bawaan pada neonatus di RSUP Prof Dr. R. D. Kandou Manado Polii, Evan G.; Wilar, Rocky; Umboh, Adrian
e-CliniC Vol 4, No 2 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.4.2.2016.14466

Abstract

Abstract: Nowadays, problems of the quality of the child life is the main priority in national health program, inter alia congenital anomaly which is defined as structural or functional anomaly (example metabolic disorders) that occurs during intrauterine life and can be identified before birth, at birth, or after birth. This study was aimed to find out the risk factors that related to the occurrence of congenital anomalies in the neonati at Prof . Dr. R. D. Kandou Hospital Manado. This was a descriptive retrospective study. Total samples were 66 neonates that fulfilled the inclusion criteria as follows: neonates who were born and taken cared at Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado. The results showed that maternal risk factors had a major role to the occurrence of congenital anomalies. Conclusion: Maternal infection during pregnancy was the most common risk factor, however, several congenital anomalies had unknown risk factor.Keywords: neonates, congenital anomalies, maternal risk factor Abstrak: Pada zaman sekarang ini masalah kualitas hidup anak merupakan prioritas utama bagi program kesehatan nasional. Salah satu faktor yang memengaruhi kualitas hidup anak ialah adanya kelainan bawaan yaitu anomali struktural atau fungsional (misalnya gangguan metabolisme) yang terjadi selama hidup intrauterin dan dapat diidentifikasi sebelum lahir, saat lahir, atau di kemudian hari. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian kelainan bawaan pada neonatus di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Jenis penelitian ialah deskriptif retrospektif. Sampel sebanyak 66 neonati dengan kriteria inklusi neonatus yang lahir dan dirawat di RSUP Prof Dr. R. D. Kandou Manado. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa faktor risiko ibu berperan penting terhadap kejadian kelainan bawaan. Simpulan: Infeksi ibu selama kehamilan merupakan faktor risiko ibu yang paling sering ditemukan pada kelainan bawaan. Walalupun demikian, terdapat juga faktor-faktor yang tidak diketahui yang memengaruhi kejadian kelainan bawaan. Kata kunci: neonatus, kelainan bawaan, faktor risiko ibu
HUBUNGAN FAKTOR GENETIK DENGAN TEKANAN DARAH PADA REMAJA Kalangi, Jane A.; Umboh, Adrian; Pateda, Vivekenanda
e-CliniC Vol 3, No 1 (2015): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v3i1.6602

Abstract

Abstract: Essential hypertension is more commonly found in adolescent than in younger children and is strongly associated with genetic factor and obesity. Genes that play important role in hypertension mechanism are classified into genes that affect the natrium homeostasis in kidney, which include the I/D polymorphism ACE (Angiotensin Converting Enzyme) gene, and genes that affect steroid metabolism. Adolescents with hypertensive parents have higher risk of developing hypertension than those without familial history of hypertension. The aim of this research is to study the relationship between genetic factor (family history of hypertension) and blood pressure of adolescents. This was an analytic observational study with a cross sectional design. It was conducted in November- December 2014 at SMP Negeri 8 Malalayang. Samples were students with good nutritional status who are registered in that particular school and are given permission by their parents to participate in the study. There were 80 students who were involved in the study. Questionnaires were distributed to the students to know the existence of family history of hypertension especially in their parents and then the students’ blood pressure were measured. The data obtained is analyzed using Fisher’s Exact Test with SPSS program. The results showed that according to Fisher’s Exact Test, there was no significant relationship between genetic factor and blood pressure in adolescent. (p = 0.154 > 0.05). Conclusion: There was no relationship between genetic factor (hypertensive parents) and blood pressure in adolescent.Keywords: genetic factor, blood pressure, hypertension, adolescentAbstrak: Hipertensi esensial lebih sering ditemukan pada remaja dibandingkan dengan anak-anak dan dikaitkan erat dengan faktor genetik dan obesitas. Gen-gen yang berperan dalam mekanisme hipertensi dibagi menjadi gen yang mempengaruhi homeostasis natrium di ginjal, termasuk polimorfisme I/D gen ACE (Angiotensin Converting Enzyme) dan gen yang mempengaruhi metabolisme steroid. Remaja dengan orangtua hipertensif mempunyai resiko untuk mendapat hipertensi lebih tinggi dibandingkan anak dengan orangtuanya yang normotensif. Tujuan dari penelitian adalah untuk mengetahui hubungan faktor genetik (riwayat hipertensi dalam keluarga) dengan tekanan darah. Penelitian ini bersifat observasional analitik dengan rancangan potong lintang. Penelitian ini dilakukan pada bulan November – Desember 2014 di Sekolah Menengah Pertama Negeri 8 Malalayang. Sampel penelitian yaitu siswa yang memenuhi kriteria inklusi yaitu anak dengan status gizi baik yang tercatat di register sekolah serta mendapat izin dari orangtua untuk mengikuti penelitian. Subjek penelitian berjumlah 80 siswa. Kuesioner dibagikan untuk mengetahui riwayat hipertensi dalam keluarga terutama pada orang tua lalu tekanan darah anak diukur. Data yang diperoleh dianalisa menggunakan Fisher’s Exact Test dengan bantuan program SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan uji Fisher’s exact, tidak terdapat hubungan yang signifikan antara faktor genetik (riwayat hipertensi dalam keluarga) dengan tekanan darah pada remaja (nilai p = 0,154 > 0.05). Simpulan: Tidak terdapat hubungan antara faktor genetik (orang tua yang hipertensi) dengan tekanan darah pada remajaKata kunci: faktor genetik, tekanan darah, hipertensi, remaja
Co-Authors Aaltje E. Manampiring Aaltje Ellen Manapiring Aaltje Manampiring Abram Babakal Adi Suryadinata Krisetya Alan J. Jufri Algi Reafanny Batara Amatus Yudi Ismanto Andi Dwi Bahagia Febriani Andrian Aldo Rantung Angelya Lumoindong Angie G. Roring, Angie G. Ango, Putri C. Ari L. Runtunuwu Ari Runtunuwu Astrid A. Malonda Baksh, Aida K. Bernadus, Janno Berty Bradly Chensilya Kusumanarwasti Christien Gloria Tutu Corona, Fidel Damaris, Damaris David E Kaunang David Kaunang Drova Grano Manorek Eka Patandianan Elia A. P. Hutapea Erling D. Kaunang Fatimawali . Frecillia Regina Herwanto Herwanto Hesti Lestari Hesti Lestari Hidayani, Agung R.E Hosang, Kevin H. Irawan Yusuf Iwan P. Wawointana, Iwan P. Jane A. Kalangi Jeanette I. Ch. Manoppo Jeanette I. Ch. Manoppo, Jeanette I.Ch. Manoppo Jenifer Andalangi Johannes Edwin Johnny Rompis Jose M. Mandei Jose M. Mandei Jully Kasie Kartini W. Adam Kristellina Tirtamulia Kromo, Lucky Kurniawan Tan Lasidi, Oktifani Devi Liow, Jackli Eugene Lonto, Jesica S. Lumingkewas, Pitter Handry Lydia Tendean Maki, Frindi Manopo, Berry R. Manoppo, Jeanette Irene Christiene Mantali, Rizqa Mantik, Keren E.K. Maria Fitricilia Marianne C. Jacobus, Marianne C. Matthew, Febriano Max F. J. Mantik Max F.J Mantik, Max F.J Natharina Yolanda, Natharina Nilawati, . Novie H. Rampengan Novie Homenta Rampengan, Novie Homenta Nurhayati Masloman Oktavin Yollah Umboh Paulina N. Gunawan Phan, Sardito Pinaria, Anthoneta S. Polii, Evan G. Praevilia M. Salendu Queen Mandang Reifanli M. Pai, Reifanli M. Robin Samuel Mamesah, Robin Samuel Rocky Wilar Rompies, Ronald Ronald Chandra Sabriani, Jehan Sanusi, Holly Sarah M. Warouw Sarah Warouw smanto, Yudi Stefanus Gunawan Stefanus Gunawan Stevanus Gunawan, Stevanus Surya, Welong S. Suryani As’ad Suwontopo, Marvin Leonardo T. A. Sudjono Taliwongso, Fernando Ch. Tandiawan, Ledy Tatipang, Pirania Ch. Umboh, Indria M. Umboh, Valetine Valentine Umboh Valentine Umboh, Valentine Vicky M. Kalangie, Vicky M. Vini Maleke, Vini Vivekenanda Pateda Vivekenanda Pateda Waworuntu, David S. Yanni, Iloh Devi Yolanda B. Bataha