Claim Missing Document
Check
Articles

PERBANDINGAN TEKANAN DARAH ANTARA ANAK YANG TINGGAL DI PEGUNUNGAN DAN PESISIR PANTAI Mandang, Queen; Umboh, Adrian; Gunawan, Stefanus
e-CliniC Vol 3, No 1 (2015): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v3i1.6425

Abstract

Abstract: Blood pressure in children varies because there are many factors that influence. One is geographic factors. Based on data from the Health Research in 2007 found that the prevalence of hypertension is highest in coastal areas while the lowest prevalence of hypertension in the coastal area. Altitude and different sodium intake on mountain and coastal areas are assumed to affect the blood pressure. This study aimed to determine the difference in blood pressure between children who live in the mountains and in the coast. We used descriptive analytic method with cross sectional design, with 107 samples according to criteria of children aged 6-12 years with no family history of obesity and hypertension. Data were obtained by using questionnaire, measurement of weight and height (BMI) and blood pressure measurement using a sphygmomanometer and cuff child. The results showed 15.5% of children with high-normal systolic pressure and 17.4% of children with high diastolic pressure in the mountains. In coastal areas, found 28% of children with normal systolic pressure-high, 13% of children of normal-high diastolic pressure, and 5% of children of high diastolic pressure. These data were analyzed using Mann Whitney test, showing the results were not statistically significantly systolic (p = 0.815) diastolic (p = 0.221) so that H0 and H1 is rejected. Conclusion: There was no difference in blood pressure among children aged 6-12 years who live in the mountains and the coast.Keywords: child's blood pressure, mountains, coastal.Abstrak: Tekanan darah pada anak bervariasi karena ada banyak faktor yang memengaruhi. Salah satunya adalah faktor geografis. Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar tahun 2007 didapatkan prevalensi hipertensi tertinggi di wilayah pantai sedangkan prevalensi hipertensi terendah di wilayah pantai. Ketinggian lokasi dan asupan natrium yang berbeda pada daerah pegunungan dan pesisir pantai diasumsikan berpengaruh terhadap tekanan darah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan tekanan darah antara anak yang tinggal di pegunungan dan pesisir pantai. Metode penelitian deskriptif analitik dengan rancangan potong lintang, dengan 107 sampel sesuai kriteria anak umur 6-12 tahun tanpa obesitas dan riwayat keluarga hipertensi. Data diperoleh melalui kuesioner, pengukuran berat badan dan tinggi badan (IMT) dan pengukuran tekanan darah menggunakan sphygmomanometer dan manset anak. Hasil penelitian menunjukkan 15,5% anak dengan tekanan sistolik normal-tinggi dan 17,4% anak dengan tekanan diastolik tinggi pada daerah pegunungan. Pada daerah pesisir pantai ditemukan 28% anak dengan tekanan sistolik normal-tinggi, 13% anak tekanan diastolik normal-tinggi, dan 5% anak tekanan diastolik tinggi. Data ini dianalisis menggunakan uji mann whitney, menunjukkan hasil secara statistik tidak bermakna sistolik (p=0,815) diastolik (p=0,221) sehingga H0 diterima dan H1 ditolak. Simpulan: Tidak ada perbedaan tekanan darah antara anak berumur 6-12 tahun yang tinggal di pegunungan dan pesisir pantai.Kata kunci: tekanan darah anak, pegunungan, pantai.
PERBEDAAN TEKANAN DARAH PADA ANAK YANG TINGGAL DI PEGUNUNGAN DAN TINGGAL DI TEPI PANTAI Jufri, Alan J.; Umboh, Adrian; Masloman, Nurhayati
e-CliniC Vol 3, No 1 (2015): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v3i1.7403

Abstract

Abstract: Blood pressure is the force that is necessary for blood to flow in blood vessels and circulation to all parts of the human body. The air pressure in the mountains is lower than at the beach, this causes increased erythrocyte production, which results in increased viscocity and resistance. This study aimed to determine the difference in blood pressure among children who live in the mountains and at the seaside. This was an observational survey with a cross sectional design. Samples taken to represent the two major populations were elementary students Wulurmaatus Modoinding, South Minahasa (mountain area) and elementary students Inpres 12/79 Wangurer, Madidir Bitung (beach area). In the target population sampling is done by simple random sampling and at affordable population sampling conducted consecutive sampling. Found as many as 28 boys in the mountains and 24 boys on the beach with an average TDS respectively 90.3 mmHg and 94.1 mmHg (ρ = 0.126) and the average TDD respectively 62, 1 mmHg and 64.7 mmHg (ρ = 0.146). And as many as 25 girls in the mountains and 28 girls on the beach with an average TDS respectively 88.7 mmHg and 93.5 mmHg (ρ = 0.065) and the average TDD found respectively 63.7 mmHg and 66 mmHg (ρ = 0.139). From the results obtained it can be concluded that there was no difference in blood pressure (systolic and diastolic) in children who live in the mountains and at the seaside.Keywords: blood pressure, children, mountains, beach frontAbstrak: Tekanan darah merupakan kekuatan yang diperlukan agar darah dapat mengalir di dalam pembuluh darah dan beredar ke seluruh bagian tubuh manusia. Tekanan udara di pegunungan lebih rendah di bandingkan di tepi pantai; hal ini meningkatkan produksi eritrosit, yang mengakibatkan peningkatan viskositas serta resistensi, Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan tekanan darah pada anak yang tinggal di pegunungan dan di tepi pantai. Penelitian ini bersifat survei observasional dengan rancangan potong lintang. Sampel diambil mewakili ke dua populasi, yaitu siswa SD Inpres Wulurmaatus Kecamatan Modoinding, Kabupaten Minahasa Selatan (pegunungan) dan siswa SD Inpres 12/79 Wangurer, Kecamatan Madidir Kota Bitung (tepi pantai). Pada populasi target pengambilan sampel dilakukan secara simple random sampling dan pada populasi terjangkau pengambilan sampel dilakukan secara consecutive sampling. Ditemukan sebanyak 28 anak laki-laki di pegunungan dan 24 anak laki-laki di tepi pantai dengan rata-rata TDS masing-masing 90,3 mmHg dan 94,1 mmHg (ρ=0,126) serta rata-rata TDD masing-masing 62,1 mmHg dan 64,7 mmHg (ρ=0,146). Sebanyak 25 anak perempuan di pegunungan dan 28 anak perempuan di tepi pantai dengan rata-rata TDS masing-masing 88,7 mmHg dan 93,5 mmHg (ρ=0,065) serta rata-rata TDD ditemukan masing-masing 63,7 mmHg dan 66 mmHg (ρ= 0,139). Simpulan: Tidak terdapat perbedaan tekanan darah (sistolik dan diastolik) pada anak yang yang tinggal di pegunungan dan di tepi pantai.Kata kunci: tekanan darah, anak, pegunungan, tepi pantai
GAMBARAN FUNGSI GINJAL PADA ANAK DENGAN TERAPI LEUKEMIA LIMFOBLASTIK AKUT DI PUSAT KANKER ANAK ESTELLA RSUP PROF DR RD KANDOU Adam, Kartini W.; Umboh, Adrian; Gunawan, Stefanus
e-CliniC Vol 3, No 1 (2015): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v3i1.6515

Abstract

Abstract: Leukemia is a neoplastic disease which is characterized with differentiation and proliferation of hematopoietic cells. Chemotherapy is one of the main therapy for cancer until the remission. Metabolites of chemotherapy may damage the kidney cells, ureter, and bladder which is marked with a decrease of kidney functions. This study aimed to obtain the kidney functions of pediatric patients with acute lymphoblastic leukemia (ALL) who got chemotherapy. This was a retrospective-cohort study by collecting the medical records of pediatric patients with ALL in Pediatric Cancer Center Estella of Hospital of Prof. DR. R.D Kandou period January 2010-August 2014, and then analyzed their Glomerulus Filtration Rate (GFR) using Mann-Whitney test on the induction phase and unpaired T-test on the consolidation phase. There were 42 cases in this study. The result showed no significant difference (P > 0.05) between the LFG induction and consolidation phase. Conclusion: There was not a significant different betwen renal function of children aged 2-12 years of high risk groups and of standard risk groups who got chemotherapy in induction phase and consolidation phase.Keywords: glomerulus filtration rate, acute lymphoblastic leukemia, chemotherapyAbstrak: Leukemia adalah penyakit neoplastik yang ditandai dengan diferensiasi dan proliferasi sel hematopoietik. Kemoterapi merupakan pengobatan utama kanker sampai ke tahap remisi. Metabolit obat kemoterapi dapat merusak sel-sel ginjal, ureter, dan kandung kemih ditandai dengan penurunan fungsi ginjal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui fungsi ginjal pada anak dengan leukemia limfoblastik akut (LLA) yang menjalani kemoterapi. Jenis penelitian yang digunakan adalah kohort retrospektif, dengan cara mengumpulkan rekan medik pasien anak dengan LLA di Pusat Kanker Anak Estella RSUP Prof. DR. R.D Kandou periode Januari 2010-Agustus 2014, lalu menganalisis LFG dengan menggunakan Uji Mann-whitney pada fase induksi dan Uji T tidak berpasangan pada fase konsolidasi. Terdapat 42 kasus dalam penelitian ini. Hasil penelitian memperlihatkan tidak terdapat perbedaan bermakna (P > 0,05) antara LFG fase induksi dan konsolidasi. Simpulan: Tidak terdapat perbedaan bermakna antara fungsi ginjal anak usia 2-12 tahun pada kelompok high risk (risiko tinggi) dan kelompok standard risk (risiko standar) setelah menjalani kemoterapi fase induksi dan fase konsolidasi.Kata kunci: laju filtrasi glomerulus, leukemia limfoblastik akut, kemoterapi
HUBUNGAN STATUS GIZI DAN BERAT LAHIR PADA ANAK USIA 2-3 TAHUN Patandianan, Eka; Umboh, Adrian; Warouw, Sarah
e-CliniC Vol 3, No 1 (2015): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v3i1.6751

Abstract

Abstract: Based on Riskesdas 2013, national prevalence of severely underweight 5,7%, underweight 13,9%, normal 75,9% and overweight 4,5%. Many factors affect the nutritional status of children under 5 years: socio-economic, maternal education, place of residence, birth status, infection, genetic, immunization, the status of breastfeeding, complementary feeding, health care, intervals of pregnancy and birth weight. Small for gestational age (SGA) refers to infants born weighing less than the weight of pregnancy it is supposed to. Catch up growth leads low birth weight baby to reach or to exceed a normal weight later. Catch up growth spontaneously occurred in 2 years old children and without spontaneous catch up growth at 3 years, it is not possible to experience it later without therapeutic intervention. The purpose of this study is to measure the weight and height of children aged between 2-3 years old with a history of SGA, determine nutritional status and determine the relationship between nutritional status and birth weight. This research took place at Prof Dr RD Kandou Hospital Manado and samples’ house, from October to December 2014. This study was an observational analytic study with cross-sectional approach and used consecutive sampling method. There were 39 children aged between 2-3 years old with a history of SGA as samples, who were born in Prof Dr RD Kandou Hospital from December 2011 to December 2012. Nutritional status by weight for age 5,1% severely underweight, 15,4% underweight, 79,5% normal; by height for age 25,6% severely stunted, 28,2% stunted and 46,2% normal; by weight for height 5,1% wasted, 89,8% normal and 5,1% overweight; by BMI for age 5,1% stunted, 84,6% normal and 10,3% overweight. There is no relationship between nutritional status and birth weight in children aged between 2-3 years old with a history of SGA (p> 0.05).Keywords: nutritional status, birth weight, SGAAbstrak: Berdasarkan Riskesdas 2013, prevalensi nasional gizi buruk 5,7%, gizi kurang 13,9%, gizi baik 75,9% dan gizi lebih 4,5%. Banyak faktor yang yang mempengaruhi status gizi anak dibawah 5 tahun: sosial-ekonomi, pendidikan ibu, tempat tinggal, status kelahiran, infeksi, genetik, imunisasi, status menyusui, makanan pendamping, perawatan kesehatan, interval kehamilan dan berat lahir. Kecil masa kehamilan (KMK) mengacu pada bayi lahir dengan berat kurang dari berat seharusnya untuk masa kehamilan itu. Tumbuh kejar menyebabkan bayi dengan berat badan lahir rendah mencapai atau melebihi berat badan normal di kemudian hari. Tumbuh kejar spontan terjadi pada usia 2 tahun dan anak tanpa tumbuh kejar spontan pada usia 3 tahun tidak mungkin untuk mengalami hal itu kemudian tanpa intervensi terapeutik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengukur berat badan dan tinggi badan anak 2-3 tahun dengan riwayat KMK, menentukan status gizinya dan mengetahui hubungan antara status gizi terhadap berat lahir. Lokasi penelitian di RSUP Prof Dr RD Kandou Manado dan rumah sampel penelitian, dari Oktober-Desember 2014. Penelitian ini merupakan analitik observasional dengan pendekatan potong lintang dan menggunakan metode consecutive sampling. Didapatkan sampel sebanyak 39 anak usia 2-3 tahun dengan riwayat kecil masa kehamilan yang lahir di RSUP Prof Dr RD Kandou periode Desember 2011 – Desember 2012. Status gizi menurut BB/U gizi buruk 5,1%, gizi kurang 15,4%, gizi baik 79,5%; menurut TB/U sangat pendek 25,6%, pendek 28,2% dan normal 46,2%; menurut BB/TB kurus 5,1%, normal 89,8% dan berat badan lebih 5,1%; menurut IMT/U kurus 5,1%, normal 84,6% dan berat badan lebih 10,3%. Tidak ada hubungan antara status gizi dan berat lahir pada anak usia 2-3 tahun dengan riwayat KMK (p>0,05).Kata kunci: status gizi, berat lahir, KMK
Hubungan faktor determinan dengan penggunaan kontrasepsi pada wanita usia ASFR (Age Spesific fertility Rate) Nilawati, .; Umboh, Adrian; Tendean, Lydia
Jurnal Biomedik : JBM Vol 12, No 2 (2020): JURNAL BIOMEDIK : JBM
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.12.2.2020.29513

Abstract

Abstract: This study was aimed to Determinant Factors in the Use of Contraception in Women Age ASFR (Age Specific Fertility Rate) in the Province of North Sulawesi. The population is all women aged in ASFR in North Sulawesi. Sampling based on raw data SKAP adjusted to the inclusion and exclusion criteria.  Analysis with Chi Square test and Logistic regression. The results of the study found a relationship between education, family planning counseling service and family planning service, while the number of children, residential areas and the mass media were not. Based on multivariate results, family planning counseling service have a large role which is obtained OR value of 25.078 (95% CI = 3.089-203.625). Conclusion, education, family planning services counseling and family planning services have a significant relationship, while the number of children, residential areas and the mass media were not.Keywords: determinants factors, education, children, residential area, mass media, family planning, counseling, service, women age ASFR  Abstrak: Tujuan penelitian ini adalah mengetahui faktor determinan penggunaan kontrasepsi pada wanita usia ASFR (Age Specific Fertility Rate) di Provinsi Sulawei Utara. Jenis penelitian analitik dengan desain cross-sectional. Populasi semua wanita usia ASFR di Provinsi Sulawesi Utara. Pengambilan sampel berdasarkan raw data SKAP yang disesuaikan dengan kriteria inklusi dan eksklusi. Analisis dengan uji Chi Square dan regresi Logistic. Hasil penelitian terdapat hubungan antara pendidikan, konseling pelayanan KB dan tempat pelayanan KB sedang jumlah anak, wilayah tempat tinggal dan media massa tidak. Berdasarkan hasil multivariate konseling pelayanan KB mempunyai peran yang besar dimana di peroleh nilai OR 25,078 (CI 95% = 3,089-203,625). Kesimpulan pendidikan, konseling pelayanan KB dan tempat pelayanan KB mempunyai hubungan yang signifikan, sedangkan jumlah anak, wilayah tempat tinggal dan media tidak.Kata kunci: faktor determinan, pendidikan, jumlah anak, daerah pemukiman, media massa, konseling, pelayanan, keluarga berencana, wanita usia ASFR.
Faktor Risiko yang Berhubungan dengan Kejadian Kelainan Bawaan pada Neonatus Matthew, Febriano; Wilar, Rocky; Umboh, Adrian
e-CliniC Vol 9, No 1 (2021): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v9i1.32306

Abstract

Abstract Congenital abnormalities are one of the main causes of infant mortality worldwide. Their symptoms vary from mild to severe. This study was aimed to determine the risk factors associated with the incidence of congenital abnormalities. This was a literature review study. The results obtained 10 articles that discussed about the risk factors of congenital abnormalities. The incidence of congenital abnormalities was more common in males. The most common factor was the maternal age of 20+ years Especially in Indonesia, there was no significant data about the risk factors related to the incidence of congenital abnormalities, however, two journals from Indonesia showed an increased incidence of congenital abnormalities in women infected during pregnancy. In addition, there were other risk factors found only in one to two journals, such as exposure to cigarettes, consumption of drugs or narcotics, and family history of previous congenital disorders. The review also covered several congenital disorders classified in organ systems dominated by the cardiovascular system. In conclusion, the risk factors associated with congenital abnormalities are maternal age, multiparity, history of abortion, congenital abnormalities in previous pregnancies, gestational diabetes, exposure to cigarette smoke, consumption of alcohol, consumption of drugs, not taking folic acid, family history of congenital abnormalities, consanguinity, and low socioeconomic statusKeywords: risk factor, birth defect, congenital anomalies, neonates                                                                         Abstrak Kelainan kongenital merupakan salah satu penyebab utama kematian bayi di dunia dengan gejala bervariasi dari ringan hingga berat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian kelainan kongenital. Jenis penelitian ialah literature review. Hasil penelitian mendapatkan 10 artikel mengenai faktor risiko kejadian kelainan kongenital. Kejadian kelainan kongenital lebih sering terjadi pada jenis kelamin laki-laki. Faktor risiko yang paling sering ialah usia ibu saat hamil mulai 20 tahun hingga lebih. Khusus di Indonesia belum ada data bermakna yang menunjukkan faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian kelainan kongenital, namun dua artikel dari Indonesia menunjukkan peningkatan kejadian kelainan kongenital pada ibu yang terinfeksi saat hamil. Faktor risiko lainnya yang hanya didapatkan pada satu hingga dua jurnal saja seperti, paparan rokok, konsumsi obat maupun narkoba, serta riwayat keluarga yang pernah mengalami kejadian kelainan bawaan sebelumnya. Hasil kajian juga mendapatkan beberapa diagnosis penyakit kelaianan kongenital yang di golongkan dalam sistem organ, didominasi oleh sistem kardiovaskular. Simpulan penelitian ini ialah faktor risiko yang berhubungan dengan kelainan kongenital ialah usia ibu, multiparitas, riwayat abortus, kelainan ba kongenital waan pada kehamilan sebelumnya, diabetes gestasional, paparan asap rokok, konsumsi alkohol, konsumsi obat-obatan, tidak mengonsumsi asam folat, riwayat keluarga mengalami kelainan kongenital, adanya hubungan darah antara ayah dan ibu, dan status sosioekonomi rendahKata kunci: faktor resiko, kelainan kongenital, neonatus
Perbandingan Leukosituria, Nitrit, Leukosit Esterase dengan Kultur Urin dalam Mendiagnosis Infeksi Saluran Kemih pada Anak Sabriani, Jehan; Umboh, Adrian; Manoppo, Jeanette I. Ch.
Medical Scope Journal Vol 2, No 2 (2021): Medical Scope Journal
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/msj.2.2.2021.32596

Abstract

Abstract: Urinary tract infection (UTI) in children is the most common infection after upper airway infection. The diagnosis of UTI is based on urine culture, however, this examination takes a longer time and is quite expensive. Therefore, the diagnosis of UTI can also be confirmed by using leukocyturia, nitrite, and leukocyte esterase tests although they can not replace urine culture as the gold standard. This study was aimed to determine the accuracy of positive leukocyturia, positive nitrite, positive leukocyte esterase examination, combination of positive leukocyturia and nitrite examinations, positive leukocyturia and leukocyte esterase, and leukocyturia, nitrite, positive leukocyte esterase in diagnosing UTI. This was a literature review study. The results of the literature review showed that the range of accuracy of UTI diagnosis using positive leukocyte esterase examinations was 9-6.8%, positive nitrite was 2.8-100%, leukocyte esterase was 13.7-86%, combination of positive leukocyturia and nitrite had a sensitivity value of 33 %, and specificity of 94%, combination of positive leukocytic and leukocytic esterase had a sensitivity value of 70% and a specificity of 90%, and combination of leukocyturia, nitrite, and leukocyte esterase had an accuracy range of 100%. In conclusion, these examinations coul be used to confirm the diagnosis of UTI in children especially if the urine culture can not be performed on them.Keywords: urinary tract infection (UTI), leukocyturia, nitrite, leukocyte esterase, urine culture, children Abstrak: Infeksi saluran kemih (ISK) merupakan infeksi yang paling sering terjadi pada anak setelah infeksi saluran napas atas. Diagnosis ISK ditegakkan berdasarkan hasil pemeriksaan kultur urin, namun pemeriksaan ini membutuhkan waktu yang lama dan biaya yang cukup mahal. Pemeriksaan leukosituria, nitrit, dan leukosit esterase juga membantu dalam mendiagnosis ISK, namun ketiga pemeriksaan ini belum dapat menggantikan kultur urin sebagai baku emas untuk mendiagnosis ISK. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar ketepatan pemeriksaan leukosituria positif, nitrit positif, leukosit esterase positif, gabungan pemeriksaan leukosituria dan nitrit positif, leukosituria dan leukosit esterase positif, dan gabungan leukosituria, nitrit, leukosit esterase positif dalam mendiagnosis ISK. Jenis penelitian ialah literature review. Hasil penelitian menunjukkan kisaran ketepatan diagnosis ISK menggunakan pemeriksaan leukosituria positif yaitu 9-6,8%, nitrit positif sebesar 2,8-100%, leukosit esterase sebesar 13,7-86%, gabungan leukosituria dan nitrit positif memiliki nilai sensitivitas 33%, dan spesifisitas sebesar 94%, gabungan leukosituria dan leukosit esterase positif memiliki nilai sensitivitas 70% dan spesifisitas sebesar 90%, serta gabungan pemeriksaan leukosituria, nitrit, dan leukosit esterase memiliki kisaran ketepatan sebesar 100%. Simpulan penelitian ini ialah pemeriksan-pemeriksaan tersebut dapat membantu menegakkan diagnosis ISK pada anak terutama bila kultur urin tidak memungkinkan dilakukan.Kata kunci: infeksi saluran kemih (ISK), leukosituria, nitrit, leukosit esterase, kultur urin, anak
HUBUNGAN POLA ASUH ORANG TUA DEGAN KEMANDIRIAN ANAK USIA PRASEKOLAH DI TK NEGERI PEMBINA MANADO Mantali, Rizqa; Umboh, Adrian; Bataha, Yolanda B.
JURNAL KEPERAWATAN Vol 6, No 1 (2018): E-Journal Keperawatan
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jkp.v6i1.18780

Abstract

Abstract: Independence in children is generally associated with the ability to do everything yourself, can measure the time of its own activities .The key to the success of a child’s independence is the pattern of parental care, parenting patterns affect the formation of child’s character. Parenting pattern of perents is divied into three, democratic parenting pattern, permissivea parenting and authoritarian parenting. This studi aims to determine the relationship of democratic parenting with the independence of children, the relationshipof permissive parenting with the independence of children and the relationship of parental authoritarian parenting with the independence of preschoolers. The design of this study using Cross Sectional approach, sampling techniques by total sampling is 58 childern. Instruments in this study from of questionnaires an analyzed using Chi-Squaretest statistic with a significance level of 95%.: α = 0,05. Chi Square test results with a significance level of 95% indicates that three is a relationship of parenting patterns of democratic and authoritarian parents with independence of preschoolers at Kindergarten of Pembina Manado Country, where the p.value of both is 0,001 and 0,011 samller than (α = 0,05). For Chi-Square test result on permissive parenting with a 95% : α = 0,05 significance level showed no relationship of permissive parenting pattern with independence of preschoolers at Kindergarten of Pembina Manado Country, where the p.value is greather than α = 0,05. Keywords: The Parenting Parents, Independence of preschoolers Abstrak: Kemandirian pada anak umumnya dikaitkan dengan kemampuan untuk melakukan segala sesuatunya sendiri. Kunci kesuksesan seorang anak menjadi mandiri salah satunya adalah pola asuh orang tua. Pola asuh orang tua berpengaruh terhadap pembentukan karakter anak. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan pola asuh demokratis dengan kemandirian anak, hubungan pola asuh permisif dengan kemandirian anak dan hubungan pola asuh otoriter orang tua dengan kemandirian anak usia prasekolah di TK Negeri Pembina Manado. Rancangan penelitian ini menggunakan pendekatan cross sectional. Cara pengambilan sampel dengan cara total sampling yaitu sejumlah 58 anak. Instrumen penelitian ini berupa kuesioner dan dianalisa menggunakan uji statistik Chi- Square dengan tingkat kemaknaan 95%: α = 0,05. Hasil uji Chi-Square (X2) dengan tingkat kemaknaan 95% (α = 0,05), menunjukkan ada hubungan pola asuh demokratis dan otoriter orang tua dengan kemadirian anak usia prasekolah di TK Negeri Pembina Manado, dimana nilai p keduanya adalah 0,001 dan 0,011, lebih kecil dari α = 0,05. Untuk hasil uji Chi-Square (X2) pada pola asuh permisif dengan tingkat kemaknaan 95% (α = 0,05), menunjukkan tidak ada hubungan pola asuh permisif dengan kemandirian anak usia prasekolah di TK Negeri Pembina Manado, dimana nilai p= 0,056, lebih besar dari α = 0,05. Kata Kunci: Pola asuh Orang Tua, Kemandirian Anak Usia Prasekolah.
PERBEDAAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF DAN SUSU FORMULA TERHADAP KEJADIAN DIARE PADA BAYI USIA 6-12 BULAN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS RANOTANA WERU Maki, Frindi; Umboh, Adrian; Ismanto, Amatus Yudi
JURNAL KEPERAWATAN Vol 5, No 1 (2017): E-Journal Keperawatan
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jkp.v5i1.14674

Abstract

Abstract: Diarhea is an abnormal condition of feces expultsion, characterized by raising volume, liquid and frequency of more than 3 times a day and for neonatus is more than 4 times a day with or without mucus. One of the factor that influence diarrhea is formula milk. Giving ASI is one of the principal strategy to fulfill an adequate nutrition, prohibit disease (diarhea) since the beginning of life. The prupose of this research is to know the comparison in giving exclusive ASI and formula milk in occurrence of diarrhea toward baby of ages 6-12 months old at Puskesmas Ranotana Weru. This research was designed by using observational analytical method with retrospective approach. Sample technique was used minimal sum of sample in this research with total 60 respondent. The instrument of this research was used questioner. The data was analyzed by using Mann Whitney test in 95% of confidence rate (a<0,05). The result of this research showed score P=0.010. The conclusion of the difference in giving exclusive ASI and formula milk in occurance of diarrhea toward baby of ages 6-12 months old at Puskesmas Ranotana Weru. Keywords: Diarhea, exclusive ASI, formula milk. Abstrak:Diare merupakan suatu keadaan pengeluaran tinja yang tidak normal atau tidak seperti biasanya, ditandai dengan peningkatan volume, keenceran, serta frekuensi lebih dari 3 kali sehari dan pada neonatus lebih dari 4 kali sehari dengan atau tanpa lender darah, salah satu faktor yang mempengaruhi kejadian diare yaitu susu formula. Pemberian air susu ibu (ASI) merupakan salah satu strategi utama untuk memenuhi kecukupan gizi, mencegah penyakit termasuk penyakit infeksi (diare) pada tahun-tahun awal kehidupan. Tujuan penelitian untuk mengetahui perbandingan pemberian ASI Eksklusif dan susu formula terhadap kejadian diare pada bayi usia 6-12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Ranotana Weru. Desain peneltian menggunakan metode observasional analitik dengan pendekatan retrospektif. Teknik pengambilan sampel menggunakan jumlah minimal sampel, dalam penelitian ini dengan jumlah sampel 60 responden Instrumen penelitian menggunakan kuisioner. Analisa data dilakukan dengan menggunakan uji Mann Whitney pada tingkat kemaknaan 95% (α < 0,05). Hasil penelitian diperoleh nilai P=0.010. Kesimpulan terdapat perbedaan pemberian ASI eksklusif dan susu formula terhadap kejadian diare pada bayi usia 6-12 bulan di wilayah kerja puskesmas Ranotana Weru. Kata Kunci: Diare, ASI Eksklusif, Susu Formula
HUBUNGAN POLA ASUH ORANG TUA DENGAN PERILAKU SEKSUAL ANAK USIA REMAJA DI SMK N 1 TOMBARIRIHUBUNGAN POLA ASUH ORANG TUA DENGAN PERILAKU SEKSUAL ANAK USIA REMAJA DI SMK N 1 TOMBARIRI Umboh, Indria M.; Umboh, Adrian; Babakal, Abram
JURNAL KEPERAWATAN Vol 7, No 1 (2019): E-Journal Keperawatan
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jkp.v7i1.24331

Abstract

Abstrack : Adolescence generally have a great sexual desires, so their feelings of fondness andlove can turn into negative sexual desires and make them have sex before marriage whichcauses various advese effect such as pregnancy and the risk of numerous sexual transmitteddiseases that lead to death so the right escort is needed here. One of the factors that influencesexual behaviour is parenting. The aim of this research is to know the relation betweenparenting and sexual behaviour of teens in SMK N 1 Tombariri. Research methods are usingapproach of cross sectional. This study involved 65 teens of grade XII as the respondents byusing Total Sampling method. Data are collected by questionnaires. The Result is Pearson ChiSquare with level of trust 95% (a, 0, 05) which value of p =0,022 is smaller than a=0,05.Conclusion there is relation between parenting and sexual behaviour of teens in SMK N 1Tombariri.Keywords : parenting style, sexual behaviour , adolescentsAbstrak : Masa remaja umumnya terdapat dorongan seksual yang besar, sehingga perasaansuka dan cinta mereka dapat berubah menjadi nafsu seksual yang negatif yang membuat merekamelakukan hubungan seksual sebelum waktunya dan menimbulkan berbagai dampak burukseperti kehamilan dan resiko berbagai penyakit menular seksual yang dapat berujung padakematian, disinilah perlu pendampingan yamg tepat. Salah satu faktor yang mempengaruhiperilaku seksual adalah pola asuh orang tua. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui hubunganpola asuh orang tua dengan perilaku seksual anak usia remaja di SMK N 1 Tombariri. Metodepenelitian menggunakan pendekatan cross sectional. Responden terdiri dari 65 remaja kelasXII dengan teknik pengambilan sampel menggunakan Total Sampling. pengumpulan datamenggunakan kuesioner. Hasil Uji Pearson Chi Square dengan tingkat kepercayaan 95% (ɑ0,05), dimana nilai p = 0,022 lebih kecil dari ɑ = 0,05. Kesimpulan ada hubungan antara polaasuh orang tua dengan perilaku seksual anak usia remaja di SMK N 1 Tombariri.Kata kunci : pola asuh, perilaku seksual, anak usia remaja
Co-Authors Aaltje E. Manampiring Aaltje Ellen Manapiring Aaltje Manampiring Abram Babakal Adi Suryadinata Krisetya Alan J. Jufri Algi Reafanny Batara Amatus Yudi Ismanto Andi Dwi Bahagia Febriani Andrian Aldo Rantung Angelya Lumoindong Angie G. Roring, Angie G. Ango, Putri C. Ari L. Runtunuwu Ari Runtunuwu Astrid A. Malonda Baksh, Aida K. Bernadus, Janno Berty Bradly Chensilya Kusumanarwasti Christien Gloria Tutu Corona, Fidel Damaris, Damaris David E Kaunang David Kaunang Drova Grano Manorek Eka Patandianan Elia A. P. Hutapea Erling D. Kaunang Fatimawali . Frecillia Regina Herwanto Herwanto Hesti Lestari Hesti Lestari Hidayani, Agung R.E Hosang, Kevin H. Irawan Yusuf Iwan P. Wawointana, Iwan P. Jane A. Kalangi Jeanette I. Ch. Manoppo Jeanette I. Ch. Manoppo, Jeanette I.Ch. Manoppo Jenifer Andalangi Johannes Edwin Johnny Rompis Jose M. Mandei Jose M. Mandei Jully Kasie Kartini W. Adam Kristellina Tirtamulia Kromo, Lucky Kurniawan Tan Lasidi, Oktifani Devi Liow, Jackli Eugene Lonto, Jesica S. Lumingkewas, Pitter Handry Lydia Tendean Maki, Frindi Manopo, Berry R. Manoppo, Jeanette Irene Christiene Mantali, Rizqa Mantik, Keren E.K. Maria Fitricilia Marianne C. Jacobus, Marianne C. Matthew, Febriano Max F. J. Mantik Max F.J Mantik, Max F.J Natharina Yolanda, Natharina Nilawati, . Novie H. Rampengan Novie Homenta Rampengan, Novie Homenta Nurhayati Masloman Oktavin Yollah Umboh Paulina N. Gunawan Phan, Sardito Pinaria, Anthoneta S. Polii, Evan G. Praevilia M. Salendu Queen Mandang Reifanli M. Pai, Reifanli M. Robin Samuel Mamesah, Robin Samuel Rocky Wilar Rompies, Ronald Ronald Chandra Sabriani, Jehan Sanusi, Holly Sarah M. Warouw Sarah Warouw smanto, Yudi Stefanus Gunawan Stefanus Gunawan Stevanus Gunawan, Stevanus Surya, Welong S. Suryani As’ad Suwontopo, Marvin Leonardo T. A. Sudjono Taliwongso, Fernando Ch. Tandiawan, Ledy Tatipang, Pirania Ch. Umboh, Indria M. Umboh, Valetine Valentine Umboh Valentine Umboh, Valentine Vicky M. Kalangie, Vicky M. Vini Maleke, Vini Vivekenanda Pateda Vivekenanda Pateda Waworuntu, David S. Yanni, Iloh Devi Yolanda B. Bataha