Claim Missing Document
Check
Articles

Found 36 Documents
Search

PENGEMBANGAN NILAI-NILAI FILOSOFIS PERTUNJUKAN WAYANG GOLEK AJEN LAKON RAHWANA PEJAH KOREA BAGI PENDIDIKAN KARAKTER PANCASILA SISWA SEKOLAH DASAR BERBASIS WORDWALL (QUIZ) Asep Wadi; Soesanto Masjhoedi; Wahyu Lestari; Anggy Giri Prawiyogi
BUANA ILMU Vol 8 No 2 (2024): Buana Ilmu
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, Universitas Buana Perjuangan Karawang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36805/bi.v8i2.7254

Abstract

Wayang golek adalah salah satu kesenian yang adiluhung dan mempunyai berbagai falsafah baik dalam pertunjukan nya, jenis wayang nya, maupun tetekon yang harus di lakukan oleh dalang nya dalam menggarap pertunjukan wayang golek tersebut. Karena pada dasarnya pertunjukan wayang golek adalah pertunjukan yang di dalamnya terdapat silib, sindir, siloka, sasmita, dan simbol. Merupakan sebuah norma tersendiri dalam pertunjukan wayang golek Sunda, baik yang dilakukan oleh dalang secara tutur maupun secara simbol. Lima norma di atas disebut dengan Panca Curiga, yang berarti Panca sama dengan lima dan Curiga adalah waspada jadi itu semua disebut dengan lima norma yang menjadi kewaspadaan tersendiri bagi seorang dalang dalam menyampaikan pesan terhadap penontonnya. Lima norma dan tetekon di atas tentunya di gunakan juga dalam pergelaran wayang golek Ajen yang mempunyai inovasi tersendiri dalam menampilkan pertunjukan nya, di antaranya dalam model pertunjukan yang menjadi konsumsi Anak Sekolah Dasar. Penelitian ini merujuk pada landasan etik dan estetik pada pertunjukan Wayang Golek Ajen yang mengemas pertunjukan nya pada konsumsi Anak Sekolah Dasar, baik dari segi cerita, karakter wayang yang digunakan, dan lagu-lagu yang di gunakan dalam pertunjukan nya. Penelitian ini menggunakan metode campuran (R&D), dengan menggunakan teori Semiotik Roland Barthes. Wayang golek adalah sebuah seni tutur yang mempunyai norma-norma falsafah di dalamnya, hal tersebut terjadi karena seoarang dalang adalah sosok guru panggung, di mana guru panggung itu adalah guru yang tidak menggurui terhadap audiensnya secara langsung, baik dengan cara verbal maupun non verbal.
QUIZIZZ: MENGGAMBAR BENTUK SISWA SMA BERBASIS KECERDASAN IQ, EQ, SQ MENURUT KONSEP FILSAFAT PENDIDIKAN IBNU SINA Hadi Alhail; Wahyu Lestari
Serupa The Journal of Art Education Vol 13, No 1 (2024)
Publisher : Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/stjae.v13i1.125893

Abstract

Urgensi pendidikan kini semakin kompleks, karena adanya pengaruh sistem pembelajaran yang hanya berfokus untuk melatih IQ tanpa melatih EQ dan SQ. Dampaknya terhadap berimplikasi secara langsung terhadap citra pendidikan seperti terjadinya peningkatan kasus perundungan dalam dunia pendidikan tahun 2023. Lalu, bagaimana bidang studi seni budaya dalam materi menggambar bentuk dapat berkontribusi mengatasi permasalahan melalui media Quizizz. Penelitian ini menggunakan metode penelitian dan pengembangan (R&D). Desain dalam penelitian ini menggunakan model pengembangan 4D (four D models) yang dikembangkan oleh Thiagarajan yang meliputi empat tahapan yaitu: define (pendefinisian), design (perancangan), develop (pengembangan), dan disseminate (penyebaran). Penelitian ini diadaptasi hanya sampai pada tahap develop (pengembangan). Teknik pengumpulan data pada proses rancangan ini adalah teknik observasi, check list, dan catat. Teknik tersebut digunakan untuk mengumpulkan data proses pengembangan media pembelajaran inovatif dengan menggunakan Quizizz dalam pembelajaran seni budaya pada topik menggambar bentuk siswa SMA kelas X. Hasil dirancangan dengan 3 tahapan yaitu: 1) Define: membuat cakupan topik materi menggambar bentuk, pengintegrasian materi menggambar bentuk dengan kecerdasan IQ, EQ, dan SQ, serta konsep filsafat pendidikan Ibnu Sina; 2) Design: membuat desain materi menggunakan aplikasi Power Point dengan 20 slide; 3) Develop: pemindahan dan pengembangan materi Power Point menuju Quizizz dengan total 32 slide; dan 4) Output: luaran yang dihasilkan adalah e-book menggambar bentuk dan media Quizizz menggambar bentuk.
Diskursus Pendidikan Seni: Menumbuh Kembangkan Kreativitas Melalui Pembelajaran Seni R. Angga Bagus Kusnanto; Wahyu Lestari; Agus Cahyono
Kaganga:Jurnal Pendidikan Sejarah dan Riset Sosial Humaniora Vol. 6 No. 2 (2023): Kaganga:Jurnal Pendidikan Sejarah dan Riset Sosial Humaniora
Publisher : Institut Penelitian Matematika, Komputer, Keperawatan, Pendidikan dan Ekonomi (IPM2KPE)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31539/kaganga.v6i2.8159

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pembelajaran seni dapat menumbuh kembangkan kreativitas siswa sekolah dasar. Metode penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan pendekatan kajian literatur review. Pengumpulan data dilakukan melalui pelbagai makalah, buku, jurnal dan sumber lainnya yang dapat mendukung penelitian ini. Hasil penelitian didapatkan bahwa untuk menumbuh kembangkan kreativitas anak melalui pembelajaran seni dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa pendekatan antara lain pendekatan ekspresi bebas, pendekatan disiplin ilmu dan pendekatan multikultural. Simpulan penelitian menunjukkan untuk menumbuh kembangkan kreatifitas siswa dengan pendekatan ekspresi bebas melalui pembelajaran seni dan dilakukan dengan cara memberikan kesempatan bagi siswa seluas luasnya untuk mengembangkan gerakan-gerakan yang dilakukannya. Salah satu upaya untuk menumbuhkan kreativitas siswa, adalah melalui rangsang melihat obyek, cerita dan musik Kata Kunci: Diskursus, Kreativitas, Pendidikan Seni.
Development of an E-Module for Art Performance Based on Integrated Learning at SMAN 1 Jatibarang Indra Maghfiroh; Hartono Hartono; Wahyu Lestari
Edumaspul: Jurnal Pendidikan Vol 9 No 2 (2025): Edumaspul: Jurnal Pendidikan
Publisher : Universitas Muhammadiyah Enrekang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The research aims to develop a Project-Based Learning (PjBL)-based art performance learning module integrated with History, Language, Economics, Informatics, as well as Craft and Entrepreneurship subjects. The method employed is Research and Development (R&D) using the ADDIE development model, which consists of the analysis, design, development, implementation, and evaluation stages. The development subjects are Grade XII students at SMA Negeri 1 Jatibarang. Data collection instruments include interview sheets, observation sheets, questionnaires, student worksheets, expert validation sheets, and documentation. Data analysis is conducted using descriptive statistical analysis techniques. The module development is designed to enhance students’ collaborative skills, creativity, and interdisciplinary understanding. The module validation is carried out by subject matter experts, media experts, and peers, with limited trials conducted on students. The findings indicate that the developed module meets validity and effectiveness criteria based on expert assessments and positive student responses. The development of the art performance module is expected to serve as an innovative learning alternative that supports the Merdeka Curriculum.
Pembelajaran Berbasis VBL (Vido Base Learning) Berbantuan Wordwall Untuk Mengingkatkan Hasil Belajar Siswa Materi IPA Gina Amelia; Wahyu Lestari; Deni Setiawan
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i2.522

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas pembelajaran berbasis Video Based Learning (VBL) yang dipadukan dengan aplikasi interaktif Wordwall dalam meningkatkan hasil belajar dan keterlibatan siswa Sekolah Dasar (SD) pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Media video memberikan visualisasi nyata terhadap konsep-konsep IPA, sedangkan Wordwall menawarkan aktivitas kuis dan permainan edukatif untuk memperkuat pemahaman siswa. Penelitian ini menggunakan metode kuasi eksperimen dengan dua kelompok: kelompok eksperimen yang menggunakan VBL dan Wordwall, serta kelompok kontrol yang menggunakan metode pembelajaran tradisional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok eksperimen memperoleh nilai rata-rata lebih tinggi (85%) dibandingkan kelompok kontrol (72%). Selain itu, tingkat keterlibatan siswa dalam kelompok eksperimen juga lebih tinggi, ditunjukkan oleh peningkatan partisipasi dalam diskusi dan fokus terhadap materi. Temuan ini menunjukkan bahwa integrasi VBL dan Wordwall dapat menjadi alternatif inovatif yang efektif dalam meningkatkan mutu pembelajaran IPA di tingkat Sekolah Dasar.
The Symbolic and Cultural Meanings of Arabic Calligraphy and Islamic Ornaments in Relation to Function and Social Status in the Mamluk Era Mohga Mohamed Fouad Mohamed; Hartono Hartono; Wahyu Lestari; Mohga Mohamed Fouad Mohamed; Hartono Hartono; Wahyu Lestari
Jurnal Pembelajaran, Bimbingan, dan Pengelolaan Pendidikan Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um065.v6.i3.2026.1

Abstract

This study examines the symbolic and cultural meanings of Arabic calligraphy and Islamic ornamentation in the Mamluk period, with particular attention to their functional roles and relationship to social status across manuscripts and architectural contexts. Employing a qualitative, comparative visual analysis, the research investigates how script styles, ornamental systems, materials, and spatial placement operated as intentional communicative strategies rather than mere decorative elements. The findings demonstrate that calligraphy and ornamentation formed an integrated visual language that articulated religious authority, political legitimacy, and hierarchical social order. In manuscripts, refined scripts and illuminated compositions emphasized textual sanctity and elite patronage, while in architecture, monumental inscriptions and durable materials projected authority and collective identity within public space. The study further reveals that visual hierarchy was carefully calibrated to audience, medium, and function, enabling meaning to be transmitted beyond textual literacy. By foregrounding the relationship between form, function, and social context, this research contributes to a deeper understanding of Islamic applied arts as systems of cultural communication. The study offers a framework for interpreting Mamluk visual culture as a cohesive and purposeful design practice, with implications for heritage interpretation, arts education, and contemporary applications of Islamic visual principles in promoting cultural continuity and inclusive access to historical knowledge.