Claim Missing Document
Check
Articles

Peningkatan Pelaporan Insiden Keselamatan Pasien dengan Digitalisasi di Rumah Sakit Pemerintah di Jakarta Pertiwi, Revita Anisa; Sjaaf, Amal Chalik; Andriani, Helen; Oktamianti, Puput
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Syntax Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36418/syntax-literate.v9i9.16455

Abstract

Terkait keselamatan pasien, rumah sakit sangat rentan karena merupakan organisasi yang rumit dengan sumber daya terbatas di berbagai bidang seperti teknologi, layanan, pemasaran, sistem mutu, dan bahaya. Berikut ini adalah beberapa jenis kejadian yang mungkin terjadi di rumah sakit yang dapat dihindari: Sentinel, Potential Injury Conditions (KPC), Near Injury Events (KNC), Non-Injury Events (KTC), Adverse Events (KTD), dan divisi Farmasi memiliki potensi kecelakaan tertinggi. Satu rumah sakit di Jakarta telah melihat peningkatan laporan masalah keselamatan pasien, dan penelitian ini bertujuan untuk meneliti penyebabnya. Penelitian ini dilakukan antara Januari dan Maret 2024 dan menggunakan metodologi deskriptif kualitatif, mengumpulkan data melalui wawancara dan meninjau dokumen sekunder yang berkaitan dengan insiden keselamatan pasien. Informan terdiri dari kepala bidang penunjang medis, Ketua Keselamatan Pasien Rumah Sakit, kepala instalasi farmasi, dan staf farmasi. Hasil penelitian menunjukan terjadi peningkatan laporan insiden keselamatan pasien sebesar 660% setelah di lakukan perubahan sistem saat 2023. Setelah di lakukan penyuluhan kepada seluruh tenaga kesehatan di tahun 2024 terdapat peningkatan laporan ada 101% di bandingkan tahun 2023. Penyuluhan kepada semua tenaga kesehatan yang bekerja di rumah sakit menyebabkan peningkatan angka pelaporan insiden yang menandakan mutu kesalamatan pasien di rumah sakit tersebut berjalan baik dan pasien mendapatkan pelayanan prima.
Kebijakan dan Peran Antimicrobial Stewardship Program (AMS) dalam Optimalisasi Penggunaan Antibiotik di Rumah Sakit: Sebuah Kajian Sistematis Irmawati, Irmawati; Andriani, Helen
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Syntax Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36418/syntax-literate.v10i7.60407

Abstract

Latar Belakang: Antimicrobial Stewardship Program (AMS) adalah program terstruktur dan terkoordinasi yang bertujuan untuk mengoptimalkan penggunaan antikroba (seperti antibiotik) untuk meningkatkan luaran klinis pasien, mengurangi risiko resistensi antimikroba, dan menurunkan biaya kesehatan. Program AMS merupakan bagian penting dari rencana aksi nasional dalam mengatasi resistensi antimikroba / antimicrobial resistance (AMR) di berbagai negara. Implementasi AMS di rumah sakit telah terbukti efektif dalam mengurangi penggunaan antibiotik yang tidak rasional dan meningkatkan kepatuhan terhadap pedoman penggunaan antibiotik. Tujuan: Mengevaluasi kebijakan dan peran dari AMS dalam mengoptimalisasi penggunaan antibiotik di rumah sakit, dengan fokus pada tantangan dan keberhasilan implementasi di berbagai konteks geografis dan ekonomi. Hasil kajian ini diharapkan dapat memberikan rekomendasi yang relevan untuk memperkuat implementasi AMS di rumah sakit, khususnya di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah. Metode: Pencarian literatur dilakukan secara sistematis melalui database PubMed, Cochrane, dan EBSCO untuk studi yang dipublikasikan antara Januari 2020 hingga Mei 2025. Studi yang diambil adalah studi yang memenuhi kriteria inklusi mengenai implementasi dan dampak AMS di rumah sakit. Studi tersebut mencakup berbagai negara dengan fokus pada kebijakan, hambatan, dan hasil dari penerapan AMS di rumah sakit. Hasil: Dari 1.439 artikel yang diidentifikasi, didapatkan hasil 178 artikel yang disaring berdasarkan duplikasi, kelayakan dan kesesuaian judul. Setelah disaring kembali sesuai kriteria inklusi didapatkan hasil 5 artikel yang memenuhi syarat. Kesimpulan: AMS berperan penting dalam mengoptimalisasi penggunaan antibiotik di rumah sakit dan pengendalian AMR. Dalam mengimplementasikan AMS, terdapat berbagai tantangan yang dapat dihadapi pada masing-masing rumah sakit, namun dengan dukungan kebijakan yang kuat, pelatihan berkelanjutan, dan kolaborasi bersama, efektivitas AMS dapat ditingkatkan. Upaya berkelanjutan juga diperlukan untuk mengatasi hambatan dan memastikan keberlanjutan program AMS terutama dalam hal pelayanan di rumah sakit.
Analisis Determinan Kejadian Loss to Follow-up (Putus Berobat) pada Pasien Tuberkulosis Paru : Literature Review: Determinant Analysis of Loss to Follow-up Events in Pulmonary Tuberculosis Patients : Literature Review Masita, Maya; Helen Andriani
Media Publikasi Promosi Kesehatan Indonesia (MPPKI) Vol. 6 No. 5 (2023): May 2023
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/mppki.v6i5.3310

Abstract

Latar Belakang: Tuberculosis merupakan masalah kesehatan global, ditandai dengan meningkatkan angka kesakitan dan resistensi terhadap OAT. Makin tinggi angka resisten TB searah dengan kenaikan loss to follow-up (putus berobat), karena makin banyak yang putus berobat maka pengobatan makin tidak tuntas. Dampaknya semakin memperluas angka penularan TB di masyarakat. Tujuan: Untuk mengidentifikasi dan menganalisis faktor risiko terjadinya loss to follow-up pada pasien Tuberkulosis. Metode: Metode menggunakan pendekatan literature review dari database Embase, Proquest, Pubmed, Scopus, dan Google Scholar, dengan keywords “determinant”, “loss to follow-up”, “putus berobat”, “tuberculosis”, dan “patient”, yang dilakukan dalam rentang waktu 2018-2022 dengan menerapkan kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil: Hasil penelusuran database diperoleh 483 artikel melalui istilah pencarian yang telah ditentukan, yang terdiri dari embase=93, proquest=105, scopus=49, pubmed=174 dan google scholar=62. Dari artikel tersebut tersaring 11 artikel yang memenuhi kriteria inklusi untuk dianalisis. Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kejadian loss to follow-up pada pasien tuberculosis antara lain jarak tempuh (geografis) lebih dari 10 km dan efek samping obat yang dirasakan pasien menjadikan mereka menghentikan pengobatan. Faktor dukungan keluarga, layanan pada fasilitas kesehatan, status ekonomi (finansial) merupakan faktor risiko lain yang turut berperan terhadap kejadian putus berobat. Kesimpulan: Diketahui bahwa loss to follow-up dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain 64,3% loss to follow-up berisiko terjadi pada laki-laki, jarak yang ditempuh pasien menuju pusat pengobatan berisiko terhadap loss to follow-up, selain itu efek samping yang dirasakan memperbesar risiko untuk loss to follow-up selain faktor dukungan keluarga, pelayanan kesehatan, pengetahuan, stigma, hingga kepercayaan.
Penguatan Pengendalian Persediaan Obat melalui Integrasi ABC-VEN, EOQ, dan ROP di Rumah Sakit Rujukan Nasional Rasendah, Rasendah; Andriani, Helen; Andriyanto, Dendhi Bagus
Jurnal ARSI : Administrasi Rumah Sakit Indonesia
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Drug inventory control is a critical component of pharmaceutical management in referral hospitals with high service complexity. This study aimed to evaluate pharmaceutical inventory control performance at the Pharmacy Installation of RSUP Persahabatan and to formulate improvement strategies using an Operational Research approach. A mixed-methods design with a sequential explanatory approach was applied. Quantitative analysis was conducted on 2,291 drug items recorded in the inventory system during October 2025 using ABC-VEN classification to identify priority medicines, followed by calculations of Economic Order Quantity (EOQ) and Reorder Point (ROP). Qualitative data were obtained through in-depth interviews with key informants to strengthen the interpretation of quantitative findings. The results showed that 131 Pareto A medicines had an investment value of IDR 6,788,411,815, indicating a high concentration of inventory investment in a small proportion of items. In addition, stagnant stock was identified in 211 drug items with a total investment value of IDR 444,994,656, while stock out events accounted for 11.25% of total drug items. EOQ and ROP calculations revealed substantial variation across drug items, reflecting differences in demand characteristics, investment value, and procurement lead times, indicating that uniform ordering policies are not appropriate. Scenario-based simulations demonstrated that integrating ABC-VEN, EOQ, and ROP has the potential to improve inventory management efficiency, reduce the risks of stock outs and stagnant stock, and support the continuity of hospital pharmaceutical services.