Claim Missing Document
Check
Articles

Optimasi teknik sterilisasi dan induksi tunas tanaman durian (Durio zibethinus Murr) ‘Kamajaya’ lokal Cimahi Secara in vitro Agung Rahmadi; Noladhi Wicaksana; Bambang Nurhadi; Erni Suminar; Siti Rakhmah Tenrisui Pakki; Syariful Mubarok
Kultivasi Vol 19, No 1 (2020): Jurnal Kultivasi
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (381.702 KB) | DOI: 10.24198/kultivasi.v19i1.24559

Abstract

Sari. Durian ‘Kamajaya’ merupakan salah satu jenis durian lokal yang keberadaanya hampir punah sehingga perlu dilakukan konservasi, salah satunya yaitu dengan perbanyakan menggunakan kultur jaringan. Permasalahan yang muncul dalam kultur jaringan durian ini salah satunya adalah metode sterilisasi. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh metode sterilisasi yang tepat untuk perbanyakan tanaman durian ‘Kamajaya’ secara in vitro. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Kultur Jaringan Teknologi Benih, Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran, sejak bulan Mei sampai September tahun 2019. Eksplan yang digunakan adalah tunas muda dari tanaman durian ‘Kamajaya’ yang berasal dari Cimahi. Sterilisasi untuk inisiasi dengan teknik kultur jaringan menggunakan kombinasi air mengalir, detergen, fungisida, bakterisida, alkohol 70%, antiseptik PCMX 10%, surfaktan polysorbate 3 tetes per liter, antiseptik povidone-iodine, clorox (10% dan 20%)  dan HgCl2 0,1%. Hasil penelitian menunjukan bahwa Sterilisasi tunas muda durian ‘Kamajaya’ dengan menggunakan air mengalir, perendaman dalam detergen selama 10 menit, perendaman dalam fungisida selama 10 menit, perendaman dalam clorox 20% + surfaktan polysorbate 3 tetes per L selama 20 menit, perendaman dalam clorox 10% selama 10 menit, serta perendaman dalam HgCl2 0,1% selama 1 menit memiliki presentase kontaminasi terendah yaitu 20 % dan presentasi hidup tertinggi yaitu 80 %.Kata kunci:  Durian ‘Kamajaya’ ∙ Kultur jaringan ∙ Sterilisasi Abstract. Durian 'Kamajaya' is a type of local durian that is almost extinct. Tissue culture is one of the methods that can be used as a plant conservation. However, many problems arise in Durian tissue culture, one of which is the sterilization method. The objective of this study was to obtain an appropriate in vitro sterilization method for the multiplication of Durian 'Kamajaya'. The research was conducted at the Laboratory of Tissue Culture, Faculty of Agriculture, Padjadjaran University, from May to September 2019. The durian buds were used as plant explant sterilized for initiation with tissue culture techniques using different sterilization methods as following running water, detergent, fungicides  , bactericide, alcohol 70% , PCMX antiseptic 10%, polysorbate surfactant 3 drops per L,  clorox (10% and 20%), and  HgCl2 0.1%. The results showed that the sterilization of Durian 'Kamajaya' using water flow + soaking in detergent for 10 minutes +  fungicide for 10 minutes + Clorox 20% and polysorbate surfactant 3 drops per L for 20 minutes + Clorox 10% for 10 minutes + HgCl2 0.1% for 1 minute gave the lowest percentage of contamination (20%) and the highest life presentation(80%).Keywords: Durian 'Kamajaya' ∙ Tissue culture ∙ Sterilization
Respons dua generasi tomat mutan insensitif etilen Sletr1-2 terhadap cekaman kekeringan Bayu Pradana Nur Rahmat; Noladhi Wicaksana; Syariful Mubarok; Muhamad Joddy Ramadhan; Maura Zhafira Putri; Hiroshi Ezura
Kultivasi Vol 20, No 1 (2021): Jurnal Kultivasi
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/kultivasi.v20i1.32034

Abstract

Abstrak. Buah tomat tergolong ke dalam golongan buah klimaterik. Umur simpan buah tomat sangat dipengaruhi oleh keberadaan etilen. Tomat mutan NIL Sletr1-2 adalah generasi baru dari tomat insensitif etilen. Buah dari tomat mutan NIL Sletr1-2 memiliki umur simpan yang lebih lama dari tomat komersial pada umumnyanamun kehilangan fungsi untuk merespon keberadaan etilen dapat berpengaruh kepada pertumbuhan dan perkembangan tanaman, khususnya dalam kondisi cekaman. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui efek cekaman kekeringan terhadap dua generasi tomat mutan insensitif etilen (NIL Sletr1-2 dan BC3F1 Sletr1-2), dengan tomat ‘Intan’ sebagai tanaman kontrol. Ketiga tomat tersebut disiram dengan tiga interval waktu yang berbeda, yaitu: setiap hari (kondisi normal), interval tiga hari (cekaman kekeringan moderat), dan interval lima hari (cekaman kekeringan berat). Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam kondisi cekaman kekeringan moderat dan berat, respons morfologis (tinggi tanaman, jumlah daun, dan panjang akar), dan anatomis (jumlah sel epidermis) kedua generasi tomat mutan lebih buruk dari tetuanya tomat ‘Intan’. Hal tersebut menunjukkan bahwa berkurangnya sensitivitas etilen meningkatkan kerentanan tanaman dalam kondisi cekaman kekeringan, sekaligus memperkuat anggapan bahwa etilen berperan penting dalam ketahanan tanaman terhadap cekaman lingkungan.Kata kunci: Cekaman kekeringan, Etilen, Insensitivitas etilen, Tomat mutan Abstract. Tomato belongs to climacteric fruits, Its fruit shelf life is highly affected by the presence of ethylene. NIL Sletr1-2 tomato is a novel generation of an ethylene insensitive mutant. Its fruit has prolonged fruit shelf life, lasting longer than commercial ones. However, the loss of function in ethylene response would affect plant growth and development, especially under stress conditions. The objective of this research was to investigate the effect of drought stress on two generations of ethylene insensitive tomato mutants (NIL Sletr1-2 and BC3F1 Sletr1-2), with ‘Intan’ as a control plant. Those tomatoes were watered at three different intervals: every day; three days interval; and five days. The results showed that under three and five days watering interval, both generation of ethylene insensitive mutants have reduction in plant morphological response (plant height, number of leaves, and root length) and anatomical response (epidermal cell count), compared to their control, ‘Intan’. These results indicated that reduction in ethylene sensitivity could increase plant susceptibility under drought stress condition, thus solidifying the importance of ethylene in plant defence against environmental stress.Keywords: Drought stress, Ethylene, Ethylene receptor, Tomato mutant
Respon beberapa klon bibit kina (Chinchona sp) asal setek sambung dua spesies di berbagai media tanam Yudithia Maxiselly; Ahmad Shohibboniawan; Wawan Sutari; Noladhi Wicaksana; Heri Syahrian
Kultivasi Vol 16, No 3 (2017)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (863.878 KB) | DOI: 10.24198/kultivasi.v16i3.14450

Abstract

Kina merupakan tanaman yang selama ini dimanfaatkan sebagai obat berbagai penyakit, seperti malaria dan jantung karena memiliki kandungan alkaloid yang beragam. Peningkatan produktifitas tanaman kina dibutuhkan untuk menunjang kuantitas dan kualitas obat bahan alam. Salah satu factor penting dalam kualitas tanaman kina adalah bahan tanam yang baik. Bahan tanam juga didukung dengan kecocokan media tanam. Media tanam yang selama ini digunakan pada pembibitan kina memiliki kendala di bobot media sehingga sulit untuk pendistribusian bibit. Penelitian ini bertujuan mencari media baru yang cocok untuk bahan tanam kina. Bahan tanam menggunakan 6 klon kina succi yang disambung dengan 1 jenis kina ledger pada 5 media tanam. Metode experiment menggunakan RAK sederhana yang diulang 2 kali. Pengamatan meliputi persentasi hidup, tinggi tanaman, jumlah daun, diameter batang, dan jumlah tunas yang diamati saat bibit kina berumur 3 bulan. Hasil pengamatan menunjukkanterdapat pengaruh pada presentasi hidup dan diameter batang. Klon 1, 4, dan 5 menunjukkan respon baik diberbagai media tanam pada variable tersebut Hasil penelitian ini menunjukkan adanya potensi media yang dapat menggantikan media tanam kina yang selama ini digunakan. Kata Kunci : C.ledgeriana, C.succirubra, Fluff, Topsoil,
Studi Kekerabatan Padi Hasil Piramidisasi Berbasis Marka Molekuler dan Fenotipik Reisyi Rinola Tambunan; Santika Sari; Yoana Saragih; Nono Carsono; Noladhi Wicaksana
Agrikultura Vol 30, No 3 (2019): Desember, 2019
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (345.853 KB) | DOI: 10.24198/agrikultura.v30i3.23882

Abstract

Piramidisasi gen adalah upaya untuk menggabungkan beberapa gen yang menguntungkan dari banyak tetua menjadi satu genotipe tunggal. Hasil tinggi, tahan terhadap wereng cokelat, kandungan amilosa sedang, umur genjah dan aromatik adalah beberapa sifat yang diharapkan untuk digabungkan. Melalui teknik piramidsasi, telah diperoleh 28 genotip, namun analisis kekerabatan genetik, sebagai pertimbangan dalam pengambilan keputusan pada tahapan pemuliaan selanjutnya, belum dilakukan. Kombinasi gen ini dicapai dengan persilangan banyak genotipe tetua dengan karakter unggul yaitu Sintanur (aromatik), Pandan Wangi (aromatik), IR64 (kandungan amilosa sedang), PTB33 (tahan wereng coklat), Ciapus (hasil tinggi) dan KA (umur genjah). Tujuan percobaan ini adalah untuk memperoleh hubungan genetik genotip dalam sifat-sifat agro-morfologi dan marka molekuler. Analisis hubungan kekerabatan antara tetua dan 28 genotip piramidisasi dilakukan menggunakan software XLSTAT2016 untuk membentuk matrik similarity shared allele distance dengan koefisien Jaccard sebagai pembentuk jarak genetik untuk marka molekuler dan koefisien korelasi pearson untuk marka fenotipik. Kemudian dilakukan pengelompokan atau clustering dengan metode Unweighted Pair Group Method with Arithmetic Averages (UPGMA). Hasil pengelompokan berdasarkan marka molekuler dengan menggunakan 11 marka yang terkait erat dengan tujuh karakter target, diperoleh koefisien kemiripan sebesar 41,3% dan terbentuk dua kelompok, sedangkan hasil pengelompokan berdasarkan marka fenotipik dengan 14 karakter agro-morfologi terbentuk tiga kelompok dengan tingkat kemiripan 22,2%. Genotipe SPxCAKA1B, SPxPP3B dan PPxIP4B   dapat dimanfaatkan sebagai tetua atau genotipe harapan karena memiliki jarak kekerabatan yang paling jauh diantara genotip lainnya.
Induksi Kalus pada Eksplan Daun Muda Tanaman Durian (Durio zibethinus Murr.) Klon Baru Kamajaya dengan Kombinasi Zat Pengatur Tumbuh 2,4-D dan Kinetin Secara In Vitro Agung Rahmadi; Noladhi Wicaksana; Bambang Nurhadi; Erni Suminar; Siti Rakhmah Tenrisui Pakki; Syariful Mubarok
Agrikultura Vol 31, No 3 (2020): Desember, 2020
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v31i3.29388

Abstract

Perbanyakan durian klon baru Kamajaya secara vegetatif dapat dilakukan dengan teknik kultur jaringan sebagai teknik modern untuk konservasi plasma nutfah. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh kombinasi 2,4-D dan Kinetin terhadap pembentukan kalus pada daun durian Kamajaya. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Kultur Jaringan, Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran, Sumedang. Percobaan dirancang dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial dua faktor yang diamati dan metode analisis deskriptif. Faktor pertama zat pengatur tumbuh 2,4-D terdiri dari konsentrasi yang berbeda yaitu 1, 2, 3, 4 dan 5 ppm. Faktor kedua terdiri dari 3 konsentrasi Kinetin yang berbeda yaitu 0,0, 0,5 dan 1 ppm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 2 ppm 2,4-D,  3 ppm 2,4-D, 4 ppm 2,4-D, 2 ppm 2,4-D + 0,5 ppm kinetin menghasilkan eksplan daun muda durian melengkung dan tulang daun membengkak dan pada perlakuan 5 ppm 2,4-D, 2 ppm 2,4-D + 1 ppm kinetin,  5 ppm 2,4-D 5 ppm + 1  ppm kinetin menghasilkan eksplan daun muda durian menggulung dan membentuk kalus.
Penggunaan Putresin Alami dan Sintetik untuk Induksi Kalus dan Regenerasi Kultur Anter Empat Genotipe Padi Nono Carsono; Desy Lidiasari; Santika Sari; Noladhi Wicaksana
Agrikultura Vol 32, No 3 (2021): Desember, 2021
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v32i3.36784

Abstract

Teknik kultur antera sering digunakan untuk memperoleh galur-galur murni double haploid (DH) yang homozigot dalam waktu singkat, yang umumnya dicapai melalui proses induksi kalus. Putresin sebagai salah satu zat pengatur tumbuh dari poliamin diketahui sangat penting bagi perkembangan embriogenesis kalus. Tujuan dari penelitian ini adalah memperoleh plantlet dari penggunaan putresin sintetik dan alami pada media induksi dan regenerasi kalus kultur antera secara in vitro terhadap empat genotip-genotip F3 padi hasil persilangan (Oryza sativa L.). Eksplan yang digunakan adalah antera padi generasi F3 terseleksi hasil persilangan Caka, SP, Sair dan IRPW. Hasil penelitian menunjukan bahwa induksi kalus berhasil terbentuk hanya dari genotip Caka pada media N6 dengan penambahan putresin sintetik 10-3 M, persentase pembentukan kalus sebesar 16,1%. Kalus yang terbentuk dari genotip Caka memiliki struktur remah, kompak dan berwarna putih krem. Regenerasi menggunakan media dasar MS dengan penambahan putresin sintetik konsentrasi 10-3 M belum berhasil. Penambahan putresin sintetik lebih efektif dalam pembentukan kalus dibandingkan putresin ekstrak alami.
Analisis molekuler dan Clustering Piramidisasi Gen Tahan Virus Ty-1, Ty-5 dan Ty-6 Pada Populasi BC4F1 Tanaman Tomat (Solanum lycopersicum L) Janwar Eka Saputra; Anas Anas; Noladhi Wicaksana
Agrikultura Vol 31, No 3 (2020): Desember, 2020
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v31i3.29287

Abstract

Pendekatan pemuliaan ketahanan menggunakan piramidisasi gen tahan virus merupakan upaya dalam menggabungkan gen ketahanan dari tanaman inang atau kerabatnya yang bertanggung jawab dalam adaptasi dan ketahanan terhadap serangan patogen virus. Hal tersebut dapat menjadi peluang yang baik dalam pengembangan ketahanan yang tahan lama terhadap berbagai jenis virus. Persilangan antara tetua tomat yang tidak memiliki gen tahan dan tetua dengan tiga gen ketahanan dilakukan untuk mengembangkan populasi tomat BC4F1. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi keberadaan gen Ty-1, Ty-5 dan Ty-6 pada populasi tomat BC4F1 dan untuk menganalisis kesamaan genetik antara individu tanaman tomat pada populasi BC4F1. Analisis kekerabatan melalui analisis pengelompokan dilakukan berdasarkan analisis penanda molekuler. Analisis molekuler menunjukkan bahwa 117 genotipe mengandung gen tahan Ty-1, tujuh genotipe dengan gen tahan Ty-5, dan 45 genotipe mengandung gen tahan Ty-6. Analisis klaster menghasilkan tujuh kluster dengan mengukur kesamaan berdasarkan jarak Euclidean. Tujuh puluh satu genotipe dikelompokkan dalam kelompok 1 yang mengandung gen Ty-1, Tiga genotipe yang dikelompokkan dalam klaster 2 yang hanya berisi gen Ty-5, 43 genotipe yang dikelompokkan dalam kelompok 3 yang mengandung gen Ty-1 + Ty-6, dua genotipe yang dikelompokkan dalam kelompok 4 yang terdiri dari gen Ty-1 + Ty-5 , satu genotipe berada di kelompok 7 dari kelompok gen Ty-5 dan Ty-6, satu genotipe berada di klaster 6 yang membawa tiga gen tahan Ty-1 + Ty-5 + Ty-6, dan tiga genotipe tidak memiliki gen tahan di dalam kluster 7. Tujuh kelompok kombinasi gen Ty tersebut dapat menjadi materi tetua atau genotipe harapan bagi pengembangan kegiatan pemuliaan lanjutan selanjutnya.
Analisis Kesesuaian Marka SSR ( Simple Sequence Repeats ) untuk Identifikasi Keragaman Genetik pada Kacang Bambara Asal Jawa Barat Safarinda Nurdianawati; Noladhi Wicaksana; Anas Anas
Agrikultura Vol 27, No 2 (2016): Agustus, 2016
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (342.312 KB) | DOI: 10.24198/agrikultura.v27i2.10528

Abstract

ABSTRACT Suitability Analysis of SSR Marker ( Simple Sequence Repeats ) for Genetic Diversity Identification in Bambara Groundnut West Java Origin Bambara groundnut ( Vigna subterranea ) is one of legume crops that has not been widely cultivated. It becomes food alternative sources in Indonesia as it has high of protein and carbohydrate content and low fat. Furthermore, bambara groundnut should be good production in marginal land. Molecular marker has been used for any crop development such as genetic diversity, matting system, clones identification, etc. This research used neutral genetic markers (SSR) to study genetic diversity in Bambara groundut population from West Java. Fifteen primers has used and the results showed that primer 1 and primer 19 were polymorphic and informative because the locus has high HE (heterozygosity) and PIC (Polymorphic Information Content) value compare to others. The higher HE and PIC value the more informative to distinguish each individual between genotype in one population. Keywords: Bambara groundnut ( Vigna subterranea ), Genetic diversity, Simple sequence repeats (SSR)  ABSTRAK Kacang bambara ( Vigna subterranea ) merupakan salah satu tanaman legume yang belum terlalu banyak dibudidayakan dan dapat menjadi sumber pangan alternative di Indonesia karena kandungan protein dan karbohidratnya  cukup tinggi dan rendah lemak. Selain itu, tanaman ini juga dilaporkan dapat berproduksi dengan baik pada lahan-lahan marginal. Penggunaan marka molekuler telah banyak digunakan pada tanaman untuk berbagai tujuan antara lain untuk mengevaluasi keragaman genetik suatu populasi, menduga system perkawinan, identifikasi klon dan lain-lain. Dalam penelitian ini digunakan marka netral (SSR) untuk mempelajari keragaman genetik populasi Kacang bambara ( Vigna subterranea ) asal Jawa Barat. Dari lima belas primer, primer 1 dan primer 19 merupakan primer yang bersifat polimorfik dan informative karena lokus tersebut memiliki nilai HE (heterozigositas) dan PIC ( P o l y m o r p h i c I n f o r m a t i o n Con tent ) yang tinggi dibandingkan dengan primer-primer lainnya. Semakin tinggi nilai HE dan PIC yang dihasilkan maka primer tersebut semakin informatif dalam membedakan individu antar genotip dalam populasi. Kata Kunci : Kacang bambara ( Vigna subterranea ), Keragaman genetik, Simple Sequence Repeats (SSR)
Penampilan 15 Genotipe Kedelai Hitam (Glycine soja (L.) Merr) pada Pertanaman Tumpangsari 2:1 dengan Jagung M. Khais Prayoga; Meddy Rachmadi; Noladhi Wicaksana
Agrikultura Vol 27, No 2 (2016): Agustus, 2016
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (354.403 KB) | DOI: 10.24198/agrikultura.v27i2.9988

Abstract

ABSTRAKPeningkatan minat petani untuk menanam kedelai dapat dilakukan melalui sistem tanam tumpangsari kedelai dengan jagung untuk mengurangi kemungkinan kerugian akibat gagal panen. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagimana penampilan karakter daya hasil 15 genotipe kedelai hitam pada pertanaman tumpangsari pola 2:1 dengan jagung. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen berdasarkan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 15 genotip kedelai hitam sebagai perlakuan yang diulang sebanyak dua kali. Percobaan disusun dalam pertanaman 2:1 (dua baris kedelai dan satu baris jagung). Pengamatan dilakukan terhadap karakter daya hasil yaitu jumlah polong per tanaman, jumlah biji per tanaman, bobot 100 biji, bobot biji per tanaman, dan bobot biji per baris. Hasil penelitian menunjukkan bahwa genotipe-genotipe yang lebih unggul dibandingkan dengan kultivar Cikuray dan Malika adalah BTN 1, BTN 2, BTN 5, dan CK 5 pada karakter jumlah biji per tanaman, genotipe CK 15 pada karakter jumlah polong per tanaman, genotipe SM 2 pada karakter jumlah polong per tanaman dan jumlah biji per tanaman, serta genotipe CK 0, KA 6, dan KA 7 pada karakter jumlah polong per tanaman, jumlah biji per tanaman dan bobot biji per baris.Kata Kunci: Kedelai hitam, Tumpangsari, Daya hasil
KERAGAMAN GENETIK 64 AKSESI KUNYIT ASAL INDONESIA BERDASARKAN MARKA P450-BASED ANALOGUE (PBA) Tresna Kusuma Putri; Putri Ardhya Anindita; Noladhi Wicaksana; Tarkus Suganda; Vergel Concibido; Agung Karuniawan
Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 31, No 2 (2020): Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bullittro.v31n2.2020.123-134

Abstract

Kunyit merupakan tanaman penghasil rimpang yang memiliki banyak kegunaan, baik untuk konsumsi, industri obat, maupun pewarna. Pengembangan varietas unggul kunyit di Indonesia saat ini perlu didukung oleh adanya informasi keragaman genetik. Saat ini informasi mengenai keragaman genetik tanaman kunyit di Indonesia masih belum tersedia. Salah satu cara untuk memperoleh informasi keragaman genetik adalah dengan menggunakan marka molekuler yang mampu memberikan hasil yang akurat dan tidak dipengaruhi oleh lingkungan. Marka PBA sebagai marka fungsional mampu mendeteksi gen P450 yang berkaitan dengan pembentukan metabolit sekunder pada area genom yang luas sehingga dapat dijadikan alternatif marka untuk mengidentifikasi keragaman genetik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperoleh informasi keragaman genetik 64 aksesi tanaman kunyit menggunakan delapan pasang primer P450-Based Analogue (PBA). Penelitian dilakukan di Laboratorium Sentral Universitas Padjadjaran dari Juni 2019 hingga Januari 2020. Sebanyak 133 pita terdeteksi dengan rentang jumlah masing-masing alel 8 – 45 pita, dan rata-rata per alel 22,3 pita. Hasil analisis PIC menunjukkan adanya enam pasang primer PBA yang menunjukkan polimorfisme tinggi pada rentang 0,90 – 0,98 sehingga marka PBA dikategorikan sangat informatif. Analisis klaster membagi 64 aksesi kunyit ke dalam dua klaster utama berdasarkan tingkat kemiripan pada rentang 0,01 hingga 0,83. Aksesi CL-GTL01 yang berasal dari Gorontalo memiliki kemiripan yang rendah yaitu 0,01 terhadap 64 aksesi lainnya, sedangkan aksesi CL-NTB01 dan CL-PPB04 memiliki tingkat kemiripan yang tinggi pada jarak 0,83. Berdasarkan nilai PIC, jumlah pita polimorfik, dan jarak genetik, kunyit asal Indonesia memiliki keragaman yang luas berdasarkan marka PBA. 
Co-Authors Achmad Baihaki Ade Ismail Ade Ismail Ade Ismail Agung Karuniawan Agung Rahmadi Agung Rahmadi Ahmad Shohibboniawan Ajang Maruapey Anas Anas Anas Anas Anas Anas Anas Anas, Anas Anggita Dewi Anne Nuraeni Anne Nuraeni ANNE NURAINI Ayu Fitriani Bachtiar, Nedya Putri Bambang Nurhadi Bayu Pradana Nur Rahmat D.W Utami Dedi Ruswandi Dedi Widayat Denny Sobardini Desy Lidiasari Dian Hidayat Edi Suryadi Elfan Waisimon Enceng Sobari, Enceng Erni Suminar Eryk Barlianto Farida Farida Feliatra Gungun Wiguna Hafsah Ashri Noor Azizah Heri Syahrian Heri Syahrian Heri Syahrian, Heri Hiroshi Ezura Ineu Sulastrini Iteu M. Hidayat Iteu M. Hidayat Jajang Supriatna Janwar Eka Saputra Joko Pinilih Kusumiyati Liberty Chaidir M. Khais Prayoga Maura Zhafira Putri Meddy Rachmadi Mita Indriani Moh Ali Abdullah Muhamad Joddy Ramadhan Muhamad Kadapi Muhamad kadapi, Muhamad Muhammad Kadapi Muhammad Syafii Muhammad Syafii Neni Rostini Nono Carsono Nono Carsono Nono Carsono Nono Carsono Noor Istifadah Nurdiana, Dadi Nurmalita Waluyo Nurmalita Waluyo Nursuhud Nursuhud Nyimas Poppi Indriani Priyanto, Slamet Bambang Putri Ardhya Anindita Qurrota Aini Reisyi Rinola Tambunan Riski Gusri Utami Riski Gusri Utami Riski Gusri Utami Rodiah, S S Rodiah Saadah, Imas Rita Safarinda Nurdianawati Salsabila, Haifanisa Santika Sari Santika Sari Santika Sari Shohibboniawan, Ahmad Siti Rakhmah Tenrisui Pakki Siti Rakhmah Tenrisui Pakki Siti Rodiah Slamet Bambang Priyanto Sulistyaningsih Sulistyaningsih SUMADI SUMADI Sumadi Sumadi Sumadi Sumadi Suseno Amien SYARIFUL MUBAROK Tarkus Suganda Tresna Kusuma Putri Vergel Concibido Wahyu Ferdiyansyah Wawan Sutari Yoana Saragih Yudithia Maxiselly Yudithia Maxiselly, Yudithia Yuyun Yuwariah Z. Daulati Z. Daulati, Z. Zulfatunnisa Zulfatunnisa