Claim Missing Document
Check
Articles

Found 34 Documents
Search

PENDEKATAN DAN STRATEGI PENDIDIKAN NILAI KARAKTER DI SEKOLAH UMUM Fakhrun Nisa; Junedi, Junedi; Mukh Nursikin
Khatulistiwa: Jurnal Pendidikan dan Sosial Humaniora Vol. 2 No. 4 (2022): Desember : Jurnal Pendidikan dan Sosial Humaniora
Publisher : Pusat Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/khatulistiwa.v2i4.962

Abstract

Pentian ini bertujuan untuk menggambarkan secara mendalam tentang pendekatan dan strategi pendidikan nilai dan karakter yang ada di sekolah umum. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif yang bersifat studi pustaka. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah buku-buku dan artikel ilmiah. Hasil penelitian adalah bahwa dalam melaksanakan pendidikan nilai dan karakter di sekolah umum perlu adanya beberapa pendekatan dan strategi yaitu pendekatan keteladanan, inspiratif, internalisasi nilai, perkembangan moral kognitif, analisis nilai, klasifikasi nilai, dan pembelajaran berbuat. Beberapa pendekatan dan strategi tersebut kemudian diimplementasikan ke dalam kegiatan pembelajaran di dalam maupun luar kelas.
PROJECT BASED LEARNING DALAM PENDIDIKAN AGAMA ISLAM Arya Hasan As’ari; Nur Rofi'ah; Mukh Nursikin
Khatulistiwa: Jurnal Pendidikan dan Sosial Humaniora Vol. 2 No. 4 (2022): Desember : Jurnal Pendidikan dan Sosial Humaniora
Publisher : Pusat Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/khatulistiwa.v2i4.963

Abstract

Penelitian pembelajaran berbasis proyek (Project Based Learning) merupakan model pembelajaran inovatif yang menitik beratkan peserta didik dalam memecahkan suatu masalah dengan menghasilkan suatu produk, membuat keputusan, melakukan kegiatan investigasi sehingga kreativitas dan motivasi peserta didik meningkat. Guru sebagai fasilisator memberikan tugas kepada peserta didik untuk mengembangkan potensinya. Adapun beberapa tahapan-tahapan dalam pembelajaran PAI dengan menggunakan model pembelajarn berbasis proyek adalah sebagai berikut. 1) Penentuan pertanyaan mendasar, 2) Membuat perencanaan desain produk. 3) Penyusunan jadwal pembuatan produk. 4) Pemantauan kinerja peserta didik dan kemajuan proyek. 5) Penilaian hasil . 6) Evaluasi pengalaman belajar. Implementasi dari model pembelajaran berbasis proyek ini juga dapat digunakan pada materi-materi PAI yang meliputi Akidah Akhlak, Sejarah Kebudayaan Islam, dan Al-Qur’an Hadist. Adapun tujuan dari pembelajarn ini adalah agar siswa mampu menyimpulkan materi dari pengalamannya langsung. Namun demikian, dalam proses pelaksanaannya tentu masih ditemukan beberapa kendala. Sehingga guru diharapkan dapat menjadi mentor da fasilitator selama proses pembelajaran berlangsung. Banyak metode pembelajaran yang dapat digunakan selama pembelajaran, salah satunya adalah PjBL. Penelitian inibertujuan untuk mengetahui manfaat dari penerapan PjBL untuk mata pelajaran PAI selama pembelajaran berlangsung. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah studi literatur melalui buku, jurnal, dan hasil penelitian lapangan yang dilakukan oleh peneliti terdahulu yang relevan dengan penelitian ini. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa dalam pembelajaran PjBL mampu meningkatkan kreatifitas peserta didik dalam melaksanakan proyek dan meningkatkan kemampuan peserta.
Evaluasi Afektif Pada Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di Sekolah Ahmad Dhomiri; Junedi Junedi; Mukh Nursikin
Khatulistiwa: Jurnal Pendidikan dan Sosial Humaniora Vol. 3 No. 1 (2023): Maret : Jurnal Pendidikan dan Sosial Humaniora
Publisher : Pusat Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/khatulistiwa.v3i1.971

Abstract

Sistem Pentingnya penilaian sikap dan prilaku dalam Pendidikan Agama Islam untuk pembentukan manusia yang berkepribadian Islami, yaitu perpaduan antara cara berfikir islami (aqliyah Islamiyah) dan sikap jiwa islami (nafsiyah Islamiyah). . Metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan analisis pengumpulan data (literatur review) dari journal, media internet dan media berita online. Hasil dalam penelitian ini yakni Berdasarkan pembahasan tentang urgensi evalusi ranah afektif tampak bahwa ranah afektif memiliki fungsi sentral yang perlu mendapatkan perhatian dari guru PAI, guna membetuk sikap dan prilaku siswa yang islami. Dapat disimpulakan bahwa evaluasi ranah afektif sangat penting karena beberapa hal: Bentuk penilaian afektif langsug pada prilaku yang tampak atau autentik, Penilaian afektif dalam aplikasinya sangat sulit untuk dilakukan sehingga cenderung diabaikan, Setiap siswa memiliki karakter berbeda, penilaian afektif dapat menjadi sarana informasi yang tepat pada tiap-tiap siswa, Penilaian afektif dapat menjadi sarana untuk memutuskan hal penting yang harus dilakukan atau yang tidak perlu dilakukan pada tiap-tiap pembelajaran
Konsep Dasar dan Peranan serta Fungsi Kurikulum dalam Pendidikan Ahmad Dhomiri; Junedi Junedi; Mukh Nursikin
Khatulistiwa: Jurnal Pendidikan dan Sosial Humaniora Vol. 3 No. 1 (2023): Maret : Jurnal Pendidikan dan Sosial Humaniora
Publisher : Pusat Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/khatulistiwa.v3i1.972

Abstract

Sistem pendidikan nasional selalu relevan dan kompetetif dilakukan penyempurnaan kurikulum sesuai undang-undang pasal 35 dan 36 sebagai acuan kurikulum secara berencana dan berkala untuk menekankan perlunya peningkatan standar nasional pendidikan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan analisis pengumpulan data (literatur review) dari journal, media internet dan media berita online. Hasil dalam penelitian ini yakni Kurikulum dalam pendidikan memiliki peran yang sangat besar dalam menentukan kemajuan pendidikan di suatu Negara, mulai dari ranah konsep hingga aplikasi atau praktek di lapangan. Karena memiliki peran sebagai rencana dan pengaturan mengenai isi dan bahan ajar penyelenggaraan pedoman pendidikan yang baik. Hingga kiprahnya saat ini yang sudah berganti kurikulum sebanyak 11 kali, akan tetapi harus berlandaskan komponen yang terkait satu sama lain agar mencapai tujuan kurikulum yang diinginkan dengan berlandaskan fungsi dan kurikulum yang jelas sebagai penguat dalam pengembangan kurikulum
Konsep Dasar Islam Wasathiyah Perspektif Ulama Muslim Siti Solichatun Zakiah; Mukh Nursikin
PESHUM : Jurnal Pendidikan, Sosial dan Humaniora Vol. 3 No. 1: Desember 2023
Publisher : CV. Ulil Albab Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/peshum.v3i1.2660

Abstract

The religion of Islam has given blessings to all people and instructs in every good for humans and one another. Every teaching contained in Islam relies on the Qur'an and the Sunnah of the Messenger besides that some other human beings also agree to believe in ijma', qiyah for the source of learning Islam. Regarding wasathiyah Islam, it does not mean not giving explanations or not giving firmness to something like a neutral attitude on a particular subject, nor a middle attitude as described by Greek philosopher thinkers. Unlike what is introduced in the term wasath which is (middle), where it gives direction that wasathiyah does not force humans to achieve something good and appropriate, for example, knowledge, wealth, worship, and others. This article explains the concept of wasathiyah Islam from various thoughts of the figures and aims to find out the concept of wasathiyah in Islam and to find out how the figures view the concept of wasathiyah in Islam. The concept of wasathiyah Islam is very important to be studied to limit the movement of the Islamic caliph.
Pemikiran Konsep Kurikulum Dua Tokoh Negara Yang Berbeda Muthia Nur Rahma; Mukh Nursikin
PUSTAKA: Jurnal Bahasa dan Pendidikan Vol. 2 No. 4 (2022): Oktober : Jurnal Bahasa dan Pendidikan
Publisher : BADAN PENERBIT STIEPARI PRESS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56910/pustaka.v2i4.360

Abstract

Standar isi dan standar kompetensi lulusan yang telah disusun oleh BSNP ditekankan oleh Mendiknas sebagai acuan guru untuk mengembangkan kurikulum sesuai kebutuhan sekolah. Kurikulum yang berlaku tetap berbasis kompetensi sebagai penyempurnaan dari kurikulum sebelumnya.Kurikulum dalam pendidikan memiliki peran yang sangat besar dalam menentukan kemajuan pendidikan di suatu negara, mulai dari ranah konsep hingga aplikasi atau praktik di lapangan. Karena mempunyai peran sebagai perencanaan dan pengaturan mengenai isi dan bahan ajar untuk penyelenggaraan pendidikan yang baik.Kurikulum 1947 sampai dengan kurikulum kemerdekaan di Indonesia mengalami perubahan dari waktu ke waktu untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dan menyesuaikan dengan perkembangan zaman. Sebanyak 11 kurikulum di Indonesia dikembangkan pada tahun 1947, 1952, 1968, 1975, 1984, 1994, 2004, 2006, 2013 dan kemerdekaan yang masih digunakan sampai sekarang.
Rekonstruksi Paradigma Teologis Dan Pedagogis Literasi Islam Wasathiyah Dalam Konteks Krisis Identitas Keagamaan Generasi Z Di Era Post-Truth Nabiilah Tsabitul ‘Azmi; Mukh Nursikin
JOURNAL SAINS STUDENT RESEARCH Vol. 3 No. 6 (2025): Jurnal Sains Student Research (JSSR) Desember
Publisher : CV. KAMPUS AKADEMIK PUBLISING

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61722/jssr.v3i6.6957

Abstract

The post-truth era is characterized by the blurring of the boundaries between fact and opinion, as well as the dominance of emotions and subjective perceptions over objective truth. This condition has serious implications for the formation of the religious identity of Generation Z who live in the flow of digital information without adequate epistemic filters. This phenomenon gives rise to a religious identity crisis in the form of the emergence of extreme, shallow, and fragmented religious attitudes. This article aims to reconstruct the theological and pedagogical paradigm of wasathiyah Islamic literacy as a conceptual solution to this problem. Using a qualitative-descriptive approach based on literature review, this study re-examines the theological basis of wasathiyah values, such as justice, balance, and tolerance, and their relevance in contemporary Islamic educational practices. The results of the study indicate that the reconstruction of the wasathiyah Islamic literacy paradigm must be directed at three main aspects: (1) strengthening critical epistemology in understanding religious texts, (2) forming moderate character through reflective and dialogical pedagogy, and (3) religious digital literacy oriented towards verification and information ethics. Through the integration of theological and pedagogical aspects, Islamic education can serve as a space for the formation of an inclusive, rational, and contextual religious identity for Generation Z amidst the challenges of the post-truth era.
KONSEP WASATHIYAH ISLAM DALAM KONTEKS GLOBALISASI DAN PENDIDIKAN MULTIKULTURAL Ayu Rizkia Silviana; Mukh Nursikin
TADAYYUN: Journal of Religion, Social and Humanities Studies Vol 3 No 1 (2025): Tadayyun: Journal of Religion, Social and Humanities Studies
Publisher : Program Studi Sosiologi Agama, FUD, IAIN Sultan Amai Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bangsa Indonesia terdiri atas masyarakat yang majemuk. Kemajemukan tersebut jika tidak disikapi secara tepat akan menimbulkan berbagai persoalan. Konsep agama yang inklusif perlu ditanamkan supaya tidak menimbulkan radikalisme, ekstremisme, terorisme. Konsep tersebut yaitu Wasathiyah atau moderasi beragama. Tujuan penelitian ini yaitu melakukan kajian tentang konsep Wasathiyah pendidikan agama islam dalam konteks globalisasi dan multikultural. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan studi pustaka. Proses pelaksanaan penelitian sebagai berikut: (1) reduksi data, menyeleksi data dengan kategori tertentu; (2) penyajian data, data temuan penelitian dipaparkan secara sistematis dan jelas; dan (3) penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, pertama, tantangan pendidikan Islam di era globalisasi yaitu (a) kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi; (b) demokratisasi; dan (c) kemerosotan moral. Kedua, terdapat tiga pilar dalam menangkal radikalisme, (1) pilar adil; (2) pilar keseimbangan; dan (3) pilar toleransi. Ketiga, terdapat tiga strategi dalam memperkuat moderasi beragama, (1) memperkuat konsep moderasi; (2) mengembangkan muatan kurikulum; dan (3) mengoptimalkan pembelajaran pendidikan agama islam. Keempat, terdapat karakter yang perlu ditanamkan dalam pendidikan di era globalisasi yaitu (1) Tawasuth (pertengahan); (2) Tatsamuh (toleran); (3) Tawazun (seimbang); dan (4) I’tidal (konsisten, tegas dan berlaku adil).
PERAN NILAI WASATHIYAH DALAM MEMBENTUK ETIKA BERAGAMA DI MEDIA SOSIAL Sultoni Mahendra; Mukh Nursikin
JOURNAL SAINS STUDENT RESEARCH Vol. 3 No. 6 (2025): Jurnal Sains Student Research (JSSR) Desember
Publisher : CV. KAMPUS AKADEMIK PUBLISING

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61722/jssr.v3i6.7020

Abstract

The digital era has brought a significant transformation in the way people practice and express their religious beliefs. Social media has become a new arena for preaching, theological discussions, and the dissemination of religious teachings. However, alongside these positive developments, numerous ethical challenges have emerged, including the spread of hate speech, interfaith polarization, misuse of religious texts for sectarian purposes, and the rise of extremist and intolerant behavior online. These phenomena indicate a moral crisis in digital religiosity that calls for a new ethical paradigm. In this context, the Islamic value of wasatiyah—which emphasizes moderation, balance, and tolerance—plays a crucial role as an ethical foundation for religious conduct in the digital sphere. This study aims to analyze the role of wasatiyah values in shaping ethical religious behavior on social media. Using a qualitative-descriptive approach through library research, this paper examines relevant academic sources such as journals, books, and Islamic literature. The findings reveal that the principles of wasatiyah provide a strategic framework for developing balanced, rational, and civilized religious behavior online. The principle of moderation prevents extremism and provocation, the principle of balance promotes harmony between faith expression and social responsibility, and the principle of tolerance fosters mutual respect amid diversity.Thus, the application of wasatiyah values serves not only as a theological solution but also as an ethical and social framework for addressing the moral crisis in the digital age. These values offer practical guidance for Muslims to cultivate a culture of civility, peace, and inclusivity in online communication, thereby reinforcing Islam’s essence as a religion of rahmatan lil ‘alamin—a mercy for all creation.
KH. Abdurrohman Wahid (Gus Dur) Pluralisme Isti Faiyah; Mukh Nursikin
Al Iman: Jurnal Keislaman dan Kemasyarakatan Vol. 10 No. 1 (2026): Al-Iman Jurnal Keislaman dan Kemasyarakatan
Publisher : STID Raudlatul Iman Sumenep

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract