Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

Tradisi VS Modernitas: Konflik Generasi dan Komunikasi Gender dalam Crashing Eid Lilis Widarti; Rifma Ghulam Dzaljad; Yulia Rahmawati
Da'watuna: Journal of Communication and Islamic Broadcasting Vol. 4 No. 4 (2024): Da'watuna: Journal of Communication and Islamic Broadcasting (In Press)
Publisher : Intitut Agama Islam Nasional Laa Roiba Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47467/dawatuna.v4i4.4547

Abstract

This study investigates the intricate dynamics of tradition versus modernity through the lens of generational conflict and gender communication in the Netflix series "Crashing Eid." Utilizing a systematic content analysis, the research aims to identify and categorize representations of these themes within the series. The analysis focuses on key aspects such as traditional versus modern values, generational perspectives, and gender roles as depicted in the interactions and dialogues of the characters. The findings reveal that "Crashing Eid" effectively portrays the tension between traditional and modern values, particularly in the context of family expectations and personal aspirations. The series highlights the challenges faced by younger generations in balancing respect for cultural heritage with the desire for individual autonomy. Gender communication is intricately woven into these narratives, showcasing the evolving roles of women and men within the Saudi Arabian cultural setting. The study underscores the importance of media representation in reflecting and shaping societal norms and values. "Crashing Eid" serves as a poignant example of how contemporary media can address and bring to light the complexities of generational and gender-related conflicts. The research contributes to the broader discourse on cultural change and continuity, emphasizing the role of media in facilitating dialogue and understanding across different societal segments.
PERLINDUNGAN HAK KARYAWAN DALAM PERSPEKTIF HUKUM PERUSAHAAN DI PT. HWASEUNG INDONESIA JEPARA Yulia Rahmawati; Hamzah Vensuri
Jotika Research in Business Law Vol. 5 No. 1 (2026): Januari
Publisher : Jotika English and Education Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perlindungan hak karyawan merupakan aspek penting dalam menciptakan hubungan industrial yang harmonis dan adil. Karyawan memiliki hak untuk memperoleh perlindungan sebagaimana diatur dalam pasal 86 UU No.13 Tahun 2003 tentang ketenagakerjaan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perlindungan hak-hak karyawan di PT. Hwaseung Indonesia Jepara berdasarkan Undang-Undang Ketenagakerjaan dan hukum perusahaan yang berlaku di Indonesia, mengidentifikasi permasalahan yang di hadapi karyawan terkait pemenuhan hak dalam hubungan kerja dengan perusahaan, serta mengevaluasi dampak berlakunya UU Cipta Kerja terhadap perlindungan hak karyawan seperti hak atas upah yang layak, hak atas waktu kerja dan istirahat, hak atas jaminan sosial dan Kesehatan, hak atas perjanjian kerja yang jelas, hak atas keselamatan dan kesehatan kerja (K3), hak atas perlakuan yang adil dan non-diskriminatif, hak atas pengembangan diri dan karir, Hak atas kepastian hukum dan penyelesaian Perselisihan dan hak untuk berserikat dan berunding. Metode penelitian ini menggunakan metode pendekatan kualitatif dengan menggunakan kajian data deskriptif analisis dimana akan memberi gambaran atas sebuah situasi dan menganalisisnya menggunkan nilai dan norma yang ada. Untuk memperkuat analisis tersebut dilakukan pengumpulan data wawancara dengan sekelompok pekerja dan serikat serta pengumpulan data berdasarkan bahan-bahan literasi berupa peraturan perundang-undangan, instrument HAM, jurnal, internet dan buku. Hasil dari penelitian ini yaitu perusahaan menunjukan komitmennya terhadap perlindungan hak karyawan seperti hak atas upah yang layak, status hubungan kerja yang jelas, akses terhadap jaminan sosial dan perlindungan terhadap perselisihan industrial. Namun, implementasi kebijakan perusahaan PT. Hwaseung Indonesia Jepara terhadap hak-hak karyawan belum sesuai dengan peraturan perundang-undangan ketenagakerjaan yang berlaku di Indonesia, seperti adanya PHK secara sepihak yang dapat merugikan karyawan serta adanya kebijakan-kebijakan lain yaitu pembagian jam lembur antar dapartemen yang tidak adil dan adanya keluhan karyawan terhadap sikap kasar dari manager produksi terhadap karyawan serta Pengevaluasian tentang target produksi yang semakin naik mengakibatkan karyawan merasa di rugikan atas kesehatannya sehingga perusahaan harus meminimalisir kenaikan target produksi agar tidak membuat karyawan semakin tertekan dan mengganggu Kesehatan mental karyawan. Sehingga perusahaan belum memberikan implementasi sesuai dengan UU Nomor 13 Tahun 2003 tentang ketenagakerjaan. Oleh karena itu, di perlukan pembenahan dalam kebijakan ketenagakerjaan perusahaan agar perlindungan hak-hak karyawan dapat terwujud secara adil dan berkelanjutan sesuai dengan prinsip hukum perusahaan yang berlaku.
BRANDING STRATEGY FOR RELIGIOUS DIVERSITY TOURISM VILLAGES BASED ON LOCAL WISDOM Yulia Rahmawati; Rifma Ghulam Dzaljad; Titin Setiawati
Akrab Juara : Jurnal Ilmu-ilmu Sosial Vol. 11 No. 1 (2026): Februari
Publisher : Yayasan Azam Kemajuan Rantau Anak Bengkalis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58487/akrabjuara.v11i1.2757

Abstract

Religious diversity is an important social capital in the development of tourism villages based on social and cultural values. Pulo Geulis Village in Bogor City, West Java, is known as a multi-ethnic and multi-religious area with a long history of tolerance practices in the daily lives of its residents. This article aims to analyze the branding strategy of the Religious Diversity Tolerance Tourism Village in Pulo Geulis Village, based on local wisdom, as an effort to build an inclusive and sustainable tourism destination identity. This research uses a qualitative approach with a case study method. Data collection was conducted through in-depth interviews with tourism village managers, religious leaders, community leaders, and local residents, as well as participant observation and analysis of tourism promotion documents. The results show that the branding strategy of Pulo Geulis Village is built through strengthening local historical narratives, cross-ethnic cultural symbols, practices of social tolerance among diverse communities, and participatory communication that actively involves the community in the tourism planning and promotion process. Branding tolerance is not only represented by visual and verbal promotional messages, but is also manifested as a social practice that lives in public spaces, tourism activities, and daily community interactions. These findings demonstrate that local wisdom plays a key role in building authentic, inclusive, and competitive tourism village branding. This study contributes to the development of community-based tourism communication studies and the strengthening of tolerance values ​​in sustainable tourism development in urban areas.