Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Ethnography

Tradisi Panen Niro pada Masyarakat Nagari Koto Tinggi Kecamatan Gunuang Omeh Kabupaten Lima Puluh Kota Provinsi Sumatera Barat Prima, Andika Dika; Suharti, Suharti; Yurisman, Yurisman
Ethnography : Journal of Cultural Anthropology Vol 3, No 2 (2024): Vol 3, No 2 (2024): Juli - Desember 2024
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/ethnography.v3i2.4650

Abstract

Penelitian ini membahas tentang tradisi panen niro masyarakat Nagari Koto Tinggi Kecamatan Gunuang Omeh Kabupaten Lima Puluh Kota, Provinsi Sumatera Barat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana proses dan fungsi tradisi dalam melakukan panen niro di Nagari Koto Tinggi. Di sini juga dipaparkan mengenai sejarah ritual panen niro. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori Fungsionalisme dari Bronislaw Malinowski. Metode yang digunakan yaitu Metode Kualitatif, dengan teknik pengumpulan data obeservasi lapangan, wawancara dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan diantaranya, reduksi data, penyajian data, dan penarik kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa peneliti menemukan beberapa indikator dari objek ini yang pertama bagaimana prosesi tradisi Panen niro yang meliputi sebagai berikut: mengambil daun lalang di kri kanan ruas jalan, Monggua atau memukul dahan aren, memutuskan mayang atau buah kolang kaling, menampung aren. Indikator kedua dalam penelitian ini yaitu membahas bagaiaman bentuk fungsi dari tradisi panen niro yang memiliki fungsi sebagai berikut: fungsi ekonomi, fungsi sosial dan fungsi pewarisan budaya. Dalam tradisi panen niro prosesi yang dilakukan adalah prosesi yang dilakukan secara turun temurun dan sudah menjadi kearifan lokal masyarakat Koto Tinggi, tradisi panen niro juga memiliki banyak fungsi salah satunya sebagai peningkatan pendapatan masyarakat sebagai fungsi ekonomi, fungsi menjaga silaturahmi dan wujud gotong royong sebagai fungsi social, dan pelestarian budaya sebagai fungsi pewarisan budaya.
Prosesi Perkawinan Angkap Di Kampung Pining Kecamatan Pining Kabupaten Gayo Lues Provinsi Aceh Sempurna, Anisa; Yurisman, Yurisman; Rahmi, Hijratur
Ethnography : Journal of Cultural Anthropology Vol 2, No 1 (2023): Vol 2, No 1 (2023): Januari - Juni 2023
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/ethnography.v2i1.3352

Abstract

Penelitian ini mengkaji tentang “Prosesi perkawinan angkap di Kampung Pining Kecamatan Pining Kabupaten Gayo Lues Provinsi Aceh”. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan etnografi, teknik pengumpulan datanya yaitu observasi, wawancara dan dokumentasi. Prosesi perkawinan di Kampung Pining terdiri dari tahap permulaan berupa: resek, rese, kono, dan tahap pelaksanaan berupa: nginte, beguru, naik rempele dan mah bai. Makna dalam prosesi perkawinan angkap  yaitu: 1. resek bermakna keinginan orang tua untuk melanjutkan kehidupan baru bagi anaknya. 2. Telangke (perantara) bermakna penghubung kedua keluarga mengenai tentang perjodohan. 3. Ikat lidah bermakna  agar calon pengantin tidak ingkar janji terhadap perjanjian. 4. Penyerahan mahar bermakna bukti berlanjutnya tahap pelaksanaan perkawinan. 5. Pemberian nasehat bermakna doa selamat bagi pengantin 6. Alang-alang bermakna rombongan keluarga pengantin laki-laki telah sampai tujuan 7. Air putih bermakna suci dalam membanagun kehidupan. Benda dalam prosesi perkawinan angkap yaitu: Batil bersap (cerana beserta perlengkapan sirih) bermakna pembuka pembicaraan dan penghormatan terhadap tamu yang hadir. Oros senare (beras 1 liter) bermakna sebagai penghidupan baik. Biji-bijian bermakna semoga pengantin berketurunan baik.