Sri Widiyantoro
Global Geophysics Research Division, Faculty Of Mining And Petroleum Engineering, Institut Teknologi Bandung, Jl. Ganesha 10, Bandung, Jawa Barat 40132, Indonesia

Published : 22 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

An attempt to Model Final Reservoir at Mt. Merapi Using Receiver Function Auly, Muhammad Fariq Riesky; Zaky, Dicky Ahmad; Saputra, Ryandika; Suhardja, Sandy Kurniawan; Widiyantoro, Sri; Ramdhan, Mohammad 
Jurnal Geofisika Vol 21 No 1 (2023): Jurnal Geofisika
Publisher : Himpunan Ahli Geofisika Indonesia (HAGI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36435/jgf.v21i1.537

Abstract

Studi di daerah Gn. Merapi sudah banyak dilakukan sebelumnya untuk mengetahui kondisi di bawah permukaan pada area tersebut, khususnya untuk mengetahui mekanisme vulkanik dari Gn. Merapi itu sendiri. Hal yang sering menjadi topik pembahasan pada studi di Gn. Merapi adalah kondisi dari reservoir magma yang ada di bawah permukaan. Untuk memperkirakan hal tersebut dilakukan teknik receiver function dengan membuat model kecepatan sintetik yang kemudian diolah menjadi kurva synthetic receiver function. Hasil synthetic receiver function kemudian dikorelasikan dengan hasil receiver function observasi hingga didapatkan korelasi yang paling baik. Sebelum dilakukan pembuatan synthetic receiver function untuk mencitrakan kondisi bawah permukaan Gn. Merapi, perlu dilakukan terlebih dahulu analisis awal terhadap respon hasil receiver function dari model sederhana yang dibuat dengan memberikan sumber-sumber sinyal utama pada kurva receiver function yang dihasilkan agar mempermudah pembuatan model kecepatan sintetik. Sumber-sumber respon sinyal utama yang mempengaruhi bacaan receiver function di antaranya adalah kontras nilai kecepatan gelombang seismik terutama Vs, adanya lapisan sedimen yang memiliki ketebalan tipis, adanya zona berkecepatan rendah (low velocity zone) yang diinterpretasikan sebagai reservoir magma, dan kedalaman dari batas kerak dan mantel atas yaitu moho discontinuity. Berdasarkan hasil synthetic receiver function di stasiun ME25, ME32 dan ME36, didapatkan kedalaman dari moho berkisar antara 26-29 km dan semakin dangkal ke arah Gn. Merapi, yaitu arah selatan dari daerah studi. Kedalaman dari low velocity zone juga bervariasi yaitu berkisar antara 5-15 km dan juga semakin dangkal ke arah selatan.
Investigation of Liquefaction in Balaroa, Petobo, and Jonooge (Central Sulawesi, Indonesia) Caused by the 2018 Palu Earthquake Sequence Triyono, Rahmat; Widiyantoro, Sri; Zulfakriza, Zulfakriza; Supendi, Pepen; Rahman, Aditya Setyo; Gunawan, Mohamad Taufik; Oktavia, Nur Hidayati; Rahmatullah, Fajri Syukur; Fadhilah, Fildzah Zaniati; Habibah, Nur Fani; Sativa, Oriza; Permana, Dadang; Wallansha, Robby; Octantyo, Ardian Yudhi; Persada, Yoga Dharma; Pranata, Bayu; Sujabar, Sujabar
Journal of Engineering and Technological Sciences Vol. 56 No. 3 (2024)
Publisher : Directorate for Research and Community Services, Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/j.eng.technol.sci.2024.56.3.1

Abstract

The liquefaction that occurred in the city of Palu on September 28, 2018, was caused by a series of significant earthquakes that took place in a relatively short time around 25 minutes after the main earthquake of magnitude 7.5. This event was followed by aftershocks of magnitudes 6.4, 6.2, and 6.1. The magnitude 6.2 aftershock occurred at 10.16 UTC, while the magnitude 6.1 aftershock occurred at 10.25 UTC. These were both located very close to the liquefaction locations in Balaroa, Petobo, and Jono Oge. We investigated the mainshock and the three aftershocks using the NCEER method based on Vs30 measurements and data from the drill liquefaction locations at Balaroa, Petobo, and Jono Oge. We found that the liquefaction was not only caused by the main earthquake but also by the subsequent aftershocks that occurred within 25 minutes after the mainshock.