Claim Missing Document
Check
Articles

Found 33 Documents
Search

STRATEGI GURU AKIDAH AKHLAK DALAM MEMBENTUK AKHLAKUL KARIMAH SISWA KELAS VII MTS AL-FAJAR SEI MENCIRIM Adirza, Dwini; Abdurrasyid, Abdurrasyid
Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran Vol. 7 No. 1 (2024): Volume 7 No 1 Tahun 2024
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jrpp.v7i1.24243

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplor Strategi Guru Akidah Akhlak dalam Membentuk Akhlakul Karimah siswa kelas VII. Guru harus mempunyai strategi dalam membentuk akhlakul karimah siswa dan membuat siswa berperilaku baik selama di dalam kelas maupun dilingkungan sekolah. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan deskriptif, yang mewawancarai dua informan penelitian yaitu guru akidah akhlak dan peserta didik kelas VII. Data dianalisis menggunakan reduksi data, penyajian data, dan kesimpulan dan verifikasi. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi yang dilakukan oleh guru akidah akhlak dalam membentuk akhlakul karimah siswa kelas VII MTs Al Fajar Sei Mencirim yaitu dengan memberikan arahan dan pengetahuan kepada siswa tentang akhlakul karimah, menggunakan strategi berbasis proyek dalam pembelajaran, memberikan teladan kepada siswa, dan memanfaatkan fasilitas sekolah sebagai pendukung dalam membentuk akhlakul karimah siswa.
Peer Mentoring Berbasis Komunitas: Inovasi Edukatif Non-Digital untuk Mengurangi Screen Time pada Anak Usia Prasekolah Widia Sari; Erna Veronika; Abdurrasyid Abdurrasyid; Budi Mulyana; Rian Adi Pamungkas
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 9, No 1 (2026): Volume 9 Nomor 1 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v9i1.24031

Abstract

ABSTRAK Durasi screen time yang berlebihan pada anak usia prasekolah menjadi permasalahan yang sering ditemukan di wilayah perkotaan. Di RW 001 RT 02 Kelurahan Kramat, Jakarta Pusat menunjukkan bahwa 75% anak usia 3-6 tahun memiliki durasi screentime lebih dari 1 jam/24 jam. Kondisi tersebut berpotensi menghambat perkembangan kognitif, sosial-emosional, dan perilaku anak, terutama ketika aktivitas non-digital tidak tersedia secara memadai di lingkungan rumah maupun komunitas. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk menurunkan druasi screen time anak prasekolah melalui penyediaan aktivitas edukatif non-digital berbasis komunitas dengan memberdayakan remaja masjid sebagai peer mentor. Program dilaksanakan melalui lima tahapan: (1) koordinasi dan sosialisasi, (2) pelatihan peer mentor remaja, (3) pengembangan media edukatif non-digital, (4) pelaksanaan sesi bermain edukatif, (5) monitoring serta evaluasi. Sebanyak 12 remaja mengikuti pelatihan dan menghasilkan tiga jenis media edukatif non-digital (busy book, sensory play, dan story telling cards). Sebanyak 12 remaja masjid dilatih menjadi peer mentor kegiatan serta tiga sesi bermain melibatkan 8 anak usia prasekolah yang mengikuti 3 sesi kegiatan bermain, dimana 30% diantaranya mengalami penurunan screen time menjadi kurang dari 2 jam per hari. Kegiatan juga meningkatkan keterampilan remaja dalam pendampingan anak, memperkuat aktivitas bermain non-digital, dan menghasilkan forum remaja sebagai wadah keberlanjutan program. Model peer mentoring berbasis komunitas terbukti efektif dan inovatif dalam memfasilitasi aktivitas edukatif non-digital serta menurunkan durasi screen time anak usia prasekolah. Kata Kunci: Peer Mentoring, Screen Time, Anak Prasekolah, Edukasi Non-Digital.  ABSTRACT Excessive screen time among preschool children is a common problem in urban areas. In RW 001 RT 02, Kramat Subdistrict, Central Jakarta, 75% of children aged 3-6 years were reported to have screen time exceeding on hour per day. This condition may hinder children’s cognitive, social-emotional, and behavioral development, particularly when adequate non-digital activities are not available at home or within the community. This community service program aimed to reduce screen time among preschool children by providing community based non-digital educational activities through the empowerment of mosque-based adolescents as peer mentors. The program was implemented through five stages: (1) coordination and socialization, (2) training of adolescent peer mentors, (3) development of non-digital educational media, (4) implementation of educational play sessions, and (5) monitoring and evaluation. A total of 12 adolescents participated in the training and developed three types of non-digital educational media, including busy books, sensory play materials, and storytelling cards. Twelve mosque-based adolescents were trained as peer mentors, and three educational play sessions involved eight preschool children. Following the intervention, 30% of the participating children experienced a reduction in screen time to less than two hours per day. The program also enhanced adolescents skills in child facilitation, strengthened non-digital play activities, and established a youth forum to support program sustainability. The community-based peer mentoring model represents an effective and innovative approach to facilitating non-digital educational activities and reducing screen time among preschool children. Keywords: Peer Mentoring, Screen Time, Preschool Children, Non-Digital Education.
Penguatan Model Edukasi Home-Based Wound Care Dalam Perawatan Luka di Komunitas untuk Mencegah Komplikasi Rian Adi Pamungkas; Andi Mayasari Usman; Widia Sari; Abdurrasyid Abdurrasyid
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 9, No 2 (2026): Volume 9 Nomor 2 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v9i2.24411

Abstract

ABSTRAK Luka kronis merupakan masalah kesehatan yang banyak dijumpai di komunitas, terutama pada pasien dengan penyakit kronis, dan berisiko menimbulkan komplikasi apabila tidak dirawat sesuai prinsip perawatan luka berbasis bukti. Keterbatasan pengetahuan dan keterampilan pasien serta keluarga dalam melakukan perawatan luka di rumah menjadi salah satu faktor utama terjadinya keterlambatan penyembuhan dan komplikasi. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk memperkuat model edukasi home-based wound care dalam perawatan luka kronis di komunitas sebagai upaya pencegahan komplikasi. Kegiatan menggunakan pendekatan community-based participatorymelalui edukasi dan pendampingan perawatan luka berbasis rumah. Sasaran kegiatan adalah pasien dengan luka kronis dan anggota keluarga sebagai caregiver. Intervensi meliputi edukasi terstruktur, demonstrasi dan praktik perawatan luka, serta pendampingan melalui kunjungan rumah secara berkala. Evaluasi dilakukan dengan observasi perkembangan luka dan pemantauan penerapan praktik perawatan luka selama periode pendampingan. Selama rangkaian kunjungan, terlihat progres penyembuhan luka yang konsisten, ditandai dengan peningkatan jaringan granulasi, penurunan eksudat, penyempitan luas luka, serta munculnya epitelisasi tanpa ditemukannya komplikasi. Selain itu, pasien dan keluarga menunjukkan peningkatan kemampuan dan kemandirian dalam melakukan perawatan luka secara mandiri di rumah. Penguatan model edukasi home-based wound care efektif dalam mendukung penyembuhan luka kronis dan mencegah komplikasi di komunitas. Model ini berpotensi untuk direplikasi dan diintegrasikan dalam layanan keperawatan komunitas dan layanan kesehatan primer. Kata Kunci: Luka Kronis, Home-Based Wound Care, Edukasi Kesehatan, Keperawatan Komunitas, Pengabdian Masyarakat.  ABSTRACT Chronic wounds are a common health problem in community settings, particularly among patients with chronic diseases, and pose a high risk of complications if not managed according to evidence-based wound care principles. Limited knowledge and skills among patients and family caregivers in performing home wound care remain major contributors to delayed healing and complications. This community service activity aimed to strengthen a home-based wound care education model for the management of chronic wounds in the community as a strategy to prevent complications. A community-based participatory approach was applied through structured education and home-based wound care assistance. The target participants were patients with chronic wounds and their family members as primary caregivers. The intervention included wound care education, demonstrations and hands-on practice, as well as regular home visits for ongoing assistance. Evaluation was conducted through observation of wound healing progress and monitoring of wound care practices during the assistance period. Throughout the series of visits, consistent wound healing progress was observed, characterized by improved granulation tissue, reduced exudate, decreased wound size, and progressive epithelialization without signs of complications. In addition, patients and family caregivers demonstrated improved skills and greater independence in performing wound care at home. Strengthening the home-based wound care education model effectively supports chronic wound healing and prevents complications in community settings. This model has the potential to be replicated and integrated into community nursing and primary healthcare services Keywords: Chronic Wounds, Home-Based Wound Care, Health Education, Community Nursing, Community Service.