Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

Isolation and Antibacterial Activity Test of Seagrass Epiphytic Symbiont Bacteria Thalassia hemprichii from Bahowo Waters, North Sulawesi Maarisit, Ismariani; Angkouw, Esther D.; Mangindaan, Remy E. P.; Rumampuk, Natalie D. C.; Manoppo, Henky; Ginting, Elvy Like
Jurnal Ilmiah Platax Vol. 9 No. 1 (2021): ISSUE JANUARY - JUNE 2021
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.9.1.2021.34320

Abstract

Seagrass is a higher plant and has the ability to produce bioactive compounds such as antibacterial. Seagrass is also a host to a variety of bacteria. Bacteria that live in the host will produce the same compounds as the host's body. The utilization of symbiotic bacteria with seagrasses as producers of bioactive compounds such as antibacterial can be used as a solution to reduce excessive seagrass uptake in nature. On the other hand, bacteria have the advantage of being fast and easy to grow and can be mass-produced and more economical. This study aims to isolate and test the antibacterial activity of the epiphytic bacteria of seagrass symbionts. Epiphytic bacteria of seagrass symbionts were grown on Nutrient Agar media directly in the field and bacterial isolation was carried out based on the morphological characteristics of the bacterial isolates. The antibacterial activity test was carried out using the disc method with the test bacteria Stapylococcus aureus, Streptococcus mutans, Escherichia coli, Salmonella thypi, and antibiotics as positive controls. The ability of bacteria to produce antibacterial was indicated by the formation of an inhibition zone around the paper disc containing the epiphytic bacteria of the seagrass symbiont T. hemprichii. A total of 3 isolates of epiphytic bacteria were isolated from T. hemprichii seagrass from Bahowo Waters, Tongkaina Village, Bunaken District, these isolates are namely Epifit 1, Epiphyte 2, and Epiphyte 3. Epiphyte 2 isolate had antibacterial activity against S. mutans, S. aureus, and S. thypi test bacteria, Epiphyte 3 isolate had antibacterial activity against S. mutans, and S. thypi test bacteria.Key words: Bacteria; Antibacterial; T. hemprichii; symbionts; BahowoAbstrakLamun merupakan tumbuhan tingkat tinggi dan memiliki kemampuan menghasilkan senyawa  bioaktif seperti antibakteri. Lamun juga merupakan tempat hidup atau inang dari berbagai bakteri. Bakteri yang hidup pada inang akan menghasilkan senyawa yang sama dengan tubuh inangnya. Pemanfaatan bakteri yang bersimbiosis dengan lamun sebagai produsen senyawa bioaktif seperti antibakteri dapat dijadikan sebagai solusi dalam mengurangi pengambilan lamun yang berlebihan di alam. Dilain pihak, bakteri memiliki keunggulan karena pertumbuhan bakteri yang cepat dan mudah tumbuh, dapat diproduksi secara massal dan lebih ekonomis. Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi dan menguji aktivitas antibakteri dari bakteri epifit simbion lamun T. hemprichii dari Perairan Bahowo.  Bakteri epifit simbion lamun ditumbuhkan pada media NA secara langsung di lapangan dan isolasi bakteri dilaksanakan berdasarkan karateristik morfologi isolat bakteri. Uji aktivitas bakteri dilakukan menggunakan metode cakram dengan bakteri uji S. aureus, S. mutans, E. coli, dan S. thypi dan antibiotik sebagai kontrol positif. Kemampuan bakteri menghasilkan antibakteri ditandai dengan terbentuknya zona hambat disekitar kertas cakram yang mengandung bakkteri epifit simbion lamun T. hemprichii.  Sebanyak 3 isolat bakteri epifit berhasil diisolasi pada lamun T. hemprichii dari Perairan Bahowo, Kelurahan Tongkaina, Kecamatan Bunaken yaitu Epifit 1, Epifit 2, dan Epifit 3. Isolat epifit 3 memiliki aktivitas antibakteri terhadap bakteri uji S. thypi, isolat Epifit 2 terhadap bakteri uji S. mutans, S. aureus, dan S. thypi, isolat Epifit 3 terhadap bakteri uji S. mutans, dan S. thypi.Kata kunci: Bakteri; Antibakteri; T. hemprichii; Simbion; Bahowo
The form and distribution of microplastic in sediment and water columns of Manado Bay, North Sulawesi Imanuel, Tonny; Pelle, Wilmy E.; Schaduw, Joshian N. W.; Paulus, James J. H.; Rumampuk, Natalie D. C.; Sangari, Joudy R. R.
Jurnal Ilmiah Platax Vol. 10 No. 2 (2022): ISSUE JULY-DECEMBER 2022
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.v10i2.42085

Abstract

Microplastics are particles measuring <5mm that is the result of degradation from plastic waste that enters the environment. Plastic waste is degraded into microplastics through physical, chemical, and biological processes. Pollutants such as microplastics that enter the waters of Manado Bay can reduce the biological and ecological functions of the ecosystem in the waters. The purpose of this study was to determine the shape and density of microplastics in Manado Bay. The sediment sampling method was carried out by purposive sampling method and for the water, column using a plankton net withdrawal method of 10 meters with 3 replications at 3 stations. The sample will be prepared and then identified. Then the sample density was calculated and then analyzed using a one-way ANOVA test and Pearson correlation. The results showed that there were 4 forms of microplastic found, namely the form of fragments, films, fibers, and foams. The density of sediment sample 1 found 187 microplastic particles with a density of 63.38 particles/kg, at station 2 a total of 479 particles with a density of 182.12 particles/kg, and at station 3 a total of 311 particles with a density of 115.07 particles/kg. In station 1 seawater samples were found 154 particles with a density of 7.26 particles/m³, station 2 a total of 299 particles with a density of 14.10 particles/m³.Keywords: microplastic, shape, density, Manado Bay AbstrakMikroplastik adalah partikel berukuran <5mm hasil degradasi dari sampah plastik yang masuk ke lingkungan. Sampah plastik terdegradasi menjadi mikroplastik melalui proses fisik, kimia, dan biologis. Bahan pencemar mikroplastik yang masuk ke perairan Teluk Manado dapat mengurangi fungsi biologis dan ekologis dari ekosistem yang ada di dalam perairan. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui bentuk dan distribusi mikroplastik yang ada di Teluk Manado. Metode pengambilan sampel sedimen dilakukan dengan metode purposive sampling dan untuk kolom perairan menggunakan metode penarikan plankton net sepanjang 10 meter sebanyak 3 kali ulangan di 3 stasiun. Sampel akan dipreparasi kemudian diidentifikasi. Selanjutnya sampel dihitung kepadatannya kemudian dianalisis menggunakan uji one-way ANOVA dan korelasi Pearson. Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat 4 bentuk mikroplastik yang ditemukan yaitu bentuk fragmen, film, fiber, dan busa. Kepadatan pada sampel sedimen 1 ditemukan 187 partikel mikroplastik dengan kepadatan 63,38 partikel/kg, pada stasiun 2 total 479 partikel dengan kepadatan 182,12 partikel/kg, dan pada stasiun 3 total 311 partikel dengan kepadatan 115,07 partikel/kg. Pada sampel air laut stasiun 1 ditemukan 154 partikel dengan kepadatan 7,26 partikel/m³, stasiun 2 total 299 partikel dengan kepadatan 14,10 partikel/m³.Kata kunci: mikroplastik, bentuk, kepadatan, Teluk Manado
Antibacterial Activity of Endophytic Bacteria of Seagrass Symbiont Enhalus acoroides from Tiwoho Waters, North Minahasa Purniasih, Ni Komang Pitri; Ginting, Elvy Like; Wullur, Stenly; Mangindaan, Remy E. P.; Rumampuk, Natalie D. C.; Pratasik, Silvester Benny
Jurnal Ilmiah Platax Vol. 10 No. 2 (2022): ISSUE JULY-DECEMBER 2022
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.v10i2.42485

Abstract

Nutrient-poor marine bacteria are often found to form a living mechanism by associating with other marine organisms such as seagrass Enhalus acoroides. Seagrass serves as a habitat for marine biota and is known to produce bioactive compounds. Endophytic and epiphytic microbes that are symbiotic in seagrass have the ability to produce bioactive compounds similar to the bioactive compounds produced by their host. Therefore, this study aimed to obtain isolates of symbiont bacteria and to test their antibacterial activity.  The symbiotic bacteria isolates were tested for their antibacterial activity using gram-negative bacteria such as E. coli and S. typhi, and gram-positive bacteria such as S. aureus and S. mutans. Antibacterial activity test was carried out using the paper disc method. Observation of antibacterial activity was carried out for 3x24 hours by observing the growth of the resulting inhibition zone. The zone of inhibition was measured to determine the diameter and strength of the bioactive compounds produced by symbiotic bacteria.A total of six isolates of symbiotic bacteria were obtained from the seagrass Enhalus acoroides with varied morphological characteristics. The six isolates of symbiont bacteria showed antibacterial activity and could inhibit and kill pathogenic bacteria. Two of the six isolates of symbiotic bacteria that produced the largest diameter of the inhibition zone were isolates E (Ep1) 3,5 mm and F (En3) 4 mm in S. mutans test bacteria.Keywords: Antibacterial, Isolation, Enhalus acoroides, Symbionts, Tiwoho AbstrakBakteri laut yang miskin nutrisi banyak dijumpai membentuk mekanisme hidup dengan cara berasosiasi dengan organisme laut lainnya seperti lamun Enhalus acoroides. Lamun berfungsi sebagai habitat biota laut dan diketahui dapat menghasilkan senyawa bioaktif. Mikroba endofit dan epifit yang bersimbiosis pada lamun mempunyai kemampuan untuk memproduksi senyawa-senyawa bioaktif yang serupa dengan senyawa bioaktif yang diproduksi inangnya. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan isolat bakteri simbion serta menguji aktivitas antibakterinya.  Isolat bakteri simbion diuji aktivitas antibakterinya menggunakan bakteri uji gram negatif seperti E. coli dan S. typhi, dan bakteri uji gram positif seperti S. aureus dan S. mutans. Uji aktivitas antibakteri dilakukan menggunakan metode kertas cakram. Pengamatan aktivitas antibakteri dilakukan selama 3x24 jam dengan mengamati pertumbuhan zona hambat yang dihasilkan. Zona hambat diukur untuk mengetahui diameter dan kekuatan senyawa bioaktif yang dihasilkan oleh bakteri simbion.  Sebanyak enam isolat bakteri simbion yang didapatkan dari lamun Enhalus acoroides dengan karakteristik morfologi yang bevariasi. Keenam isolat bakteri simbion menunjukkan adanya aktivitas antibakteri dan dapat menghambat serta membunuh bakteri pathogen. Dua dari enam isolat bakteri simbion menghasilkan diameter zona hambat terbesar adalah isolat E (Ep1) 3,5 mm dan F (En3) 4 mm pada pada bakteri uji S. mutans.Kata kunci: Antibakteri, Isolasi, Enhalus acoroides, Simbion, Tiwoho
Cell Density Of Microalgae Tetraselmis chuii, With Lead Acetate Compound (Pb(Ch3COO)2) at Different Concentrations Kadang, Nurfadillah; Kemer, Kurniati; Mantiri, Desy Maria Helena; Kaligis, Erly Y.; Rumampuk, Natalie D.C.; Pelle, Wilmy Etwil
Jurnal Ilmiah Platax Vol. 12 No. 2 (2024): ISSUE JULY-DECEMBER 2024
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.v12i2.49957

Abstract

Microalgae are a group of microscopic plants, included in the algae class, with a diameter of between 3-30 µm, single cells, and colonies that can live in all areas of fresh water and seawater. Microalgae contain active components that can be used in the cosmetic, food, pharmaceutical, and nutraceutical industries. This study aimed to determine the density of marine microalgae Tetraselmis chuii cells in culture media before treatment and to determine the density of T.chuii microalgae cells by administering lead acetate compounds at different concentrations. The method used in this study was culturing marine microalgae cells in balanced containers with lead acetate administration at concentrations of 30 ppm, 50 ppm, and 70 ppm, then observations were made by counting the number of cells under an Olympus microscope with 10x magnification using a hemocytometer. Observations were made every day at the same hour until the death phase. Microalgae culture uses a Light Emitting Diode (LED) lamp with 6,840 lux lighting. The results showed that the growth of T.chuii microalgae cells after administration of lead acetate compound showed unstable growth compared to the untreated container (control). Keywords: Microalgae; Tetraselmis chuii; Culture; Lead Acetate. Abstrak Mikroalga merupakan kelompok tumbuhan yang berukuran sangat kecil termasuk dalam kelas alga, memiliki diameter antara 3-30 μm baik sel tunggal maupun koloni yang dapat hidup di seluruh wilayah perairan air tawar maupun air laut. Mikroalga mengandung komponen aktif yang dapat digunakan dalam bidang industri kosmetik, makanan, farmasetika dan nutrasetikal. Adapun tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui kepadatan sel mikroalga laut Tetraselmis chuii dalam media kultur sebelum perlakuan dan mengetahui kepadatan sel mikroalga T.chuii dengan pemberian senyawa timbal asetat pada konsentrasi yang berbeda. Metode yang digunakan pada penelitian ini yaitu mengkultur sel mikroalga laut pada wadah terkontrol dengan pemberian timbal asetat pada konsentrasi 30 ppm, 50 ppm, 70 ppm, kemudian dilakukan pengamatan melalui perhitungan jumlah sel di bawah mikroskop olympus dengan pembesaran 10x menggunakan haemocytometer. Pengamatan dilakukan setiap hari pada jam yang sama sampai pada fase kematian. Kultur mikroalga menggunakan lampu Light Emitting Diode (LED) dengan pencahayaan 6.840 lux. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan mikroalga mikroalga T.chuii mengalami penurunan sel secara signifikan setelah pemberian senyawa timbal asetat dibandingkan dengan kontrol yang tidak diberi perlakuan. Kata kunci: Mikroalga; Tetraselmis chuii; Timbal Asetat.
Status and Condition of Mangroves in Mangrove Ecosystem on Tongkeina Coast Bunaken National Park Kolinug, Oscean; Sinjal, Chatrien A. L.; Kusen, Janny D.; Manengkey, Hermanto W.K.; Djamaaludin, Rignolda; Rumampuk, Natalie D.C.
Jurnal Ilmiah Platax Vol. 12 No. 1 (2024): ISSUE JANUARY-JUNE 2024
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.v12i1.51158

Abstract

Mangrove ecosystems are a typical type of vegetation found in tropical coastal areas. Mangrove vegetation generally thrives in gently sloping coastal areas near river mouths and beaches that are protected from wave forces. The mangrove forest ecosystem is a nursery ground for young fauna (juvenile stage) that will grow into adult individuals and is also a spawning ground for several animals and other aquatic biota such as birds, insects, snakes, shrimp, fish, and shellfish. This research was conducted at 3 different points. The results showed that there were 6 types of mangroves at the three stations including Soneratia alba, S. ovata, Rhizophora apiculata, R. stylosa, Avicennia marina, and A. alba. High diversity (H') is found at Station 2 and Station 3 at 0.4 and Station 1 at 0.2 with a Dominance value (D) Medium at Station 1 at 0.37 while Stations 2 and 3 at 0.27 and 0.28 are categorized as low, Uniformity (e) at all stations is high with values of 0.74, 0.89 and 0.70, absolute density is highest at Station-1 and Station-2 with a value of 0.10%, and at Station-3 the lowest Absolute Density is 0.06%, Community Similarity (IS) mangrove species at all three locations are the same because they still cover the same location in the intertidal area. Keywords: Community structure, Mangrove, Tongkeina. Abstrak Ekosistem mangrove merupakan tipe vegetasi khas yang terdapat di daerah pantai tropis. Vegetasi mangrove umumnya tumbuh subur di daerah pantai yang landai di dekat muara sungai dan pantai yang terlindung dari kekuatan gelombang. Ekosistem hutan mangrove merupakan daerah asuhan (nursery ground) fauna-fauna muda (juvenile stage) yang akan bertumbuh kembang menjadi individu dewasa dan juga merupakan daerah pemijahan (spawning ground) beberapa satwa dan biota perairan lain seperti burung, serangga, ular, udang, ikan dan kerang-kerangan.Penelitian ini dilakukan di 3 titik yang berbeda. Hasil penelitian menunjukan terdapat 6 jenis mangrove pada ketiga stasiun di antaranya Soneratia alba, S. ovata, Rhizophora apiculata, R. stylosa, Avicennia marina  dan A. alba. Keanekaragaman tinggi (H’) terdapat pada Stasiun 2 dan Stasiun 3 0,4 serta Stasiun 1 0,2 dengan nilai Dominansi (D) dikategorikan sedang pada Stasiun 1 0,37 sedangkan Stasiun 2 dan 3 0,27 dan 0,28 dikategorikan rendah, Keseragaman (e) pada semua stasiun tinggi dengan nilai 0,74, 0,89 dan 0,70, kepadatan mutlak tertinggi pada Stasiun-1 dan Stasiun-2 dengan nilai 0,10%, dan pada Stasiun-3 Kepadatan Mutlak terendah yaitu 0,06%, Kesamaan Komunitas (IS) jenis bakau pada ketiga lokasi sama karena masih mencakup satu lokasi yang sama di daerah intertaidal. Kata kunci : Struktur komunitas, Mangrove, Tongkeina.
Study of Sea Water Quality in Malalayang Beach Walk Area Windarto, Firhansyah C.; Rumampuk, Natalie D.C.; Mamuaja, Jane M.; Rampengan, Royke M.; Schaduw, Joshian N. W.; Manengkey , Hermanto W.K.
Jurnal Ilmiah Platax Vol. 12 No. 1 (2024): ISSUE JANUARY-JUNE 2024
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.v12i1.54144

Abstract

The city of Manado is famous for its fishery products, but human activities also cause problems of seawater pollution and a decrease in water quality. This study aims to examine the water quality around Malalayang Beach Walk in Manado City with a focus on physical and chemical parameters. The study was conducted at five stations with three repetitions at high and low tide. The results showed that the water temperature was relatively homogeneous, with a range of 30.02-30.29oC at high tide and 30.39-30.81oC at low tide. Turbidity is in the range of 20.1-22.5 NTU at high tide and 16.0-21.7 NTU at low tide, exceeding the quality standard. DO values conform to quality standards (5.46-8.07 mg/L at high tide and 5.69-6.32 mg/L at low tide), but TDS reaches 23900-28600 mg. L at high tide and 26600-28600 mg/L at low tide, far from the common values of 1500 mg/L. Salinity values range from 25.02-30.29 ppt at high tide and 30.35-30.50 ppt at low tide. Pollution and degradation need to be better controlled and monitored. Keywords: Water quality, Temperature, Turbidity, Dissolved oxygen (DO), Total dissolved solids (TDS), Salinity. Abstrak Kota Manado terkenal dengan hasil perikanannya, namun aktivitas manusia juga menyebabkan masalah pencemaran air laut dan penurunan kualitas perairan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kualitas perairan di sekitar Malalayang Beach Walk Kota Manado dengan fokus pada parameter fisika dan kimia. Penelitian dilakukan di lima stasiun dengan tiga kali pengulangan pada saat air pasang dan surut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa suhu perairan relatif homogen, dengan rentang nilai 30,02-30,29oC saat pasang dan 30,39-30,81oC saat surut Kekeruhan berada pada rentang 20,1-22,5 NTU saat pasang dan 16,0-21,7 NTU saat surut, melebihi standar baku mutu. Nilai DO sesuai dengan standar baku mutu (5,46-8,07 mg/L saat pasang dan 5,69-6,32 mg/L saat surut), namun TDS mencapai 23900-28600 mg/L saat pasang dan 26600-28600 mg/L saat surut, jauh dari nilai umum 1500 mg/L. Nilai salinitas berkisar antara 25,02-30,29 ppt saat pasang dan 30,35-30,50 ppt saat surut. Pencemaran dan penurunan kualitas perlu dikendalikan dan dipantau secara lebih baik. Kata Kunci: Kualitas air, Suhu, Kekeruhan, Dissolved oxygen (DO), Total dissolved solids
Suitability Index and Supporting Capacity of Mangrove Ecotourism in Darunu Mangrove Park Wori District North Minahasa Regency Gultom, Fernando; Paruntu, Carolus Paulus; Rumengan, Antonius Petrus; Rumampuk, Natalie D. C.; Paransa, Darus S. J.; Ompi, Medy
Jurnal Ilmiah Platax Vol. 12 No. 1 (2024): ISSUE JANUARY-JUNE 2024
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.v12i1.54566

Abstract

The purpose of the study was to determine the type of mangrove, mangrove density, mangrove thickness, tides, associated biota objects, tourism suitability index, and carrying capacity of the Darunu mangrove tourism area.  The research period is October-December 2023.  The research methods used are cruising survey for mangrove species, line transect for mangrove density, remote sensing for mangrove thickness, and visualization for associated biota objects.  Data analysis for the tourism suitability index (IKW) and area carrying capacity (DDK) is guided by the provisions of Yulianda (2019).  The IKW value is 2.0 with the appropriate category and the DDK value is 25 people per day.  The size of the DDK value of the mangrove tourism area depends on two main factors, namely the length of tracking and the length of operating time.  The greater the value of tracking length and the length of operating time, the greater the DDK value, conversely the smaller the value of tracking length and the length of operating time, the smaller the DDK value.  As a recommendation to the village government to be able to extend the tracking distance by utilizing the mangrove spaces that are still available, in addition to the tourist period can be extended with adequate facilities such as electricity, lighting, etc. so that the value of DDK can still be achieved as much as possible to increase the economic income of the village community while still paying attention to environmental sustainability.  Furthermore, community participation to preserve this mangrove forest area is needed for the sustainability of ecotourism-based mangrove tourism at Darunu Mangrove Park. Keywords: Area carrying capacity, Darunu Mangrove Park, Ecotourism, Mangrove, Tourism suitability index. Abstrak Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui jenis mangrove, kerapatan mangrove, ketebalan mangrove, pasang surut air laut, objek biota asosiasi, indeks kesesuaian wisata dan daya dukung kawasan wisata Darunu Mangrove Park.  Periode penelitian yaitu Oktober-Desember 2023.  Metode penelitian yang digunakan yaitu survey jelajah untuk jenis mangrove, transek garis untuk kerapatan mangrove, penginderaan jauh untuk ketebalan mangrove, visualisasi untuk objek biota asosiasi.  Analisis data untuk indeks kesesuaian wisata (IKW) dan daya dukung kawasan (DDK) berpedoman pada ketentuan dari Yulianda (2019).  Nilai IKW sebesar 2,0 dengan kategori sesuai dan nilai DDK sebanyak 25 orang per hari.  Besar kecilnya nilai DDK kawasan wisata mangrove tergantung pada dua faktor utama, yaitu panjang tracking dan lamanya waktu operasi. Semakin besar nilai panjang tracking dan lamanya waktu operasi, maka semakin besar pula nilai DDK tersebut, sebaliknya semakin kecil nilai panjang tracking dan lamanya waktu operasi maka semakin kecil nilai DDK tersebut.  Sebagai rekomendasi kepada pemerintah desa untuk dapat memperpanjang jarak tracking dengan memanfaatkan ruang-ruang mangrove yang masih tersedia, disamping itu periode waktu wisata dapat diperpanjang dengan dilengkapi fasilitas yang memadai seperti listrik, penerangan, dan lain-lain, agar nilai DDK masih dapat dicapai semaksimal mungkin dalam rangka peningkatan pendapatan ekonomi masyarakat desa dengan tetap memperhatikan kelestarian lingkungannya. Selanjutnya peran serta masyarakat untuk menjaga kelestarian kawasan hutan mangrove ini sangat dibutuhkan demi keberlanjutan wisata mangrove berbasis ekowisata di Darunu Mangrove Park. Kata kunci: Daya dukung kawasan, Darunu Mangrove Park, Ekowisata, Indeks kesesuaian wisata, Mangrove.
KARAKTERISTIK SAMPAH LAUT DI PERAIRAN PANTAI TIWUDE PULAU BEENG DARAT KABUPATEN KEPULAUAN SANGIHE PROVINSI SULAWESI UTARA Sadue, Andrew M.; Rumampuk, Natalie D.C.; Lasut, Markus T.; Lintang, Rosita A.J.; Kaligis, Erly Y.; Mamuaja, Jane M.
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 13 No. 1 (2025): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.13.1.2025.59141

Abstract

Sampah laut adalah sampah yang berasal dari daratan, badan air, dan pesisir yang mengalir ke laut, atau sampah yang berasal dari kegiatan di laut. Sampah laut terdapat di seluruh bagian di laut, mulai dari kawasan-kawasan padat penduduk hingga lokasi-lokasi terpencil yang tak terjamah manusia dari pesisir dan kawasan air dangkal hingga palung-palung laut dalam. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkuantifikasi ukuran (berat dan jumlah), komposisi, dan kepadatan sampah laut di Pantai Tiwude, Pulau Beeng Darat, Kabupaten Kepulauan Sangihe, Provinsi Sulawesi Utara. Dalam penelitian ini, digunakan metode pemantauan sampah pantai (beach litter). Pengambilannya menggunakan metode line transek mengikuti panduan/pedoman tentang pemantauan sampah pantai oleh Kementrian Lingkungan Hidup Dan Kehutanan RI. Cara pengambilannya, secara singkat, dilakukan dengan menarik line transek sepanjang 100 m sejajar garis pantai, dan membagi menjadi 5 bagian dengan jarak 20 m, yang di dalamnya terdapat sub traksek dengan ukuran 5 x 5 m, yang kemudian dibagi menjadi 25 kotak dengan ukuran 1 x 1 m. Hasil penelitian menunjukkan, terdapat jenis sampah makro dan sampah meso pada transek, yang berjumlah sebanyak 83 item dengan berat total 485,8 gram. Sampah plastik ditemukan dengan jumlah terbanyak, yang diikuti oleh sampah logam, kain, dan bahan lainnya. Faktor penyebab banyaknya sampah laut di Perairan Pantai Tiwude Pulau Beeng Darat diduga disebabkan oleh sampah yang berasal dari aktivitas masyarakat di darat yang masuk kelingkungan laut/perairan melalui sungai dan runoff kemudian terdampar di pantai. Kesimpulan penelitian ini adalah jenis sampah laut yang ditemukan di lokasi penelitian umumnya berupa sampah plastik, busa plastik, logam ,kain, kaca dan keramik, juga bahan lainnya.