Claim Missing Document
Check
Articles

Pengelolaan Anestesi untuk Seksio Sesarea Kehamilan Triplet dengan Skor LAS Intraoperatif 6 Dewi Yulianti Bisri; Tatang Bisri
Jurnal Anestesi Obstetri Indonesia Vol 4 No 1 (2021): Maret
Publisher : Indonesian Society of Obstetric Anesthesia and Critical Care (INA-SOACC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47507/obstetri.v4i1.56

Abstract

Triplet (kembar tiga) dan kehamilan kembar yang lebih banyak lagi (higher multiple gestations) dihubungkan dengan peningkatan morbiditas ibu dan anak dibandingkan dengan kehamilan ganda atau kehamilan tunggal. Seksio sesarea adalah rute yang disukai untuk melahirkan pasien dengan kehamilan triplet. Seorang wanita, 31 tahun, G1P0A0 gravida aterm triplet hasil inseminasi, BB 72,5 kg, TB 168 cm, Mallampati 1, tekanan darah 130/90 mmHg, laju nadi 97x/menit, SpO2 100% dengan kanul binasal. Induksi dengan propofol 140 mg, atracurium 35 mg, intubasi dengan pipa endotrakheal no 6,5. Ventilasi mekanik dengan volume tidal 560 mL, laju nafas 12 x per menit, postive end expiratory pressure (PEEP) 5. Rumatan anestesi dengan N2O 40%, sevofluran 1-2 vol%. Analgetik fentanyl 100 ug diberikan setelah bayi lahir. Cairan RL 1500 mL, gelofusin 500 mL. Obat-obat lain: misoprostol 800 mcg perrectal, oxytocin 40 IU, methylergometrine 0,6 mg, asam traneksamat 1 gram, dextrose 40% 25 mL. Bayi ke-1 BB 2650 gr, pada jam 19.1, Apgar score 1 menit dan 5 menit 9, 10, Bayi ke-2 BB 2100 gr, Apgar score 1 menit dan 5 menit 9, 10, Bayi ke-3 BB 1900 gr, Apgar score 1 menit dan 5 menit 9, 10 lahir selang 1 menit. Tidak terjadi hipotensi, dan karena skor linear analog scale (LAS) 4-6 setelah terapi medikal maka dilakukan pengikatan uterus dengan tehnik B-Lynch suture, tidak terjadi postpartum hemorrhage, Hb postoperatif 10 g/dL, hematokrit 29%, tidak dilakukan transfusi darah. Analgetik pascabedah dengan petidin 100 mg dan dexketoprofen 100 mg dilarutkan dalam NaCl 0,9% 500 mL yang diberikan untuk 24 jam. Anesthesia Management for Caesarean Section Triplet Pregnancy with Intraoperative LAS Score 6 Abstract Triplet and higher multiple gestations associated with increase maternal and fetal morbidity compare with twin or singleton pregnancy. Caesarean section is route for delivery patient with triplet gestations. A woman, 31 years, G1P0A0 gravida aterm triplet insemination result, BW 72,5 kg, height 168 cm, Mallampati 1, blood pressure 130/90 mmHg, heart rate 97x/minute, SpO2 100% with canul binasal. Induction anesthesia with propofol 140 mg, atracurium 35 mg, intubated with endotracheal tube no 6,5. Mechanical ventilation with tidal volume 560 mL, respiratory rate 12 x per minutes, postive end expiratory pressure (PEEP) 5. Maintenance anesthesia with N2O 40%, sevoflurane 1-2 vol%. Analgetic fentanyl 100 ug given after baby delivery. Fluids with RL 1500 mL, gelofusin 500 mL. Other drugs are misoprostol 800 mcg perrectal, oxytocine 40 IU, methylergometrine 0.6 mg, tranexamic acid 1 gram, dextrose 40% 25 mL. First baby BW 2650 gr, Apgar score 1 minute and 5 minute 9, 10 at 19.21, second baby BW 2100 gr, Apgar score 1 minute and 5 minute 9, 10, third baby BW 1900 gr, Apgar score 1 minute and 5 minute 9, 10 delivered 1 minute interval. No evidence of hypotension and linear analog scale (LAS) score is 4-6 and so needed uterus binding with B-Lynch suture technique, no evidence of postpartum hemorrhage, postoperative Hb 19 g/dL, hematocrit 29%, no blood transfusion. Postoperative analgesia with petidine 100 mg and dexketoprofen 100 mg in NaCl 0,9% 500 mL for 24 hours.
Efek Profilaksis Norepinefrin Kontinu pada Anestesi Spinal Pasien Seksio Sesarea terhadap Hemodinamik dan Kontraksi Uterus Riki Punisada; Radian Ahmad Halimi; Dewi Yulianti Bisri
Jurnal Anestesi Obstetri Indonesia Vol 4 No 2 (2021): September
Publisher : Indonesian Society of Obstetric Anesthesia and Critical Care (INA-SOACC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47507/obstetri.v4i2.71

Abstract

Latar Belakang: Hipotensi merupakan suatu komplikasi setelah anestesi spinal dan dapat mempengaruhi kontraksi uterus pada operasi seksio sesarea (SC). Profilaksis norepinefrin kontinu dapat diberikan untuk mengurangi kejadian hipotensi pascaspinal pada pasien yang menjalani SC. Norepinefrin menjadi kandidat yang baik sebagai alternatif pencegahan hipotensi. Tujuan: Penelitian ini untuk mengetahui efek profilaksis norepinefrin kontinu terhadap pencegahan hipotensi akibat anestesi spinal dan pengaruhnya terhadap kontraksi uterus. Subjek dan Metode: Penelitian ini dilakukan di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung. Metode penelitian uji acak klinis tersamar ganda pada 36 pasien hamil cukup bulan berusia 18–35 tahun, status fisik ASA II ,menjalani SC dengan anestesi spinal. Subjek penelitian dibagi menjadi 2 kelompok yaitu kelompok kontrol (NaCl 0,9%) dan kelompok norepinefrin (norepinefrin intravena setelah tindakan anestesi spinal dengan injeksi sebanyak 5 μg, kemudian di titrasi sebanyak 0,05 μg/kgbb/menit). Data dianalisis dengan uji t test, uji Mann Whitney dan uji kolmogorov-smirnov, nilai p<0,05 dianggap bermakna. Hasil: Penurunan tekanan darah pada kelompok kontrol (61.1%) lebih tinggi dari kelompok norepinefrin (11.1%) dengan perbedaan signifikan (p<0,05). Kontraksi uterus yang adekuat lebih cepat tercapai pada kelompok norepinefrin dibandingkan kelompok kontrol (p<0,05). Simpulan: Profilaksis noreprinefrin kontinu dapat mencegah dan menurunkan angka kejadian hipotensi anestesi spinal dan meningkatkan kontraktilitas uterus pada pasien menjalani operasi
Anestesi untuk Pasien dengan Sindrom Meigs Dewi Yulianti Bisri
Jurnal Anestesi Obstetri Indonesia Vol 4 No 2 (2021): September
Publisher : Indonesian Society of Obstetric Anesthesia and Critical Care (INA-SOACC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47507/obstetri.v4i2.80

Abstract

Sindrom Meigs khas dengan adanya tumor ovarium jinak yang berhubungan dengan ascites dan hidrotoraks sisi kanan. Ini kasus yang jarang dan patofisiologinya belum jelas. Diagnosis banding dengan neoplasma ovarium harus didiskusikan sebelum dilakukan tindakan pembedahan. Efusi pleura dan ascites akan hilang secara spontan dan permanen setelah pengangkatan tumor. Anestesi untuk sindroma ini merupakan tantangan yang nyata. Masalah metabolik hemodinamik, respirasi dan hipertensi abdominal merupakan risiko anestesi utama. Pengelolaan risiko-risiko ini merupakan prioritas perioperatif. Kasus: Wanita usia 23 tahun, Tinggi Badan/Berat Badan: 156 cm/70 Kg, datang dengan keluhan perut yang semakin membesar sejak 6 bulan sebelum masuk rumah sakit, pemeriksaan fisik dan penunjang menunjukkan adanya ascites, efusi pleura, anemia dan malnutrisi. Dilakukan operasi pengangkatan tumor dengan anestesi umum. Induksi anestesi dengan posisi setengah duduk, preoksigenasi dengan oksigen 100%, induksi dilakukan dengan pemberian fentanyl 100 mcg perlahan. Propofol diberikan 100 mg diberikan secara titrasi, atracurium 25 mg dilakukan laringoskopi direk, pemasangan ETT no 7.0. Rumatan anestesi dengan isoflurane 1,2 vol%, O2: Air = FiO2 50%. Setting ventilator VCV f 12 Vt 450 PEEP 5 FiO2 50%. Pasien diposisikan supine. Sebagai simpulan: Sindrom Meigs adalah penyakit jinak, jika diterapi dengan benar, tidak ada kekambuhan setelah operasi pengangkatan massa. Risiko pernafasan dan hemodinamik merupakan masalah anestesi utama
Manejemen Anestesi pada Pasien G1P0A0 33-34 Minggu Kontraksi Prematur dengan Penyakit Jantung Kongenital Asimtomatik E.c VSD, Decompensasio Cordis Fc II, Hipertensi Pulmonal dan Skoliosis Thorakalis: Laporan Kasus Michaela Arshanty Limawan; Hana Nur Ramila; Dewi Yulianti Bisri
Jurnal Anestesi Obstetri Indonesia Vol 5 No 1 (2022): Maret
Publisher : Indonesian Society of Obstetric Anesthesia and Critical Care (INA-SOACC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47507/obstetri.v5i1.86

Abstract

Penyakit jantung bawaan (PJB) pada ibu hamil dapat meningkatkan morbiditas dan mortalitas. Penyakit jantung bawaan dengan skoliosis torakal dan kehamilan merupakan kasus dengan konsiderasi anestesi khusus. Kami melaporkan manajemen perioperatif ibu hamil dengan defek septum ventrikel, gagal jantung, hipertensi pulmonal, dan skoliosis torakalis yang menjalani seksio sesarea. Wanita usia 28 tahun hamil 33–34 minggu datang ke IGD dengan keluhan mulas dan sesak nafas. Pasien memiliki riwayat PJB dan tidak ada konsumsi obat rutin. Pasien akan menjalani operasi seksio sesarea dengan teknik anestesi regional epidural. Sebelum operasi dilakukan pemeriksaan ekokardiografi, perbaikan keadaan umum, dan pemberian terapi sildenafil 3x20 mg. Pada kasus ini dilakukan anestesi neuraksial dengan teknik epidural karena penggunaan anestesi lokal dengan titrasi opioid memiliki efek analgesia yang kuat, sehingga dapat menekan pelepasan katekolamin. Teknik neuraksial juga menurunkan afterload, karena kondisi ini menguntungkan pada pasien dengan lesi regurgitasi jantung atau aliran jantung kiri ke kanan. Anestesi epidural dengan pemantauan kardiovaskular yang cermat merupakan pendekatan yang tepat pada pasien ventricular septal defek (VSD). Penggunaan anestesi epidural lebih fleksibel serta mudah untuk mengatur hemodinamik sehingga lebih dipilih oleh ahli anestesi. Teknik epidural memiliki resiko anestesi yang relatif lebih mudah dikendalikan dibandingkan anestesi umum atau spinal.
Perbandingan Antara Fentanil 2 μg/kgBB/jam dan Scalp Block Terhadap Peningkatan Hemodinamik dan Kadar Glukosa Darah Sewaktu Saat Pemasangan Pin Kepala Pada Kraniotomi Robert Sihombing; Dewi Yulianti Bisri; Ruli Herman Sitanggang
Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : https://snacc.org/wp-content/uploads/2019/fall/Intl-news3.html

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (258.371 KB) | DOI: 10.24244/jni.vol7i2.5

Abstract

Latar Belakang dan Tujuan: Opioid dosis tinggi efektif memblokade nyeri pada operasi kraniotomi namun memiliki efek yang tidak diinginkan. Alternatif lain menggunakan teknik scalp block dikombinasikan dengan anestesi umum. Tujuan penelitian ini untuk membandingkan hemodinamik dan kadar glukosa darah sewaktu (GDS) antara fentanil 2 μg/kgBB/jam dan scalp block saat pemasangan pin kepala pada kraniotomi pengangkatan tumor elektif dengan anestesi umum. Subjek dan Metode: Penelitian ini dilakukan pada 28 pasien yang direncanakan pembedahan tumor otak elektif. Subjek penelitian dibagi menjadi dua kelompok: scalp block dan kelompok fentanil 2 μg/kgBB/jam. Tekanan arteri rerata, laju nadi dan kadar GDS intraoperatif dinilai dan dianalisis menggunakan uji-t berpasangan dan Chi-square.Hasil: MAP dan laju nadi antara kedua grup memiliki perbedaan signifikan (p0,05). Kelompok fentanil memiliki MAP dan laju nadi lebih tinggi dibanding dengan kelompok scalp block. Namun perbandingan kadar GDS antara kedua kelompok tidak menunjukkan hasil yang signifikan (p0,05).Simpulan: Scalp block lebih efektif dalam mengurangi peningkatan hemodinamik namun sama efektif dengan fentanil 2 μg/kgBB/jam dalam mengurangi peningkatan kadar GDS pada pasien yang menjalani operasi kraniotomi pengangkatan tumor elektif.Comparison Between Fentanyl 2 μg/kg/hr and Scalp Block of Hemodynamic Improvement and Blood Glucose Levels During Head Pin Installment in CraniotomyBackground and Objective: High dose opioids is one of the most effective techniques for blocking pain in craniotomy surgery but it has undesirable effect. Other alternative to overcome pain in craniotomy is using a scalp block technique in combination with general anesthesia. The aim of this study was to compare the increase of hemodynamic and blood glucose levels (BGL) between fentanyl 2 μg/kgBW/hr and scalp block during head pin installment in craniotomy surgery.Subject and Method: Twenty eight patients undergoing elective craniotomy tumor removal surgery were enrolled in the study. The patients were divided into two groups: scalp block and fentanyl 2 μg/kgBW/hr. Intraoperative mean arterial pressure (MAP), heart rate (HR) and BGL were recorded, and analyzed by paired t-test and Chisquare.Result: MAP and HR showed significant differences between groups (p0,05), wherein fentanyl group had higher MAP and HR than scalp block group. However, BGL during head pin installment did not show significant results between the two groups (p 0,05).Conclusion: Scalp block is more effective than fentanyl 2 μg/kgBW/hr in reducing increased of hemodynamic but equally effective with fentanyl in reducing increased of BGL during head pin installment in craniotomy tumor removal.
Manajemen Tekanan Darah Setelah Cedera Sistem Saraf Pusat Radian Ahmad Halimi; Dewi Yulianti Bisri
Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 8, No 2 (2019)
Publisher : https://snacc.org/wp-content/uploads/2019/fall/Intl-news3.html

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2396.528 KB) | DOI: 10.24244/jni.v8i2.223

Abstract

Hipertensi yang tidak terkontrol sering dijumpai setelah cedera otak. Mekanisme mengenai respon fisiologis dan patologis ini berhubungan dengan respons autoregulasi yang bertujuan untuk mempertahankan aliran darah otak di area yang terkena cedera. Respons hipertensi awal mungkin akan mempercepat/memicu cedera lebih lanjut. Sebaliknya, penurunan tekanan darah secara agresif justru berhubungan dengan kejadian iskemik. Meskipun tekanan darah sudah jelas berperan sebagai modulator dalam cedera otak akut, berbagai penelitian masih menunjukkan kontroversi dan belum ada data-data berkualitas terkait demografis, manajemen optimal terhadap tekanan darah tinggi dam hasil akhir pada pasien yang mengalami cedera otak akut. Deteksi kelainan autoregulasi yang terjadi setelah cedera otak dan kontrol tekanan darah secara hati-hati sangat dibutuhkan dalam manajemen optimal pasien tersebut. Blood Pressure Management After Central Nervous System InjuryAbstractUncontrolled hypertension is often encountered after brain injury. This mechanism related to physiologic and pathologic response are related to autoregulatory responses aimed at preserving the cerebral blood flow in injured areas. The initial hypertensive response may precipitate further injury. Conversely, aggresive blood pressure reduction may be associated with ischemia. Despite the clear role of blood pressure as a modulator of acute brain injury, there is considerable controversy and a lack of high-quality data regarding the demographics, outcomes, and optimal management of high blood pressure in acute brain-injured patients. Recognition of the autoregulatory abnormalities seen after brain injury and careful control of blood pressure are necessary for the optimal management of these patients.
Hematoma Subdural pada Bayi dengan Acquired Prothrombine Complex Deficiency (Apcd) Syndrome Di Rs. Hasan Sadikin Dari Juli 2010 Sampai Februari 2011 Fitri Sepviyanti Sumardi; Dewi Yulianti Bisri; Tatang Bisri
Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 1, No 4 (2012)
Publisher : https://snacc.org/wp-content/uploads/2019/fall/Intl-news3.html

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (238.038 KB) | DOI: 10.24244/jni.vol1i4.179

Abstract

Latar Belakang dan Tujuan: Acquired Prothrombine Complex Deficiency (APCD) adalah salah satu penyakit serius bayi, menyebabkan tingkat kematian yang tinggi, dan gejala sisa neurologis permanen pada penderita dengan hematoma subdural (SDH). Beberapa penelitian menyatakan tentang hubungan APCD dengan tingginya prevalensi menggunakan minuman ramuan tradisional disertai pembatasan asupan makanan pada ibu menyusui. Kadar Vitamin K2MK4 pada air susu ibu (ASI) yang menggunakan minuman ramuan tradisional ditemukan lebih rendah dari dibandingkan ASI dari ibu yang tidak menggunakan minuman ramuan tradisional.Subyek dan Metode: Enam kasus bayi dengan diagnosis SDH spontan karena APCD, ditinjau dari Juli 2010 sampai Februari 2011 di RS Hasan Sadikin Bandung. Data diambil meliputi anamnesis, pemeriksaan fisik, hasil CT-scan, hasil laboratorium, manajemen dan temuan selama pembedahan serta setelah pembedahan.Hasil: Semua enam bayi menunjukkan bukti memiliki riwayat, tanda dan gejala, dan gangguan perdarahan yang menuju kearah SDH karena APCD. Manajemen pada seluruh kasus di atas termasuk evaluasi awal CT scan, pengobatan intervensi APCD dan bedah menghasilkan hasil keluaran yang baik pada pasca pembedahan dan pemulangan dari rumah sakit.Simpulan: Faktor koagulasi berkepanjangan pada semua kasus menunjukkan risiko lebih tinggi untuk APCD pada bayi. Penatalaksanaan dini APCD prabedah dan pascabedah memberikan hasil yang baik. Tindakan kraniotomi evakuasi kurang dari 3 hari dari interval onset memberikan hasil yang baik pada skor Children Coma Scale (CCS). Subdural Hematoma in Neonates with Acquired Prothrombine Complex Deficiency (Apcd) Syndrome at Hasan Sadikin Hospital from July 2010 till February 2011 Background and Objective: APCD syndrome is one of the most serious diseases affecting infants. It leads to a high mortality rate and permanent neurological sequelae among the survivors when related with SDH. There are reports about high prevalence of using herb-liquor extracts and diet restriction among mothers of infants with the APCD syndrome. Vitamin K2MK4 levels in breast milk obtained from mothers who had used herb-liquor extracts were lower than vitamin K2MK4 levels in breast milk obtained from mothers who had not used herb-liquor extracts.Subject and Method: Six infant cases which diagnosed with spontaneous SDH due to APCD syndrome, reviewed from July 2010 to February 2011 at Hasan Sadikin Hospital Bandung. Data reviewed include history taking, physical examination, CT-scan results, laboratory results, management and findings during operationResult: All six infants showed evidence of having history, sign and symptoms, and bleeding disorder suggesting SDH due to APCD. Management on all cases above included early CT-scan evaluation, the treatment of APCD and immediate surgical intervention resulted on good outcome on post surgery result and hospital disposalConclusions: Prolonged coagulation factors on all cases suggest higher risk for APCD on the infant. Craniotomy evacuation surgery less than 3 days interval from onset immediately gave better outcome on Children Coma Scale (CSS) score.
Tight Brain pada Anestesi Awake Craniotomy dengan Dexmedetomidine Riyadh Firdaus; Dewi Yulianti Bisri; Siti Chasnak Saleh; A. Hmendra Wargahadibrata
Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : https://snacc.org/wp-content/uploads/2019/fall/Intl-news3.html

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (733.353 KB) | DOI: 10.24244/jni.v6i2.45

Abstract

Anestesi pada awake craniotomy dilakukan dengan menggunakan salah satu atau kombinasi dari teknik scalp block, sedasi dengan propofol dan dexmedetomidine. Teknik ini memfasilitasi awake craniotomy sehingga pemetaan intraoperatif fungsi korteks elokuen yang memfasilitasi reseksi tumor secara radikal. Kebutuhan pemetaan korteks adalah untuk menggambarkan fungsi otak antara lain bicara, sensorik dan motorik dengan tujuan mempertahankan selama dilakukan reseksi. Obat yang diberikan harus dapat memberikan level sedasi dan analgesia yang adekuat untuk mengangkat tulang tetapi tidak mempengaruhi tes fungsional dan elektrokortikografi. Prosedur ini sama dengan kraniotomi standar dengan perbedaan pasien sadar penuh selama pemetaan korteks dan reseksi tumor. Dexmedetomidine adalah suatu agonis adrenoreseptor α-2 spesifik dengan efek sedatif, analgetik, anesthetic sparing effect, efek proteksi otak, tidak adiksi, tidak menekan respirasi dan pasien mudah dibangunkan. Wanita, 54 tahun dengan keluhan utama kejang berulang sejak 3 hari yang lalu. Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang pasien didiagnosis tumor lobus frontal kanan. Pasien dilakukan pengangkatan tumor dengan teknik awake craniotomy. Pasien dilakukan scalp block, sedasi dengan propofol dan dexmedetomidine. Saat operasi berlangsung didapatkan kondisi tight brain. Dexmedetomidine dipertimbangkan sebagai salah satu faktor yang mempengaruhi relaksasi otak selama operasi. Lama operasi kurang lebih 5 jam. Pascaoperasi pasien dirawat di HCU.Tight Brain on Awake Craniotomy Anesthesia with DexmedetomidineAnesthesia in awake craniotomy is done using scalp block, propofol sedation, dexmedetomidine sedation or a combination of the three. This technique facilitate awake craniotomy such that intraoperative mapping of eloquent cortical function can be done in radical tumor resection. The need for cortical mapping is to describe and maintain brain function such as speaking, sensoric and motoric function throughout the resection process. The drug given must be able to provide adequate sedation and analgesia for bone removal but do not interfere with the result of function test and electrocorticography. This procedure is similar to other craniotomy, however the patient is alert during cortical mapping and tumor resection and is able to speak after tumor is resected. Dexmedetomidine is an alpha 2 adrenoreceptor agonist with specific effects such as sedation, analgesia, anesthetic sparing, cerebral protection, non addictive, does not suppress respiration, comfortable and easy to recover from. A case of 54 years old female with chief complaint of recurrent seizure in the last 3 days prior to admission is described. Based on history and examination, patient is diagnosed with right frontal lobe tumor. Patient underwent tumor resection using awake craniotomy technique. Scalp block combined with propofol and dexmedetomidine sedation was done. During the surgery, tight brain was encountered. Dexmedetomidine was evaluated as one of the factors that influence the brain relaxation throughout surgery. The Surgery took 5 hours, post surgery patient is observed in HCU.
Terapi Hipotermi setelah Cedera Otak Traumatik Dewi Yulianti Bisri; Tatang Bisri
Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 3, No 3 (2014)
Publisher : https://snacc.org/wp-content/uploads/2019/fall/Intl-news3.html

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2235.805 KB) | DOI: 10.24244/jni.vol3i3.148

Abstract

Mekanisme proteksi otak hipotermi adalah mengurangi kebutuhan metabolik, cerebral metabolic rate for oxygen (CMRO2), eksitotoksisitas, menurunkan pelepasan glutamat, menurunkan pembentukan radikal bebas, mengurangi pembentukan edema, stabilisasi membran, memelihara adenosine triphosphate (ATP), menurunkan influx Ca, dan tekanan intrakranial. Sedangkan komplikasi hipotermi berat adalah pneumonia, sepsis, disritmia jantung, hipotensi, masalah perdarahan dan menggigil. Temperatur ideal untuk hipotermia terapeutik adalah 35 0C. Pertanyaan untuk terapi hipotermik (HT) adalah bagaimana mekanisme terapi hipotermi sebagai protektor otak? Berapa derajat C penurunan suhu tubuhnya? Bagaimana cara melakukan penurunan suhu? Berapa cepat hipotermia harus dicapai? Berapa lama hipotermi dipertahankan? Bagaimana memulihkan ke normotermi (rewarming)? Bagaimana hasilnya? Apakah ada penelitian yang sedang berlangsung? Untuk menggunakan hipotermia sebagai neuroprotektor, diperlukan mencapai keadaan hipotermi secepat mungkin setelah cedera dan pertahankan pada level aman. Metode hipotermi terapeutik adalah pendinginan permukaan tubuh, pendinginan endovaskuler, pendinginan kepala. Selama penghangatan kembali pasien dengan hipertensi intrakranial telah diketahui bisa terjadi peningkatan tekanan intrakranial selama pemanasan yang cepat. Dianjurkan pemanasan lambat lebih dari 12 jam dengan kecepatan 0,1 0C/jam. Sebagai simpulan, hipotermi terapeutik masih kontroversi, tapi dalam situasi klinik pertahankan suhu pasien 35 0C dan harus dihindari temperatur lebih dari 37 0C. Untuk mencapai suhu inti 35 0C dianjurkan digunakan metode pendinginan permukaan tubuh. Hypothermia Therapy after Traumatic Brain InjuryThe mechanism of hypothermia as neuro protector are by reducing metabolic demand of the brain, cerebral metabolic rate of oxygen (CMRO2), excitotoxicity, decrease the glutamate release, reduction of free radical formation, edema formation, membrane stabilization, maintains adenosine triphosphate (ATP), decrease in Ca influx, and intracranial pressure. In the order hand, complication of deep hypothermia are pneumonia, sepsis, cardiac dysrrhythmia, hypotension, bleeding problem and shivering. The ideal temperature for therapeutic hypothermia is 35 0C. Question arised for hypothermic therapy (HT) are what is the therapeutic mechanism of HT as neuroprotective? What is the proper degree for hypothermia? What can we do to induce hypothermia? How soon should we do the HT? How long hypothermia should be maintain? How to restore normothermia (rewarming)? What is the result? Is there any ongoing research?. For the use hypothermia as one of neuroprotective therapy, it is necessary to implement it as soon as possible after the insult and to maintain it at the lowest safe level. Methods of therapeutic hypothermia are surface cooling, endovascular cooling, as well as selective head cooling. During rewarming, patients with intracranial hypertension are known to have reflex that would increase ICP during rapid rewarming. Slow rewarming over a period of 12 hrs at the rate of 0.1 0C/hr is desirable. As conclusion, therapeutic hypothermia still controversial, but in clinical situation keep the patient 35 0C is desirable and temperature more than 37 0C should be avoided. To reach core temperature 35 0C, surface cooling is recommended.
Manajemen Anestesi untuk Evakuasi Hematoma akibat Perdarahan Intraserebral pada Kehamilan 22–24 Minggu: Non Seksio Sesarea Ahmado Oktaria; Dewi Yulianti Bisri
Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 4, No 3 (2015)
Publisher : https://snacc.org/wp-content/uploads/2019/fall/Intl-news3.html

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2206.662 KB) | DOI: 10.24244/jni.vol4i3.124

Abstract

Sekitar 50% dari semua kematian karena trauma berhubungan dengan cedera kepala. Tinjauan terbaru, angka kematian yang disebabkan trauma pada ibu hamil karena cedera langsung pada kepala sekitar 10%. Pertimbangan anestesi untuk pembedahan selama kehamilan mencakup keselamatan terhadap ibu dan janin. Perubahan anatomi dan fisiologi ibu yang disebabkan kehamilan memiliki dampak klinis dan risiko tinggi bagi ibu dan janin yang menjalani tindakan anestesi. Wanita berusia 22 tahun yang tengah hamil 22 minggu (G1P0A0) tertabrak mobil saat mengendarai sepeda motor tanpa menggunakan helm 4 jam sebelum masuk rumah sakit. Pasien menderita cedera kepala disertai penurunan kesadaran. Dari pemeriksaan fisik didapatkan GCS 9 (E2M5V2), tekanan darah 120/80 mmHg, denyut jantung 92 x/menit, respirasi 22–24 x/menit dan saturasi oksigen 99% dengan sungkup muka non-rebreathing (SMNR) 8 liter per menit. Kraniotomi evakuasi dilakukan dalam anestesi umum, induksi anestesi dengan menggunakan isofluran 2 vol%, lidokain 75 mg, fentanil 100 mcg, propofol 80 mg, vecuronium 5 mg dan O2: udara 50:50. Denyut jantung janin diperiksa setiap jam dengan hasil sekitar 120–130 x/menit. Pada trauma selama kehamilan, janin dapat mengalami cedera langsung atau tidak langsung yang disebabkan karena pengaruh obat-obatan (inotropik, manitol, furosemid), hipotensi, hipoksemia atau tindakan yang dilakukan terhadap ibu (hiperventilasi untuk mengontrol tekanan intrakranial). Seksio sesarea tidak dilakukan kecuali untuk alasan obstetrik. Anesthesia Management for Hematoma Evacuation caused by Intracranial Hemorrhagic on Pregnant Woman with 22–24 Gestational Weeks: Non Cesarean SectionApproximately 50% of all trauma deaths are associated with head injury. In a recent review of pregnant trauma deaths, approximately 10% of maternal trauma deaths were directly due to head injury. Anesthetic considerations for surgery during pregnancy include concern for the safety of both the mother and fetus. Alterations in maternal anatomy and physiology induced by pregnancy have clinical anesthetic implications and present potential hazards for the mother and fetus undergoing anesthesia. A 22 years old female with 22 weeks of gestation (G1P0A0) hit by a car while riding a motorcycle without using helmet 4 hours before admission. She got a traumatic head injury with drecreased level of consciousness. The physical examinations were GCS 9 (E2M5V2), blood pressure 120/80 mmHg, heart rate 92 bpm, respiration rate 22–24 times per minute and SpO2 99% with simple mask non rebreathing 8 liter per minute. Emergency craniotomy surgery was held under general anesthesia by using isoflurane 2 vol%, lidocaine 75 mg, fentanyl 100 mcg, propofol 80 mg, vecuronium 5 mg with O2 : air 50:50. The fetal heart sound was checked every hour which was approximately 120–130 bpm. In trauma during pregnancy, the fetus may have affected by the direct injury itself or affected by any other insult caused by hypotension, hypoxemia or maternal therapeutic drugs or maneuvers (e.g. inotropes, mannitol, furosemide, hyperventilation for control of intracranial pressure). Caesarean delivery is not performed except only for obstetric reasons.
Co-Authors A Himendra Wargahadibrata A. Himendra Wargahadibrata A. Hmendra Wargahadibrata Achmad Adam Adriman, Silmi Adriman, Silmi Ahmado Oktaria Alifahna, Muhammad Rezanda Alifan Wijaya Alkadia Alfasha Andy Hutariyus Anwar, Tabihul Arief Cahyadi Arif, Izhar Muhammad Arif, Izhar Muhammad Arna Fransisca Arshad, Muhammad Ayu Rosema Sari Bangun, Chrismas Gideon Basuki, Wahyu Sunaryo Basuki, Wahyu Sunaryo Boesoirie, M. Adli Boesoirie, M. Adli Budiana Rismawan Cecep Eli Kosasih Cobis, Albinus Yunus Daneswara, Andika Deni Nugraha Dhany Budipratama Doddy Tavianto Emas, Bagas Eri Surahman Firdaus, Riyadh Firdaus, Riyadh Fitri Sepviyanti Sumardi Fitri Sepviyanti Sumardi Gaus, Syaruddin Giovanni, Cindy Giovanni, Cindy Hana Nur Ramila Harahap, M Sofyan Hengki Saputra Munthe Hermin Aminah Usman Ida Bagus Krisna Jaya Sutawan Ike Sri Redjeki Indrayani, Ratih Rizki Indria Sari Iqbal Pramukti Irina, Rr. Sinta Iwan Abdul Rachman Iwan Fuadi Jasa, Zafrullah Khany Krisna J. Sutawan, Ida Bagus Lalenoh, Diana C Limawan, Michaela Arshanty Lira Panduwaty Lisda Amalia Longdong, Djefri Frederik M, Mutivanya Inez M, Mutivanya Inez M. Sofyan Harahap Maharani, Mutivanya Inez Maharani, Nurmala Dewi Mangastuti, Rebecca Sidhapramudita Mangastuti, Rebecca Sidhapramudita Michaela Arshanty Limawan Mirza Oktavian Muhammad Habibi Nataputra, Mario Nopian Hidayat Nugroho, Andy Nuryanda, Dian Oetoro, Bambang J. Oetoro, Bambang J. Okky Harsono Oktaria, Ahmado Permatasari, Endah Permatasari, Endah Putri, Dini Handayani Putri, Dini Handayani Radian Ahmad Halimi Rasman, Marsudi Rasman, Marsudi Renaldy Sobarna Riki Punisada Riyadh Firdaus Robert Sihombing Ruli Herman Sitanggang Saleh, Siti Chasnak Saleh, Siti Chasnak Saputra, Tengku Addi Saputra, Tengku Addi SATRIYAS ILYAS Septiani, Gusti Ayu Pitria Sihombing, Robert Siti Chasnak Saleh Soefviana, Stefi Berlian Sri Rahardjo Sugiyanto, Endy Susanto, Yunita Susanto, Yunita Sutaniyasa, I Gede Sutanto, Sigit Sutanto, Sigit Suwarman Suwarman Syafruddin Gaus Syahpikal Sahana Syifa, Nadia Syifa, Nadia Tatang Bisri Tatang Bisri Tatang Bisri Tatang Bisri Tatang Bisri Tatang Bisri Tatang Bisri Uhud, Akhyar Nur Umar, Nazaruddin Utama, M Lucky Wargahadibrata, A. Hmendra Wargahadibrata, A. Hmendra Widiastuti, Monika Winarso, Achmad Wahib Wahju Wullur, Caroline Wullur, Caroline Yuanda Rizawan Putra Yusmein Uyun Zaka Anwary, Army