Claim Missing Document
Check
Articles

Anestesi untuk Bedah Saraf pada wanita Hamil Dewi Yulianti Bisri; Tatang Bisri
Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 2, No 1 (2013)
Publisher : https://snacc.org/wp-content/uploads/2019/fall/Intl-news3.html

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (11248.623 KB) | DOI: 10.24244/jni.vol2i1.192

Abstract

Kelainan neurologic yang memerlukan intervensi bedah dari waktu ke waktu bertambah banyak, yang dapat berupa cedera otak traumatic stroke perdarahan atau tumor serebri pengelolaan anestesi pada pasien-pasien ini sulit dengan adanya perubahan fisiologik ibu yang terjadi selama kehamilan. Perubahan-perubahan ini memerlukan perhatian dalam pengeloalaan anestesi yang dipertimbangkan tidak tepat untuk wanita yang tidak hamil dengan kondisi neurologic yang sama. Bedah saraf jarang dilakukan pada wanita hamil, tapi diperlukan pendekatan multi disiplin dan pertimbangan hati-hati untuk operasi dan melahirkan bayi. Diperlukan modifikasi praktik obstetric dan neuroanestesi untuk mengakomodasi tindakan yang aman untyuk ibu dan fetus. Anesthesia  for Neurosurgery in The Pregnant PatientNeurologic disorders requiring surgical intervention more and more caused by traumatic brain injury, haemorrhagic strokes, or brain tumors. The anesthetic management of these patients can be complicated by the significant maternal physiologic changes that occurs during pregnancy. These changes may require alteration in anesthetic management that would considered inappropriate for a nonpregnant patient with the same neurological condition. Neurosurgery is infrequent required during pregnancy, but mandates multidisciplinary approach and careful  cionsideration of the time of both surgery and delivery. Modification of neuroanesthetic and obstetrics practice to accodate  the safety requirements of the mother and fetus may be required
Trombositopenia pada Pasien dengan Paroxysmal Nocturnal Hemoglobinuria dan Gagal Jantung Akut yang Menjalani Seksio Sesarea Renaldy Sobarna; Indria Sari; Dewi Yulianti Bisri
Jurnal Anestesi Obstetri Indonesia Vol 5 No 2 (2022): Juli
Publisher : Indonesian Society of Obstetric Anesthesia and Critical Care (INA-SOACC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47507/obstetri.v5i2.89

Abstract

Trombositopenia merupakan manifestasi yang jarang dari Paroxysmal Nocturnal Hemoglobinuria (PNH). PNH merupakan penyakit kronik sangat jarang yang disebabkan oleh mutasi somatik yang secara klasik ditandai dengan urin kehitaman di pagi hari dan disertai dengan gejala anemia hemolitik, splenomegali, kekuningan dan hemoglobinuria. Laporan kasus ini mengenai wanita 30 tahun yang telah didiagnosa PNH dan menjalani Seksio Sesarea emergensi. Pasien didiagnosa PNH dan mendapat pengobatan namun berhenti mengkonsumsi obat PNH dan pada saat pemeriksaan preoperatif terdapat trombositopenia, transfusi trombosit telah dilakukan beberapa kali namun jumlah hitung trombosit tetap rendah. Kondisi pasien diperberat dengan gagal jantung akut karena preeklampsia, kondisi ini mengakibatkan pasien tidak dapat mentoleransi keadaan kelebihan cairan maupun obat anestesi berlebihan yang dapat menekan hemodinamik. Tes fungsi trombosit dilakukan dengan pemeriksaan waktu perdarahan, meskipun hasilnya mungkin tidak akurat. Pasien ini memerlukan persiapan darah yang lengkap karena kemungkinan perdarahan intraoperatif dan keadaan trombositopenia. Transfusi trombosit dilakukan selama prosedur, agar trombosit dapat berfungsi dibandingkan disekuesterasi atau dihancurkan pada lien. Selama operasi pasien ini memerlukan pemantauan ketat dengan persiapan pengukuran tekanan darah secara invasif. Penggunaan obat opioid yang sering digunakan pada operasi pasien dengan kelainan jantung perlu diperhitungkan dengan seksama karena dapat mempengaruhi neonatus yang akan dilahirkan. Manajemen pasca anestesi pada pasien ini memerlukan analgetik yang adekuat dan observasi ketat hemodinamik. Manajemen anestesi pada pasien ini sulit karena jarangnya penyakit ini dan terdapat komplikasi sebelum prosedur.
Emboli Udara Vena saat Seksio Sesarea Dewi Yulianti Bisri; Tatang Bisri
Jurnal Anestesi Obstetri Indonesia Vol 5 No 2 (2022): Juli
Publisher : Indonesian Society of Obstetric Anesthesia and Critical Care (INA-SOACC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47507/obstetri.v5i2.97

Abstract

Seksio sesarea telah dikaitkan dengan emboli udara vena (venous air embolism/VAE). Sinus uterus rentan sebagai pintu masuk udara, terutama dengan adanya plasenta previa. Insiden VAE selama seksio sesarea telah dilaporkan antara 9,5% dan 65%, dan ini dapat terjadi selama anestesi epidural, anestesi spinal, dan anestesi umum. Emboli udara dalam sirkulasi paru dapat menyebabkan ketidakcocokan ventilasi/perfusi dan dapat menurunkan saturasi oksigen. Nyeri dada dan dyspnea dapat dikaitkan dengan VAE, dan juga telah diamati adanya perubahan ECG. Sebagian besar perubahan terjadi pada sayatan uterus dan persalinan serta pada saat eksteriorisasi uterus. Oleh karena itu, saturasi oksigen, tekanan darah, dan denyut nadi harus dipantau secara ketat selama persalinan dan segera pascapersalinan
Neuroanestesi untuk Wanita Hamil Dewi Yulianti Bisri; Tatang Bisri
Jurnal Anestesi Obstetri Indonesia Vol 5 No 3 (2022): November
Publisher : Indonesian Society of Obstetric Anesthesia and Critical Care (INA-SOACC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47507/obstetri.v5i3.110

Abstract

Spesialis anestesiologi mungkin harus membius pasien hamil untuk tindakan bedah saraf jauh sebelum melahirkan, untuk seksio sesarea (SC) pada saat prosedur bedah saraf, atau untuk persalinan setelah bedah saraf. Manajemen anestesi pasien tersebut dapat dipersulit oleh perubahan fisiologis yang terjadi selama kehamilan. Perubahan ini mungkin memerlukan penyesuaian dalam manajemen anestesi yang bertentangan dengan anestesi untuk wanita yang tidak hamil dengan kondisi bedah saraf yang sama. Kesejahteraan ibu harus tetap menjadi perhatian utama, tetapi penting untuk menyadari bahwa intervensi yang menguntungkan ibu mungkin berpotensi membahayakan janin. Indikasi untuk intervensi bedah saraf atau neuroradiologi intervensi selama kehamilan termasuk lesi vaskular intrakranial perdarahan subaraknoid (SAH), perdarahan intrakranial (ICH), malformasi arteriovenosa (AVM), dan trombosis sinus, stroke iskemik, tumor intrakranial simtomatik, abses serebral, dan tumor dan lesi sumsum tulang belakang. Trauma selama kehamilan, termasuk cedera kepala, adalah penyebab utama kematian dan morbiditas ibu. Pengetahuan tentang perubahan fisiologis kehamilan sangat penting untuk manajemen anestesi wanita hamil yang menjalani bedah saraf. Kunci untuk pemeliharaan kesejahteraan janin selama operasi adalah oksigenasi ibu dan pemeliharaan perfusi uteruseroplacental yang tepat.
Anestesi Spinal untuk Seksio Sesarea Pasien dengan Tinggi Badan Ekstrim Pendek Dewi Yulianti Bisri; Tatang Bisri
Jurnal Anestesi Obstetri Indonesia Vol 6 No 1 (2023): Maret
Publisher : Indonesian Society of Obstetric Anesthesia and Critical Care (INA-SOACC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47507/obstetri.v6i1.127

Abstract

Anestesi untuk seksio sesarea dapat dilakukan dengan anestesi spinal, epidural, combined spinal-epidural atau anestesi umum. Akan tetapi, pilihan utama anestesi untuk seksio sesarea adalah anestesi spinal karena murah, mudah dilakukan, cepat bekerja dan risiko aspirasi tidak ada serta tidak ada masalah pengelolaan jalan nafas. Masalah utama spinal anestesi adalah adanya hipotensi, mual muntah intraoperatif, postdural puncture headache (PDPH), dan merupakan kontraindikasi bila dilakukan pada orang dengan ekstrim pendek karena ketakutan terjadi hipotensi berat. Dua orang wanita gravida aterm ekstrim pendek, dilakukan seksio sesarea (SC) dengan anestesi spinal di Rumah Sakit Melinda Bandung. Pasien pertama dengan berat badan 61 kg, tinggi badan 145 cm, pasien kedua dengan berat badan 64 kg, tinggi badan 146 cm. Keduanya dilakukan spinal anestesi dengan bupivacain hiperbarik 0,5%, ditambah fentanyl dan morfin. Pengaturan dosis bupivacain berdasarkan kombinasi berat badan dan tinggi badan. Tidak ada kejadian penurunan tekanan darah >20% dari tekanan darah awal pada kedua pasien tersebut.
Gambaran Jumlah Perdarahan pada Seksio Sesarea Spektrum Plasenta Akreta di RSUP Hasan Sadikin Bulan Januari 2020-Desember 2021 Okky Harsono; Dewi Yulianti Bisri; Iwan Abdul Rachman
Jurnal Anestesi Obstetri Indonesia Vol 6 No 2 (2023): Juli
Publisher : Indonesian Society of Obstetric Anesthesia and Critical Care (INA-SOACC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47507/obstetri.v6i2.135

Abstract

Latar Belakang: Masalah morbiditas dan mortalitas pada pasien dengan spektrum plasenta akreta (SPA) berkaitan erat dengan perdarahan masif perioperatif, sehingga diperlukan strategi pemberian transfusi darah yang tepat.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran jumlah perdarahan pada seksio sesarea atas indikasi dengan spektrum plasenta akreta.Subjek dan Metode: Penelitian ini adalah deskriptif observasional dengan desain potong lintang. Penelitian dilakukan di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung dari Januari 2020 sampai Desember 2021 dengan sampel penelitian berjumlah 50 orang yang terbagi dua berdasarkan skor Placenta Accreta Index (PAI), yaitu kelompok skor PAI <5 dan >5. Dicatat kadar hemoglobin pra dan pascabedah, jenis tindakan penjepitan aorta dan yang tidak dilakukan penjepitan, jumlah perdarahan, serta jumlah pemberian transfusi darah.Hasil: Penelitian ini memperoleh hasil perdarahan rata-rata sebesar 3.135 cc dan Hb pascaoperasi rata – rata 8,32 pada kelompok skor PAI <5 dan 8.186 cc dan Hb pasacaoperasi rata – rata 7,73 pada skor PAI >5.Simpulan: Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pasien dengan gangguan spektrum plasenta akreta dengan skor PAI ≥ 5 memiliki jumlah perdarahan yang lebih banyak dan tindakan penjepitan aorta dilakukan lebih dari 80% pasien
Pengelolaan Perioperatif Pasien Obesitas yang dilakukan Seksio Sesarea dengan Anestesi Umum Dewi Yulianti Bisri; Tatang Bisri
Jurnal Anestesi Obstetri Indonesia Vol 6 No 2 (2023): Juli
Publisher : Indonesian Society of Obstetric Anesthesia and Critical Care (INA-SOACC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47507/obstetri.v6i2.140

Abstract

Obesitas saat ini merupakan ancaman kesehatan yang paling umum di seluruh dunia dan pengaruhnya terhadap kesehatan secara umum meningkat dengan cepat. Obesitas memiliki dampak dramatis pada outcome kehamilan. Meskipun prevalensi meningkat terkait dengan diabetes dan hipertensi, obesitas pada kehamilan telah dikaitkan dengan outcome perinatal dan neonatal yang buruk. Ibu obesitas memiliki peningkatan risiko komplikasi kehamilan seperti anemia, hipertensi, preeklampsia, kehamilan prematur, seksio sesarea emergensi, dan diabetes gestasional. Masalah anestesi pada seksio sesarea dengan obesitas morbid adalah dalam hal kesulitan ventilasi dan intubasi, pengaturan ventilasi, dosis obat anestesi dan pemilihan obat anestesi dan bangun dari anestesi. Wanita gravida aterm, G4P2A1, bekas seksio sesarea 2 kali, usia 37 tahun, berat 134 kg, tinggi 171 cm, BMI 45,68 kg/m2, dilakukan seksio sesarea dengan anestesi umum di RS Melinda Bandung. Pemeriksaan praoperasi dilakukan pemeriksaan jalan napas dengan skor Mallampati, thyromental distance, lingkaran leher. Induksi anestesi dengan propofol, atracurium, intubasi dengan posisi diganjal dengan bantal dan diintubasi dengan pipa endotrakeal no 6,5. Anestesi dengan N2O/O2 dan sevoflurane. Bayi lahir dengan berat badan 4400 gr, panjang badan 53 cm, Apgar skor 1 menit 9 dan 5 menit 10. Pascaoperasi diberikan analgetik ketoprofen dan meperidine dan dirawat di bangsal, tidak dirawat di HCU atau ICU.
Gambaran Mortalitas dan Morbiditas Pasien Bedah Elektif di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung Ditinjau Berdasarkan Skor American Society of Anesthesiologists-Physical Status (ASA-PS) Alkadia Alfasha; Suwarman Suwarman; Dewi Yulianti Bisri
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 11, No 2 (2023)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Peningkatan kapasitas tindakan pembedahan tidak terlepas dari risiko mortalitas dan morbiditas yang meningkat. Sistem klasifikasi American Society of Anesthesiologists-Physical Status (ASA-PS) merupakan salah satu alat evaluasi pasien sebelum operasi yang dianggap mudah, akurat, dan komprehensif untuk memprediksi luaran pascaoperasi. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan mengetahui gambaran mortalitas dan morbiditas pasien bedah yang ditinjau berdasarkan skor ASA-PS. Penelitian dilakukan dengan metode deskriptif dari data rekam medis pasien bedah elektif di RSUP Dr. Hasan Sadikin periode 2019−2022. Jumlah mortalitas dan morbiditas pada periode penelitian ini sebanyak 29 dan 25 kasus dan selanjutnya dikelompokan berdasarkan usia. Departemen obstetri dan ginekologi menjadi departemen tertinggi pada kedua kasus mortalitas dan morbiditas. Mortalitas tertinggi terjadi pada subjek dengan skor ASA-PS II (48,27%), diikuti oleh ASA III (31,03%), dan IV (20,68%), dan umumnya terjadi pascaoperasi. Morbiditas tertinggi juga terjadi pada subjek dengan skor ASA-PS II yaitu sebesar 64%, diikuti ASA-PS III sebesar 28%. Penyebab morbiditas subjek beragam pada berbagai sistem organ. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan mortalitas dan morbiditas didominasi oleh pasien dengan skor ASA-PS II dan umumnya disebabkan oleh henti jantung dan syok, baik intraoperatif maupun pascaoperasi. 
Gambaran Skor ANDC sebagai Prediktor Kematian pada Pasien COVID-19 di Ruang Intensif Isolasi RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung Periode Januari 2021 – Juni 2021 Hengki Saputra Munthe; Dewi Yulianti Bisri; Budiana Rismawan
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 11, No 2 (2023)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15851/jap.v11n2.3013

Abstract

Coronavirus disease 2019 (COVID-19) telah menjadi pandemi global yang menyebabkan angka mortalitas tinggi. Saat ini belum ada sistem skor yang digunakan untuk memprediksi angka mortalitas pada pasien COVID-19 yang dirawat di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif observasional retrospektif yang bertujuan mengetahui gambaran skor Age, Neutrophil to lymphocyte ratio, D-dimer, C-reactive protein (ANDC) sebagai prediktor kematian pasien COVID-19 yang dirawat di ruang intensif isolasi RSUP Dr. Hasan Sadikin, Bandung pada periode Januari–Juni 2021. Data ANDC dari 221 pasien COVID-19 derajat sedang dan berat dicatat di hari pertama dan diolah. Hasil penelitian didapatkan pasien COVID-19 derajat sedang memiliki angka mortalitas sebesar 5% untuk skor ANDC risiko rendah, 39,3% untuk skor risiko sedang, dan 50% untuk skor risiko tinggi. Sementara pada pasien COVID-19 derajat berat secara umum memiliki angka mortalitas yang tinggi, untuk skor ANDC risiko rendah sebesar 42,1%, skor risiko sedang sebesar 70,6% dan skor risiko tinggi sebesar 78,5%. Simpulan penelitian ini adalah semakin tinggi nilai skor ANDC maka semakin tinggi pula angka mortalitas pasien COVID-19. 
The effect of prayer beads therapy on lowering blood pressure in hypertensive patients Anwar, Tabihul; Kosasih, Cecep Eli; Pramukti, Iqbal; Bisri, Dewi Yulianti
International Journal of Health Science and Technology Vol. 5 No. 3 (2024): April
Publisher : Universitas 'Aisyiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31101/ijhst.v5i3.3406

Abstract

Hypertension is a condition of a person's blood pressure above the normal number of 120/80 mmHg. Currently, the role of nurses in the development of nursing interventions is one of which is to develop sharing supporting interventions to overcome hypertension problems Management of nonpharmacological hypertension is considered important and can be an alternative such as prayer beads to overcome hypertension including through emotional management so that it can make the body always in a relaxed and calm state. This study aims to determine the effect of prayer beads therapy on data pressure in hypertensive patients. The research method used a quasi experimental pre and post-design with the control group. Consisting of the intervention group and the control group, the number of samples was 24 samples with 12 respondents of the therapeutic intervention group and 12 respondents of the control group, using a simple random sampling technique. The results of this study are the statistical results of the Dependent T test for systolic blood pressure results of p = 0.001 (p < 0.05) and the Dependent T-test statistical results for diastolic blood pressure results of p = 0.001 (p < 0.05). Conclusion: then it can be concluded that there is an effect of prayer beads on decreasing systolic and diastolic blood pressure results in the intervention group. Therapy Beads can be used as a solitary nursing self-intervention to lower Blood Pressure in Hypertensive Patients
Co-Authors A Himendra Wargahadibrata A. Himendra Wargahadibrata A. Hmendra Wargahadibrata Achmad Adam Adriman, Silmi Adriman, Silmi Ahmado Oktaria Alifahna, Muhammad Rezanda Alifan Wijaya Alkadia Alfasha Andy Hutariyus Anwar, Tabihul Arief Cahyadi Arif, Izhar Muhammad Arif, Izhar Muhammad Arna Fransisca Arshad, Muhammad Ayu Rosema Sari Bangun, Chrismas Gideon Basuki, Wahyu Sunaryo Basuki, Wahyu Sunaryo Boesoirie, M. Adli Boesoirie, M. Adli Budiana Rismawan Cecep Eli Kosasih Cobis, Albinus Yunus Daneswara, Andika Deni Nugraha Dhany Budipratama Doddy Tavianto Emas, Bagas Eri Surahman Firdaus, Riyadh Firdaus, Riyadh Fitri Sepviyanti Sumardi Fitri Sepviyanti Sumardi Gaus, Syaruddin Giovanni, Cindy Giovanni, Cindy Hana Nur Ramila Harahap, M Sofyan Hengki Saputra Munthe Hermin Aminah Usman Ida Bagus Krisna Jaya Sutawan Ike Sri Redjeki Indrayani, Ratih Rizki Indria Sari Iqbal Pramukti Irina, Rr. Sinta Iwan Abdul Rachman Iwan Fuadi Jasa, Zafrullah Khany Krisna J. Sutawan, Ida Bagus Lalenoh, Diana C Limawan, Michaela Arshanty Lira Panduwaty Lisda Amalia Longdong, Djefri Frederik M, Mutivanya Inez M, Mutivanya Inez M. Sofyan Harahap Maharani, Mutivanya Inez Maharani, Nurmala Dewi Mangastuti, Rebecca Sidhapramudita Mangastuti, Rebecca Sidhapramudita Michaela Arshanty Limawan Mirza Oktavian Muhammad Habibi Nataputra, Mario Nopian Hidayat Nugroho, Andy Nuryanda, Dian Oetoro, Bambang J. Oetoro, Bambang J. Okky Harsono Oktaria, Ahmado Permatasari, Endah Permatasari, Endah Putri, Dini Handayani Putri, Dini Handayani Radian Ahmad Halimi Rasman, Marsudi Rasman, Marsudi Renaldy Sobarna Riki Punisada Riyadh Firdaus Robert Sihombing Ruli Herman Sitanggang Saleh, Siti Chasnak Saleh, Siti Chasnak Saputra, Tengku Addi Saputra, Tengku Addi SATRIYAS ILYAS Septiani, Gusti Ayu Pitria Sihombing, Robert Siti Chasnak Saleh Soefviana, Stefi Berlian Sri Rahardjo Sugiyanto, Endy Susanto, Yunita Susanto, Yunita Sutaniyasa, I Gede Sutanto, Sigit Sutanto, Sigit Suwarman Suwarman Syafruddin Gaus Syahpikal Sahana Syifa, Nadia Syifa, Nadia Tatang Bisri Tatang Bisri Tatang Bisri Tatang Bisri Tatang Bisri Tatang Bisri Tatang Bisri Uhud, Akhyar Nur Umar, Nazaruddin Utama, M Lucky Wargahadibrata, A. Hmendra Wargahadibrata, A. Hmendra Widiastuti, Monika Winarso, Achmad Wahib Wahju Wullur, Caroline Wullur, Caroline Yuanda Rizawan Putra Yusmein Uyun Zaka Anwary, Army