Claim Missing Document
Check
Articles

PENGARUH KONSENTRASI KITOSAN TERHADAP STABILITAS WARNA BIJI KESUMBA PADA KAIN KATUN Nurul Annisa Fitri; Hasri Hasri; Sudding Sudding
Analit : Analytical and Environmental Chemistry Vol. 7, No. 01 April (2022) Analit : Analytical and Environmental Chemistry
Publisher : Jurusan Kimia FMIPA Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/aec.v7i1.2022.p80-89

Abstract

Kain katun merupakan jenis kain yang terbuat dari serat kapas dengan sifat yang mudah menyerap bahan alami maupun kimia seperti pewarna. Pengembangan warna sangatlah menarik di industri tekstil, karena warna merupakan salah satu faktor yang menarik perhatian konsumen. Zat pewarna dibedakan menjadi 2, yaitu pewarna alami dan pewarna sintesis. Pewarna sintesis mudah diperoleh dan praktis penggunaannya akan tetapi dapat mencemari lingkungan. Pewarna alami aman dan ramah lingkungan. Berdasarkan hal tersebut, dilakukan penelitian pengaruh variasi konsentrasi kitosan terhadap stabilitas warna kain katun dengan metode gelasi ionik melalui tahapan ekstraksi pewarna, sintesis kitosan, perendaman dan pewarnaan pada kain katun. Karakterisasi kitosan meliputi analisis gugus fungsi menggunakan FTIR dan analisis kekuatan warna menggunakan UV-DRS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa uji kekuatan warna kain yang dilapisi kitosan 0,2%; 1,5% dan 2,0% adalah 0,65 eV; 0,77 eV dan 0,79 eV, kain tanpa kitosan adalah 0,63 eV. Penambahan variasi konsentrasi kitosan mampu memberikan kekuatan warna yang lebih baik dibandingkan dengan kain katun tanpa pelapisan kitosan. Semakin banyak penambahan kitosan maka akan semakin meningkatkan kestabilan warna.
PELATIHAN TOEFL BERBASIS DARING BAGI MAHASISWA FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR UNTUK MENINGKATKAN KOMPETENSI BAHASA INGGRIS AKADEMIK Fauzan Hari Sudding Sally; Sudding Sudding; Muhalim Muhalim; Qawiyyan Fitri; Hasriani G Hasriani G
PEDAMAS (PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT) Vol. 4 No. 03 (2026): MEI 2026
Publisher : MEDIA INOVASI PENDIDIKAN DAN PUBLIKASI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kemampuan bahasa Inggris akademik menjadi salah satu kompetensi penting yang perlu dimiliki mahasiswa dalam mendukung kebutuhan akademik dan profesional. Namun, masih banyak mahasiswa nonbahasa yang mengalami kesulitan dalam memahami struktur dan strategi pengerjaan Test of English as a Foreign Language (TOEFL). Oleh karena itu, kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan dalam bentuk pelatihan TOEFL berbasis daring bagi mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Negeri Makassar. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan kesiapan mahasiswa dalam menghadapi tes TOEFL. Pelaksanaan kegiatan dilakukan secara online pada tanggal 23 Februari 2026 dan diikuti oleh 29 mahasiswa. Metode kegiatan menggunakan pendekatan pelatihan partisipatif melalui penyampaian materi, diskusi interaktif, latihan soal, dan pembahasan strategi pengerjaan TOEFL yang meliputi listening comprehension, structure and written expression, serta reading comprehension. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa peserta memperoleh pemahaman yang lebih baik mengenai struktur TOEFL dan strategi menjawab soal secara efektif. Selain itu, peserta juga menunjukkan antusiasme dan partisipasi aktif selama kegiatan berlangsung. Pelatihan TOEFL berbasis daring ini memberikan kontribusi positif dalam meningkatkan kompetensi bahasa Inggris akademik mahasiswa serta dapat menjadi salah satu alternatif program pengembangan kemampuan bahasa Inggris di perguruan tinggi.
Perbandingan Hasil Belajar Peserta Didik Kelas XI IPA SMA Negeri 2 Parepare antara yang Diajar dengan Model Pembelajaran Problem Posing dan Problem Solving (Studi pada Materi Pokok Laju Reksi) Sukmiati Sukmiati; Sudding Sudding; Melati Masri
ChemEdu Vol 7, No 1 (2026)
Publisher : Jurusan Kimia FMIPA UNM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35580/chemedu.v7i1.84179

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bahwa model pembelajaran Problem Posing lebih baik dari pada model pembelajaran Problem Solving ditinjau dari hasil belajar peserta didik kelas XI IPA SMA Negeri 2 Parepare pada materi pokok laju reaksi. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen semu dengan desain Two Group Pretest Postest Design. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah model pembelajaran Problem Posing dan pembelajaran Problem Solving, sedangkan variable terikat yakni hasil belajar peserta didik. Populasi penelitian adalah semua kelas XI IPA SMA Negeri 2 Parepare yang terdiri dari 6 kelas. Adapun sampel penelitian yang terpilih adalah kelas XI IPA 3 sebagai kelas eksperimen 1 dan kelas XI IPA 5 sebagai kelas eksperimen 2. Teknik pengumpulan data yang dilakukan adalah memberikan tes awal (pretest) dan tes akhir (posttest). Data yang diperoleh kemudian dianalisis dengan menggunakan statistik deskriptif dan statistik inferensial. Hasil analisis data menunjukkan bahwa rata-rata hasil belajar peserta didik kelas eksperimen 1 untuk prerest dan posttest berturut-turut 7.66 dan 78.50 dengan rata-rata N-Gain 0.7658 dan kelas eksperimen 2 berturut-turut 7.74 dan 70.00 dengan rata-rata N-Gain 0.6892. Hasil pengujian hipotesis menggunakan uji t diperoleh nilai thitung = 3.1523, pada taraf signifikansi α= 0.05 dengan dk 74 diperoleh ttabel = 1.9925. Oleh karena thitung > ttabel, maka H1 diterima dan H0 ditolak. Hal ini menunjukkan bahwa model pembelajaran Problem Posing lebih baik dibandingkan model pembelajaran Problem Solving ditinjau dari hasil belajar peserta didik kelas XI IPA SMA Negeri 2 Parepare pada materi pokok laju reaksi. ABSTRACT This study aims to determine whether the learning model of Problem Posing better than the Problem Solving learning model in terms of learning outcames of students in XI IPA SMAN 2 Parepare on the subject matter of the rate of reaction. This research is a quasi-experimental design with Two Group Pretest Postest Design. The independent variable in this study is a learning model of Problem Posing and the Problem Solving, while the dependent variable which is the learning outcomes of students. The study of population was all of the class XI IPA SMAN 2 Parepare which consists of 6 classes. The selected sample is a class XI IPA 3 as an experimental class 1 and class XI IPA 5 as an experimental class 2. Data collection techniques are providing a pretest and posttest. The data obtained and analyzed using descriptive statistics and inferential statistics. The result showed that the average of Learning Outcames of students experimental class I for pretest and posttest respectively 7.66 and 78.50 with an average N-Gain 0.7658 and the experimental class 2 respectively 7.74 and 70.00 with an average N-Gain 0.6892. The results of hypothesis testing using t test obtained by value t = 3.1523, the level of significance of α= 0.05 with 74 dk obtained ttable = 1.9925. Therefore tcalculate > ttable, then H0 rejected and H1 accepted. This suggests it that the learning model of Problem Posing better than the Problem Solving learning model in terms of learning outcomes of students in class XI IPA SMAN 2 Parepare on the subject matter of the rate of reaction.
Development of Canva-Based E-Modules to Improve Motivation and Learning Outcomes of Students on the Core Topic of Acids and Bases Afdhalifayanti Hamdjah; Muhammad Anwar; Sudding Sudding
Jurnal Penelitian Pendidikan IPA Vol 12 No 7 (2026)
Publisher : Postgraduate, University of Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jppipa.v12i7.15774

Abstract

This study is a Research and Development (R&D) project aimed at producing a Canva-based e-module that is valid, practical, and effective, and capable of enhancing students’ motivation and learning outcomes in the subject of acids and bases. The model used is the ADDIE development model, which consists of five stages: analysis, design, development, implementation, and evaluation. The research subjects consisted of 36 eleventh-grade students at State Senior High School 8 Bulukumba for the 2026/2027 academic year. The feasibility of the e-module was assessed based on three criteria: validity, practicality, and effectiveness. The research results indicate that: 1) the validity of the e-module, as assessed by two expert validators, received an average score of 3.56, falling into the “highly valid” category; 2) the practicality of the e-module in terms of the feasibility of implementation received a score of 1.86, falling into the “fully implemented” category; in terms of teacher feedback, it received an average of 93.54%, classified as “highly practical”; and the average student response score was 89.78, also classified as “highly practical,” 3) The Canva-based e-module is considered effective based on the percentage of students’ learning motivation, which increased from 62.85% to 87.15%—falling into the “very high” category—and student learning outcomes met the criteria for effectiveness, with a class mastery rate of 91.67%. This indicates that the Canva-based e-module is valid, practical, and effective in improving students’ motivation and learning outcomes in acid-base material
Efektivitas Penerapan Model Problem Based Learning Terhadap Kemampuan Berpikir Kritis dan Hasil Belajar Peserta Didik Kelas XI Merdeka Peminatan Kimia SMAN 8 Makassar (Studi pada Materi Pokok Termokimia) Tri Indah Lestari Annas; Jusniar Jusniar; Sudding Sudding
ChemEdu Vol 7, No 2 (2026)
Publisher : Jurusan Kimia FMIPA UNM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35580/chemedu.v7i2.82439

Abstract

Penelitian pra eksperimen ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar efektivitas penerapan model Problem Based Learning untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis (KBK) dan hasil belajar peserta didik kelas XI Merdeka Peminatan Kimia SMAN 8 Makassar pada materi termokimia. Penelitian ini dilaksanakan pada semester genap tahun pelajaran 2024/2025. Populasi penelitian adalah peserta didik kelas XI Merdeka Peminatan Kimia SMAN 8 Makassar tahun ajaran 2024/2025 terdiri dari 5 kelas. Pengambilan sampel dilakukan secara acak, yaitu kelas XI Merdeka Peminatan Kimia 7. Instumen penelitian ini adalah tes kemampuan berpikir kritis untuk mengukur KBK dan hasil belajar. Data hasil penelitian diperoleh dari pretest dan posttest. Teknik analisis data menggunakan analisis statistik deskriptif dan analisis statistik inferensial. Hasil analisis statistik deskriptif diperoleh rata-rata pencapaian indikator kemampuan berpikir kritis sebesar 76,38%, rata-rata ketuntasan hasil belajar sebesar 79,41%, dan rata-rata nilai N-gain sebesar 0,68 dengan kategori sedang. Berdasarkan hasil analisis statistik inferensial diketahui bahwa data tidak terdistribusi normal sehingga dilakukan uji Wilcoxon (pihak kiri), diperoleh Zhitung sebesar -5,0863 < Ztabel (-1,645) dengan H0 ditolak dan H1 diterima. Hal ini menunjukkan penerapan model Problem Based Learning efektif untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan hasil belajar peserta didik kelas XI Merdeka Peminatan Kimia SMAN 8 Makassar.
PENGEMBANGAN INSTRUMEN TES KETERAMPILAN PROSES SAINS (KPS) PADA MATERI LAJU REAKSI: ANALISIS DENGAN MODEL RASCH Nur Islamiah; Ramlawati Ramlawati; Sudding Sudding
ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/academia.v6i3.13820

Abstract

Science process skills (SPS) are a key component of chemistry learning under the Kurikulum Merdeka, yet classroom assessment in chemistry still emphasizes knowledge over skills, and systematically designed SPS test instruments remain limited particularly for the reaction rate topic, which is closely tied to scientific inquiry activities. This gap is widened by the limited integration of expert validation with empirical Rasch Model analysis in developing SPS instruments for this topic, making the development of a valid, practical, and reliable instrument an important undertaking. This study is a development research project aimed at producing a valid, practical, and reliable Science Process Skills (SPS) test instrument covering the topic of reaction rates. The instrument was developed using the Plomp model, which comprises the preliminary investigation, design, realization/construction, test/evaluation/revision, and implementation phases. The developed instrument consists of multiple-choice questions with five answer options covering science process skill indicators. Field testing was conducted with students from class XI MK 1 at SMA Negeri 10 Gowa. Data were collected via expert validation sheets, teacher and student response questionnaires, and student test results. Data analysis was performed using descriptive methods and the Rasch Model. The results indicate that the developed SPS test instrument was confirmed valid based on expert judgment, reliable based on both theoretical and empirical consistency analyses, and practical based on highly positive teacher responses regarding its ease of use. Consequently, the developed SPS test instrument for the reaction rate topic satisfies the requirements for validity, reliability, and practicality, making it suitable for measuring students' science process skills. ABSTRAK Keterampilan proses sains (KPS) merupakan aspek penting dalam pembelajaran kimia pada Kurikulum Merdeka, namun penilaian pembelajaran kimia di sekolah masih lebih menitikberatkan pada aspek pengetahuan, sementara instrumen tes yang secara sistematis mengukur KPS masih terbatas, khususnya pada materi laju reaksi yang sarat aktivitas ilmiah. Kesenjangan ini diperbesar oleh belum terintegrasinya validasi ahli dengan analisis empiris berbasis Model Rasch pada pengembangan instrumen KPS materi tersebut, sehingga pengembangan instrumen yang valid, praktis, dan reliabel menjadi penting untuk dilakukan. Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan yang bertujuan menghasilkan instrumen tes keterampilan proses sains (KPS) pada materi laju reaksi yang valid, praktis, dan reliabel. Pengembangan instrumen menggunakan model Plomp yang meliputi fase investigasi awal, fase desain, fase realisasi atau konstruksi, fase tes, evaluasi dan revisi, serta fase implementasi. Instrumen yang dikembangkan berupa butir soal pilihan ganda dengan lima alternatif jawaban yang meliputi indikator keterampilan proses sains. Uji coba dilakukan pada peserta didik kelas XI MK 1 SMA Negeri 10 Gowa. Data penelitian diperoleh melalui lembar validasi ahli, angket respons guru dan peserta didik, serta hasil tes peserta didik. Analisis data dilakukan secara deskriptif dan menggunakan Model Rasch. Hasil penelitian menunjukkan bahwa instrumen tes keterampilan proses sains yang dikembangkan dinyatakan valid berdasarkan penilaian ahli, reliabel berdasarkan analisis konsistensi teoretis maupun empiris, serta praktis berdasarkan respons guru yang sangat positif terhadap kemudahan penggunaannya. Dengan demikian, instrumen tes keterampilan proses sains pada materi laju reaksi yang telah dikembangkan telah memenuhi aspek kevalidan, reliabilitas, dan kepraktisan yang layak digunakan sebagai alat ukur keterampilan proses sains peserta didik.
Chitosan Acetate Snail Shell (Achatina Fulica) as Antibacterial In Cotton Fabric Rismawati Rismawati; Hasri Hasri; Sudding Sudding
Sainsmat : Jurnal Ilmiah Ilmu Pengetahuan Alam Vol. 9 No. 1 (2020): Volume 9 Nomor 1 (Maret 2021)
Publisher : Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to determine the ability of snail shell chitosan as an antibacterial on cotton fabric based on the effect of variations in soaking time on growth activity of Staphylococcus aureus. Preparation of chitosan be done in three phases demineralization, deproteination and deacetylation, then chitosan acetate is prepared by dissolving chitosan in a 2% acetic acid solution. The coating of cotton fabric through soaking using sodium periodate is followed by the coating of chitosan acetate with a variation of the soaking time of 1 minute, 5 minutes and 10 minutes. Antibacterial activity test using the stocking method. The results showed that the longer the soaking time, the bacterial growth decreases. It was concluded that chitosan acetate can inhibit the growth activity of Staphylococcus aureus.