Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

Hubungan Pemakaian Obat Antiinflamasi Nonsteroid (OAINS) dengan Derajat Keparahan Dispepsia pada Pasien Osteoartritis di Wilayah Kerja Puskesmas Kuranji Kota Padang Muhammad Fadli; Rustam, Erlina; Syahrul, Muhammad Zulfadli; Usman, Elly; Miro, Saptino; Kadri, Husnil
Majalah Kedokteran Andalas Vol. 48 No. 4 (2025): MKA October 2025
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/mka.v48.i4.p373-382.2025

Abstract

Latar Belakang: Di layanan primer, OA sering ditangani dengan OAINS, namun efek samping gastrointestinal seperti dispepsia kerap menurunkan kualitas hidup. Objektif: Menilai hubungan pemakaian OAINS dan durasinya dengan derajat keparahan dispepsia pada pasien OA di wilayah kerja Puskesmas Kuranji, Kota Padang. Metode: Studi potong lintang menggunakan data primer melalui wawancara terstruktur terhadap 101 pasien OA yang sedang menjalani terapi OAINS. Analisis menggunakan uji chi square. Hasil: Mayoritas responden berusia >60 tahun 54,5 persen, perempuan 79,2 persen. Natrium Diklofenak merupakan OAINS tersering 84,2 persen, dengan durasi penggunaan >3 bulan 56,4 persen. Terdapat hubungan pemakaian OAINS dengan dispepsia p=0,000, dan hubungan durasi penggunaan OAINS dengan derajat keparahan dispepsia p=0,001. Kesimpulan: Pada pasien OA di layanan primer, pemakaian dan durasi OAINS berkaitan dengan dispepsia dan tingkat keparahannya. Temuan ini menegaskan pentingnya skrining gejala cerna, edukasi pasien, serta peninjauan regimen analgesik yang lebih aman. Pertimbangkan gastroproteksi dan pemantauan berkala pada kelompok berisiko tinggi secara klinis.
Kadar Transthyretin Plasma pada Lanjut Usia Sarkopenia dan Non-Sarkopenia Fahrurozi, R. Ifan A.; Martini, Rose D; Mulyana, Roza; Murni, Arina W; Decroli, Eva; Miro, Saptino; Viotra, Deka; Yoga, Vesri
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Introduction. Sarcopenia is a geriatric syndrome marked by an age-related decline in muscle mass, which is affected by protein intake. Transthyretin is a visceral protein used to evaluate nutritional status and acts as a positive regulator of muscle mass. This study aimed to assess the difference in plasma transthyretin levels between elderly groups with and without sarcopenia. Methods. This was an analytical observational study with a cross-sectional approach. Subjects were elderly patients who visited the Internal Medicine Polyclinic of Dr. M. Djamil Hospital Padang and met the inclusion and exclusion criteria from August to September 2024. Subjects were classified into sarcopenic and non-sarcopenic groups, followed by an examination of plasma transthyretin levels. Sarcopenia was diagnosed using bio-impedance analysis (BIA) measurement, handgrip strength with a Jamar hydraulic hand dynamometer, and physical performance with a walking speed test. Plasma transthyretin levels were measured using the enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA) method. Comparative analysis was performed using the unpaired T-test using SPSS 29.0. Results. Among total of 46 subjects who participated in this study, the majority of elderly individuals with sarcopenia were predominantly female. The mean plasma transthyretin level in the sarcopenic elderly group was 10.9 (3.3) mg/dL, while in the non-sarcopenic elderly group was 20.3 (2.5) mg/dL. Comparative analysis demonstrated a significant difference in plasma transthyretin levels between sarcopenic and non-sarcopenic elderly individuals (p < 0.001). Plasma transthyretin levels in the sarcopenic elderly group were lower compared to the non-sarcopenic elderly group. Conclusion. There is a significant difference in plasma transthyretin levels between sarcopenic and non-sarcopenic elderly individuals.