Claim Missing Document
Check
Articles

Found 40 Documents
Search

Makna Rumah bagi Masyarakat Pengrajin Kayu di Desa Leilem Najoan, Stephanie J.; Waani, Judy O.; Egam, Pingkan P.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol 6, No 1 (2017): Volume 6 No.1 Mei 2017
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Rumah menjadi kebutuhan manusia, hadirnya rumah dimaknai sebagai bagian dari adaptasi manusia terhadap lingkungan, sehingga tercipta wadah untuk bisa bernaung dan bebas dari ancaman luar. Menjadi sebuah fenomena di Desa Leilem dimana pengrajin kayu menggunakan rumah bukan hanya sebagai tempat tinggal namun digunakan sebagai tempat berusaha, dengan mempertahankan pekerjaan warisan yang ada sehingga Desa Leilem dikenalsebagai Desa Home Industri.Fokus penelitian ini pada makna dan perilaku pengrajin kayu dalam menempati rumah yang ada. Metode penelitian menggunakan metode Fenomenologi. Penelitian dimulai dengan grand tour dilanjutkan dengan mini tour. Data yang didapat, dianalisis dengan cara induktif. Analisis dimulai dari catatan lapangankemudian disusun dalam unit informasi dan dikategorisasikan secara bertahap dalam tema-tema dan konsep-konsep.Hasil penelitian ditemukan bahwa makna rumah tergambar dari tema-tema yang terbangun dari unit-unit informasi yang ada 1. Tema Hak Milik, 2. Tema Modal, 3. Tema Belajar, 4. Tema Ruang ba Cet (mengecat), 5. Tema Ruang Ba pahat (Memahat), 6. Tema Kerabat, 7. Tema Ruang Momasa (memasak), 8. Tema Ruang ba simpang (menyimpan), 9. Tema Ruang Pamer, 10. Tema Baku Bantu (saling membantu), 11. Tema ruang baku lebe dulu (saling berebutan), 12. Tema ruang ba pers (tempat pers), 13. tema ruang Ba ketang/sekap (menyekap), 14 Tema Ruang Ba Rakit (merakit) 15. Tema Ruang Ba Panel (tempat panel) dan 16. Tema Ruang Baku Pinjam (Saling meminjam). Konsep yang ditemukan 1. Konsep Kepemilikan, 2. Konsep Penanda Ruang Kerja 3. Konsep Kebersamaan, 4. Konsep Keberadaan Ruang.Kata-kunci : Rumah, Pengrajin Kayu, Leilem, Makna, Ruang
AUTISM CARE CENTER DI MANADO “IMPLEMENTASI KONSEP SENSORY DESIGN DALAM ARSITEKTUR” Pangau, Christania M.; Egam, Pingkan P.; Tilaar, Sonny
Jurnal Arsitektur DASENG Vol 6, No 1 (2017): Volume 6 No.1 Mei 2017
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Anak merupakan aset penting untuk keberlangsungan suatu bangsa kerena mereka adalah tonggak pembangunan masa depan. Terutama untuk anak yang berkebutuhan khusus yaitu penderita autis juga harus diberika[1]n kesempatan seluas-luasnya dalam mengembangkan potensi-potensi yang dimiliki. Mereka perlu penanganan khusus melalui berbagai terapi yang terstruktur melalui wadah yang bertujuan untuk memberikan kesempatan kepada anak-anak berkebutuhan khusus untuk memperoleh pelayanan pendidikan khusus yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan. Autism Care Center merupakan wadah yang dibutuhkan oleh penyandang autis dengan maksud untuk memberikan pelayanan terbaik dan memberikan apa yang mereka butuhkan berdasarkan tema yaitu Iplementasi Konsep Sensory Design dalam Arsitektur yang digunakan untuk mengenal informasi yang datang dari indera (penglihatan, pendengaran, penciuman, perasa, dan peraba). Dengan mengubah karakteristik ruang seperti warna, dimensi, material, pattern pola, furniture, pencahayaan dan akustik yang dapat memberikan terapi bagi penderita autis serta memberikan pendidikan bagi mereka. Selain itu, konsep ruang luar dengan pola segaris, perletakan vegetasi dengan memiliki aroma yang bisa merangsang indera sebagai salah satu terapi yang bisa menenangkan, aktif, dan fleksibel. Kata kunci : Anak, autis, sensory
EVALUASI JALUR PEDESTRIAN BAGI TUNANETRA TERHADAP PERSYARATAN TEKNIS DI KORIDOR JALAN SAM RATULANGI KOTA MANADO Sembor, Adrian; Egam, Pingkan P.; Waani, Judy O.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol 5, No 1 (2016): Volume 5 No.1 Mei 2016
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Jalur pedestrian merupakan salah satu ruang terbuka publik perkotaan harus dapat diakses oleh semua orang termasuk tunanetra. Salah satu jalur pedestrian bagi tunanetra terdapat di koridor Jalan Sam Ratulangi Manado, tetapi pada kenyataan tunanetra masih dipandu oleh orang yang dapat melihat dalam berjalan kaki. Jalur pedestrian bagi tunanetra ternyata belum sepenuhnya mengikuti persyaratan perancangan , dimana terdapat empat asas dalam menyediakan fasilitas dan aksesibilitas bagi tunanetra sesuai dengan Peraturan Menteri PU No.30/PRT/M/2006 yaitu keselamatan, kemudahan, kegunaan, dan kemandirian. Penelitian ini menggunakan metodologi kuantitatif rasionalistik dengan pendekatan metode deduktif. Data di analisis secara kuantitatif berdasarkan skala Likert. Populasi tunanetra di kota Manado tahun 2016 berjumlah 198 yang dipilih 67 orang sampel. Lokasi penelitian dibagi menjadi 14 segmen. Variabel dan indikator penelitian terdiri dari: (1) kriteria keselamatan (indikator permukaan pedestrian, kanstein, pagar pengaman, naik/turun penumpang, shelter, kanopi, pohon/tanaman peneduh) dan (2) kriteria kemudahan  (indikator ukuran dasar, jalur pemandu/(guiding block), jalur penghubung (ramp), tempat duduk/tempat istirahat, tanda/(sign), tempat sampah). Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa kondisi jalur pedestrian bagi tunanetra terhadap persyaratan teknis di koridor Jalan Sam Ratulangi Kota Manado dari kriteria keselamatan belum sepenuhnya menjamin keselamatan bagi pengguna terutama bagi tunanetra. Demikian pula halnya dari aspek kemudahan, bahwa pelaksanaan beberapa elemen trotoar yang tidak sesuai persyaratan teknis menjadi hambatan bagi pengguna khususnya bagi tunanetra dalam mobilitas. Untuk itu disarankan bagi Pemerintah kota Manado agar  melakukan revitalisasi dengan cara menata kembali keberadaan elemen trotoar supaya sesuai dengan pedoman persyaratan teknis yang berlaku.   Kata Kunci : Evaluasi, Pedesterian, Tunanetra dan Persyaratan Teknis
ORTHOPAEDIC DAN TRAUMATOLOGY CENTER DI MANADO “Sustainable Healthcare Architecture” Gontung, Anatasya T.; Egam, Pingkan P.; Karongkong, Hendriek H.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol 6, No 1 (2017): Volume 6 No.1 Mei 2017
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Indonesia merupakan negara yang memiliki angka kejadian fraktur terbesar di Asia Tenggara sebanyak 1,3 juta setiap tahunnya dengan jumlah penduduk 238 juta jiwadi Indonesia. Tingginya morbiditas fraktur tulang dan trauma di Indonesia, khususnya Sulawesi Utara secara umum disebabkan beberapa faktor seperti :kelalaian manusia itu sendiri, kendaraan, jalan, maupun lingkungan, serta minimnya jumlah fasilitas khusus kesehatan tulang dan trauma di tengah lingkungan urban kota.Melihat kompleksnya permasalahan di atas dan semakin kuatnya dengan isu global warming, dimana pemakaian listrik di gedung rumah sakit menyumbang 37% total emisi CO2, maka perlu dipertimbangkan perancangan “sustainable”. Transformasi tema pada rancangan objek Orthopaedic dan Traumatology Center di Manado ini bertujuan untuk mewujudkan bangunan pusat sarana rujukan pelayanan kesehatan khusus, lengkap dan terpadu untuk penderita fraktur tulang dan trauma di Kota Manado yang menghadirkan rancangan lingkungan ekologi yang memberikan kesan alami, nyaman dan berkelanjutan secara holistik.Keberlanjutan bukan hanya kewajiban moral untuk penghematan energi, tapi dalam pendekatan desain itu sendiri bermanfaat untuk pasien yang mendorong penyembuhan secara holistik melalui pengelolaan ruang luar yang hijau dan asri, penataan taman untuk terapi physically dan rehabilitasi, penggunaan green roof, daylighting view, double skin facade, penanaman vegetasi alami dan memanfaatkan energi matahari melalui penggunaan solar panel sebagai cadangan energi.   Kata Kunci: Morbiditas, Fraktur, Trauma, Global Warming, Sustainable Heatlhcare.
GEDUNG KONVENSI DI TOMOHON (Optimalisasi Form Follow Function oleh Louis Sullivan) Loho, Windi D.; Poluan, Roosje J.; Egam, Pingkan P.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol 4, No 2 (2015): Volume 4 No.2 November 2015
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Saat ini florikultura merupakan salah satu komoditas agribisnis yang cukup berarti di Indonesia. Hal tersebut didasari karena jenisnya yang mempunyai nilai ekonomi yang tinggi dan diterima masyarakat. Florikultura dinikmati konsumen dalam bentuk keindahannya, maka dari itu tuntutan terhadap kualitasnya sangat tinggi. Membudidayakan berbagai jenis florikultura dapat menjadi usaha agrobisnis yang sangat prospektif bagi masyarakat. Masyarakat baik di daerah pedesaan maupun perkotaan mempunyai kecenderungan untuk tinggal di tempat atau lingkungan yang nyaman dan segar. Keadaan ini dapat tercipta dengan adanya kehadiran tanaman florikultura baik di lingkungan rumah tinggal, perkotaan maupun di lingkungan taman- taman rekreasi banyak memberikan pengaruh yang positif. Kesadaran masyarakat akan pentingnya lingkungan hidup yang segar, dapat mempengaruhi meningkatnya permintaan akan tanaman florikulura. Untuk menjawab kebutuhan akan permintaan tersebut, maka dirancanglah sebuah Pusat Penelitan dan Penembangan Florikultura di Tomohon, dimana Tomohon merupakan lokasi yang strategis dalam pengembangbiakkan tanaman florikultura yang didukung  iklim, suhu, serta kondisi tanah yang merupakan  syarat dalam pengembangbiakkan florikultura. Objek perancangan kemudian di padukan dengan tema Permaculture. Sebuah tema yang menekankan pengaturan ruang luar, penggunaan unsur alam, dan menggabungkan kebiasaan yang telah membudaya di masyarakat sekitar, dalam hal ini kebiasaan bercocok tanam florikultura. Dengan demikian, sangat diharapkan Pusat Penelitian dan Pengembangan Florikultura di Tomohon bisa menjadi sebuah objek rancangan yang berfungsi sebagai wadah pengembangbiakkan, pengumpulan informasi, dan edukasi mengenai tanaman florikultura. Menciptakan sebuah wadah arsitektural yang bersinergi dengan alam, dan masyarakar sekitar. Kata Kunci  : Florikultura, Penelitian, Pengembangan, Permaculture, Tomohon
PERENCANAAN KOTA: KEBERLANJUTAN ETHNIC COMMUNITY BERBASIS PARTISIPASI MASYARAKAT LOKAL Egam, Pingkan Peggy; Rengkung, Michael Moldy
MEDIA MATRASAIN Vol 11, No 3 (2014)
Publisher : Department of Architecture, Engineering Faculty - Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perencanaan kota senantiasa melibatkan berbagai elemen termasuk masyarakat lokal. Dalam kaitan dengan hal tersebut partisipasi masyarakat merupakan isu penting.Paper ini bertujuan untuk membahas peran masyarakat lokal dalam proses perencanaan kota. Paper ini bertujuan menganalisis karakteristik partisipasi masyarakat melalui aktivitas masyarakat untuk mempertahankan eksistensi masyarakat lokal.Aktivitas diidentifikasi dalam 2 kelompok yaitu aktivitas berbasis budaya yang dimplementasikan dalam aktivitas sehari-hari dalam lingkungan tetangga dan aktivitas berbasis budaya dalam sakal kelompok masyarakat lokal.Selanjutnya dianalisis melalui 3 aspek yaitu jenis aktivitas, peran dan implementasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktifitas budaya merupakan aktivitas potensial yang dapat dikembangkan dengan organisasi internal sebagai penggerak dasar. Cenderung rendahnya tingkat kesadaran masyarakat berdampak pada implementasi community participatory dalam permukiman. Dibutuhkan peningkatan hubungan masyarakat untuk penguatan internal, serta penguatan sosial-kultural untuk promosi external.Keywords: Partisipasi masyarakat, aktivitas budaya, kesadaran masyarakat, kelompok masyarakat lokal
RUANG KREATIF DI KAWASAN MEGAMAS – MANADO Solang, Steven; Warouw, Fela; Egam, Pingkan P.
MEDIA MATRASAIN Vol 13, No 2 (2016)
Publisher : Department of Architecture, Engineering Faculty - Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Konsep kota kreatif dari Charles Landry merupakan sebuah konsep penataan dan pengembangan kota yang menekankan pada keterpaduan seluruh pemangku kebijakan kota dan lingkungan kreatif kota dalam memberdayakan dan mewadahi kreativitas warga kota. Kota Manado memiliki potensi ekonomi kreatif dan peran serta creative class dalam mewujudkan Manado sebagai kota kreatif namun tidak sebanding dengan lingkungan kreatif yang mendukung. Fenomena tersebut juga terjadi di Kawasan Megamas sebagai salah satu kawasan dengan ruang publik yang menjadi salah satu tujuan kunjungan warga kota. Penelitian ini bertujuan untuk menjabarkan kriteria ruang kreatif di kawasan Megamas. Penelitian dilaksanakan dengan memakai pendekatan kuantitatif rasionalistik untuk mengetahui keadaan atau fenomena yang terjadi di lokasi penelitian secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan antara fenomena yang diteliti. Pengambilan data primer melalui observasi lapangan, wawancara dan kuesioner pada masyarakat yang ada di lokasi penelitian. Hasil penelitian menemukan kawasan Megamas belum memenuhi syarat sebagai ruang kreatif untuk menunjang kota Manado menjadi kota Kreatif. Kata kunci : kota kreatif, ruang kreatif, kota Manado, kawasan Megamas
ARSITEKTUR BERWAWASAN PERILAKU (BEHAVIORISME) Tandali, Anthonius N.; Egam, Pingkan Peggy
MEDIA MATRASAIN Vol 8, No 1 (2011)
Publisher : Department of Architecture, Engineering Faculty - Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakArsitektur merupakan disiplin yang sintetis dan senantiasa mencakup tiga hal dalam setiap rancangannya (teknologi, fungsi dan estetika). Dengan semakin berkembangnya ilmu pengetahuan yang makin kompleks maka perilaku manusia ( human behaviour ) semakin diperhitungkan dalam proses perancangan yang sering disebut sebagai pengkajian lingkungan perilaku dalam arsitektur.Di dalam merancang suatu bangunan, seorang arsitek tentunya tidak mendasar pada imajinasinya sendiri. Hasil kreasi seorang arsitek membentuk suatu kesatuan yang harmonis dalam berbagai dimensi, terutama dimensi kenyamanan dan keamanan. Ketika merancang, seorang arsitek diandaikan membuat asumsi – asumsi tentang kebutuhan manusia, memperkirakan bagaimana manusia berperilaku, bergerak dalam lingkungannya, lalu memutuskan bagaimana bangunan tersebut dapat menjadi lingkungan yang sehat bagi manusia pemakainya.Berdasarkan hal itulah dapat disimpulkan bahwa antara arsitektur dan perilaku terdapat hubungan yang erat, hal ini dapat dilihat dari aspek – aspek pembentuk perilaku manusia akibat lingkungan atau bentuk arsitektur dan sebaliknya. Dengan kata lain perilaku manusia dapat diarahkan kearah yang lebih baik bila nilai – nilai positif dari lingkungan atau bentuk arsitektur dapat membentuk kepribadian serta perilaku yang memiliki nilai positif. Hal ini juga tidak lepas dari hasil kreasi seorang arsitek membentuk suatu kesatuan yang harmonis dalam berbagai dimensi, terutama dimensi kenyamanan dan keamanan. Dengan kata lain, ketika merancang, seorang arsitek diandaikan membuat asumsi – asumsi tentang kebutuhan manusia, memperkirakan bagaimana manusia berperilaku, bergerak dalam lingkungannya, lalu memutuskan bagaimana bangunan tersebut dapat menjadi lingkungan yang sehat bagi manusia pemakainyaKata kunci : Lingkungan, behaviour, arsitektur
TUMATENDEN PARK. Sustainable Architecture Ferdine, Debora; Egam, Pingkan Peggy; Moniaga, Ingerid L.
MEDIA MATRASAIN Vol 15, No 2 (2018)
Publisher : Department of Architecture, Engineering Faculty - Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Masalah keberlanjutan (sustainability issues) telah merambah di semua bidang kehidupan manusia, dimana pada kenyataanya perancangan suatu bangunan sering sekali kurang memperhatikan keselarasan antara bangunannya dengan lingkungan alam sekitarnya baik dalam hal pemanfaatan sumber daya alam maupun dalam hal penggunaan teknologi yang tidak ramah terhadap lingkungan. Disamping itu, Indonesia merupakan suatu negara kepulauan yang penuh dengan kekayaan serta keragaman budaya, ras, dan suku bangsa. Namun pada zaman modern sekarang, budaya yang mewujudkan identitas suatu daerah banyak yang telah ditinggalkan atau mengalami pengikisan seiring dengan berkembangnya zaman. Kabupaten Minahasa Utara adalah salah satu dari 15 kabupaten/kota di provinsi Sulawesi Utara yang memiliki potensi pariwisata dan budaya yang dapat dikembangkan, salah satunya yang terkenal adalah legenda Tumatenden. Namun, untuk fasilitas rekreasi berupa Taman (Park) tematik yang mengandung unsur budaya berupa cerita rakyat tersebut, masih belum ada untuk di kabupaten Minahasa Utara itu sendiri, sehingga keberadaan bangunan ini perlu untuk dihadirkan, dimana selain dapat meningkatkan tingkat pariwisata di Minahasa Utara, tetapi juga dapat digunakan sebagai wadah untuk mengangkat atau memberlanjutkan kembali identitas atau ciri khas yaitu Tumatenden yang ada di Minahasa Utara secara khusus kecamatan Airmadidi. Konsep Sustainable Architecture dirasa sangat cocok untuk diterapkan pada objek perancangan, dimana bukan hanya ingin menciptakan bangunan yang berkonsep alami namun juga dapat menjaga kelangsungan ekosistem, kelestarian alam serta tetap menjaga budaya yang ada agar tetap terus terjaga dari generasi ke generasi. Kata Kunci : Tumatenden Park, Sustainable Architecture
PENGEMBANGAN KAWASAN WISATA DI KECAMATAN LANGOWAN SELATAN Pangau, Debora Sara; Egam, Pingkan P.; Kumurur, Veronica A.
SPASIAL Vol 6, No 2 (2019)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kecamatan Langowan Selatan memiliki empat jenis objek wisata yang menjadi daya tarik yaitu wisata alam Pantai Rumbia, Pantai Walensorit, wisata budaya Waruga Toar Lumimuut, dan wisata buatan Gua Maria Kawatak. Berdasarkan Laporan Akhir Rencana Induk Perencanaan Pariwisata Daerah (RIPPDA) Kabupaten Minahasa objek wisata yang ada di Kecamatan Langowan Selatan masih belum terpenuhi secara maksimal untuk ketersediaan prasarana dan sarana dalam menunjang suatu objek wisata. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana ketersediaan prasarana sarana di objek wisata di Kecamatan Langowan Selatan serta mengetahui kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman di objek wisata di Kecamatan Langowan Selatan. Metode penelitian menggunakan metode deskriptif . Teknik pengambilan data menggunakan wawancara dan observasi secara langsung kelokasi wisata, selanjutnya data diolah menggunakan data primer dan sekunder, dan analisis SWOT. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa persentase tertinggi dari ketersediaan prasarana dan sarana terdapat pada objek wisata Gua Maria dengan hasil 79%, kedua Waruga Toar Tumimuut 63%, ketiga Pantai Rumbia 54%, keempat Pantai Walensorit 24%.Kata Kunci: Pengembangan, Kawasan Wisata.