Claim Missing Document
Check
Articles

Groundwater Recharge Area Based on Hydrochemical and Environmental Isotopes Analysis in the South Bandung Volcanic Area Rizka Maria; Satrio Satrio; Teuku Yan Waliyana Muda Iskandarsyah; Bombom Rachmat Suganda; Robert Mohammad Delinom; Dyah Marganingrum; Wahyu Purwoko; Dady Sukmayadi; Hendarmawan Hendarmawan
Indonesian Journal of Chemistry Vol 21, No 3 (2021)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/ijc.58633

Abstract

The determination of recharge areas needs to support the groundwater conservation in the southern volcanic Bandung area. This study aims to determine the recharge area based on environmental isotopes and hydrochemical. A sampling of 26 groundwater was carried out at springs, dug wells, and drilling wells. The variation in groundwater chemistry principally is controlled by a combination of ion exchange, silicate weathering, calcite, and dolomite dissolution of minerals. The hydrochemical facies were CaCl, CaMgCl, CaMgHCO3, CaHCO3, and NaKHCO3. The CaHCO3 facies describe moderate groundwater flows. The NaKHCO3 facies shows the mixing of shallow and deep groundwater. The recharge area in the central, proximal, and medial facies zone consists of 3 groups. Group I is considered water originating from local rainwater infiltration; Group II is considered the infiltration elevation which ranges from 980–1230 m asl; Group III estimated to be derived from the recharge elevation between 750–970 m asl, Group IV are more likely to show symptoms of evaporation or interaction with surface water. The discharge area is characterized by less active groundwater circulation, with dominant HCO3– and TDS value in the distal facies zone. Hydrochemical variation helped the identification of recharge areas in the volcanic facies.
DISTRIBUSI KUAT GESER BATUAN PADA FORMASI MUARAENIM YANG MENGANDUNG BATUBARA DI KECAMATAN MERAPI BARAT, KABUPATEN LAHAT, PROVINSI SUMATERA SELATAN Nur Hamid; Hendarmawan Hendarmawan; Dicky Muslim; Budi Nurani Ruchjana
Buletin Sumber Daya Geologi Vol. 11 No. 3 (2016): Buletin Sumber Daya Geologi
Publisher : Pusat Sumber Daya Mineral Batubara dan Panas Bumi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (16048.041 KB) | DOI: 10.47599/bsdg.v11i3.32

Abstract

Masalah kemantapan lereng sering ditemukan dalam operasi penambangan terutama pada dinding penggalian tambangnya. Kegiatan produksi akan terganggu apabila lereng-lereng yang terbentuk sebagai akibat dari proses penambangan  tidak stabil. Suatu tambang terbuka belum tentu memiliki besar sudut kemiringan lereng yang sama, hal ini diantaranya akibat dari kuat geser batuan (τ) yang merupakan indeks kualitas batuan, semakin kecil kuat geser batuan maka semakin lemah kekuatan batuan dalam menyangga beban dan akan menjadi bidang lemah yang mudah longsor. Dalam penelitian ini digunakan metode pemetaan geologi dan analisis gama ray dari 43 lubang bor. Metode Kriging digunakan untuk mengetahui distribusi kuat geser batuan di daerah penelitian. Hasil analisis metode Kriging memperlihatkan distribusi kuat geser batuan yang mempunyai nilai rendah yaitu 200 ton/m2 mengarah ke selatan semakin menyempit dan secara vertikal distribusinya semakin dalam semakin berkurang.
Analisis Potensi Desa Mukapayung Sebagai Destinasi Wisata Berkelanjutan Berbasis Sport Tourism Arief Syaifudin; Hendarmawan Hendarmawan; Zulkifli Harahap; Evi Novianti
Pusaka: Journal of Tourism, Hospitality, Travel and Business Event Vol 4 No 2: Agustus – Januari 2023
Publisher : Politeknik Pariwisata Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (216.388 KB) | DOI: 10.33649/pusaka.v4i2.116

Abstract

Tourism development in the West Bandung area is currently a serious concern for the local government, one of which is by developing tourist villages. Mukapayung Village, located in Cililin District, is one of the villages designated by the local government as a tourist village. This village has natural beauty with a stretch of rocks that are in harmony with the flow of the river and towering cliffs. This study tries to explore more deeply the potential that Mukapayung village has to be developed into a sportss tourism-based tourism village in West Bandung Regency. The analysis of tourism potential is carried out using a pentahelix approach in order to obtain a picture of the potential of destinations that specifically examines from the aspects of society, government, the role of the media, business actors, and academics so as to support sustainable tourism. This study uses an exploratory qualitative approach. The results of the study obtained an overview that Mukapayung has the potential to be developed as a sports tourism destination by organizing attractions such as: tracking, cycling, climbing, and other sports attractions. A number of tourism components that still need to be developed or improved to support the acceleration of Mukapayung include destination facilities, accommodation, and amenities. As for the management and development of destinations, Mukapayung is currently managed independently by the community through village organizations (Bumdes), without involving various elements such as the tourism office, business actors, academics, and the role of mass media as well as the community and lovers of sportss tourism. KEYWORDS: Tourist Destinations, Tourist Villages, Pentahelix, Sports Tourism
Geowisata dan Potensi Penguatan Komunitas pada Wisata Pasca-Tambang Open Pit Nam Salu di Belitung Timur Peranciscus Aryanto; Hendarmawan Hendarmawan; Mohamad Sapari Dwi Hadian; Evi Novianti; Syintia Faramitha
Jurnal Kawistara Vol 12, No 3 (2022)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/kawistara.73729

Abstract

Pariwisata merupakan salah satu sektor yang memberikan nilai dan manfaat bagi peningkatan perekonomian masyarakat dan mempengaruhi sektor lainnya. Oleh karena itu, perlu dilakukan identifikasi potensi wisata dan sumber daya yang ada untuk memudahkan penyusunan konsep perencanaan dan pengembangan pariwisata yang juga harus mempertimbangkan dampak positif dan dampak negatif yang dihasilkan. Dampak positif akan berpengaruh pada perekonomian masyarakat sedangkan dampak negatifnya adalah kerusakan alam dan perubahan budaya pada masyarakat. Pengembangan pariwisata perlu melibatkan masyarakat dalam mengelola keunikan dan kondisi daerah yang ada. Open Pit Nam Salu merupakan salah satu objek wisata eks tambang yang memiliki potensi menarik. Sebagai tambang timah terbesar di Asia Tenggara, kawasan objek wisata ini memiliki terowongan bawah tanah yang menjadi salah satu kegiatan yang menarik wisatawan yang berkunjung. Setiap pengunjung wajib mengikuti protokol keselamatan dan kesehatan yang ada. Obyek wisata Open Pit Nam Salu saat ini dikelola oleh Bapopnas (Badan Pengelola Open Pit Nam Salu). Dalam pengembangan kawasan ini ada beberapa kendala yang dihadapi diantaranya sarana dan prasarana serta keterbatasan sumber daya manusia pariwisata dalam mengelola kawasan ini. Penulis melakukan penelitian pengembangan kawasan ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pengumpulan data melalui wawancara dan observasi lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberdayaan masyarakat yang dilakukan melalui Bapopnas, pengembangan pariwisata kawasan ini sudah menunjukkan perubahan yang terlihat dengan adanya pembangunan sarana dan prasarana, promosi dan pemasaran melalui media sosial dan keikutsertaan dalam kegiatan pelatihan.
Hydrogeochemical Characteristics and The Impact of Anthropogenic Activity on Groundwater Quality in the Banjaran Sub Urban Area West Java Indonesia. Rizka Maria; Teuku Yan Waliana Muda Iskandarsyah; Bombom Rachmat Suganda; Hendarmawan Hendarmawan
Jurnal Teknik Sipil Vol 29 No 3 (2022): Jurnal Teknik Sipil
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jts.2022.29.3.2

Abstract

Abstract Banjaran Sub Urban Area in the Southern of Bandung Basin is a volcanic area with variations in lithology and anthropogenic activity that is growing. This study aims to determine the effect of geology and the environment on groundwater hydrochemical conditions in volcanic regions. The method that used are piper diagrams, Gibbs diagrams, correlation and major ion bivariate. Retrieval of 23 groundwater samples consisting of 10 dug wells, 10 drilling wells and 3 springs. The results showed that the groundwater interaction process was influenced by rock weathering. The hydrogeochemical process of major ions in groundwater volcanic regions is characterized by weathering of silica. Groundwater facies are CaMgCl, CaMgHCO3, NaHCO3. The hydrogeochemical process of major ions in groundwater volcanic regions is characterized by weathering of silica. Groundwater upstream area dominated influence by the groundwater-rock interaction, while groundwater downstream area was influenced by anthropogenic factors. Shallow groundwater with land cover agricultural and settlements is more susceptible to contamination by anthropogenic activities. High structural control allows water to flow through the fracture and facilitates the groundwater dilution process, thus helping the process of rock-water interaction. Keywords: Anthropogenic, hydrogeochemical, water-rock interaction, rock weathering. Abstrak. Banjaran adalah wilayah sub urban di daerah vulkanik Cekungan Bandung Selatan yang mengalami perkembangan antropogenik secara dinamis. Disisi lain, variasi kondisi geologi di daerah penelitian berpengaruh pada interaksi batuan dan airtanah. Berdasarkan pada latar belakang tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh geologi dan lingkungan terhadap kondisi hidrokimia airtanah di daerah vulkanik. Metode yang digunakan adalah diagram piper, diagram Gibbs, korelasi dan bivariat ion utama. Pengambilan sampel airtanah sebanyak 23 sampel yang terdiri dari 10 sumur gali, 10 sumur bor dan 3 mata air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses interaksi airtanah dipengaruhi oleh pelapukan batuan. Proses hidrogeokimia ion-ion utama di daerah vulkanik air tanah dicirikan oleh pelapukan silika. Fasies airtanah adalah CaMgCl, CaMgHCO3, NaHCO3. Proses hidrogeokimia ion-ion utama di daerah vulkanik air tanah dicirikan oleh pelapukan silika. Daerah hulu airtanah dipengaruhi oleh interaksi airtanah-batuan, sedangkan daerah hilir airtanah dipengaruhi oleh faktor antropogenik. Airtanah dangkal dengan tutupan lahan pertanian dan pemukiman lebih rentan terhadap pencemaran oleh aktivitas antropogenik. Kontrol struktural yang tinggi memungkinkan air mengalir melalui rekahan dan memudahkan proses pengenceran air tanah, sehingga membantu proses interaksi airtanah-batuan. Kata kunci: Antropogenik, hidrogeokimia, interaksi airtanah-batuan, pelapukan batuan.
Contribution of Resistivity Properties in Estimating Hydraulic Conductivity in Ciremai Volcanic Deposits Deden Zaenudin Mutaqin; Hendarmawan Hendarmawan; Agus Didit Haryanto; Undang Mardiana; Febriwan Mohammad
Jambura Geoscience Review Vol 5, No 1 (2023): Jambura Geoscience Review (JGEOSREV)
Publisher : Universitas Negeri Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34312/jgeosrev.v5i1.17333

Abstract

The hydraulic parameters of porous media, such as porosity (φ) and hydraulic conductivity (K), are the most important factors for planning and managing water exploitation from aquifers. This study aims to estimate the hydraulic conductivity parameters using the geoelectric method on volcanic deposits on the northern slope of Mount Ciremai. For this purpose, four data types were used to estimate K and φ, including lithological profiles, water table, groundwater quality, pumping test data, and vertical electrical sounding (VES). Based on Archie's law and Kozeny's equation, we get the alpha (α) values and cementation factor (m) from which the median values of α = 1.01 and m = 1.36 represent the studied aquifer.  The porosity (φ) of the aquifer varies from 0.097 to 0.187 with an average of 0.141 and is spatially related to the hydraulic conductivity (kgm), which varies from 4.97 × 10-6 to 6.75 × 10-5 m/s after the application of Kozeny's equation. The hydraulic conductivity (Kp) calculated from the pumping tests varies from 9.07 × 10-6 to 1.06 × 10-4 m/s and is strongly correlated (r = 0.87). Furthermore, a relation between resistivity and hydraulic conductivity was established for the studied aquifer to estimate these parameters in sites lacking data.
Geological and Morphometric Characteristics of Quaternary Pyroclastic Aquifers in Salak and Pangrango Stratovolcano. Bayu Nugraha; Mohammad Ghozi; Arif Fadillah; Azwar Satrya Muhammad; Teuku Yan Waliyana Muda Iskandarsyah; Nathalie Dörfliger; Valérie Plagnes; Hendarmawan Hendarmawan
Journal of Geoscience, Engineering, Environment, and Technology Vol. 8 No. 1 (2023): JGEET Vol 08 No 01 : March (2023)
Publisher : UIR PRESS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25299/jgeet.2023.8.1.11171

Abstract

Indonesia is located in a subduction zone formed by the collision of continental and oceanic plates. Many volcanoes form as a result of these conditions along the arc. Springs on the volcano's slopes are widely used for domestic, irrigation, and industry water use. Investigating the characteristics of aquifers and springs is essential to ensure groundwater sustainability by providing a robust geological framework. Meanwhile, groundwater in a volcanic geological setting has good quality characteristics because of its occurrence process, which interacts with many minerals in pyroclastic rocks that act as aquifers. The study area is located in the Lido Catchment Area (LCA), which is situated between two distinct volcanic slopes. Geological and morphometric analysis at LCA is the basis of important information relating to its hydrogeological systems. The analysis of thin rock sections and parameters of the physical properties of water in groundwater springs supports our research. We applied a comprehensive geological and morphometric analysis to obtain detailed information about the aquifer. This study aimed to determine the characteristics of aquifers in pyroclastic rocks and their relationship to the formation of springs. From the research conducted, the characteristic of water can be distinguished based on the geological conditions of its constituents. There are 6 different lithological characteristics in the study area: polymictic breccia, monomictic breccia, lapilli, lapilli tuff, coarse tuff, and fine tuff. From the lithology variations obtained, breccia, lapilli, and coarse tuff can play a good role as aquifers. Geological correlations and groundwater systems in the study area show groups of superficial, mixed, and alteration springs. The system of water flows in aquifers through inter-grains or rock fractures. The types of springs in LCA are dominated by depression and fracture types. These results are fundamental information for understanding hydrogeological systems in future volcanic geological settings.
"Brittleness Index" Lapisan Serpih Formasi Kelesa Bagian Atas di Kuburan Panjang, Cekungan Sumatera Tengah , Riau M. Heri Hermiyanto Zajuli; Hendarmawan Hendarmawan; Hermes Panggabean
Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral Vol. 17 No. 1 (2016): Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral
Publisher : Pusat Survei Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33332/jgsm.geologi.v17i1.26

Abstract

Penelitian ini difokuskan pada nilai Brittleness Index (BI) serpih di daerah Kuburan Panjang sub-Cekungan Sumai, Cekungan Sumatera Tengah. Subjek penelitian ini adalah kehadiran mineral-mineral getas pada batuan serpih dari Formasi Kelesa bagian atas yang berumur Eosen-Oligosen. Serpih mengandung kuarsa dan karbonat sebagai indikator mineral getas yang sangat dominan. Berdasar nilai kandungan material organik pada serpih Formasi Kelesa dari 1,18% sampai 7,17% yang menunjukkan kemampuan serpih sebagai batuan induk termasuk kategori sangat baik. Serpih Formasi Kelesa bagian atas mempunyai BI berkisar antara 35,72 – 63,19 % yang tergolong ke dalam kategori sedang sampai baik (sedikit lunak/less ductile - rapuh/brittle). Kandungan mineral getas yaitu kuarsa dan karbonat ternyata sangat mempengaruhi nilai Brittleness Index (BI) di lokasi penelitian. Sementara itu mineral lempung (iliit, kaolinit, dickite, nacrite) kurang memberikan dampak terhadap nilai BI.  Kata kunci : Formasi Kelesa, Eosen-Oligosen, Cekungan Sumatera Tengah,          Brittleness Index (BI) 
Dinamika Kehadiran Material Organik Pada Lapisan Serpih Formasi Kelesa di Daerah Kuburan Panjang, Cekungan Sumatera Tengah, Riau Heri Hermiyanto Zajuli; Hermes Panggabean; Hendarmawan Hendarmawan; Ildrem Syafri
Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral Vol. 16 No. 4 (2015): Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral
Publisher : Pusat Survei Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33332/jgsm.geologi.v16i4.30

Abstract

Penelitian ini difokuskan di daerah Kuburan Panjang sub-Cekungan Sumai, Cekungan Sumatera Tengah. Subjek penelitian ini adalah batuan serpih dari Formasi Kelesa yang berumur Eosen-Oligosen. Runtutan batuan dari bawah ke atas menunjukkan perulangan antara lapisan-lapisan batuan serpih, batupasir dan batulumpur yang dibatasi oleh konglomerat pada bagian atas dan bawahnya. Komposisi material organik terdiri dari maseral vitrinit berkisar antara 0,20 – 5,0 %, eksinit  0,60 – 4,70%, pirit 0,20 – 16,00%, karbonat 0,20 -24,2 % dan mineral lempung merupakan komponen yang paling dominan yaitu berkisar antara 71,60 -98,00%. Berdasarkan hasil analisis TOC, kekayaan material organik serpih Formasi Kelesa mempunyai nilai TOC dari 1,18% sampai 7,17% yang menunjukkan kemampuan serpih sebagai batuan induk termasuk kategori sangat baik. Kehadiran material organik di daerah penelitian menunjukkan adanya suatu siklus pengayaan material organik dari bawah ke atas.
Hubungan Kelompok Maseral Liptinit dan Vitrinit dengan Tipe Kerogen Batuan Sumber Hidrokarbon pada Serpih Formasi Kelesa Bagian Atas, Kuburan Panjang, Riau Moh. Heri Hermiyanto Zajuli; Hermes Panggabean; Hendarmawan Hendarmawan; Ildrem Syafri
Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral Vol. 18 No. 1 (2017): Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral
Publisher : Pusat Survei Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33332/jgsm.geologi.v18i1.101

Abstract

This study focuses on correlation of liptinite and vitrinite maceral to kerogen type of shale from Kelesa Formation in Kuburan Panjang areas, Sumai sub-basin, Central Sumatra Basin. The composition of the organic material consists of vitrinite maceral ranged from 0.2 to 5%, liptinite from 0.6 to 4.7%, the type of minerals in the form of pyrite from 0.2 to 16%, and 0.2 -24.2% of carbonate, as well as clay minerals are the most dominant component ranged between 71.6 -98%. TOC values of the shale range from 1.18% to 7.17%, which indicate ability of the shale as a good source rock. Kerogen type analysis of theshale in the research area tends to indicate I, II and III kerogen types. There is an influence of the liptinite and vitrinite maceral groups abundance to the type of kerogen, where liptinit maceral group tends to produce type I and II kerogen. Key word : Kelesa Formation, Eocene-Oligocene, Central Sumatera Basin, Vitrinite, Liptinite
Co-Authors Abdurrachman Asseggaf Abdurrokhim ⠀ Adjat Sudrajat Agus Didit Haryanto Al Kautsar, Muhammad Ilham Anastasia Yovita Sari Arief Syaifudin Arif Fadillah Azwar Satrya Muhammad Azwar Satrya Muhammad Bayu Nugraha Benny Joy Binarko Santoso Bombom Rachmat Suganda Bombom Rachmat Suganda Bombom Rachmat Suganda, Bombom Rachmat Boy Yoseph Cahya Sunan Sakti Syah Alam Brilian, Ciria Humanis Budi Muljana Budi Nurani Ruchjana Burhanuddin Burhanuddin Bustomi, Zhafran Muhammad Asyam Carnesia Gabema Mutiara Pangaribuan Chay Asdak Dady Sukmayadi Datin Fatia Umar Davin Rizqa Haris Suryana Deden Zaenudin Mutaqin Dicky Muslim Dyah Marganingrum E. Ristin Pujiindiyati Edi Tri Haryanto Edi Tri Haryanto, Edi Tri Emi Sukiyah Euis Yuningsih Evi Novianti Evi Novianti Faizal Muhammadsyah Febriwan Mohammad Febriwan Mohammad Fitri Amalia Hadian, M. Sapari Dwi Heri Hermiyanto Zajuli Heri Hermiyanto Zajuli, Heri Hermiyanto Hermes Panggabean Hermes Panggabean Hermes Panggabean Hermes Panggabean Ildrem Syafri Ismawan Ismawan, Ismawan Johanes Hutabarat Johanes Hutabarat Johannes Hutabarat Jumhari Jumhari Khoirullah, Nur Lambok M. Hutasoit M Sapari Dwi Hadian M. Heri Hermiyanto Zajuli M. Heri Hermiyanto Zajuli M. Nursiyam Barkah, M. Nursiyam M. Ridfan Trisnadiansyah M. Sapari Dwi Hadian M. Sapari Dwi Hadian Moch Ridfan Trisnadiansyah Moh. Heri Hermiyanto Zajuli Moh. Heri Hermiyanto Zajuli Mohamad Sapari Dwi Hadian Mohamad Sapari Hadian Mohammad Ghozi Muhammad Kurniawan Alfadli Nana Sulaksana Nana Sulaksana Nathalie Dörfliger Nofi Muhammad Alfan Asghaf NUR HAMID Nur Hamid Panji Ridwan Peranciscus Aryanto Petrus Syariman Petrus Syariman, Petrus Pradnya Paramarta Raditya Rendra Priyo Hartanto Putri, Fauziah Listiana Putu Ayu Andhira Rasi Prasetio Rizka Maria Rizka Maria Rizki Maulia Robert M Delinom Robert Mohammad Delinom Rudy Suhendar Satrio Satrio Satrio Satrio Satrio Satrio Setiawan, Taat Siti Munawaroh Suhendar, Rudy Sunardi Sunardi Sunardi Sunardi Suratman Suratman Syaifudin, Arief Syarif Kurniawan Syintia Faramitha Taat Setiawan Tanuwijaya, Zamzam A.J. Teuku Yan Waliana Muda Iskandarsyah Teuku Yan Waliyana Teuku Yan Waliyana Muda Iskandarsyah Teuku Yan Waliyana Muda Iskandarsyah Teuku Yan Waliyana Muda Iskandarsyah Trisnadiansyah, Mochamad Ridfan Umboro, Sindhu Undang Mardiana Valérie Plagnes Vijaya Isnaniawardhani W. Kuntjoro, W. Wahyu Purwoko Wanda Adinugraha Wilda Naily Yoga A. Sendjaja Yudhi Listiawan Yuyun Yuniardi Zakarias Dedu Ghele Raja Zamzam A. J. Tanuwijaya, Zamzam A. J. Zufialdi Zakaria Zulkifli Harahap