Claim Missing Document
Check
Articles

Found 33 Documents
Search

Pengaruh POC Daun Dumbaya (Momordica Cochinchinensis) dan Daun Bunga Terompet Ungu (Thunbergia Erecta) terhadap Pertumbuhan Vegetatif dan Generatif Tanaman Terung Ungu Sintia S. Ahmad; Jusna Ahmad; Devi Bunga Pagalla; Chairunnisah J. Lamangantjo; Hayatiningsih Gubali
Science: Indonesian Journal of Science Vol. 2 No. 3 (2025)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/science.v2i3.357

Abstract

Dumbaya (Momordica cochinchinensis) merupakan tanaman merambat khas Gorontalo yang bernilai gizi tinggi serta berpotensi dikembangkan sebagai bahan baku pembuatan Pupuk Organik Cair. Sementara itu, bunga Terompet ungu (Thunbergia erecta) adalah tanaman perdu dari famili Acanthaceae yang banyak dibudidayakan di daerah tropis dan mengandung berbagai senyawa bioaktif seperti alkaloid, flavonoid, tanin, dan asam fenolat yang berpotensi meningkatkan pertumbuhan tanaman. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh dan konsentrasi POC daun dumbaya dan daun bunga terompet ungu yang paling efektif terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman terung ungu varietas Mustang F1. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) non-faktorial terdiri dari 6 perlakuan dan 3 ulangan yaitu kontrol (-) air, 4 taraf POC (20%, 30%, 40%, dan 50%), serta NPK Phonska 15:15:15 (2gr/tanaman). Parameter yang diamati yaitu meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, & luas daun. Hasil dari analisis ANOVA dan uji lanjut duncan multiple range test (DMRT) taraf 5% menunjukkan POC daun dumbaya dan daun bunga terompet ungu berpengaruh terhadap jumlah daun, dengan POC konsentrasi 50% memberikan hasil tertinggi mendekati perlakuan SA5 (NPK). Namun, tidak berpengaruh nyata pada tinggi tanaman dan luas daun. Penelitian ini membuktikan bahwa POC daun dumbaya dan bunga terompet ungu berpotensi sebagai pupuk organik alternatif ramah lingkungan dalam budidaya terung ungu.
Pemanfaatan Genomik untuk Jagung Tahan Kekeringan: Analisis Bibliometrik Ramlah, Ramlah; Rahmah, Mufti Hatur; Irfan, M.; Pagalla, Devi Bunga; Nurman, Nurman; Sari, Retno
Filogeni: Jurnal Mahasiswa Biologi Vol 6 No 1 (2026): Januari-April
Publisher : Program Studi Biologi Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/filogeni.v6i1.61878

Abstract

Perubahan iklim meningkatkan frekuensi kekeringan yang mengancam produksi jagung global. Genomik menawarkan pendekatan inovatif untuk mengembangkan varietas toleran kekeringan. Studi ini melakukan analisis bibliometrik untuk memetakan lanskap penelitian genomik jagung toleran kekeringan periode 2014-2024. Data diekstrak dari Scopus menggunakan kata kunci (TITLE-ABS-KEY ("Zea mays") AND TITLE-ABS-KEY ("abiotic stress") AND TITLE-ABS-KEY ("drought tolerance")) menghasilkan 159 dokumen dari 84 sumber. Analisis menggunakan VOSviewer dan RStudio untuk visualisasi jaringan dan pemetaan geografis. Hasil menunjukkan tingkat pertumbuhan publikasi 16,23% per tahun dengan rata-rata sitasi 29,47 per dokumen. China mendominasi dengan kontribusi tertinggi, diikuti India dan Amerika Serikat. Kolaborasi internasional mencapai 25,79%. Fokus penelitian meliputi identifikasi gen toleransi kekeringan, mekanisme fisiologis stres, dan strategi pemuliaan berbasis genomik. Jurnal terkemuka seperti Frontiers in Plant Science, Plant Physiology, dan International Journal of Molecular Sciences menjadi platform publikasi utama. Analisis ini mengidentifikasi kesenjangan riset dalam pemanfaatan plasma nutfah lokal, integrasi data multi-omics, dan translasi penanda molekuler ke program pemuliaan praktis. Penelitian ini memberikan roadmap untuk arah riset masa depan genomik jagung toleran kekeringan. Hasil analisis ini menyediakan landasan strategis bagi formulasi kebijakan riset genomik tanaman yang lebih terarah, kolaboratif, dan berorientasi pada solusi adaptasi perubahan iklim.
Response of Actinomycetes Inoculation to the Growth Rate of waxy Corn (Zea mays var. ceratina) Adelia Salsabila Rahman; Novri Youla Kandowangko; Wirnangsih D. Uno; Yuliana Retnowati; Devi Bunga Pagalla; Hayatiningsih Gubali; Muhammad Isra; Aisyah Ahmad
Journal of Tropical Mycorrhiza Vol. 5 No. 1 (2026): April
Publisher : Asosiasi Mikoriza Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58222/jtm.v5i1.119

Abstract

Waxy corn (Zea mays var. ceratina) is an important food crop whose growth and productivity are strongly influenced by nutrient availability and soil microbial activity. The use of Actinomycetes as a biological biostimulant has gained attention due to its potential to enhance plant growth in an environmentally sustainable manner. This study aimed to evaluate the response of waxy corn growth rate to different doses of Actinomycetes inoculation. The experiment was conducted from July to December 2025 using a Randomized Block Design (RBD) consisting of three treatments: without Actinomycetes application (PA0), 5 g Actinomycetes (PA1), and 10 g Actinomycetes (PA2), with three replications for each treatment. Plant growth observations were performed at 14, 21, 28, 35, and 42 days after planting (DAP). Growth rate was determined based on the increase in plant dry biomass over each observation interval. The results showed that Actinomycetes inoculation affected the growth rate of waxy corn. The PA2 treatment consistently exhibited higher and more stable growth rates compared with PA0 and PA1 throughout the observation period. The enhanced growth performance was likely associated with the role of Actinomycetes in improving nutrient availability and stimulating vegetative development. In conclusion, the application of 10 g Actinomycetes demonstrated the greatest potential to increase the growth rate of waxy corn and may serve as an effective biological biostimulant for sustainable crop production.
The Effect of Salicylic Acid Concentration on Callus Induction and Morphology in Young Stem Explants of Momordica cochinchinensis (Lour.) Spreng under In Vitro Conditions Indayani Tandililing; Jusna Ahmad; Devi Bunga Pagalla; Novri Youla Kandowangko; Indiriati Husain
Agroteknika Vol 9 No 2 (2026): Juni 2026
Publisher : Green Engineering Society

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55043/agroteknika.v9i2.759

Abstract

Dumbaya (Momordica cochinchinensis (Lour.) Spreng.) is a tropical plant with potential as a functional food and natural antioxidant source due to its high bioactive compound content. However, its propagation is constrained by low seed germination caused by a hard seed coat, necessitating alternative methods such as plant tissue culture. This study aimed to evaluate the effect of salicylic acid (SA) concentration on callus induction and morphology in young stem explants of Dumbaya under in vitro conditions. A completely randomized design with five treatments was used: MS medium without plant growth regulators (ID0), MS + 2 mg L⁻¹ 2,4-D + 2 mg L⁻¹ BAP (ID1), and MS supplemented with 88.44 mg L⁻¹ (ID2), 162.14 mg L⁻¹ (ID3), and 235.84 mg L⁻¹ (ID4) SA, each with three replicates. Observed parameters included callus formation percentage, initiation time, color, and texture. All treatments resulted in 100% callus formation at 14 days after inoculation. Analysis of variance indicated a highly significant effect on callus initiation time (F = 156.339; p < 0.001), with the fastest initiation observed in ID2 (3.33 ± 0.00 days) and the slowest in ID0 (8.67 ± 0.33 days). Callus morphology varied in color and was predominantly friable. The ID2 treatment produced the most desirable characteristics, including bright color and friable texture. These findings indicate that 88.44 mg L⁻¹ SA was the most effective concentration for early callus induction and favorable callus morphology in Dumbaya.
PENGEMBANGAN PRODUK BERBAHAN DASAR IKAN SEBAGAI UPAYA PEMANFAATAN HASIL TANGKAPAN Devi Bunga Pagalla; Nur Mustaqimah; Magfirahtul Jannah
Jurnal Abdimas Terapan Vol. 2 No. 2 (2023): JURNAL ABDIMAS TERAPAN (MEI)
Publisher : Program Vokasi Universitas Negeri Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (256.336 KB) | DOI: 10.56190/jat.v2i2.27

Abstract

Kecamatan Bonepantai merupakan salah satu kawasan pengembangan perikanan (KPP 4). Kecamatan Bonepantai memiliki 8 desa nelayan, salah satunya Desa Bilungala. Secara keseluruhan Kecamatan Bonepantai memiliki jumlah nelayan ataupun RTP tertinggi kedua setelah Kecamatan Kabila Bone. Melihat potensi Kelautan dan Perikanan yang cukup besar di Kecamatan Bonepantai, perlu dilakukan usaha strategis untuk pengembangan produk perikanan sebagai upaya pemanfaatan hasil tangkapan laut. Pengolahan ikan dikalangan masyarakat desa bilungala masih sebatas olahan bakar, abon, dan acar ikan. Kegiatan ini bertujuan memberdayakan masyarakat khususnya Ibu-Ibu dengan melakukan pelatihan pembuatan nugget berbahan dasar Ikan Cakalang. Metode yang digunakan adalah metode partisipatif dimana masyarakat ditempatkan sebagai subjek dalam setiap tahapan kegiatan. Kegiatan pelatihan pembuatan nugget dilaksanakan dengan jumlah peserta 15 orang Ibu-ibu Kader Posyandu Desa Bilungala. Kegiatan ini diawali dengan presentasi mengenai bahan baku yang dapat digunakan dalam pembuatan nugget dan penjelasan singkat terkait cara pembuatan dan penyimpanan yang baik dan benar. Melalui kegiatan pelatihan pembuatan nugget ikan ini diharapkan masyarakat Desa Bilungala mampu mengolah hasil tangkapan menjadi produk olahan dengan maksimal untuk menunjang kesejahteraan dan memilih nugget ikan sebagai cemilan sehat bagi anak-anak di Desa Bilungala
PENGENALAN PRAKTIK SEDERHANA TENTANG TUMBUHAN KEPADA GURU-GURU IPA DI KOTA GORONTALO: MENCIPTAKAN PEMBELAJARAN YANG MENYENANGKAN BAGI SISWA SMP Devi Bunga Pagalla; Chairunnisah J. Lamangantjo; Masrid Pikoli; Jusna Ahmad; Najmah Najmah
Jurnal Abdimas Terapan Vol. 3 No. 2 (2024): JURNAL ABDIMAS TERAPAN (MEI)
Publisher : Program Vokasi Universitas Negeri Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56190/jat.v3i2.51

Abstract

Laboratorium Botani adalah fasilitas yang dilengkapi dengan alat dan bahan untuk mempelajari berbagai aspek tumbuhan seperti melakukan kajian anatomi tumbuhan, taksonomi tumbuhan, morfologi tumbuhan, dan eksperimen dalam bidang fisiologi tumbuhan. Di Laboratorium Botani, guru dan siswa dapat melakukan berbagai eksperimen sederhana yang menyenangkan tentang tumbuhan. Kegiatan ini bertujuan untuk memperkenalkan praktik sederhana di laboratorium botani yang dapat diterapkan oleh guru-guru IPA di Kota Gorontalo untuk membuat pembelajaran tentang dunia tumbuhan menjadi lebih kreatif dan menyenangkan bagi siswa. Metode pelaksanaan kegiatan meliputi ceramah untuk memberikan pemahaman dasar, diskusi interaktif untuk berbagi pengalaman dan menjawab pertanyaan, serta demonstrasi praktik melalui video untuk memvisualisasikan teknik-teknik sederhana yang dapat diaplikasikan dalam pengajaran. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan keterampilan dan pemahaman guru-guru IPA dalam menerapkan praktik laboratorium botani sederhana. Guru-guru mampu mengintegrasikan teknik-teknik tersebut ke dalam proses pembelajaran, yang berdampak positif pada minat dan partisipasi siswa dalam belajar tentang tumbuhan. Kegiatan ini berhasil mensosialisasikan praktik laboratorium botani yang sederhana namun efektif, yang dapat digunakan oleh guru-guru IPA untuk menciptakan pembelajaran yang lebih kreatif dan menyenangkan. Peningkatan keterampilan guru dan antusiasme siswa terhadap pembelajaran botani menjadi indikasi keberhasilan program ini, yang diharapkan dapat terus dikembangkan untuk meningkatkan kualitas pendidikan sains di Kota Gorontalo.
Penguatan Peran Laboratorium dalam Pembelajaran Biologi Berbasis Proyek: Sosialisasi Konseptual Kepada Guru SMA Wirnangsi Din Uno; Jusna Ahmad; Chairunnisah J Lamangantjo; Devi Bunga Pagalla
Jurnal Abdimas Terapan Vol. 5 No. 1 (2025): JURNAL ABDIMAS TERAPAN (NOVEMBER)
Publisher : Program Vokasi Universitas Negeri Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Laboratorium memiliki potensi sebagai sarana pembelajaran kontekstual dalam mata pelajaran Biologi, tetapi pemanfaatannya masih terbatas, khususnya dalam penerapan model Project-Based Learning (PjBL). Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman guru SMA mengenai konsep dan strategi pemanfaatan laboratorium dalam pembelajaran Biologi berbasis proyek. Metode yang digunakan adalah sosialisasi konseptual melalui pemaparan materi, diskusi interaktif, dan penyajian studi kasus. Kegiatan dilaksanakan pada 22 Juli 2025 di SMA Negeri 1 Suwawa yang melibatkan beberapa guru Biologi. Materi kegiatan mencakup prinsip dasar PjBL, pengelolaan laboratorium secara kontekstual, serta contoh proyek sederhana seperti observasi morfologi tumbuhan dan pengamatan stomata. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa guru menunjukkan antusiasme tinggi terhadap pendekatan pembelajaran berbasis proyek (Project-Based Learning)dalam pemanfaatan laboratorium Biologi, meskipun fasilitas laboratorium terbatas. Kegiatan ini memberikan landasan awal bagi guru untuk mulai mengintegrasikan pembelajaran berbasis proyek secara bertahap dan adaptif sesuai kondisi sekolah.
EDUKASI PEMANFAATAN POTENSI PANGAN LOKAL SULAWESI BARAT SEBAGAI SUMBER BELAJAR BIOLOGI DI MAN 1 POLEWALI MANDAR Ramlah Ramlah; Nurul Iqraini D; St Hijrah Alfiani; Andi Nursanti; Haerani Haerani; Rasydah Nur Tuada; Devi Bunga Pagalla; Aulia Rahmadani
JURNAL SIPISSANGNGI: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 4, No 2 (2024): Sipissangngi Volume 4, Nomor 2, Juni 2024
Publisher : Lembaga Penelitan dan Pengabdian Masyarakat, Universitas Al Asyariah Mandar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35329/jurnal.v4i2.5049

Abstract

Pangan lokal adalah pangan yang diproduksi dalam jarak dekat dari tempat konsumsinya, dan dibudidaya oleh masyarakat setempat. Gerakan pangan lokal bertujuan untuk menghubungkan produsen (petani lokal) dan konsumen pangan yang berada pada wilayah geografis terbatas atau berada pada wilayah yang sama, termasuk pangan lokal yang ada di Provinsi Sulawesi Barat. Tujuan kegiatan ini yaitu untuk memberikan edukasi pemanfaatan pangan lokal sebagai sumber belajar biologi bagi siswa-siswi MAN 1 Polewali Mandar. Metode kegiatan pengabdian kepada masyarakat (PKM) menggunakan metode edukasi terkait pemanfaatan pangan lokal menjadi pangan potensial. Kegiatan ini dihadiri siswa-siswi kelas XI MAN 1 Polewali Mandar yang berasal dari jurusan IPA, IPS, Bahasa, dan Agama. Kegiatan pengabdian ini dilakukan dengan mengedukasi potensi pangan lokal, manfaatnya bagi kesehatan, dan lingkungan, serta mengenalkan jenis-jenis produk olahan pangan lokal di Sulawesi Barat. Selanjutnya, dengan mengikutsertakan seluruh peserta dalam pemberian contoh produk olahan pangan potensial. Selain itu, produk pangan lokal dapat diolah menjadi produk Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal. Hasil evaluasi diperoleh bahwa kegiatan PKM memberikan pemahaman baru yang menarik kepada peserta terkait potensi pangan lokal. Sebanyak 81,26% peserta menyatakan sangat setuju terhadap kegiatan edukasi yang telah dilaksanakan. Sebanyak 89,7% peserta juga mengungkapkan bahwa kegiatan pengabdian menambah pemahaman peserta terkait manfaat pangan lokal bagi kesehatan, lingkungan, dan masyarakat. Selain itu, sebanyak 83,67% peserta mengungkapkan bahwa kegiatan PKM yang dilakukan dapat dijadikan sebagai sumber belajar biologi bagi siswa-siswi yang ada di MAN 1 Polewali Mandar. 
Identifikasi Tahap Perkembangan Mikrospora melalui Ukuran Floret pada Jantung Pisang Tanduk Devi Bunga Pagalla; Jusna Ahmad; Indriati Husain; Nazwa S. Lamante; Rika Eyato
Bioscientist : Jurnal Ilmiah Biologi Vol. 13 No. 4 (2025): December
Publisher : Department of Biology Education, FSTT, Mandalika University of Education, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33394/bioscientist.v13i4.17681

Abstract

This study aimed to identify the relationship between floret length and the developmental stages of microspores in banana male inflorescence (Musa spp. cv. Tanduk), and to determine the optimal floret size range as an explant source for initiating microspore culture. Ten bract layers were analyzed, with five florets randomly selected from each layer and measured for their length. Anthers were extracted from each floret, crushed in sterile water, and observed microscopically using a wet mount preparation. The results revealed a strong correlation between floret length and microspore developmental stages. Microspores at the late uninucleate (vacuolated) to early bicellular stages were consistently found in florets ranging from 4.68 to 4.34 cm in length. Based on these findings, florets within the 4.60 to 4.00 cm range are recommended as the optimal size for microspore culture initiation, as they contain a higher proportion of developmentally competent microspores for embryogenesis induction. In conclusion, this study provides essential morphological and cytological criteria to support efficient explant selection for in vitro regeneration of banana through the microspore culture approach.
Respon Eksplan Tangkai Daun Dan Batang Muda Mangrove (Bruguiera gymnorrhiza L.) pada Media dengan Penambahan IAA dan Kinetin Tri Vinesa Moha; Novri Youla Kandowango; Jusna Ahmad; Febriyanti Febriyanti; Devi Bunga Pagalla; Indriati Husain
Jambura Edu Biosfer Journal Vol 7, No 1 (2025): Jambura Edu Biosfer Journal
Publisher : Fakultas MIPA Universitas Negeri Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34312/jebj.v7i1.27840

Abstract

Ekosistem mangrove memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas lingkungan pesisir, namun keberadaannya terus mengalami tekanan akibat aktivitas manusia. Salah satu spesies mangrove yang penting untuk dikembangkan dalam upaya rehabilitasi kawasan pesisir adalah Bruguiera gymnorrhiza L. Ketersediaan bibit secara konvensional masih menjadi kendala karena membutuhkan waktu relatif lama dan sangat bergantung pada ketersediaan bahan tanam di alam. Oleh karena itu, kultur jaringan in vitro menjadi salah satu alternatif potensial untuk mendukung perbanyakan tanaman mangrove secara lebih cepat dan terkontrol. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kombinasi IAA dan kinetin terhadap induksi kalus pada eksplan tangkai daun dan batang muda mangrove Bruguiera gymnorrhiza L. secara in vitro. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan rancangan acak lengkap (RAL). Perlakuan yang digunakan terdiri atas P1, yaitu 0,25 ppm IAA + 0,25 ppm kinetin; P2, yaitu 0,5 ppm IAA + 0,5 ppm kinetin; P3, yaitu 0,75 ppm IAA + 0,75 ppm kinetin; P4, yaitu 1 ppm IAA + 1 ppm kinetin; dan P5 sebagai kontrol tanpa penambahan IAA dan kinetin. Setiap perlakuan diulang sebanyak tiga kali. Parameter yang diamati meliputi waktu muncul kalus, morfologi kalus, dan warna kalus. Data dianalisis secara deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan P1 memberikan respons terbaik terhadap induksi kalus dengan waktu muncul kalus tercepat, yaitu pada 19 hari setelah tanam (HST). Kalus yang terbentuk pada perlakuan tersebut memiliki karakteristik berwarna kuning. Hasil ini menunjukkan bahwa kombinasi IAA dan kinetin pada konsentrasi rendah berpotensi mendukung induksi kalus pada eksplan tangkai daun dan batang muda Bruguiera gymnorrhiza L. secara in vitro.