Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

ESTIMASI KETINGGIAN PLANETARY BOUNDARY LAYER INDONESIA MENGGUNAKAN DATA ECMWF REANALYSIS ERA-INTERM Vivi Fitriani; Ahmad Bey; Tania June
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol. 18 No. 1 (2017)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31172/jmg.v18i1.283

Abstract

Planetary Boundary Layer (PBL) merupakan bagian dari troposfer yang mendapat pengaruh secara langsung dari permukaan bumi, yang memiliki peranan penting dalam iklim, cuaca dan kualitas udara. PBL dikenal sangat sulit untuk diobservasi dari luar angkasa dikarenakan strukturnya yang sangat kompleks dan berubah-ubah. Salah satu properties yang paling relevan dan fundamental untuk diselidiki adalah ketinggian PBL. Ketinggian PBL dihitung menggunakan tujuh metode berbasis gradien dari kelembaban relatif (RH), temperatur virtual (Tv), temperatur potensial ( ), temperatur potensial virtual ( ), kelembaban spesifik (q), refraktiviti atmosfer (N), dan Kecepatan angin (V) yang diperoleh dari data ECMWF Reanalisis Era Interm selama enam bulan di wilayah 100LU–100LS, 900BT –1500BT dengan resolusi spasial 2.50 x 2.50. Beberapa metode menunjukkan hasil yang indentik untuk ketinggian PBL pada waktu dan tempat tertentu. Metode gradien  dan V konsisten memberikan ketinggian PBL yang tinggi, sementara metode q dan N menghasilkan ketinggian PBL terendah signifikan. Tingginya variasi bulanan dan harian umumnya ditemukan diseluruh wilayah daratan, sedangkan wilayah lautan relatif konstan. Beberapa sumber dari kedua parametrik dan struktur ketidakpastian dari nilai ketinggian PBL diestimasi secara statistik menggunakan lima uji statistik, yaitu uji Student’s t, Uji F, Uji Kormogoorv Sminorv, Uji Korelasi Pearson, dan Uji Korelasi NonParametrik Spearman. Ditemukan adanya perbedaan yang signifikan secara statistik antara ketujuh metode. Rata-rata median ketinggian PBL berbeda ratusan hingga ribuan meter untuk kebanyakan metode yang dibandingkan. Estimasi ketinggian PBL di Indonesia menggunakan metode RH berada di ketinggian 2000 m-4000m pada siang hari dan pada malam hari berada di bawah 2500  m.
ANALISIS SPASIAL FENOMENA URBAN HEAT ISLAND MENGGUNAKAN ALGORITMA LAND SURFACE TEMPERATURE KOTA KENDARI La Ode Alwi; La Gandri; Herlan Hidayat; Eka Rahmatiah Tuwu; Irawati Irawati; Sahindomi Bana; Vivi Fitriani; Lies Indriyani
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol. 23 No. 2 (2022)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31172/jmg.v23i2.852

Abstract

Konversi terhadap lahan-lahan bervegatasi menjadi lahan-lahan terbangun akibat perkembangan kota dan arus urbanisasi dapat memicu terjadinya fenomena urban heat island di beberapa kota di Indonesia. Berdasarkan data peningkatan jumlah penduduk dan ekspansi ruang terbangun yang tidak terkendali di Kota Kendari, ada dugaan bahwa telah terjadi fenomena urban heat island. Mengidentifikasi serta mengukur karakteristik spasial temporal urban heat island sejak dini akan sangat penting bagi pengambil keputusan untuk merumuskan kebijakan demi mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi fenomena urban heat island Kota Kendari perode tahun 2001 dan tahun 2019. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah brightness temperature dengan menggunakan logaritma yang diformulasikan pada alat pengolahan Citra Landsat 7 untuk data tahun 2001 dan Citra Landsat 8 OLI untuk data tahun 2019. Hasil penelitian menunjukan bahwa ekstraksi land surface temperatur menggunakan citra Satelit Landsat-7 tahun 2001 menunjukkan nilai suhu minimum sebesar 19,099 oC dan suhu maksimum sebesar 34,459 oC.  Hasil perhitungan urban heat island treshold sebesar  25,95 0C. Sehingga dengan menentukkan urban heat island index disimpulkan bahwa pada tahun 2001 wilayah Kota Kendari telah mengalami fenomena Urban Heat Island dengan wilayah paparan sebesar 1,021% dari total luas wilayah. Sedangkan pada tahun 2019, ekstraksi land surface temperatur menggunakan citra Satelit Landsat-8 OLI, menunjukkan nilai suhu minimum sebesar 14,27 0C dan suhu udara maksimum sebesar 35, 426 0C. Hasil perhitungan urban heat island treshold sebesar 24,6 0C. Dengan menentukkan urban heat island index disimpulkan bahwa pada tahun 2019 telah terjadi peningkatan fenomena urban heat island dengan wilayah paparan yang lebih luas yakni 18,92% dari luas wilayah.
Comparison of Empirical Methods to Estimated Reference Evapotranspiration Fitriani, Vivi; Bowo, Cahyoadi; Mandala, Marga; Gandri, La
Jurnal Ilmiah Rekayasa Pertanian dan Biosistem Vol 12 No 2 (2024): Jurnal Ilmiah Rekayasa Pertanian dan Biosistem
Publisher : Fakultas Teknologi Pangan & Agroindustri (Fatepa) Universitas Mataram dan Perhimpunan Teknik Pertanian (PERTETA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jrpb.v12i2.629

Abstract

Evapotranspiration plays an important role in agricultural water management and crop modelling. Estimating reference Evapotranspiration (ETo) using meteorological variables, both theoretical and empirical methods, is highly recommended considering the availability of weather data in several locations. The estimation method recommended as the standard method is FAO Penman Monteith (FAOPM), but due to the limited meteorological data in a region and the difficulty and complexity of FAOPM, it is recommended to use the empirical method which is easier and only requires a few simple meteorological variables. The aim of this research is to compare and evaluated empirical methods for estimating ETo against the FAOPM. The statistical analysis using in this research are RSME, MAE, coefficient Correlation, NSE, Average bias, index of agreement, and confidence index (c). Evaluation for the best models based on statistic analyzed shows that several empirical methods show terrible performance in estimating the monthly average ETo (mm/day), which are Thornthwaite-Mather, Hargraves-Samani, Makkink, Hamon, Romaneko, and Kharauffa. Modified Blaney-Criddle method showed a good performance method, while PMAWS showed very good performance The Turc and Hansen method showed excellent performance with RMSE, MAE, NSE, and C values ​​for the Turc method, are 0.12, 0.11, 0.78, 0.92 respectively, and for the Hansen method are 0.12, 0.1, 0.8, and 0.89 respectively.
PERCEPATAN PENGELOLAAN LIMBAH KOTORAN SAPI MENJADI KOMPOS TERSTANDAR Mutmainnah, Laily; Ibanah, Indah; Yanuarti, Rizky; Luthfiyah, Lenny; Fitriani, Vivi; Harsanti, Restiani Sih
....-....
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Farmer groups in Trebengun Village are starting to have concerns about the reduction of subsidized fertilizers from the government which has an impact on crop production. On the other hand, most of the people of Trebungan have cattle that produce solid manure waste. Cow manure waste has not been used so far and has become an environmental pollutant in Trebungan Village. Cow manure waste is one of the materials that contains quite high nitrogen content. This condition can be a solution to meet the fertilizer needs of farmer groups. The purpose of the service activity is to process cow dung waste into solid organic fertilizer. Service activities consist of: a) Socialization, b) Assistance in fertilizer manufacturing practices, and c) Product feasibility evaluation. The manufacture of organic fertilizer made from cow dung is enriched with Local Microorganisms (MOL) to improve the quality and quality of fertilizer. The service activity runs for 3 months. The obstacle experienced during the manufacture of organic fertilizer is the inaccurate dosage of microorganism and water solutions applied to cow manure. However, the Farmer Group and the University of Jember Service Team can make organic fertilizers that are in accordance with national quality standards.
Implementasi Magang Profesi di CV. Rumahku Hidroponik dalam Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Kompentensi Mahasiswa Ningsih, Trista; Ramadhana, Arya Tri Yudha; Cahyani, Elisa Pramesti Edining; Hafidi, Muhammad Risal; Fitriani, Vivi
AKSILAR: Akselerasi Luaran Pengabdian Masyarakat Vol. 2 No. 1 (2024): Vol 2 No 1, 2024
Publisher : Program Studi Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19184/aksilar.v2i1.1566

Abstract

Budidaya hidroponik menjadi alternatif pertanian dalam mengatasi ketersediaan lahan yang semakin terbatas. CV. Rumahku Hidroponik yang berlokasi di Jl. Jawa VI Kec. Sumbersari, Jember merupakan wadah untuk mendalami terkait ilmu hidroponik. Memperkenalkan hidroponik sebagai sistem pertanian yang mudah dapat mendorong masyarakat khususnya generasi muda untuk terjun menjadi petani modern. Magang profesi memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk menerapkan ilmu dan pengetahuan selama perkuliahan dengan praktik lapang di dunia kerja. Pelaksanaan magang selama 45 hari oleh mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Jember di CV. Rumahku Hidroponik didampingi oleh satu dosen pembimbing magang. Hasil dari kegiatan magang yakni mengimplementasikan teori perkuliahan serta mempelajari ilmu dan wawasan mendalam mengenai budidaya hidroponik mulai dari tahap persiapan hingga pasca panen. Harapan dari kegiatan magang ini adalah menciptakan lulusan perguruan tinggi yang berkualitas dan kompeten guna siap memasuki dunia kerja maupun mengabdikan ilmunya kepada masyarakat dengan berbekal teori pengetahuan serta dan pengalaman praktik kerja lapangan.
ANALYSIS DYNAMIC OF LAND SURFACE TEMPERATURE (LST) AND NORMALIZED DIFFERENCE VEGETATION INDEX (NDVI) WANGGU WATERSHED, SOUTHEAST SULAWESI Vivi Fitriani; La Gandri; Lies Indriyani; Sahindomi Bana; La De Ahmaliun
Jurnal Ilmu Ilmu Kehutanan Vol. 7 No. 1 (2023)
Publisher : Jurusan Kehutanan Fakultas Pertanian Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31258/jiik.7.1.49-57

Abstract

LST and NDVI analysis in DAS Wanggu utilizes Landsat 9 satellite remote sensing. LST calculations usde thermal band 10 and NDVI used Red band (Band 4) and InfraRed Band (Band 5). There are 5 LST classes, 17.25 oC -19.66 oC with an area of 908.16 Ha, 19.66 0C-22.08 oC covering 6973.71 Ha, 22.08 oC -24.49 oC covering 21748.26 Ha, 24.49 oC -26.90 oC covering an area of 4235.37 Ha, and 26.90 oC -29.31 oC with a wide coverage of 81.18 Ha, while NDVI values obtained 3 classes namely NDVI <0.2 of 1783.643 Ha, NDVI with a range of 0.2 – 0.5 covering an area of 28617.74 Ha, and areas with NDVI > 0.5 covering an area of 3544.87 Ha. The amount of LST is highly dependent on the type of land cover and land use. NDVI indicates the presence of vegetation in the study area. A negative relationship was found between LST and NDVI in DAS Wanggu with a Correlation Coefficient of -0.179.
Assessing Leaching Requirement an Ameliorated Saline Soil in a Lysimeter Experiment Bowo, Cahyoadi; Fitriani, Vivi; Mandala, Marga
JOURNAL OF TROPICAL SOILS Vol. 29 No. 1: January 2024
Publisher : UNIVERSITY OF LAMPUNG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5400/jts.2024.v29i1.1-9

Abstract

Soil salinity problems in the coastal hinterland region of East Java diminish agricultural development and land productivity. Soil leaching is expected to reduce soil salinity. This study investigated the effectiveness of different ameliorant compositions and leaching requirements (LR) in the leaching process. The experiment involved applying ameliorants (T) and leaching (L) treatments to lysimeters filled with saline soil. The ameliorant treatments included biochar, organic matter, and gypsum. The results showed the leaching requirement capacity to reduce electrical conductivity from 5.7 dS m-1 to below 2 dS m-1. Leaching for T0 (without ameliorants) and T1 (10 Mg ha-1 of biochar) required 943 mm of water, while T2 (20 Mg ha-1 of biochar) and T3 (40 Mg ha-1 of compost) required 1052 mm. The T4 (10 Mg ha-1 of compost and 2 Mg ha-1 of gypsum) necessitated 1154 mm of leaching water. The ameliorants’ application and assortment increased the water demand for leaching. The findings indicated a consistent relationship between TDS and salinity, indicating the soil’s dominant presence of salty ions.
Spatiotemporal dynamics of vegetation density in moramo district protected forest: A remote sensing approach Gandri, La; Fatahuddin, Muhammad; Bana, Sahindomi; Hasani, Umar Ode; Sakti, Abdul; Fitriani, Dewi; Ahmaliun, La De; Muhsimin; Fitriani, Vivi
Applied Environmental Science Vol. 3 No. 1: (July) 2025
Publisher : Institute for Advanced Science, Social, and Sustainable Future

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61511/aes.v3i1.2025.1812

Abstract

Background: Protected forests in the Moramo District play a critical role in maintaining ecosystem balance, but they are increasingly threatened by human activities such as illegal logging and land use change. Vegetation density shifts can disrupt ecosystem functions, particularly the hydrological cycle. This study aims to analyze spatial and temporal changes in vegetation density in the Moramo District Protected Forest using remote sensing. Methods: To detect vegetation density changes, the NDVI (Normalized Difference Vegetation Index) algorithm was employed using satellite imagery from Landsat OLI 8 (2013 and 2018) and Landsat OLI 9 (2023), processed with GIS software. NDVI values range from -1 to 1, allowing for vegetation condition assessment based on spectral reflectance. Findings: Results show a degradation trend in dense vegetation, with a decrease of 67.25 ha (2.86%) during 2013–2018 and 289.11 ha (12.31%) during 2018–2023. Conversely, moderately dense vegetation increased by 68.45 ha (2.91%) and 300.21 ha (12.78%) over the same periods, indicating signs of vegetation regeneration. Conclusion: Despite some vegetation recovery, forest ecosystems continue to face high pressure. More adaptive conservation strategies supported by spatial monitoring are needed to reduce degradation and support long-term sustainability. Novelty/Originality of this article: This study uniquely integrates a multi-temporal NDVI-based approach with socio-ecological analysis and GIS tools to monitor vegetation dynamics. It offers valuable insights for adaptive forest management in the Moramo District Protected Forest, an area previously lacking detailed environmental change analysis.
Optimalisasi Pemupukan Spesifik Lokasi melalui Pelatihan Selidik Cepat Kesuburan Tanah di Desa Mayangan Kecamatan Gumukmas Sadim Klaida, Fitriani; Tika, Sukma Agustin Dyan; Khasanah, Ulfa Maunatul; Pitaloka, Amelia Ayu; Mandala, Marga; Fitriani, Vivi
Sehati Abdimas Vol 7 No 1 (2024): Prosiding Sehati Abdimas 2024
Publisher : PPPM POLTESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47767/sehati_abdimas.v7i1.889

Abstract

Desa Mayangan merupakan salah satu desa yang terletak di wilayah administrasi Kecamatan Gumukmas Kabupaten Jember, tepatnya di bagian Selatan. Desa Mayangan memiliki luas wilayah 2.466,21 Ha dengan jumlah penduduknya sebanyak 10.864 jiwa. Jarak tempuh Desa Mayangan adalah 43 km dari pusat kota yang menjadikan wilayah ini begitu lekat dengan aktivitas pertanian. Mata pencaharian masyarakat di Desa Mayangan mayoritas adalah sebagai petani maupun nelayan. Pertanian di Desa Mayangan berkembang begitu pesat dengan tanaman budidaya berupa tanaman hortikultura dan tanaman pangan. Namun demikian, pertanian di Desa Mayangan terbatas dikarenakan kondisi lahan suboptimal. Hal tersebut mengingat bahwa Desa Mayangan terletak dekat dengan pesisir pantai, sehingga tanah yang ditemukan berupa tanah berpasir serta tanah lahan rawa. Uji kesuburan tanah secara cepat di lapang penting dilakukanuntuk menduga kandungan unsur hara di dalam tanah. Selidik cepat melalui pemanfaatan alat uji PUTS dilakukan untuk mengetahui status hara tanah, seperti NPK dan pH tanah. Selain itu, dengan menggunakan alat uji PUTS, dapat membantu memberikan rekomendasi pengelolaan berdasarkan status hara tanah. Dengan mengetahui status hara di dalam tanah, maka dapat digunakan sebagai acuan dalam kegiatan pemupukan. Kegiatan pelatihan selidik cepat dengan alat uji PUTS diperkenalkan kepada seluruh anggota Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Gumukmas beserta seluruh anggota kelompok tani. Kegiatan hasil uji tanah di Desa Mayangan memiliki kriteria unsur hara sedang dengan pH masam. Adanya kegiatan ini diharapkan akan mencapai efisiensi pemupukan, sehingga tanah akan menjadi sehat dan tidak bersifat toksik akibat perlakuan pemupukan yang berlebih tanpa mengedepankan aspek keberlanjutan lingkungan.
Peningkatan Kapasitas Masyarakat Pesisir Terhadap Perubahan Iklim dan Adaptasinya: Coastal Communities Capacity Building Regarding Climate Change and its Adaptation Fitriani, Vivi; La Gandri; Lies Indriyani; Abdul Manan; Kahirun; Sahindomi Bana; La Ode Midi
AKSILAR: Akselerasi Luaran Pengabdian Masyarakat Vol. 1 No. 1 (2023): Volume 1 Issue 1 September 2023
Publisher : Program Studi Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19184/aksilar.v1i1.447

Abstract

Climate change has become a central issue in various sectors of life. Shifts at the start of the season, height changes, and rainfall variability have also been observed in several areas. A trend has also been found to increase the frequency and intensity of extreme climate events recently. Rising sea levels due to rising temperatures have caused increasing salinity problems and robs in various coastal areas of Indonesia. Currently, the beaches in the coastal area of Soropia District are used for multiple land use activities to support local community income. The impact of climate change accompanied by changes in environmental conditions in the coastal area of Tapulaga Village, Konawe Regency, requires special attention regarding the importance of disaster mitigation and adaptation efforts, which must be carried out collectively to create an ecologically resilient and adaptive village to climate change and ensure sustainable development in the area. Increasing the capacity of coastal communities to increase coastal communities' knowledge of climate change, increasing community participation and capacity, especially vulnerable groups affected by adverse disasters on the coast of Tapulaga Village. Through a participatory approach, the implementation of this activity shows a positive impact on community knowledge about climate change and its results, as well as building awareness of coastal communities to protect and preserve the environment, especially mangrove ecosystems, sustainably to prevent disasters due to climate change in the present and future.