Claim Missing Document
Check
Articles

Penerapan Model Pembelajaran Daring Pada Masa Pandemi Covid di FKIP Universitas Pattimura Fatimah Sialana; Jumiati Tuharea; Maslan Abdin
Jurnal Kewarganegaraan Vol 6 No 1 (2022): 1 Januari - 30 Juni 2022 (In Press)
Publisher : UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31316/jk.v6i1.2576

Abstract

AbstrakPerkembangan situasi pandemi covid 19 di indonesia mulai memberikan dampak penurunan, pendidikan diberbagai jenjang mulai menerapkan pembelajaran tatap muka, evaluasi perlu dilakukan hal ini menjadi mawas diri sewaktu-waktu terjadi peningkatan pandemic covid. Pembelajaran dengan berbagai model suda diterapkan dalam dunia pendidikan pada masa pandemic agar ke depan lebih baik lagi dalam penerapan-nya maka perlu dilakukan evaluasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif untuk menggali informasi terkait penerapan model pembelajaran pada masa pandemic dengan mengutamakan data-data variabel. Hasil penelitian didapat dalam penerapan model pembelajaran daring pada masa pandemic di FKIP jurusan IPS universitas Pattimura antara lain aplikasi yang sering digunakan 47% menggunakan Zoom, aktifitas pembelajaran dengan pemberian tugas, praktek, diskusi dan pemberian materi, 40 % dilakukan dengan pemberian materi presentasi.  38% tidak paham dan 20% sangat tidak paham serta 42% memahami.Kata Kunci : Model Pembelajaran, Penerapan, Evaluasi, Pandemic Covid 19. AbstractThe development of the Covid-19 pandemic situation in Indonesia began to have a decreased impact, education at various levels began to implement face-to-face learning, evaluation needs to be done this becomes self-aware at any time there is an increase in the covid pandemic. Learning with various models is applied in the world of education during the pandemic so that in the future it is better in its application, it needs to be evaluated. This research uses a quantitative descriptive approach to explore information related to the application of learning models during the pandemic by prioritizing variable data. The results of the research obtained in the application of online learning models during the pandemic at FKIP majoring in IPS Pattimura university include applications that are often used 47% using Zoom, learning activities with assignments, practices, discussions and material giving, 40% are carried out by giving presentation materials.  38% do not understand and 20% are very clueless and 42% understand.Keywords : Learning Model, Implementation, Evaluation, Covid 19 Pandemic.
Peran Tim Cyber Crime Ditreskrimsus Polda Maluku Dalam Mengatasi Masalah Pornografi Di Kota Ambon Stenly Haurissa; L. M. Metekohy; Fatima Sialana
Jurnal Kewarganegaraan Vol 6 No 1 (2022): 1 Januari - 30 Juni 2022 (In Press)
Publisher : UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31316/jk.v6i1.2993

Abstract

AbstrakTujuan dari dilaksanakan penelitian ini bahwa untuk mengetahui Peran Tim Cyber crime Ditreskrimsus Polda Maluku Dalam Mengatasi Masalah Pornografi Di Kota Ambon. rumusan masalah dalam penelitian ini dapat di rumuskan sebagai berikut :1) Bagaimana sejarah perkembangan Cyberporn (Kejahatan Pornografi) di Kota Ambon. 2) Bagaimana peran tim Cyber crime Polda Maluku dalam mencegah dan mengatasi masalah pornografi di Kota Ambon. Tipe penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dan teknik pengumpulan data yang digunakan yakni, observasi, wawancara dan Dokumentasi. Selanjutnya data yang dikumpulkan dianalisa secara deskriptif, kualitatif, dan menggunakan interactive models. Hasil penelitian yang ditemukan adalah Sejarah Perkembangan Cyberporn (Kejahatan Pornografi) di Kota Ambon bahwa bila dilihat Terkait dengan perkembangan kasus-kasus Cyberporn atau Kejahatan Pornografi, dari tahun 2018 sebanyak 23 kasus, tahun 2019 sebanyak 15 kasus, tahun 2020 sebanyak 14 kasus 2021 sebanyak 12 kasus dan maret 2022 sebanyak 6 kasus. Hal ini berarti perkembangan Cyberporn di Maluku dari tahun ke tahun mengalami penurunan yang sangat signifikan. Kejahatan pornografi terjadi karena dilatar belakangi oleh beberapa faktor yaitu faktor dendam, faktor ekonomi, faktor kejiwaan dll. usia 18-35 tahun 80%, usia 36-50 tahun 23 % dan untuk umur 18 tahun itu sebanyak 1 %. Hal ini menujukan usia 18-35 tahun banyak yang melakukan kejahatan pornografi. Peran Tim Cyber crime Polda Maluku dalam mencegah dan mengatasi masalah pornografi di kota Ambon bahwa upaya Tim Cyber crime Polda Maluku dalam mengatasi kejahatan pornografi dilakuka dengan 3 upaya yaitu adanya upaya preemtif, upaya preventif kedua upaya ini memberikan pencegahan dengan Tindakan-tindakan non penal dan upaya represif yaitu upaya penegakan hukum dengan menyelidik pelaku sampai pada membuat berita acara pemeriksaan. Dalam penyelesaian kasus-kasus kejahatan pornografi proses penyelesaian yang dilakukan oleh cyber dalam hal ini Ditreskrimsus Polda Maluku melalui 2 bentuk proses penyelesaian yaitu dengan pendekatan kekeluargaan atau Restorative justice dan penegakan hukum.Kata Kunci: Peran, Tim Cyber crime, Pornografi AbstractThe purpose of this research is to find out the role of the Cyber Crime Team of the Maluku Police Ditreskrimsus in Overcoming the Problem of Pornography in Ambon City. The formulation of the problem in this study can be formulated as follows: 1) How is the history of the development of Cyberporn (Pornography Crime) in Ambon City. 2) What is the role of the Maluku Police Cyber Crime team in preventing and overcoming the problem of pornography in Ambon City. This type of research is descriptive qualitative and the data collection techniques used are observation, interviews and documentation. Furthermore, the data collected were analyzed descriptively, qualitatively, and using interactive models. The results of the research found are the History of Cyberporn Development (Pornographic Crimes) in Ambon City that when viewed Related to the development of Cyberporn cases or Pornographic Crimes, from 2018 there were 23 cases, in 2019 there were 15 cases, in 2020 there were 14 cases, 2021 was 12 cases. cases and March 2022 as many as 6 cases. This means that the development of Cyberporn in Maluku from year to year has experienced a very significant decline. The crime of pornography occurs because it is motivated by several factors, namely revenge factors, economic factors, psychological factors, etc. 80% of 18-35 years old, 23% of 36-50 years old and 1% for 18 years old. This shows that many 18-35 year olds commit pornographic crimes. The role of the Maluku Police Cyber Crime Team in preventing and overcoming the problem of pornography in Ambon city that the Maluku Police Cyber Crime Team's efforts in overcoming pornography crimes are carried out with 3 efforts, namely preemptive efforts, preventive efforts, these two efforts provide prevention with non-penal actions and other efforts. repressive, namely law enforcement efforts by investigating the perpetrators to making an examination report. In the settlement of pornographic crime cases, the settlement process carried out by cyber in this case the Maluku Police Ditreskrimsus through 2 forms of the settlement process, namely with a family approach or Restorative justice and law enforcement.Keywords: Role, Cyber Crime Team, Pornography
Persepsi masyarakat Wahaeolon terhadap Peran dan Kedudukan Perempuan Modern di Kecamatan Leksula Kabupaten Buru Selatan Galensa. E. Batuwael; Fatimah Sialana; Jumiati Tuharea
Journal of Education Technology Information Social Sciences and Health Vol. 1 No. 1 (2022): March 2022
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/jetish.v1i1.66

Abstract

AbstrakKehidupan perempuan di Indonesia hingga saat ini masih melekat pada suatu budaya patriarki dimana seorang perempuan masih melekat dan memposisikan dirinya sebagai subordinat dari laki-laki. Budaya patriarki sendiri sudah ada dan melekat dalam lingkungan masyarakat dari dahulu dan secara hukum adat dan agama menempatkan kedudukan perempuan di bawah laki-laki. Tentunya kondisi seperti ini sudah biasa ditemui di berbagai negara tak hanya di Indonesia. Akibat dari budaya patriarki tersebut, kedudukan perempuan hanya sebatas menjadi seorang istri dan ibu bahkan hal tersebut seringkali tidak dihargai.. Oleh karena itu, perlu adanya kajian ulang kebijakan negara, yang saat ini terlalu fokus pada peningkatan peran perempuan dalam pembangunan, agar lebih memperhatikan peran perempuan dalam keluarga sebagai pilar kemajuan masyarakat dan bangsa. Adapun rumusan masalah yaitu : Bagaimana kedudukan dan peran perempuan modern secara domestik pada masyarakat wahaolon kecamatan leksula kabupaten buru selatan. dan Bagaimana kedudukan dan peran perempuan secara publik pada masyarakan wahaeolon kecamatan leksula kabupaten buru selatan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif, dan teknik pengumpulan data, observasi, dan wawancara serta teknik analisis data. Hasil penelitian adalah Dalam ajaran Kristen perempuan dipandang sebagai makhluk yang memiliki pontensi yang sama seperti apa yang dimiliki laki-laki. Perempuan bukan hanya sebagai makhluk domestic–reproduktif perempuan bukan hanya bertugas mengurus rumah tangga, urusan rumah tangga sebenarnya antara laki-laki dan perempuan mempunyai tanggung jawab yang sama mengurus rumah tangga dalam kehidupan sehari-hari. Perempuan tidak hanya dianggap sebagai makhluk lemah lembut, penyayang, dan penurut melainkan perempuan itu dapat leluasa untuk berkreatifitas, dan mempunyai kepercayaan diri yang kuat melangkah maju, berani melangkah keluar dari aturan budaya yang mengikat sehingga menghasilkan perempuan yang cerdas, kuat, dan bertanggung jawabKata Kunci: Perempuan Modern, Kesetaraan Gender, dan Perempuan Perdesaan AbstractThe life of women in Indonesia is still attached to a patriarchal culture where a woman is still attached and positions herself as subordinate to men. The patriarchal culture itself has existed and is inherent in the community from the past and according to customary law and religion, women are placed below men. Of course, conditions like this are common in various countries, not only in Indonesia. As a result of this patriarchal culture, the position of women is only limited to being a wife and mother and even this is often not appreciated. Therefore, it is necessary to review state policies, which currently focus too much on increasing the role of women in development, so that they pay more attention to the role of women in development. women in the family as pillars of the progress of society and the nation. The formulation of the problem is: How is the position and role of modern women domestically in the Wahaolon community, Leksula sub-district, South Buru district. and How is the position and role of women in  publik in the Waheolon community, Leksula sub-district, South Buru Regency. The method used in this research is qualitative, and data collection techniques, observations, and interviews as well as data analysis techniques. The result of the research is that in Christianity, women are seen as creatures who have the same potential as men. Women are not only domestic - reproductive creatures, women are not only tasked with taking care of the household, household affairs are actually between men and women who have the same responsibility to take care of the household in everyday life. Women are not only considered as gentle, loving, and obedient creatures, but women can be free to be creative, and have strong self-confidence to move forward, dare to step outside the binding cultural rules so as to produce intelligent, strong, and responsible women.Keywords: Modern Women, Gender Equality, and Rural Women
The Scope of Differentiated Instructional Materials in Pancasila Education Learning at State Senior High School 9 Ambon Marita Soamole; Lisye Salamor; Fatimah Sialana; Rita Fransina Maruanaya
Mindset : Jurnal Pemikiran Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 5 No. 2 (2025): Volume 5 Nomor 2 Tahun 2025
Publisher : Actual Insight

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56393/mindset.v5i2.3582

Abstract

The implementation of differentiated instruction has become a key strategy within the Merdeka Curriculum to address students’ diverse learning needs, particularly in Pancasila Education. This approach enables teachers to design more inclusive, meaningful, and learner-centered instructional strategies that align with students’ individual potentials. This study aims to analyze the scope of differentiated instructional materials covering content, process, input, and product in Pancasila Education learning at State Senior High School 9 Ambon. A descriptive survey method was employed, using closed-ended questionnaires distributed to Grade X students at State Senior High School 9 Ambon. The results indicate that the level of implementation of differentiated content reached 89.13%, differentiated process 86%, differentiated input 84.78%, and differentiated product 84.78%. These percentages reflect teachers’ consistent efforts to adapt instructional practices to students’ needs and characteristics across multiple dimensions of learning. The findings demonstrate that differentiated instructional materials are effective in enhancing students’ active participation and conceptual understanding in Pancasila Education, as they accommodate differences in learners’ interests, readiness levels, and learning styles. Therefore, continuous and systematic professional development for teachers is essential to ensure that differentiated instructional strategies are implemented optimally, consistently, and in alignment with students’ learning needs.
PELATIHAN DAN PENDAMPINGAN PEMBUATAN KOMPOR BRIKET DARI TANAH LIAT (CLAY)DI KAMPUNG ABAR DISTRIK EBUNGFAUW KAB. JAYAPURA Jufri Sialana; Jusuf Haurissa; Syamsudin Usman; Santje Iriyanto
JURNAL ABDIMAS DINAMIS : JURNAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT Vol 7 No 1 (2026): Abdimas Dinamis
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat USTJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58839/jad.v7i1.1565

Abstract

Tujuan utama dari kegiatan pengabdian masyarakat yang dilaksanakan di Kampung Abar, Distrik Ebungfauw, Kabupaten Jayapura, adalah memberikan pelatihan kepada masyarakat—khususnya kelompok pengrajin gerabah—dalam pembuatan kompor briket berbahan dasar tanah liat (tanah lempung). Kampung Abar dikenal sebagai sentra kerajinan gerabah yang telah diwariskan secara turun-temurun. Para pengrajin lokal mampu menghasilkan berbagai bentuk gerabah sesuai kebutuhan dan pesanan konsumen. Pengabdian ini dilatarbelakangi oleh permasalahan yang dihadapi oleh kelompok usaha briket “Yabahey” di Kampung Nolokla, yang mengalami keterbatasan dalam penyediaan kompor briket sebagai sarana pendukung produksi briket. Untuk menjawab tantangan tersebut, tim PKM dari USTJ hadir di Kampung Abar untuk menawarkan solusi melalui pelatihan pembuatan kompor briket dari tanah liat. Metode yang digunakan meliputi sosialisasi, pengambilan dan pengolahan tanah liat, penyaringan, pembentukan kompor, hingga proses pembakaran untuk menghasilkan produk yang kuat dan tahan lama. Kegiatan ini berhasil dilaksanakan dengan dukungan penuh dari aparat kampung, gereja, dan masyarakat. Lima kelompok pengrajin—Roliyauw, Hunuyo, Yauw Enggo, Titian Hidup, dan Holinarei—berhasil membuat dua jenis kompor: model sarang lebah dan kotak. Hasil dari kegiatan ini tidak hanya meningkatkan keterampilan teknis masyarakat, tetapi juga mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya lokal, mendorong kemandirian teknologi, serta membuka peluang peningkatan ekonomi melalui penerapan teknologi tepat guna yang berpijak pada kearifan lokal.
ANALISIS PEMANFAATAN APLIKASI GEMINI DALAM MENINGKATKAN MINAT BELAJAR SISWA PADA PEMBELAJARAN PENDIDIKAN PANCASILA DI KELAS XI SMA Windy E. M. Ohoiner; Fatimah Sialana; Aisa Abas
SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPS Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/social.v6i1.9729

Abstract

This study aims to analyze the use of the Gemini application in increasing student interest in learning Pancasila education in grade XI at SMA Negeri 1 Tual. Advances in information technology have changed students' learning patterns. Today's young generation, especially Generation Z, tends to be more interested in interactive, visual, and digital technology-based learning media. This phenomenon requires teachers to innovate in utilizing technology as a learning tool. The younger generation today, especially Generation Z, tends to be more interested in interactive, visual, and technology-based learning media. This phenomenon requires teachers to innovate in utilizing technology as a learning tool, including in teaching Pancasila education material, which has often been considered monotonous by some students. This study uses a qualitative approach with a descriptive research type. The subjects of this research consisted of students and teachers. The data collection techniques were observation and documentation. The data were analyzed using qualitative descriptive analysis. The results of the study showed that the use of the Gemini application in Pancasila Education learning in class XI at SMA Negeri 1 Tual has been running well as a learning support medium. This application helps students understand conceptual and normative material through the presentation of information that is simpler, contextual, and easy to understand, as well as supporting the role of teachers in planning and implementing learning. The Gemini application plays a role in shaping the character of students' digital citizenship, particularly in fostering critical thinking, responsibility, and ethics in the use of digital technology. Students not only use Gemini to obtain information, but also learn to select, evaluate, and use information wisely in accordance with the values of Pancasila. The use of the Gemini application in building students' interest in learning is influenced by supporting and inhibiting factors. Supporting factors include school support, teacher readiness, ease of use, and the characteristics of students as the digital generation. Meanwhile, inhibiting factors include limited internet access, differences in digital literacy, and the potential for distraction from the use of gadgets in learning. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis  analisis pemanfaatan aplikasi gemini dalam meningkatkan minat belajar siswa pada pembelajaran pendidikan pancasila di kelas xi SMA Negeri 1 Tual. Kemajuan teknologi informasi telah mengubah pola belajar siswa. Generasi muda saat ini, khususnya generasi Z, cenderung lebih tertarik pada media pembelajaran yang interaktif, visual, dan berbasis teknologi digital Fenomena ini menuntut guru untuk berinovasi dalam memanfaatkan teknologi sebagai sarana pembelajaran, termasuk dalam mengajarkan materi Pendidikan Pancasila yang selama ini sering dianggap monoton oleh sebagian siswa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Subjek penelitian ini terdiri dari siswa dan guru. Teknik pengumpulan  data adalah observasi dan dokumentasi. data dianalisis secara deskriptif kualitatif. Hasil penelitian bahwa Pemanfaatan aplikasi Gemini dalam pembelajaran Pendidikan Pancasila di kelas. XI SMA Negeri 1 Tual telah berjalan dengan baik sebagai media pendukung pembelajaran. Aplikasi ini membantu siswa memahami materi yang bersifat konseptual dan normatif melalui penyajian informasi yang lebih sederhana, kontekstual, dan mudah dipahami, serta mendukung peran guru dalam perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran. Aplikasi Gemini berperan dalam membentuk karakter kewarganegaraan digital siswa, khususnya dalam menumbuhkan sikap kritis, tanggung jawab, dan etika dalam menggunakan teknologi digital. Siswa tidak hanya memanfaatkan Gemini untuk memperoleh informasi, tetapi juga belajar menyeleksi, mengevaluasi, dan menggunakan informasi secara bijak sesuai dengan nilai-nilai Pancasila.Pemanfaatan aplikasi Gemini dalam membangun minat belajar siswa dipengaruhi oleh faktor pendukung dan penghambat. Faktor pendukung meliputi dukungan sekolah, kesiapan guru, kemudahan aplikasi, dan karakteristik siswa sebagai generasi digital. Sementara itu, faktor penghambat mencakup keterbatasan jaringan internet, perbedaan literasi digital, serta potensi distraksi penggunaan gawai dalam pembelajaran.  
STRENGTHENING PANCASILA EDUCATION THROUGH TEACHER CAPACITY AND CONTEXTUAL CURRICULUM ENACTMENT IN A REMOTE SCHOOL Kirie Natalia Seleky; Fatimah Sialana; Lisye Salamor
EDUCATIONE Volume 4, Issue 2, July 2026
Publisher : CV. TOTUS TUUS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59397/edu.v4i2.164

Abstract

Improving Pancasila Education in geographically and infrastructurally constrained schools requires alignment between teacher capacity, curriculum interpretation, school leadership, and locally feasible resources. This article presents a secondary qualitative reanalysis of an archived single-school fieldwork record from SMP Negeri 02 Fena Fafan, South Buru, Indonesia. The archive contains dated observation summaries, interview excerpts from school leaders, teachers, and Grade VII-IX students, and references to school documents collected in July 2025; however, the exact participant total, raw recordings, full instruments, and systematic student-outcome measures were not available. A hybrid thematic synthesis combined inductive coding with sensitizing concepts drawn from curriculum-enactment, instructional-leadership, professional-learning, culturally relevant pedagogy, and civic-education scholarship. The archived evidence documents uneven subject-matter mastery, lecture and note-taking practices, limited contextual materials, incomplete Merdeka Curriculum understanding, and restricted digital access. It also documents enabling practices, including supervision, peer knowledge sharing, selective use of Buru language, parent-school communication, discussion, group work, video, and shared-device learning. The analysis proposes, rather than tests, a framework in which principal-led curriculum co-design links professional capacity to contextual enactment, while local-language scaffolding and low-bandwidth pedagogy operate as context-specific enabling conditions. The study offers analytically transferable propositions for similar remote-school contexts, but no causal or statistical generalization is claimed. Future multisite research should verify the framework with complete sampling, ethics, instrument, and student-outcome documentation.
FENOMENA SOSIAL GOYANG BENTO TERHADAP MORAL PESERTA DIDIK DI SMP NEGERI 01 NAMROLE KABUPATEN BURU SELATAN PROVINSI MALUKU Hukunala, Yudi; Fatimah Sialana; Titus Gaite
Pendas : Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar Vol. 9 No. 2 (2024): Volume 09 No. 2 Juni 2024
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar FKIP Universitas Pasundan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23969/jp.v9i2.13370

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menginvestigasi dampak fenomena sosial goyang bento terhadap moral peserta didik di SMP Negeri 01 Namrole, Kabupaten Buru Selatan, Provinsi Maluku. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan siswa-siswa yang terlibat dalam praktik goyang bento, serta observasi langsung terhadap perilaku mereka di sekolah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fenomena goyang bento memiliki dampak yang signifikan terhadap moral peserta didik, termasuk penurunan disiplin, dan motivasi belajar, norma-norma sosial yang terdistorsi, dan kecenderungan untuk mengabaikan nilai-nilai moral yang penting. Temuan ini menyoroti pentingnya peran sekolah dan keluarga dalam membimbing dan memperkuat moralitas siswa di tengah-tengah pengaruh fenomena sosial yang meresahkan seperti goyang bento. Implikasi penelitian ini memberikan dasar yang kuat bagi pengembangan strategi intervensi yang tepat guna untuk mengatasi dampak negatif fenomena sosial tersebut terhadap moral peserta didik.