Claim Missing Document
Check
Articles

Found 31 Documents
Search

Makna Simbolik Ornamen Makam Raja-Raja Binamu di Desa Bontoramba Kecamatan Bontoramba Kabupaten Jeneponto (Kajian Semiotika Perspektif Sejarah) Summiati, Summiati; Dahlan, M.; Haif, Abu
Riwayat: Educational Journal of History and Humanities Vol 8, No 3 (2025): July
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jr.v8i3.48504

Abstract

Penelitian ini berfokus mencari dan menganalisis Makna Simbolik Ornamen pada Makam Raja-Raja Binamu Jeneponto ditinjau dari kajian semiotika. Pada makam raja-raja, telah temukan berbagai bentuk ragam hias yang unik, dan dibalik keindahan dan keunikannya terdapat makna dibalik setiap ukirannya. metode pengumpulan data yang digunakan peneliti adalah metode observasi, wawancara, dokumentasi dan library research. Kemudian, setelah itu dilanjutkan dengan menganalisis data yang ada sesuai dengan metode analisis data dalam bidang sejarah. Dari jenis penelitian kualitatif yang telah dilakukan, maka ditemukan hasil bahwa ragam hias yang terdapat pada makam terbagi menjadi enam bagian, yaitu flora, fauna, geometris, non-geomteris, manusia dan juga peralatan. Penggunaan kategori ragam hias yang paling banyak ditemukan adalah ragam hias flora dengan varian berupa sulur-sulur dan bunga.
Peran dan Stategi Datuk Sulaiman Dalam Proses Islamisasi di Tanah Luwu Saribunga, Saribunga; Dahlan, M; Haif, Abu
AURELIA: Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Indonesia Vol 4, No 2 (2025): July 2025
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/aurelia.v4i2.5459

Abstract

Penelitian ini menelusuri peran dan strategi Datuk Sulaiman dalam menyebarkan Islam di Tanah Luwu, Sulawesi Selatan. Melalui metode kualitatif, penelitian ini menganalisis berbagai strategi Datuk Sulaiman dalam memperkenalkan Islam di Luwu, termasuk pendekatan politik, historis, sosiologis, dan antropologis. Penelitian ini menemukan bahwa Datuk Sulaiman menggunakan pendekatan dialogis dan persuasif dalam penyebaran Islam. Melalui forum Tudang Sipulung, ia melibatkan masyarakat Luwu dalam diskusi terbuka tentang ajaran Islam, membangun kepercayaan dan pemahaman secara bertahap. Selain itu, Datuk Sulaiman juga memanfaatkan dukungan elite kerajaan, seperti Datuk Luwu, untuk mempercepat Islamisasi. Datuk Sulaiman mengintegrasikan nilai-nilai Islam dengan budaya lokal, seperti tradisi Maccera Tasi’ dan upacara pernikahan adat Luwu. Sinkretisme budaya ini menunjukkan harmonisasi antara Islam dan tradisi lokal yang memperkuat identitas religius masyarakat Luwu. Kesimpulannya, Datuk Sulaiman memainkan peran kunci dalam Islamisasi di Tanah Luwu dengan pendekatan yang damai, adaptif, dan berorientasi pada perdamaian.
Strategi Dakwah KH. Lanre Said: Studi atas Buku Jejak Dakwah KH. Lanre Said Ulama Pejuang dari DI/TII hingga Era Reformasi Abdul Havid, Ilham; Haif, Abu
Jurnal Ushuluddin: Media Dialog Pemikiran Islam Vol 26 No 2 (2024): Agustus
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jumdpi.v26i2.49099

Abstract

The method of da'wah represents a systematic approach to delivering religious material to achieve specific objectives. The implementation of da'wah activities requires appropriate and effective strategies. The process of conveying the message of da'wah must be conducted accurately and relevantly to the intended audience. The legal basis for da'wah has been established in the Qur'an and Hadith. Referring to Surah An-Nahl verse 125 of the Qur'an, Muslims are not only commanded to carry out da'wah but are also provided guidelines regarding the methodology of its implementation. This verse outlines that da'wah should be conducted in a wise manner and in harmony with the principles of religious teachings. This research examines the da'wah strategy of KH. Lanre Said, a prominent Islamic figure and preacher in Sulawesi, based on the book "JEJAK DAKWAH KH. LANRE SAID Ulama Pejuang dari DI/TII hingga Era Reformasi" (The Da'wah Trail of KH. LANRE SAID: A Warrior Scholar from DI/TII to the Reformation Era). This study employs a library research method with a qualitative approach. Data is collected through observation, documentation, and interviews, with the researcher as the primary instrument. The research focuses on KH. Lanre Said's da'wah journey from the Dutch colonial period to the establishment of his Islamic boarding school. The researcher's tasks include determining the research focus, selecting informants, collecting data, evaluating data quality, analyzing, interpreting, and drawing conclusions based on findings. The approach used is a qualitative method, where data is processed in the form of verbal descriptions. The aim is to present the research results clearly and comprehensively, both for the researcher and readers, and to avoid ambiguity in understanding the research findings.
Merajut Identitas Budaya: Eksistensi Tembe Nggoli sebagai Warisan Tekstil Tradisional Masyarakat Bima NTB Haif, Abu; Sumirah; Summiati; Hidayatullah, Asnawi
Arus Jurnal Sosial dan Humaniora Vol 4 No 3: Desember (2024)
Publisher : Arden Jaya Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57250/ajsh.v4i3.706

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan, memaparkan tentang kerajinan tekstil tradisional masyarakat Bima NTB yaitu tembe nggoli, proses pembuatan dan makna corak tembe nggoli, bagaimana pelestarian serta pengembangan kerajian tembe nggoli sebagai warisan budaya. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif, jenis penelitian adalah library research. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah studi literatur. Hasil penelitian menunjukan bahwa; 1) tembe nggoli jika dilihat dari sisi sejarah kemunculannya, belum dipastikan kapan dan tahun berapa kemunculan daripada kerajinan tembe nggoli ini. Namun tembe nggoli diperikirakan telah ada sebelum masa kesultanan Bima, hal tersebut dapat dilacak baik pada sumber lisan maupun tulisan khususnya yang terdapat catatan sejarah Bima. 2) proses pembuatan kerajinan tekstil tradisonal ini tentunya butuh beberapa hal yang harus dipersiapkan, alat dan bahan menjadi kebutuhan utama yang disiapakan. Mengetahui proses pembuatan kerajinan ini bukanlah fokus utamanya, sebab fokus utamanya terdapat pada pada corak yang ada dalam  kerajinan tembe nggoli. 3) tembe nggoli (sarung nggoli) oleh pemerintah Bima  terutama oleh pengrajinnya sejauh ini masih terus dilestarikan sebab ia merupakan salah satu warisan budaya, tidak lepas pula karena banyaknya permintaan oleh masyarakat Bima ketika memperingati hari jadi Bima, serta perayaan hari-hari tertentu, seperti perayaan hari kemerdekaan indonesia serta even-even tertentu yang diadakan di Bima.
Mediasi Pengetahuan Islam Modern melalui Layanan Perpustakaan di Jepang Umar, Touku; Haif, Abu
Literatify: Trends in Library Developments Vol 7 No 1 (2026): MARCH
Publisher : UPT Perpustakaan UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/literatify.v7i1.64406

Abstract

This study examines the mediation of modern Islamic knowledge through library services in Japan as a response to the increasing demand for Islamic information within a multicultural and predominantly non-Muslim society. This topic is significant because libraries play a strategic role not only as information centers but also as spaces for intercultural and interreligious dialogue in fostering a moderate, inclusive, and academically grounded understanding of Islam. This research employs a literature review method by examining scholarly sources such as books, journal articles, research reports, and library policy documents relevant to modern Islam and library services in Japan. Data collection was conducted through a systematic literature search, source selection based on relevance and credibility, and thematic categorization of the reviewed materials. The data were analyzed using content analysis to identify patterns, concepts, and forms of mediation of Islamic knowledge within library services. The findings indicate that the development of multilingual collections, the provision of academic resources on modern Islam, and information literacy programs are the main strategies used by libraries to mediate Islamic knowledge. Libraries in Japan contribute to presenting a contextual and scholarly understanding of Islam.
Dinamika Islamisasi dan Peran Pemikiran Muhammad Basiuni Imran di Sambas, Kalimantan Barat Haif, Abu; Sabari Sabari; Zulfikar Ghazali
Jurnal Riset Rumpun Agama dan Filsafat Vol. 5 No. 2 (2026): Agustus : Jurnal Riset Rumpun Agama dan Filsafat
Publisher : Pusat Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/jurrafi.v5i2.8202

Abstract

Islamization in Sambas, West Kalimantan, represents a historical and evolving process influenced by trade routes, the political dynamics of local kingdoms, and the transmission of Islamic knowledge through networks of scholars and local intellectuals. This process extended beyond the mere dissemination of religious teachings, encompassing significant social, cultural, and educational transformations within the community. A central figure in this Islamization process was Muhammad Basiuni Imran (1885–1976), the Maharaja Imam of the Sambas Sultanate, who played a pivotal role in reforming Islamic education and strengthening religious understanding among the local population. This article employs a historical-qualitative approach and library research to trace the trajectory of Islamization in Sambas while analyzing Basiuni Imran’s contributions within the socio-cultural context of the region. The findings reveal that Basiuni Imran’s thought reinforced Islamization through the modernization of Islamic education, the integration of Sharia with local customs, and the establishment of adaptive religious structures, thereby significantly shaping the religious life of the Sambas community from the colonial period to the early years of Indonesia’s independence.
Tradisi Berpakaian Mispa Pasca-Haji dalam Masyarakat Bugis: Studi Kasus Desa Bulu-Bulu, Tonra Abu Haif; Hasriah Hasanuddin; Muh. Fauzi Isnan; Khaerunnisa Wahid; Firman Natzir; Nur Aidah Fauziah; Nurul Fatimah
Refleksi: Jurnal Kajian Agama dan Filsafat Vol. 24 No. 2 (2025)
Publisher : Faculty of Ushuluddin Syarif Hidayatullah State Islamic University, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/refleksi.v24.i2.42818

Abstract

This study examines the tradition of wearing Mispa among the Bugis community in Bulu-Bulu Village, Tonra District, following the performance of the Hajj, from the perspectives of Islamic law and the sociology of religious law. The study aims to explore the social, cultural, and religious foundations underlying the persistence of the Mispa tradition among female pilgrims, as well as to analyze the normative tension between customary practices and Islamic legal prescriptions regarding aurat (modesty requirements). This research employs a qualitative field research method using normative-juridical and empirical approaches, with data collected through observation, in-depth interviews, and documentation. The findings reveal that the tradition of wearing Mispa functions not merely as an item of clothing but as a symbol of honor (siri’), spiritual commitment, and a marker of social identity within Bugis society. The tradition also encompasses socio-economic and cultural dimensions through the involvement of local artisans and constitutes an integral part of post-Hajj cultural expression. However, from the perspective of Islamic law, the practice of wearing Mispa, particularly the use of transparent fabric, raises normative concerns, as it potentially contradicts Islamic prescriptions regarding the covering of aurat. These findings highlight the existence of a dynamic negotiation between customary law and Islamic law, underscoring the importance of cultural and contextual approaches in responding to local religious practices within the demands of Islamic normative frameworks.
Tahqiq Sanad dalam Ar-Rahiq Al-Makhtum: Kajian Historiografi Sirah Nabawiyah Abu Haif; Indah Sari Dewi; Tuti Wahyuni; Abdul Mutholib; Arjung Marendeng
Journal of Innovative and Creativity (Joecy) Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v6i2.12198

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan tahqiq sanad dalam Ar-Rahiq Al-Makhtum karya Ṣafiyyurraḥmān al-Mubārakfūrī serta kontribusinya terhadap historiografi Sirah Nabawiyah kontemporer. Kajian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya validitas sumber dalam penulisan sejarah Nabi Muhammad saw., mengingat sebagian besar data Sirah Nabawiyah berasal dari tradisi periwayatan yang memiliki keterkaitan erat dengan ilmu hadis. Penelitian menggunakan metode penelitian kepustakaan (library research) dengan pendekatan historiografi dan kritik sanad. Sumber primer penelitian adalah Ar-Rahiq Al-Makhtum, sedangkan sumber sekunder berupa buku, artikel jurnal nasional terakreditasi, dan jurnal internasional yang relevan dengan kajian sirah dan metodologi hadis. Data dianalisis melalui teknik analisis isi (content analysis) dan pendekatan historis-kritis untuk mengidentifikasi pola penggunaan riwayat serta metode seleksi sumber yang diterapkan oleh penulis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa al-Mubārakfūrī menerapkan tahqiq sanad secara substantif melalui pemilihan riwayat-riwayat yang bersumber dari hadis sahih dan literatur sirah yang otoritatif. Metode tersebut dilakukan melalui proses seleksi, komparasi, dan tarjih terhadap berbagai riwayat sejarah yang tersedia. Analisis terhadap riwayat wahyu pertama, hijrah, Baiat Aqabah, dan Fathu Makkah menunjukkan bahwa penulis cenderung mengutamakan riwayat yang memiliki dukungan sanad yang kuat dan diterima oleh mayoritas ulama. Temuan penelitian ini menegaskan bahwa Ar-Rahiq Al-Makhtum tidak hanya berfungsi sebagai karya biografi Nabi Muhammad saw., tetapi juga sebagai model historiografi Sirah Nabawiyah modern yang mengintegrasikan prinsip kritik hadis dan penulisan sejarah secara sistematis. Dengan demikian, tahqiq sanad memiliki peran penting dalam menjaga kredibilitas dan validitas historiografi Sirah Nabawiyah kontemporer.
Dinamika Islamisasi di Nusantara: Kajian Historis Tentang Proses Penyebaran Islam di Indonesia Abu Haif; Indah Sari Dewi; Tuti Wahyuni; Abdul Mutholib; Arjung Marendeng
Journal of Innovative and Creativity (Joecy) Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v6i2.12248

Abstract

Kajian mengenai Islamisasi di Nusantara telah menjadi salah satu tema penting dalam historiografi Islam Indonesia. Namun demikian, sebagian besar penelitian terdahulu cenderung berfokus pada perdebatan mengenai asal-usul kedatangan Islam melalui teori Gujarat, Arab, Persia, maupun Cina, sehingga masih terdapat keterbatasan kajian yang mengintegrasikan berbagai faktor penyebaran Islam dalam satu kerangka historis yang komprehensif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dinamika Islamisasi di Nusantara dengan menelaah teori-teori kedatangan Islam, jalur-jalur penyebaran yang berkembang, serta transformasi sosial-politik yang ditimbulkan oleh proses Islamisasi dalam masyarakat Indonesia. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode sejarah melalui tahapan heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Data penelitian diperoleh melalui studi kepustakaan yang bersumber dari naskah sejarah, buku akademik, serta artikel ilmiah yang relevan, khususnya yang terindeks Scopus dalam sepuluh tahun terakhir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Islamisasi di Nusantara berlangsung secara bertahap melalui jaringan perdagangan, perkawinan, pendidikan, tasawuf, dan dukungan politik kerajaan-kerajaan Islam. Keberhasilan penyebaran Islam tidak hanya dipengaruhi oleh faktor ekonomi dan dakwah, tetapi juga oleh kemampuan para penyebar Islam dalam melakukan akulturasi dengan budaya lokal. Selain itu, Islamisasi telah menghasilkan transformasi sosial, budaya, dan politik yang berkontribusi terhadap terbentuknya peradaban Islam Nusantara yang moderat, inklusif, dan adaptif. Penelitian ini menegaskan bahwa Islamisasi di Nusantara merupakan proses multidimensional yang melibatkan interaksi antara faktor lokal, regional, dan global sehingga tidak dapat dijelaskan melalui satu teori tunggal.
Baju Bodo from a Cultural Perspective: Exploring the Meaning of Traditional Dress in Bugis-Makassar Culture Abu Haif; Risdayanti Risdayanti; Muhammad Awal Rafi Abdillah Rajab; Muhammad Raehan Ramdhani; Hikmawati Z; Ahmad Syihab
JUSPI (Jurnal Sejarah Peradaban Islam) Vol 10, No 1 (2026)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30829/juspi.v10i1.29481

Abstract

This study aims to examine the symbolic meanings of Baju Bodo, the traditional attire of the Bugis-Makassar community, analyze its aesthetic interpretations in contemporary contexts, and explore the transformation of its meanings amid social and cultural change. Employing a qualitative approach with a descriptive-interpretative method, this study is based on a library research design. Data were collected through an extensive review of relevant scholarly literature, previous studies, and cultural documents, and were analyzed using Roland Barthes’ semiotic framework and the perspective of cultural aesthetics. The findings reveal that Baju Bodo functions not merely as traditional clothing but also as a cultural symbol that represents social stratification, moral values, collective identity, and the worldview of the Bugis-Makassar community. The symbolism embedded in its colors, forms, and patterns of use reflects a complex system of cultural values and social norms that has been transmitted across generations. Furthermore, the study demonstrates that modernization, globalization, social media, and the fashion industry have contributed to a transformation in the meaning of Baju Bodo, shifting its function from a predominantly symbolic cultural artifact toward a stronger emphasis on aesthetic expression and individual representation. Nevertheless, Baju Bodo continues to serve as a significant marker of cultural identity and local heritage. Therefore, its preservation should extend beyond maintaining its physical form to encompass the safeguarding and revitalization of the symbolic meanings and cultural values embedded within it.