Claim Missing Document
Check
Articles

Studi Tumbuhan Obat Tradisional Berkhasiat Antidiabetes di Kecamatan Balinggi Kabupaten Parigi Moutong Provinsi Sulawesi Tengah Syariful Anam; Ni Luh Yeni Safitri; Muhamad Rinaldhi Tandah; Khusnul Diana
Journal of Pharmascience Vol. 10 No. 2 (2023): Jurnal Pharmascience
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v10i2.14229

Abstract

Diabetes mellitus (DM) adalah penyakit degeneratif dengan karakteristik khas berupa kadar gula darah melebihi angka normal. Data tahun 2019 menunjukkan angka penderita DM di Kabupaten Parigi Moutong sebesar 33.873 jiwa. Studi ini bertujuan untuk mendapatkan data jenis, bagian dan cara penggunaan tumbuhan obat tradisional untuk pengobatan DM oleh masyarakat di Kecamatan Balinggi Kabupaten Parigi Moutong. Penelitian ini dilakukan dengan metode purposive sampling dalam periode bulan Oktober 2021-Mei 2022. Hasil penelitian diperoleh 22 spesies tumbuhan obat yang terdiri dari 17 famili. Persentase bagian tumbuhan yang digunakan untuk pengobatan antidiabetes, yaitu daun 73,01%, kulit batang 11,11%, buah 6,34%, rimpang 4,76%, dan tumbuhan utuh 4,76%. Persentase cara pengolahan tumbuhan obat yang digunakan yaitu direbus 71,88%, diseduh 9,38%, diparut 6,25%, ditumbuk/dilumat 6,25%, dan diremas 6,25%. Studi ini menunjukkan bahwa tumbuhan yang paling banyak digunakan untuk pengobatan antidiabetes yaitu kersen (11,4%), kelor (11,4%) dan kayu manis (11,4%) serta tumbuhan lain seperti klorofil (10%), sembung (5,7%), kunyit (5,7%), kumis kucing (5,7%), ciplukan (4,3%), insulin (4,3%), mahkota dewa (4,3%), sambiloto (4,3%), pinang (2,9%), salam (2,9%), belimbing wuluh (2,9%), sirih merah (2,9%), jarak pagar (1,4%), bengkuang (1,4%), meniran (1,4%), mengkudu (1,4%), brotowali (1,4%), beluntas (1,4%), dan dadap (1,4%). Kata Kunci: Etnofarmakologi, Diabetes Mellitus, Obat Tradisional, Jamu, Kecamatan Balinggi Diabetes mellitus (DM) is a degenerative disease with distinctive characteristics in the form of blood sugar levels that exceed expected levels. Data for 2019 show that the number of DM sufferers in the Parigi Moutong Regency is 33,873. This study aims to obtain data on the types, parts, and ways of using traditional medicinal plants to treat DM by the community in Balinggi District, Parigi Moutong Regency. This research was conducted using the purposive sampling method from October 2021-May 2022. The results obtained were 22 species of medicinal plants consisting of 17 families. The percentage of plant parts used for anti-diabetic treatment, namely leaves 73.01%, bark 11.11%, fruit 6.34%, rhizomes 4.76%, and whole plants 4.76%. The percentage of medicinal plant processing methods used was 71.88% boiled, 9.38% brewed, 6.25% grated, 6.25% crushed/crushed, and 6.25% crushed. This study shows that the plants most widely used for anti-diabetic treatment are kersen (11,4%), moringa (11,4%), and cinnamon (11,4%) other plants such as klorofil (10%), sembung (5,7%), turmeric (5,7%), kumis kucing (5,7%), ciplukan (4,3%), insulin (4,3%), mahkota dewa (4,3%), sambiloto (4,3%), areca nut (2,9%), salam (2,9%), carambola wuluh (2,9%), red betel (2,9%), jarak pagar (1,4%), bengkuang (1,4%), meniran (1,4%), noni (1,4%), brotowali (1,4%), beluntas (1,4%), dan dadap (1,4%).
Analisis Efektivitas Biaya Penggunaan Antibiotik Levofloksasin dan Azitromisin pada Pasien Penderita Corona Virus Disease-19 pada Tahun 2021 di RSUD Madani Palu: Cost-Effectiveness Analysis of Levofloxacin and Azithromycin Antibiotics Usage in Patients with Corona Virus Disease-19 in 2021 at Madani Hospital in Palu Muhamad Rinaldhi Tandah; Ririen Hardani; Nurhafifah Wulandari Kassa; Nurul Ambianti
Media Publikasi Promosi Kesehatan Indonesia (MPPKI) Vol. 6 No. 7 (2023)
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/mppki.v6i7.3262

Abstract

Latar belakang: Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2 (SARS-CoV-2 yang dapat menyebabkan gejala gangguan pernapasan akut seperti demam, batuk dan sesak napas. Dalam penatalaksanaannya, Covid-19 membutuhkan biaya yang besar. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui antibiotik manakah yang paling cost-effective antara azitromisin dan levofloksasin dalam pengobatan Corona Virus Disease-2019 periode 2021 di RSUD Madani Palu. Metode: Desain penelitian ini adalah observasional cross-sectional dengan pengambilan data pasien secara retrospektif (Januari-Desember 2021). Metode penelitian pada penelitian ini adalah purposive sampling. Analisis efektivitas biaya dilakukan dengan menghitung Average Cost Effectiveness Ratio (ACER) dan Incremental Cost Effectiveness Ratio (ICER). Hasil: Jenis kelamin laki-laki sebesar 51% dengan usia 26-45 tahun dibandingkan perempuan sebesar 49%, dan lama rawat inap terbanyak 14 hari. Biaya medis langsung pasien pengguna azitromisin lebih rendah sebesar Rp1.659.698,66 dibandingkan pasien pengguna levofloksasin sebesar Rp1.711.361,17. Nilai ACER antibiotik azitromisin sebesar Rp92.205 dan nilai ACER antibiotik levofloksasin sebesar Rp136.939. Kesimpulan: Dapat disimpulkan bahwa kelompok terapi antibiotik azitromisin lebih cost-effective dibandingkan dengan kelompok terapi antibiotik levofloksasin.