Claim Missing Document
Check
Articles

Pola dan Fungsi Akronim Bahasa Gaul Siswa SMK Muhammadiyah 8 Siliragung dalam Komunikasi WA Cici Arista; Hari Windu Asrini
Didaktik : Jurnal Ilmiah PGSD STKIP Subang Vol. 12 No. 02 (2026): Volume 12 Nomor 02, Juni 2026 Published
Publisher : STKIP Subang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36989/didaktik.v12i02.12346

Abstract

This study aims to describe the patterns and communicative functions of slang acronyms used by students of SMK Muhammadiyah 8 Siliragung in WhatsApp communication. The research employs a descriptive qualitative approach.The data were obtained from students’ WhatsApp group conversations and collected through observation, reading, note-taking, and documentation techniques. The date were then analyzed based on morphological theory, particularly acronym formation, and the language function theory proposed by Roman Jakobson. The findings indicate that slang acronyms used by students are formed through several systematic patterns, including the retention of initial letters or syllables, the combination of syllables and letters, the selection of specific syllables with phonological modification, and word truncation. Although non-standard, these acronyms still adhere to Indonesian phonotactic principles, making them pronounceable and comprehensible within the speech community. Furthermore, the analysis of language functions reveals that the acronyms perform various communicative functions, namely conative, emotive, referential, and poetic functions. Among these, conative and emotive functions are the most dominant, as acronyms are frequently used to express commands, invitations, emotions, and personal attitudes in informal digital interactions. The referential and poetic functions demonstrate that acronyms also serve to convey information and create humorous or aesthetic effects. Overall, the use of slang acronyms reflects students’ linguistic creativity and social identity in digital communication, contributing to the study of morphology and pragmatics in contemporary Indonesian language use.
Code-Switching sebagai Representasi Identitas Remaja di Media Sosial: Tinjauan Psikolinguistik Sosial: Code-Switching as a Representation of Adolescent Identity on Social Media: A Social Psycholinguistic Perspective Elif Nashikhatul Maziyah; Hari Windu Asrini; Joko Widodo
Adjektiva: Educational Languages and Literature Studies Vol. 8 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/adjektiva.v8i2.5474

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi praktik code-switching dalam komunikasi digital remaja serta bagaimana fenomena tersebut merefleksikan dan membentuk identitas diri mereka. Dengan menggunakan pendekatan psikolinguistik sosial dan metode kualitatif studi kasus, data diperoleh melalui observasi unggahan media sosial (WhatsApp, Instagram, TikTok) dan wawancara mendalam dengan sepuluh remaja berusia 15–18 tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa alih kode tidak hanya merupakan fenomena linguistik semata, melainkan juga sarana strategis dalam menegosiasikan persona sosial, menunjukkan afiliasi kelompok, serta mengekspresikan emosi dan nilai budaya. Remaja menggunakan alih kode untuk menunjukkan kedekatan, membangun kepercayaan, hingga menciptakan gaya bahasa yang khas di ruang digital. Temuan ini menegaskan bahwa code-switching berfungsi sebagai praktik identitas yang sadar konteks dan sarat makna simbolik. Penelitian ini berkontribusi pada pemahaman tentang dinamika bahasa dan identitas remaja dalam era digital, serta membuka ruang refleksi tentang pentingnya literasi bahasa dan budaya dalam pendidikan.
Analisis Bahasa dan Representasi Gender dalam Buku Cerita Anak Indonesia Iffah Masfufah; Hari Windu Asrini
ESTETIK : Jurnal Bahasa Indonesia Vol. 9 No. 1 (2026): Mei
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Curup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29240/estetik.v9i1.14344

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penggunaan bahasa dan representasi gender dalam buku cerita anak Indonesia. Kajian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya peran buku cerita anak sebagai media pembentuk persepsi dan nilai-nilai sosial pada anak sejak usia dini. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan analisis wacana kritis, penelitian ini menelaah sejumlah buku cerita anak yang diterbitkan dalam kurun waktu lima tahun terakhir. Fokus analisis diarahkan pada pilihan kata, peran tokoh, deskripsi karakter, serta hubungan antar tokoh laki-laki dan perempuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masih terdapat kecenderungan stereotip gender dalam narasi dan ilustrasi, di mana tokoh laki-laki lebih sering digambarkan aktif, pemberani, dan dominan, sementara tokoh perempuan cenderung ditampilkan sebagai pasif, penurut, dan berorientasi pada peran domestik. Meskipun demikian, beberapa buku mulai menunjukkan representasi yang lebih setara dan inklusif. Temuan ini menunjukkan perlunya kesadaran kritis dalam produksi maupun pemilihan bahan bacaan anak agar mampu mencerminkan nilai-nilai kesetaraan gender dan mendukung pembentukan identitas anak yang lebih adil dan seimbang.
Language Games dalam Pemakaian Bahasa Indonesia di Media Sosial Tiktok Iffah Masfufah; Hari Windu Asrini; Ekarini Saraswati
ESTETIK : Jurnal Bahasa Indonesia Vol. 9 No. 1 (2026): Mei
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Curup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29240/estetik.v9i1.15910

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk, fungsi, makna sosial, serta pemanfaatan language games dalam pemakaian bahasa Indonesia di media sosial TikTok terhadap pembelajaran Bahasa Indonesia di SMKN 1 Cikulur. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan landasan teori language games Ludwig Wittgenstein, sosiolinguistik, dan pragmatik untuk memahami praktik kebahasaan dalam ruang komunikasi digital. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, dokumentasi, dan angket. Data penelitian berupa unggahan video, caption, dan komentar pengguna TikTok yang dikumpulkan pada periode November hingga Desember 2025, serta data pendukung dari guru dan siswa SMKN 1 Cikulur. Analisis data dilakukan menggunakan teknik analisis isi melalui tahapan reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa language games di TikTok muncul dalam bentuk bahasa gaul, modifikasi ejaan, pemendekan kata, penciptaan kata baru, serta penggunaan emoji dan hashtag. Dari aspek fungsi dan makna sosial, language games berfungsi sebagai sarana ekspresi, hiburan, pembangun keakraban sosial, dan penanda identitas kelompok. Selain itu, pemanfaatan language games dalam pembelajaran Bahasa Indonesia mampu meningkatkan motivasi, kreativitas berbahasa, dan pemahaman siswa terhadap variasi bahasa dalam konteks digital. Penelitian ini menyimpulkan bahwa language games merupakan fenomena kebahasaan yang relevan untuk dikaji dan dimanfaatkan secara kritis dalam pembelajaran Bahasa Indonesia yang kontekstual
Analisis Penyimpangan Etik dalam Bahasa Iklan Kuliner di Youtube dan Pemanfaatannya dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas XII Anisa Kapeanis; Hari Windu Asrini; Ekarini Saraswati
ESTETIK : Jurnal Bahasa Indonesia Vol. 9 No. 1 (2026): Mei
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Curup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29240/estetik.v9i1.15913

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penyimpangan etik dalam bahasa iklan kuliner di YouTube serta pemanfaatannya dalam pembelajaran Bahasa Indonesia kelas XII. Penelitian ini memfokuskan kajian pada bentuk, fungsi, dan makna penggunaan bahasa iklan yang menyimpang dari norma dan etika berbahasa, khususnya aspek diksi, gaya bahasa, dan tindak tutur. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan pisau analisa pisau analisa etika komunikasi, semantik, dan pragmatik. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui dokumentasi dan transkripsi terhadap iklan kuliner yang diunggah di YouTube pada periode Januari 2024 hingga Januari 2025. Data penelitian terdiri atas 40 iklan kuliner namun dalam penelitian ini yang di tampilkan hanya 5 data, yang dianalisis berdasarkan indikator penyimpangan etik meliputi klaim berlebihan, penyamaran fakta atau informasi menyesatkan, serta manipulasi emosi dan stereotip sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyimpangan etik dalam bahasa iklan kuliner di YouTube dominan ditandai oleh penggunaan diksi hiperbolis, gaya bahasa manipulatif, dan tindak tutur persuasif yang menyiratkan jaminan tanpa dasar faktual. Penyimpangan etik digunakan sebagai strategi untuk menarik perhatian, membangun citra produk, dan menggugah emosi audiens secara tidak proporsional. Praktik tersebut mencerminkan pergeseran fungsi bahasa iklan dari media informasi menjadi alat pembentuk persepsi dan emosi konsumen, yang berdampak pada citra bahasa Indonesia dan kesantunan berbahasa di ruang digital. Peneliti menyimpulkan bahwa bahasa iklan kuliner di YouTube masih memerlukan penguatan prinsip etika komunikasi agar tidak menyesatkan publik. Temuan penelitian ini dapat dimanfaatkan sebagai bahan ajar kontekstual dalam pembelajaran Bahasa Indonesia kelas XII untuk menumbuhkan sikap kritis, etis, dan bertanggung jawab dalam menghadapi teks iklan di media digital.
Model Perencanaan Program Literasi Madrasah Tsanawiyah: Implementasi di 16 Madrasah Wilayah Kerja 5 Lumajang Ayu Puspitasari; Hari Sunaryo; Hari Windu Asrini
ESTETIK : Jurnal Bahasa Indonesia Vol. 9 No. 1 (2026): Mei
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Curup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29240/estetik.v9i1.15930

Abstract

Penelitian ini mengkaji model perencanaan program literasi yang diimplementasikan di 16 Madrasah Tsanawiyah dalam Wilayah Kerja 5 Kabupaten Lumajang. Penelitian ini menjawab kesenjangan pemahaman tentang bagaimana madrasah merancang program literasi komprehensif yang mengintegrasikan literasi baca tulis, literasi digital, serta literasi budaya dan kewarganegaraan dalam kerangka pendidikan Islam. Menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan kepala madrasah, guru, pustakawan, dan siswa, dilengkapi observasi langsung serta analisis dokumen. Temuan mengungkapkan heterogenitas signifikan dalam kualitas perencanaan, dengan lima madrasah mencapai kategori sangat baik melalui dokumentasi sistematis, pelibatan aktif pemangku kepentingan, integrasi anggaran, dan periodisasi terstruktur. Sebaliknya, empat madrasah menunjukkan perencanaan tidak memadai yang ditandai dokumentasi minimal, absennya pustakawan, dan ketiadaan alokasi anggaran. Determinan kualitas perencanaan meliputi kepemimpinan visioner, kompetensi sumber daya manusia, alokasi anggaran memadai, dan kolaborasi antar komponen. Penelitian ini berkontribusi menghasilkan kerangka perencanaan literasi holistik bagi madrasah yang dapat dijadikan model rujukan lembaga pendidikan Islam dalam mengembangkan budaya literasi berkelanjutan.
AKUISISI BAHASA JAWA PADA ANAK-ANAK GENERASI KEDUA/KETIGA MIGRAN DI LAMPUNG: TINJAUAN PSIKOLINGUISTIK Feryanti Kurnia Andi; Joko Widodo; Hari Windu Asrini
Tajdid: Jurnal Pemikiran Keislaman dan Kemanusiaan Vol. 9 No. 2 (2025): Oktober
Publisher : LP2M IAI Muhammadiyah Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52266/tadjid.v9i2.4986

Abstract

Artikel ini meninjau fenomena akuisisi bahasa Jawa pada anak-anak generasi kedua dan ketiga migran di Lampung dari perspektif psikolinguistik. Sebagai salah satu daerah tujuan transmigrasi utama dari Jawa, Lampung menyajikan lingkungan multilingual yang kompleks, di mana anak-anak terpapar bahasa Jawa di rumah dan bahasa Indonesia di lingkungan yang lebih luas. Penelitian ini mengeksplorasi bagaimana interaksi antara kedua bahasa ini memengaruhi proses pemerolehan bahasa Jawa sebagai bahasa warisan. Fokus utama adalah pada faktor-faktor psikolinguistik yang berperan, meliputi kualitas dan kuantitas input bahasa, motivasi dan sikap anak terhadap bahasa Jawa, serta fungsi komunikatif bahasa tersebut dalam kehidupan sehari-hari mereka. Pembahasan juga mencakup fenomena transfer dan interferensi antarbahasa yang terjadi dalam sistem kognitif anak bilingual, serta dampak dominansi bahasa Indonesia terhadap penguasaan bahasa Jawa. Hasil tinjauan menunjukkan bahwa akuisisi yang tidak optimal dapat menimbulkan tantangan bagi identitas budaya anak, meskipun paparan bilingualisme juga berpotensi meningkatkan kesadaran metalinguistik. Artikel ini menyimpulkan pentingnya upaya terencana dari keluarga dan komunitas untuk menciptakan lingkungan yang mendukung akuisisi bahasa Jawa secara aktif, demi keberlanjutan bahasa dan pelestarian identitas budaya Jawa di Lampung.
PERFORMATIF BAHASA RITUAL CUCURANGI TOGO LASALIMU DALAM PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA BERBASIS BUDAYA LOKAL Harun Harun; Hari Windu Asrini
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v6i3.11741

Abstract

This research is motivated by the increasingly eroded existence of local ritual languages ​​due to the currents of globalization and modernization of community communication patterns. The focus of the problem in this research is directed at a descriptive analysis of the form and performative function of speech acts in the Cucurangi Togo rite of the Lasalimu community, Buton Regency, and its formulation as a contextual teaching resource. Using a qualitative approach with a linguistic ethnography design, the important stages in this research are carried out systematically through participatory observation of the sacred stone object of Wacukamboy, in-depth interviews with nine key informants, textual transcription, pragmatic classification, and anthropolinguistic interpretation. The research findings reveal that this five-year oral tradition is dominated by declarative and imperative utterances that have multidimensional performative functions. The locutionary, illocutionary, and perlocutionary structures contained therein do not merely convey verbal information, but embody spiritual-social actions in the form of collective salvation prayers, rituals asking for forgiveness (somba waopu), and strengthening integrative cohesion (may topoose-ose). The main conclusion confirms that the ritual language of Cucurangi Togo is highly valid and effective when integrated as a local wisdom-based Indonesian language instructional medium in schools. This traditional instrument is highly relevant for supporting pragmatics materials, cultural description texts, and strengthening the pillars of religious character education in students on an ongoing basis. ABSTRAK Penelitian ini dilatarbelakangi oleh semakin terkikisnya eksistensi bahasa ritual lokal akibat arus globalisasi dan modernisasi pola komunikasi masyarakat. Fokus masalah dalam riset ini diarahkan pada analisis deskriptif mengenai bentuk dan fungsi performatif tindak tutur dalam ritus Cucurangi Togo masyarakat Lasalimu, Kabupaten Buton, serta formulasinya sebagai sumber ajar kontekstual. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain etnografi linguistik, tahapan penting dalam penelitian ini dijalankan secara sistematis melalui observasi partisipatif pada objek batu keramat Wacukamboy, wawancara mendalam bersama sembilan informan kunci, transkripsi tekstual, klasifikasi pragmatik, hingga interpretasi antropolinguistik. Temuan riset menyingkapkan bahwa tradisi lisan lima tahunan ini didominasi oleh tuturan deklaratif dan imperatif yang memiliki fungsi performatif multidimensional. Struktur lokusi, ilokusi, dan perlokusi yang terkandung di dalamnya tidak sekadar menyampaikan informasi verbal, melainkan mengejawantahkan tindakan spiritual-sosial berupa doa keselamatan kolektif, ritual permohonan ampun (somba waopu), serta penguatan kohesi integratif (may topoose-ose). Simpulan utama menegaskan bahwa bahasa ritual Cucurangi Togo sangat valid dan efektif diintegrasikan sebagai media instruksional Bahasa Indonesia berbasis kearifan lokal di sekolah. Perangkat tradisi ini sangat relevan untuk menyokong materi pragmatik, teks deskripsi budaya, serta penguatan pilar pendidikan karakter religiusitas peserta didik secara berkelanjutan.    
Membangun Etika Digital Gen-Z sebagai Upaya Pencegahan Ujaran Kebencian Guna Meningkatkan Literasi Digital di SMK Muhammadiyah 2 Penajam Paser Utara Rohmad Widodo; Budiono; Hari Windu Asrini
Journal of Education Religion Humanities and Multidiciplinary Vol. 4 No. 1 (2026): Juni 2026
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/jerumi.v4i1.8698

Abstract

Perkembangan teknologi digital mendorong peningkatan penggunaan media sosial oleh generasi muda, namun juga menghadirkan tantangan berupa rendahnya pemahaman etika digital yang dapat memicu munculnya ujaran kebencian di ruang digital. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan membangun etika digital Gen-Z sebagai upaya pencegahan ujaran kebencian guna meningkatkan literasi digital di SMK Muhammadiyah 2 Penajam Paser Utara. Metode pengabdian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif melalui tahapan sosialisasi, pelatihan, dan pendampingan. Pengumpulan data observasi, dokumentasi, wawancara, serta evaluasi pre-test dan post-test terhadap peserta kegiatan. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman peserta mengenai etika digital, literasi digital, dan penggunaan media sosial secara bertanggung jawab, dengan peningkatan nilai rata-rata dari 58,7 menjadi 82,4 setelah mengikuti kegiatan. Kegiatan ini menunjukkan bahwa penguatan etika digital melalui pendekatan edukatif dan partisipatif mampu mendukung terbentuknya perilaku digital yang positif di lingkungan sekolah.
Fungsi Sosial Tuturan Mitos Kehamilan pada Masyarakat Jawa di Malang Selatan Susita Rahayu; Hari Windu Asrini
Simpati Vol. 4 No. 3 (2026): Juli: Jurnal Penelitian Pendidikan dan Bahasa
Publisher : CV. Alim's Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59024/simpati.v4i3.1932

Abstract

This study discusses the social functions of speech in pregnancy myths within the Javanese community of South Malang through a sociolinguistic perspective. The purpose of this study is to describe the forms of social functions found in pregnancy myth utterances and the sociolinguistic meanings contained within them. This research employed a descriptive qualitative approach with data collection techniques consisting of observation, interviews, and documentation. The research data were in the form of oral utterances delivered by mothers, grandmothers, elders, husbands, and traditional birth attendants to pregnant women. The results of the study indicate that pregnancy myth utterances have four social functions, namely educational, regulative, protective, and cultural inheritance functions. The protective function is the most dominant because most utterances contain prohibitions and advice aimed at protecting pregnant women and unborn babies from physical, psychological, and spiritual risks. Pregnancy myth utterances reflect the close relationship between language, culture, belief systems, and the social life of the Javanese community in South Malang, which has been passed down from generation to generation.