Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Joyful Learning Journal

ANALISIS LEVEL BERPIKIR KRITIS MATEMATIS MAHASISWA MENURUT BLOOM MATERI ARITMATIKA SOSIAL -, Astuti; Hanip, Rival; Kaize, Bernadetha Rizki; Priyudahari, Bhujangga Ayu Putu
Joyful Learning Journal Vol. 14 No. 3 (2025): Joyful Learning Journal: September 2025
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jlj.v14i3.34506

Abstract

Berpikir kritis merupakan salah satu dari empat kemampuan berpikir yang diharapkan dikuasai mahasiswa sebelum masuk ke dunia kerja. Penelitian bertujuan untuk mengukur kemampuan berpikir kreatif dan menganalisis level berpikir kritis matematis materi aritmatika berdasarkan level Bloom. Metode yang dipakai peneliti yakni metode kualitatif deskriptif dengan pengambilan secara purposive random sampling. Hasil penelitian menunjukkan jika 60% mahasiswa mampu menghasilkan jawaban tepat untuk soal berpikir kritis matematis, 1 mahasiswa tidak memenuhi level berpikir kritis, 3 mahasiswa berada pada level 0, 1 mahasiswa pada level 1,  4 mahasiswa di level 2, serta 11 mahasiswa di level 6.
STRATEGI MANAJEMEN KELAS RESPONSIF BUDAYA DI PAPUA:ANALISIS TANTANGAN DAN ADAPTASI LINGUISTIK MAHASISWA Putu Priyudahari, Bhujangga Ayu; Suteki, Mega; Astuti; Sijabat, Survey
Joyful Learning Journal Vol. 15 No. 1 (2026): Joyful Learning Journal: Maret 2026
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jlj.v15i1.36188

Abstract

Lingkungan multietnis di Jurusan Pendidikan Komputer menjadi dasar dari tantangan manajemen kelas serta kebutuhan adaptasi bahasa dalam kerangka Culturally Responsive Classroom Management (CRCM). Penelitian ini menggunakan pendekatan mixed method, data kuantitatif diperoleh dari 32 mahasiswa melalui kuesioner skala likert dan data kualitatif didapatkan dari 10 wawancara semi terstruktur. Hasil penelitian menunjukan bahwa peran dosen dinilai posited dan adil, mampu mendorong partisipasi dan menengahi perbedaan (rata-rata indikator peran dosen ≥4,0). Kendala utama muncul dari interaksi antarmahasiswa, yakni perasaan sungkan, kurang percaya diri, dan perbedaan logat atau dialek yang menghambat pemahaman materi pembelajaran dan diskusi (indikator hambatan rata-rata 3,7–3,8), disertai preferensi berdiskusi dalam kelompok homogen berdasarkan daerah (rata-rata 4,3). Analisis tematik menegaskan enam domain penyebab yang saling berkelindan—bahasa dan sosiolinguistik, psikologis, dinamika kelompok, desain pembelajaran, lingkungan-budaya, serta fasilitas-kebijakan—yang berujung pada inklusivitas yang belum substantif. Rekomendasi menekankan normalisasi eksplisit keragaman dialek, penyediaan scaffolding linguistik termasuk code-switching terarah, desain tugas kolaboratif lintas kelompok dengan struktur peran aman, serta aturan kelas yang menjamin keselamatan psikologis. Dengan demikian, keragaman bahasa dan budaya di Papua diposisikan sebagai sumber daya pedagogis untuk memperkuat partisipasi dan kualitas pembelajaran di pendidikan tinggi.