Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

PELATIHAN LITERASI MEDIA DAN BAHASA SANTUN DIGITAL BAGI SISWA SMP NEGERI 13 MAKASSAR DI ERA 5.0 Fadilah Neyarasmi; Safitri, Nur Anita Syamsi; Muhammad Musawir; Ade Yustina; Adilah Sabir
PEDAMAS (PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT) Vol. 3 No. 06 (2025): NOVEMBER 2025
Publisher : MEDIA INOVASI PENDIDIKAN DAN PUBLIKASI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan literasi media dan kemampuan berbahasa santun digital bagi siswa SMP Negeri 13 Makassar di era 5.0. Pelatihan dilaksanakan melalui pendekatan participatory training yang menempatkan siswa sebagai subjek aktif dalam proses pembelajaran, dilengkapi dengan praktik langsung dan pendampingan daring. Kegiatan berlangsung selama dua hari dan diikuti oleh tiga puluh siswa yang mewakili beberapa kelas. Materi pelatihan berfokus pada pengenalan literasi media, identifikasi hoaks, pemahaman rekam jejak digital, serta penerapan bahasa santun dalam komunikasi daring. Hasil pelatihan menunjukkan peningkatan kemampuan siswa dalam memilah informasi, bersikap lebih kritis terhadap konten digital, serta menerapkan etika berkomunikasi di media sosial. Selain itu, siswa mampu menghasilkan konten digital edukatif sebagai bentuk penerapan materi pelatihan. Pendampingan daring selama dua minggu turut memperkuat konsistensi perilaku positif dalam aktivitas digital mereka. Secara keseluruhan, kegiatan ini memberikan kontribusi nyata dalam membentuk siswa yang lebih bijak, etis, dan bertanggung jawab dalam memanfaatkan teknologi digital di era 5.0.
Strategi Linguistik Perempuan dalam Menegosiasikan Identitas Sosial di Forum Digital Atikah Nurul Asdah; Muhammad Musawir
DEIKTIS: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Perkumpulan Dosen Muslim Indonesia - Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53769/deiktis.v5i4.1657

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi bentuk-bentuk strategi linguistik yang dominan digunakan oleh perempuan di ruang digital, serta menganalisis praktik stance-taking, positioning, dan indexicality berkontribusi dalam konstruksi representasi diri. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan lensa sosiolinguistik, khususnya teori identitas dan interaksi dari Bucholtz dan Hall. Data berupa tiga belas data naratif dari forum digital dianalisis secara mendalam. Hasil penelitian menunjukkan tujuh strategi linguistik dominan: emotif-ekspresif, repetisi dan afirmasi, kontras dan antitesis, afiliatif-kolektif, retoris-reflektif, naratif otobiografis, serta deklaratif-imperatif. Strategi-strategi ini mencerminkan perempuan yang menyuarakan ketahanan emosional, menantang norma gender konvensional, dan membangun solidaritas kolektif. Analisis terhadap stance, positioning, dan indexicality mengungkap bahwa identitas dalam ruang digital bersifat relasional dan emergen dinegosiasikan melalui ekspresi afektif, pemilihan posisi sosial, serta tanda-tanda semiotik yang mencerminkan nilai budaya dan ideologi gender. Kebaruan studi ini terletak pada integrasi antara sosiolinguistik interaksional dan teori wacana feminis dalam memahami praktik kebahasaan perempuan di era digital. Kontribusi penelitian ini penting bagi pengembangan kajian bahasa dan gender, dengan menyoroti penggunaan bahasa sebagai alat perlawanan simbolik dan pemberdayaan identitas dalam komunikasi yang dimediasi teknologi.
Tetum Acronyms Used on WhatsApp Messages in Timor Leste Communication Context Soares, Antonio Constantino; Musawir, Muhammad
Gurindam: Jurnal Bahasa dan Sastra Vol 5, No 2 (2025): DECEMBER
Publisher : Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/gjbs.v5i2.38754

Abstract

This research aims to investigate the use of Tetum acronyms in WhatsApp messages among the Timorese in Timor-Leste. The topic was chosen due to the increasing prevalence of Tetum acronyms among Tetum speakers in Dili. A qualitative descriptive research method was employed, supported by a documentation technique to collect the data. Once the data were collected, they were analyzed qualitatively. The findings revealed 16 distinct lexical categories in Tetum acronyms. The data included 4 adverbs, 1 verb, 2 adjectives, 5 nouns, 2 pronouns, and 2 grammatical functions.
DEKONSTRUKSI WACANA PHK MASSAL DALAM SURAT TERBUKA CEO STARTUP TEKNOLOGI INDONESIA (2024-2025) Sabir, Adilah; Musawir, Muhammad
Manifestasi: Jurnal Pendidikan dan Pengajaran Vol 5, No 2 (2025): Juli
Publisher : Manifestasi: Jurnal Pendidikan dan Pengajaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini menggunakan pendekatan Analisis Wacana Kritis (AWK) Norman Fairclough untuk mendekonstruksi wacana delapan surat terbuka yang ditulis oleh CEO startup teknologi Indonesia yang melakukan PHK massal selama periode 2024–2025. Hasil analisis menunjukkan surat-surat tersebut memanfaatkan eufemisme – seperti istilah “efisiensi” dan “penyesuaian organisasi” – sebagai pengganti kata PHK. Strategi gramatikal seperti pasivasi dan nominalisasi juga dipakai untuk mengaburkan agensi manajerial. Selain itu, surat-surat tersebut dirancang sebagai teks hibrida untuk audiens internal maupun eksternal, dengan referensi intertekstual pada narasi global krisis teknologi. Pada tingkat sosial, temuan memperlihatkan surat terbuka itu mereproduksi ideologi neoliberalisme sekaligus membatasi imajinasi kebijakan alternatif. Secara keseluruhan, analisis ini mengungkap pola wacana yang berfungsi melegitimasi kebijakan PHK massal.
A Parry Lord Theory Perspective on Formulaic Structures in ‘Anaq Maseri’ Bugis Oral Literature: An Interdisciplinary Study AJ, Andi Agussalim; Rahim, Abd; Musawir, Muhammad; Apyunita, Devi; Adriansyah, Adriansyah
The Future of Education Journal Vol 5 No 2 (2026)
Publisher : Lembaga Penerbitan dan Publikasi Ilmiah Yayasan Pendidikan Tumpuan Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61445/tofedu.v5i2.1703

Abstract

The Bugis poem Anaq Maseri is a significant oral literary heritage rich in formulas and formulaic expressions. This study aims to identify the formulaic structures within Anaq Maseri through a corpus analysis using AntConc software, uncovering the linguistic patterns that constitute thematic repetitions, and interpreting the cultural expressions underlying these formulas. Data were collected via transcriptions of oral texts, word frequency and bigram analysis, and collocation networks to map the relationships between formulas. The research also involved interviews with five Bugis cultural practitioners and observations of oral literary performances. The results indicate that Anaq Maseri possesses strong formulaic patterns in the repetition of keywords such as muitaka (mirroring), matinro manuq-manuq (sleeping like a bird/light sleep), and langi (sky), which form a semantic network concerning self-reflection, life journeys, and Bugis cosmology. The analysis demonstrates alignment with the Parry-Lord theory of oral-formulaic composition while simultaneously revealing local cultural constructions within Bugis symbolism. This study enriches the interdisciplinary understanding of Nusantara oral literature and opens opportunities for educational applications based on formulaic analysis.
Strategi Pemertahanan Bahasa Bugis dalam Keluarga Campuran di Perantauan: Kajian Antropolinguistik Musawir, Muhammad; Sabir, Adilah
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 10 No. 1 (2026)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jptam.v10i1.37635

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi pemertahanan bahasa Bugis dalam keluarga campuran di perantauan melalui perspektif Antropolinguistik dan kerangka family language policy. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain etnografis. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi interaksi bahasa pada keluarga Bugis–non-Bugis. Analisis data dilakukan secara tematik dengan mengintegrasikan dimensi praktik bahasa, ideologi bahasa, dan manajemen bahasa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahasa Indonesia mendominasi komunikasi keluarga, sedangkan bahasa Bugis digunakan secara terbatas dan situasional, terutama dalam konteks emosional dan kultural. Strategi pemertahanan dilakukan secara eksplisit melalui pengajaran langsung dan secara implisit melalui interaksi afektif. Efektivitas strategi tersebut dipengaruhi oleh konsistensi penggunaan, dukungan pasangan, serta faktor eksternal seperti lingkungan sosial, pendidikan, dan media. Dari sisi ideologi, ditemukan ambivalensi antara nilai simbolik bahasa Bugis sebagai identitas budaya dan dominasi pragmatis bahasa Indonesia. Penelitian ini menegaskan bahwa pemertahanan bahasa merupakan proses dinamis yang melibatkan negosiasi identitas dan konteks sosiokultural.
TRANSFORMASI PRAKTIK BAHASA DALAM BUDAYA DIGITAL: KAJIAN ANTROPOLINGUISTIK PADA MEDIA SOSIAL MASYARAKAT BUGIS: TRANSFORMATION OF LANGUAGE PRACTICES IN DIGITAL CULTURE: AN ANTHROPOLINGUISTIC STUDY OF BUGIS SOCIAL MEDIA Muhammad Musawir; Adilah Sabir
AUFKLARUNG: Jurnal Kajian Bahasa, Sastra Indonesia, dan Pembelajarannya Vol. 5 No. 2 (2026): DESEMBER-JANUARI TAHUN 2026
Publisher : Education and Talent Development Center of Indonesia (ETDC Indonesia).

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51574/aufklarung.v5i2.4898

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis transformasi praktik bahasa Bugis dalam budaya digital melalui pendekatan Antropolinguistik. Fokus penelitian meliputi bentuk transformasi bahasa, makna budaya yang terkandung, serta implikasinya terhadap identitas digital masyarakat Bugis. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan desain deskriptif-interpretatif. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif digital, dokumentasi, dan pencatatan kontekstual pada platform media sosial seperti Facebook, Instagram, dan TikTok. Analisis data dilakukan melalui tahapan reduksi, pengodean, analisis kontekstual, dan interpretasi antropolinguistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa transformasi praktik bahasa Bugis dalam media sosial ditandai oleh enam temuan utama, yaitu (1) munculnya campur kode dan hibriditas bahasa, (2) simplifikasi struktur bahasa, (3) pergeseran norma kesantunan, (4) penggunaan simbol digital sebagai bagian dari komunikasi multimodal, (5) fungsi bahasa sebagai representasi identitas digital, dan (6) pengaruh konteks komunikasi terhadap pilihan bahasa. Temuan ini mengindikasikan bahwa bahasa Bugis tidak mengalami kemunduran, melainkan beradaptasi secara dinamis dalam menghadapi perubahan teknologi dan budaya. Secara teoretis, penelitian ini berkontribusi pada pengembangan kajian antropolinguistik dalam konteks digital dengan menegaskan bahwa bahasa merupakan praktik budaya yang terus mengalami transformasi. Secara praktis, penelitian ini memberikan dasar bagi upaya pelestarian bahasa Bugis melalui pemanfaatan media sosial sebagai ruang baru bagi praktik bahasa.
REKONSTRUKSI IDENTITAS BUDAYA MELALUI BAHASA DI MEDIA SOSIAL: PERSPEKTIF ANTROPOLINGUISTIK: RECONSTRUCTION OF CULTURAL IDENTITY THROUGH LANGUAGE IN SOCIAL MEDIA: AN ANTHROPOLINGUISTIC PERSPECTIVE Muhammad Musawir; Adilah Sabir
AUFKLARUNG: Jurnal Kajian Bahasa, Sastra Indonesia, dan Pembelajarannya Vol. 5 No. 2 (2026): DESEMBER-JANUARI TAHUN 2026
Publisher : Education and Talent Development Center of Indonesia (ETDC Indonesia).

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51574/aufklarung.v5i2.4899

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis rekonstruksi identitas budaya melalui praktik bahasa di media sosial dalam perspektif Antropolinguistik. Fokus penelitian meliputi bentuk-bentuk rekonstruksi identitas, strategi linguistik yang digunakan, serta makna budaya yang terkandung dalam praktik bahasa digital. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain deskriptif-interpretatif. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif digital, dokumentasi, dan pencatatan kontekstual pada platform media sosial seperti Facebook, Instagram, dan TikTok. Analisis data dilakukan melalui tahapan reduksi data, pengodean, analisis wacana digital, dan interpretasi antropolinguistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rekonstruksi identitas budaya dalam media sosial ditandai oleh lima temuan utama, yaitu (1) penggunaan bahasa lokal sebagai penanda identitas budaya, (2) strategi campur kode sebagai bentuk negosiasi identitas, (3) performativitas bahasa dalam konstruksi identitas digital, (4) penggunaan simbol digital dalam representasi identitas, dan (5) pengaruh konteks komunikasi terhadap praktik bahasa. Temuan ini mengindikasikan bahwa identitas budaya dalam era digital bersifat dinamis, kontekstual, dan terus direkonstruksi melalui praktik bahasa yang adaptif. Secara teoretis, penelitian ini berkontribusi dalam pengembangan kajian antropolinguistik dengan memperluas analisis bahasa sebagai praktik budaya ke ranah digital. Secara praktis, penelitian ini memberikan dasar bagi upaya pelestarian identitas budaya melalui pemanfaatan media sosial sebagai ruang strategis untuk reproduksi dan representasi budaya.
BAHASA SEBAGAI PRAKTIK BUDAYA DALAM KONTEKS KONFLIK: KAJIAN ANTROPOLINGUISTIK DALAM PERSPEKTIF LINGUISTIK FORENSIK: LANGUAGE AS A CULTURAL PRACTICE IN A CONTEXT OF CONFLICT: AN ANTHROPOLINGUISTIC STUDY FROM A FORENSIC LINGUISTIC PERSPECTIVE Muhammad Musawir
AUFKLARUNG: Jurnal Kajian Bahasa, Sastra Indonesia, dan Pembelajarannya Vol. 5 No. 3 (2026): FEBRUARI-MARET TAHUN 2026
Publisher : Education and Talent Development Center of Indonesia (ETDC Indonesia).

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51574/aufklarung.v5i3.4906

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bahasa sebagai praktik budaya dalam konteks konflik melalui integrasi perspektif Antropolinguistik dan Linguistik Forensik. Fokus penelitian mencakup bentuk-bentuk praktik bahasa dalam konflik, makna budaya dan ideologi yang terkandung dalam ujaran, serta fungsi bahasa sebagai bukti dalam analisis forensik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain deskriptif-interpretatif berbasis studi kasus. Data dikumpulkan melalui teknik dokumentasi, observasi wacana, dan pencatatan kontekstual dari media massa dan media sosial. Analisis data dilakukan melalui tahapan reduksi, pengodean, analisis wacana kritis, analisis semiotik, analisis linguistik forensik, dan interpretasi antropolinguistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik bahasa dalam konflik ditandai oleh (1) strategi labelisasi sebagai konstruksi realitas, (2) penggunaan metafora dan simbol dalam representasi konflik, (3) strategi retorika dan oposisi biner dalam pembentukan narasi konflik, (4) makna implisit ujaran dalam perspektif forensik, serta (5) bahasa sebagai representasi ideologi dan praktik budaya. Temuan ini menegaskan bahwa bahasa dalam konflik tidak bersifat netral, melainkan merupakan praktik budaya yang sarat makna, ideologi, dan kepentingan kekuasaan. Secara teoretis, penelitian ini berkontribusi pada pengembangan kajian interdisipliner dengan mengintegrasikan antropolinguistik dan linguistik forensik dalam analisis konflik berbasis bahasa. Secara praktis, penelitian ini memberikan implikasi bagi analisis wacana konflik dan penegakan hukum, khususnya dalam memahami bahasa sebagai bukti yang memerlukan interpretasi kontekstual dan kultural.
MAKNA SIMBOLIK DALAM TINDAKAN TEROR: ANALISIS ANTROPOLINGUISTIK TERHADAP BAHASA DAN SIMBOL DALAM KASUS MEDIA: SYMBOLIC MEANING IN TERRORIST ACTS: AN ANTHROPOLINGUISTIC ANALYSIS OF LANGUAGE AND SYMBOLS IN MEDIA CASES Muhammad Musawir
AUFKLARUNG: Jurnal Kajian Bahasa, Sastra Indonesia, dan Pembelajarannya Vol. 5 No. 3 (2026): FEBRUARI-MARET TAHUN 2026
Publisher : Education and Talent Development Center of Indonesia (ETDC Indonesia).

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51574/aufklarung.v5i3.4907

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis makna simbolik dalam tindakan teror melalui integrasi perspektif Antropolinguistik, semiotik sosial, dan Linguistik Forensik. Tindakan teror dipahami tidak hanya sebagai peristiwa kekerasan, tetapi juga sebagai praktik komunikasi simbolik yang menyampaikan pesan implisit kepada publik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain deskriptif-interpretatif berbasis studi kasus. Data dikumpulkan melalui teknik dokumentasi, observasi wacana, dan pencatatan kontekstual dari media massa dan media digital. Analisis data dilakukan melalui tahapan reduksi data, pengodean, analisis semiotik, analisis wacana kritis, analisis linguistik forensik, dan interpretasi antropolinguistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa simbol dalam tindakan teror berfungsi sebagai (1) medium komunikasi implisit yang sarat makna ideologis, (2) representasi makna yang dikonstruksi melalui relasi antara bahasa dan simbol, (3) objek framing dalam praktik diskursif media, serta (4) bentuk bukti linguistik yang memerlukan analisis pragmatik dan kontekstual. Selain itu, makna simbolik bersifat dinamis dan sangat dipengaruhi oleh konteks budaya serta relasi kekuasaan dalam wacana publik. Secara teoretis, penelitian ini berkontribusi pada pengembangan kajian interdisipliner dengan mengintegrasikan antropolinguistik, semiotik, dan linguistik forensik dalam analisis komunikasi konflik. Secara praktis, penelitian ini memberikan implikasi bagi analisis media dan penegakan hukum, khususnya dalam memahami simbol dan bahasa sebagai bentuk komunikasi strategis yang memerlukan interpretasi kontekstual dan kultural.