Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

Implementasi Perceived Ease of Use terhadap Keputusan Penggunaan Jasa Laboratorium Analisis dan Kalibrasi: Peran Kualitas Informasi dan Kepercayaan Khotimah, Khusnul; Rahman, Muhammad Fajar Wahyudi; Firmansyah, Praditya; Amelia, Ratih; Kharisma, Fresha
Indonesian Sugar Research Journal Vol 5, No 2 (2025): Indonesian Sugar Research Journal
Publisher : Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54256/isrj.v5i2.163

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh perceived ease of use terhadap keputusan penggunaan jasa laboratorium analisis dan kalibrasi di Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia (P3GI), serta menjelaskan peran moderasi kualitas informasi dan mediasi kepercayaan dalam hubungan tersebut. Pendekatan kuantitatif digunakan untuk pengumpulan data melalui kuesioner kepada 70 responden yang dipilih secara purposive sampling, lalu dianalisis menggunakan SmartPLS 3. Hasil analisis menunjukkan bahwa perceived ease of use tidak cukup untuk memengaruhi keputusan penggunaan jasa laboratorium tanpa adanya mediasi kepercayaan pelanggan. Selain itu, penelitian ini menemukan bahwa kualitas informasi tidak memoderasi terhadap keputusan penggunaan jasa laboratorium. Penelitian ini menawarkan kebaruan dengan memodifikasi Technology Acceptance Model (TAM) dalam konteks jasa laboratorium. Temuan studi ini diharapkan memberikan solusi bagi manajemen P3GI yang dapat diterapkan untuk meningkatkan strategi komunikasi informasi, memperkuat kepercayaan pengguna, dan menyempurnakan proses bisnis layanan laboratorium ke depannya.
The Effect of Scarcity Marketing, Fear of Missing Out (FOMO) and Electronic Word of Mouth (EWOM) on Music Concert Ticket Purchase Intention in Surabaya Wahyono, Gymnastiara Aliefa Putri; Kharisma, Fresha
International Journal of Social, Economic, and Business Vol. 2 No. 2 (2025): December 2025
Publisher : Lavish Opulent Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65688/ijseb.v2i2.120

Abstract

This study investigates the influence of scarcity marketing, fear of missing out (FOMO), and electronic word of mouth (EWOM) on the purchase intention of music concert tickets in Surabaya. As the entertainment industry grows rapidly and digital promotion becomes increasingly dominant, understanding these factors is essential for effective marketing strategies. Using a quantitative approach with a survey method, this research collected data from 180 respondents aged 18 to 35 who had previously purchased concert tickets and were active social media users. The data were analyzed using multiple linear regression through SPSS to examine both simultaneous and partial effects of the independent variables on purchase intention. The findings indicate that scarcity marketing, FOMO, and EWOM simultaneously have a positive and significant effect on purchase intention. Partially, scarcity marketing strengthens consumers’ urgency to buy through limited availability and time-bound offers. FOMO also shows a positive impact, suggesting that the desire to avoid missing social experiences increases purchase likelihood. Additionally, EWOM positively influences purchase intention, emphasizing the role of online recommendations and credible user-generated information. Overall, the results highlight that digital promotional strategies incorporating scarcity cues, FOMO-driven content, and persuasive EWOM are effective in increasing concert ticket purchase intention in Surabaya  
YouTube Live Streamer Sustainability:: Presence, Interactivity, and Attractiveness on Viewer Flow Experience. Harson, Dio Doni; Fazlurrahman, Hujjatullah; Kharisma, Fresha; Kautsar, Achmad
Wasilatuna: Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol. 9 No. 1 (2026): April | Special Edition
Publisher : Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam Fakultas Dakwah Universitas Islam Internasional Darullughah Wadda'wah Bangil Pasuruan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study analyzes the effects of social presence, interactivity, and attractiveness on the flow experience of YouTube Live viewers in Indonesia. Despite the rapid growth of digital broadcasting, sustaining optimal audience engagement remains a challenge, necessitating further investigation into its communicative determinants. Employing an explanatory quantitative design, data were collected from 100 active viewers via purposive sampling and analyzed using Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM) within the Stimulus-Organism-Response (S-O-R) framework. The findings indicate that social presence, interactivity, and attractiveness exert a significant positive effect on viewers' flow experience, with streamer attractiveness emerging as the strongest predictor. Ultimately, this study highlights live streaming not merely as an entertainment tool but as a dynamic digital communication space. The results emphasize that fostering two-way communication and a supportive online environment is vital for content creators to sustain audience immersion in new media platforms.
Perjalanan U-Curve Theory dalam Adaptasi Budaya Kerja: Studi Kasus Tenaga Kerja Indonesia di New Jersey, Amerika Serikat Sinta, Muzamzamah Mega; Salsabila, Annisa Fauziyyah; Loering, Jevonisa Xena; Mundafi, Sutan Izzat; Alfandi, Muhammad Rio Dwi; Kharisma, Fresha
Indonesia Economic Journal Vol. 2 No. 1 (2026): JANUARI-JUNI
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/4k1tqg59

Abstract

Penelitian ini menganalisis proses adaptasi budaya seorang tenaga kerja perempuan asal Indonesia (M.) yang bekerja di sektor manufaktur di New Jersey, Amerika Serikat. Yang membedakan kasus ini dari studi-studi serupa adalah adanya dua proses adaptasi yang terjadi secara bersamaan: adaptasi terhadap budaya negara baru sekaligus adaptasi terhadap dunia kerja untuk pertama kalinya. Penelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif melalui metode studi kasus, melalui wawancara mendalam semi-terstruktur secara daring pada Mei 2025. Analisis mengacu pada kerangka U-Curve Theory of Adjustment (Lysgaard, 1955; Oberg, 1960) serta dimensi budaya Hofstede, Hofstede, dan Minkov (2010), khususnya dimensi individualisme-kolektivisme. Temuan menunjukkan bahwa M. melewati seluruh tahapan kurva U—honeymoon, culture shock, adjustment, hingga adaptation—dengan variasi intensitas yang dipengaruhi oleh tiga faktor utama: kepribadian yang terbuka dan luwes, keberadaan komunitas diaspora Indonesia di sekitar tempat tinggal, serta tersedianya layanan akomodasi bahasa di lingkungan setempat. Perbedaan budaya kerja yang paling terasa muncul pada sistem akuntabilitas berbasis jam kerja dan pola kerja yang sangat individual—dua hal yang secara langsung bersinggungan dengan nilai-nilai kolektivistis yang dibawa M. dari Indonesia. Penelitian ini diharapkan dapat memperkaya diskusi lintas budaya, khususnya dalam memahami kompleksitas adaptasi tenaga kerja migran dari negara berkembang ke negara maju.  
Jam Karet vs Budaya Tepat Waktu: Adaptasi Karyawan Indonesia dalam Lingkungan Kerja Internasional (Studi Kasus: Pekerja Indonesia di Jepang) Naswa Ine Arteta; Fatimah Az-Zahroh Nur Salsabila; Keysha Ramadhani Andrijanto; Rhayhan Maulana Ali Akhbar; Mahabillah K.R.H.P; Handy Ardiansyah; Fresha Kharisma; Hafid Kholidi Hadi
Jurnal Ilmiah Ekonomi dan Manajemen Indonesia Vol. 2 No. 1 (2026): JANUARI -JUNI
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/2pvkg826

Abstract

Budaya “jam karet” masih menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia, baik dalam aktivitas sosial maupun dunia kerja. Kebiasaan tersebut berbeda dengan budaya tepat waktu di Jepang yang sangat menjunjung tinggi disiplin, keteraturan, dan penghargaan terhadap waktu. Perbedaan budaya ini menjadi tantangan bagi pekerja Indonesia yang bekerja di Jepang karena mereka dituntut untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan kerja yang cepat, terstruktur, dan profesional. Lingkungan kerja di Jepang menempatkan ketepatan waktu sebagai bentuk tanggung jawab dan penghormatan terhadap pekerjaan serta orang lain. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif melalui wawancara mendalam dengan informan yang memiliki pengalaman bekerja di Jepang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses adaptasi terhadap budaya tepat waktu berlangsung secara bertahap melalui pembiasaan, lingkungan kerja, dan kesadaran individu terhadap pentingnya disiplin waktu. Selain itu, rasa bangga terhadap pekerjaan juga memengaruhi terbentuknya perilaku disiplin dan profesionalisme. Budaya kerja Jepang mampu membentuk kebiasaan menghargai waktu sehingga pekerja menjadi lebih teratur, bertanggung jawab, dan profesional. Oleh karena itu, perubahan dari budaya “jam karet” menuju budaya disiplin memerlukan kesadaran individu serta dukungan lingkungan kerja yang konsisten dalam menerapkan nilai-nilai profesionalisme.
Adaptasi Budaya Kerja Expatriate Indonesia dalam Lingkungan Kerja Jepang sebagai Kaigo Naisyifa Zahra Irwanaputri; Marshanda Ditrisna Wati; Angelina Dwi Kartikasari; Alifatus Oktafia; Muhammad Ghaiyyas Zia Alqudsi; Fresha Kharisma
Jurnal Ilmiah Ekonomi dan Manajemen Indonesia Vol. 2 No. 1 (2026): JANUARI -JUNI
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/2p81gt19

Abstract

Fenomena penuaan penduduk di Jepang menyebabkan meningkatnya kebutuhan tenaga kerja pada sektor perawatan lansia (kaigo), sehingga membuka peluang besar bagi pekerja migran Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis proses navigasi budaya yang dilakukan pekerja migran Indonesia sebagai kaigo di Jepang selama masa awal adaptasi kerja. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode wawancara mendalam terhadap seorang pekerja migran Indonesia di Jepang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa informan melakukan berbagai strategi adaptasi budaya seperti meningkatkan kedisiplinan dan manajemen waktu, mengembangkan cara berkomunikasi untuk mengatasi hambatan bahasa, serta mempertahankan identitas budaya dan religiusitas di tengah informan bekerja. Selain itu keberhasilan adaptasi juga dipengaruhi oleh dukungan lingkungan kerja, pengalaman langsung, dan support system personal. Penelitian ini menyimpulkan bahwa fleksibilitas budaya dan kemampuan menyesuaikan diri menjadi faktor penting dalam keberhasilan adaptasi pekerja migran di lingkungan kerja Jepang.