Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

PENINGKATAN KAPASITAS PSIKOLOGIS DAN KEMANDIRIAN WARGA BINAAN PEREMPUAN DI RUTAN KELAS IIB BOYOLALI Bayu Suseno; Lusi Nuryanti; Fiska Puspa Arinda; Isnaya Arina Hidayati; Novel Idris Abas; Riski Apriliani; Afny Al Fath Inaszahira; Muhammad Azmi Nur Asykaruddin; Dzikra Raihani; Alfian Faqih Ajiputra; Dhita Ade Nugroho
Journal of Community Empowerment Vol 4, No 3 (2025): Desember
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jce.v4i3.34844

Abstract

ABSTRAK                                                                                     Lembaga pemasyarakatan (lapas) memiliki peran strategis dalam pembinaan dan rehabilitasi warga binaan, termasuk perempuan. Namun, keterbatasan program yang mampu memenuhi kebutuhan psikologis, spiritual, dan keterampilan hidup warga binaan perempuan masih menjadi tantangan. Program pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk memberikan pemberdayaan holistik bagi warga binaan perempuan di Rutan Kelas IIB Boyolali agar warga binaan dapat meningkatkan kapasitas psikologis dan kemandirian. Program disusun setelah melakukan koordinasi dengan mitra terkait permasalahan, solusi, dan menyusun rancangan kegiatan. Sasaran program diberikan kepada 10 warga binaan perempuan dan 2 staf kesatuan pengamanan rutan. Pelaksanaan kegiatan dilakukan dalam bentuk pelatihan keterampilan, psikoedukasi, dan konseling, sebanyak 16 sesi kegiatan. Pelatihan difokuskan pada manajemen diri dan kewirausahaan, sementara psikoedukasi mencakup kesehatan mental, spiritual, serta pengembangan dan kesadaran diri. Evaluasi dilakukan melalui observasi dan wawancara untuk melihat perubahan dalam aspek psikologis, sosial, dan keterampilan. Hasil menunjukkan adanya perubahan positif, termasuk pergeseran cara pandang terhadap masa depan, peningkatan kemampuan menyusun tujuan hidup melalui pendekatan SMART, serta keberanian mengekspresikan diri dalam sesi konseling. Selain itu, kualitas interaksi sosial meningkat melalui kerja kelompok dan terbentuknya dukungan emosional antar warga binaan. Kegiatan kewirausahaan juga meningkatkan keterampilan praktis, kepercayaan diri, dan membuka peluang ekonomi pasca-rutan. Temuan ini menunjukkan bahwa program pemberdayaan yang terintegrasi dapat berkontribusi dalam mendukung proses rehabilitasi dan mempersiapkan warga binaan perempuan untuk reintegrasi sosial secara lebih bermakna melalui peningkatan kapasitas psikologis dan kemandirian warga binaan.Kata kunci: Kapasitas Psikologis; Kemandirian; Warga Binaan Perempuan; Rehabilitasi; Rutan.ABSTRACTCorrectional institutions (prisons) play a strategic role in the development and rehabilitation of inmates, including women detainees. However, this is a challenge as there are limited available programs that meet the psychological, spiritual, and life skills needed by female inmates. This community service program aims to provide holistic empowerment for female prisoners at the Class IIB Boyolali Detention Center (Rutan Kelas IIB Boyolali), enabling them to increase their psychological capacity and independence. The program is prepared after coordinating with partners regarding problems, solutions, and preparing activity plans. The program targets 10 female inmates and 2 prison security unit staff. The implementation of activities was carried out in the form of skills training, psychoeducation and counseling, with 16 activity sessions. The training focuses on self-management and entrepreneurship, while psychoeducation covers mental health, spirituality, and self-development and awareness. Evaluation was conducted through observation and interviews to identify changes in psychological, social, and skills aspects. Results showed positive changes, including a shift in perspective on the future, an increased ability to develop life goals through the SMART approach, and increased self-expression during counseling sessions. Furthermore, the quality of social interactions improved through group work and the development of emotional support among inmates. Entrepreneurial activities also improved practical skills, self-confidence, and opened up economic opportunities after detention. These findings suggest that an integrated empowerment program can contribute to supporting the rehabilitation process and preparing female inmates for more meaningful social reintegration by enhancing the inmates' psychological capacity and independence. Keywords: Psychological Capacities; Autonomy; Female Inmates; Rehabilitation; Detention Centre.
Tren Penelitian Academic Burnout pada Mahasiswa: Analisis Bibliometrik Ummu Hany Almasitoh; Muhammad. Japar; Lusi Nuryanti
Jendela Pendidikan : Jurnal Ilmiah Keguruan dan Ilmu Pendidikan Vol 16 No 2 (2026): Jendela Pendidikan
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan - Universitas Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55129/jp.v16i2.3266

Abstract

Academic burnout menjadi persoalan penting dalam pendidikan tinggi karena tuntutan akademik berkepanjangan dapat menurunkan kesehatan mental, prestasi, dan keberlanjutan studi mahasiswa. Penelitian ini bertujuan memetakan tren publikasi, kontributor utama, struktur tematik, dan peluang penelitian masa depan mengenai academic burnout secara global selama 2018–2025. Penelitian menggunakan tinjauan pustaka dengan pendekatan bibliometrik terhadap artikel jurnal berbahasa Inggris yang terindeks Scopus. Data ditelusuri memakai kata kunci “academic burnout” dan “university” atau “college”, diseleksi berdasarkan kriteria yang ditetapkan, kemudian dianalisis menggunakan VOSviewer melalui tren publikasi, kepengarangan, sitasi, dan kemunculan bersama kata kunci. Dari 200 rekaman awal, sebanyak 174 artikel memenuhi kriteria. Hasil menunjukkan perkembangan publikasi yang berfluktuasi, dengan perhatian kuat pada COVID-19, kesehatan mental, mahasiswa kedokteran, kesejahteraan, dan resiliensi. Tiongkok, Amerika Serikat, dan Finlandia menjadi negara kontributor utama, sedangkan Shanafelt merupakan penulis paling produktif. Pemetaan kata kunci menghasilkan empat klaster, yaitu psikopatologi dan dampak mental; faktor pelindung dan intervensi; dinamika pembelajaran dan teknologi; serta populasi mahasiswa rentan. Self-compassion masih relatif jarang diteliti sehingga menawarkan kesenjangan penelitian yang menjanjikan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kajian academic burnout bersifat multidisipliner, tetapi masih terkonsentrasi dalam konteks kesehatan. Penelitian selanjutnya perlu memperluas bukti dari Indonesia serta menguji self-compassion, resiliensi, self-efficacy, dan dukungan sosial pada populasi mahasiswa yang beragam.
Analisis Kualitas Hidup Tenaga Kesehatan di Masa Pandemi Covid-19 Andriawan Andriawan; Lusi Nuryanti; Lina Alfiyani; Widya Kaharani Putri
Jurnal Keilmuan dan Keislaman Vol. 3, No. 3, September 2024
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/jkk.v3i3.28

Abstract

Pandemi Covid-19 berdampak buruk pada kesehatan masyarakat, khususnya tenaga kesehatan. Petugas kesehatan medis terus-menerus dihadapkan pada situasi yang sangat berisiko. Tujuan penelitian ini adalah untuk menginvestigasi dampak pandemi Covid-19 terhadap kualitas hidup tenaga kesehatan di Surakarta. Metode penelitian ini adalah kuantitatif deskriptif. Pengumpulan data menggunakan skala kualitas hidup oleh World Health Organization (2004), dengan cara menyebarkan kuesioner melalui Google Forms. Subjek dalam penelitian ini adalah tenaga kesehatan yang bertugas selama masa pandemi Covid-19 yang berjumlah 147 orang. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis univariat. Hasil penelitian menunjukkan secara keseluruhan kualitas hidup tenaga kesehatan termasuk dalam kategori sedang. Sebanyak 50 orang tenaga kesehatan (34,01%) menunjukkan kualitas hidup mereka baik, 54 orang tenaga kesehatan (36,73%) merasa sedang dengan kesehatan mereka, 94 orang tenaga kesehatan (63,94%) kesehatan fisik mereka tergolong sedang, 88 orang tenaga kesehatan (59,86%) menilai kesehatan psikologis mereka sedang, kemudian sebanyak 84 orang tenaga kesehatan (57,14%) menjawab hubungan sosial mereka dalam kategori sedang, dan 94 orang tenaga kesehatan (63,94%) menyatakan lingkungan mereka juga termasuk dalam kategori sedang. Beberapa cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kualitas hidup di masa pandemi yaitu menjaga kesehatan fisik dengan mengontrol pola tidur 6-8 jam, menjaga kesehatan psikologis dengan memberikan afirmasi positif pada diri sendiri, menjalin komunikasi dengan masyarakat sekitar terutama dengan rekan seprofesi agar senantiasa saling memberi semangat, serta menjalin kerja sama yang baik dengan lingkungan sekitar. Hal ini berguna untuk peningkatan, pencegahan, penyembuhan, dan pemulihan.