Claim Missing Document
Check
Articles

RASIONALISASI KRAMA DESA ADAT DLOD TUKAD BATUBULAN MENETAP DI TANAH PEKARANGAN DESA Pratiwi, Ni Komang Rahma Tri; Nugroho, Wahyu Budi; Kamajaya, Gede; Pramestisari, Nyoman Ayu Sukma
JURNAL ILMIAH SOSIOLOGI: SOROT Vol 4 No 1 (2024): JISSOROT
Publisher : Program Studi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan memaparkan dan menganalisis rasionalisasi krama desa Adat Dlod Tukad Batubulan yang menetap di tanah pekarangan desa dengan beban tanggung jawab ayahan di tengah kehidupan modern saat ini yang serba praktis. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan jenis deskriptif-eksplanatif. Teori yang digunakan dalam penelitian ini sebagai pisau bedah dalam menganalisis fenomena yang terjadi adalah teori tindakan sosial dari Max Weber. Hasil penelitian di lapangan mengungkapkan bahwa terdapat empat rasionalitas yang mendasari alasan krama desa Adat Dlod Tukad Batubulan memilih menetap di tanah pekarangan desa dengan beban tanggung jawab ayahan pada desa adat, yang terdiri atas rasionalitas nilai, rasionalitas instrumental, tindakan tradisional dan tindakan afektif. Lebih jauh, hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa Desa Adat Dlod Tukad Batubulan yang merupakan desa adat anyar di Bali tidak sepenuhnya menggunakan pengaturan otoritas tradisional dalam menjalankan pemerintahannya, terkhusus pada pemecahan masalah yang berkaitan dengan kehidupan modern saat ini. Kata kunci: Desa adat, rasionalisasi, tanah desa.
Pertukaran Sosial Antara Pimpinan Dengan Karyawan Di Toko Kusuma Jaya Denpasar Rukningsih, Ni Putu Sri Veni; Nugroho, Wahyu Budi; Mahadewi, Ni Made Anggita Sastri
JURNAL ILMIAH SOSIOLOGI: SOROT Vol 3 No 2 (2023): JISSOROT
Publisher : Program Studi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to analyze social exchanges between leaders and employees at Kusuma Jaya Shop Denpasar, one of the retail stores in the North Denpasar region. This research uses a qualitative approach with descriptive and explanatory types. The author uses three propositions from George Caspar Homans' six propositions of social exchange theory, namely the success proposition, the stimulus proposition and the value proposition. The dynamics of work at Toko Kusuma Jaya such as the number of employees, division of labor and the development of turnover have an influence on social exchange. Social exchange at Kusuma Jaya Shop occurs statically, in the process the propositions in Homans' social exchange theory are attributed in this study as the basis of individual behavior in making exchanges. The proposition is done by the individual to minimize the losses gained.
AKTIVITAS MEMANCING IKAN DALAM PERSPEKTIF SOSIOLOGI WAKTU LUANG Pratama, Agus Elfa; Kamajaya, Gede; Nugroho, Wahyu Budi; Pramestisari, Nyoman Ayu Sukma
JURNAL ILMIAH SOSIOLOGI: SOROT Vol 4 No 1 (2024): JISSOROT
Publisher : Program Studi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini berfokus pada fenomena aktivitas waktu luang yang dimanfaatkan masyarakat untuk memancing ikan di Taman Pancing, Denpasar dan juga Dermaga Kedonganan, Kuta. Tujuan dari penelitian ini adalah memaparkan dan menganalisis pemanfaatan waktu luang yang digunakan masyarakat untuk memancing beserta relasinya terhadap berbagai aspek kehidupan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif-eksplanatif. Teori yang dipilih sebagai pisau bedah dalam menganalisis penelitian adalah sosiologi waktu luang dari John Wilson. Hasil penelitian ini mengungkap bahwa aktivitas memancing merupakan aktivitas waktu luang yang berkaitan dengan kesenangan dan ketenangan pribadi yang bersifat subjektif. Aktivitas memancing ikan yang dilakukan sebagai media rekreasi oleh masyarakat di waktu luang pada akhirnya memiliki relasi yang kuat terhadap beberapa aspek seperti pekerjaan, keluarga, siklus hidup dan stratifikasi sosial. Pekerjaan di sektor informal cenderung lebih leluasa beraktivitas memancing karena jam kerja yang tidak terlalu mengekang. Kemudian sesekali para pemancing mengajak anggota keluarga menghabiskan waktu luang bersama untuk melanggengkan aktivitas memancing. Perihal siklus hidup seseoarang berwaktu luang, dipengaruhi oleh faktor ekonomi, karir masa depan dan juga semangat muda. Selanjutnya stratifikasi sosial dalam aktitivas memancing lebih kepada bagaimana cara memancing dan juga peralatan yang cenderung mahal, memancing dengan media perahu ke tengah laut akan berbeda dengan memancing sekadar di pinggiran. Biaya akan jauh lebih mahal memancing dengan sarana perahu, diikuti dengan peralatan yang mahal pula dibandingkan dengan peralatan untuk memancing di pinggiran.
Fenomena Fashion K-Pop Sebagai Pembentukan Identitas Diri Remaja di Cikupa,Banten Yoga, I Komang Dharma; Zuryani, Nazrina; Nugroho, Wahyu Budi
JURNAL ILMIAH SOSIOLOGI: SOROT Vol 3 No 2 (2023): JISSOROT
Publisher : Program Studi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The hallyu wave that entered Indonesia has increased teenagers' interest in music, movies/dramas and idols to Korean fashion. Teenagers' interest in K-Pop fashion indirectly makes it a self-identity that is known in the social environment and to recognize themselves. This study analyzes the phenomenon of K-Pop fashion on the formation of self-identity in adolescents in Cikupa, Banten with a qualitative approach method with descriptive-explanatory data. The theoretical analysis used in this research as a scalpel is Stuart Hall's Identity theory. The results of this study reveal that teenager in Cikupa, Banten who use K-Pop fashion can form self-identity through the introduction of enlightenment subjects known in the social environment and recognize themselves. Through sociological subjects when interacting there is recognition when using K-Pop fashion in their social environment indirectly or directly believing in their identity for teenagers in Cikupa, Banten. Postmodern subjects know that the background of teenagers using K-Pop fashion is influenced by the globalization process because they can easily choose or adopt what they like. K-Pop fashion can shape self-identity in adolescents who are identical as their characteristics in their social environment. There are opportunities in the fashion industry that can be used as K-Pop fashion as a reference or elaborated using materials/models that carry the richness of Indonesian culture that are elaborated in K-Pop-style fashion to attract teenagers and K-Pop fandom.
Tinjauan Sosiologis Difusi Inovasi QR Code Dalam Menu Makanan dan Minuman Pada Restoran Maupun Kafe di Panjer, Denpasar Selatan Rasmi, I Gst Ayu Diah Citra; Tamim, Imron Hadi; Nugroho, Wahyu Budi
Socio-political Communication and Policy Review Vol. 1 No. 3 (2024)
Publisher : Lenggogeni Data Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61292/shkr.130

Abstract

The aim of this research is to explain and analyze consumer responses to QR Code technology innovations on food and drink menus in restaurants and cafes in the Denpasar area. The method used in this research is a qualitative approach with a descriptive-explanatory type. The theory chosen as a scalpel in analyzing this research is the diffusion of innovation from Everett M. Rogers. The results of this research reveal that QR Code technology innovation on food and drink menus in restaurants and cafes in the Denpasar area has been used since the Covid-19 pandemic. Then, the development of the digital era increasingly made restaurants and cafes implement these innovations because they were considered efficient, practical and easy. This innovation in restaurants and cafes in the Denpasar area has made consumers feel the positive impact. Consumers assess that this innovation makes it easier to view the menu, is practical and easy to access, so this innovation can be said to have received a positive response from consumers. However, it is not uncommon for some consumers not to know and not be accustomed to new innovations regarding QR Codes for food and drink menus. Especially when consumers experience problems with their cellphones, such as not having an internet network, being slow, and so on. So, for some consumers, this QR Code innovation has not been responded to well. Abstrak Tujuan penelitian ini adalah memaparkan dan menganalisis terkait respon konsumen terhadap inovasi teknologi QR Code dalam menu makanan dan minuman pada restoran maupun kafe di daerah Denpasar. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan jenis deskriptif-eksplanatif. Teori yang dipilih sebagai pisau bedah dalam menganalisis penelitian ini adalah difusi inovasi dari Everett M. Rogers. Hasil dari penelitian ini mengungkap bahwa inovasi teknologi QR Code dalam menu makanan dan minuman pada restoran maupun kafe di daerah Denpasar digunakan semenjak adanya pandemi Covid-19. Kemudian, perkembangan zaman yang serba digital makin membuat pihak restoran maupun kafe menerapkan inovasi ini karena dianggap efisien, praktis dan mudah. Adanya inovasi ini pada restoran maupun kafe di daerah Denpasar membuat konsumen merasakan dampak yang positif, konsumen menilai inovasi ini memudahkan dalam melihat menu, praktis dan mudah untuk di akses, sehingga inovasi ini dapat dikatakan menuai respon yang positif dari konsumen. Namun, tak jarang juga jika beberapa konsumen yang belum mengetahui dan belum terbiasa atas inovasi baru mengenai QR Code untuk menu makanan dan minuman. Apalagi ketika konsumen mengalami kendala dengan handphonenya, seperti tidak memiliki jaringan internet, lemot, dan lain sebagainya. Sehingga, untuk beberapa konsumen inovasi QR Code ini belum di respon dengan baik. Kata kunci: QR Code, menu digital, inovasi teknologi dan digitalisasi.
Friends With Benefit Dalam Perspektif Pertukaran Sosial Di Kalangan Mahasiswa Kota Denpasar Putri, Rismalia Anindra; Nugroho, Wahyu Budi; Pramestisari, Nyoman Ayu Sukma
Socio-political Communication and Policy Review Vol. 1 No. 4 (2024)
Publisher : Lenggogeni Data Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61292/shkr.143

Abstract

This research focuses on the phenomenon of friends with benefits (FWB) among students in Denpasar City. The purpose of this study is to analyze and explain the Friends With Benefits (FWB) in the perspective of social exchange. The method used in this research is a qualitative approach with descriptive-explanatory type. The theory chosen as a scalpel in analyzing this research is the social exchange of George C Homans. The results show that the main motivations for individuals to engage in FWB are sexual fulfillment, physical attraction, and a sense of comfort without pressure to build a long-term commitment. Supporting factors include mutual trust, open communication, and a shared understanding of boundaries and expectations in the relationship. Furthermore, the meaning of FWB among students in Denpasar City is seen as a form of ordinary relationship in social interaction which is considered not a negative thing. In the social exchange perspective, FWB relationships are seen as transactions in which both parties gain benefits with minimal risk. Abstrak Penelitian ini berfokus pada fenomena friends with benefits (FWB) di kalangan mahasiswa Kota Denpasar. Tujuan penelitian ini adalah Menganalisis dan memaparkan terkait Friends With Benefits (FWB) dalam perspektif pertukaran sosial. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan jenis deskriptif-eksplanatif. Teori yang dipilih sebagai pisau bedah dalam menganalisis penelitian ini adalah pertukaran sosial dari George C Homans. Hasil penelitian menunjukkan bahwa motivasi utama individu untuk terlibat dalam FWB adalah pemenuhan kebutuhan seksual, ketertarikan fisik, dan rasa nyaman tanpa tekanan untuk membangun komitmen jangka panjang. Hal-Hal pendukung yang ditemukan termasuk adanya rasa saling percaya, komunikasi yang terbuka, serta pemahaman bersama mengenai batasan dan harapan dalam hubungan tersebut. Lebih lanjut, pemaknaan FWB di kalangan mahasiswa di Kota Denpasar dipandang sebagai bentuk hubungan biasa dalam interaksi sosial yang dinilai bukan suatu hal yang negatif. Dalam perspektif pertukaran sosial, hubungan FWB dipandang sebagai transaksi di mana kedua belah pihak memperoleh keuntungan dengan risiko minimal. Kata kunci: friends with benefits, pertukaran sosial, mahasiswa
Tinjauan Sosiologi Agama Upacara Ngusaba Desa di Desa Selumbung, Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem Caitanya, Putu Krishna; Kamajaya, Gede; Nugroho, Wahyu Budi
Socio-political Communication and Policy Review Vol. 1 No. 4 (2024)
Publisher : Lenggogeni Data Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61292/shkr.151

Abstract

The objective of this research is to present and analyze the sociological review of religion in the Ngusaba Desa ceremony in Selumbung Village, which aims to analyze the religious sociology dimensions of the Ngusaba Desa ceremony. The method used in this research is a qualitative approach with a descriptive type. The theoretical analysis employed as a tool in this research is the Sociology of Religion theory by Emile Durkheim. The results of this research reveal that there are two major contexts of the religious sociology dimensions in the Ngusaba Desa ceremony: the social dimension and the sacred and profane dimension. Furthermore, the Ngusaba Desa ceremony demonstrates the creation of mechanical solidarity through collective beliefs that bind the individuals of Selumbung Village during both the preparation and implementation processes, where all individuals unite and cooperate for the successful execution of the Ngusaba Desa ceremony. The relationship and boundary between the sacred and profane realms occur during its preparation and implementation, such as in offerings, rituals, processions, and all sacred means and infrastructures, which have specific rules and behaviors in each procession when dealing with the profane. The Ngusaba Desa ceremony has a significant influence that can bind individuals into a collective unity and affect individual consciousness in its implementation. Abstrak Tujuan penelitian adalah memaparkan dan menganalisis tinjauan Sosiologi Agama dalam upacara Ngusaba Desa di Desa Selumbung yang berusaha menganalisa dimensi Sosiologi Agama dari upacara Ngusaba Desa. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan jenis deskriptif. Analisis teori yang digunakan sebagai pisau bedah dalam penelitian ini adalah teori Sosiologi Agama dari Emile Durkheim. Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa terdapat dua konteks besar dimensi sosiologi agama dalam upacara Ngusaba Desa yaitu, dimensi sosial dan dimensi sakral dan profan. Lebih lanjut lagi upacara Ngusaba Desa menunjukkan terciptanya solidaritas mekanik melalui kepercayaan kolektif yang mengikat individu Desa Selumbung selama proses persiapan maupun pelaksanaannya, dimana semua individu bersatu, bekerja sama untuk terlaksananya upacara Ngusaba Desa. Relasi serta batasan antara ranah sakral dan profan terjadi ketika persiapan maupun pelaksanaannya, seperti banten, upakara, jempana, proses pelasanaan upacaranya serta semua sarana dan prasarana yang bersifat sakral memiliki aturan dan laku-laku tertentu dalam setiap prosesinya dalam berhubungan dengan hal yang profan. Upacara Ngusaba Desa mempunyai pengaruh yang sangat besar sehingga dapat mengikat individu dalam suatu kesatuan kolektif serta mempengaruhi kesadaran individu dalam melaksanakannya. Kata Kunci: upacara Ngusaba Desa, solidaritas mekanik, hubungan sakral dan profan
Pergeseran Fungsi Keluarga Pasca Perceraian di Kota Denpasar Wulandari, I Gusti Ayu Satria; Nugroho, Wahyu Budi; Pramestisari, Nyoman Ayu Sukma
Socio-political Communication and Policy Review Vol. 1 No. 4 (2024)
Publisher : Lenggogeni Data Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61292/shkr.152

Abstract

This research aims to explain and analyze shifts in family functions after divorce in Denpasar City. The research method used is a qualitative approach with a descriptive research type. The theoretical analysis chosen as the scalpel in this research is the functional structural theory of Robert K. Merton. The research results reveal that internal factors and external factors of divorce shift family functions in Denpasar City. In internal factors and external factors of divorce, it is stated that internal factors consist of domestic violence, education, and age at marriage. Meanwhile, external factors are infidelity, economics, and negative relationships between each family member. Internal and external factors coincide in families experiencing divorce. Meanwhile, the function of families resulting from divorce shifts in the social life of families in Denpasar City. Of the eight family functions, seven family functions are still functioning positively, namely religious, love and affection, social and cultural functions, and one is experiencing dysfunction. This research describes the results of family function shifting positively and negatively. In functional structural theory three functional postulates are consisting of functional unity, universal functionalism, and indispensability, apart from that there is an explanation of the analysis of structural aspects and functional aspects, and what is dominant in this research is the structural aspect. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk memaparkan serta menganalisis pergeseran fungsi keluarga pasca perceraian di Kota Denpasar. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Analisis teori yang dipilih sebagai pisau bedah dalam penelitian ini adalah teori struktural fungsional dari Robert K. Merton. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa faktor internal dan faktor eksternal perceraian menggeser fungsi keluarga di Kota Denpasar. Dalam faktor internal dan faktor eksternal perceraian disebutkan bahwa faktor internal terdiri dari adanya kekerasan dalam rumah tangga, pendidikan, usia dalam perkawinan. Sedangkan faktor eksternal yaitu perselingkuhan, ekonomi, dan pergaulan negatif setiap anggota keluarga. Faktor internal dan eksternal terjadi secara bersamaan dalam keluarga yang mengalami perceraian. Sedangkan fungsi keluarga hasil perceraian bergeser dalam kehidupan sosial keluarga di Kota Denpasar. Dari delapan fungsi keluarga terdapat tujuh fungsi keluarga yang masih berfungsi positif yaitu fungsi agama, cinta dan kasih sayang, sosial dan budaya, dan satu mengalami disfungsi. Dalam penelitian ini menjabarkan hasil fungsi keluarga menggeser secara positif dan negatif. Dalam teori struktural fungsional terdapat tiga postulat fungsional yang terdiri dari kesatuan fungsional, fungsionalisme universal dan indispensability, selain itu terdapat penjelasan analisis aspek struktural dan aspek fungsional, dan yang menjadi dominan dalam penelitian ini adalah dari sisi aspek struktural. Kata kunci: perceraian, fungsi keluarga, struktural fungsional.
Praktik Feminisme dalam Kehidupan Anggota Anggota Komunitas Feminis Space di Bali Herman, Josephine Anastacia; Nugroho, Wahyu Budi; Kamajaya, Gede
Socio-political Communication and Policy Review Vol. 1 No. 4 (2024)
Publisher : Lenggogeni Data Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61292/shkr.154

Abstract

This research aims to explain and analyze the feminist practices of members of the Feminist Space Bali community. Feminism is a thought about women's emancipation against injustice due to patriarchy, where men are in a dominant position while women are subordinate. Bali is an example that patriarchy is still the social order of society. It can be seen that Balinese women hold three noble roles but their position is still not appreciated. This raises the awareness of young Balinese women to create a feminist community, as a form of feminist practice. Feminist Space is a feminist community in Bali which aims to be a forum for aspirations for its members, because the meaning of feminism between individuals will be different. The research method used is a qualitative approach with descriptive-explanatory research type. The theoretical analysis chosen as the scalpel in this research is the existentialist feminist theory of Simone de Beauvoir. The research results revealed that community members have various meanings of feminism, so that members' meanings of feminism are divided into two, namely feminism as a foundation and feminism as a way of life. Apart from that, the informant also uses feminism as a basis for living his socio-cultural and economic life. The existence of feminism gives informants an incentive to break negative stereotypes that harm them. The meaning and practice of feminism carried out by the informants is a manifestation of the values of Beauvoir's existentialist feminism, because indirectly it has been done to show the members' self-existence by working, refusing subordination and becoming intellectual agents. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk memaparkan serta menganalisis praktik feminisme anggota komunitas Feminis Space Bali. Feminisme merupakan pemikiran tentang emansipasi perempuan terhadap ketidakadilan akibat patriarki, di mana laki-laki berada di posisi dominan sedangkan perempuan subordinat. Bali merupakan salah satu contoh bahwa patriarki masih menjadi tatanan sosial masyarakat, terlihat perempuan Bali memegang tiga peran yang mulia namun posisinya masih tidak diapresiasi. Hal ini menimbulkan kesadaran perempuan muda Bali untuk membuat komunitas feminisme, sebagai wujud praktik feminisme. Feminis Space merupakan komunitas feminisme di Bali yang bertujuan sebagai wadah aspirasi bagi para anggotanya, karena pemaknaan feminisme antar individu akan berbeda. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif-eksplanatif. Analisis teori yang dipilih sebagai pisau bedah dalam penelitian ini adalah teori feminisme eksistensialis dari Simone de Beauvoir. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa anggota komunitas memiliki pemaknaan feminisme yang beragam, sehingga pemaknaan feminis anggota terbagi menjadi dua yaitu feminisme sebagai pondasi dan feminisme sebagai pandangan hidup. Selain itu, Informan juga menjadikan feminisme sebagai landasan dalam menjalani kehidupan sosial-budaya dan ekonominya. Adanya feminisme memberikan para informan sebuah dorongan untuk mematahkan stereotipe negatif yang merugikan mereka. Pemaknaan dan praktik feminisme yang dilakukan informan merupakan wujud dari nilai-nilai feminisme eksistensialis Beauvoir, karena secara tidak langsung sudah dilakukan untuk menunjukkan eksistensi diri para anggota dengan cara bekerja, menolak subordinasi dan menjadi agen intelektual. Kata kunci: patriarki, feminisme, eksistensi diri, feminisme eksistensialis.
Stigma terhadap Individu Childfree pada Masyarakat di Kota Denpasar Neysa, Maurilla Rahma; Aditya, Agung Krisna; Nugroho, Wahyu Budi
Socio-political Communication and Policy Review Vol. 1 No. 4 (2024)
Publisher : Lenggogeni Data Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61292/shkr.156

Abstract

This study focuses on the phenomenon of being childfree within society, particularly in the city of Denpasar. The purpose of this study is to explain and analyze stigma related to childfree individuals in the society in Denpasar City. Childfree is an option for a handful of individuals who do not want the presence of children in their lives, but this is still underestimated by the general public, especially the people in Denpasar City. The method used in this study is a qualitative approach with an explanatory descriptive type. The theoretical analysis used as a scalpel in this study is the Stigma Theory from Erving Goffman. The results of this study revealed that the majority of society generally views the presence of children as vital and as an obligation for every individual to have children. Particularly in Denpasar, the society views having descendants as fundamental, indirectly creating an expectation for individuals to marry and have children to continue their lineage. The existence of individuals who do not want to have children in their lives where referring to themselves as childfree individuals presents as a reality that is considered against the social construction that already exists in society. Based on Goffman's theory of Stigma, there is a gap between community expectations and the reality of the presence of childfree individuals causing stigma or negative views from the community on childfree individuals. Abstrak Penelitian ini berfokus pada fenomena childfree di tengah masyarakat, khususnya pada masarakat di Kota Denpasar. Tujuan penelitian ini adalah memaparkan dan menganalisis terkait stigma terhadap individu childfree pada masyarakat di Kota Denpasar. Childfree merupakan pilihan bagi segelintir individu yang tidak menginginkan kehadiran anak dalam hidupnya, akan tetapi hal tersebut masih dipandang sebelah mata oleh masyarakat umum, khususnya masyarakat di Kota Denpasar. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan jenis deskriptif eksplanatif. Analisis teori yang digunakan sebagai pisau bedah dalam penelitian ini adalah Teori Stigma dari Erving Goffman. Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa mayoritas masyarakat umumnya memandang bahwa kehadiran anak merupakan hal yang vital dan sudah seperti suatu kewajiban bagi setiap individu untuk memiliki anak. Terutama pada masyarakat di Kota Denpasar sendiri, masyarakatnya memandang keturunan sebagai suatu hal yang fundamental sehingga secara tidak langsung menciptakan harapan bagi setiap individu untuk menikah dan memiliki anak untuk meneruskan keturunannya. Adanya individu-individu yang tidak ingin memiliki anak dalam hidupnya dimana menyebut dirinya sebagai individu childfree ini hadir sebagai realitas yang dianggap melawan konstruksi sosial yang telah ada di masyarakat. Berdasarkan teori Goffman mengenai Stigma, adanya kesenjangan antara harapan masyarakat dengan realitas hadirnya individu childfree tersebut menimbulkan stigma atau pandangan negatif dari masyarakat terhadap individu childfree. Kata Kunci: childfree, stigma, pandangan masyarakat, label, dan kesenjangan.
Co-Authors Aditya, Agung Krisna Agusman, Riko Alfiandi, Rully Amput, Albertus Gianino Ana María Naranjo Cortés Anak Agung Bayu Indrawan, Anak Agung Bayu Ardiyansyah, Bagus Ari Putra Sahadewa, I Gusti Made Arif Viani, Mahcmuddah Ayu Gatriyani, Ni Komang Ayuningtyas, Anastasia Barata, Jessica Yng Wie Intan Bina Meni, Gregorius Yakobus Brenda Yanti, I Gusti Agung Ayu Budiarta, I Kadek Pandu Caitanya, Putu Krishna Candra, Ni Made Tanti Darmawan, Komang Mulia Darmawan, Rivaldi Dwi Pratiwi, Ni Kadek Indah Erik Saputra, I Kadek Fauzi Rochman Felanza, Merdi Furqanul Azies Gabriel, Gabriel Gede Kamajaya Gede Kamajaya Gede Kamajaya Gede Kamajaya Gede Kamajaya, Gede HAKIM, IKHSAN Halima, Yuliana Sulastri Handika Alfirdaussy, Fanny Dwi Hayuningtyas, Nadia Sanya Herman, Josephine Anastacia I Gst. Pt. Bagus Suka Arjawa I Gusti Ngurah Agung Krisna Aditya I Gusti Ngurah Krisna Aditya I Nengah Punia Ikhsani, Hanif Ikma Citra Ranteallo Imron Hadi Tamim Imron Hadi Tamim, Imron Hadi Indrayatna, I Gede Intan Saptiari, Ni Luh Made Ismail, Nawari Jeliha, Krista Karuniasih, Ni Nyoman Mika Putri Khoirul Fajri, Muhamad Lokasari, Putu Vita Maharani Putri, Anak Agung Chintya Manullang, Santa Monika Marbun, Angelina Sellyn Manora Mardinata, Yoni Mbere, Theresia Sindianti Mirah Diantari, Gusti Ayu Kade Monica, Arvela Cahya Muchamad Zaenal Arifin Muchamad Zaenal Arifin, Muchamad Zaenal Muhammad Fazri Dwi Risky Muhammadia, A.Adelia Hardianti Mujiatno, Fidiana Rakmawati Mutiara Prameswari, Ni Putu Laksmi Nazrina Zuryani Neysa, Maurilla Rahma Ni Luh Nyoman Kebayantini Ni Made Anggita Sastri Mahadewi Ni Putu Udiyani, Ni Putu Norhalimah, Norhalimah Nurbaity, Fava Nurul Inayati Nyoman Ayu Sukma Pramestisari Pane, Dessy Monica Panggabean, Gabriela Dona Insani Paramitha, Kadek Raveda Adinda Pasha Maraneka, I Putu Reza Pramestiasri, Made Melly Anindita Pratama, Agus Elfa Pratiwi, Ni Komang Rahma Tri Pratiwi, Ni Putu Sri Pricilia Purnama Putri Sang Begawan, Pramudya Kansa Putri, Rismalia Anindra Rachman, Suryahadi Yulia Rahayu Dewi, Ni Ketut Budi Rasidi, Rafny Alnovira Rasmi, I Gst Ayu Diah Citra Riana Sari, Meidiawati Rizki, Andini Putri Robert, Yohanes Julian Rochman, Fauzi Rudyanto, Gerald Timoty Untung Rukningsih, Ni Putu Sri Veni Saputra, Gede Wahyu Sari Sinaga, Putri Ratna Sasi, Ingga Amara Savitri, Annastasia Sebayang, Oky Peramana Selarani, Katrin Setiawan, Gde Darma Shahby, Shafira Rahmarisdewi Sinaga, Willyam Steven Sitorus, Kristina Sobhita Tryandari, Nyoman Ayu Suarningsih, Ni Kadek Sukiman Sukiman Sukma Sushanti Sukma, Adinda Putri Sulistiono Shalladdin Albany Sumboko, Agung Supri, Supiandi Suryanatha, Ida Bagus Tendi Setyoko, Tendi Utami, Ni Luh Srisaka Wahyuwidowati, Nifita Sistin Wijanarko, Rio Wijaya, Yoseph Fredy Wolu Ate, Elton Laiya Wulandari, I Gusti Ayu Satria Yenadin, Ramadhini Putri Yoga, I Komang Dharma Yuandhini, B. Warfanni Azzura Yulia, Elisa Linda Yuliarmini, Ni Made