Penelitian ini mengeksplorasi fenomena etika komunikasi mahasiswa kepada dosen melalui media digital dalam perspektif Jean Baudrillard dengan menggunakan metode kualitatif melalui wawancara mendalam terhadap tiga informan mahasiswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi akademik telah memasuki tahap simulakra, di mana penggunaan template pesan kaku menciptakan "topeng digital" yang tidak lagi merepresentasikan rasa hormat tulus, melainkan sekadar produksi citra untuk memenuhi ekspektasi formalitas. Kondisi hiperrealitas juga ditemukan melalui fakta bahwa mahasiswa lebih mencemaskan kesalahan teknis pada layar daripada kesalahan sikap dalam interaksi fisik, yang membuktikan bahwa representasi digital kini dianggap lebih nyata dalam menentukan status etis seseorang. Fenomena ini berujung pada matinya makna, di mana ungkapan santun direduksi menjadi sekadar "kode akses" administratif demi kelancaran urusan birokrasi akademik. Secara keseluruhan, melimpahnya simbol kesantunan di ruang digital justru menyembunyikan kekosongan makna dan mengakibatkan alienasi karakter mahasiswa akibat mekanisasi hubungan pedagogis yang kering akan nilai kemanusiaan.