Claim Missing Document
Check
Articles

Found 32 Documents
Search

Performativitas Gender dan Identitas diri dalam film Lovely Man: Perspektif Judith Butler Meza Herlianti; Afifa Humaira; Fatimah Azzahra Surga; Vieronica Varbi Sununianti; Istiqomah; Deni Aries Kurniawan
Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial, Hukum & Politik Vol 4 No 3 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/alz.v4i3.6055

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk meninjau performativitas gender dan pembentukan identitas diri dalam film Lovely Man melalui perspektif Judith Butler. Metode yang digunakan pada penelitian ini kualitatif deskriptif dengan pengumpulan data berupa observasi melalui adegan dan dialog dalam film. Hasil penelitian yang dihasilkan adalah, identitas gender tokoh Syaiful atau Ipul tidak bersifat tetap tetapi terbentuk melalui tindakan yang dilakukan secara berulang-ulang dalam kehidupan sehari-hari. Penampilan sebagai transpuan yang ditampilkan dari cara berpakian, gestur serta interaksi sosial menunjukkan bahwa gender adalah sesuatu yang dilakukan dan bukanlah sesuatu yang melekat secara alami. Lalu film ini menampilkan adanya identitas ganda yang di jalani oleh Syaiful, yaitu tokoh sebagai ayah dan sebagai transpuan di ruang publik yang dimana sering kali mendorong perbincangan karena adanya norma heteronormatif dari masyarakat. Melalui penelitian ini, disimpulkan bahwa film Lovely Man menghadirkan representasi gender sebagai sesuatu yang tidak linier namun terbentuk dari adanya proses sosial di masyarakat.
Keterbatasan Relasi Sosial Mahasiswa Komuter di Lingkungan Kampus Aulia Novita; Nayla Amaliah; Khafifah Mujahidah; Vieronica Varbi Sununianti; Deni Aries Kurniawan; Istiqoma
Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial, Hukum & Politik Vol 4 No 3 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/alz.v4i3.6088

Abstract

Penelitian ini membahas keterbatasan relasi sosial yang dialami oleh mahasiswa komuter di lingkungan kampus, khususnya di Universitas Sriwijaya. Mahasiswa komuter adalah mahasiswa yang melakukan perjalanan pulang-pergi setiap hari, sehingga waktu dan energi mereka banyak tersita oleh mobilitas, yang kemudian memengaruhi keterlibatan sosial mereka. Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana kondisi tersebut memengaruhi kemampuan mahasiswa dalam membangun relasi sosial serta bagaimana mereka beradaptasi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan observasi untuk menggali pengalaman langsung mahasiswa komuter. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingginya mobilitas menyebabkan kelelahan dan keterbatasan waktu, sehingga mahasiswa kurang terlibat dalam aktivitas sosial kampus. Akibatnya, relasi sosial yang terbentuk menjadi terbatas dan kurang luas. Selain itu, akses terhadap informasi informal juga menjadi terbatas karena minimnya keterlibatan dalam interaksi di luar kelas. Namun, mahasiswa komuter memiliki strategi adaptasi, seperti memanfaatkan komunikasi digital, aktif saat perkuliahan, serta mencari informasi secara mandiri. Kesimpulannya, keterbatasan relasi sosial mahasiswa komuter dipengaruhi oleh faktor individu dan kondisi struktural, terutama mobilitas dan keterbatasan waktu.
Budaya Konsumtif dalam Perspektif Jean Baudrillard: Studi pada Pengguna TikTok Shop M. Budi Pratama; M. Taufiqurrahman Akbar; M. Alif Awaluddin; Vieronica Varbi Sununianti; Istiqoma; Deni Aries Kurniawan
Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial, Hukum & Politik Vol 4 No 3 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/alz.v4i3.6134

Abstract

Belakangan ini, aktivitas belanja bukan lagi sekadar cara untuk memenuhi kebutuhan hidup, melainkan telah bergeser menjadi sarana untuk menunjukkan identitas diri. Penelitian ini mengulas bagaimana TikTok Shop menjadi ruang baru bagi tumbuhnya budaya konsumtif yang sangat intens. Fokus utamanya adalah membedah fenomena tersebut melalui kacamata pemikiran Jean Baudrillard, khususnya mengenai konsep nilai tanda (sign value), simulasi, dan hiperrealitas. Dengan menggunakan metode studi literatur (narrative review), penelitian ini menganalisis berbagai tulisan ilmiah, buku, dan jurnal yang relevan untuk memetakan perilaku konsumen di era digital. Hasil analisis menunjukkan bahwa pengguna TikTok Shop cenderung membeli barang bukan karena fungsi praktisnya, melainkan demi mengejar simbol sosial seperti citra “glowing”, “aesthetic”, atau gaya hidup “clean girl” yang viral. Fitur live shopping dan algoritma platform ini menciptakan kondisi nyata dan lebih menggoda daripada realitas produk itu sendiri. Simpulannya, TikTok Shop telah berhasil mengintegrasikan hiburan dan ekonomi ke dalam sebuah ekosistem simulakra yang membuat konsumsi menjadi cair, implusif, dan sepenuhnya berbasis pada pemenuhan citra identitas di ruang sosial.
Spiral Of Silence di Era Digital: Ketakutan Berpendapat di Media Sosial Dalam Konteks Kebebasan Berekspresi di Indonesia Aliyah Jasmine Rifa Riyanti; Muhammad Danda Mulia; Arini; Vieronica Varbi Sununianti; Istiqomah; Deni Aries Kurniawan
Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial, Hukum & Politik Vol 4 No 3 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/alz.v4i3.6226

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji fenomena Spiral of Silence (spiral keheningan) dalam konteks media sosial di Indonesia, khususnya berkaitan dengan ketakutan berpendapat yang dialami oleh individu di ruang digital. Kebebasan berekspresi di Indonesia menghadapi tantangan baru berupa ancaman digital seperti doxing, serangan buzzer, dan regulasi seperti Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) yang seringkali menimbulkan efek pembungkaman (chilling effect) bagi pengguna media sosial. Teori Spiral of Silence yang dikemukakan oleh Elisabeth Noelle-Neumann menjelaskan bagaimana individu yang merasa pendapatnya berbeda dari opini mayoritas cenderung memilih diam untuk menghindari isolasi sosial. Penelitian ini menggunakan metode studi literatur dengan menganalisis berbagai penelitian yang relevan. Hasil kajian menunjukkan bahwa fenomena spiral of silence terbukti terjadi di media sosial Indonesia, terutama diperkuat oleh faktor-faktor seperti ketakutan akan doxing, ancaman buzzer, dan potensi jeratan UU ITE. Meski demikian, ketakutan-ketakutan tersebut tidak selalu secara langsung memengaruhi keinginan berpendapat individu. Di sisi lain, gerakan kolektif seperti petisi civitas akademika menunjukkan bahwa spiral keheningan dapat diputus ketika individu bersatu dan merasa didukung oleh kelompoknya. Penelitian ini menyimpulkan bahwa diperlukan penguatan literasi digital, reformasi regulasi, dan perlindungan hukum yang lebih komprehensif untuk menjamin kebebasan berekspresi di ruang digital Indonesia.
Media Sosial Kampus dan Disiplin Mahasiswa: Analisis Foucault Yogi Alja'is Fadillah; Shalsa Badisyafitri; Rangga Pratama; Vieronica Varbi Sununianti; Istiqoma; Deni Aries Kurniawan
Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial, Hukum & Politik Vol 4 No 3 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/alz.v4i3.6316

Abstract

Penelitian ini mengkaji perilaku mahasiswa di media sosial kampus dalam perspektif kuasa dan disiplin. Perkembangan platform digital seperti Instagram, TikTok, dan grup pesan telah menciptakan ruang sosial baru yang memberikan kesan kebebasan berekspresi bagi mahasiswa. Namun, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis apakah kebebasan tersebut benar-benar nyata atau justru dibentuk oleh pengawasan dan kontrol sosial yang tidak terlihat. Penelitian ini menggunakan metode literature review dengan mengkaji dan mensintesis berbagai sumber ilmiah yang relevan, seperti jurnal, buku, dan penelitian terdahulu yang berkaitan dengan media sosial, pengawasan, dan relasi kuasa. Analisis dilakukan melalui proses identifikasi, evaluasi, dan interpretasi terhadap literatur yang ada. Hasil kajian menunjukkan bahwa mahasiswa cenderung mengatur perilaku digitalnya dengan menyesuaikan konten terhadap ekspektasi sosial, rasa takut terhadap penilaian negatif, serta norma institusi. Interaksi seperti likes, komentar, dan visibilitas menciptakan bentuk pengawasan tidak langsung yang mendorong disiplin diri. Selain itu, kuasa bekerja secara tidak terlihat melalui proses normalisasi yang membentuk perilaku tanpa paksaan langsung. Hal ini menunjukkan bahwa kebebasan di media sosial sebenarnya berada dalam batasan tertentu. Penelitian ini menyimpulkan bahwa media sosial kampus menjadi ruang disiplin modern yang membentuk perilaku mahasiswa melalui mekanisme kuasa dan pengawasan.
Kasih Sayang dan Ketidakadilan Hukum sebagai Realitas Sosial dalam Film Miracle in Cell No. 7 Nadilah Miskah Somahapsari; Ahmad Yusuf Pratama; Muhammad Faiz Naufal; Vieronica Varbi Sununianti; Istiqomah; Deni Aries Kurniawan
Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial, Hukum & Politik Vol 4 No 3 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/alz.v4i3.6449

Abstract

Film Miracle in Cell No. 7 sering dipahami sebagai kisah hubungan ayah dan anak yang mengharukan, namun juga memuat gambaran kondisi sosial dan proses hukum yang tidak setara bagi kelompok rentan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji representasi ketidakadilan hukum terhadap penyandang disabilitas dalam film tersebut berdasarkan penelitian-penelitian terdahulu. Metode yang digunakan adalah literature review kritis dengan menganalisis sejumlah artikel ilmiah relevan yang diterbitkan dalam jurnal bereputasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar kajian lebih menekankan aspek emosi dan nilai kemanusiaan, sehingga persoalan ketidakadilan hukum sering dipahami sebagai bagian dari alur cerita. Representasi penyandang disabilitas cenderung dilihat sebagai persoalan personal yang mengundang simpati, bukan sebagai akibat dari kondisi sosial yang tidak setara. Selain itu, proses hukum dalam film digambarkan berjalan secara sepihak tanpa memberikan ruang yang memadai bagi tokoh utama untuk membela diri. Temuan ini dapat dipahami sebagai bentuk penerimaan sosial terhadap ketimpangan yang berlangsung secara halus, sebagaimana dijelaskan dalam konsep hegemoni oleh Antonio Gramsci. Kesimpulan penelitian ini menegaskan bahwa film tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga berperan dalam membentuk cara pandang penonton terhadap keadilan dan posisi kelompok rentan dalam masyarakat.
From home to campus: The homesickness and adaptation experience of migrant students Ica Purnama; Vika Rahmawati; Dira Okta Saraswati; Melysah Ramadona; Lentera Langit; Ghina Reftantia; Vieronica Varbi Sununianti; Elita Aidillah
Priviet Social Sciences Journal Vol. 6 No. 6 (2026): June 2026
Publisher : Privietlab

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55942/pssj.v6i6.1960

Abstract

Educational mobility encourages many students to leave their home areas to continue their studies in higher education. The move not only presents academic opportunities but also poses various social and emotional challenges, one of which is homesickness. This study aims to analyze the experiences of homesickness and social adaptation among migrant students at Sriwijaya University, Indralaya Campus. The research uses a qualitative approach with phenomenological methods. The data were obtained through in-depth interviews with five migrant students who were selected purposively based on their experience of living far from their families and having experienced homesickness. Data was analyzed using an interactive model through the stages of data reduction, data presentation, and a conclusion drawn. The results of the study showed that homesickness is experienced in the form of longing for family, feelings of loneliness due to the loss of a familiar social environment, culture shock when entering a new environment, and difficulty living life independently. This experience is part of the social adaptation process that takes place when students enter a social environment that is different from their home region. Adaptation is carried out through changes in daily behavior, the development of new social relationships, involvement in student organizations, and the process of forming an identity as a more independent individual. The findings of the study show that homesickness is not only an emotional response to separation from home but also an important part of the process of social adjustment and maturation of migrant students.
Fenomena Nongkrong sebagai Gaya Hidup di Kalangan Mahasiswa Lidya Shela Agustin; Nadya Difriana; Putri Elya Jumiati; Vieronica Varbi Sununianti; Istiqoma; Deni Aries Kurniawan
QAWIUN : Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 2 No. 1 (2026): 2026
Publisher : PT.Hassan Group Publiseher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/qw.v2i1.782

Abstract

Fenomena nongkrong di kalangan mahasiswa saat ini menunjukkan adanya pergeseran makna dari sekadar aktivitas sosial menjadi bagian dari gaya hidup modern. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji fenomena nongkrong sebagai gaya hidup mahasiswa serta memahami faktor pendorong, bentuk aktivitas, dan dampaknya terhadap kehidupan sosial dan akademik. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi literatur (library research), melalui analisis berbagai sumber seperti jurnal ilmiah, buku, dan artikel akademik yang relevan. Hasil kajian menunjukkan bahwa budaya nongkrong tidak hanya berfungsi sebagai sarana interaksi sosial, tetapi juga sebagai media ekspresi identitas diri, simbol status sosial, serta bagian dari konsumsi simbolik sebagaimana dijelaskan dalam teori Jean Baudrillard. Faktor lingkungan sosial, perkembangan kafe modern, serta pengaruh media sosial menjadi pendorong utama terbentuknya gaya hidup ini. Selain memberikan dampak positif seperti relaksasi, peningkatan kreativitas, dan perluasan relasi sosial, budaya nongkrong juga berpotensi menimbulkan perilaku konsumtif, pemborosan, serta menurunnya fokus akademik apabila dilakukan secara berlebihan. Oleh karena itu, diperlukan sikap bijak dalam menyikapi budaya nongkrong agar tetap memberikan manfaat tanpa mengganggu keseimbangan kehidupan mahasiswa.
Peran Algoritma Dalam Membentuk Standarisasi Selera Di Media Sosial: Analisis Kritis Perspektif Theodor Adorno Sahara; Gea Lestari; Aisyah Regita Putri; Vieronica Varbi Sununianti; Istiqomah; Deni Aries Kurniawan
QAWIUN : Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 2 No. 1 (2026): 2026
Publisher : PT.Hassan Group Publiseher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/qw.v2i1.787

Abstract

Penelitian ini menganalisis peran algoritma dalam membentuk standarisasi selera di media sosial dengan menggunakan perspektif teori kritis Theodor Adorno. Penelitian ini menggunakan metode literature review dengan menelaah berbagai jurnal nasional dan internasional yang relevan dengan budaya algoritmik, media sosial, dan perilaku pengguna. Hasil penelitian menunjukkan bahwa algoritma tidak hanya berfungsi sebagai alat teknis, tetapi sebagai instrumen industri budaya yang secara aktif membentuk, mereproduksi, dan menstandarisasi preferensi pengguna. Melalui mekanisme personalisasi, eksposur berulang, optimasi keterlibatan, dan filter bubble, algoritma menghasilkan pola selera yang homogen, meskipun tampak beragam di permukaan. Kondisi ini mencerminkan konsep pseudo-individualization dari Adorno. Selain itu, algoritma juga membentuk identitas digital, opini publik, serta interaksi sosial pengguna. Penelitian ini menekankan pentingnya literasi digital dan kesadaran kritis dalam menghadapi dominasi algoritma dalam masyarakat digital kontemporer.
Hiperrealitas dalam Penggunaan Filter Wajah di Media Sosial pada Representasi Identitas Digital Nur Rahma Vadila; Nara Zatty; Meisy Novianti; Vieronica Varbi Sununianti; Istiqomah; Deni Aries Kurniawan
QAWIUN : Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 2 No. 1 (2026): 2026
Publisher : PT.Hassan Group Publiseher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/qw.v2i1.788

Abstract

Perkembangan media sosial telah mengubah cara individu membangun dan merepresentasikan identitas diri di ruang digital. Penggunaan filter wajah pada platform seperti Instagram dan TikTok memungkinkan pengguna memodifikasi tampilan visual secara instan sehingga menciptakan representasi diri yang tidak selalu mencerminkan realitas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran penggunaan filter wajah dalam membentuk identitas digital melalui perspektif teori hiperrealitas Jean Baudrillard. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi literatur terhadap berbagai sumber ilmiah yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa filter wajah berfungsi sebagai simulakra yang menghasilkan identitas digital yang ideal dan estetis, sehingga individu cenderung menginternalisasi citra digital sebagai bagian dari identitas dirinya. Fenomena ini menyebabkan kaburnya batas antara realitas dan simulasi, serta mendorong terbentuknya standar kecantikan hiperreal, ketergantungan terhadap validasi sosial, dan munculnya kesenjangan antara identitas nyata dan identitas digital. Temuan ini menegaskan bahwa media sosial tidak hanya menjadi ruang representasi, tetapi juga ruang produksi realitas berbasis citra yang membentuk identitas secara konstruktif, performatif, dan dinamis dalam masyarakat digital.
Co-Authors Afifa Humaira Agustin, Nanda Riski Agustin, Nur Shafira Ahmad Yusuf Pratama Aisyah Regita Putri Ajizah, Tary Hadisti Aliyah Jasmine Rifa Riyanti Anang Dwi Santoso Andy Alfatih Anggie Elma Acintya Arie Sujito Arini aris juliasya Aulia Novita Aulia Novita Rizki Aura Tsabitah Dewi Sartika, Diana Diana Dewi Sartika, Diana Dewi Dira Okta Saraswati Dyah Hapsari Elita Aidillah Eva Lidya Fadillah Nur Habibah M Fatimah Azzahra Surga Fibiolaa, Khofifah Irya Gea Lestari Ghina Reftantia Ghina Reftantia Gita Permatasari Gunawansyah Gunawansyah hamdani sumantri Hapsari Ekonugraheni, Dyah Heru Nugroho Ica Purnama Istiqoma Istiqoma Istiqoma Istiqoma, Istiqoma Istiqomah Istiqomah Istiqomah Julius El Roy Marpaung Keysha Mutia Ranandityas Khafifah Mujahidah Kurniawan, Deni Aries Lentera Langit Lidya Shela Agustin M. Alif Awaluddin M. Budi Pratama M. Taufiqurrahman Akbar M.Rafli Dwi Mahesa Masyitoh, Maulida Maulana Maulana, Maulana Maulana, Ridho Adji Meisy Novianti Melysah Ramadona Mery Yanti Meza Herlianti Miftahul Janna Muhammad Danda Mulia Muhammad Faiz Naufal Nadilah Miskah Somahapsari Nadya Difriana Nandea Khodijah Nara Zatty Naura Putri Utaya Nayla Amaliah Nur Rahma Vadila Nurilla Elysa Putri Putra, Decka Pratama Putri Elya Jumiati Rahmawati, Zulfatri Randi, Randi Rangga Pratama Retna Mahriani Reva Zikri Fahlevi Rizki, Putri Meylina Rudy Kurniawan Rudy Kurniawan Sahala Immanuel D. P Sahara Sari Septia Ningsih Shalsa Badisyafitri Soraida, Safira Tresno Tresno Tri Melia Damaiyanti Vika Rahmawati Vini Anggun Pratiwi Vivien Creasna Alamanda Yogi Alja'is Fadillah Yunindyawati Yunindyawati Yunita Maharani Yurismasari, Heidi Zulfikri Suleman Zulfikri Suleman