Bernie Endyarni Medise
Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta

Published : 34 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search
Journal : Sari Pediatri

Pengaruh Pemberian Vitamin E terhadap Kadar Oksidan pada Leukemia Limfoblastik Akut Fase Induksi Dewi Anggraeni; Hikari Ambara Sjakti; Bernie Endyarni Medise
Sari Pediatri Vol 23, No 6 (2022)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp23.6.2022.402-8

Abstract

Latar belakang. Penderita leukemia limfoblastik akut (LLA) akan mengalami perubahan status oksidan dan antioksidan sejak awal diagnosis dan selama kemoterapi. Vitamin E merupakan antikarsinogenik dan berperan mencegah kerusakan oksidatif pada struktur sel dan jaringan lewat reaksi pemecahan radikal bebas. Tujuan. Mengetahui pengaruh vitamin E terhadap kadar oksidan, kadar enzim transaminase, dan insiden demam neutropenia pada LLA saat awal dan selesai kemoterapi fase induksi. Metode. Uji klinis acak tersamar ganda yang membandingkan kelompok vitamin E dengan kelompok plasebo pada penderita LLA saat awal dan selesai kemoterapi fase induksi pada bulan Juni-November 2019 di poliklinik Hematologi Onkologi Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI RSCM Kiara. Hasil. Terdapat peningkatan kadar median MDA saat awal fase induksi dan terjadi penurunan MDA secara bermakna saat selesai fase induksi pada kelompok plasebo. Terdapat peningkatan median enzim transaminase (AST dan ALT) saat awal fase induksi dan terjadi penurunan delta median AST secara bermakna saat selesai fase induksi pada kelompok plasebo. Insiden demam neutropenia (per episode) ditemukan hampir sama pada kelompok vitamin E dan kelompok plasebo. Kesimpulan. Vitamin E tidak terbukti secara bermakna memperbaiki kadar MDA, enzim transaminase, dan insiden demam neutropenia pada penderita LLA fase induksi.
Efektivitas Seminar pada Perubahan Sikap Ibu dalam Pemberian Dukungan Nutrisi dan Stimulasi selama Pemantauan Tumbuh Kembang Soedjatmiko Soedjatmiko; Hartono Gunardi; Rini Sekartini; Bernie Endyarni Medise; Ikhsan Johnson; Yulianti Wibowo; Ray Wagiu Basrowi
Sari Pediatri Vol 19, No 4 (2017)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (265.597 KB) | DOI: 10.14238/sp19.4.2017.201-8

Abstract

Latar belakang. Kualitas tumbuh kembang balita ditentukan oleh nutrisi, kasih sayang, stimulasi, dan perlindungan terhadap penyakit. Ibu sebagai pengasuh utama anak berperan penting mengoptimalkan pertumbuhan dan perkembangan anak, sehingga harus memiliki sikap yang baik tentang pemantauan tumbuh kembang saat kunjungan ke tenaga kesehatan. Peningkatan pengetahuan Ibu dapat dilakukan dengan edukasi dan pelatihan.Tujuan. Menganalisis efektivitas seminar pada perubahan sikap ibu dalam pemberian dukungan nutrisi dan stimulasi selama pemantauan tumbuh kembang. Metode. Penelitian desain potong lintang dengan kuesioner pre dan post intervensi dilakukan pada ibu dengan balita. Perubahan sikap ibu dievaluasi dalam pemantauan tumbuh kembang anaknya. Intervensi berupa seminar mengenai kesehatan anak yang diadakan di 6 kota besar di Indonesia dengan purposive sampling peserta yang mengisi lengkap kuesioner. Analisis data digunakan metode paired T-test dalam software IBM SPSS statistics versi 22.Hasil. Terdapat 617 ibu yang mengisi lengkap kuesioner yang diberikan dalam seminar. Terjadi peningkatan yang bermakna (beda mean -0,15±0,26;95%CI -0,17sampai-0,13; p<0,001) pada rerata skor sikap ibu setelah mengikuti seminar yang diadakan oleh peneliti. Sumber informasi yang penting dan berkesan, antara lain, televisi, gawai, media sosial, tenaga kesehatan, dan seminar oleh tenaga kesehatan. Kesimpulan. Pemberian seminar oleh tenaga kesehatan mengubah sikap ibu pada pengasuhan anak selama pemantauan tumbuh kembang dengan efektif (p<0,001).
Konstipasi Fungsional Bernie Endyarni; Badriul Hegar Syarif
Sari Pediatri Vol 6, No 2 (2004)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (178.914 KB) | DOI: 10.14238/sp6.2.2004.75-80

Abstract

Konstipasi merupakan keadaan yang sering ditemukan pada anak dan dapat menimbulkanmasalah sosial maupun psikologis. Berdasarkan patofisiologis, konstipasi dapatdiklasifikasikan menjadi konstipasi akibat kelainan struktural dan konstipasi fungsional.Konstipasi yang dikeluhkan oleh sebagian besar pasien umumnya konstipasi fungsionalyang dihubungkan dengan adanya gangguan motilitas kolon atau anorektal. Konstipasikronis yaitu kostipasi yang telah berlangsung lebih dari 4 minggu. Dalam mentukanadanya konstipasi terdapat 3 aspek yang perlu diperhatikan, yaitu frekuensi buang airbesar (b.a.b), konsistensi tinja, dan temuan pada pemeriksaan fisis. Para ahligastroenterologi di Eropa dan Amerika telah membuat satu kriteria untuk yangmenentukan adanya konstipasi fungsional, yang dikenal dengan kriteria Roma. Meskipunmasih terus dalam pengkajian, beberapa negara telah menggunakan kriteria tersebutsebagai upaya menentukan adanya konstipasi fungsional. Dalam menangani anak dengankonstipasi perlu ditekankan tentang pentingnya hubungan yang erat antara dokter,orangtua, dan pasien. Pada dasarnya, terapi konstipasi terdiri dari dua fase, yaitu fasepengeluaran masa tinja dan fase pemeliharaan. Catatan harian tentang b.a.b, latihanb.a.b (toilet training), makan makanan berserat, terapi laksatif, serta pendekatan secarapsikiatri/psikologi merupakan upaya yang perlu dilaksanakan untuk memperoleh hasilyang optimal.
Manfaat Terapi Pijat pada Konstipasi Kronis Anak Muzal Kadim; Bernie Endyarni
Sari Pediatri Vol 12, No 5 (2011)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp12.5.2011.342-6

Abstract

Latar belakang. Konstipasi sering ditemukan pada anak dan menimbulkan masalah sosial maupun psikologi.Data menunjukkan 95% kasus konstipasi anak merupakan konstipasi fungsional. Penelitian memperlihatkandampak yang baik dari terapi pijat yang dihubungkan dengan berbagai kondisi dan penyakit pada anak.Tujuan. Melihat implikasi klinis terapi pijat terhadap pasien konstipasi kronis pada anak.Metode. Penelitian prospektif intervensional dilakukan dengan randomisasi dan menggunakan kontrol,terhadap kasus konstipasi berusia 2-14 tahun di Divisi Gastroenterologi Departemen Ilmu Kesehatan AnakRSUPN Cipto Mangunkusumo sejak bulan Februari hingga Juni 2006.Hasil. Jumlah subyek penelitian 16 orang terdiri dari 7/16 laki-laki dan 9/16 perempuan. Rerata umur subyek4,1 tahun (SB=+1,3). Frekuensi buang air besar (b.a.b) pasien konstipasi fungsional mengalami peningkatansetelah diberikan terapi pijat. Jumlah pasien yang mengalami kicipirit, dengan tinja keras berkurang lebihbanyak pada kelompok perlakuan dibandingkan kelompok kontrol. Jarak terlama antara b.a.b kelompokperlakuan mengalami penurunan yang lebih besar (6,7+3,2 hari menjadi 3,7+1,7 hari) dibandingkan kelompokkontrol (5,2+2,4 hari menjadi 3,3+1,0 hari). Lama waktu b.a.b kelompok perlakuan berkuranglebih banyak (21,2+18,2 menit menjadi 14,37+8,6 menit) dibandingkan kelompok kontrol (15,6+9,4 menitmenjadi 11,8+9,2 menit). Waktu yang dibutuhkan untuk terjadi perbaikan terhadap konstipasi kelompokperlakuan lebih singkat (29,2+24,9 hari) dibandingkan kelompok kontrol (32,2+20,8 hari).Kesimpulan. Terapi pijat dapat membantu mempercepat perbaikan konstipasi kronis fungsional
Infeksi Saluran Napas Akut pada Balita di Daerah Urban Jakarta Kholisah Nasution; M. Azharry Rully Sjahrullah; Kartika Erida Brohet; Krishna Adi Wibisana; M. Ramdhani Yassien; Lenora Mohd. Ishak; Liza Pratiwi; Corrie Wawolumaja; Bernie Endyarni
Sari Pediatri Vol 11, No 4 (2009)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (91.884 KB) | DOI: 10.14238/sp11.4.2009.223-8

Abstract

Latar belakang. Infeksi saluran napas akut (ISPA) merupakan penyebab terpenting morbiditas dan mortalitas padaanak terutama usia 6-23 bulan. Beberapa faktor dianggap berhubungan dengan ISPA antara lain, jenis kelamin,usia balita, status gizi, imunisasi, berat lahir balita, suplementasi vitamin A, durasi pemberian ASI, pendidikanibu, pendapatan keluarga, crowding, pajanan rokok, serta pengetahuan, sikap, dan perilaku ibu terhadap ISPA.Tujuan. Mengetahui angka prevalensi ISPA pada balita di Rukun Warga (RW) 04 Pulo Gadung sertafaktor-faktor yang berhubungan.Metode. Penelitian potong lintang yang dilakukan pada 103 subjek menggunakan guided questionnaire yangvalid dan reliable untuk mengetahui apakah terdapat diagnosis ISPA dalam satu bulan terakhir pada anakusia 6 bulan–59 bulan serta faktor-faktor yang berhubungan, di RW 04 Kelurahan Pulo Gadung, JakartaTimur, pada bulan Desember 2008.Hasil. Prevalensi ISPA pada balita 40,8%, didapatkan hubungan bermakna antara pajanan asap rokok(p=0,006) dan riwayat imunisasi (p=0,017) dengan prevalensi ISPA pada balita. Namun tidak didapatkanhubungan antara jenis kelamin, usia, status gizi subjek, tingkat pendidikan responden, pendapatan keluarga,crowding, jumlah rokok, suplementasi vitamin A, durasi ASI total dengan prevalensi ISPA pada balita.Kesimpulan. Prevalensi ISPA pada balita cukup tinggi dan terdapat hubungan bermakna antara pajananasap rokok dan riwayat imunisasi dengan prevalensi ISPA pada balita
Sensori Integrasi: Dasar dan Efektivitas Terapi Elina Waiman; Soedjatmiko Soedjatmiko; Hartono Gunardi; Rini Sekartini; Bernie Endyarni
Sari Pediatri Vol 13, No 2 (2011)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp13.2.2011.129-36

Abstract

Terapi sensori integrasi, sebagai bentuk terapi okupasi, mulai populer diberikan untuk tata laksana anak dengan berbagai gangguan perkembangan, belajar, maupun perilaku. Namun dasar teori, bentuk gangguan pemrosesan sensori, dan efektivitas terapi umumnya belum diketahui secara luas di kalangan dokter spesialis anak. Bukti sahih tentang manfaat terapi sensori integrasi untuk tata laksana anak dengan gangguan spesifik memungkinkan aplikasi dan pemberian edukasi pada keluarga pasien secara lebih optimal.
Profil Asupan Minum pada Anak Prasekolah di Daerah Urban dan Rural di Indonesia dan Faktor-faktor yang Memengaruhinya Titis Prawitasari; Bernie Endyarni Medise; Diana Sunardi; Dewi Friska; Erfi Prafiantini; Rizki Yusrini Pohan; Budi Wiweko
Sari Pediatri Vol 22, No 4 (2020)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp22.4.2020.236-42

Abstract

Latar belakang. Asupan minum yang kurang akan berdampak terhadap performa fisik dan kognitif serta dapat menimbulkan manifestasi klinis, seperti pusing, lesu, dan gangguan konsentrasi. Anak memiliki proporsi cairan tubuh yang lebih tinggi dibandingkan dewasa. Hingga saat ini belum ada data mengenai kecukupan asupan minum anak prasekolah di Indonesia.Tujuan. Mengetahui kecukupan asupan minum anak prasekolah di daerah urban dan rural di Indonesia.Metode. Penelitian dengan desain potong lintang dilakukan pada bulan Januari-Maret 2016 di Jakarta dan Maluku pada anak usia 36-72 bulan. Perhitungan jumlah cairan dilakukan dengan mencatat jumlah yang diminum dalam 7 Day-Fluid Diary Record. Asupan minum total ditentukan berdasarkan jumlah yang dikonsumsi dari semua kategori dan sesuai dengan angka kecukupan gizi (AKG) 2019.Hasil. Sebanyak 585 anak mengikuti penelitian ini dengan median asupan minum adalah 1133,1 (85-2991,4) mL/hari dan jenis asupan paling tinggi adalah air putih. Subjek yang tinggal di daerah urban mempunyai faktor risiko lebih rendah untuk mengalami asupan minum yang kurang (RR=0,580; 95%IK: 0,418-0,807; p=0,001). Demikian pula semakin muda usia subjek, maka semakin kecil kemungkinan untuk mengalami kejadian asupan minum yang kurang (RR =0,497; 95%IK: 0,356-0,694; p=0,000).Kesimpulan. Rerata asupan minum anak usia prasekolah di Indonesia sedikit lebih rendah dari anjuran AKG. Anak prasekolah berusia ≥54 bulan dan anak yang tinggal di area rural lebih berisiko mengalami kekurangan asupan minum.
Gambaran Masalah Psikososial pada Remaja dengan Thalassemia Mayor dan Diabetes Mellitus Tipe-1 Bernie Endyarni Medise; Naela Fadhila; Tjhin Wiguna; Zakiudin Munasir; Jose R.L Batubara; Pustika Amalia Wahidiyat; H.F. Wulandari; Rosalina Dewi Roeslani
Sari Pediatri Vol 22, No 2 (2020)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp22.2.2020.83-91

Abstract

Latar belakang. Thalassemia dan diabetes mellitus tipe-1 (DM tipe-1) merupakan penyakit kronik yang banyak didapatkan pada anak dan remaja di Indonesia. Adanya penyakit kronik pada remaja dapat berisiko meningkatkan terjadinya masalah psikososial 2-6 kali dibandingkan populasi sehat. Masalah psikososial pada remaja sulit dikenali sehingga perlu dilakukan evaluasi secara rutin. The strengths and difficulties questionnaire (SDQ) adalah instrumen yang praktis dan mudah digunakan untuk mendeteksi masalah tersebut. Tujuan. Mengetahui besaran masalah psikososial pada remaja dengan penyakit kronik di RS. Cipto Mangunkusumo, Jakarta. Metode. Desain potong lintang pada 140 remaja (100 thalassemia mayor dan 40 DM tipe-1), usia 10-18 tahun. Subyek diminta untuk mengisi kuesioner SDQ (laporan mandiri). Hasil. Prevalensi total skor abnormal pada remaja thalassemia mayor adalah 8%, dan DM tipe-1 adalah 15%. Tidak ada skor abnormal pada aspek perilaku pro-sosial kedua penyakit, dan aspek hubungan dengan teman sebaya DM tipe-1. Tidak didapatkan perbedaan bermakna antara diagnosis penyakit, jenis kelamin, dan tingkat pendidikan subyek pasien DM terhadap luaran hasil SDQ. Kesimpulan. Masalah psikososial lebih banyak didapatkan pada remaja DM tipe-1 dibandingkan thalassemia mayor.
Faktor yang Memengaruhi Penurunan Cakupan Imunisasi pada Masa Pandemi Covid-19 di Jakarta Sreshta Mukhi; Bernie Endyarni Medise
Sari Pediatri Vol 22, No 6 (2021)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp22.6.2021.336-42

Abstract

Latar belakang. Pandemi Covid-19 sangat memengaruhi pelayanan imunisasi di seluruh dunia. Tenaga kesehatan dialihkan untuk pelayanan Covid-19 dan orangtua merasa takut membawa anaknya untuk imunisasi ke fasilitas kesehatan sehingga menurunkan cakupan imunisasi. Penurunan cakupan imunisasi akan meningkatkan kejadian penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I). Jakarta sebagai ibukota negara adalah kota dengan populasi terbesar dan juga kasus Covid-19 terbanyak di Indonesia.Tujuan. Mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi penurunan cakupan imunisasi di Jakarta dari sudut pandang orangtua dan tenaga kesehatan.Metode. Penelitian potong lintang menggunakan kuesioner disebarkan kepada tenaga kesehatan (dokter spesialis anak, dokter umum, perawat, bidan, kader) dan orangtua di Jakarta pada bulan Agustus hingga September 2020. Hasil di evaluasi menggunakan SPSS.Hasil. Sebanyak 125 tenaga kesehatan dan 145 orangtua mengikuti penelitian ini. Tenaga kesehatan menghadapi masalah seperti adanya peraturan pemerintah untuk menghentikan sementara pelayanan imunisasi, kurangnya alat pelindung diri (APD), tenaga kesehatan terinfeksi Covid-19 dan tenaga imunisasi dialihkan untuk pelayanan Covid-19. Masalah pada orangtua antara lain keraguan untuk membawa anaknya imunisasi karena takut tertular Covid-19 dari tenaga kesehatan ataupun pasien lain, Posyandu ditutup, adanya peraturan PSBB dan masalah transportasi.Kesimpulan. Penurunan cakupan imunisasi pada masa pandemi Covid-19 disebabkan oleh multi faktor yang harus diminimalisasi untuk mengurangi kejadian PD3I.
Laporan Kasus Berbasis Bukti : Prevalensi dan Faktor-Faktor yang Berpengaruh terhadap Masalah Kesehatan Jiwa pada Remaja selama Pandemi Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) Lina Ninditya; Bernie Endyarnie Medise
Sari Pediatri Vol 24, No 2 (2022)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp24.2.2022.127-33

Abstract

Latar belakang. World Health Organization (WHO) menetapkan Corona virus disease 2019 (COVID)-19 sebagai pandemi pada Maret 2020. COVID-19 telah menyebar dengan sangat cepat ke berbagai belahan dunia karena sangat infeksius. Hal ini mendorong pemerintah mengeluarkan beberapa kebijakan guna mengontrol penyebaran COVID-19 seperti penutupan sekolah maupun pembatasan sosial. Dampak kebijakan tersebut dan adanya ketakutan terhadap infeksi COVID-19 diperkirakan berdampak negatif terhadap kesehatan jiwa terutama pada kelompok rentan yaitu remaja.Tujuan. Mengetahui apakah ada kaitan antara pandemic COVID-19 dengan masalah jiwa pada remaja.Metode. Dilakukan pencarian di PubMed, Google Scholar, dan Cochrane dengan menggunakan kata kunci “depression”,”mental health”,”adolescent”, “COVID-19”. Hasil pencarian dievaluasi menggunakan kriteria eksklusi dan inklusi. Selanjutnya dilakukan telaah kritis dengan memerhatikan validitas, kepentingan, dan penerapan pada pasien terhadap artikel lengkap dari studi yang terseleksi.Hasil. Diperoleh satu studi yang relevan dengan pertanyaan klinis dan memenuhi kriteria inklusi and eksklusi. Luaran dari studi ini memperlihatkan bahwa prevalensi masalah kesehatan jiwa cukup tinggi pada remaja selama pandemi COVID-19. Kesimpulan. Angka kejadian depresi dan ansietas lebih tinggi pada kelompok perempuan, populasi yang tinggal di pedesaan, dan murid yang lebih senior. Namun, studi ini belum dapat membuktikan apakah pandemi COVID-19 menyebabkan masalah kesehatan jiwa pada remaja.
Co-Authors Ali Alhadar Aman Bhakti Pulungan, Aman Bhakti Antonius H Pudjiadi, Antonius H Arief, Wresty Badriul Hegar Syarif Benedictus Bermanshah, Evita Karianni Budi Wiweko Corrie Wawolumaja Dania Mirza Ramadhanty Dave Anderson Dewi Anggraeni Dewi Friska Dharma Asih, Ni Ketut Susila Diana Sunardi Elina Waiman Erfi Prafiantini Erni Hernawati Purwaningsih, Erni Hernawati Ervira Wahyuni Erwin Hendrata Ganda Ilmana Gitayanti Gitayanti H.F. Wulandari Hanifah Oswari Hartono Gunardi Hartono Gunardi Hartono Gunardi Hartono Gunardi Hartono Gunardi Hikari Ambara Sjakti, Hikari Ambara I Boediman Ikhsan Johnson Ikhsan Johnson Intan Tumbelaka Irawan Mangunatmadja Irene Yuniar, Irene Ismi Citra Ismail, Ismi Citra Jessica Ferdi Jessica Ferdi Joedo Prihartono Jose RL Batubara Kartika Erida Brohet Kholisah Nasution Krishna Adi Wibisana Lee, Hee Jae Lenora Mohd. Ishak Lina Ninditya Liza Pratiwi M. Azharry Rully Sjahrullah M. Ramdhani Yassien Marie Christabelle Muhammad Faizi, Muhammad Muhammad Prasetio Wardoyo Muzal Kadim Naela Fadhila Nastiti Kaswandani Novie Amelia Chozie Nuri Purwito Adi Olfriani, Ciho Priscilla, Birgitta Priyono, Harim Pustika Amalia Wahidiyat Putri Maharani Tristanita Marsubrin Ray Wagiu Basrowi Ray Wagiu Basrowi Renno Hidayat Retnaningdyah, Windri Reza, Maulana Okta Rini Mulia Sari Rini Sekartini Rini Sekartini Rini Sekartini Rini Sekartini Rini Sekartini Rizki Yusrini Pohan Roro Rukmi Windi Perdani, Roro Rukmi Rosalina Dewi Roeslani Saptawati Bardosono Saptawati Bardosono Setyo Handryastuti Silva Audya Perdana Soebadi, Amanda Soedjatmiko Soedjatmiko Soedjatmiko Soedjatmiko Soedjatmiko Soedjatmiko Soesanti, Frida Sreshta Mukhi Sreshta Mukhi Sukamto Koesnoe Suzy Maria Thandavarayan, Rajarajan Amirthalingam Tirza Z. Tamin Titi Sularyo Titis Prawitasari, Titis Tjhin Wiguna Tjhin Wiguna Trevino Pakasi Tri Lestari H Wahyuni Indawati, Wahyuni Wahyuni, Luh Kurnia Wangke, Lydia Wardani, Amanda Saphira Wawaimuli Arozal Wirahmadi, Angga Yoga Devaera Yoga Devaera, Yoga Yogi Prawira Yulianti Wibowo Yulianti Wibowo Zakiudin Munasir Zakiudin Munasir Zizlavsky, Semiramis